Kontribusi Organisasi Sosial Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial
C. Program Akselerasi Pelayanan Organisasi Sosial
Dalam kerangka akselerasi pelayanan yang diberikan oleh organisasi sosial, ada beberapa aspek yang dapat dijadikan diskusi. Aspek aspek dimaksud tentunya sangat berkaitan dengan kondisi organisasi sosial, baik mulai legitimasi organisasi sampai dengan bagaimana mempertemukan organisasi sosial dengan mitra (lembaga) yang mempunyai komitmen dengan aktivitas pelayanan organisasi. Di era desentralisasi (otonomi), terdapat tiga peran besar pemerintah, yakni (1) regulasi, (2) fasilitasi dan (3) advokasi.
Realisasi dari komitmen pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam pengembangan kiprah organisasi. Perhatian pemerintah tersebut tercermin dari berbagai fasilitas pemerintah yang diberikan dalam bentuk pengembangan sumber daya manusia (pelaksana organisasi) seperti pendidikan dan pelatihan tentang manajemen organisasi dan profesionalisasi pekerjaan sosial, pelatihan pemantapan organisasi sosial dalam bidang agribisnis, pengembangan usaha ekonomi. Disamping pelatihan tersebut, organisasi sosial juga didukung dengan bantuan stimulan untuk usaha baik dalam bentuk peralatan maupun modal usaha. Bantuan sarana dan prasarana organisasi meliputi rehabilitasi bangunan (gedung), perlengkapan administrasi dan perlengkapan pelayanan, dana operasional pelayanan seperti subsidi BBM untuk permakanan sebesar Rp. 3000/anak/hari.
Sumber dana yang untuk pengembangan organisasi sosial dari Pemerintah adalah (1) dana APBN dan (2) APBD. Dalam kerangka pelayanan masyarakat (khususnya pelayanan dalam panti) organisasi sosial didukung dengan biaya permakanan dari kompensasi kenaikan harga BBM. Jika dicermati, belum semua organisasi (sasaran penelitian) ini mendapat
fasilitas dari pemerintah tersebut (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah)15.
Masalah yang paling utama adalah masalah biaya pendidikan dan Jaminan Kesehatan karena Jamkesmas belum untuk semua dikarenakan tidak memiliki KK (Kartu Keluarga). Hal tersebut dimaklumi karena bagi penerima Jamkesmas adalah kepala keluarga dengan anggota keluarga dan karena anak-anak ini tidak memiliki orang tua atau keluarga sehingga tidak mendapat Jamkesmas. Untuk masalah pendidikan anak masih dibiayai organisasi sosial. Untuk sekolah negeri memang gratis tapi lokasinya jauh, sehingga biayanya akan menjadi lebih mahal. Sementara untuk sekolah swasta dekat hanya biayanya masih terhitung mahal. Uraian ini mengisyaratkan, bahwa implementasi kebijakan wajib belajar 9 tahun masih mengalami banyak hambatan.
Dari hasil diskusi kelompok dengan para praktisi dan pengamat, diperoleh informasi bahwa kondisi lembaga pelayanan kemanusiaan saat ini tidak terlepas dari dinamika politik yang sedang terjadi, dimana implikasinya pada implementasi program kesejahteraan sosial (pusat) cukup dirasakan. Pada umumnya program kesejahteraan sosial belum cukup mendapat perhatian Pemerintah Daerah. Dalam konteks lembaga pelayanan kemanusiaan, terlihat belum adanya seperangkat kebijakan daerah, termasuk kualifikasi sumber daya manusia (pejabat yang menangani), berikut pengalokasian dana dan lainnya yang masih terbatas, bahkan dapat dikatakan mengandalkan dana pusat. Hal itu dimungkinkan oleh mindset elit (daerah) bahwa (pembangunan) sosial dapat dilakukan oleh siapa saja secara sukarela yang oleh karenanya tidak perlu dukungan sarana prasarana secara memadai. Kondisi itu diperburuk oleh suatu realitas bahwa kepala dinas terkait (sosial) adalah
15 Menurut catatan Direktorat Kelembagaan Sosial Masyarakat Ditjen Pemberdayaan Sosial: dari 34.587 organisasi sosial, telah diberdayakan 10.202 organisasi, sedangkan yang belum diberdayakan sampai saat ini sekitar 24.385 organisasi sosial.
bawahan Kepala Daerah (Gubernur, Wali Kota) setempat. Konsekuensinya, kepala dinas (sosial) tersebut lebih "mendahulukan" kepentingan daerah sesuai "kemauan" kepala daerah masing-masing dan bisa saja mengabaikan program kesejahteraan sosial (pusat).
Sebagai gambaran, di era otonomi saat ini, Karang Taruna (KT) kurang mendapat porsi pada birokrasi pemerintahan daerah, dan bahkan pos (bagian) yang menangani Karang Taruna (di beberapa daerah) menjadi tidak ada/hilang. Namun demikian, pada saat-saat tertentu (Pemilukada, misalnya) organisasi kepemudaan termasuk Karang Taruna menjadi rebutan... (Penuturan Tokoh Pemuda Surabaya, Jatim).
Metode kegiatan pembinaan organisasi sosial yang dilakukan oleh Dinas Sosial belum optimal, hal ini dilatar belakangi dengan kondisi organisasi sosial yang sampai saat ini eksistensi organisasi sosial masih belum berfungsi secara optimal. Oleh karenanya diperlukan adanya pembinaan organisasi sosial secara terus menerus dan berkelanjutan dengan metode diskusi kelompok dan dialog, tidak hanya sebatas memberikan paket dan organisasi sosial ditugaskan untuk membagikan dan data berasal dari organisasi tersebut tanpa ada sosialisasi atau pemahaman terlebih dahulu. Kondisi empirik memperlihatkan bahwa lembaga-lembaga pelayanan kemanusiaan saat ini, dari sisi managemen pelayanan, profesionalisasi pelayanan, sumberdaya pengelola, dan sarana-prasarana pendukungnya, relatif tidak "tertata". Kemudian, lembaga BK3S di level provinsi "hampir" tidak berfungsi/tidak ada peran, dan bahkan lembaga serupa di tingkat kabupaten/kota (sudah) tidak ada (kasus Surabaya, dan Samarinda).
Dalam kondisi demikian, komunikasi antara lembaga pemerintah pusat (kementerian, direktorat) terkait dengan pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota) perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam bentuk Mou misalnya, maupun lainnya. Riilnya adalah perlu peningkatan volume sosialisasi tentang peraturan perundang-undangan, kebijakan tentang lembaga pelayanan kemanusiaan dalam berbagai bentuk, langsung maupun
melalui media (massa, elektronik). Disamping itu, fasilitasi dalam bentuk peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota) terkait managemen dan profesionalisasi pelayanan, untuk kemudian menjadi trainer sumberdaya pengelola pada tingkat lembaga pelayanan penting untuk dilakukan.
Tidak kalah penting, peran Pemerintah Daerah? sesuai cita-cita Otonomi? yaitu lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat perlu mendapat perhatian. Dari sisi yang menangani lembaga pelayanan saja, pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, misalnya, ada dua pos/bagian yang menangani (Seksi Organisasi Sosial, dan Subag Pengembangan), belum lagi di kantor gubernur, setidaknya ada Biro Sosial, dan bagian legalitas, yaitu unit Pusat Pelayanan Perijinan Terpadu (P2T). Demikian halnya di Kota Samarinda, ada Biro Sosial pada Kantor Gubernur yang pada umumnya memberikan bantuan (finansial) kepada lembaga-lembaga pelayanan kemanusiaan dan Seksi Organisasi Sosial pada Dinas Sosial Provinsi kalimantan Timur, yang berfungsi melakukan pembinaan terhadap lembaga-lembaga pelayanan di wilayah Kalimantan Timur.
Permasalahan yang selama ini dialami khususnya dalam peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemangku di dinas sosial adalah mobilitas pegawai dalam struktur organisasi (mutasi jabatan) di lingkungan organisasi cukup tinggi. Sehingga seringkali terjadi, pemangku jabatan yang sudah terlatih bahkan selesai mengikuti pelatihan mereka telah dipindahkan ke tempat lain yang kurang sesuai dengan basic pelatihannya. Padahal mereka sudah belum matang di bidang pekerjaan sebelumnya. Implikasi dari birokrasi yang birokratis tersebut, pelayanan terhadap masyarakat malah tidak menjadi lebih dekat. Kondisi demikian perlu mendapat perhatian Pemerintah Daerah, dalam pengertian penting dilakukan reorientasi lembaga birokrasi pada lembaga Pemerintah Daerah.
Singkat kata, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu ditata khususnya pada tatanan daerah, berikut, komunikasi yang baik antara (lembaga) pusat-daerah (terkait) diikuti alokasi dana yang memadai, dan tidak kalah penting adalah adanya monitoring dan evaluasi secara baik dan berkelanjutan, merupakan hal penting dalam kerangka akselerasi lembaga pelayanan sebagai mitra pemerintah dalam penanganan permasalahan (kesejahteraan) sosial.
A. KESIMPULAN
Dalam kerangka realisasi penyelenggaraan usaha kesejahteraan sosial, kiprah organisasi sosial telah mulai nampak sejak Republik Indonesia Merdeka, meskipun manifestasi kegiatan organisasi pada saat itu tidak dijastifikasi sebagai usaha kesejahteraan sosial dan pembangunan itu dijadikan sebagai sebuah konsep untuk pengembangan masyarakat. Manfaat dari aktivitas organisasi sosial tidak hanya sampai pada batas penerima pelayanan namun telah berdampak luas pada masyarakat. Secara prinsip, organisasi sosial telah memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara (pemerintah) dalam implementasi kebijakan.
Keberadaan Organisasi sosial merupakan potensi besar dalam kerangka realisasi pembangunan kesejahteraan sosial. Dari segi pendanaan dan kontinuitas kegiatannya, organisasi sosial dengan latar belakang keagamaan lebih kompetetif dibanding organisasi sosial yang terbentuk dari ikatan sosial masyarakat di satu wilayah (lingkungan). Tuntutan dan Janji Tuhan merupakan faktor yang paling kuat memberikan spirit penyelenggaraan organisasi sosial. Artinya aktivitas sosial lebih dikaitkan dengan amanah agama dan aktivitas ini dipahami sebagai tabungan akherat. Meskipun kondisi organisasi sosial masih terdapat beberapa keterbatasan (managerial, sumber daya pengelola, dana operasional, sarana dan prasarana), namun organisasi sosial mempunyai tekad besar untuk merealisasikan apa yang sudah dijadikan visi dan misinya.