BAB V : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
B. Rekomendasi
Berkembangnya Organisasi sosial berserta kontinuitas kegiatannya merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat. Perkembangan ini menunjukkan adanya peluang besar dalam penanggulangan permasalahan sosial. Namun kepedulian yang kurang didukung dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam pengelolaan organisasi, maka pemanfaatan potensi tersebut tidak membuahkan hasil yang optimal. Dalam kerangka realisasi pelayanan yang lebih baik, jumlah yang dilayani semakin banyak, dan tata kelola administratif yang lebih tertib, maka ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian, yakni:
1. Keberadaan organisasi sosial di tengah masyarakat merupakan potensi besar dalam penyelenggaraan usaha kesejahteraan sosial. Potensi ini tidak akan optimal jika kurang mendapatkan perhatian instansi sektoral yang berkaitan langsung dan ruang yang lebih luas dalam penyelenggaraan usaha kesejahteraan sosial di Indonesia. Sebagai pilar partisipan, organisasi sosial dapat menjalin kemitraan dengan seluruh unit yang berada di Kementerian Sosial dan/atau instansi lain (baik pemerintah maupun swasta), dan dunia usaha yang mempunyai jangkauan program sampai ke tingkat kelurahan.
2. Bagi Kementerian Sosial, perlu peningkatan (1) program sosialisasi khususnya berkaitan dengan kesejahteraan sosial (informasi tentang potensi kesejahteraan sosial, permasalahan kesejahteraan sosial, dan berbagai bentuk pelayanannya); (2) Pemberikan penguatan SDM lokal khususnya yayasan atau organisasi sosial melalui program pelatihan manajemen berusaha agar terlihat usaha membantu dan membangun kemandirian serta mampu mengembangkan usaha sendiri.
3. Dalam kerangka percepatan realisasi penyelenggaraan usaha kesejahteraan sosial, Koordinasi antara organisasi sosial dengan lembaga yang mempunyai komitmen dalam pengembangan organisasi sosial (BK3S dan K3S) dalam penyelenggaraan usaha kesejahteraan sosial perlu mendapat perhatian.
4. Untuk kegiatan orsos yang bersifat kebijakan dan lintas sektor sebaiknya Instansi Sosial perlu mengambil inisiatif dalam memprakarsai munculnya sinergisitas dan keterpaduan usaha dan kemandirian antar sector terkait dan berusaha menjalin kerjasama dengan Lembaga Donor Asing agar dapat digali sumber dana potensial lainnya. Khusus untuk proposal pengajuan kegiatan sebaiknya Dinas Sosial lebih berdasarkan need assessment (kebutuhan) dari Orsos sehingga tidak semata- mata base on budget.
5. Pentingnya pemanfaatan potensi/tenaga lokal sebagai pendamping dalam implementasi program pemberdayaan dengan sentuhan moral- spiritual, disamping moneva secara berkelanjutan dari aparat pemerintah sendiri;
6. Untuk Orsos yang sudah besar maka Dinas Sosial Propinsi harus bisa memilah-milah dengan jenis bantuan yang akan diberikan, karena terlihat Dinas Sosial Propinsi tidak menseleksi secara baik terhadap bentuk dan jenis kegiatan dari Orsos yang menawarkan kerjasama dan terkesan seadanya dalam memilih dan memutuskan Orsos yang akan diberi bantuan atau yang diajak bekerjasama.
7. Dinas Sosial perlu menganggarkan dana daerah untuk pelatihan kepada para Orsos dalam melatih pembuatan proposal pengusulan kepada Orsos sehingga penulisan lebih berstandar dan dapat diakses dengan mudah oleh lembaga-lembaga donor besar lainnya termasuk dalam dan luar negeri.
8. Kelembagaan dari Orsos harus jelas secara struktur, pengawasan dan pengendalian agar kontribusi orsos kepada masyarakat lebih terlihat dan terbaca dengan jelas.
9. Orsos sebaiknya terdaftar di Dinas Sosial agar segala bentuk dan kegiatannya bisa lebih terpantau dan terorganisir dengan baik, sesuai dengan amanat UUD 45 serta UU No. 11 Tahun 2009 demi kesejahteraan masyarakat yang luas dan merata.
Daftar Pustaka
Anonim, (2010), Katalog Organisasi Sosial: Hasil pemutakhiran Tahun Anggaran 2009, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Semarang.
Anonim, (2008), Pedoman Klasifikasi Organisasi Sosial, Direktorat Pemberdayaan Kelembagaan Sosial Masyarakat, Dierktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Jakarta.
Clark, Jhon, 1995., NGO dan Pembangunan DemokrasiTiara Wacana, Yogyakarta, cetakan 1.
Davis, Keith, 1967. Human Realation at Work, The Dynamics of Organizational Behavior. Mc. Grow Hill Book Company.
Departemen Sosial, R.I. 2008. Pedoman Klasifikasi Organisasi Sosial. Dit. Pemberdayayaan Kelembagaan Sosial Masyarakat, Ditjen Pemberdayaan Sosial.
Hadari, Nawawi., (2000) Metode Penelitian Bidang Sosial, Jogyakarta, Gadjah Mada Univercity Press.
Koencoroningrat, 1984; Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Bunga Rampai, Gramedia, Jakarta.
Mahsum, Mohamad, 2006., Pengukuran Kinerja Sektor Publik, BPFE, Yogyakarta, Cetakan 1.
Marzali, Amri 2005, Antropologi dan Pembangunan Indonesia, Prenada Media. Jakarta
Midgley, James. 2005., Pembangunan Sosial: Perspektif Pembangunan Dalam Kesejahteran Sosial., Jakarta, Ditperta Depag RI.
Pramono, Agung. (2004). Institusi dan organisasi. Bahan bacaan perkuliahan perspektif pembangunan lokal. Jakarta: FISIP-UI.
Roger, Everet, 1964; Modernization Among Peasent; The Impact of Communication, Holt Rincart And Winston Inc.
Saifudin, Achmad Ferdyani, 2005 Anthropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, Kencana Media Grup, Jakarta.
Sitepu dkk, 2005. Peran Organisasi Sosial/LSM dalam pembangunan kesejahteraan sosial (studi kasus pada organisasi sosial lokal di Propinsi Papua, Maluku, NTT, Banten, NAD), Puslitbang Kesos, Jakarta Soetomo, 2006, Strategi strategi Pembangunan Masyarakat, Pustaka Pelajar
Yogyakarta, Cetakan 1.
Soetomo, 2009., Pembangunan Masyarakat; Merangkai Sebuah Kerangka, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Soekanto, Soerjono, 1977, Sosiologi Suatu Pengantar, cetakan ke enam, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Suharto, Edi. 2006. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Sztompka, Piotr (2007). Sosiologi perubahan sosial, Prenada Media Grup, Jakarta.
Talizidu nDraha (1990) Pembangunan Masyarakat, Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas, Rineka Cipta, Jakarta.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Undang-Undang No 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Soisal
BIODATA PENULIS
Gunawan,
lahir di Yogyakarta 12 April 1956. Menamatkan Program S1 di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarata pada tahun 1986. Jabatan peneliti: Peneliti Muda Bidang Kesejahteraan Sosial di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI. Penelitian yang pernah dilakukan antara lain: Accesibility Problems to Panti’s and Vocational Rehabilitation Service Desentralization in Indonesia, Studi Pengembangan Panti Rehabilitasi Sosial Korban Napza, Studi Penataan Panti di DKI Jakarta, Anak Jalanan, Studi Tentang Kesiapan Daerah Dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial Bagi Anak Jalanan di Era Desentralisasi Pembinaan Kesejahteraan Anak, Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna, Dampak Sosial Pengembangan Kawasan Industri, Kemiskinan di Kawasan Industri, Tanggung Jawab Sosial Industri, Permasalahan Kesenjangan Sosial, Penanganan Masalah Perumahan dan Pemukiman Kumuh, Pemberdayaan Sosial Keluarga Pasca Bencana Alam. Hingga saat ini aktif sebagai editor majalah Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial.Muhtar, l
ahir di Magetan-Jawa Timur (1962). Pendidikan terakhir, Pasca Sarjana (S2) Program Studi Sosiologi Kekhususan Ilmu Kesejahteraan Sosial (FISIP-UI, 2004). Mengawali karir sebagai Pegawai Negeri Sipil Departemen Sosial R.I. (kini, Kementerian Sosial) di Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan (1991). Tahun 1996 pindah ke Pusat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Sejak itu, terlibat dalam penelitian bidang kesejahteraan sosial, dan sejak 1999 menekunisebagai peneliti. Kini, Peneliti Muda bidang kesejahteraan sosial. Topik- topik penelitian yang pernah dilakukan antara lain: Pemberdayaan Masyarakat, Permasalahan Sosial HIV/AIDS, Permasalahan Pekerja Migran (di negara tujuan Singapura & Malaysia), Permasalahan Daerah Perbatasan Antar Negara (Miangas), Permasalahan Daerah Tertinggal/ Terpencil (Sukabumi), dan sebagainya.
Hingga saat ini aktif sebagai editor majalah Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial.
Index
A
Advokasi 75 Agama 29, 32, 33, 35, 50, 52, 63, 64, 75, 77, 78, 84 Akselerasi 5, 42, 75, 79 Alang-Alang 26, 69, 71 Amanah 51, 52, 65, 81 Anak jalanan 1, 27, 34, 63, 68, 71 Anak nakal 1, 27 Anak terlantar 31, 56, 63, 82 Anak terlantar 27, 57, 61, 66 Auguste Comte 13B
Berkembang 3, 17, 20, 23, 28, 30, 39, 55, 61 Biro Sosial 78 BK3S 77, 82, 83D
Dinas Sosial 20, 21, 28, 31, 42, 55, 58, 77, 78, 84, 85 Dunia usaha 28, 65, 69, 72, 83 Durasi 43, 53E
Embrio 20, 21, 46, 55, 52F
Fakir miskin 31, 34, 62, 66 fasilitasi 75, 78, 82 FGD 7, 55, 58G
gelandangan 1, 27, 82 globalisasi 1, 37 Gotong Royong 18, 50
Gross National Product (GNP) 9
H
HDI 9
Human Development Index 9 Human Poverty Index 9 Humanity 45, 57, 63
I
Institusi sosial 11, 22J
Jaminan sosial 12, 21, 23, 41, 61 Jawa 5, 29, 30, 31, 32, 33, 35, 36, 78, 85K
K3S 82, 83 Kalimantan 5, 33, 78, 78 Karang Taruna 3, 77 Kawanua 36 keluarga miskin 27, 28, 38, 56, 62, 63, 71, 74 Kementerian Sosial 2, 3, 5, 13, 19, 31, 34, 58, 83 kemitraan 59, 83 kepedulian 27, 51, 53, 57, 83 kiprah 53, 57, 74, 75, 81 kontribusi 4, 5, 7, 14, 21, 23, 25, 41, 42, 49, 53, 61, 69, 82, 84 Kupang 5, 25, 36, 37, 38, 39, 55L
lanjut usia terlantar 1, 27, 29, 71 legitimasi 4, 42, 44, 53, 75 Lembaga Donor Asing 84
lembaga lokal 17, 18, 45, 61 Lembaga Swadaya Masyarakat 2, 3 luar negeri 67, 84
M
Manado 5, 25, 34, 35, 36, 53, 55, 69 mandiri 16, 20,, 28, 47, 55, 60, 66, 67, 68 Metode 5, 6, 8, 10, 77, 85 Midgley 85 motivasi 48, 49, 50, 73N
nilai 10, 11, 14, 16, 17, 27, 35, 38, 39, 48, 50, 51, 52, 53 norma 14, 15, 17O
Observasi 6, 70 ODHA 1 Oikumene 55 Organisasi sosial 4, 5, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 19, 23, 25, 27, 28, 29, 31, 34, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 53, 54, 55, 56, 58, 59, 61, 63, 65, 66, 69, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 81, 82, 83 Ootonomi 37, 75, 77, 78P
PALEMBANG 25 Palembang 5, 25, 26, 27, 28, 29, 64 Partisipasi masyarakat 13, 19, 23, 25, 29, 34 PAUD 63, 65Pekerja sek komersial 27 Pekerja Sosial Masyarakat 2
pelayanan sosial 2, 4, 11, 12, 21, 22, 23, 31, 41, 47, 56, 65, 71 pembangunan kesejahteraan sosial 2, 4, 5, 7, 10, 11, 12, 14, 21, 23, 25,
28, 29, 34, 41, 42, 49, 53, 61, 74, 81, 82, 86 Pembangunan Sosial 10, 85
pemberdayaan masyarakat 60 Pendidikan anak usia dini 63 pengemis 1, 27, 68 penyalahgunaan napza 1 penyandang cacat 1, 31, 34, 82 perlindungan sosial 12, 21, 23, 41
permasalahan kesejahteraan sosial 3, 5, 21, 25, 27, 67, 83
permasalahan sosial 1, 2, 3, 25, 27, 33, 34, 51, 53, 56, 57, 61, 63, 74, 82, 83
Physical Quality of Life 9 pilar-pilar partisipan 2, 4 psikotik 31, 82 PSK 27, 75 pulau 5, 26, 34, 35
R
Regulasi 75 Rehabilitasi sosial 2, 12, 21, 23, 41, 63S
Sam 9, 31 Samarinda 5, 33, 34, 55, 77, 78 sarana prasarana 3, 76 Semarang 5, 25, 29, 30, 31, 53, 64, 85 Sulawesi 5, 34, 35 Sumatera 5, 25, 26Ssumber daya manusia 1, 3, 39, 42, 47, 48, 75, 76 Surabaya 5, 25, 32, 33, 37, 53, 64, 69, 71, 77
T
Taruna Siaga Bencana 3
Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat 3 Torang 35, 55
U
UEP 70
Undang-Undang Kesejahteraan Sosial 21
usaha kesejahteraan sosial 2, 13, 19, 43, 53, 59, 72, 81, 82, 83
W
wanita rawan sosial ekonomi 27 WKSBM 4
WRSE 82 WTS 27