• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pengembangan dari Strategi Strength–Opportunity (S–O) Dari strategi strength–opportunity pengembangan Kuta Lombok sebagai

4. Strategi Weakness–Threat (W–T)

7.3 Program Pengembangan Kuta Lombok sebagai Destinasi Pariwisata Berkelanjutan

7.3.1 Program Pengembangan dari Strategi Strength–Opportunity (S–O) Dari strategi strength–opportunity pengembangan Kuta Lombok sebagai

destinasi pariwisata berkelanjutan terdapat dua strategi yang dapat diaplikasikan yaitu; (1) Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata dan (2) Strategi Pengembangan Daya Tarik Wisata dengan uraian dan program–program sebagai berikut:

1. Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata

Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan terdapat strategi pengembangan destinasi sebagai langkah awal untuk pengembangannya seperti penataan destinasi dengan sebaik mungkin, hal tersebut dapat dilakukan dengan program sebagai berikut;

a. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana serta Infrastruktur Pendukung Kepariwisataan. Program ini bertujuan untuk menyediakan berbagai sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan kepariwisataan di Kuta Lombok.

b. Program Pengadaan Fasilitas Pengelolaan Wisata, seperti;

1) Pusat Informasi Pariwisata (tourism informatioan center) yang memadai

2) Pembuatan pos–pos jaga untuk menigkatkan keamanan dan kenyamanan bersama (wisatawan dan masyarakat)

3) Pengadaan sarana pemantauan serta telekomunikasi yang memadai

c. Program Pembuatan Tempat–tempat Istrirahat (rest area) yang bercirikan arsitektur lokal pada akses menuju Kuta Lombok serta pada tempat-tempat strategis kegiatan kepariwisataan untuk meberikan rasa nyaman (seperti Berugaq) serta tempat ibadah (seperti Mushala atau Masjid) dan sebagainya.

d. Program Pembangunan Akomodasi Pariwisata (seperti Homestaay) yang memadai serta tempat makan (seperti warung makan biasa maupun restaurant)

Pembangunan akomodasi pariwisata disatukan dengan rumah penduduk dan harus mengindari pembangunan di daerah–daerah konservasi atau dekat dengan tempat suci serta yang dikeramatkan baik oleh adat maupun agama. Selain itu, pemerintah daerah khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Tengah dapat membangun akomodasi maupun tempat makan yang kepemilikannya oleh pemerintah namun pengelolaanya (melalui pendampingan pemerintah) dengan melibatkan masyarakat lokal setempat.

e. Program Pengembangan, Perbaikan serta Pemeliharaan Akses Jalan di Kuta Lombok

Jalan sangat diperlukan untuk mempermudah akses ke berbagai daya tarik wisata yang ada di Kuta Lombok mengingat kondisi jalan yang ada saat ini masih banyak yang perlu dikembangkan dan diperbaiki serta dipelihara, seperti masih

adanya jalan tanah yang ketika musim hujan sangat licin dan ketika musim kemarau sangat berdebu.

Selain itu, masih terdapat jalan yang berlubang serta tidak meliki got sehingga sangat mengganggu terutama bagi pengguna jalan tersebut baik wisatawan maupun masyarakat lokal., supaya kedepannya jalan yang berada di Kuta Lombok segera diperlebar dan di hot mix agar tidak terjadi kemacatan jika ada kendaraan dengan ukuran besar, selain itu sering tergenang air jika musim hujan.

f. Program Penyediaan Tempat–tempat Sampah yang Ramah Lingkungan Menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan tentu harus memperhatikan kebersihan secara berkelanjutan pula, oleh sebab itu sangat perlu untuk menyediakan tempat sampah terutama yang ramah lingkungan. Tempat sampah yang dimaksud adalah tempat sampah yang semi permanen yang ditempatkan pada tempat–tempat yang strategis dan dapat diangkat (dipindahkan) untuk dikumpulkan pada satu tempat pembuangan sampah (TPS) sementara. Sampah yang telah dikumpulkan dapat dipilih terutama yang bisa didaur ulang ataupun yang dapat digunakan kembali.

Pemisahan sampah akan lebih baik jika dilakukan dengan memisahkan sampah organik maupun non organik atau sampah lainnya sehingga lingkungan tetap terjaga kelesatariannya. Adapun konsep yang bisa diterapkan adalah melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, and Recycle). Penanganan sampah 3R adalah konsep penanganan sampah dengan cara Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali) dan Recycle (Mendaur ulang) sampah mulai dari sumbernya.

g. Program Pembangunan Fasilitas Toilet Umum ditempat–tempat Strategis Ketersediaan fasilitas seperti ketersediaan fasilitas toilet umum atau MCK (mandi cuci kencing) sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan kepariwisataan di Kuta Lombok. Fasilitas toilet umum atau MCK yang dibangun harus tetap memperhatikan dampak pencemarannya seperti harus jauh dari sumber mata air atau sumur penduduk lokal. Selain itu dibuatkan pula tempat penampungan limbah dan air cucian tau mandi harus diupayakan untuk tidak terserap tanah. Hal ini berkaitan dengan kualitas air tanah yang akan tercemar apabila limbah tersebut terserap tanah.

h. Penyediaan Listrik dan Air Bersih yang Memadai

Mengingat Kuta Lombok merupakan daerah yang terletak di bagian selatan pulau Lombok yang pada umumnya kering maka perlu adanya penyediaan air bersih yang cukup dan memadai, baik oleh pemerintah maupun swasta untuk mendukung kegiatan kepariwisataan. Hal ini sangat diperlukan mengingat sebagian besar akomodasi pariwisata seperti Hotel, Villa, Bungalow, Lodge, maupun Homestay menggunakan sumur bor untuk penyediaan air bersih begitu pula dengan restaurant, café dan termasuk juga masyrakat setempat. Sedangkan kedalam sumur bor minimal 35 meter ke atas, sehingga mengakibatkan banyaknya sumur yang mengalami kekeringan termasuk sumur bor yang dengan kedalaman di bawah 50 meter juga mengalami hal yang sama pada musim kemarau.

Selain perlunya penyediaan air bersih yang memadai penyediaan listrik juga sangat perlu mengingat banyaknya wisatwan yang complain karena seringnya terjadi pemadamangan listrik dalam waktu yang lama bahkan hingga 30 jam.

Dengan demikian maka akan sangat mengganggu kegiatan kepariwisataan itu sendiri.

i. Menyediakan Tempat Penyewaan Alat–alat Pancing, Snorkeling, Diving maupun Surfing yang lengkap.

Penyediaan tempat penyewaan tersebut penting dilakukan karena sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Kuta Lombok untuk menikmati wisata bahari seperti berselancar (surfing), memancing, diving, snorkeling dan mereka pasti membutuhkan alat–alat tersebut. Sehingga, dengan menyediakan dan menyewakan perlengkapan tersebut yang akan digunakan oleh wisatawan dengan demikian tentu akan berdampak positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat terutaman masyarakat setempat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya.

j. Program Peningkatan Daya Saing Destinasi

Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing destinasi pariwisata khususnya di Kuta Lombok dengan destinasi pariwisata lainnya. Peningkatan daya saing destinasi sangat penting dilakukan terutama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Mengingat daya saing pariwisata di Kuta Lombok maka dalam penelitian ini ditemukan beberapa hal yang dapat diterapkan dan untuk mendukung program peningkatan daya saing destinasi pariwisata sebagaimana yang dimaksudkan di atas adalah sebagai berikut;

1) Penataan, peningkatan serta pembenahan segala fasilitas pendukung kegiatan kepariwisataan di Kuta Lombok, seperti; akomodasi pariwisata,

restaurant, ketersediaan angkutan wisata, maupun pengembangan produk wisata.

2) Pengembangan dan peningkatan kualitas pelayanan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya di sektor pariwisata.

3) Sosialisasi gerakan sadar wisata yang tepat sasaran kepada masyarakat khususnya masyarakat Kuta Lombok agar mampu merupah pola fikir masyarakat tentang kesadaran berwisata (gerakan sadar wisata) dengan demikian masyarakat akan merasa bertanggung jawab dalam dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan karena mereka memiliki sense of belonging (rasa memilki) yang tinggi.

2. Strategi Pengembangan Daya Tarik Wisata

Pengembangan daya tarik wisata sangat perlu dilakukan untuk mendukung pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Salah satu langkah yang dapat diterapkan dalam pengembangan daya tarik wisata yaitu dengan program inventarisasi (pendataan) daya tarik wisata yang ada di Kuta Lombok. Dengan inventarisasi daya tarik tersebut kemudian langkah selanjutnya adalah pengembangan produk wisata.

Suatu destinasi pariwisata akan berkembang dengan baik jika tetap menjaga dan mengembangkan produk wisata. Program pengembangan produk wisata sangat perlu untuk memperhatikan aspek kekhasanya, keunikan, keaslian dan juga kualitasnya sehingga dapat memicu motivasi dan ketertarikan wisatawan untuk membeli produk wisata yang dikembangkan tersebut, dan berikut adalah penjabaran program pengembangan daya tarik wisata di Kuta Lombok seperti;

a. Program Pengelompokan potensi–potensi dan daya tarik wisata yang ada di Kuta Lombok

Pengelompokan potensi wisata akan memudahkan wisatawan untuk menentukan pilihan aktivitas wisata sesuai yang diinginkan. Dari segi pengelolaan maupun pengelompokkan produk wisata berdasarkan jenisnya memudahkan pengelola untuk mengelola dan mengontrol aktivitas wisata sehingga pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan dapat terealisasi. Potensi–potensi daya tarik wisata di Kuta Lombok dapat dikelompokkan menjadi dua produk wisata yaitu produk wisata alam dan sosial budaya.

1) Produk Wisata Alam

Produk wisata alam yang ada di Kuta Lombok adalah keindahan alam, pantai dengan hamparan pasir putih yang indah dengan bentuk yang beragam, keindahan laut dengan aktivitasnya, seperti surfing yang merupakan salah satu wisata minat khusus yang paling banyak diminati oleh para wisatawan terutama wisatawan mancanegara (asing), snorkeling, fishing maupun aktivitas bawah laut sperti diving, keindahan pengamatan mathari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) serta keindahan alam perbukitan bagaikan benteng yang kokoh dengan mengelilingi mulai dari batas barat Kuta Lombok dengan Desa Prabu, kemudian terus ke utara yaitu berbatasan dengan Desa Rambitan, serta batas timur yaitu berbatasan dengan desa Sukadane dan desa Sengkol kecuali bagian selatan yang langsung berbatasan laut samudra Indonesia.

2) Produk Wisata Sosial Budaya

Masih kuatnya tradisi dan budaya kehidupan masyarakat di Kuta Lombok menjadi daya tarik tersendiri bagi kepariwisataan di daerah ini sehingga dapat dikelompokkan menjadi produk wisata sosial budaya. Produk wisata ini meliputi; kehidupan sosial masyarakat lokal termasuk di Kampung Nelayan. Kegiatan tradisi dan budaya masyarakat lokal yang masih terjaga dengan baik merupakan daya tarik wisata yang sangat perlu untuk jaga eksistensinya sehingga tetap menjadi daya tarik wisata di Kuta Lombok.

b. Program Pembuatan aktivitas wisata baru yang dapat dijadikan sebagai upaya pelestarian alam (seperti aktivitas menanam pohon sambil rekreasi atau camping, menanam terubu karang sambil snorkeling atau diving, membersihkan pantai dari sampah baik dari laut maupun dari wisatawan itu sendiri) serta pelestarian budaya (membuat festival seni dan budaya)

c. Program Penetapan daya tarik wisata yang ada di Kuta Lombok oleh pemerintah dan penataan lokasi wisata berdasarkan produk wisata. Hal tersebut perlu dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan pengelola dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas wisata di lokasi tersebut.

d. Program Pembuatan produk wisata unggulan, yaitu produk wisata bahari dan sosial budaya yang menjadi icon daya tarik wisata di Kuta Lombok.