4. Strategi Weakness–Threat (W–T)
7.3 Program Pengembangan Kuta Lombok sebagai Destinasi Pariwisata Berkelanjutan
7.3.3 Program Pengembangan dari Strategi Weakness–Opportunity (W–O) Upaya pengembangan suatu daerah atau kawasan menjadi destinasi
pariwisata berkelanjutan maka harus memperhatikan hal–hal terkait dengan upaya meminimalkan kelemahan untuk dapat memanfaatkan peluang. Dengan demikian, segala kelemahan yang mungkin dapat mengehambat pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan dapat diminimalisir dengan memanfaatkan peluang yang ada. Dari Strategi Weakness–Opportunity ditemukan terdapat dua strategi untuk meminimalkan kelemahan untuk dapat memanfaatkan peluang yaitu (1) Strategi promosi destinasi pariwisata, dan (2) Strategi peningkatan keamanan dan kenyamanan
Program pemasaran serta peningkatan keamanan dan kenyamanan merupakan hal yang sangat penting dikukan dalam dalam mendukung upaya pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Tujuan
dari program pemasaran adalah untuk memasarkan produk–produk wisata yang terdapat di Kuta Lombok, sedangkan keamanan dan keamanan adalah untuk menciptakan suasana yang kondusif aman dan nyaman baik bagi wisatawan maupun masyarakat agar segala produk wisata yang ada dapat terjaga dan terlindungi dengan baik sehingga pemasarannyapun tidak terkendala.
1. Strategi Promosi Destinasi Pariwisata
Peningkatan promosi destinasi pariwisata sangat penting dilakukan agar dapat memberikan informasi yang detail tentang kepariwisaataan di Kuta Lombok. Promosi dilakukan dengan melihat karakteristik serta tipe wisatawan dan minat wisatawan yang akan menjadi target pasar. Hal ini didasarkan atas jenis pariwisata yang tersedia di Kuta Lombok dan promosi destinasi dapat dilakukan dengan upaya–upaya sebagai berikut:
a. Program promosi destinasi melalui media cetak dan eletronik
1) Melakukan promosi melalui melalui media cetak seperti; brosur, majalah, iklan, maupun promosi dengan kerjasama dengan pihak–pihak swasta perlu dilakukan.
2) Melakukan promosi melalui melalui media elektronik seperti; internet (seperti pembuatan website, blogsite, facebook, twitter maupun dalam bentuk iklan, berita dan lainnya), televisi, serta siaran radio baik yang jangkauanya lokal maupun internasional.
b. Program promosi destinasi melalui dinas pariwisata dan instansi terkait 1) Melakukan upaya promosi dengan melibatkan biro–biro perjalanan wisata
(BPW) dan promosi melalui hotel–hotel serta promosi melalui Dinas
Kebudayaan dan Priwisata Kabupaten Lombok Tengah maupun Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selain itu, promosi juga dengan melibatkan kerjasama dengan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) baik itu Kabupaten maupun Provisi Nusa Tenggara Barat. Promosi–promosi tersebut dapat dilakukan dengan pencetakan booklet dan sejenisnya serta membuat kalender event (Calender of Event) yang tepat dan lengkap.
2) Memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk wisata yang ada di Kuta Lombok melalui event–event penting seperti festival Putri Mandalika serta festival-festival lainnya serta aktif mengikuti pameran–pameran pariwisata
c. Program pengadaan pusat informasi pariwisata (tourim information center) yang memadai dan kompetibel
Pusat informasi pariwisata (tourism information center) sangat diperlukan di Kuta Lombok agar setiap orang atau calon maupun wisatawan dapat dengan mudah mengakses informasi tentang Kuta Lombok dan kepariwisataanya.
penyediaan pusat informasi pariwisata (tourism information center) sebagai salah satu solusi untuk mebantu wisatawan dalam mencari segala informasi terutama tentang kepariwisataan khususnya di Kuta Lombok.
Selain memberikan pelayanan informasi kepada wisatawan dan masyarakat, keberadaan pusat informasi pariwisata (tourism information center) ini juga mebantu para pelaku wisata atau pengusaha yang terkait dengan kepariwisataan dalam mempromosikan produk mereka dengan brosur–brosur yang akan
didistribusikan kepada wisatawan yang akan berkunjung di pusat informasi pariwisata (tourism information center) tersebut.
2. Strategi Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan
Faktor keamanan dan kenyaman merupakan salah satu yang sangat penting dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
Keamanan adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan. Keamanan sebagai kadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman dan tentram (Potter dan Perry, 2006).
Untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan di Kuta Lombok maka perlu dilakukan beberapa program seperti;
a. Program kerjasama dengan pihak kepolisian dan pamswakarsa dalam menjaga keamanan
Keamanan merupakan hal penting untuk diperhatikan agar Kuta Lombok bisa menjadi destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Dengan terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman makan akan berdampak pula tingkat kepuasan serta kunjungan wisatawan di Kuta Lombok. Jika keamanan serta keamanan terjamin maka setiap orang tidak akan ragu lagi berkunjung dan tinggal serta menjadikannya sebagai salah satu destinasi pariwisata pilihannya.
Dalam menjaga keamanan di Kuta Lombok harus melibatkan semua unsur baik itu pemerintah, kepolisian, pelaku pariwisata, stakeholder serta masyarakat.
Kemanan dan kenyamanan itu akan terwujud jika kerjasama yang baik dengan
semua pihak dan salah satunya adalah dengan pamswakrsa yang ada seperti kelompok buru jejak “Kumpul, Bumi Gora serta pamswakarsa lainnya sehingga dapa menciptakan iklim keamanan yang baik. Sebab, jika hanya polisi saja maka tidak akan bisa terwujudnya kemanan di Kuta Lombok, oleh sebab itu kerjasama yang baik sangat diperlukan dalam mendukung terciptanya kemamanan dan kenyamanan di Kuta Lombok.
b. Program Peningkatan dan Memaksimalkan kerja Satpam Pantai
Selama ini keberadaan satuan pengaman pantai atau satpam pantai dinilai masih belum berkontribusi banyak dalam kegiatan kepariwisataan di Kuta Lombok. Masyarakat menilai bahwa keberadaan satpam pantai tidak berarti bagi mereka hal ini terbukti dari ketidakpercayaan mereka terhadap satpam pantai tersebut. Sehingga perlu dilakukan evaluasi kerja terhadap satpam pantai agar kerja mereka lebih maksimal sehingga dapat membantu dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
c. Program Siskamling (Sistem Keamanan Keliling) yang Aktif dan Maksimal Dengan mengkatifkan siskamling maka diharapkan bisa berkontribusi serta dapat membantu terutama dalam menjaga keamanan dan sebagi upaya untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasinya dalam kegiatan kepariwisataan itu sendiri, sebab kegiatan wisatawan tidak terbatas pada siang hari saja namun malampun mereka tetap beraktivitas. Oleh karena itu, pengaktifikan dan memaksimalkan siskamling sangat perlu dilakukan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman baik bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.
d. Program Pembuatan Papan Informasi yang berisi tentang Tata Tertib Berwisata di Kuta Lombok
Hal ini penting untuk menghindari kemungkinan pertikaian atau kesalahfahaman antara masyarakat lokal (host) dengan wisatawan (guest). Karena biasanya hal tersebut terjadi berawal dari perilaku wisatawan yang terkadang bertentangan dengan etika atau adat istiadat yang berlaku di masyarakat lokal.
Pembuatan papan yang berisi tentang susunan tata tertib berwisata di Kuta Lombok bertujuan untuk meminimalisir perilaku negatif dari wisatawan yang akan berdampak negatif pula terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat lokal sehingga pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan akan mengalami hambatan dengan hal tersebut.
e. Program Kerjasama dan Koordinasi yang baik dengan pihak pemilik atau pengelola hiburan malam (bar, karaoke, café dan sejenisnya) dalam hal menjaga keamanan dan kenyamanan.
Kerjasama dan koordinasi yang baik tentu akan menciptakan iklim kepariwisataan yang kondusif di Kuta Lombok. Hal ini sangat penting dilakukan agar dapat menguntungkan semua pihak termasuk masyarakat lokal di dalamnya.
Dengan demikian kegiatan kepariwisataan akan saling mendukung dan akan memudahkan pengembangan kepariwisataan di Kuta Lombok. Namun, selama ini masih belum adanya kerjasama dan koordinasi yang baik sehingga sering terjadinya keluhan dan protes masyarakat terhadap keberadaan tempat–tempat hiburan malam (bar, karaoke, café dan sejenisnya) karena bagi masyrakat keberadaan tempat–tempat hiburan tersebut sangat meresahkan masyarakat dan
terutama pada malam hari. Selain itu, masyarakat juga berpendapat bahwa hal tersebutlah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya tindakan kriminal serta ketidaknyamanan di Kuta Lombok.
Selain perlunya menjaga keamanan yang kondusif, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keamanan dan kenyamanan di Kuta Lombok diantaranya;
(a) penataan dan pengelolaan areal parkir, (b) ketersediaan fasilitas toilet umum, (c) Perilaku agresif pedagang asongan, dan (d) penataan warung dan pedagang kaki lima, harus mendapatkan perioritas dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
f. Program Peningkatan Pemahaman dan Kesadaran Masyarakat mengenai Stabilitas Politik dan Isu SARA (Suku, Agama dan Ras)
Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai stabilitas politik serta isu SARA (Suku, Agama dan Ras) sangat perlu dilakukan mengingat hal tersebut merupakan salah satu kendala serta ancaman yang sangat serius dalam pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Dengan adanya pemahaman yang baik, maka masyarakat tidak akan mudah terpancing dengan isu-isu terkait SARA dan sebagainya yang dapat menjadi hambatan dan ancaman bagi perkembangan pariwisata di Kuta Lombok.
Dengan adanya pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait stabilitas politik dan isu SARA tersebut, maka masyarakat tidak akan gampang terpengaruh dan terpancing emosinya meskipun dihadapkan dengan hal tersebut. Namun, jika hal ini tidak dilakukan maka, pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan akan sulit untuk terealisasi bahkan tidak akan terwujud.