BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis
3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis Masyarakat Peningkatan mutu pendidikan merupakan usaha yang dilakukan sekolah. Pencapaian mutu pendidikan akan terlaksana jika ada partisipasi masyarakat dalam menjalin kerja sama dengan sekolah untuk kemajuan pendidikan. Koentjaraningrat (2009: 115-118) menyatakan bahwa masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu
sistem tertentu yang terikat oleh suatu identitas bersama. Kesatuan masyarakat memiliki empat ciri yaitu interaksi antar warga, adat istiadat, kontinuitas waktu, dan rasa identitas kuat yang mengikat semua warga.
Kemendikbud dalam Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2017 mencanangkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang di dalamnya menyatakan bahwa PPK membutuhkan berbagai kolaborasi dan kerja sama antar komunitas terutama peranan masyarakat di sekolah. Dalam pendidikan karakter peran lingkungan masyarakat mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
Pendidikan karakter berbasis masyarakat fokus pada berbagai usaha untuk membangun kerja sama antara lembaga pendidikan dan komunitas yang ada di masyarakat agar kehadiran lembaga pendidikan semakin bermakna dan bermutu.
a. Penerapan Penguatan Pendidikan Karkter Berbasis Masyarakat Satuan pendidikan membutuhkan kolaborasi dengan lingkungan luar sekolah. Tim Penyusun PPK (2017: 42a) menjelaskan bahwa satuan pendidikan dapat melakukan berbagai kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan organisasi lain di luar satuan pendidikan, yang dapat menjadi mitra dalam Penguatan Pendidikan Karakter di antaranya sebagai berikut.
1) Komunitas orangtua peserta didik atau paguyuban orangtua, baik per kelas atau per sekolah
2) Komunitas pengelola pusat kesenian dan budaya, yaitu berbagai perkumpulan, kelompok hobi, sanggar kesenian, bengkel teater, yang merupakan pusat pengembangan kebudayaan lokal dan modern 3) Lembaga-lembaga pemerintahan (BNN, Kepolisian, KPK, Kemenkes,
Kemenpora, dan lain-lain)
4) Lembaga atau komunitas yang menyediakan sumber-sumber pembelajaran (perpustakaan, museum, situs budaya, cagar budaya, paguyuban pecinta lingkungan, dan lain-lain)
5) Komunitas masyarakat sipil pegiat pendidikan 6) Komunitas keagamaan
7) Komunitas seniman dan budayawan lokal (pemusik, perupa, penari, pelukis, dan lain-lain)
8) Lembaga bisnis dan perusahaan yang memiliki relevansi dan komitmen dengan dunia pendidikan
9) Lembaga penyiaran media, seperti televisi, koran, majalah, radio, dan lain-lain
b. Prinsip-prinsip Pengembangan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
Beberapa prinsip pengembangan program Penguatan Pendidikan Karakter melalui kerja sama atau kolaborasi dengan komunitas adalah sebagai berikut.
1) Penanggung jawab utama dalam setiap program dan kegiatan PPK di lingkungan sekolah adalah kepala sekolah.
2) Kolaborasi bertujuan untuk memperkuat PPK bagi seluruh anggota komunitas sekolah.
3) Fokus kolaborasi PPK dengan komunitas terutama diperuntukkan bagi peserta didik.
4) Rasional atau alasan mengapa sekolah melakukan kolaborasi dengan komunitas tertentu perlu didiskusikan dan dikomunikasikan dengan seluruh komunitas sekolah.
5) Satuan pendidikan wajib membuat dokumentasi kegiatan mulai dari pembuatan proposal, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan.
6) Prinsip kolaborasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum PPK, tidak melanggar nilai-nilai moral, dan tidak menjadikan sekolah sebagai objek pemasaran produk tertentu.
c. Bentuk Kolaborasi Peguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
Ada berbagai bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan sekolah dalam pengembangan Penguatan Pendidikan Karakter dengan komunitas di luar sekolah (Tim Penyusun PPK, 2017: 43a). Bentuk kolaborasi itu adalah sebagai berikut.
1) Pembelajaran berbasis museum, cagar budaya, dan sanggar seni Sekolah dapat mengadakan kunjungan museum untuk memperluas pengetahuan anak mengenai benda atau cerita bersejarah, cagar budaya, kelompok hobi, dan komunitas budaya sehingga anak mampu menjaga kekayaan warisan budaya.
2) Mentoring dengan seniman dan budayawan lokal
Sekolah dapat bekerja sama dengan komunitas para seniman, penyair, dan sastrawan sehingga dapat membangun kolaborasi dan bekerja sama untuk pengembangan seniman melalui program mentoring, tutoring, atau belajar bersama. Kerja sama yang dilakukan sekolah dengan komunitas pengelola pusat kesenian dan budaya seperti, kelompok hobi, bengkel teater, padepokan silat, studio musik, bengkel, dan pusat-pusat pengembangan kebudayaan lokal dan modern. 3) Kelas inspirasi
Sekolah dapat mengundang narasumber dari kalangan orangtua maupun tokoh masyarakat untuk menginspirasi. Kelas inspirasi bertujuan agar setiap peserta didik memperoleh inspirasi dari pengalaman para tokoh profesional untuk memberikan semangat dan motivasi dalam meningkatkan belajar.
4) Program siaran on-air
Satuan pendidikan bekerja sama dengan media penyiaran seperti radio untuk melatih nilai-nilai pembentukan karakter, media cetak, elektronik, dan penyiaran untuk membahas tentang Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah.
5) Kolaborasi dengan media televisi, koran, dan majalah
Sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga penyiaran media seperti televisi, koran, majalah, dan radio untuk meliput kegiatan sekolah sekaligus sebagai promosi terkait program Penguatan Pendidikan Karakter yang ada di sekolah.
6) Gerakan literasi
Sekolah membangun kerja sama dengan instansi lain dalam mengembangkan literasi sekolah seperti toko buku, penerbit, percetakan, gerakan masyarakat peduli literasi pendidikan, perpustakaan daerah, dan perpustakaan nasional.
7) Literasi digital
Kegiatan literasi digital dapat memperkuat kemampuan peserta didik dengan memanfaatkan kerja sama melalui berbagai pihak seperti Kementerian Komunikasi dan Informasi maupun organisasi pegiat literasi digital dalam melatih keterampilan pemanfaatan media.
8) Kerja sama dengan komunitas keagamaan
Kerja sama yang dilakukan dengan lembaga atau komunitas keagamaan dapat membentuk nilai spiritual serta menumbuhkan semangat kerohanian.
d. Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter di Lingkungan Masyarakat
Dalam pendidikan karakter di lingkungan masyarakat, perlu diperhatikan beberapa aspek penting sebagai berikut.
1) Pengkondisian di lingkungan masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan pendidikan berperan dalam terselenggaranya proses pendidikan karakter. Orangtua di lingkungan keluarga dituntut agar dapat memilih lingkungan yang mendukung pendidikan karakter dan menghindari kondisi lingkungan masyarakat yang buruk. Salim & Kurniawan (2012: 21) menegaskan bahwa
lingkungan masyarakat yang kurang baik, akan berdampak buruk pada perkembangan kepribadian atau karakter anak.
2) Sarana-sarana pendidikan karakter di lingkungan masyarakat a) Tempat-tempat ibadah
Tempat ibadah digunakan untuk beribadah menurut ajaran agama masing-masing. Tempat ibadah semestinya tidak dibatasi untuk tempat melaksanakan ibadah saja, tetapi juga sebagai tempat dialog keagamaan, tempat pembinaan, dan musyawarah. Kurniawan (2013: 198) menjelaskan bahwa tempat ibadah dapat menjadi pusat penyemaian nilai-nilai karakter masing-masing individu di masyarakat.
b) Perpustakaan daerah
Perpustakaan sebagai sumber belajar yang penting dan dibutuhkan dalam membantu tumbuhnya nilai-nilai karakter. Kurniawan (2013: 198) mengatakan bahwa perpustakaan daerah adalah referensi sumber belajar peserta didik. Lingkungan keluarga sangat berperan dalam membentuk kebiasaan anak untuk membaca. Upaya yang dilakukan perpustakaan daerah dengan sosialisasi lingkungan yang mengapresiasi budaya akademik khususnya membaca.
c) Organisasi sosial kemasyarakatan
Kurniawan (2013: 200) menjelaskan bahwa organisasi sosial kemasyarakatan dapat melatih potensi kepemimpinan, bekerja sama,
mandiri, bertanggung jawab serta adanya rasa kepedulian sosial dalam pembentukan pendidikan karakter.
d) Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
Kegiatan-kegiatan masyarakat yang positif perlu dipertahankan seperti peringatan hari Kebangkitan Nasional, hari Kartini, hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, dan hari Sumpah Pemuda. Kegiatan masyarakat lain juga penting untuk dipelihara. Melalui kegiatan seperti itu masyarakat dapat berkumpul dan menjalin interaksi positif dengan sesamanya (Kurniawan, 2013: 201).
e) Dukungan fasilitator
Setiap peserta didik mempunyai orangtua dengan profesi yang berbeda. Profesi yang dimiliki merupakan cerminan terbentuknya karakter. Dukungan fasilitator dapat dilakukan dengan kerja sama komunitas seni budaya, pecinta satwa, membangun dunia usaha dan dunia industri, pelibatan instansi seperti Puskesmas, Polsek, Koramil, Perpustakaan daerah, Madrasah Diniyah, sekolah Minggu, Pasraman, dan lainnya. Dalam hal ini dukungan fasilitator memberikan kesempatan pada peserta didik mengenal dunia kerja untuk menumbuhkan jiwa kemandirian. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan keharmonisan satuan pendidikan dengan kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat serta membangun komunitas efektif dengan masyarakat untuk mendukung terlaksananya PPK.
f) Media massa
Lembaga pendidikan dapat melakukan kerja sama atau kolaborasi dengan pengelola media massa. Media massa merupakan sarana komunikasi yang menjangkau masyarakat secara luas sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara bersamaan. Hendaknya media massa dapat menyajikan materi yang bukan sekedar hiburan bagi masyarakat, namun mempertimbangkan aspek pendidikan bagi masyarakat (Kurniawan, 2013: 201). Media massa yang digunakan contohnya televisi, penyiaran radio, koran, majalah dan lainnya. Peran media massa amat diperlukan untuk mendukung program pendidikan karakter di lingkungan masyarakat. Dari penjelasan mengenai program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat dapat disimpulkan bahwa satuan pendidikan melakukan kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan lain yang menjadi mitra dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Adanya prinsip pengembangan Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat digunakan sebagai pedoman dalam menerapkan PPK. Bentuk kolaborasi yang dilakukan seperti mengunjungi museum, kerja sama dengan komunitas keagamaan, monitoring budayawan, kelas inspirasi, dan gerakan literasi. Dari beberapa aspek dalam program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat tentu ada berbagai kerja sama antara satuan pendidikan.