8.3 Sistem Penyediaan Air Minum
8.3.4 Program-program dan Kriteria Penyiapan, serta Skema Kebijakan
8.3.4.1 Program-program Pengembangan SPAM
Program SPAM yang dikembangkan oleh Pemerintah antara lain:
A. Program SPAM IKK
Kriteria Program SPAM IKK adalah:
Sasaran: IKK yang belum memiliki SPAM
Kegiatan:
• Pembangunan SPAM (unit air baku, unit produksi dan unit distribusi utama) • Jaringan distribusi untuk maksimal 40% target Sambungan Rumah (SR) total
Indikator:
• Peningkatan kapasitas (liter/detik)
• Penambahan jumlah kawasan/IKK yang terlayani SPAM
B. Program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Kriteria Program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) adalah:
Sasaran: Optimalisasi SPAM IKK
Kegiatan: Stimulan jaringan pipa distribusi maksimal 40% dari target total SR untuk MBR
Indikator:
• Peningkatan kapasitas (liter/detik)
• Penambahan jumlah kawasan kumuh/nelayan yang terlayani SPAM
C. Program Perdesaan Pola Pamsimas
Kriteria Program Perdesaan Pola Pamsimas adalah:
Sasaran: IKK yang belum memiliki SPAM
Kegiatan:
• Pembangunan SPAM (unit air baku, unit produksi dan unit distribusi utama) • Jaringan distribusi untuk maksimal 40% target Sambungan Rumah (SR) total
Indikator:
• Peningkatan kapasitas (liter/detik)
• Penambahan jumlah kawasan/IKK yang terlayani SPAM
D. Program Desa Rawan Air/Terpencil
Kriteria Program SPAM IKK adalah:
Sasaran: Desa rawan air, desa miskin dan daerah terpencil (sumber air baku relatif sulit)
Indikator: Penambahan jumlah desa yang terlayani SPAM
E. Program Pengamanan Air Minum
Kriteria Program Pengamanan Air Minum adalah:
Sasaran: PDAM-PDAM dalam rangka mengurangi resiko
Kegiatan: Pengendalian kualitas pelayanan air minum dari hulu sampai hilir
Indikator: Penyediaan air minum memenuhi standar 4 K.
Selanjutnya pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) mengacu pada Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) yang disusun berdasarkan:
1) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota; 2) Rencana pengelolaan Sumber Daya Air;
3) Kebijakan dan Strategi Pengembangan SPAM;
4) Kondisi Lingkungan, Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat; 5) Kondisi Kota dan Rencana Pengembangan SPAM.
Tabel 8.19 Lingkup Penyusunan RISPAM
Kegiatan Wilayah Administrasi Kab/Kota Wilayah Pelayanan Satu Wilayah Lintas Kab./Kota Lintas Provinsi
Penyusun Pemda Penyelenggara
di Kab./Kota Penyelenggara Regional Penyelenggara Regional Acuan RTRW RTRW & RISPAM Kab./Kota RTRW & RISPAM Kab./Kota Terkait RTRW Provinsi, RTRW & RISPAM Kab./ Kota Terkait Penetapan Bupati/ Walikota Bupati/ Walikota Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota Terkait. Menteri setelah berkonsultasi dengan Gubernur dan Bupati/Walikota Terkait. Konsultasi Publik Konsultasi Publik Penyelenggara dengan Fasilitasi dari Pemda Penyelenggara dengan fasilitasi dari Pemda terkait dan Gubernur Penyelenggara dengan fasilitasi dari Pemda terkait, Gubernur, dan menteri. Pelaksanaan Penyusunan Penyedia Jasa/ Sendiri Penyedia Jasa/ Sendiri Penyedia Jasa/ Sendiri Penyedia Jasa/ Sendiri
8.3.4.2 Kriteria Penyiapan (Readiness Criteria)
Kelengkapan (readiness criteria) usulan kegiatan Pengembangan SPAM pemerintah kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
a) Tersedia Rencana Induk Pengembangan SPAM (sesuai PP No. 16 /2005 Pasal 26 ayat 1 s.d 8 dan Pasal 27 tentang Rencana Induk Pengembangan SPAM.
b) Tersedia dokumen RPI2JM bidang Cipta Karya c) Tersedia studi kelayakan/justifikasi teknis dan biaya
– Studi Kelayakan Lengkap: Penambahan kapasitas ≥ 20 l/detik atau diameter pipa JDU terbesar ≥ 250 mm
–
Studi Kelayakan Sederhana: Penambahan kapasitas 15-20 l/detik atau diameter pipa JDU terbesar 200 mm;– Justifikasi Teknis dan Biaya: Penambahan kapasitas ≤ 10 l/detik atau diameter pipa
JDU terbesar ≤ 150 mm;
d) Tersedia DED/Rencana Teknis (sesuai Permen No. 18/2007) e) Ada indikator kinerja untuk monitoring
– Indikator Output: 100 % pekerjaan fisik
– Indikator Outcome: Jumlah SR/HU yang dimanfaatkan oleh masyarakat pada tahun yang sama
f) Tersedia lahan/ada jaminan ketersediaan lahan
g) Tersedia Dana Daerah Untuk Urusan Bersama (DDUB) sesuai kebutuhan fungsional dan rencana pemanfaatan sistem yang akan dibangun
h)Institusi pengelola pasca konstruksi sudah jelas (PDAM/PDAB, UPTD atau BLUD)
i)
Dinyatakan dalam surat pernyataan Kepala Daerah tentang kesanggupan/ kesiapan menyediakan syarat-syarat di atas.8.3.4.3 Skema Kebijakan Pendanaan
A. Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan SPAM
Adapun skema kebijakan pendanaan pengembangan SPAM adalah tergambar dalam tabel
Tabel 8.20 Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan SPAM Kegiatan SPAM Air Baku Unit Produksi
Transmisi dan Distribusi (SR dan
HU)
Kota APBN APBD, PDAM, KPS,
(APBN)
APBN, PDAM, KPS, APBN (MBR)
IKK APBN APBN APBN (s.d Hidran
Kegiatan SPAM Air Baku Unit Produksi
Transmisi dan Distribusi (SR dan
HU)
Desa Rawan Air APBN APBN APBN (s.d Hidran
Umum) Desa dengan air
baku mudah (Pamsimas)
APBN APBN, APBD,
Masyarakat
Pamsimas (APBN : 70%, APBD : 10% dan Masyarakat : 20%)
Catatan:
Semua sistem yang sudah jadi dikelola oleh pemda/PDAM/Masyarakat;
Keikutsertaan Pemda/PDAM/Masyarakat dalam proses pembangunan adalah keharusan;
HU = Hidran Umum;
SR = Sambungan rumah;
MBR = Masyarakat Berpenghasilan Rendah.
Gambar 8.4 Pembagian Kewenangan Pengembangan SPAM
B. Pendekatan Pembiayaan APBN 1) Non Cost-Recovery
Fasilitasi pengembangan SPAM (unit air baku dan unit produksi) pada IKK, kawasan perbatasan/ pulau terdepan;
Fasilitasi pengembangan SPAM (unit air baku dan unit produksi) bagi kawasan- kawasan tertinggal (kawasan kumuh, kawasan nelayan, dan ibu kota kabupaten pemekaran;
Fasilitasi pengembangan SPAM bagi perdesaan (desa rawan air) melalui pemicuan perubahan perilaku menjadi hidup bersih dan sehat, pembangunan modal sosial, capacitu building bagi masyarakat, serta pembangunan dan pengelolaan SPAM berbasis masyarakat; dan
Pengembangan SPAM skala kecil (perdesaan) pembiayaannya didorong melalui DAK.
2) Cost recovery
Fasilitasi penyediaan air baku untuk air minum melalui kerjasama dengan Ditjen Sumber Daya Air; dan
Fasilitasi penyediaan air minum (PDAM) di kawasan strategis (PKN, PKW, PKL, dll) dengan pendanaan melalui perbankan, Pemda/PDAM, serta KPS.
C. Alternatif Pola Pembiayaan
Equity adalah merupakan sumber pendanaan dari internal cash PDAM dan Pemda untuk program penambahan sambungan rumah (SR). Dilaksanakan oleh PDAM yang memiliki kecukupan dana untuk memenuhi sebagian kebutuhan investasi;
Pinjaman Bank Komersial adalah merupakan sumber pembiayaan dari pinjaman bank komersial dengan jumlah equity tertentu sebagai pendamping pinjaman. Dilaksanakan oleh PDAM yang memiliki kecukupan dana pendamping dan menerapkan tarif minimal diatas harga pokok produksi (tarif dasar);
Trade Credit adalah merupakan sumber pembiayaan dari pinjaman bank komersial melalui pihak ke tiga (kontraktor/supplier) dan dibayar dengan angsuran dari pendapatan PDAM dalam masa tertentu (10 tahun atau lebih). Dilaksanakan oleh PDAM yang diperkirakan dapat mengangsur sesuai dengan perjanjian;
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) merupakan sumber pembiayaan dari badan usaha swasta (BUS) berdasarkan kontrak kerjasama antara BUS dengan pemerintah (BOT/Konsesi). Dilaksanakan di kabupaten/kota yang memiliki pasar potensial (captive market) dan telah dilengkapi dengan studi pra-FS dan kesiapan pemerintah daerah;
Obligasi adalah merupakan sumber dana dari penerbitan surat utang yang akan dibayar dari pendapatan PDAM. Dilaksanakan oleh PDAM yang telah memiliki rating minimal BBB;
CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan yang dilakukan suatu perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.8.3.5 Usulan program dan kegiatan
A. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan SPAM
Usulan dan prioritas program komponen Pengembangan SPAM disusun berdasarkan paket-paket fungsional dan sesuai kebijakan prioritas program seperti pada RPJM. Penyusunan tersebut memperhatikan kebutuhan air minum berkaitan dengan pengembangan atau pembangunan sektor dan kawasan unggulan. Dengan demikian
usulan sudah mencakup pemenuhan kebutuhan dasar dan kebutuhan pembangunan ekonomi.
Usulan program yang diajukan perlu dievaluasi kesesuaiannya dengan hasil analisis dan identifikasi yang telah dilakukan. Selain itu, perlu juga dicek keterpaduan dengan sektor-sektor lainnya. Usulan program harus dapat mencerminkan besaran dan prioritas program, dan manfaatnya ditinjau dari segi fungsi, kondisi fisik, dan non-fisik antar kegiatan dan pendanaannya.Penjabaran program-program tersebut disesuaikan dengan struktur tatanan program RPJMN yang diwujudkan dalam paket-paket kegiatan/program. B. Pembiayaan Proyek Pengembangan SPAM
Pembiayaan proyek perlu disusun berdasarkan klasifikasi tanggung jawab masing- masing Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Pusat, Swasta dan Masyarakat. Jika ada indikasi program pengembangan SPAM yang melibatkan swasta perlu dilakukan kajian lebih mendalam untuk menentukan kelayakannya.
Untuk program yang memerlukan analisis kelayakan keuangan, hasil analisis harus dilampirkan dan merupakan bagian dari kajian pembiayaan dan keuangan. Pembiayaan kegiatan pengembangan SPAM sebagaimana diusulkan dapat berasal dari dana Pemerintahan Kabupaten/Kota, masyarakat, swasta, dan bantuan Pemerintah Pusat.
Bantuan Pemerintah Pusat dapat berbentuk proyek biasa (pemerataan dalam pemenuhan prasarana sarana dasar), bantuan stimulan, dan bantuan proyek khusus (menurut pengembangan kawasan). Adapun jenis bantuan disesuaikan dengan tingkat kebutuhannya.
Program penyediaan air minum dengan rincian sebagai berikut: a) Penyediaan dan pengolahan air
b) Gerakan menyimpan air hujan
c) Penyusunan peraturan penggunaan air hukan untuk industri dan gedung hunian d) Pembenahan jaringan transmisi dan distribusi
e) Perluasan cakupan pelayanan air
f) Penyusunan masterplan penyediaan air minum