• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Promosi Kesehatan Pelaksana Program

PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH

I. Belanja Langsung

1. Program Promosi Kesehatan Pelaksana Program

(1) Kegiatan Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dan alokasi anggaran sebesar Rp. 3.102.512.000,- realisasi anggaran sebesar Rp. 2.754.412.685,- atau 88,78%. Output kegiatan adalah tersedianya dokumen laporan pembinaan PHBS Rumah Tangga; tersedianya dokumen laporan pembinaan Saka Bhakti Husada; tersedianya dokumen laporan peningkatan PHBS di Sekolah; tersedianya dokumen laporan pedoman PHBS; tersedianya dokumen laporan manajemen data promkes; pembuatan materi billboard 3 materi, promosi kesehatan melalui radio 32 kl, media cetak 18 kl, spot televisi 10 kl, melalui kaos 1.500 bh, rollbanner 3 materi, sms masking 1 keg, melalui radio di 26 kab, talkshow di tv 1 kali, 750 buku krida SBH, 35 bh desain grafis. Outcome kegiatan adalah Terlaksananya pembinaan PHBS RT di seluruh kab/kota prosentase kab/kota dengan cakupan PHBS RT di atas 55%.

(2) Kegiatan Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 752.680.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 539.202.609,- atau 71,64%. Output kegiatan adalah dokumen laporan pembinaan desa siaga aktif; dokumen laporan evaluasi di 10 kabupaten prioritas; dokumen laporan identifikasi jejaring forum bidang kesehatan; dokumen laporan identifikasi dan maping ormas, LSM dan Media; dokumen

55 laporan identifikasi tokoh masyarakat; dokumen laporan orientasi Motivator kesehatan Ibu dan Anak (MKIA); dokumen laporan penguatan forum. Outcome kegiatan adalah Cakupan pemberdayaan masyarakat malalui desa/kelurahan siaga aktif.

(3) Kegiatan Promosi Kesehatan RS Pameungpeuk yang dilaksanakan oleh RS Pameungpeuk Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 714.632.875,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 675.432.575,- atau 94,51%. Output kegiatan adalah 12 kali workshop/penyuluhan; 1 paket cetakan, 1 paket running text, 1 paket labeling RS, 1 paket billboard; 1 kali pertemuan penyusunan branding concept. Outcome kegiatan adalah Terlaksananya penyuluhan dan workshop; terlaksananya promosi kesehatan melalui media cetak, visual elektronilk, labeling RS dan billboard; terlaksananya pertemuan mengenai Branding Concept RS Pameungpeuk.

a) Permasalahan Program Promosi Kesehatan

1. Untuk kegiatan Reflikasi Emas tidak dilaksanakan dikarenakan jadwal pelaksanaan bersamaan dengan kejadian banjir bandang di Kab Garut. Kegiatan Reflikasi Emas ini melibatkan Ormas, LSM bidang kesehatan serta tokoh masyarakat dengan kegiatan jejaring permasalahan kesehatan.

2. Inkonsistensi alokasi sumber daya dan anggaran promkes kabupaten kota untuk peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pembinaan rumah tangga ber PHBS.

b) Solusi Program Promosi Kesehatan

1. Mengoptimalkan alokasi dana desa untuk kegiatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) sesuai Permendes No. 5 Tahun 2015, meningkatkan peran dunia usaha dan organisasi masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat. 2. Program Pengembangan Lingkungan Sehat

Pelaksana Program

(1) Kegiatan Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sasaran Prioritas Provinsi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 422.171.500,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 370.394.500,- atau 87,74%. Output kegiatan adalah 3 dokumen kesepakatan; 7 dokumen hasil perjalanan Dinas pada kegiatan pengawasan kualitas kesehatan lingkungan di sasaran prioritas provinsi. Outcome kegiatan adalah bertambahnya Kab/Kota yang melakukan pembinaan TTU;

56 bertambahnya Kab/Kota yang melakukan pembinaan terhadap TPM; Bertambahnya Kab/Kota yang melaksanakan kegiatan Citarum Bestari.

(2) Kegiatan Penguatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dalam Pelaksanaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 631.344.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 559.069.500,- atau 88,55%. Output kegiatan adalah 3 dokumen kesepakatan;4 dokumen hasil perjanan dinas kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (STMB) dalam Pelaksanaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi. Outcome kegiatan adalah jumlah kab/kota yang melaksanakan STBM.

a) Permasalahan Pengembangan Lingkungan Sehat

1. Alokasi anggaran belum dapat memenuhi semua tugas pokok yaitu dalam hal pengawasan kualitas lingkungan prioritas provinsi, seperti pengawasan kualitas lingkungan industri di daerah perbatasan, peningkatan kapasitas tenaga dalam pengambilan dan pemeriksaan sampel lingkungan, audit kesehatan lingkungan di lokasi terbatas dan pengembangan wilayah sehat. Dan adanya efisiensi biaya (dana APBN tahun 2016 yang mengalami efisiensi biaya);

2. Kapasitas tenaga pengelola kesehatan lingkungan di provinsi terbatas jumlah dan kompetensinya, mengingat banyaknya program dan kegiatan yang harus dilaksanakan. Keterbatasan tenaga di tingkat provinsi terutama pada tenaga teknis, sehingga tidak sebanding dengan program dan kegiatan yang ada); 3. Pedoman, Peraturan, Juklak dan Juknis yang masih terbatas;

4. Peran koordinasi antar sektor dan pelibatan peran non pemerintahan yang masih harus ditingkatkan.

b) Solusi Pengembangan Lingkungan Sehat

1. Kab/Kota agar melaksanakan pengawasan terhadap tempat umum, tempat pengelolaan makanan daan melaporkan hasil kegiatan sesuai format yang telah disepakati dalam pertemuan tentang kualitas penyehatan lingkungan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Jabar setiap triwulan. Apabila terjadi kasus keracunan pangan di kab/kota agar segera melaporkannya ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat beserta hasil investigasi. Seksi penyehatan lingkungan Kabupaten/Kota agar melaksanakan Sosialisasi e – monev HSP kepada petugas Kesehatan Lingkungan di Puskesmas.

57 3. Program Pelayanan Kesehatan

Pelaksana Program

(1) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar dan Khusus yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.347.280.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 797.535.004,- atau 59,20%. Output kegiatan adalah 300 orang mengikuti kegiatan, 3 narasumber dan 1 dokumen laporan; 54 orang mengikuti kegiatan, 2 narasumber dan 1 dokumen laporan; 20 orang Tim Monev ke 10 Kab/Kota dan 1 dokumen laporan, 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen kegiatan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan300 orang mengikuti kegiatan, 3 narasumber dan 1 dokumen laporan; 54 orang mengikuti kegiatan, 2 narasumber dan 1 dokumen laporan; 20 orang Tim Monev ke 10 Kab/Kota dan 1 dokumen laporan, 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen kegiatan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 100 orang mengikuti kegiatan, 3 narasumber dan 1 dokumen laporan; monev di 27 Kab/Kota dan 1 dokumen laporan; 30 orang mnegikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 27 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 54 orang mengikuti kegiatan, 4 narasumber dan 1 dokumen laporan; 1 dokumen kajian; monev UKP di Puskesmas 15 Kab/Kota dan 1 dokumen laporan; 1 dokumen bantuan teknis pengampu PTRM dai 12 sarana PTRM Kab/Kota; 1 dokumen undangan Kab/Kota. Outcome kegiatan adalah terlaksananya penguatan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa rujukan bagi petugas kesehatan di 10 Kab/Kota; terlaksananya rapat rutin tahunan evaluasi perencanaan program kesgimul; terlaksananya workshop yankes indera di fasilitas yankes primer; terlaksananya pembentukan fasilitas sentra keperawatan di 5 Kab/Kota; terlaksananya supervisi dan pembinaan pasca pembentukan sentra keperawatan; terlaksananya fasilitas peningkatan kapasitas assesment dan rencana terapi gangguan penggunaan narkotika; terlaksananya evaluasi dan fasiliasi IPWL; terlaksananya workshop panduan panduan teknis dokter di puskesmas; terlaksananya penguatan tim manajemen PKP; terlaksananya rakor dan evaluasi program yankes dasar dan khusus; terlaksananya monev program yankes dasar dan khusus; terlaksananya perjadin dalam rangka konsultasi program ke pusat dan undangan; terlaksananya workshop laboratorium kesehatan daerah se-Jawa Barat; terlaksananya kajian penguatan fasilitas

58 kesehatan primer milik pemerintah di Provinsi Jawa Barat; terlaksananya monev pelaksanaan UKP di Puskesmas; terlaksananya bantuan teknis pengampu PTRM di 12 sarana PTRM Kab/Kota; Terlaksananya undangan Kab/Kota.

(2) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Kerja yang Prima dan Komperhensif dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 398.037.500,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 151.508.000,- atau 38,06%. Output kegiatan adalah dokumen kegiatan pertemuan surveilians; dokumen sosialisasi buku pedoman rujukan pelayan kerja; dokumen kegiatan pertemuan sosialisasi pelayanan lingkungan kerja; 1 paket bahan cetakan (Leaflet) untuk penyuluhan; 1 dokumen kegiatan surveilans di Kab/Kota; 1 dokumen sosialisasi buku materi penyuluhan; 1 dokumen pertemuan mengenai penyuluhan program kerja di perusahaan formal dan informal; 1 dokumen sosialisasi pelayanan kesehatan kerja; 1 dokumen laporan penyuluhan kesehatan kerja di perusahaan formal dan informal; 1 dokumen pengadaan billvoard untuk promosi kesehatan kerja. Outcome kegiatan adalah meningkatnya pelayanan kesehatan kerja di Provinsi Jawa Barat.

(3) Kegiatan Pembinaan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Lansia yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.762.169.400,- realisasi anggaran sebesar Rp. 1.358.330.561,- atau 77,08%. Output kegiatan adalah 1 dokumen laporan pertemuan perencanaan terpadu; 5 dokumen laporan pertemuan perencanaan terpadu; 1 dokumen laporan orientasi dan penguatan jejaring tatalaksana KTA/P; 1 laporan pertemuan. Outcome kegiatan adalah kesepakatan dan rencana tindak lanjut pertemuan pemantapan perencanaan program KIA, Kespro dan KB melalui PTKIA di tingkat Provinsi; kesepakatan dan rencana tindak lanjut pemantapan perencanaan program KIA, Kespro dan KB melalui PTKIA di 5 Kab/Kota; kesepakatan dan rencana tindak lanjut penguatan jejaring kemitraan dan penanganan kasus tatalaksana kekerasan terhadap anak dan perempuan (KTA/P); terlaksananya pertemuan koordinasi dan konsolidasi antara pemerintah daerah (Dinkes), perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan di Provinsi; kesepakatan dan rencana tindak lanjut pertemuan pengembangan SDIDTK untuk 27 Kab/Kota dan LP/LS terkait di Provinsi; Kesepakatan dan rencana tindak lanjut pertemuan pemantapan pengelolaan program lansia di tingkat provinsi; kesepakatan dan rencana tindak lanjut pengembangan model penyelamatan Ibu dan Bayi baru lahir di 5 Kab/Kota.

59 (4) Kegiatan Gerakan Penyelamatan Masa Depan (Gema Mapan) melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan (PKPR) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 442.392.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 365.390.549,- atau 82,59%. Output kegiatan adalah 1 dokumen kesepakatan dan RTL 27 Kab/Kota; 5 dokumen kesepakatan dan RTL 27 Kab/Kota; 27 dokumen kesepakatan dan RTL 27 Kab/Kota. Outcome kegiatan adalah penurunan rasio kematian ibu dan bayi.

(5) Kegiatan Pencegahan Kurang Gizi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 592.922.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 529.513.000,- atau 89,31%. Output kegiatan adalah 1 dokumen kesepakatan dan RTL 27 Kabupaten/Kota; 1 dokumen kesepakatan dan RTL Workshop 10 langkah menuju keberhasilan menyusui (LMKM) di Kab/Kota; 1 dokumen kesepakatan dan RTL pendampingan cakupan indikator pembinaan Gizi di 10 Kab/Kota; 1 dokumen laporan dan RTL pendampingan surveilans Gizi 10 Kabupaten Fokus; 1 dokumen kesepakatan dan RTL 27 Kab/Kota. Outcome kegiatan adalah penurunan ratio kematian Ibu dan Bayi penurunan prevalensi gizi buruk. (6) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Rujukan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan

Provinsi Jawa Barat, denga alokasi anggaran sebesar Rp. 843.831.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 627.500.900,- atau 74,36%, dengan Output kegiatan adalah dokumen monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan bayi; adanya 1 laporan kegiatan kesehatan Ibu dan Bayi; adanya 1 dokumen monitoring dan evaluasi oleh Dinkes Provinsi ke RS dan Dinkes Kab/Kota; adanya 1 laporan kegiatan monitoring dan evaluasi oleh Dinkes Provinsi ke RS dan Dinkes Kab/Kota; adanya 1 dokumen pertemuan konsolidasi antara Dinkes Provinsi dan Kab/Kota serta Rs Provinsi/Kab/Kota; adanya 1 dokumen pembinaan dan pengawasan Dinas, RS Pemerintah, TNI, Polri dan Swasta; adanya 1 dokumen pertemuan dan monitoring dan evaluasi PPI di RSUD; adanya 1 laporan kegiatan pertemuan kolaborasi PONED dan PONEK; adanya 1 dokumen evaluasi kesiapan RS dalam melaksanakan Akreditasi Versi 2012; adanya 1 dokumen pertemuan tenaga kesehatan tim terapi gizi dari Kab/Kota; dan Outcome kegiatan adalah terlaksanakanya kegiatan monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan bayi; terlaksananya kegiatan pertemuan monitoring dan evaluasi oleh Dinkes ke RS Kab/Kota; terlaksananya kegiatan pertemuan konsolidasi antara Dinkes Provinsi dan Kab/Kota serta RS Provinsi/Kab/Kota; terlaksananya kegiatan pembinaan dan pengawasan Dinas Kab/Kota, RS Pemerintah, TNI/Polri dan swasta; terlaksananya kegiatan

60 pertemuan peningkatan kemampuan SDM RS pemerintah di Kab/Kota; terlaksananya kegiatan pertemuan dan monitoring evaluasi PPI di RSUD; terlaksananya kegiatan pertemuan kolaborasi PONED dan PONEK; terlaksananya kegiatan evaluasi kesiapan RS dalam pelaksanaan Akreditasi Versi 2012; terlaksnakanya kegiatan pertemuan tenaga kesehatan Tim terapi gizi dari Kab/Kota.

(7) Kegiatan Pelayanan kepada Masyarakat Miskin Jawa Barat di RS Pameungpeuk yang dilaksanakan oleh RSUD Pameungpeuk Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.274.298.000,- dan realisasi anggaran sebesar Rp. 2.271.193.800,- atau 99,86%. Output kegiatan adalah terlaksananya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan bagi masyarakat miskin di Jawa Barat yang belum terjamin oleh BPJS dengan target pelayanan rawat jalan 500 orang rawat jalan 500 orang rawat jalan dan 1500 jiwa rawat inap di RS Pemeungpeuk; terpenuhinya kebutuhan operasional meliputi, jasa operasional, belanja obat paten, balanja laboratorium 1 tahun, belanja obat dental/gigi 1 tahun, belanja bahan makanan dan minuman pasien 1 tahun. Outcome kegiatan adalah terlayaninya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Jawa Barat yang belum terjamin oleh BPJS di RS Pameungpeuk.

(8) Kegiatan Dukungan Pelayanan Kesehatan di RS Pameungpeuk yang dilaksanakan oleh RSUD Pameungpeuk Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran Rp. 4.717.999.342,- dan realisasi sebesar 2.431.399.718,- atau 51,53%. Output kegiatan adalah Terlaksananya pengadaan obat paten selama 1 tahun, bahan radiologi selama tahun, obat dental selama 1 tahun, reagen laboratorium selama 1 tahun dan Terbayarnya jasa pelayanan di RS Pameungpeuk selama 1 tahun;. Outcome kegiatan adalah Terpenuhinya kebutuhan obat paten selama 1 tahun, bahan radiologi selama tahun, obat dental selama 1 tahun, reagen laboratorium selama 1 tahun dan Terbayarnya jasa pelayanan di RS Pameungpeuk selama 1 tahun.

(9) Kegiatan Penyediaan Bahan Penunjang dan Sarana Prasarana Pelayanan Kesehatan di RSUD Pameungpeuk yang dilaksanakan oleh RSUD Pameungpeuk Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran Rp. 1.584.634.560,- dan realisasi sebesar 750.767.282,- atau 47,38% dan untuk Fisik hanya terealisasi sebanyak 51,82%. Output kegiatan adalah Terlaksananya Pengadaan AGD 1 paket, Pengadaan Alkes Crosmatch 1 paket, Pengadaan Seragam OK 1 paket, Pengadaan Obat dan BHP 1 kegiatan, Belanja Bahan Radiologi 1 kegiatan, Belanja Reagen Lab 1 kegiatan, Pengadaan Alat Kedokteran Klinik 1 Paket, Pengadaan Alat HBA1C 1 paket, Pengadaan Peralatan BDRS 1 paket, Pengadaan Spoelhock 1 paket, Pengadaan Rumah

61 Dahak 1 paket dan Pengadaan Tempat Cuci Tangan 1 paket ; 1 kegiatan. Outcome kegiatan adalah Tersedianya AGD 1 paket Tersedianya Alkes Crosmatch 1 paket, Tersedianya Seragam OK 1 paket, Terpenuhinya Kebutuhan Obat dan BHP 1 kegiatan, Terpenuhinya Kebutuhan Bahan Radiologi 1 kegiatan, Terpenuhinya Kebutuhan Reagen Lab 1 kegiatan, Tersedianya Alat Kedokteran Klinik 1 paket, Tersedianya Alat HBA1C 1 paket, Tersedianya Peralatan BDRS 1 paket, Tersedianya Spoelhock 1 paket, Tersedianya Rumah Dahak 1 paket dan Tersedianya Tempat Cuci Tangan 1 paket.

a) Permasalahan Program Pelayanan Kesehatan

- Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar dan Khusus terdapat beberapa kegiatan dengan anggaran yang tidak dapat direalisasikan, kegiatan tersebut yaitu : 1) Program pelayanan kesehatan dasar Jumlah puskesmas yang melaksanakan manajemen puskesmas sesuai strandar sebanyak 638 dari 1057 Puskesmas. Hal ini dikarenakan Diundangkannya permenkes 44 tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas, memberikan konsekuensi terdapat modul baru pelatihan manajemen Puskesmas. Sehingga Puskesmas yang telah mendapatkan sosialisasi sebelum diundangkannya permenkes 44 tahun 2016 memerlukan review atau up grade dengan modul baru. Selain itu pergantian Kepala Puskesmas memberikan dampak data jumlah Puskesmas melaksanakan manajemen Puskesmas sesuai standar menjadi mudah berubah. Kompetensi Kepala Puskesmas dalam manajemen diwajibkan di Permenkes 75 tahun 2014. Persyaratan ini sering juga hanya diartikan hanya sebatas sertifikat. Sehingga kualitas pelatihan menjadi hal penting dalam pelaksanaannya. Konsep pelatihan yang diikuti secara tim menjadi kebutuhan dalam persyaratan pelatihan untuk membantu keluaran yang bermutu dan realistis untuk diimplementasi di lapangan; Jumlah Puskesmas memberikan pelayanan sesuai standar sebanyak 499 Puskesmas dari 1057 Puskesmas. Hal ini karena diundangkannya permenkes 75 tahun 2014 tentang Puskesmas yang didalamnya terdapat standar minimal Puskesmas untuk pemenuhan standar mutu pelayanan Puskesmas. Diantaranya persyaratan untuk lokasi, bangunan, sarana, tenaga, dan penyelenggaraan UKP dan UKM. Pemenuhan standar minimal Puskesmas saat ini kontribusi terbesar di DAK Fisik APBN, tahun 2016 kontribusi APBD Provinsi hampir tidak ada. Dana Kapitasi juga memberikan kontribusi pada pemenuhan sarana prasarana, terutama bagi Puskesmas yang telah melaksanakan BLUD. Fleksibilitas keuangan, memudahkan bagi Puskesmas BLUD untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana yang memungkinkan

62 dipenuhi melalui dana Kapitasi non jasa pelayanan. Selain dana kapitasi dana bagi hasil cukai rokok dan CSR juga berkontribusi pemenuhan standar minimal Puskesmas terutama pada fisik bangunan. Kegiatan verifikasi lapangan untuk penilaian pemenuhan standar pelayanan Puskesmas juga belum terakomodir di APBD Provinsi, saat ini data dikumpulkan berdasarkan self assesment Puskesmas; 2) Program Pelayanan Kesehatan Khusus

 Kesehatan Indera

Petugas puskesmas belum terlatih semuanya (tiap kabupaten kota baru 3 orang petugas puskesmas yang dilatih), Pencatatan pelaporan dari kabupaten kota tidak terlaksana dengan rutin dan sesuai waktu sehingga data pelayanan kesehatan indera belum maksimal dan Alat pemeriksaan kesehatan indera di puskesmas masih sangat kurang (Ear kit alokasi dari komnas PGPKt baru memberikan satu kabupaten satu).

 Kesehatan Tradisional

Implementasi PP 103 tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan tradisional belum maksimal karena peraturan teknisnya (permenkes belum ada), sehingga pembinaan dan pelaksanaan program di puskesmas kabupaten kota belum maksimal. Puskesmas yang sudah dilatih belum mendapat dukungan sumber daya yang maksimal di kabupaten kota. Pencatatan dan pelaporan dari kabupaten kota belum rutin dan maksimal.

 Kesehatan Jiwa

Sumber daya manusia terutama Psikiater di RSUD kabupaten kota masih terbatas. Perencanaan dan pelaksanaan kesehatan jiwa di puskesmas masih bentuk kuratif (pengobatan) kegiatan kearah promotif dan preventif masih terbatas. Belum semua Kab/Kota terbentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat kab/ kota .

 Pelayanan Laboratorium

Sarana dan Prasarana Labkesda dikabupaten kota yang belum memenuhi standard sebanyak 52,65 %, masih banyak SDM tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan di Labkesda, pembinaan dari Dinas Kesehatan Provinsi belum optimal (karena selama ini masih merasa bahwa pembinaan Labkesda kab/ kota adalah tanggung jawab BLK Dinkes Provinsi Jabar), ketidakjelasan kedudukan Labkesda sebagai laboratorium rujukan dari FKTP bagi peserta BPJS.

 Perawatan Kesehatan Masyarakat

Terdapat 14,82 % (4 Kab/ Kota) yang Puskesmasnya belum 100 % melaksanakan program Perkesmas karena jumlah tenaga perawat belum memenuhi standar, jumlah dokter yang masih kurang di beberapa

63 puskesmas menyebabkan perawat harus memberikan pelayanan di BP sehingga tugas utama perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di keluarga yang mengalami masalah kesehatan belum dilaksanakan dengan optimal. Pengetahuan perawat dalam program Perkesmas untuk meningkatkan motivasi perawat dalam membuat asuhan keperawatan masih perlu ditingkatkan.

 Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL)

Kegiatan bimbingan teknis pelaksanaan program dengan melibatkan Dinas Kesehatan, Lintas Sektor dan Rumah Sakit Pengampu RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ke 12 PTRM masih kurang. Sedangkan permasalahan yang dihadapi IPWL adalah pecandu masih enggan dan takut untuk lapor pada sarana penerima wajib lapor secara sukarela. Keluarga tidak peduli dengan pecandu yang masih tergolong anak usia remaja s/d umur 18 tahun , sehingga keluargapun tidak membantu untuk melaporkan anggota keluarganya ke IPWL. Koordinasi dengan lintas sektor masih kurang, meskipun sudah ada SK bersama anatara Kemenkes RI, Kejaksaan, Kepolisian, Dinsos, BNN dalam penanganan pecandu untuk wajib lapor.

 Kesehatan gigi dan mulut

Pelaksanaan pelayanan gigi dan mulut di fasyankes primer kabupaten kota sudah 100 % tetapi belum optimal karena kurangnya sumberdaya terutama dokter gigi dan perawat gigi, dental unit, instrumen pemeriksaan gigi serta obat-obatan. Belum optimalnya kegiatan UKGMD dikarenakan sumber daya dan sarana prasarana serta kerjasama lintas sektor.

- Permasalahan Pelayanan PONEK di RS sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas tenaga pelaksana PONEK, mulai dari DSOG, DSA, DSPD, DSAn, Dokter umum terlatih GDON, serta bidan dan perawat terlatih GDON. Sarana dan prasarana PONEK juga sangat berpengaruh dalam pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif. Fasilitas UGD kebidanan juga sangat terbatas. Beberapa RSD maupun swasta sudah mempunyai UGD kebidanan yang terpisah dengan UGD umum. Terbatasnya peralatan untuk penanganan kegawat daruratan ibu dan anak di RSD maupun swasta menyebabkan masih dijumpai kasus2 yang harus dirujuk ataupun mengalami kematian di RS. - Kecukupan tenaga di RS dari segi kuantitas bila tidak diikuti dengan

peningkatan pengetahuan dan keterampilan akan berdampak terhadap pelayanan. Dari 39 RSD Provinsi/Kab/Kota, yang sudah dilatih manajemen PONEK oleh JNPK-KR sebanyak 34 RSD (87 %).

64 - Mengingat keterbatasan dana Pemerintah baik Pusat maupun Provinsi, diharapkan RS Pemerintah maupun Swasta dapat mengikuti pelatihan secara swadana ataupun melakukan pelatihan di RS sendiri bersama organisasi profesi dengan mengikuti standar/pedoman yang dikeluarkan oleh JNPK-KR. Anjuran ini diperkuat dengan surat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat no 445/13828-yankes/2009 tanggal 1 Oktober 2009 perihal pedoman RS PONEK dan assesment terhadap PONEK 24 jam di RS.

- Respon time dalam pelaksanaan PONEK belum sesuai standar. Respon time yang harus terukur pada pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif antara lain Kesiapan 24 jam DSOG, DSA, dr jaga UGD, bidan dan perawat terlatih unit gawat darurat, kamar bersalin & kamar operasi , Standar respon time pasien di UGD minimal 5 menit pasien terlayani, Standar respon time utk persiapan sectio oleh petugas kamar bersalin minimal 30 menit, Standar respon time untuk pelayanan darah adalah kurang dari 1 Jam pasien terlayani. Pelayanan tranfusi darah 24 jam dan Bank darah (+).

- Pembinaan manajerial dan teknis medis ke pelayanan dasar baik swasta maupun pemerintah oleh Dinkes Kab/Kota bersama-sama dengan RS dan Organisasi Profesi belum berjalan.

- Belum semua kasus kematian di RS dilakukan AMP medis dan sosial.

- Belum terpadunya sistem pencatatan dan pelaporan program kesehatan ibu dan anak di Kab/Kota terlihat dari % Kelengkapan dan ketepatan laporan SIRS