• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Promosi Kesehatan

2.2.5 Promosi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Menurut George (1998) dalam Helliyanti (2009), Safety promotions atau promosi K3 adalah suatu usaha yang dilakukan untkuk mendorong dan menguatkan kesadaran dan perilaku pekerja tentang K3 sehingga dapat melindungi pekerja, property, dan lingkungan. Program K3 menjadi efektif apabila terdapat perubahan sikap dan perilaku pada pekerja.

Manfaat promosi K3 antara lain:

1. Bagi pihak manajemen di tempat kerja a. Peningkatan dukungan terhadap program K3.

b. Citra positif (tempat kerja) yang maju dan peduli keselamatan dan kesehatan).

c. Peningkatan moral staff.

d. Penurunan angka absensi krena kecelakaan dan penyakit akibat kerja. e. Peningkatan produktivitas.

f. Penurunan biaya kecelakaan dan kesakitan. 2. Bagi pekerja

a. Peningkatan percaya diri b. Penurunan stress

d. Peningkatan kemampuan mengenali bahaya di tempat kerja dan mencegah penyakit.

e. Peningkatan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat sekitar (Tresnaningsih dalam Helliyanti, 2009)

Menurut Notoatmodjo (2003), media promosi adalah alat bantu untuk menyampaikan informasi. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan sangat bervariasi, antara lain :

a. Media Cetak

1. Booklet merupakan suatu media untuk meyampaikanpesan dalam bentuk buku, baik merupa tulisan maupun gambar.

2. Flif chart (lembar balik), biasanya dalam bentuk buku dimana tiap lembaran baliknya berisi kalimat sebagai pesan cetak yang berisi pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.

3. Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas masalah.

4. Poster adalah bentuk media cetak yang berisi pesan-pesan berupa peringatan kepada pekerja untuk bekerja dengan aman dan sehat. Lokasi pemasangan poster sebaiknya di tempat yang mencolok sehingga orang tertarik untuk melihatnya, penerangan baik, dan tidak terganggu oleh lalu lintas.

5. Rambu-rambu K3 dapat membantu meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja serta dapat dipakai untuk mengurangi kebiasaan buruk yang banyak ditemukan.

b. Media Papan 1. Poster/billboard

Poster didesain oleh designer dan kemudian dicetak untuk ditempel di papan. Dipasang di lokasi seperti pemasangan wallpaper.

Menurut Suma’mur (1987), poster-poster dipergunakan untuk meniadakan kebiasaan-kebiasaan buruk, mempertunjukkan keuntungan-keuntungan jika berbuat selamat, atau memberikan keterangan terperinci, nasehat atau pengarahan terhadap masalah-masalah tertentu. dalam keraguan.

Poster dapat dipakai untuk pengarahan sesuatu sikap atau tindakan yang selamat. Misalnya poster tentang tangga dapat mengarahkan tenaga kerja untuk tidak memakai tangga yang cacat. Poster juga dapat dipakai untuk memperlihatkan ketentuan umum, umpamanya pemasngan poster tentang perlunya setiap tenaga kerja mendapat pertolongan pertama yang tepat jika terjadi kecelakaan.

2. Painted bulletin

Painted bulletin biasanya langsung digambar di tempat, misalnya : sebuah sisi dari gedung tertentu, atap bahkan dapat digambar dalam fiberboard.

Bentuk-bentuk promosi keselamatan dan kesehatan (K3) di tempat kerja antara lain:

a. Rambu-rambu K3

Menurut Goestch dalam penelitian Syaaf (2008), membuat safety promotion secara visual merupakan cara yang efektif untuk mempromosikan keselamatan. Sebagai contoh, rambu keselamatan yang tampak secara visual bagi operator mesin dapat mengingatkannya untuk menggunakan pengaman mesin. Rambu diletakkan di dekat mesin tersebut. Jika operator tidak dapat mengaktifkan mesin tanpa membaca rambu-rambu ini, maka operator tersebut akan selalu diingatkan untuk menggunakan cara aman setiap kali mengoperasikan mesin.

Kegunaan rambu-rambu K3 tersebut antara lain:

1. Menarik perhatian terhadap adanya kesehatan dan keselamatan kerja 2. Menunjukkan adanya potensi bahaya yang mungkin tidak terlihat 3. Menyediakan informasi umum dan memberikan pengarahan.

4. Mengigatkan para karyawan dimana harus menggunakan peralatan perlindungan diri

5. Mengindikasikan dimana peralatan darurat keselamatan berada.

6. Memberikan peringatan waspada terhadap beberapa tindakan yang atau perilaku yang tidak diperbolehkan.

Perundangan yang berkaitan dengan rambu-rambu K3 antara lain:

1. Undang-undang no 1 Tahun 1970 Pasal 14b : “ Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang

diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja “

2. Permenaker No. 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kriteria audit 6.4.4 : “Rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu darurat harus dipasang sesuai dengan standar dan pedoman“

Kelompok rambu-rambu dibagi dalam tiga bagian yakni : 1. Perintah, berupa : larangan , kewajiban.

2. Waspada, berupa : bahaya, peringatan, perhatian. 3. Informasi.

Adapun jenis rambu dapat berupa : 1. Rambu dengan simbol

2. Rambu dengan simbol dan tulisan

3. Rambu berupa pesan dalam bentuk tulisan .

Pedoman umum rambu-rambu K3 berasarkan warna antara lain:

Gambar 2.

Gambar 2.2. Pedoman umum rambu-rambu K3 berasarkan warna (DC Konsultan, 2012).

b. Komunikasi

Komunikasi vertikal terjadi secara timbal balik antara penyelia dengan tenaga kerja atau penyelia dengan manajer di atasnya. Komunikasi horizontal adalah komunikasi kesamping antara penyelia atau manajer satuan kerja yang sejajar. Sedang komunikasi silang terjadi secara timbal balik antara manajer pada suatu satuan kerja dengan penyelia pada satuan kerja yang lain. Manfaat komunikasi kesehatan keselamatan kerja baik itu komunikasi secara vertikal maupun horizontal adalah agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit kerja sehingga proses produksi dapat dilakukan dengan selamat (winarsono, 2013).

Komunikasi keselamatan dan kesehatan kerja dapat menggunakan berbagai meda baik lisan maupun tertulis. Pesan harus mudah diingat oleh penerima. Daya ingat rata-rata melalui berbgai media adalah sebagai berikut:

10% apa yang dibaca, 20% apa yang didengar, 30% apa yang dilihat,

50% apa yang didengar dan dilihat, 70% apa yang dikatakan,

90% apa yang dikatakan dan dikerjakan.

Bagaimaan pesan disampaikan dan diterima dipengaruhi berbagai faktor seperti perbedaan pendidikan dan kecerdasan, gaya belajar (learning style), faktor stress, perbedaan sikap, serta pengaruh bahasa non verbal. Oleh karena itu dalam berkomunikasi perlu diperhatikan:

Instruksi atau pesan harus jelas

Sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman penerima pesan Tidak memerlukan pertimbangan

Ada umpan balik untuk mengetahui tingkat pemahaman Kesesuaian pemikiran, kata dan tindakan pemberi pesan.

Disamping untuk menyampaikan perintah dan pengarahan dalam pelaksanaan pekerjaan, Komunikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja digunakan untuk mendorong perilaku, sehingga pekerja termotivasi untuk bekerja dengan selamat.

c. Bulan K3

Pemerintah telah menunjukkan komitmennya terhadap pentingnya Keselamatan dan kesehatan kerja, terbukti dengan menerbitkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Kep. 268/MEN/XII/2008 tanggal 30 Desember 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Tahun 2009. Disebutkan tujuan dan sasaran kampanye K3 pada tahun 2009 adalah:

a. Tujuan

1. Meningkatkan kesadaran dan partisipasi semua pihak untuk efektifitas pelaksanaan K3.

2. Mendorong terciptanya budaya K3 sebagai kebutuhan individu dan masyarakat.

3. Mendorong peningkatan peran perguruan tinggi dan lembaga lainnya dalam peningkatan kualitas SDM dalam bidang K3.

b. Sasaran

Terciptanya kesadaran dan perilaku masyarakat yang mencerminkan budaya K3 di setiap tempat kerja dalam mencegah serta menurunkan dan meniadakan terjadinya kecelakaan kerja dalam menjamin stabilitas usaha guna mendukung iklim investasi yang kondusif.

Kampanye K3 secara nasional dimulai sejak tanggal 12 Januari 1984. Dalam pendahuluan Petunjuk Pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja tahun 2009 disebutkan bahwa kampanye tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk pencegahan kecelakaan kerja yang ada dilingkungan tempat kerja (Depnakertrans RI, 2009).

Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di selenggarakan di setiap masing – masing Perusahaan, selain memasang bendera K3 dan Spanduk yang bertemakan budaya K3, juga dilaksanakan kegiatan lain seperti lomba – lomba yang bertemakan K3.(Isma, 2014)

d. Pengawasan

Pengecekan terhadap tindakan pencegahan keselematan dan kesehatan kerja adalah penting untuk dilakukan, sama pentingnya dengan pengecekan terhadap kemajuan dan hasil kerja. Para supervisor perlu melihat bahwa pertimbangan pemenuhan kewajiban akan keselamatan, kesehatan dan lingkungan mereka adalah merupakan bagian yang penting dari tugas. (Rijanto, 2010)

Pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan

berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian dalam Halimah, 2010)

Menurut Roughton dalam penelitian Syaaf (2008), beberapa individu yang harus terlibat dalam mengawasi tempat kerja yaitu:

a. Pengawas (supervisor)

Setiap pengawas yang ditunjuk harus mendapatkan pelatihan terdahulu mengenai bahaya yang mungkin akan ditemui dan juga pengendaliannya. b. Pekerja

Ini merupakan salah satu cara untuk melibatkan pekerja dalam proses keselamatan. Setiap pekerja harus mengerti mengenai potensi bahaya dan cara melindungi diridan rekan kerjanya dari bahaya tersebut. Mereka yang terlibat dalam pengawasan membutuhkan pelatihan dalam mengenali dan mengendalikan potensi hazard.

c. Safety Professional

Safety Professional harus menyediakan bimbingan dan petunjuk tentang metode inspeksi. Safety Professional dapat diandalkan untuk bertanggung jawab terhadap kesuksesan atau permasalahan dalam program pencegahan dan pengendalian bahaya.

e. Pelatihan

Pelatihan atau magang adalah proses melatih kegiatan atau pekerjaan (KBBI edisi 2, 1989).

Pelatihan merupakan suatu program yang diharapkan dapat memberikan rangsangan/stimulus kepada seseorang untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam pekerjaan tertentu dan memperoleh pengetahuan umum dan pemahaman terhadap keseluruhan lingkungan kerja atau organisasi (Sofyandi, 2008).

Tujuan umum pelatihan sebagai berikut : (1) untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif, (2) untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional, dan (3) untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan manajemen (pimpinan).

Pelatihan memberikan manfaat ganda dalam promosi keselamatan. Pertama, pelatihan memastikan pekerja tahu bagaimana cara bekerja dengan aman dan mengapa hal itu penting. Kedua, pelatihan menunjukkan bahwa manajemen memiliki komitmen memiliki komitmen terhadap keselamatan. (Goestsch dalam Syaaf, 2008) 2.2.6. Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PTPN IV Kebun

Dolok Ilir

Beberapa jenis kegiatan dari program promosi keselamatan dan kesehatan kerja di PTPN IV Kebun Dolok Ilir antara lain:

1. Pemasangan rambu-rambu keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

Pada setiap unit stasiun produksi pengolahan, rambu-rambu K3 yang dipasang berupa peringatan tanda bahaya akan kondisi lingkungan kerja dan risiko penyakit akibat kerja (PAK) dan peringatan pemakaian APD. 2. Komunikasi pesan (informasi K3)

a. Safety talk (pesan-pesan K3). Pesan K3 tersebut setiap tahunnya dilaksanakan pada periode tertentu seperti saat apel pagi setiap bulannya, saat sebelum pengoperasian proses produksi oleh mandor unit, saat rapat bulanan P2K3 yang meninjau aspek K3 pekerja dan lingkungan kerja dengan melibatkan setiap mandor unit dan perwakilan pekerja.

b. Penyebarluasan informasi K3 di setiap unit kerja yang bukan dalam bentuk rambu-rambu K3 dan bagi para tamu yang hendak masuk ke unit PKS juga diberikan informasi K3.

c. Pemberian buku saku K3 berupa PP 50 tahun 2012 tentang SMK3 yang didistribusikan dan disosialisasikan pada bulan Juli 2013.

3. Kegiatan Perayaan Bulan K3 Nasional

Kegiatan ini dilaksanakan aksi sosial K3 dengan gotong royong bersama di area pabrik, perumahan perkebunan dan tempat ibadah, upacara bendera dengan pembacaan pesan-pesan K3, pemasangan bendera,

baliho, spanduk dan poster K3, pengadaan perlombaan pembuatan poster K3 lukis dan cerdas cermat K3.

4. Pengawasan

a. Pengawasan harian oleh mandor unit terhadap perilaku bawahan atau karyawan bagian pengolahan PKS.

b. Patroli rutin peninjauan aspek K3 pekerja dan lingkungan setiap 1 bulan sekali oleh P2K3.

5. Pelatihan

Pelatihan yang dilaksanakan bagi karyawan unit pengolahan meliputi: a. Pelatihan pelaksanaan instruksi kerja

b. Pemadaman kebakaran (fire fighting) c. Pelatihan Rescue (tanggap darurat)

d. Pelatihan P3K dilengkapai dengan fasilitasnya.

e. Pemberian safety permit yang merupakan izin pekerjaan untuk memastikan pekerjaan yang berpotensi bahaya boleh dilakukan stelah ada pengarahan, pelatihan, dan pengeluaran sertifikat izin dengan Surat izin Operator (SIO) bagian Lori dan Ketel Uap yang berjumlah 4 orang.

Dokumen terkait