KAP ABC sudah melakukan kegiatan audit di PT X untuk tahun ketiga. Sehingga untuk menerima engagement klien ini, KAP ABC tidak memilki prosedur khusus layaknya pada saat menerima klien baru. Tetapi KAP ABC melakukan penilaian atas continuance risk untuk tahun pelaporan 2012, dan juga KAP ABC harus menyusun strategi audit untuk PT X.
Prosedur yang dimiliki dan dijalankan oleh KAP ABC dalam mengaudit laporan keuangan PT X adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Dalam tahap perencanaan, KAP ABC melakukan beberapa hal, yaitu: • Acceptance & continuance
Prosedur ini adalah prosedur awal yang dilakukan untuk menentukan penerimaan klien baru maupun memutuskan untuk melanjutkan kegiatan audit bagi klien yang tahun sebelumnya sudah pernah diaudit oleh KAP ABC.
Karena bukan merupakan klien baru, maka dalam melakukan proses awal, KAP ABC hanya melakukan update pemahaman auditor mengenai bisnis yang dijalankan oleh perusahaan, seperti perubahan apa saja yang terjadi serta risiko apa saja yang dihadapi oleh PT X di tahun berjalan. Prosedur ini wajib untuk dijalankan karena kegiatan bisnis perusahaan dan iklim bisnis yang terus berkembang dan berubah.
• Terms of engagement
Prosedur selanjutnya dilakukan setelah auditor setuju untuk menerima atau melanjutkan proses audit dengan perusahaan klien. Prosedur ini dilakukan untuk menentukan syarat dan ketentuan yang diperlukan untuk perikatan audit (audit engagement) dengan perusahaan klien pada periode audit tersebut.
• Mobilize team
Setelah menentukan terms of engagement, auditor melakukan penentuan tim yang akan melakukan proses audit di PT X, mulai dari engagement manager sampai dengan staf-staf (senior & junior auditor).
• Assess independence
Tahap selanjutnya yaitu asses independence yaitu tahap dimana dilakukan penilaian atas independensi dari masing-masing anggota tim yang sudah menjadi audit team untuk PT X. Apabila ternyata kemudian ditemukan anggota yang bersifat tidak independen, maka ia kemudian akan digantikan dengan staf lainnya yang tersedia.
• Required planning procedures
Dalam tahap berikutnya auditor melakukan perancanaan atas prosedur yang akan dilakukan nantinya selama proses audit laporan keuangan PT X berjalan.
2. Pemahaman bisnis, penilaian risiko dan penetapan strategi audit Dalam tahap ini, auditor KAP ABC akan melakukan beberapa tahap berikut yaitu:
• Business understanding
Karena PT X bukan merupakan klien baru bagi KAP ABC dan prosedur pemahaman bisnis ini sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya, maka prosedur ini tidak dilakukan secara mendetail. Data yang didapatkan oleh auditor dalam tahap business understanding dapat dilihat di lampiran 5.
• Menentukan tingkat materialitas
KAP ABC membagi tingkat materialitasnya menjadi tiga bagian yaitu:
- Overall materiality
Materialitas ini adalah tingkat materialitas untuk laporan keuangan PT X secara keseluruhan. Besarnya overall materiality biasanya ditentukan berdasarkan besarnya laba sebelum pajak (profit before tax) perusahaan klien, yaitu sebesar 5% dari laba sebelum pajak.
Untuk perhitungan overall materiality PT X, auditor KAP ABC mengikuti aturan yang ada, yaitu sebesar 5% dari laba sebelum pajak, dengan dilakukan pembulatan.
- Performance materiality
Performance materiality merupakan tingkat materialitas yang digunakan pada masing-masing akun dalam laporan keuangan PT X. Pada umumnya, range dari materialitas ini adalah sebesar 50% sampai dengan 70% dari overall materiality. Penetapan materialitas ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan total salah saji yang tidak terdeteksi atau tidak terkoreksi melebihi nilai dari overall materiarily yang ditetapkan.
Untuk PT X, besarnya performance materiality yang digunakan adalah sebesar 75% dari overall materiality. Performance materiality yang ditetapkan oleh auditor untuk akun properti investasi adalah sebesar Rp 1.045.000.000.
- Summary of uncorrected misstatements (SUM)
Tingkat materialitas ini digunakan untuk menentukan apakah salah saji yang ditemukan pada saat proses audit perlu dilakukan penyesuaian (adjustment) atau tidak. Apabila nilai salah saji yang ditemukan tidak lebih besar dari nilai SUM yang ditentukan, maka nilai salah saji tersebut dianggap tidak material dan tidak perlu dilakukan penyesuaian. Tetapi apa bila nilai salah saji yang ditemukan lebih besar dari nilai SUM yang ditentukan, maka nilai salah saji tersebut perlu dibuat penyesuaian.
Besarnya nilai SUM pada umumnya adalah 10% dari performance materiality. Nilai SUM yang ditetapkan untuk PT X adalah 13% dari nilai performance materiality yang telah ditetapkan. SUM yang ditetapkan oleh auditor KAP ABC untuk akun properti investasi PT X adalah sebesar Rp 139.300.000.
Pada prosedur audit untuk menentukan tingkat materialitas ini, batasan materialitas yang digunakan oleh auditor ditetapkan sama untuk setiap akun yang dimiliki oleh PT X, baik akun yang memiliki resiko rendah maupun resiko tinggi. Namun untuk akun yang memiliki resiko lebih tinggi, auditor membutuhkan bukti dalam jumlah yang lebih besar untuk memverifikasi nilai yang ada.
• Analisis atas penilaian risiko
Berdasarkan penilaian risiko yang dilakukan oleh KAP ABC, PT X memiliki risiko sebagai berikut:
- Risiko kredit
PT X memiliki risiko kredit atas piutangnya kepada pihak lain, tetapi risiko tersebut terbatas karena lawan transaksi
(counter party) adalah lembaga keuangan yang terpercaya. Untuk laporan keuangan tahun berjalan, perusahaan memiliki saldo piutang yang telah jatuh tempo sebesar 26% dari keseluruhan piutang usaha. Sebagian besar piutang yang telah jatuh tempo berasal dari pihak-pihak berelasi dan perusahaan memegang uang jaminan sebagai perlindungan atas piutang usahanya. Kualitas kredit dari tiap pelanggan dinilai berdasarkan posisi keuangan, pengalaman masa lalu dan faktor-faktor lainnya. Setiap jumlah kredit diatur berdasarkan kebijakan internal atau sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan oleh direksi. Terdapat keyakinan tinggi bahwa piutang usaha seluruhnya dapat diterima kembali berdasarkan kondisi saat ini dan tidak terdapat permasalahan saat ini, sehingga resiko kredit dinilai tidak terlalu besar menurut auditor KAP ABC.
- Risiko permodalan
Struktur permodalan perusahaan berasal dari utang neto yang diimbangi dengan kas dan saldo bank serta ekuitas yang terdiri dari modal ditempatkan, cadangan, laba ditahan. Perusahaan melakukan pengelolaan modal untuk memastikan dapat menjaga kelangsungan usaha sekaligus memaksimalkan pengembalian kepada pemegang kepentingan melalui optimalisasi utang dan keseimbangan ekuitas. Menurut auditor, resiko yang dimiliki perusahaan masih dapat diatasi dan bukan merupakan risiko yang besar.
• Menilai tingkat inherent risk
Prosedur yang dilakukan oleh auditor setelah mengidentifikasi risiko yatu menilai tingkat inherent risk yang dimiliki oleh perusahaan. Penilaian tersebut dilakukan untuk setiap akun dan hasilnya digunakan untuk menentukan jumlah bukti substantif yang dibutuhkan dalam prosedur audit.
• Menetapkan strategi audit
Prosedur selanjutnya yang dilakukan oleh auditor adalah melakukan penetapan strategi audit. Strategi yang ditetapkan oleh auditor ini mencakup hal-hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan prosedur audit, yaitu kepatuhan PT X terhadap regulasi terkait dan kemungkinan perusahaan melakukan kesalahan dalam pencatatan pada general ledger.
• Memulai perencanaan audit
3. Merespon risiko dan mengumpulkan bukti
Dalam prosedur selanjutnya, auditor KAP ABC melakukan beberapa hal, yaitu:
• Menilai ekspektasi mengenai apakah pengendalian yang ada dapat diandalkan serta merencanakan bukti substantif apa saja yang dibutuhkan
• Melakukan uji pengendalian, apabila ekspektasi atas keandalan pengendalian perusahaan atas akun-akun yang dimilki berada di tingkat yang tinggi, maka tahap selanjutnya adalah memfokuskan pada prosedur analitis substantif. Tetapi apabila ekspektasinya berada dalam tingkat yang rendah atau tidak ada sama sekali, maka prosedur selanjutnya adalah fokus pada uji rincian saldo. Prosedur pengujian ini dilakukan atas setiap akun yang dimiliki.
4. Menyelesaikan prosedur audit
Dalam tahap terakhir proses audit, auditor melakukan beberapa prosedur, yaitu:
• Melakukan penyelesaian audit laporan keuangan perusahaan sesuai dengan audit program yang dimiliki.
• Menerbitkan laporan keuangan perusahaan yang sudah diaudit serta memberikan opini yang sesuai mengenai laporan keuangan perusahaan.
• Menerbitkan laporan auditor terkait proses audit atas perusahaan.
4.3 Bahan Bukti Audit untuk Audit atas Properti Investasi dan Prosedur