PROSEDUR DAN MEKANISME PELAKSANAAN TUGAS
1. Prosedur dan Mekanisme Penelitian Kemasyarakata (Litmas)
Sebelum Saudara mempelajari prosedur dan mekanisme penelitian kemasyarakatan (litmas), Saudara harus mengetahui tentang penelitian kemasyarakatan.
Warga binaan pemasyarakatan di sini termasuk di dalamnya narapidana, anak didik pemasyarakatan, dan klien pemasyarakatan. Ada beberapa pengertian lainnya tentang penelitian kemasyarakatan yang hendaknya Saudara ketahui, hal tersebut dapat Saudara pelajari dalam Modul Dasar-Dasar Pembimbingan (Modul II).
Setelah mengetahui pengertian penelitian kemasyarakatan, Saudara juga harus mengetahui jenis-jenis penelitian kemasyarakatan.
Karim (2011: 13,16) membahas litmas dalam dua bagian utama, yakni litmas peradilan (Pre-Sentences Investigation Report) dan litmas pembinaan (Post Sentences
Investigation Report). Berdasarkan tujuan dibuatnya penelitian kemasyarakatan,
jenis-jenis litmas dapat kita temukan dalam Petunjuk Pelaksanaan Menteri Kehakiman RI Nomor E-39.PR.05.03 Tahun 1987, yakni sebagai berikut:
a. Model L.1, laporan penelitian kemasyarakatan untuk sidang pengadilan negeri; b. Model L.2, laporan penelitian kemasyarakatan untuk bimbingan bapas lain;
c. Model L.3, laporan penelitian kemasyarakatan untuk bimbingan dalam lembaga pemasyarakatan;
d. Model L.4, laporan penelitian kemasyarakatan untuk calon anak asuh;
e. Model L.5, laporan penelitian kemasyarakatan untuk orang tua atau wali dari calon anak asuh;
f. Model L.6, laporan penelitian kemasyarakatan untuk calon keluarga asuh;
g. Model L.7, laporan penelitian kemasyarakatan untuk calon pengasuh oleh bapas; h. Model L.8, laporan penelitian kemasyarakatan untuk instansi lain.
Secara umum, isi laporan penelitian kemasyarakatan terdiri atas data individu dan data keluarga klien yang bersangkutan serta simpulan atau pendapat dari pembimbing kemasyarakatan (Supramono, 2005:68). Namun, untuk mengetahui lebih mendalam, format dan isi penelitian kemasyarakatan selengkapnya dapat Saudara pelajari dalam Buku VII, Kumpulan Peraturan Perundang-undangan Bidang Pembimbingan yang dapat Saudara baca dengan mengakses http://www.bimkemas.kemenkumham.go.id.
Penelitian Kemasyarakatan adalah kegiatan penelitian untuk mengetahui latar belakang kehidupan warga binaan pemasyarakatan yang dilaksanakan oleh balai pemasyarakatan (Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999, Pasal 1 angka 3).
Prosedur dan mekanisme penelitian kemasyarakatan yang ditempuh oleh pembimbing kemasyarakatan adalah sebagai berikut:
a. pencatatan (registrasi) permintaan litmas;
b. pengumpulan data dengan cara mengunjungi rumah dan tempat-tempat lain yang berhubungan dengan permasalahan klien; Untuk memperoleh data tersebut, pembimbing kemasyarakatan menggunakan teknik: pengamatan, wawancara, psikotes, dan mempelajari dokumen yang berhubungan dengan permasalahan dan teknik lainnya;
c. pengolahan data; Setelah memperoleh data-data yang lengkap, pembimbing kemasyarakatan menganalisis dan menyimpulkan serta memberikan pertimbangan atau saran sehubungan dengan permasalahannya, yang selanjutnya dituangkan dalam konsep laporan penelitian kemasyarakatan.
d. sidang TPP; Konsep litmas yang telah dibuat, kemudian dibahas dalam forum sidang tim pengamat pemasyarakatan untuk mendapatkan tanggapan dari peserta sidang serta untuk menentukan saran dan pertimbangan dari litmas;
e. perbaikan dan penggandaan litmas, penandatanganan, serta pengiriman litmas. Agar Saudara dapat memahami dengan lebih mudah mengenai prosedur dan mekanisme penelitian kemasyarakatan, perhatikanlah Gambar 4 berikut:
Gambar 4 Prosedur Pelayanan Penelitian Kemasyarakatan (Litmas) Sumber: Buku Pedoman Pelayanan Penelitian Kemasyarakatan, Pembimbingan,
Pengawasan, dan Pendampingan, Bapas Jakarta Pusat Tahun 2009
Uraian yang lebih lengkap dan terperinci mengenai prosedur dan mekanisme penelitian kemasayarakatan, dapat Saudara lihat dan pelajari dalam file “Kumpulan SOP Balai Pemasyarakatan” yang dapat Saudara akses di website bimkemas.kemenkumham.go.id.
Agar Saudara mendapat gambaran yang lebih jelas tentang prosedur dan mekanisme penelitian kemasyarakatan, berikut ini beberapa bentuk dari penelitian kemasyarakatan yang saat ini dipraktikkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
Litmas untuk Sidang Pengadilan (Pre-Sentences Investigation Report)
Penelitian kemasyarakatan (litmas) untuk sidang pengadilan anak adalah litmas yang dimintakan oleh aparat penegak hukum lainnya (polisi, jaksa, hakim). Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, litmas menjadi bagian dalam setiap tahapan proses, baik diversi maupun pidana formal. Untuk lebih mudahnya mempelajari kegunaan litmas pada setiap tahapan perkara anak, perhatikanlah Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1 Kegunaan Litmas di Tiap Tahapan Penegak
Hukum
Kegunaan Litmas Pasal yang mengatur dalam UU SPPA Polisi -Pertimbangan Diversi
-Penyidikan
-Pelimpahan Berkas ke Jaksa
-Pasal 9 ayat (1) huruf c -Pasal 27 ayat (1) -Pasal 28 ayat (4) Jaksa -Pertimbangan Diversi
-Pelimpahan Berkas ke Pengadilan
-Pasal 9 ayat (1) huruf c -Pasal 42 ayat (4)
Hakim -Pertimbangan Diversi -Pertimbangan Putusan
-Pasal 9 ayat (1) huruf c -Pasal 60 ayat (3)
Litmas ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan faktor penyebab hingga anak melakukan tindak pidana, baik yang berasal dari dirinya (internal), seperti tingkah laku anak di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, maupun faktor lingkungan (eksternal), yakni keadaan keluarga dan masyarakat, seperti kebiasaan orang tua dalam mendidik anak dan sikap atau perlakuan orang tua sehari-hari terhadap anak. Litmas juga bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memutus perkara anak tersebut, seperti status anak, masih bersekolahkah atau tidak, kondisi sosial ekonomi keluarganya, kesanggupan orangtua untuk mendidik anak, tanggapan berbagai pihak terhadap anak, termasuk masyarakat dan pemerintah setempat.
Dalam bagian akhir litmas, dikemukakan simpulan dan saran berdasarkan penelitian kemasyarakatan yang telah dilakukan. Simpulan penelitian kemasyarakatan tersebut berisi:
1) nama dan catatan kelahiran (umur) anak serta ringkasan dari susunan keluarga anak yang bermasalah dengan hukum;
Contoh:
“Klien bernama Agus Wijanarko bin Sudi Dadi, adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, anak dari pasangan Bapak Sudi dan Ibu Usnayati. Klien masih berusiamuda, lahir pada tanggal 06 Desember 1993 dan saat melakukan tindak pidana klien masih berusia 17 tahun.”
2) status sekolah anak dan kegiatan lain diluar sekolah; Contoh:
“Klien hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMK, yakni di SMK Yabinka
Cilegon (putus sekolah), kegiatan sehari-harinya adalah bekerja sebagai tukang parkir.”
3) masa penahanan anak dan tindak pidana yang disangkakan kepadanya; 4) faktor penyebab anak melakukan tindak pidana;
5) tanggapan orang tua, masyarakat, pemerintah setempat,dan korban (apabila ada), termasuk proses dan hasil mediasi atau musyawarah antara pihak anak dengan pihak korban (jika ada).
Saran yang disampaikan dalam penelitian kemasyarakatan untuk sidang pengadilan anak dapat berupa:
1) rekomendasi mengenai sanksi yang dijatuhkan kepada anak, baik berupa pidana, misalnya pidana penjara atau pidana bersyarat, maupun berupa tindakan, misalnya dikembalikan kepada orang tuanya, atau diserahkan kepada Kementerian Sosial atau lembaga sosial masyarakat, seperti pesantren dan rumah rehabilitasi; Penjelasan lebih lanjut mengenai jenis sanksi yang dijatuhkan pada anak dapat Anda baca, khususnya pada pasal-pasal dalam Bab V Undang-Undang SPPA.
2) rekomendasi agar anak tidak menjalani penahanan selama proses hukum berlangsung;
3) pertimbangan dan tingkat risiko terhadap setiap sanksi yang dijatuhkan kepada anak;
Misalnya:
“Apabila klien menjalani pemidanaan yang terlalu lama, akan berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis dan sosiologis klien, serta klien terancam berhenti sekolah.”
Litmas sidang pengadilan anak ini sangat besar peranannya dalam proses pendampingan terhadap anak; tanpa keberadaan litmas, putusan yang dijatuhkan oleh hakim kepada anak “batal demi hukum” (Pasal 60 ayat (4) Undang-Undang SPPA). Secara sederhana, proses pembuatan laporan peneliltian kemasyarakatan untuk sidang pengadilan anak dapat Saudara lihat pada Gambar 4 di bawah ini:
Gambar 4 Prosedur Litmas Pengadilan Anak
Sumber: Prosedur Tetap Pelaksanaan Tugas Pemasyarakatan, Ditjenpas 2003 Laporan Penelitian Kemasyarakatan untuk Bimbingan Dalam dan Luar Lembaga Pemasyarakatan (Post Sentences Investigation Report)
dalamnya pembinaan yang telah diterima oleh WBP, sikap dan kepatuhan WBP terhadap peraturan di dalam lapas/rutan, keterampilan/pelatihan apa yang telah didapatkan oleh WBP, relasi sosial WBP dengan sesama WBP lainnya, serta relasi WBP dengan keluarganya.
Kegunaan litmas untuk bimbibingan dalam lembaga adalah untuk menentukan program pembinaan di dalam lembaga, sementara kegunaan litmas untuk pembinaan luar lembaga adalah untuk pertimbangan persetujuan program pembinaan di luar lembaga, misalnya dalam bentuk asimilasi, PB, dan CMB.
Dalam bagian akhir litmas dikemukakan simpulan dan saran dari penelitian kemasyarakatan yang telah dilakukan. Simpulan penelitian kemasyarakatan tersebut berisi:
1) ringkasan perkembangan pembinaan WBP selama berada di dalam lapas/rutan; 2) masa pidana yang telah dijalani;
3) pengusulan PB dan CMB disertakan pula tanggapan keluarga, masyarakat, dan pemerintah setempat serta kesanggupan mereka untuk menerima kembali WBP di masyarakat untuk litmas pembinaan luar lembaga.
Saran yang disampaikan dalam penelitian kemasyarakatan ini antara lain berupa: 1) rekomendasi mengenai jenis program pembinaan untuk masa pembinaan
selanjutnya; dan
2) disetujui atau tidak disetujuinya usulan PB/CMB WBP serta pertimbangannya untuk litmas pembinaan luar lembaga.