• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PEMBIMBINGAN

B. Subpokok Bahasan

1. Sejarah Perkembangan Balai Pemasyarakatan

Sebelum munculnya balai pemasyarakatan (bapas) di Indonesia, dikenal lebih dahulu Jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa yang didirikan oleh Pemerintah Belanda dengan dikeluarkannya Gouverment Besluit tanggal 15 Agustus 1927, yang berpusat pada Departemen van Justitie di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan orang Belanda dan pribumi yang harus dibimbing secara khusus. Pada saat itu Kantor Besar Jawatan Kepenjaraan/Jawatan Reklasering memberi subsidi kepada badan reklasering swasta dan pra-yuwana, dan tenaga sukarelawan perseorangan (volunteer probation officer). Selanjutnya, badan tersebut menjadi petugas teknis pembinaan klien luar lembaga (Aziz, 1998:97). Petugas yang menjalankan tugas dan fungsi di Badan Reklasering yang dikelola oleh Negara disebut

Ambtenaar der Reclassering (Pegawai Negeri Istimewa pada Badan Reklasering) yang

diatur dalam KUHP (Pasal 14 d ayat (2) disebut pegawai istimewa (bijzondere

ambtenaar).

Pada tahun 1930--1935 yang dikenal masa Malaise, Pemerintah Belanda mengalami kesulitan biaya akibat kondisi Perang Dunia I serta tingginya tingkat korupsi di tubuh VOC. Akibatnya sangat memengaruhi eksistensi pemerintahan Belanda di Indonesia, termasuk jawatan baru tersebut. Berdasarkan hal tersebut, dikeluarkan Surat Keputusan Jenderal G.E. Herbrink Nomor 11 Stbld. pada tanggal 6 September 1932 yang menyatakan bahwa Jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa disatukan. Sehubungan dengan itu, tugas reklasering dan pendidikan paksa dimasukkan dalam tugas, fungsi, dan peran jawatan kepenjaraan, yang selanjutnya disebut Inspektorat Reklasering dan Pendidikan Paksa. Tugas Inspektorat Reklasering dan Pendidikan Paksa adalah (a) menangani lembaga-lembaga anak yang disebut Rumah Pendidikan Negara (RPN) dan (b) menangani Klien Lapas Bersyarat, Pidana Bersyarat, dan Pembinaan lanjutan (After Care), serta Anak yang diputus hakim kembali kepada orang tua atau walinya (Aminah, hal 97). Selain menggabungkan Jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa, jawatan ini juga dimasukkan dalam struktur setiap penjara yang ada di Indonesia yang dinamakan Bagian Reklasering. Tujuan Reklasering ini antara lain (a) menjauhkan yang bersalah dari rumah penjara, (b) mempercepat yang bersalah dari penjara, dan (c) mengembalikan bekas terhukum dan anak pada kehidupan sedia kala/after care (R. Tondokusumo, 1950:6).

Pada tahun 1939 Pemerintah Belanda berniat untuk menghidupkan kembali dan memperbaharui Badan Reklasering, tetapi terhambat dengan pecahnya Perang Dunia II. Untuk mengatasinya pada setiap penjara masih ada bagian reklasering yang sifatnya pasif sampai tahun 1943. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak ada perubahan mengenai perkembangan reklasering, hanya pelaksanaan lepas bersyarat yang tidak lagi dijalankan. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 27 April 1964 terjadi perubahan sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan.

Sistem pemasyarakatan yang digunakan oleh bangsa Indonesia memiliki tujuan reintegrasi bagi pelanggar hukum (narapidana dan anak didik) dengan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI 1945. Agar terciptanya pembinaan klien pelanggar hukum, maka dikeluarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera No.75/U/Kep/II/66. Dengan surat keputusan tersebut, struktur organisasi kepenjaraan berubah menjadi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang memiliki dua direktorat yang menangani (1) pembinaan narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan dan (2) pembinaan narapidana di luar lembaga pemasyarakatan yang mencakup pula pembinaan anak di dalam lembaga pemasyarakatan. Direktorat yang menangani pembinaan narapidana di luar lapas dan pembinaan anak di dalam lapas disebut Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak (BISPA).

Istilah Bispa pertama kali dicetuskan oleh R. Waliman Hendrosusilo yang terdiri dari 2 (dua) istilah, yakni BIS dan PA. BIS singkatan dari bimbingan kemasyarakatan dan PA singkatan dari pengentasan anak. Tujuan pendirian badan ini adalah untuk pembinaan di luar penjara. Metode yang digunakan dalam bimbingan di luar penjara juga berbeda dengan metode pembinaan yang dilakukan di dalam penjara (Marianti Soewandi, wawancara, 27 Juli 2012).

Persiapan perubahan dari lembaga reklasering ke Bispa dilakukan oleh R. Waliman Hendrosusilo, Bc.S.W., S.H. Dra. CM. Marianti Soewandi, Bc.I.P., serta Panitia Khusus Bispa yang dibentuk pada tahun 1968. Istilah PK pertama kali dikemukakan oleh Bapak R. Waliman Hendrosusilo, Bc.S.W., S.H. Beliau adalah sarjana muda pekerja sosial dari Australia dan memperoleh gelar Sarjana Hukum di Jakarta. Istilah PK merupakan pengganti dari Ambtenaar der Reclassering yang digunakan di negeri Belanda atau

Probation Officer yang digunakan oleh negara-negara di dunia barat ataupun Asia

(Marianti Soewandi, 2003). Pemakaian istilah PK digunakan juga oleh Bapak Drs. Soemarsono A. Karim dalam kertas kerja beliau yang dibuat atas permintaan Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (sekarang namanya Badan Pembinaan Hukum Nasional) pada tahun 1976 dalam acara Loka Karya Evaluasi Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak (Soemarsono A. Karim, 2011). Sejak saat itu pekerja sosial kehakiman yang bergerak di bidang koreksional dikenal dengan sebutan pembimbing kemasyarakatan dan laporan penelitian sosial disebut litmas sampai saat ini.

Tahun 1968 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mendidik 60 (enam puluh) orang lulusan Sekolah Pekerjaan Sosial Atas (SPSA) untuk menjadi pembimbing kemasyarakatan. Pendidikan tersebut diselenggarakan selama 6 bulan. Pendidikan calon pembimbing kemasyarakatan itu dilaksanakan sampai dengan tahun 1981. Hal itu dilakukan karena tuntutan amanat perundang-undangan yang mengharuskan didirikannya balai pemasyarakatan di ibu kota provinsi serta kabupaten/kota di seluruh Indonesia secara bertahap (MariantiSoewandi, wawancara 27 Juli 2012). Pada tahun 1970 Kantor Bispa pertama berdiri di Jakarta yang menjadi satu dengan gedung kantor Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Pada tahun 1995 setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, istilah bispa berubah menjadi bapas. Hal tersebut dikuatkan juga dalam Keputusan Menteri No. M.01.PR.07.03 Tahun 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemasyarakatan. Dalam Undang-Undang Pemasyarakatan Nomor 12 Tahun 1995 Pasal 2 dijelaskan bahwa bapas mempunyai tugas memberikan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perundang-undangan yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang menyebutkan tentang tugas bapas. Tugas bapas adalah memperlancar tugas penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam perkara anak nakal, baik di dalam maupun di luar sidang anak, dengan membuat Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan (Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, 2003). Dalam Pasal 56 disebutkan bahwa laporan hasil penelitian kemasyarakatan diajukan oleh pembimbing kemasyarakatan kepada hakim sebelum sidang dibuka. Tugas bapas menurut Prinst (1997:30) antara lain membimbing, membantu, dan mengawasi anak nakal berdasarkan putusan pengadilan yang dijatuhi hukuman :

a. pidana bersyarat; b. pidana pengawasan; c. pidana denda;

d. diserahkan kepada negara (anak negara); e. harus mengikuti latihan kerja;

f. memperoleh pembebasan bersyarat dari lembaga pemasyarakatan.

Dalam upaya mengoptimalkan proses pemasyarakatan, Marianti Soewandi sebagai pelopor bispa di Indonesia mengusulkan agar materi mengenai pekerjaan pembimbing kemasyarakatan sebagai garda terdepan bapas, perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan Akademi Ilmu Pemasyarakatan (Akip). Akip merupakan lembaga pendidikan kedinasan yang menjadi salah satu lembaga penghasil sumber daya

manusia pemasyarakatan yang terpadu. Materi yang diusulkan Marianti Soewandi, (dalam wawancara 27 Juli 2012) antara lain:

a. pengetahuan pekerjaan sosial bagi mahasiswa Akip;

b. pengetahuan mengenai teori dan teknik pembuatan penelitian kemasyarakatan (langsung disetujui oleh Direktur Akip pada waktu itu, yakni Drs. Hasannudin, Bc.I.P.);

c. adanya petugas teknis khusus untuk pembinaan pelanggar hukum.

2. Sejarah Perkembangan Ilmu Pekerjaan Sosial dan Laporan Penelitian Kemasyarakatan

di Indonesia

Dalam buku Empat Puluh Tahun Pemasyarakatan Mengukir Prestasi (Ditjen Pemasyarakatan, 2004) dijelaskan bahwa Dr. Sahardjo mengenalkan gagasannya tentang konsep pemasyarakatan melalui pidatonya yang berjudul “Pohon Beringin Pengayoman” saat menerima penghargaan Doktor Honoris Causa dalam bidang hukum pada bulan Juli 1963 di Istana Negara Republik Indonesia. Pendapat Dr. Sahardjo mengenai konsep pemasyarakatan adalah bahwa setiap orang yang pernah dipenjara adalah manusia yang harus diperlakukan sebagai manusia. “Setiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia. Meskipun ia telah tersesat, tidak boleh ditunjukkan pada narapidana bahwa ia itu penjahat. Sebaliknya, ia harus merasa bahwa ia dipandang dan diperlakukan sebagai manusia.”

Gagasan tentang pemasyarakatan tersebut terealisasi dalam Konferensi Nasional Kepenjaraan di Grand Hotel, Lembang, Bandung pada tanggal 27 April 1964, yang diikuti oleh seluruh direktur penjara di Indonesia. Dalam konferensi tersebut istilah kepenjaraan diganti menjadi pemasyarakatan. Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu, tanggal 27 April ditetapkan sebagai Hari Pemasyarakatan.

Dalam upaya mewujudkan terlaksananya sistem pemasyarakatan tersebut, dibutuhkan berbagai disiplin ilmu. Salah satu disiplin ilmu yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pembinaan adalah ilmu pekerjaan sosial. Ilmu pekerjaan sosial yang khusus bergerak di bidang koreksional dikenal dengan sebutan Pekerjaan Sosial Koreksional.

Perkembangan ilmu pekerjaan sosial di bidang koreksional terjadi sangat pesat di negara-negara penganut mazhab Anglo Saxon, misalnya Amerika Serikat dan Inggris. Ilmu pekerjaan sosial koreksional ini mulai dirasakan manfaatnya pada pertengahan abad XIX hingga sekarang. Ilmu pekerjaan sosial koreksional mulai berkembang di Indonesia kira-kira tahun 1957. Hal itu seiring dengan jumlah angka kenakalan remaja di Indonesia yang makin memuncak, khususnya pendampingan bagi anak dalam

rangka proses persidangan perkara anak di pengadilan negeri Jakarta (Soemarsono A. Karim, 2011).

Pada saat itu istilah yang digunakan bagi pekerja sosial di bidang koreksional adalah pekerja sosial kehakiman yang sekarang disebut pembimbing kemasyarakatan dan istilah litmas yang sekarang kita gunakan disebut case study. Untuk lebih jelasnya, dapat dibaca pada Modul I.

Tahap perkembangan laporan penelitian kemasyarakatan di Indonesia dibagi dalam empat periode (Karim, 2011) berikut:

a. Periode 1958–1964

Pada periode ini dikenal dengan nama “case study”. Istilah case study diperkenalkan oleh Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan yang sekarang bernama Sekolah Menengah Pekerja Sosial (SMPS). Dalam rangka praktik lapangan, siswa SMPS memberikan bantuan kepada keluarga anak yang mengalami masalah kenakalan anak (juvenille deliquency) yang digunakan sebagai bahan pertimbangan hakim pada sidang perkara anak di pengadilan.

b. Periode 1964--1974

Pada masa ini istilah Case study berubah menjadi laporan social study atau laporan social case study. Istilah ini digunakan di dalam lingkungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Direktorat Bispa yang kemudian berubah nama menjadi Direktorat Binlulapas) dan kepolisian. Laporan tersebut dibuat guna memenuhi permintaan hakim.

c. Periode 1974–1976

Pada periode ini istilah Laporan Social Case Study berubah menjadi Laporan Penelitian Sosial, sedangkan di kepolisian (khususnya di Biro Anak/Binapia) digunakan istilah social case study.

d. Periode 1976–sekarang

Pada periode ini istilah yang digunakan adalah laporan penelitian kemasyarakatan yang disingkat litmas. Istilah ini diperkenalkan oleh R. Waliman Hendrosusilo, Bc.S.W., S.H. pada tahun 1968 dan juga digunakan oleh Drs. Soemarsono A. Karim. Petugas yang menyusunnya disebut pembimbing kemasyarakatan. Saat ini litmas digunakan untuk bahan persidangan perkara anak di PN dan bahan untuk pembinaan, seperti untuk asimilasi, cuti menjelang bebas, cuti mengunjungi keluarga, dan pembebasan bersyarat.

Berdasarkan perjalanan sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada benang merah antara pekerja sosial dan pembimbing kemasyarakatan. Oleh sebab itu, wajib bagi PK untuk mempelajari ilmu pekerjaan sosial sebagai dasar dalam melaksanakan tugas di lapangan.

Tugas dan peran PK ke depannya akan makin berat dan luas. Hal itu dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Oleh sebab itu, PK dituntut untuk makin profesional dalam pekerjaannya dan tidak berhenti belajar untuk menambah wawasan dan kemampuannya.

C. Rangkuman

Pada mulanya Jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa yang didirikan oleh Pemerintah Belanda dengan dikeluarkannya Gouverment Besluit tanggal 15 Agustus 1927, yang berpusat pada Departemen van Justitie di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan orang Belanda dan pribumi yang harus dibimbing secara khusus. Jawatan Reklasering memberi subsidi kepada badan reklasering swasta dan pra-yuwana, dan tenaga sukarelawan perseorangan (Volunteer

Probation Officer). Karena kesulitan biaya, Pemerintah Belanda menghapus jawatan baru

tersebut. Berdasarkan Surat Keputusan Jenderal G.E. Herbrink Nomor 11 Stbld. pada tanggal 6 September 1932 Jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa dihapuskan. Berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Ampera No.75/U/Kep/II/66, struktur organisasi Jawatan Reklasering berubah menjadi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Dengan surat keputusan tersebut, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terdiri atas dua direktorat yang menangani (1) pembinaan narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan dan (2) pembinaan narapidana di luar lembaga pemasyarakatan yang mencakup pula pembinaan anak di dalam lembaga pemasyarakatan. Direktorat yang menangani pembinaan narapidana di luar lapas dan pembinaan anak di dalam lapas kemudian disebut Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak (Bispa). Persiapan perubahan dari lembaga Reklasering ke Bispa dilakukan oleh R. Waliman Hendrosusilo, Bc.S.W., S.H. dan Dra. CM. Marianti Soewandi, Bc.I.P., serta Panitia Khusus Bispa yang dibentuk pada tahun 1968. Pada tahun 1970 Kantor Bispa pertama berdiri di Jakarta. Tahun 1995 setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, istilah bispa berubah menjadi bapas. Hal tersebut dikuatkan juga dalam Keputusan Menteri Nomor M.01.PR.07.03 Tahun 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemasyarakatan. Dalam Pasal 2, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dijelaskan bahwa bapas mempunyai tugas memberikan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dr. Sahardjo mengenalkan gagasannya tentang konsep pemasyarakatan melalui pidatonya yang berjudul “Pohon Beringin Pengayoman” pada saat menerima penghargaan Doktor Honoris Causa dalam bidang hukum pada bulan Juli 1963 di Istana Negara RI. Pendapat Dr. Sahardjo mengenai konsep pemasyarakatan adalah bahwa setiap orang yang pernah dipenjara adalah manusia yang harus diperlakukan sebagai manusia. “Setiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, meskipun ia telah tersesat, tidak boleh ditunjukkan pada narapidana bahwa ia itu penjahat. Sebaliknya, ia harus merasa bahwa ia dipandang dan diperlakukan sebagai manusia.” Pada tanggal 27 April 1964 istilah kepenjaraan diganti menjadi pemasyarakatan. Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu, maka tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pemasyarakatan. Dalam mewujudkan terlaksananya sistem pemasyarakatan tersebut, dibutuhkan berbagai disiplin ilmu. Salah satu disiplin ilmu yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pembinaan adalah disiplin ilmu pekerjaan sosial. Ilmu pekerjaan sosial yang khusus bergerak di bidang koreksional dikenal dengan sebutan pekerjaan sosial koreksional. Ilmu pekerjaan sosial koreksional mulai berkembang di Indonesia kira-kira tahun 1957. Hal itu seiring dengan jumlah angka kenakalan remaja di Indonesia yang makin memuncak, khususnya pendampingan bagi anak dalam rangka proses persidangan perkara anak di pengadilan negeri Jakarta. Pada saat itu istilah yang digunakan bagi pekerja sosial di bidang koreksional adalah pekerja sosial kehakiman yang sekarang disebut pembimbing kemasyarakatan dan istilah case study yang sekarang disebut litmas. Tahapan periode perkembangan laporan penelitian kemasyarakatan ada 4 (empat), yaitu: Periode Tahun 1958–1964 Periode Tahun 1964–1974 Periode Tahun 1974–1976 Periode Tahun 1976–sekarang  Digunakan istilah case study (dikenalkan oleh Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan, sekarang SMPS).  Digunakan untuk bahan pertimbangan hakim pada sidang perkara anak di pengadilan.

 Diubah menjadi laporan social study atau laporan social

case study.  Digunakan di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (khususnya Direktorat Bispa yang kemudian  Diubah menjadi laporan penelitian social  Di kepolisian (khususnya di Biro Anak/Binapia) menggunakan istilah social case

study.

 Digunakan istilah laporan penelitian kemasyarakatan (litmas).

 Istilah ini dicetuskan oleh R. Waliman Hendrosusilo, Bc.S.W., S.H. pada tahun 1968. Istilah ini juga digunakan

berubah nama menjadi Direktorat Binlulapas) dan kepolisian.  Laporan ini digunakan untuk memenuhi permintaan hakim. oleh Drs. Soemarsono A. Karim yang dimuat pada paper untuk Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (sekarang Badan Pembinaan Hukum Nasional) tahun 1976.  Litmas digunakan untuk bahan persidangan perkara anak di PN dan bahan untuk pembinaan, seperti untuk asimilasi, cuti menjelang bebas, cuti mengunjungi keluarga dan PB.

D. Latihan

Setelah Saudara membaca materi di atas, agar Saudara memahami isi materi secara utuh, jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas, ringkas, dan teliti!

1. Jelaskan siapakah yang pertama kali menggunakan istilah PK!

2. Jelaskan lembaga yang melaksanakan tugas kebapasan dari masa pemerintahan Belanda sampai sekarang!

3. Jelaskan apakah kegunaan laporan litmas?

63

PRINSIP-PRINSIP