DAFTAR PUSTAKA
Lampiran 5. Prosedur kerja analisis proksimat tubuh ikan
Analisis proksimat atau analisis Weende dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1865, yaitu suatu metode analisis dan menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Cara ini dipakai hampir di seluruh dunia dan disebut “analisis
proksimat” (proximate analysis). Analisis ini didasarkan atas komposisi susunan kimia dan kegunaannya (Tillman et al., 1998).
1) Penentuan kadar air
Air yang terkandung di dalam tepung ikan akan menguap seluruhnya apabila bahan tersebut dipanaskan selama beberapa waktu pada suhu 105 sampai 110 0C dengan tekanan udara bebas. Alat yang digunakan adalah silica disk yang berfungsi sebagai tempat sampel yang tidak mudah rusak karena memiliki titik leleh lebih dari 1000oC sehingga dapat digunakan dalam menentukan analisis proksimat dan merusak sampel pada suhu yang tinggi, desikator yang berfungsi sebagai penstabil suhu, silica gel berfungsi menyerap air. Alat lain yang digunakan adalah oven (105 sampai 110 0C), yang berfungsi untuk menguapkan seluruh air yang terdapat dalam sampel, tang penjepit untuk mengeluarkan silica disk dari dalam oven, dan timbangan analitik yang digunakan untuk menimbang sampel baik yang belum atau sudah di oven ataupun untuk menimbang silica disk. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar air dapat dihitung dengan mejumlah bobot gelas timbang dan bobot cuplikan kemudian dikurangi bobot gelas timbang dan cuplikan setelah dioven 105 sampai 110oC, kemudian dikali 100% dan dibagi bobot cuplikan pakan.
Sampel makanan ditimbang dan diletakan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven pada temperatur 105 0C. Pemanasan berjalan hingga sampel sudah tidak lagi turun beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel
makanan disebut “sampel bahan kering” dan pengurangannya dengan sampel
makanan tadi disebut persen air atau kadar airnya (Tillman et al., 1998) 2) Penentuan kadar abu.
Menurut Anggorodi (1990), abu merupakan zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam bahan makanan atau jaringan hewan ditentukan dengan membakar zat-zat organik dan kemudian menimbang sisanya. Suatu bahan pakan bila dibakar pada suhu 550 sampai 600OC selama beberapa waktu maka semua zat organiknya akan terbakar sempura menghasilkan oksida yang menguap yaitu berupa CO2, H2O dan gas-gas lain, sedangkan yang tertinggal tidak menguap
adalah oksida mineral atau yang disebut abu. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar abu dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel dan silica disk setelah ditanur 550 sampai 600oC, kemudian dikurangi bobot silica disk kosong sebelum ditenur dan dikali 100% dan dibagi bobot sampel sebelum ditanur.
Alat yang digunakan adalah silica disk, desikator, tang penjepit, oven pengering, timbangan analitik, dan tanur (550oC sampai 600oC ) yang berfungsi untuk membakar bahan organik secara sempurna. Menurut Rasyaf (1992), proses
33 pengeringan pada pembuatan tepung ikan yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacuum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan api pijar sesaat. Pengeringan dan lama pengeringan mempengaruhi kualitas tepung ikan. Seluruh senyawa organiknya akan terbakar menjadi CO2 dan H2O dan gas
lain yang menguap, sedang sisanya adalah abu atau campuran dari berbagai oksida mineral sesuai dengan macam mineral yang terkandung di dalamnya. Abu hasil pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi persentase zat-zat tertentu yang terdapat dalam bahan pakan (Anggorodi, 1990).
3) Penentuan kadar protein kasar.
Penentuan protein kasar dengan alat Kjeldahl. Analisis ini menggunakan asam sulfat dengan suatu katalisator dan pemanasan (Tillman et al., 1998). Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, labu kjeldahl 650 ml yang berfungsi sebagai tempat sampel pada saat destruksi dan destilasi, labu erlenmeyer sebagai tempat penampung sampel pada saat titrasi, gelas ukur 100 ml untuk mengukur reagensia yang digunakan, buret yang berfungsi sebagai tempat HCl pada saat titrasi, pipet volume 25 atau 50 ml untuk mengambil larutan reagensia yang digunakan, corong yang berfungsi untuk mempermudah dalam memasukkan larutan HCl ke dalam buret, alat destruksi yang berfungsi untuk melepaskan N-organik sampel, dan alat destilasi yang berfungsi untuk mendestilasi sampel.
Bahan yang digunakan adalah H2SO4 pekat yang berfungsi untuk melepas
N-organik dari sampel, CuSO4, K2SO4, dan kjeltab yang berfungsi sebagai
katalisator, NaOH 50% yang berfungsi sebagai pensuasana basa, HCl 0,1 N, H3BO3 0,1 N yang berfungsi menangkap NH3 yang terlepas pada saat destilasi,
indikator mix yang berfungsi sebagai indikator warna, dan Zn logam yang berfungsi untuk mencegah terjadinya superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar. Protein kasar asal ikan herring yang tertinggi dan yang terendah dari ikan tuna. Kandungan protein kasar yang menengah berasal dari ikan menhaden dan sarden.
4) Penentuan kadar lemak kasar.
Lemak kasar merupakan campuran dari berbagai senyawa yang larut dalam pelarut lemak. Menurut Tillman et al., (1998), sampel bahan kering diekstrasi dengan etil eter selama beberapa jam, maka bahan yang didapatkan adalah lemak, eter akan menguap. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, tang penjepit, oven pengering, desikator, seperangkat alat ekstraksi dan selongsong dari soxhlet yang berfungsi untuk ekstraksi lemak, labu penampung yang berfungsi menampung sisa petroleum benzene yang jatuh dari soxhlet , alat pendingin yang berfungsi untuk mengkondensari uap hasil penguapan petroleum benzen agar tidak mencemari lingkungan, dan kertas saring bebas lemak yang berfungsi untuk menyaring ekstrak.
Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar lemak kasar dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel dan kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (sebelum diekstraksi), kemudian dikurangi bobot sampel dan kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (setelah diekstraksi) dan dikali 100% dan
34
dibagi bobot sampel sebelum ditanur. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah petroleum benzene yang berfungsi sebagai pelarut lemak. Menurut Darsudi (2011), besar kadar lemak kasar pada tepung ikan 6,89%. Perbedaan penghitungan dengan literatur karena kualitas tepung ikan bervariasi, tergantung dengan macam ikan, bagian mana yang digunakan dalam pembuatan tepung ikan dan proses pembuatan tepung ikan.
5) Penentuan Kadar karbohidrat by difference (Winarno 2004)
Pengukuran karbohidrat dilakukan dengan cara by difference, yaitu dihitung
dengan menggunakan rumus :
35 Lampiran 6. Data tahap 1 tentang SR dan SGR yang diolah dengan
program SPSS 16 Survival Rate
ANOVA
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups .250 3 .083 1.000 .441
Within Groups .667 8 .083
Total .917 11
Spesific Growth Rate (SGR)
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 5.616 3 1.872 517.561 .000 Within Groups .029 8 .004 Total 5.644 11 Homogeneous Subsets SGR sgr perlakuan N
Subset for alpha = 0.05
1 2 3 4 Tukey HSDa 0 3 -1.07 15 3 .19 5 3 .41 10 3 .73 Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000
36
Lampiran 7. Data tahap 2 tentang SR, SGR dan KK yang diolah dengan