• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PROSEDUR PEMBIAYAAN MURABAHAH

5. Prosedur Pembiayaan

Prosedur merupakan rangkaian aktifitas atau kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Prosedur penting dimiliki suatu organisasi agar segala sesuatu dapat dilakukan secara seragam, yang pada akhirnya prosedur akan menjadi pedoman bagi suatu organisasi dalam menentukan aktifitas apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan suatu fungsi tertentu.

a. Pengertian prosedur

Prosedur (procedures) merupakan metode atau cara yang baku untuk melaksanakan pekerjaan tertentu (Allen,1990:147).26 Prosedur diperlukan

26 Ismail Solihin, Pengantar Manajemen,(Jakarta:Penertbit Erlangga,2002), hal.71

35

agar pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan menurut metode tertentu sehingga diperoleh hasil yang seragam.

Menurut Syamsi, prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu kebulatan.27

Sedengkan menurut Kamaruddin prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya dan prosedur-prosedur yang berkaitan melaksanakan dan memumadahkan kegiatan utama dari suatu organisasi.28

Prosedur adalah urutan untuk kegiatan klerikal biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departmen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam tranksaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang.29

b. Manfaat prosedur

Sesuatu prosedur dapat memberikan manfaat yaitu:

a) Lebih mudah dalam lankah-langkah kegiatan yang akan datang.

27 Ibnu Syamsi, System dan Prosedur Kerja, (PT Bumi Aksara:

Jakarta, 2004), hal. 16

28 Kamaruddin, Loc. Cit. h. 305

29 Mulyadi.Sistem Akutansi, Ed. Ke-3 (Jakarta:Penerbit Salemba Empat, 2001), hal.5

b) Mengubah pekerjaan yang berulang-ulang menjadi rutin dan terbatas, sehingga menyederhanakan dan untuk selanjutnya mengerjakan yang perlunya saja.

c) Adanya suatu petunjuk atau program kerja yang jelas dan harus dipatuhi oleh seluruh pelaksana.

d) Membantu dalam usaha meningkatkan produktivitas kerja yang efektif dan efesien.

e) Mencegah terjadinya penyimpangan dan memudahkan dalam pengawasan, bila terjadi penyimpangan akan dapat segera diadakan perbaikan-perbaikan sepenjang dalam tugas dan fungsinya masing-masing.30

c. Karakteristik prosedur

Berikut ini adalah beberapa karakteristik prosedur, diantaranya adalah:

a) Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.

b) Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan menggunakan biaya seminimal mungkin.

c) Prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.

d) Prosedur menunjukan adanya penetapan keputusan dan tanggung jawab.

30 https://brainly.co.id/tugas/7787209

37

B. Murabahah

1. Pengertian Murabahah

Secara bahasa Murabahah diambil dari kata rabiha – yarbahu – rabhan – warabahan yang berarti beruntung atau memberikan keuntungan. Sedangkan kata ribh itu sendiri berarti suatu kelebihan yang diproleh dari produksi atau modal (profit). Murabahah berasal dari mashdar yang berarti “keuntungan, laba atau faedah”. Secara istilah murabahah ini banyak didefinisikan oleh para fuqoha. Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.31

Jadi arti murabahah adalah saling mengambil keuntungan. Maksudnya menjual barang dagangan sesuai harga modal ditambah laba tertentu.

Murabahah adalah jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. Pada murabahah, penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian mensyaratkan atas laba dan jumlah tertentu.

Pada perjanjian murabahah, bank membiayai pembelian barang yang dibutuhkan nasabah dengan membeli barang tersebut dari pemasok, dan kemudian menjual kepada nasabah dengan harga yang ditambah keuntungan atau di mark-up dengan kata lain penjual

31Yadi Janwari, Lembaga Keuangan Syariah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015),hal.4

barang kepada nasabah dilakukan atas dasar cost plus profit.32

Pengertian Murabahah dalam terminologi:

a. Menurut Muhammad Syafi’I Antonio menjelaskan bai’al murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam juakl beli murabahah penjual harus memberitahukan produk yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.33 b. Sedangkan menurut Warqum Sumitro

pengertian murabahah adalah persetujan jual beli suatu barang dengan harga sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati bersama dengan pembayaran yang ditangguhkan satu bulan sampai satu tahun.

Persetujuan tersebut juga meliputi cara pembayaran sekaligus.34

c. Menurut Ibnu Rusyd, jual beli murabahah ialah jika penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia

32 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Ekonisia Yogyakarta, 2003), h. 69

33 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah: Suatu Pengenalan Umum. (Jakarta: Tazkia institut, 2000), cet II hal. 145

34 Warkum Sumitro, Asas asas perbankan islam dan lembaga terkait:

BMI dan Takaful di Indonesia, (Jakarta: PT. Grafindo Persada , 2004), Edisi Revisi, hal. 37

39

mensyaratkan atasnya laba dalam jumlah tertentu, dinar atau dirham.35

d. Menurut Adiwarman Karim, murabahah adalah suatu penjualan baran seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya seorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tertentu atau dalam bentuk persentase dari harga pembeliannya, misalnya 10% atau 20%.36 e. Menurut Zaenul Arifin, murabahah adalah

jual-beli dimana harga dan keuntungan disepakti antara penjual dan pembeli. Aplikasi dalam lembaga keuangan pada sisi aset, murabahah dilakukan antara nasabah sebagai pembeli dan bank sebagai penjual, dengan harga dan keuntungan disepakati diawal. Pada sisi liabilitas, murabahah ditetapkan untuk deposito, yang dananya dikhususkan untuk pembiayaan murabahah saja.37

35 Ibnu Rusyd, Biyadatul Mujtahid (Analisa Fiqh Para Mujtahid), (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), h. 45

36 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis fiqh dan Keuangan, (Jakarta: IIIT Indonesia, 2003), h. 103

37 Zainuk Arifin, Memahami Bank Syariah Lingkup Peluang, Tantangan dan Prospek, (Jakarta: Alvabet, 2000), h. 200

Pada penyaluran pembiayaan berdasarkan akad murabahah, undang-undang perbankan syariah membrikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan akad murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati.38

Murabahah adalah persetujan jual-beli suatu barang dengan harga sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati bersama dengan pembayaran ditangguhkan satu bulan sampai satu tahun. Persetujuan tersebut juga meliputi cara pembayaran sekaligus.39

Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan serta diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda.40

Murabahah merupakan akad jual beli atau barang tertentu, dimana penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual belikan, termasuk harga

38 Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: PT Gramdia Pustaka Utama, 2012), h. 200

39 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga Terkait: BMI dan Tafakul di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 37

40 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis fiqh dan Keuangan, (Jakarta: IIIT Indonesia, 2003), h. 163

41

pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atas keuntungan dalam jumlah tertentu.

2. Landasan Hukum Pembiayaam Murabahah

Murabahah merupakan bagian terpenting jual beli dan akad ini mendominasi pendapatan bank dari produk-produk yang ada di bank syariah. Jual beli dalam islam sebagai sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia yang diridhai Allah SWT, dalam jual beli sangat diharapkan adanya unsur suka sama suka, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

a. Al-Qur’an

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu

membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha

Bersabda, “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampurkan gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual”.43

3. Jenis-Jenis Murabahah

Murabahah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

a. Murabahah dengan pesanan

Murabahah berdasarkan pesanan bisa bersifat mengikat ataupun tidak mengikat. Murabahah berdasarkan pesanan yang bersifat terikat maksudnya apabila barang (produk) sudah dipesan maka nasabah harus membelinya. Murabahah

41 Al- Hanan Al-Qur’an dan Terjemah, (Raja Qur’any, 2012), hal. 83

42 Al- Hanan Al-Qur’an dan Terjemah, (Raja Qur’any, 2012), hal.43

43 Ash Shan’ani, Subul as Salam,(Indonesia: Maktabah Dahlan,tth), Jilid 3, hal.76

43

berdasarkan pesanan yang tidak mengikat, maksudnya nasabah sudah memesan barang tetapi nasabah tidak terikat, nasabah dapat menerima atau membatalkan barang tersebut.44

Dalam akad murabahah berdasarkan pesanan ini, penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari nasabah. Untuk menunjukan keseriusan pembeli, penjual boleh meminta uang tanda jadi ketika ijab qabul.45 Murabahah dengan pesanan ini dapat mengikat dan pembeli tidak dapat membatalkan pesananya bila kemudian pembeli membatalkan akad ini, maka uang muka ini dapat digunakan untuk menutupi kerugian penjual. Bila kerugian ini lebih besar dari uang muka maka si penjual akan dapat meminta kerugian itu pada pembeli dan sebaliknya jika kerugian itu lebih kecil dari uang muka maka penjual harus mengembalikan kepada pembeli.46

b. Murabahah tanpa pesanan

Murabahah tanpa pesanan yaitu penyedian barang pada murabahah ini tidak terpengaruh atau terikat langsung dengan ada atau tidaknya pesanan

44 Wiroso, Jual Beli Murabahah, (Yogyakarta: UII Press, Vol,1.2005), h.38

45 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis fiqh dan Keuangan, (Jakarta: IIIT Indonesia, 2003), h. 163

46 Wiroso, Jual Beli Murabahah, (Yogyakarta: UII Press, Vol,1.2005), h.17

pembeli. Murabahah tanpa pesanan ini tidak mengikat.

4. Syarat dan rukun murabahah a. Syarat murabahah47

1) Syarat yang berakad a) Cakap hukum b) Sukarela (ridha)

2) Objek yang diperjual belikan

a) Tidak termasuk yang dilarang/diharamkan b) Bermanfaat dan penyerahan dari penjual ke

pembeli, dapat dilakukan

c) Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad

d) Sesuai spesifikasinya antara yang diserahkan

e) Penjual yang diterima pembeli.

b. Rukun murabahah 1) Pihak yang berakal

a) Penjual b) Pembeli

2) Objek yang diadakan

a) Barang yang diperjual belikan b) Harga

47 Tim pengembangan Perbankan Syari’ah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah: Konsep, Produk dan Implementasi Oparasional, (Jakarta, Djambatan, 2001), hal 77

45

3) Akad 48

a) Serah (ijab) b) Terima (Kabul) 5. Skema pembiayaan murabahah49

Gambar 2.1

Skema Pembiayaan Murabahah

(Sumber Perbankan Syariah karya Ismail) Keterangan:

48 Zulkifli Sutarno, Panduan Praktis Tranksaksi Perbankkan Syariah, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2003), h. 40

49 Drs. Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: PT Kharisma Putra Utama, 2011), h. 139

Bank Nasabah

3. Akad jual beli

6. Baayar

Supplier penjual

2. Beli 4. kirim

5.

Terima barang

dan dokume

n 1. Negosiasi dan

persyaratan

a. Ada tiga pihak yang terlibat dalam tranksaksi:

1. Nasabah

2. Penjual barang (toko, dealer, pemasok) 3. Lembaga keuangan (Bank)

b. Keterangan skema dari gambar diatas:

1. Terjadinya negosisasi dan persyaratan antara bank dengan nasabah dimana semua harga dan ketentuan-ketentuan lainnya disepakati disini.

2. Nasabah harus melakukan wa’ad (janji) beli yang dibuat dalam sebuah kertas dimana nasabah harus menyatakan benar-benar barang tersebut.

3. Terjadinya akad wakalah bil ujroh (mewakilkan dengan upah) dan disini bank mewakilkan nasabah untuk membeli ke toko atau pemasok barang. Atau sebaliknya, terjadinya akad wakalah bil ujroh (mewakilkan dengan upah) dan disini nasabah mewakilkan bank untuk langsung membeli barang ke pemasok atau toko tersebut.

4. pengiriman barang dari toko atau pemasok ke bank

5. Terjadinya terima barang dari bank untuk mengasihkan barang

kenasabah, sekaligus menandatangani akad jual beli antara bank dan nasabah.

47

6. Setelah barang diterima nasabah, nasabah berkewajiban membayar cicilan kepada bank.50 6. Manfaat dan resiko murabahah

Sesuai dengan sifat bisnis (tijaroh), tranksaksi jual-beli murabahah memiliki beberapa manfaat, demikian juga resiko yang harus diantisipasi. Jual-beli murabahah memberi banyak manfaat kepada bank syariah. Salah satunya adalah keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu, sistem jual beli murabahah juga sangat sederhana. Hal tersebut juga dapat memudahkan penanganan administrasinya di bank syariah. Diantara kemungkinan resiko yang harus diantisipasi antara lain:

a. Gagal atau kalalaian; nasabah sengaja tidak membayar angsuran.

b. Pergerakan harga komparatif, ini terjadi bila harga satu barang dipasar naik setelah bank membelikannya untuk nasabah, Bank tidak bisa mengubah harga jual beli tersebut.

c. Penolakan nasabah barang yang dikirim bisa saja ditolak oleh nasabah karena berbagai sebab. Bisa jadi rusak dalam perjalanan sehingga nasabah tidak mau menerimanya. Karena itu, sebaiknya dilindungi dengan asuransi. Kemungkinan lain karena nasabah meresa spesifikasi barang tersebut berbeda dengan

50 Drs. Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: PT Kharisma Putra Utama, 2011), h. 140

yang ia pesan. Bila bank menandatangani kontrak pembelian dengan penjualnya, barang tersebut akan menjadi milik bank. Dengan demikian bank mempunyai resiko untuk menjualnya dengan pihak lain.51

d. Dijual karena bai’ almurabahah ini bersifat jual beli dengan utang, maka ketika kontrak ditanda tangani , barang itu menjadi milik nasabah. Nasabah bebas melakukan apapun terhadap aset miliknya tersebut, termasuk untuk menjualnya. Jika terjadi demikian, resiko untuk default akan besar.

C. Koperasi Syariah 1. Pengertian Koperasi

koperasi berasal dari kata cooperation (bahasa inggris) yang artinya kerja sama. Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan koperasi adalah suatu perkumpulan yang dibentuk oleh para anggota peserta yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya dengan harga yang relatif rendah dan bertujuan memajukan tingkat hidup bersama.52

Menurut UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan

51 Veithzal Rivai dan Rifki Ismail, Islamic Risk Manajemen For Islamic Bank, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 64

52 Drs. Hendi Suhendi, M.Si, Fiqh Muamalah , Membahas Ekonomi Islam, (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002) h. 291

49

prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas berkeluargaan.

Menurut R.M. Margono Djojohadikoesoemo dalam buku yang berjudul “sepuluh tahun koperasi:

penerangan tentang koperasi oleh pemerintah 1930-1940”, menyatakan bawha: koperasi adalah perkumpulan manusia seorang-seorang yang dengan sukanya sendiri hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya,53

Menurut Prof. Marvin, A Schaars (guru besar Fak.

Pertanian, University of Wiconsin, Madison, USA) merumuskan ekonomi koperasi adalah sebagai berikut:

“ A cooperative is a business voluntarilly owned and controlled by its member patrons and operated for them and by them on a non-profit or cost basis” (koperasi adalah suatu badan usaha ekonomi yang secara sukarela dimiliki dikendalikan oleh anggota yang melangganinya dan dioperasikan untuk dan oleh mereka berdasarkan nirlaba atau biaya).54

Dari beberapa definisi diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa koperasi adalah badan usaha ekonomi yang beranggotakan orang yang memiliki tujuan yang sama dalam melakukan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan bersama dengan asas

53 M. Firdaus, S.P., MM dan Agus Edhi Susanto, Perkoperasian Sejarah, Teori dan Praktek, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004

54 Bahri Nurudin, SE. MS., Perkenalan dengan Beberapa Konsep Ekonomi Koperasi, (jakarta: t,t 1993) h. 11-12

kekeluargaan. Dengan modal dan keuntungan diatur bersama.

2. Pengertian Koperasi Syariah

Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia Nomor 91/Kep/M.KUKM/1X/2004, tanggal 10 September 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa dan Keuangan Syariah (KJKS) sebagai payung hukum pengelolaan lembaga keuangan mikro syariah, seperti Baitul Maal Wa-Tamwil (BMT), Koperasi Syariah, Koperasi Pondok Pesantren atau lembaga-lembaga keuangan mikro lainnya yang beroperasi secara syariah. Berikut beberapa hal mengenai pengertian dan ketentuan pengelolaan Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) sebagai berikut:55

a. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas dasar kekeluargaan.

b. Koperasi Jasa Keuangan Syariah selanjutnya disebut KJKS adalah koperasi yang kegiatan usahanya bergerak di bidang pembiayaan, investasi,

55 Djoko Muljono, Buku Pintar Akuntansi Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Andi, 2015), hal. 473

51

produksi, perdagangan dan simpanan sesuai dengan pola layanan syariah.

c. Unit Jasa Keuangan Syariah selanjutnya disebut UJKS, adalah unit koperasi yang bergerak di bidang usaha pembiayaan, investasi dan simpanan dengan pola bagi hasil (syariah) sebagai bagian dari kegiatan koperasi yang bersangkutan.

3. Fungsi dan Tujuan Koperasi Syariah a. Fungsi koperasi syariah:

1. Sebagai manajer investasi

Koperasi syariah merupakan manajer investasi dari pemilik dana yang dihimpunnya.

Besar kecilnya hasil usaha koperasi tergantung dari keahlian, kehati-hatian, dan profesionalisme koperasi. Penyaluran dana yang dilakukan Koperasi Syariah memiliki implikasi langsung kepada berkembang sebuah Koperasi Syariah. Koperasi Syariah melakukan fungsi ini sebagai lembaga yang menginvestasikan dana-dana anggotanya pada usaha-usaha yang menguntungkan. Jika terjadi kerugian karna faktor Force major maka Koperasi Syariah tidak boleh meminta imbalan sedikit pun karena kerugian dibebankan pada pemilik dana.

2. Sebagai investor

Koperasi syariah menginvestasikan dana yang dihimpun dari anggota maupun pihak lain

dengan pola investasi yang sesuai dengan syriah. Investasi yang sesuai meliputi akad jual beli secara tunai (Al Musawamah) seperti pendirian waserda dan jual beli tidak tunai (Al Muabahah), sewa- menyewa (Ijaroh), kerjasama penyertaan sebagai modal seluruhnya (Mudharabah). Keuntungan yang diperoleh dibagi secara proposional ( sesuai kesepakatan nisab) pada pihak yang memberikan dana seperti tabungan sukarela atau investasi pihak lain sisanya dimasukan pada pendapatan operasi koperasi syariah.

3. Fungsi sosial

Konsep koperasi syariah mengharuskan memberikan pelayanan sosial baik kepada anggota yang membutuhkan maupun kepada masyarakat dhu’afa. Kepada anggota yang membutuhkan pinjaman darurat dapat diberikan pinjaman kebajikan dengan pengembalian pokok (Al Qard) yang sumber dananya berasal dari modal maupun laba yang dihimpun.Dimana anggota tidak dibebankan bunga dan sebagainya seperti di koperasi konvensional. Sementara bagi anggota masyarakat dhuafa dapat diberikan pinjaman kebijakan dengan atau tampak pengembalian pokok (Qardhul hasan) yang

53

sumber dananya dari dana ZIS(zakat, infak, shodaqoh).

b. Tujuan Koperasi Syariah56

Tujuan sistem koperasi syariah yaitu Mensejahterakan ekonomi anggotanya sesuai norma dan moral Islam, Menciptakan persaudaraan dan keadilan sesama anggota, Pendistribusian pendapatan dan kekayaan yang merata sesama anggota berdasarkan kontribusinya, Kebebasan pribadi dalam kemaslahatan social yang didasarkan pada pengertian bahwa manusia diciptakan hanya untuk tunduk kepada Allah, Meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta turut membangun tatanan perekonomian yang berkeadilan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

4. Landasan Hukum Koperasi Syariah57

a. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor:

35.2/PER/M.KUKM/X/2007 tentang Pedoman Standar Operasional Manajemen Koperasi JasaKeuangan Syariah.

56 Nur S Buchori, Koperasi Syariah, (Jawa Timur: Mashun, 2009), cet 1 hal.18

57 Panduan Praktis Koperasi Syariah Indonesia, hal.7

b. Koperasi syariah berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

c. Koperasi syariah berazaskan kekeluargan.

d. Koperasi syariah berlandaskan syariah Islam yaitu al-quran dan as-sunnah dengan saling tolong menolong (ta’awun) dan saling menguatkan (takaful).

5. Prinsip Koperasi Syariah

Pada prinsipnya, operasional Koperasi Syariah tidak berbeda dengan BMT (Baitul Maal Wattamwil), Bank Umum Syariah (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS), dan BPR Syariah, hanya skalanya saja yang berbeda. Di Koperasi Syariah ini justru dapat lebih luas lagi pengembangannya terutama dalam mempraktekan akad-akad muamalat yang sulit dipraktekan di perbankan Syariah karena adanya keterbatasan PBI (Peraturan Bank Indonesia).58

6. Bentuk Koperasi Syariah

Berbeda dengan koperasi konvensional, salah satu bentuk koperasi syariah yaitu: Koperasi usaha simpan pinjam syariah / koperasi jasa keuangan syariah, berikut pola pembiayaan, tranksaksi dan produknya:

a. Pola pembiayaan koperasi syariah 1. Pinjaman sosial

2. Pembiayaan sesuai syariah

58 Panduan Praktis Koperasi Syariah Indonesia, hal.13

55

a) Berbasis kerja sama bagi hasil b) Berbasis beli tangguh

b. Tranksaksi pendirian koperasi syariah59

1. Tranksaksi perkongsian ( syirkah dan mudharabah).

2. Tranksaksi sosial ( shadaqoh, infak, dan hibah) c. Tranksaksi operasional koperasi syariah

1. Pembiayaan konsumtif 2. Pembiayaan produktif 3. Sosial

4. Jasa

59 Siti Irma Fatimah, “Analisa Strategi Koperasi Pondok Pesantren dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat” (Studi Pada Koperasi Pondok Pesantren Al-Ikhlas Subang Jawa Barat). Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum, Muamalah, Perbankan Syariah, UIN Jakarta, 2006, h. 28

56 BAB III

GAMBARAN UMUM KOPERASI

SYARIAH UKHUWAH PONDOK MELATI KOTA BEKASI

A. Sejarah Berdirinya Koperasi Syariah Ukhuwah Pondok Melati Bekasi

1. Sejarah Berdirinya Koperasi Syariah Ukhuwah Pondok melati Bekasi

Yayasan Ukhuwah melalui unit U-Care Power telah menginisiasi program pemberdayaan ekonomi keluarga kurang mampu dengan membentuk Lembaga Keuangan Mikro berbasis Syari’ah melalui mekanisme kelompok (Grameen Bank) pada tahun 2011 yang diberi nama Pro IBU (Program Indonesia Berdaya Ukhuwah).1 Tahun pertama digunakan untuk uji coba dan pembelajaran dengan menangani sekitar 100 Kartu Keluarga (KK).2

Pada tahun kedua, 2012, setelah melihat perkembangan yang ada dimana hasilnya sangat memuaskan yayasan memutuskan untuk mengaplikasi program ini di beberapa tempat dengan sebelumnya belajar kepada lembaga-lembaga yang mengembangkan pola sejenis. Pada tahun ini pula diputuskan untuk membentuk lembaga yang memiliki legalitas formal yang diakui oleh pemerintah yaitu

1Wawancara Ketua Koperasi Syariah Ukhuwah Bapak Alwin Fajri Siregar SE pada tanggal 25-10-2019 di Koperasi Syariah

2PPT Annual Meeting pro IBU 2019 di Hotel Amaris 25-10-2019

57

koperasi. Sehingga, pada tanggal 28 Mei 2012 Koperasi Syariah Ukhuwah berdiri.3

Koperasi Syariah Ukhuwah lahir dari keprihatinan Yayasan Ukhuwah terhadap semakin terpuruknya perekonomian masyarakat lemah yang selama ini menjadi binaan. Banyak diantara mereka yang terjebak rentenir dengan bunga yang mencekik. Saat ini anggota koperasi syariah ukhuwah berjumlah 2.700 orang yang tersebar di 6 kecamatan di Kota Bekasi yang beranggotakan semua anggotanya adalah kaum ibu.

Program pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi salah satu prioritas agar masalah pendidikan, kesehatan, dan lingkungan dapat teratasi dengan lebih baik. Untuk itu para anggota koperasi membangun semangat untuk saling tolong menolong sesama anggota. Aset sebesar Rp. 3 Miliar saat ini dikelola berasal dari tabungan anggota dan sepenuhnya tidak menggunakan dana bank.

Membentuk Lembaga Keuangan Mikro menjadi pilihan yang logis untuk mengatasi permasalahan di atas.

Untuk itu, Yayasan Ukhuwah belajar kepada lembaga lain yang telah berpengalaman menjalankan program pemberdayaan ekonomi keluarga seperti Tazkia Micro Finance Centre dengan Baitut Tamkin Tazkia Madani di Sentul, Bogor. Juga belajar kepada Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). Dengan

3PPT Annual Meeting pro IBU 2019 di Hotel Amaris 25-10-2019