• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Metodologi Penelitian

6. Teknik Analisis Data

Setelah data yang diperoleh diperlukan terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan analisis data pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, untuk kemudian di analisis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, kemudian setelah itu disajikan dalam laporan ilmiah.

7. Teknik Pengolahan data

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data untuk dibuat kesimpulan. Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, untuk dianalisis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, kemudian disajikan dalam laporan ilmiah.

15 Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis Statistik (Bandung: PT. Rosdakarya, 2002) Hal. 240

8. Teknik Penulisan

Adapun teknik penulisan dalam skripsi ini, penulis mengacu kepada keputusan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor : 507 Tahun 2017 tentang

“Pedomana Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017”.

E. Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan skripsi ini peneliti telah melakukan tinjauan pustaka untuk memastikan judul penelitian ini pernah di uji sebelumnya dan untuk menambah referensi mengenai Analisis Pembiayaan Murabahah Pada Koperasi Syariah Ukhuwah Pondok Melati Bekasi. Namun penulis memastikan bahwa skripsi ini akan berbeda dengan yang sudah tercantum pada penelitian sebelumnya. Adapun beberapa skripsi tersebut yaitu:

1. Inayah, mahasiswi jurusan Perbankkan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul skripsi

“Kesesuaian Pembiayaan Murabahah Bank Syariah Ke Perusahaan Ditinjau Dari Hukum Islam (Dari Bank Muamalat Indonesia Ke Pt. Lintas Utama Persada).”

Skripsi ini membahas mengenai Kesesuaian Pembiayaan Murabahah Bank Syariah Ke Perusahaan Ditinjau Dari Hukum Islam (Dari Bank Muamalat Indonesia Ke Pt Lintas Utama Persada). Skripsi ini memiliki kesamaan objek penelitian namun memiliki tempat dan tahun penelitian yang berbeda.

15

2. Aswad Addu Ali Humad Al Alim, mahasiswa jurusan SI Perbankkan Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, dengan judul skripsi “Analisis Prosedur Pembiayaan Dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Nasabah (Studi Kasus Di Bmt Tumang, Bmt Anda, Bmt Al Islah Dikota Salatiga” Skripsi ini membahas mengenai bagaimana Prosedur Pembiayaan Dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Nasabah (Studi Kasus Di Bmt Tumang, Bmt anda, Bmt Al Islah Dikota Salatiga. Yang membedakan skripsi ini adalah objek, tempat dan tahun penelitian.

3. Ulfi Sayyidatul Fitria, mahasiswi Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, dengan judul skripsi, “Pengaruh Pembiayaan Murabahah Dan Mudharabah Terhadap Return On Asset (ROA) (Studi Kasus Bmt Bermasyarakat Madani Sumut Periode 2013-2017).” Skripsi ini sama-sama membahas mengenai Pengaruh Pembiayaan Murabahah Dan Mudharabah Terhadap Return On Asset(Roa) (Studi kasus Bmt Bermasyarakat Madani Sumut Periode 2013-2017). Skripsi ini memiliki satu objek yang sama, namun tempat dan tahun penelitian berbeda.

4. Firda Rini Fauziyah, mahasiswi jurusan Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dengan judul skripsi “Pengaruh Kualitas Pelayanan Pada Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Bmt Dana Li Mardhatillah (Damar)

Semarang Terhadap tingkat Kepuasan Anggota.”

Skiripsi ini membahas mengenai pengaruh kualitas pelayanan pada koperasi simpan pinjam pembiayaan syariah (KSPPS) Bmt dana li Mardhatilah (Damar) semarang terhadap tingkat kepuasan anggota. Yang membedan skripsi ini adalah objek, tempat dan tahun penelitian.

5. Dewi Rika Koesnaini, mahasiswi jurusan Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul skripsi “Analisis Akad Murabahah Dalam Produk Pembiayaan Huniyan Syariah (Perspektif Hukum Perpajakan Dan perlindungan Konsumen).” Skiripsi ini membahas akad murabahah dalam produk pembiayaan huniyan syariah (Perspektif Hukum Perpajakan Dan Perlindungan Konsumen). Skirpsi ini memiliki objek penelitian yang sama, namun tempat dan tahun penelitian berbeda.

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih terarah dalam pembahasan dan gambaran sederhana agar memudahkan penulisan skripsi ini maka penulis membuat sistematika penulisan yang tersusun dalam lima (5) bab yang masing-masing memiliki sub-sub dengan susunan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bagian pendahuluan merupakan acuan untuk pembahasan pada bab-bab berikutnya sekaligus mencerminkan isi global skripsi yang berisi latar belakang

17

masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodelogi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Pada bab ini penulis menjelaskan landasan teori mengenai: pengertian pembiayaan, pengertian analisis kelayakan pembiayaan,tujuan pembiayaan, prosedur pembiayaan, jenis-jenis pembiayaan, prinsip analisis pembiayaan, pengertian murabahah, landasan hukum pembiayaan murabahah, jenis-jenis pembiayaan murabahah, syarat dan rukun pembiayaan murabahah, skema pembiayaan murabahah, manfaat dan resiko pembiayaan, pengertian koperasi, pengertian koperasi syariah, fungsi dan tujuan koperasi syariah, landasan hukum koperasi syariah, prinsip koperasi syariah, bentuk koperasi syariah.

BAB III : Gambaran Umum

Bab ini akan menjelaskan serta memaparkan tentang profil koperasi syariah ukhuwah pondok melati bekasi, sejarah singkat berdirinya koperasi syariah ukhuwah pondok melati bekasi, visi, misi, struktur organisasi, produk-produk koperasi syariah ukhuwah pondok melati bekasi.

BAB IV : Data dan Temuan Penelitian

Bab ini membahas pengertian pembiayaan murabahah, prosedur pembiayan murabahah, dan strategi pembiayaan murabahah

BAB V : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini merupakan inti pembahasan yang berisi tentang analisis pembiayaan murabahah pada koperasi syariah ukhuwah pondok melati bekasi.

BAB VI : Penutup

Bab ini merupakan bab akhir dari proses hasil penelitian yang berpijak pada bab-bab sebelumnya yang didalamnya terdiri dari kesimpulan, saran, dan lampiran-lampiran yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan.

19 BAB II PENDAHULUAN A. Pembiayaan

1. Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan berasal dari kata biaya yang berarti uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dan sebagainya). Jadi pembiayaan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan biaya.1

Pembiayaan menurut Kasmir adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.2

Pembiayaan menurut Muhammad adalah pendanaan yang diberikan oleh satu pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik yang dilakukakan sendiri ataupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Dengan kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk

1 Departemen Pemdidikan dam Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet-3 Jakarta, Balai Pustaka, 2007, hal.113

2 Kasmir, Dasar-dasar Perbankkan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 102

mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.3

Sedangkan dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankkan menyatakan “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.4

Pengertian pembiayaan menurut M. Syafi’I Antonio bahwa pembiayaan adalah salah satu tugas pokok yaitu memberikan fasilatas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.5

Menurut M. Syafi’I Antonio berdasarkan sifat pengunaannya dapat dibagi menjadi dua yaitu:6

a. Pembiayaa Produktif

Pembiayaan produktif yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.

b. Pembiayaan Konsumtif

3 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta, UPPAMP YKPN, 2005, hal. 17

4 UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankkan

5 Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema Insani, 2001, hal. 160

6 Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema Insani, 2001, hal. 161

21

Pembiayaan konsumtif yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua hal yaitu: 7

a. Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan:

a) Peningkatan produksi secara kuantitatif, yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif yaitu peningkatan secara kualitas dan mutu hasil produksi.

b) Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

c) Pembiayaan investasi diperuntukkan bagi nasabah untuk keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitas, perluasan usaha ataupun pendirian proyek baru. Ciri-ciri pembiayaan ini adalah untuk pengadaan barang-barang modal, mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan terarah, dan berjangka waktu panjang.

7 Hejazziey, Djawahir, Perbankkan Syariah dalam Teori dan Praktik, hal. 144

b. Pembiayaan berdasarkan sektor usaha yang dibiayai:

a) Pembiayaan sektor perdagangan (contoh:

pasar, toko kelontong, warung sembaku dan lain-lain.)

b) Pembiayaan sektor industri (contoh: home industri, konfeksi, dan sepatu)

Istilah pembiayaan pada intinya berarti I Believe, atau I Trust, ‘saya percaya’ atau ‘say menaruh kepercayaan’. Perkataan pembiayaan yang artinya kepercayaan, berarti lembaga pembiayaan selaku shahibul mal menaruh kepercayaan kepada seorang untuk melaksanakan amanah yang diberikan.8

Kata pembiayaan/ kredit itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu credere, yang berarti percaya. Oleh karena itu dasar pemikiran persetujuan pembiayaan oleh suatu lembaga keuangan atau badan usaha berlandaskan kepercayaan.9

Pembiayan dalam arti luas artinya financing yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukakn sendiri maupun dijalankan orang lain. Dalam arti sempit, pembiayaan yaitu pendanaan yang dilakukan oleh lembaga keuangan, seperti Bmt kepada nasabah.

8 Veitzhal Rivai dan Andrian Permata Veitzhal, Islamic Financial Management, (Jakarta: Raja Grafindo, 2008), h. 3

9 Moh Tjoekom, Perkreditan Bisnis Inti Perbankkan: Konesp, Teknik dan Kasus, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), Edisi I, h. 1

23

Jadi yang dimaksud dengan pembiayaan adalah menyediakan dana guna membiayai kebutuhan nasabah yang memerlukannya dan layak memperolehnya.10

Dari pengertian-pengertian diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa pembiayaan merupakan pendanaan berupa uang atau barang modal yang diberikan oleh suatu pihak, baik bank maupun lembaga keuangan lain untuk mendukung kegiatan investasi atau usaha seseorang yang dengan itu mewajibkan pengembalian yang disertakan dengan imbalan atau bagi hasil pada waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

2. Pengertian analisis kelayakan pembiayaan

Kelayakan pembiayaan adalah suatu kegiatan penelitian secara mendalam terhadap suatu kegiatan, bisnis, atau usaha yang akan dijalankan, untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu usaha tersebut dijalankan dan menentukan seberapa besar keuntungan dan kerugian yang akan timbul dari usaha tersebut.11 Dalam melakukan pendanaan kepada nasabah dalam pemberian kredit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan penilaian kredit, oleh karena layak tidaknya kredit yang diberikan akan sangat mempengaruhi stabilitas keuangan.

10 Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta:

Pustaka Alvabet, 2005), Cet III, h.185

11 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h.242

Sebagaimana telah diatur dalam pasal 29 ayatt (3) undang-undang perbankkan menentukan bahwa “dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan Bank Syariah atau Uus dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank”.12

Agar penyaluran dana tidak menimbulkan kerugian bagi Bank Syariah atau Uus dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 secara khusus menetapkan pedoman analisis kelayakan penyaluran dana kepada nasabah penerima fasilitas. Pedoman pembiayaan perbankkan syariah ditentukan dalam pasal 23 Undang-Undang Nomer 21 Tahun 2008.

Menurut ketentuan dalam pasal 23 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, Bank Syariah atau Uus harus mempunyai keyakinan atas kemauan dan kemampuan calon nasabah penerima fasilitas untuk melunasi seluruh kewajiban pada waktunya, sebelum Bank Syariah atau Uus menyalurkan dana kepada nasabah penerima fasilitas. Untuk memperoleh keyakinan yang dimaksud, Bank Syariah dan Uus wajib melakukan penilaian yang saksama terhadap watak, kemampuan,

12 Veitzhal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking Sebuah Teori, Konsep dan aplikasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), h.74

25 kepada nasabah, harus mempunyai keyakinan, yakni kemauan dan kemampuan calon nasabah penerima fasilitas melunasi seluruh kewajiban dan utang pada waktunya sesuai dengan yang telah disepakati.

Kemauan berkaitan dengan i’tikad baik dari nasabah untuk membayar kembali penggunaan dana yang disalurkan oleh Bank Syariah atau Uus. Sementara itu, kemampuan berkaitan dengan keadaan atau aset nasabah, sehingga mampu untuk membayar kembali penggunaan dana yang disalurkan oleh Bank Syariah atau Uus.14Prinsip Analisis Pembiayaan

3. Prinsip analisis pembiayaan

Prinsip adalah suatu yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan suatu tindakan. Prinsip analisis pembiayaan adalah pedoman-pedoman yang harus diperhatikan oleh pejabat pembiayaan bank syariah pada saat melakukan analisis pembiayaan.

Sebelum melakukan analisis dalam memutuskan kelayakan pembiayaan calon nasabah, ada beberapa

13 Jundiani, Pengaturan Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Malang: UIN Malang Press Anggota IKAPI, 2009), h.169

14 Rahmadi Usman, Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafik, 2012), h.33

prinsip yang dijadikan pedoman dan harus diperhatikan oleh pembiayaan di bank saat melakukan analisis pembiayaan. Secara umum, prinsip analisis pembiayaan didasarkan pada 5C yaitu:15

a. Character (watak/kepribadian)

Character (watak/ kepribadian) adalah watak/

sifat dari debitur, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penelitian terhadap karakter ini ada lah untuk mengetahui sampai sejauh mana dari itikad/

kemauan debitur untuk memenuhi kewajibannya (willignes to pay) sesauai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Pemberian kredit didasari atas dasar kepercayaan yang berasal dari pihak bank bahwa peminjam mempunyai moral, watak, maupun sifat-sifat pribadi yang positif dan koperatif.

Penilaian watak calon nasabah penerima fasilitas terutama didasarkan pada hubungan yang telah terjalin antara bank syariah dan nasabah atau calon nasabah yang bersangkutan atau informasi yang diperoleh dari pihak lain yang dapat dipercaya sehingga bank syariah dapat menyimpulkan bahwa calon nasabah penerima fasilitas mempunyai sikap

15 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007), h.101

27

jujur, beritikad baik, dan tidak menyulitkan bank syariah dikemudian hari.

Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:16

1. Meneliti riwayat hidup calon nasabah

2. Menilai reputasi calon nasabah tersebut dilingkungan usahanya

3. Memienta bank to bank information (Sistem Infomasi Debitur)

4. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah berada

5. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi

6. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya

Idealnya, karakter calon nasabah yang baik mempunyai nilai-nilai kepribadian yang baik, yang berimbang dalam diri pribadinya.

b. Capacity (kemampuan)

Capacity (kemampuan) adalah kemampuan yang dimiliki calon debitur dalam menjalankan usahanya guna memperoleh labah yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui/ mengukur sampai sejauh

16 Veithzal Rivai dan Andri Soemita, Credit Manajemen Handbook, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), Cet. Ke-III, h. 251

mana calon debitur mampu untuk melunasi utang-utangnya (ability to pay) secara tepat waktu dari usaha yang diperolehnya.

Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain yaitu:17

1. Pendekatan historis, yaitu menilai pasr perfomance, apakah menunjukan perkembangan yang baik dari waktu kewaktu.

2. Pedekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus. Hal ini sangat penting untuk perusahaan yang menggunakan keahlian teknologi tinggi atau perusahaan yang memerlukan profesionalisme tinggi seperti rumah sakit, biro konsultan dan lain-lain.

3. Pendekatan yuridis, secara yuridis apakah calon debitur mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank.

4. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan keterampilan

17 Veithzal Rivai dan Andri Soemita, Credit Manajemen Handbook, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), Cet. Ke-III, h. 251

29

nasabah dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan.

5. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon debitur mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan/ mesin-mesin, administrasi dan keuangan sampai pada kemampuan merebut pasar

Dalam penilaian kemampuan calon nasabah penerima fasilitas, bank harus meneliti keahlian nasabah penerima fasilitasn dalam bidang usaha ataupun kemampuan menajemen calon nasabah sehingga pihak bank syariah merasa yakin bahwa usaha yang akan dibiayai dikelola oleh orang yang tepat.18

c. Capital (modal)

Pembiayan suata proyek yang akan dijalankan debitur tidak seluruhnya berasal dari bank, tetapi dibiayai bersama antara bank dan debitur. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan tentu semakin tinggi kesungguhan calon debitur dalam menjalankan usahanya dan

18 Lukman Dendrawijaya, Manajemen Perbankan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), h. 89

bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit.19

Dalam penilaian terhadap modal yang dimiliki calon nasabah penerima fasilitas, bank syariah harus melakukan analisis terhadap posisi keuangan secara keseluruhan, baik untuk masa yang telah lalu maupun perkiraan untuk masa yang akan datang sehingga dapat diketahui kemampuan permodalan calon nasabah penerima fasilitas dalam menunjang pembiayaan proyek atau usaha calon nasabah yang bersangkutan. Penilaian atas besarnya modal sendiri merupakan hal yang penting mengingat kredit bank hanya sebagai pembiayaan tambahan dan bukan untu membiayai seluruh modal yang diberikan.20 d. Collateral (jaminan atau anggunan)

Collateral merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik.21 Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang dibutuhkan.

Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, jaminan

19 Veithzal Rivai dan Andri Soemita, Credit Manajemen Handbook, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), Cet. Ke-III, h. 253

20 Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen, YKPN, 2011), h. 131

21 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kenaca, 2011), h. 119

31

yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin. Fungsi jaminan adalah sebagai pelindung bank dari resiko kerugian.

Dalam melakukan penilaian terhadap agunan, bank syariah harus menilai barang, proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan fasilitas pembiayaan yang bersangkutan dan barang lain. Surat berharga atau garansi risiko yang ditambahkan sebagai agunan tambahan, apakah sudah cukup memadai sehingga apabila nasabah penerima fasilitas kelak tidak dapat melunasi kewajibannya, agunan tersebut dapat digunakan untuk menanggung pembayaran kembali pembiayaan dari bank syariah yang bersangkutan.

e. Condition of Economy (kondisi ekonomi) Conditio of Economy yaitu situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya yang memengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya memengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian mengenai hal-hal antara lain:22

a) Keadaan konjungtur

22 Siswanto Sutojo, Strategi Manajemen Kredit Bank Umum, (Jakarta:

Damar Mulia Pustaka, 2000), h. 82

b) Peraturan pemerintah (pusat dan daerah) c) Situasi, politik dan perekonomian dunia d) Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran 4. Tujuan pembiayaan

Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk meningkatkan kesepakatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai islam.

Pembiayaan tersebut harud dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang industri, petani, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan menunjang produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.23

Tujuan pembiayaan dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu tujuan pembiayaan untuk tingkat makro, dan tujuan pembiayaan untuk tingkat mikro.24 Secara makro pembiayaan bertujuan untuk:

a. Peningkatan ekonomi umat, artinya masyarakat yang tidak dapet akses secara ekonom, dengan adanya pembiayaan mereka dapat melakukan akses ekonomi. Dengan demikian, dapat meningkatkan taraf ekonominya.

23 Yusuf, Ayus Ahmad Aziz, 2009, Manajemen operasional Bank Syariah, Cirebon : STAIN Press, hal. 68

24 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah,(Yogyakarta:

Unit Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2005), cet. 1, hal, 16

33

b. Tersedianya dana bagi peningkatan usaha, artinya untuk pengembangan usaha membutuhkan dana tambahan. Dana tambahan ini dapat diperoleh melakukan aktivitas pembiayaan.

c. Meningkatkan produktifitasnya, artinya adanya pembiyaan memberikan peluang bagi masyarakat usaha agar mampu meningkatkan daya produksinya.

d. Membuka lapangan kerja baru, artinya dengan dibukanya sektor-sektor usaha melalui penambahan dana pembiayaan, maka sektor usaha tersebut akan menyerap tenaga kerja.

e. Terjadi distribusi pendapatan, artinya masyarakat usaha produtif mampu melakukan aktifitas kerja, berarti mereka akan memperoleh pendapatan dari hasil usahanya.

Adapun secara mikro pembiayaan diberikan dalam rangka untuk:25

a. Upaya mengoptimalkan laba, artinya setiap usaha yang dibuka memiliki tujuan tinggi, yaitu menghasilkan laba usaha.

b. Uapaya meminimalkan resiko, artinya usaha yang dilakukan agar mampu menghasilkan laba maksimal, maka pengusaha harus mampu menimimalkan resiko yang mungkin timbul.

25 Veitzhal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal.681

c. Pendayagunaan sumber ekonomi, artinya sember daya ekonomi dapat dikembangkan dengan melakukan mixing antara sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada, dan sumber daya modal tidak ada.

d. Penyaluran kelebihan dana, artinya dalam kehidupan masyarakat ini pihak yang memiliki kelebihan sementara ada pihak yang kekurangan sehingga dapat menjadi jembatan dalam penyeimbang dan penyaluran kelebihan dana dari pihak yang kelebihan (surplus) kepada pihak yang kekurangan (minus) dana.

5. Prosedur pembiayaan

Prosedur merupakan rangkaian aktifitas atau kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Prosedur penting dimiliki suatu organisasi agar segala sesuatu dapat dilakukan secara seragam, yang pada akhirnya prosedur akan menjadi pedoman bagi suatu organisasi dalam menentukan aktifitas apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan suatu fungsi tertentu.

a. Pengertian prosedur

Prosedur (procedures) merupakan metode atau cara yang baku untuk melaksanakan pekerjaan tertentu (Allen,1990:147).26 Prosedur diperlukan

26 Ismail Solihin, Pengantar Manajemen,(Jakarta:Penertbit Erlangga,2002), hal.71

35

agar pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan menurut metode tertentu sehingga diperoleh hasil yang seragam.

Menurut Syamsi, prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap

Menurut Syamsi, prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap