BAB II URAIAN TEORITIS
K. Prosedur Penagihan Piutang
Apabila menurut pertimbangan bank, kredit yang bermasalah tidak mungkin terselamatkan dan menjadi lancar kembali melalui upaya-upaya penyelamatan sehingga akhirnya kredit tersebut menjadi macet, maka bank akan melakukan tindakan-tindakan penyelesaian atau penagihan kredit bermasalah atau macet itu. Penyelesaian atau
penagihan kredit bermasalah itu merupakan upaya bank untuk memperoleh kembali pembayaran baik dari nasabah debitur dan/atau penjamin atas kredit bank yang telah menjadi bermasalah atau tanpa melikuidasi agunannya.
Walaupun bank tidak mengharapkan terjadinya kredit bermasalah, seluruh pejabat bank terutama yang berkaitan dengan perkreditan harus memiliki pandangan dan persepsi yang sama dalam menangani kredit bermasalah tersebut. Karena itu untuk menyelesaikan kredit bermasalah perlu menggunakan pendekatan sebagai berikut:
a. Bank tidak membiarkan atau bahkan menutup-nutupi adanya kredit bermasalah. b. Bank harus mendeteksi secara dini adanya kredit bermasalah.
c. Penanganan kredit bermasalah atau diduga akan menjadi kredit bermasalah juga harus dilakukan secara dini dan sesegera mungkin.
d. Bank tidak melakukan penyelesaian kredit bermasalah dengan cara menambah plafond kredit atau tunggakan-tunggakan bunga dan mengkapitalisasi tunggakan bunga tersebut.
e. Bank tidak boleh melakukan pengecualian dalam penyelesaian kredit bermasalah, khususnya untuk kredit bermasalah kepada pihak-pihak yang terkait dengan bank dan debitur-debitur besar tertentu.
Pengelompokan kredit berdasarkan kelancarannya sangat diperlukan untuk memperlancar tugas-tugas kreditur dalam penyelesaian atau penagihan piutang kepada debitur sehingga sikap dan langkah yang diamabil disesuaikan dengan keadaan kredit. Pengelompokkan atau penggolongan kredit didasarkan atas kolektibilitas yaitu tingkat ketepatan pembayaran kembali kredit atau angsuran kredit dan bunga. Pengelompokkan penagihan piutang berdasarkan kolektibilitas kredit terbagi atas:
a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; dan b. Memiliki mutasi rekening yang aktif; atau
c. Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) 2. Dalam Perhatian Khusus (Special Mention), apabila memenuhi kriteria :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 hari; atau
b. Kadang-kadang terjadi cerukan; atau c. Mutasi rekening relatif aktif; atau
d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau e. Didukung oleh pinjaman baru.
3. Kurang Lancar (SubStandard), apabila memenuhi kriteria :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari; atau
b. Sering terjadi cerukan; atau
c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah; atau
d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari; atau
e. Dokumentasi pinjaman yang lemah.
4. Diragukan (Doubtful), apabila memenuhi kriteria :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari; atau
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen; atau c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari; atau d. Terjadi kapitalisasi bunga; atau
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan.
5. Macet (Loss), apabila memenuhi kriteria :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari; atau
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau
c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.
Sebagian besar kredit bermasalah atau piutang yang tertunggak tidak muncul secara tiba-tiba. Gejala umum yang muncul sebagai tanda terjadinga kredit bermasalah adalah penyimpangan dari berbagai ketentuan dalam perjanjian kredit, penurunan kondisi keuangan perusahaan, frekuensi pergantian pimpinan dan tenaga inti , penyajian bahan masukan yang tidak benar, menurunnya sikap koperatif debitur, penurunan nilai jaminan yang disediakan dan masalah pribadi.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh pejabat kredit dalam perkreditan ditujukan agar kredit yang diberikan dapat kembali dengan baik dan membawa keuntungan yang diharapkan. Akan tetapi dalam perkembangan penagihan piutang, tidak semua kredit yang diberikan berjalan lancar, sebagian lagi tidak lancar bahkan menuju arah kemacetan. Kredit macet dapat terjadi disebabkan oleh dua unsur yaitu:
1. Pihak Bank
Pihak analisis kredit bank kurang teliti dalam menilai kualitas permintaan kredit yang diajukan. Analis kredit dalam meneliti tidak berdasarkan data yang akurat, data mengenai kredit calon debitur tidak didokumentasikan dengan baik,
kurangnya pengawasan dan pemantauan atas keadaan calon debitur secara terus menerus dan teratur.
2. Pihak Debitur
Kredit bermasalah terjadi karena: a. Adanya unsur ketidaksengajaan
Debitur memiliki kemauan untuk membayar kewajibannya tetapi kemapuan dari debitur tidak ada, misalnya kelancaran usaha yang terganggu yang mengakibatkan penuruna omset sehingga debitur tidak sanggup untuk membayar kewajibannya.
b. Adanya unsur kesengajaan
Debitur dengan sengaja tidak membayar kewajibannya atau kemauan membayarnya tidak ada karena itikad yang tidak baik dengan pihak bank meski kemampuan untuk membayar ada.
Akan tetapi, apabila kredit yang telah disalurkan tersebut mengalami masalah. Maka sebelum melakukan penyelamatan terhadap kredit yang bermasalah tersebut maka dapat ditempuh beberapa usaha sebagai berikut (Dahlan, 2001:178) :
1. Peringatan tertulis untuk segera menyelesaikan kewajibannya yang tertunggak disamping usaha lain untuk melakukan penagihan. Peringatan tersebut dapat diulangi sampai tiga kali. Apabila debitur belum juga menyelesaikan kewajibannya, maka bank dapat mencabut fasilitas kredit sehingga yang bersangkutan dapat dikenakan overdue.
2. usaha debitur untuk melunasi hutangnya dapat ditempuh jalur hukum yaitu lembaga somtie yang ada di Pengadilan Negeri bagi Bank Swasta. Sedangkan bagi bank BUMN melalui Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BPLN) Apabila kredit macet ini terjadi maka pihak bank harus melakukan beberapa cara untuk meminimalisir kerugian sekecil mungkin. Adapun beberapa cara penyelamatan terhadap kredit macet dilakukan dengan cara antara lain (Kasmir, 2002:116) :
1. Rescheduling
a. Memperpanjang jangka waktu kredit
Dalam hal ini debitur diberikan keringan dalam hal perpanjangan jangka waktu kredit sehingga debitur memiliki jangka waktu yang lebih lama untuk mengembalikan kredit.
b. Memperpanjang jangka waktu angsuran.
Dalam hal ini sama halnya dengan memperpanjang jangka waktu kredit. Akan tetapi, jangka waktu angsuran yang diperpanjang yang awalnya hanya 36 kali diperpanjang menjadi 48 kali.
2. Reconditioning
Dengan cara mengubah berbagai persyaratan yang ada, seperti : a. Kapitalisasi bunga, yaitu bunga dijadikan hutang pokok. b. Penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu.
Maksudnya hanya pembayaran bunga kredit yang ditunda pembayarannnya akan tetapi pembayaran pokok hutang kredit tetap dibayar.
c. Penurunan Suku Bunga
Penurunan suku bunga dimaksudkan untuk meringankan beban nasabah. d. Pembebasan Bunga
Dalam pembebasan suku bunga diberikan kepada nasabah dengan pertimbangan nasabah sudah akan mampu lagi membayar kredit tersebut. Akan tetapi nasabah tetap mempunyai kewajiban membayar pokok pinjamannya sampai lunas.
3. Restructuring
a. Dengan menambah jumlah kredit b. Dengan menambah equity :
1. dengan menyetor uang tunai 2. tambahan dari pemilik 4. Kombinasi
Merupakan kombinasi dari ketiga jenis diatas. Dalam rangka penyelamatan kredit bermasalah (rescue program), bila dianggap perlu bank dapat melakukan berbagai kombinasi (Kombinasi 3-R) dari tindakan rescheduling, reconditioning, dan
restructuring, yakni :
a. rescheduling dan reconditioning, b. rescheduling dan restructuring, c. restructuring dan reconditioning,
d. rescheduling, reconditioning, dan restructuring sekaligus.
Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya etikad baik ataupun sudah tidak mampu lagi membayar semua hutang-hutangnya.