BAB III METODE PENELITIAN
C. Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Prosedur penelitian dan pengembangan yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan berpedoman pada model ADDIE, dimana model penelitian ini memiliki lima tahapan. Berikut ini merupakan tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam mengembangan produk buku panduan permainan tradisional pembelajaran matematika tema 2 untuk siswa kelas II SD yang mengacu pada penelitian dan pengembangan model ADDIE.
1. Analyze (Analisis)
Tahap awal yang harus dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan terutama dalam hal penyampaian materi oleh guru pada muatan
pembelajaran matematika. Identifikasi masalah diperoleh peneliti dari hasil wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan secara langsung pada tanggal 20 Agustus 2019 di SD Kanisius Jomegatan dengan Ibu Sisil dan pada tanggal 10 Oktober 2019 di SD Negeri Nyamplung dengan Ibu Estu. Tujuan dari kegiatan wawancara ini adalah peneliti dapat mengetahui peran serta para siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas, inovasi yang dilakukan oleh guru dalam memberikan materi pembelajaran, serta saran yang diberikan oleh guru berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan. Peneliti juga melakukan kegiatan observasi yang dilakukan pada hari yang sama ketika jam istirahat siswa sedang berlangsung. Tujuan dari kegiatan observasi ini adalah peneliti mengetahui kegiatan dan permainan apa saja yang mereka lakukan.
Hasil dari kegiatan wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti ini selanjutnya dianalisis berkaitan dengan masalah yang terjadi pada guru dan para siswa kelas II SD pada saat pembelajaran matematika sedang berlangsung dan penggunaan media yang digunakan oleh guru untuk mempermudahkan para siswa dalam memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Analisis kebutuhan dengan wawancara dan observasi ini dijadikan bahan untuk peneliti dalam membuat analisis kebutuhan kuesioner kepada guru kelas II SD. Masalah yang ditemukan dalam kegiatan analisis kebutuhan ini adalah masih terdapat siswa yang masih kurang dalam memahami materi pembelajaran. Siswa sangat tertarik dan senang mengikuti pembelajaran ketika pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan menggunakan permainan, namun hal yang sangat disayangkan di sini adalah guru kurang memiliki referensi dalam memberikan materi pembelajaran matematika yang dilakukan dengan menggunakan permainan terlebih lagi permainan tradisional. Oleh karena itu, evaluasi yang dilakukan oleh peneliti dari hasil kegiatan wawancara dan observasi ini adalah peneliti membuat sebuah buku panduan yang dapat digunakan oleh guru sebagai referensi
dalam memberikan materi pembelajaran matematika kepada para siswa dengan menggunakan permainan tradisional.
2. Design (Perancangan)
Dalam tahap desain ini berkaitan dengan desain dalam merumuskan suatu tujuan pembelajaran, instrumen penilaian, latihan, konten, analisis materi pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan pemilihan media. Dari hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, maka peneliti telah memiliki gambaran berkaitan dengan permainan apa saja yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi perkalian dan pembagian kelas II SD. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah mendesain buku panduan yang akan dikembangkan dengan sedemikian rupa agar buku panduan tersebut dapat mudah dipahami oleh guru dalam menyampaikan materi kepada para siswa. Peneliti juga mendesain permainan tradisional yang digunakan dalam penelitian ini dengan menyesuaikan materi pembelajaran matematika yang diangkat oleh peneliti yaitu pada operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti dengan tujuan agar dapat mempermudahkan guru untuk mengimplementasikannya ke dalam pembelajaran serta dapat membantu para siswa dalam memahami materi perkalian dan pembagian bilangan cacah tersebut.
3. Develop (Pengembangan)
Dalam tahap mengembangkan ini, hal yang dapat dilakukan oleh peneliti adalah melakukan tinjauan ulang terhadap bahan dan prosedur yang ada dan melakukan revisi sesuai dengan umpan balik sehingga dapat menghasilkan suatu produk yang sudah divalidasi sumber belajar-belajarnya. Dalam tahap ini pula, peniliti sangat membutuhkan pakar permainan anak, guru kelas bawah, serta pakar pendidikan matematika yang dapat digunakan oleh peneliti untuk melihat apakah buku panduan pembelajaran berbasis permainan tradisional yang dikembangkan oleh peneliti dapat digunakan oleh guru dan siswa kelas II SD.
4. Implementation (Pelaksanaan)
Pada tahap ini dapat dilakukan jika buku panduan pembelajaran matematika berbasis permainan tradisional kelas II SD telah divalidasi oleh pihak-pihak terkait seperti pakar pendidikan matematika, pakar permainan anak, guru kelas bawah, serta dosen pembimbing. Dalam penelitian ini, peneliti menciptakan sebuah buku panduan pembelajaran matematika berbasis permainan tradisional kelas II SD serta satu paket permainan tradisional (satu paket permainan berisi 4 permaianan tradisional). Oleh karena keterbatasan jumlah permaianan tradisional yang dibuat oleh peneliti, maka dari itu dalam tahap pelaksanaan ini yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan penelitian secara bergantian pada kedua Sekolah Dasar (SD) yang menjadi subjek penelitian. Dalam tahap pelaksanaan ini peneliti tidak hanya melihat bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam menggunakan buku panduan pembelajaran berbasis permainan tradisional kelas II saja dalam menyampaikan materi perkalian dan pembagian bilangan cacah saja melainkan peneliti juga ingin melihat bagaimana reaksi siswa ketika mereka belajar materi perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan menggunakan permainan tradisional. 5. Evaluation/Evaluate (Evaluasi)
Pada tahap ini dilakukan oleh peneliti ketika tahap pertama hingga keempat sudah dilakukan. Tahap evaluasi ini merupakan proses yang dilakukan oleh sesorang untuk menemukan suatu nilai, harga, dan manfaat dari suatu objek yang sedang diteliti (Pribadi, 2014: 28). Berdasarkan dari fungsi penggunaannya, tahap evaluasi dapat diklarifikasikan menjadi 2 tipe yaitu evaluasi tipe formatif dan evaluasi tipe sumatif.
Evaluasi formatif merupakan suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat kualitas suatu program yang telah dirancang sehingga ketika produk tersebut digunakan, dapat memberikan hasil secara optimal dengan waktu yang sesuai dengan situasi pembelajaran yang sesungguhnya. Penelitian formatif juga dilakukan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sebuah program tersebut, sedangkan penilaian sumatif
merupakan suatu kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan oleh sesorang dalam pengambilan keputusan berkaitan denagn pemanfaatan program yang sedang dilakukan (Pribadi, 2014: 147).
Data dan informasi dalam evaluasi sumatif dapat diperoleh seseorang dari pendapat dan penilaian yang dilakukan kepada ahli atau expert judgement yang berkaitan dengan kualitas suatu produk berdasarkan hasil uji coba lapangan yang telah dilakukan (Pribadi, 2014: 30). Hasil penilaian pada evaluasi sumatif dapat dijadikan suatu bahan yang dapat direkomendasikan oleh pengambil keputusan berkaitan dengan kualitas produk yang sedang dikembangkan.
Dalam kegiatan penelitian ini, evaluasi formatif peneliti dapatkan berdasarkan hasil pretest dan posttest pada saat pelaksanaan uji coba permainan kepada peserta didik berlangsung, sedangkan evaluasi sumatif peneliti dapatkan berdasarkan validasi hasil akhir produk yang peneliti lakukan setelah selesai mencetak buku panduan dan hasil uji coba produk kepada guru berdasarkan kelayakan produk dan sepuluh kriteria buku panduan yang berkualitas.