• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

J. Prosedur penelitian

Borg dan Gall (1989: 679 dalam Creswell. 2013: 148) menyimpulkan enam langkah yang biasanya digunakan dalam prosedur rancangan pre test post test control group. Penelitian ini akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah tersebut, yaitu: 1) persiapan, 2) melakukan pre test terhadap keseluruhan partisipan penelitian, 2) menempatkan partisipan secara berpasangan berdasarkan skor-skor pre test dalam ukuran yang telah ditetapkan, 3) menempatkan partisipan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, 4) melakukan treatment, 5) melakukan post test terhadap keseluruhan partisipan, dan 6) melakukan analisa data. Secara umum penelitian ini dilakukan melalui serangkaian prosedur sebagai berikut:

a. Rasional

Resiliensi adalah kapasitas individu untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat diri dan tetap melakukan perubahan sehubungan dengan masalah atau ujian yang dialami, setiap individu memiliki kapasitas untuk menjadi resilien. Kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau bertahan ditengah lingkungan dengan tekanan yang berat

Winda Yunica, 2015

bukanlah sebuah keberuntungan, hal tersebut menunjukkan adanya kemampuan tertentu dalam diri individu yang dikenal dengan istilah resiliensi (Tugade & Frederikson, 2004, hlm. 4). Resiliensi penting agar seseorang dapat menghadapi stress dalam kehidupan sehari-hari dan penting untuk memperluas serta memperkaya kehidupan seseorang. Individu yang relisien adalah orang-orang yang terus berjuang beriringan dengan kekecewaan. Dalam menghadapi tantangan dan penderitaan yang dialami tersebut terdapat kemungkinan ditemuinya kegagalan serta kekecewaan. Namun, inti dari resiliensi adalah bagaimana ia dapat terus menerus bangkit dari kekecewaan tersebut

Liquanti (1992, hlm. 2) menyebutkan secara khusus bahwa resiliensi merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dimana mereka tidak mengalah saat menghadapi tekanan dan perubahan dalam lingkungan. Mereka juga senantiasa terhindar dari penggunaan obat terlarang, kenakalan remaja, kegagalan akademik, depresi, stres berkepanjangan, perilaku menyimpang dan gangguan mental. Artinnya resiliensi merupakan potensi yang sudah dimiliki oleh setiap individu yang perlu dijaga dan dikembangkan.

Sebagian siswa atau remaja memiliki masa lalu yang kurang menguntungkan bagi perkembangan mereka. Bahkan setiap individu pernah mengalami berbagai peristiwa yang kurang menyenangkan tetapi tidak dapat dihindarkan. Setiap individu pernah mengalami kegagalan dan masa-masa yang penuh dengan kesulitan. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi pengaruh negatif masa lalu dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Untuk tujuan tersebut resiliensi individu perlu dikembangkan. Pengembangan resiliensi sangat bermanfaat sebagai bekal dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang tidak dapat dihindarkan.

Winda Yunica, 2015

Dari beberapa teori bimbingan konseling yang dapat digunakan salah satunya yang dianggap dapat digunakan adalah bimbingan kelompok untuk membantu siswa mengembangkan potensi resliensi diri yang dimilikinya, maka dari itu bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik group exercise dianggap sesuai untuk mengembangkan potensi resiliensi siswa.

b. Tujuan

Program intervensi ini secara umum bertujuan untuk menguji matode teknik groub exercise yang paling efektif dalam mengembangkan potensi resiliensi diri siswa. Metode yang dimaksud adalah 1) dyat and triad, 2) creative props, 3) written, 4) Rounds. Metode teknik group exercise yang paling efektif adalah teknik yang dapat meningkatkan karakteristis resiliensi diri siswa yakni:

1. Emotions regulations

a. Siswa mampu mengendalikan rasa sedih. b. Siswa mampu mengendalikan rasa marah

c. Siswa mampu mengendalikan rasa bersalah dalam diri 2. Impulse control

a. Siswa mampu mengendalikan pikiran b. Siswa mampu mengendalikan perilaku

3. Optimism; siswa memiliki keyakinan tentang masa depan yang lebih baik.

4. Casual analysis; siswa memiliki kemampuan untuk mengidentifkasi atau menganalisis masalah.

5. Empathy; siswa memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain

6. Self-efficacy; siswa memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah memecahkan masalah

Winda Yunica, 2015

7. Reaching out; siswa mampu bangkit dari masalah dan keterpurukan.

c. Asumsi Dasar

Asumsi yang mendasari intervensi teknik group exercise dalam mengembangkan resiliensi diri siswa adalah:

1. Idividu memiliki kemampuan untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup. Karena setiap orang itu pasti mengalami kesulitan ataupun sebuah masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu masalah ataupun kesulitan. (Grotberg, 1995, hlm. 10). Itu artinya resiliensi merupakan potensi yang harus dikembangkan dari siswa.

2. Asumsi mendasar dalam studi mengenai resiliensi adalah bahwa beberapa individu tetap baik-baik saja meskipun telah mengalami situasi yang sarat adversitas dan beresiko, sementara beberapa individu lainnya gagal beradaptasi dan terperosok dalam adversitas atau resiko yang lebih berat lagi (Schoon, 2006:9).

3. Individu memiliki kemampuan untuk 1) mengatasi perubahan yang mengganggu, 2) menjaga kesehatan dan energi dibawah tekanan, 3) bangkit kembali dari keterpurukan, 4) mengatasi kemalangan, 5) mengubah cara berpikir dan bekerja ketika cara lama sudah tidak mungkin untuk dilakukan, 6) melakukan semua poin di atas tanpa merusak dan membahayakan. (Al Siebert, 2005, hlm. 5).

4. Individu memiliki kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari. (Reivich dan Shatte, 2000, hlm. 26), 5. Teknik group excercise membantu individu untuk merangsang diskusi

Winda Yunica, 2015

untuk mempelajari lebih dalam pikiran dan perasaan, merangsang pembahasan dan diskusi terkait dengan dinamika kelompok dan proses kelompok. (Jacobs, 2009, hlm. 258)

6. Melalui bimbingan kelompok dengan teknik latihan (exercise) dapat digunakan untuk mengembangkan potensi diri siswa melalui partisipasi dengan mengangkat suatu fokus dalam memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk mendapatkan informasi serta memberikan rileksasi, kesenangan dan kenyamanan kepada siswa.

d. Kompetensi Konselor

Dalam melaksanakan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik group exercise untuk meningkatkan resiliensi diri siwa harus didukung oleh kompetensi memadai yang dimiliki oleh peneliti yang sekaligus berperan sebagai pemberi intervensi. Berbagai sumber menyatakan bahwa groub exercise dapat diberikan oleh berbagai kalangan dan tidak menuntut lisensi profesional tertentu. Beberapa kalangan yang terbiasa memberikan intervensi ini diantaranya adalah Guru, Guru BK, Konselor, dan Terapis. Hal ini mengimplikasikan bahwa peneliti memenuhi syarat untuk melaksanakan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik group exercise. Kompetensi lainnya adalah:

1. Memiliki pemahaman dan pengetahuan yang memadai mengenai konsep resiliensi diri siswa.

2. Memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam dalam bimbingan kelompok dengan menggunakan groub exercise. 3. Memahami karakteristik siswa di MAN Kinali yang merupakan subjek

dari penelitian ini.

4. Menunjukkan penerimaan tanpa syarat terhadap konseli sebagai manusia yang tidak lepas dari kesalahan.

Winda Yunica, 2015

e. Sasaran Intervensi

Populasi yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MAN kinali yang teridentifikasi memiliki resiliensi yang lemah. Sasaran intervensi adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada aspek karakterisitik resiliensi, yaitu pada aspek Emotions regulations, Impulse control, Optimism, Casual analysis, Empathy, Self-efficacy, Reaching out.

f. Prosedur Pelaksanaan Intervensi Bimbingan

Secara keseluruhan intervensi group exercise dilaksanakan beberapa kali sesi intervensi untuk kelompok eksperimen. Pelaksanaan intervensi dilakukan secara fleksibel, artinya pelaksanaan intervensi dapat dilakukan di dalam ruangan kelas atau dilapangan MAN Kinali. Lamanya intervensi ditentukan oleh exercise yang akan diberikan. Untuk mendokumentasikan hasil penelitian, peneliti bekerja sama dengan guru pembimbing di MAN Kinali dalam proses perekaman, membagikan instrumen dan memberikan penjelasan tambahan kepada siswa yang belum memahami cara mengisi instrumen.

Pertama peneliti menyebarkan pree test kepada siswa kelas X MAN kinali. Pengisian pree test berlangsung selama 15 menit dengan terlebih dahulu peneliti menjelaskan prosedur pengisian instrumen dan sesi tanya jawab. Pree test ini dimaksudkan untuk menentukan populasi resliensi diri siswa yang terindikasi lemah, kemudian menentukan sampel untuk dijadikan kempok eksperimen dan kelompok kontrol secara acak. Selanjudnya pelaksanaan penelitian yaitu memberikan intervensi group exercise untuk mengembangkan aspek resiliensi diri siswa yaitu Emotions regulations, Impulse control, Optimism, Casual analysis, Empathy, Self-efficacy,

Winda Yunica, 2015

Reaching out, dengan tujuh kali sesi intervensi. Masing-masing sesi mengintervensi satu aspek resiliensi.

Prosedur pelaksanaan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik exercise adalah :

1. Tahap awal, yaitu orientasi peserta (pembinaan hubungan baik), adalah proses pembentukan kelompok dan pembinaan hubungan yang baik dalam sebuah kelompok. Pada tahap ini peserta diberikan permainan yang bersifat pengakraban dan penjajagan antara peserta.

2. Tahap transisi, yaitu orientasi permainan kelompok. Tahap ini merupakan tahap pengembangan arah dan tujuan kelompok sehingga akan tercapai kesepakatan dalam diri anggota kelompok untuk melakukan apa dan bagaimana proses dari kegiatan yang akan dilakukan. Pada tahap ini konselor memberikan penjelasan sebagai berikut:

a. Tujuan group exercise yang meliputi tujuan umum dan tujuan khusus permainan kelompok yang akan dilaksanakan secara singkat.

b. Tata cara group exercise secara umum yang meliputi cara memulai, melaksanakan dan mengakhiri exercise.

c. Peran peserta dan peran fasilitator.

3. Tahap kerja atau tahap inti, yaitu pelaksanaan group exercise. Pada tahap ini seluruh peserta diajak untuk terlibat aktif dalam permainan kelompok yang dilaksanakan. Di samping itu fasilitator memberikan dorongan empatik dan penguatan kepada peserta pada saat exercise berlangsung.

Pada inti dari pelaksanaan penelitian yaitu memberikan intervensi group exercise untuk mengembangkan aspek resiliensi diri siswa yaitu Emotions regulations, Impulse control, Optimism, Casual

Winda Yunica, 2015

analysis, Empathy, Self-efficacy, Reaching out, dengan tujuh kali sesi intervensi. Masing-masing sesi mengintervensi satu aspek resiliensi. Intervensi group exercise dengan menggunkan metode, 1) dyat and triad, 2) creative props, 3) written, 4) Rounds. Berikut penjelasan setiap sesi yang akan dilaksanakan:

a) Sesi Pertama

Sesi pertama intervensi group exercise pada kelompok eksperimen adalah metode dyiat and triad dengan materi obrolan orang tua. Aspek resliensi yang diintervensi yakni emotions regulation. Obrolan orang tua ini akan diperankan oleh masing siswa dengan tema sesuai aspek yang ingin dicapai. Tujuan dari intervensi ini adalah agar siswa mampu mengendalikan emosi yang dirasakan dengan terkontrol. Setelah exercise dyiat and triad ini dilakukan kemudian peneliti akan merefleksikan yang dirasakan oleh siswa dari kekgiatan yang sudah dilakukan, dilanjutkan dengan diskusi tentang kegiatan tadi yang mengacu pada pembahasan aspek yang ingin dicapai.

b) Sesi Kedua

Sesi kedua intervensi group exercise adalah metode creative props, aspek resiliensi yang diintervensi yakni impulse contol. Tujuan dari intervensi ini adalah agar siswa mampu mengendalikan impulsivitas dengan mencegah terjadinya kesalahan pemikirian dan tindakan, sehingga dapat memberikan repon yang tepat pada permasalahan yang ada. Exercise yang akan dilakukan adalah menjernihkan pikiran (kegiatan terlampir).

c) Sesi Ketiga

Sesi ketiga intervensi group exercise adalah seni dan written dengan aspek resiliensi yang diintervensi yakni optimism. Tujuan dari intervensi ini adalah membangun kepercayaan dalam diri siswa akan

Winda Yunica, 2015

terwujudnya masa depan yang lebih baik jika diiringi dengan segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Exercise yang diberikan adalah menulis cita-citaku.

d) Sesi Keempat

Sesi keempat intervensi group exercise adalalah creative props, aspek resiliensi yang diintervensi casual analysis. Tujuan dari intervensi adalah siswa mampu mengidentifikasikan semua penyebab yang menyebabkan kemalangan yang menimpa mereka tanpa menyalahkan orang lain atas kesalah yang mereka perbuat. Kegiatan exercise yang dilakukan adalah membangun menara (kegiatan terlampir)

e) Sesi Kelima

Sesi kelima intervensi group exercise adalah rouds, yang dimaksud dalam kegiatan ini adalah, siswa memiliki kemampuan untuk merasakan perasan orang lain dengan melatih kepekaan mereka terhadap sentuhan verbal dan non verbal dari orang lain. Aspek resiliensi yang diintervensi adalah aspek empathy. Exercise yang diberikan adalah bebas bereksperesi ( kegiatan terlampir).

f) Sesi Keenam

Sesi keenam intervensi group exercise adalah creative props dengan aspek resiliensi yang diintervensi adalah self efficacy. Tujuan dari intervensi ini adalah siswa merasa memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Exercise yang deberikan adalah sembilan titik (kegitan terlampir)

Winda Yunica, 2015

Sesi ketujuh intervensi group exercise adalah menuli Creative porps, aspek resiliensi yang diintervensi adalah reaching out. Tujuan dari intervensi ini adalah membantu siswa agar memiliki kemampuan meraih aspek positif dari kehidupan setelahkemalangan yang menimpa mereka, sehingga siswa benar-benar dapat bangkit dari masalah dan keterpurukan yang mereka alami. Exercise yang diberikan adalah bola mental.

4. Tahap terminasi, yaitu tahap refleksi dan pengakhiran group exercise. Pada tahap ini peneliti membantu peserta dalam menyerap pengalaman, wawasan dan hikmah yang diperoleh setelah mengikuti group exercise. Adapun contoh yang dilakukan oleh peneliti pada tahap ini adalah:

a. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk menjelaskan pengalaman apa yang didapatkan dalam exercise yang diberikan. b. Memberikan kesempatan setiap peserta exercise untuk menjelaskan

masalah yang dihadapi dalam pelaksanan permainan dan penanganannya.

c. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menjelaskan pelajaran yang diperoleh dari group exercise yang telah diikuti. d. Mengarahkan peserta group exercise untuk membahas proses

pelaksanaan dan hasil exercise berkaitan dengan permasalahan dan pengaplikasian dalam kehidapan sehari-hari peserta.

g. Evaluasi

Untuk mengukur keberhasilan keseluruhan intervensi group execise maka dilakukan penilaian terhadap proses dan hasil exercise. Penilaian terhadap proses exercise difokuskan pada keterlaksanaan sesi intervensi konseling berdasarkan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan. Sedangkan

Winda Yunica, 2015

penilaian terhadap hasil difokuskan terhadap perubahan sikap konseli setelah mengikuti keseluruhan sesi intervensi konseling.

Penilaian terhadap proses bimbingan dilakukan dengan mengamati dan menganalisis secara seksama mulai dari tahap awal, tahap inti, sampai tahap akhir pelaksanaan intervensi bimbingan adalah melalui post-test yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan bimbingan kelompok menggunakan group exercise untuk meningkatkan resiliensi diri siswa. Adanya peningkatan rata-rata dan persentase antara sebelum pemberian intervensi exercise (pre test) dengan setelah pemberian intervensi exercise (post test), hai ini merupakn indikator keberhasilan intervensi bimbingan kelompok menggunakan teknik exercise. Selain itu, indikator keberhasilan setiap sesi intervensi bimbingan ditentukan oleh penguasaan peserta terhadap pengetahuan dan keterampilan tertentu sebagaimana disebutkan dalam garis besar isi intervensi bimbingan yang dirangkup dari jurnal harian siswa.

Dokumen terkait