• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Dalam dokumen PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I (Halaman 131-142)

BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA

C. Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah;

2. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah, yaitu a. pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa; b. pelaksanaan dengan swakelola.

Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut.

1. Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa

Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini.

a. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah. b. Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. c. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa.

Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode pemilihan penyedia barang/jasa, metode penyampaian dokumen penawaran, dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan.

d. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan.

Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. e. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS).

f. Penyusunan dokumen pengadaan.

Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa.

Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya.

2. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola).

Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode pemilihan penyedia barang/jasanya. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada dasarnya akan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut.

a. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta

Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan metode pelelangan umum, pelelangan terbatas, seleksi umum, dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas, pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu, namun demikian, hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu.

b. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa.

Dalam hal sistem pengadaannya menggunakan metode prakualifikasi, maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan dan kompetensinya terlebih dahulu sebelum memasukkan penawaran. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi; penyerahan dokumen; evaluasi kualifikasi; penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi; masa sanggah kualifikasi.

Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersam-sama dengan dokumen penawaran.

c. Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan

Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi, daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi, sedangkan untuk seleksi umum, peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi.

d. Penjelasan Lelang (aanwwijziing)

Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan, dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. Dalam acara penjelasan lelang, harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan, cara penyampaian penawaran, dan syarat-syarat lainnya.

Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan, harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP).

e. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran

Dalam metode pengadaannya dengan prakualifikasi, hanya peserta yang lulus kualifikasi yang dapat menyampaikan dokumen penawaran. Sedangakan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi, maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan dokumen penawaran.

Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang-kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta, pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang, kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru. Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan.

Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran.

f. Evaluasi Penawaran

Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi:

• kelengkapan data administrasi,

• dokumen teknis, dan

• dokumen penawaran harga.

berdasarkan kriteria, metode, dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang.

Pada tahap awal, panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik.

Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi, teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP). BAHP memuat hasil pelaksanaan

pelelangan, termasuk cara penilaian, rumus-rumus yang digunakan, sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia.

g. Penetapan Pemenang

Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar, dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan, serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti:

1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa; 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung

jawabkan, penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi, teknis dan harga.;

3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri.

Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama, maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan, dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar, dan hal ini dicatat dalam berita acara.

Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang.

h. Pengumuman Pemenang

Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambat-lambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang. Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang, panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang. Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang, cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua.

i. Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat

Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin. Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan.

Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan, baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut.

j. Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ)

Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang, atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan.

k. Penandatanganan Kontrak

Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang.

D. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI

Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah.

... Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah.

Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus, pemberian sertifikatnya harus selektif. Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya, apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya. Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek, tetapi juga jujur terlebih dulu, cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab. Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek, hal itu sangat keterlaluan. ...(Kompas, Rabu 16 Agustus 2006)

SOAL LATIHAN

Pilihlah salah satu jawaban a, b, c atau d yang Saudara anggap paling benar.

1. Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa, kecuali …. a. menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan

pengadaan

b. meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c. mengurangi impor barang jadi dari luar negeri

d. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil 2. Pejabat pengadaan terdiri dari....

a. tiga orang

b. satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c. satu orang PNS di instansinya

3. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50.000.000, dilakukan dengan cara....

a. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan

c. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan

d. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan 4. Panitia pengadaan harus dibentuk untuk melaksanakan paket

pengadaan yang bernilai…. a. di atas Rp100 juta b. di atas RP50 juta c. sampai Rp50 juta d. tidak ada batasan nilai

5. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah….

a. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural

c. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya

d. memahami isi dokumen, prosedur dan metode pengadaan

6. Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah ….

a. bendahara

b. peneliti

c. pengguna barang/jasa d. pegawai BPKP, Itjen, Bawasda

7. Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu….

a. pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. pelelangan dan penunjukan langsung

c. diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola

8. Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya …. a. tiga penyedia barang/jasa

b. lima penyedia barang/jasa c. tujuh penyedia barang/jasa d. sembilan penyedia barang/jasa

9. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek, pelelangan umum dilaksanakan dengan …. a. prakualifikasi b. pasca kualifikasi c. negosiasi awal d. negosiasi akhir

10. Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah….

a. memerlukan teknologi tinggi b. bernilai di atas Rp 50 milyar

c. menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali Tojib M., Drs. Anggaran Negara. Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu. Jakarta. 1996.

2. Bijloo J. Perbendaharaan. Komisi Penterjemah. Depkeu. Jakarta. 1979. 3. Goedhart C., Dr. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. Terjemahan

oleh Ratmoko, S.H. Penerbit Jembatan. 1982.

4. Wiemas AJGA. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. Komisi Penterjemah. Depkeu. Jakarta. 1982.

5. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, keuangan dan Pengawasan Pembangunan. 1995.

6. Peraturan-peraturan:

a. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya

b. Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak

c. Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara d. Undang-undang No. 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 e. Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara

f. Undang-undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara

g. Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan

h. Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri

i. Keputusan Presiden No. 42 Tahun 2002 jo Keppres No. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

j. Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII

k. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN

l. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN

m. Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN

n. Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN

o. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi

7. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan

8. Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara, Biro Keuangan, Departemen Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia,2006

Dalam dokumen PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I (Halaman 131-142)