• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGANGKATAN ANAK DI DUSUN DAWUNG DESA

C. Prosedur Pengangkatan Anak di Dusun Dawung

Berikut ini merupakan proses pengangkatan anak dan proses mendaftarkan akta kelahiran yang terjadi di Dusun Dawung Desa Candirejo. Adapun proses pengangkatan anak adalah sebagai berikut:

1. Keluarga Ibu SW dan Bapak FR

Menurut penuturan Bapak FR, beliau dan istrinya memang ingin sekali mempunyai keturunan. Sudah sekian tahun mereka menikah tapi belum juga memiliki momongan. Mengingat bahwa kakak kandung pertama Ibu SW juga tidak memiliki keturunan. Akhirnya beliau dan istri berusaha untuk bisa mendapatkan keturunan dengan cara memeriksakan kesehatan rahim di salah satu Rumah Sakit swasta. Hasilnya rahim istrinya tidak bermasalah tetapi Bapak FR dinyatakan mandul sehingga tidak bisa mempunyai keturunan. Tidak mau kepikiran terus hingga akhirnya berputus asa, Ibu SW dan suaminya tetap berusaha mendapatkan keturunan.

Akhirnya suatu ketika ada tetangganya yang waktu itu menunggu adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit, memberitahukan bahwa ada bayi yang mau diberikan kepada

orang lain karena ibunya dan keluarganya merasa tidak mampu membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Mendengar kisahnya seperti itu beliau dan istri merasa kasihan terhadap anak itu karena tidak ada bapaknya.

Keesokan harinya Bapak FR langsung datang ke Rumah Sakit dengan memberikan sedikit bantuan untuk membantu biaya persalinan caesarnya. Ibu kandungnya setuju jika anaknya dirawat sepenuh hati oleh keluarga Bapak FR sehingga diharapkan kelak bisa menjadi penerus keluarga Bapak FR. Beliau datang bersama rombongan dan juga Bapak Kadus sebagai saksi bahwa anak tersebut telah menjadi anak Bapak FR dengan persetujuan Ibu kandungnya diatas materai.

Setelah sampai dirumah, Bapk FR mengadakan selamatan atas hadirnya bayi ditengah-tengah keluarganya. Acaranya sederhana hanya dihadiri oleh tetangga dan kerabat dekat saja. 2. Keluarga Ibu Sn dan Bapak MT

Menurut penuturan Bapak MT dan Ibu Sn alasan mereka mengangkat anak karena tidak bisa memiliki momongan. Sudah bertahun-tahun mereka menikah ternyata sampai saat ini belum diberikan keturunan. Mereka sudah berikhtiar kemana-mana tetapi hasilnya sama saja.

Akhirnya pada suatu ketika ada seorang tetangga yang sedang hamil tua datang kerumahnya. Dia bercerita kalau anak ini

nanti lahirnya hidup maka akan diberikan kepada kami karena dari segi ekonomi dia memang waktu itu kekurangan. Istrinya sudah bahagia sekali mendengar akan mendapatkan momongan setelah bertahun-tahun dinanti, karena itu merupakan salah satu tujuan berumahtangga.

Setelah minggu-minggu berlalu, Bapak MT dikabari salah satu warga yang bilang bahwa si A telah melahirkan bayi laki-laki. Waktu itu Bapak MT sedang mencari makan untuk sapi-sapinya, kemudian beliau langsung bergegas datang kerumah Ibu A dan membawa pulang bayi tersebut. Awalnya ada penolakan dari keluarga si bayi, karena ternyata bayi itu laki-laki. Tetapi Bapak MT tetap memperjuangkan untuk mendapatkannya karena telah ada perjanjian sebelumnya. Akhirnya dengan berat hati pihak keluarga anak tersebut mengikhlasnnya.

3. Keluarga Ibu M dan Bapak JW

Menurut penuturan Bapak JW menyatakan bahwa, beliau melakukan pengangkatan anak supaya mempunyai penerus keluarga, sebab beliau tidak bisa mempunyai keturunan. Istrinya pernah hamil tetapi tiba-tiba hilang setelah bangun tidur dan sampai belasan tahun tidak bisa hamil lagi. Kemudian beliau ditawari tetangga yang anaknya baru lahir perempuan kembar 2 yang pada saat itu kondisi ekonomi orang tuanya memprihatinkan

dan masih harus menanggung biaya hidup anak-anaknya yang masih kecil.

Melihat kondisi seperti itu, beliau merasa kasihan dan sangat berterima kasih kepada orang tua kandung si bayi karena telah mengikhlaskan anaknya untuk di rawat. Tidak ada imbalan apapun dari Bapak JW, dia berharap bahwa Bapak JW bisa memenuhi semua kebutuhannya dan memberikan kasih sayang yang tulus terhadap anak tersebut.

4. Keluarga Ibu Su dan Bapak K

Menurut penuturan Ibu M dan Bapak K, alasan mereka mengangkat anak supaya mempunyai keturunan, sebab sudah dua kali Ibu Su hamil tetapi meninggal semua. Akhirnya beliau menjadi trauma jika nanti hamil lagi akan meninggal lagi.

Setelah bertahun-bertahun menanti, akhirnya mereka mendapat informasi dari seorang tetangga yang mempunyai kerabat. Kerabatnya ingin memberikan anak yang baru dilahirkannya karena alasan ekonomi. Dia tidak mampu membiayai dan mengurusi ketiga putranya yang masih balita semua ditambah satu bayi yang baru dilahirkannya. Suami atau ayah dari keempat anak tersebut pergi karena tidak mau menanggung biaya hidup yang banyak untuk keluarganya. Dia hanya pulang sebentar untuk menengok keluarganya tanpa memikirkan nasib anak istrinya.

Mendengar kisahnya seperti itu, akhirnya Ibu Su dan Bapak K mendatangi rumah keluarga bayi tersebut untuk menanyakan kebenarannya. Dan ternyata memang benar adanya, kalau bayi tersebut akan diberikan kepada siapa saja yang mau merawat dan memenuhi semua kebutuhannya. Akhirnya bayi tersebut di bawa pulang Ibu Su dan Bapak K kemudian saya adakan acara selamatan untuk mendoakan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kedua anak mereka sebelumnya.

Adapun proses pendaftaran akta kelahiran anak pada kantor catatan sipil adalah sebagai berikut:

1. Keluarga Ibu SW dan Bapak FR

Setelah mengadakan acara selamatan dirumahnya, kemudian keesokannya Bapak FR bergegas membuatkan akta lahir anak tersebut dengan dikuasakan kepada Bapak Kadus Dawung. Mengingat bahwa beliau belum pernah mendaftarkan pembuatan akta lahir sendiri jadi Bapak FR merasa takut jika nantinya terdapat suatu kendala dalam proses pembuatan akta lahir bagi anak angkatnya itu. Beliau juga takut terhadap kelurga kandung bayi tersebut jika tidak segera mendaftarkan akta lahir, suatu saat pihak keluarga Ibu kandungnya berubah pikiran dan akan mengambil bayinya lagi.

Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, ibu kandung sang anak datang kerumah Bapak FR untuk bersilaturrahmi dan menengok sang anak. Bapak FR menerima baik, karena dari awal perjanjian memang beliau dan orang tua kandung sang anak ingin tetap menjaga silaturrahmi dan menganggap sebagai keluarga. Akan tetapi Bapak FR tetap merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak angkatnya. Beliau merasa bahwa anak itu telah menjadi satu-satunya anak kandungnya yang akan merawat di hari tuanya dan mewarisi apa yang beliau punya. 2. Keluarga Ibu Sn dan Bapak MT

Setelah mendapatkan anak meski sempat mendapat penolakan dari keluarga orang tua kandung anak, akhirnya Bapak MT langsung membuatkan akta kelahiran bagi anak tersebut yang dikuasakan kepada Bapak Kadus Dawung supaya tidak ada yang mengambilnya lagi darinya. Beliau memutuskan hubungan anak angkatnya dengan orang tua kandungnya. Beliau sungguh menyayangi anak angkatnya, sebagai buktinya beliau sekolahkan anaknya dan memasukkan dia dalam pondok pesantren supaya menjadi anak yang shaleh dan memiliki ilmu pengetahuan lebih tinggi dari Bapak MT.

3. Keluarga Ibu M dan Bapak JW

Sama seperti yang lainnya, Bapak JW telah membuatkan akta kelahiran untuk anak angkatnya supaya memiliki kedudukan

hukum pasti. Akan tetapi sampai saat ini Bapak JW belum memberitahukan siapa sebenarnya orang tua kandung anak angkatnya. Setelah melihat anaknya tumbuh berkembang menjadi remaja, dia sering bermain bersama saudara kembarnya. Dalam hati Bapak JW dan Ibu M tidak tega sebenarnya memisahkan keduanya. Saya berencana memberitahukan kebenarannya pada anak tersebut pada saat yang tepat nantinya ketika dia telah siap untuk mengetahuinya.

Mengingat anak angkatnya itu perempuan, maka sebelum waktunya dia menikah Bapak JW ingin dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jadi nantinya yang menjadi wali nikahnya adalah bapak kandungnya sendiri.

Mengenai warisan, anak angkatnya tetap mendapatkan bagian harta dari Bapak JW dan mungkin juga dari orang tuanya jika anak tersebut sudah mengetahui kebenarannya.

4. Keluarga Ibu Su dan Bapak K

Setelah mengadakan syukuran selamatan, Bapak K membuatkan akta kelahiran pada anak tersebut supaya bisa menjadi anak sahnya. Supaya anak tersebut tidak diambil lagi oleh orang tuanya dan tidak mencari tahu keberadaan orang tuanya, saya tidak memberitahukan siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya kepada anak saya. Jadi hubungan dengan orang tua kandungnya terputus.

Anak itu di rawat dan di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh Ibu Su dan Bapak K. Apa yang menjadi kebutuhannya sehari-hari terpenuhi. Mengenai hal warisan, anak angkatnya akan mendapatkan bagian dari Bapak K dan tentang siapa wali nikahnya kelak akan di nikahkan sendiri karena Bapak K merasa sebagai orang tuanya yang sah. Bapak K tidak tahu keberadaan orang tua kandung anaknya dan tidak ingin mencari tahu keberadaanya.

Menurut hasil penelitian diatas, dari 4 responden yang ada di Dusun Dawung Desa Candirejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang dapat disimpulkan bahwa alasan responden mengangkat anak bermacam-macam, ada yang karena tidak bisa memiliki anak, kasihan terhadap orang tuanya bahkan kasihan terhadap anak itu sendiri.

Dalam proses pengangkatan anak dilakukan berdasarkan kesepakatan antara orang tua kandung dengan orang tua angkat untuk merawat dengan memberikan kasih sayang yang tulus dan memenuhi semua kebutuhan hidup. Dalam pengangkatan anak ini semuanya dilakukan berdasar adat kebiasaan yang ada yaitu acara selamatan seperti pada umumnya.

Pengangkatan anak akan membawa akibat hukum dalam hal pewarisan dan perwalian. semua anak angkat mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya. Kemungkinan hanya satu

yang juga mendapatkan warisan dari orang tua kandungnya. Sedangkan mengenai wali nikah, satu orang menginginkan anak tersebut dinikahkan oleh bapak kandungnya, sedangkan satu orang lagi memilih menikahkan anak angkatnya sendiri karena tidak mau jika anak angkatnya dinikahkan oleh orang tua kandungnya yang juga tidak diketahui tinggalnya.

Dalam hal hubungan dengan keluarga atau orang tua kandung si anak, semuanya sengaja diputus hubungannya dengan orang tua kandungnya. sedangkan dua anak lainnya masih berhubungan baik dengan orang tua kandungnya tetapi mereka tidak mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Menurut penyataan Bapak Kadus Dawung, anak angkat mendapatkan kedudukan yang sama seperti anak kandung dimana anak angkat mendapatkan pendidikan, perlindungan kesehatan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya. Alasan dari mereka melakukan pengangkatan anak supaya mendapat keturunan dan dapat merawat mereka (orang tua angkat) di waktu tuanya. Beliau sebagai Perangkat Dusun hanya bisa mengupayakan sebisa mungkin untuk membantu mereka memperoleh apa yang diinginkan yaitu memiliki keturunan. Alasan kenapa tidak melalui prosedur persidangan, karena kalau harus sidang itu

rumit. Butuh waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Memang beliau sendiri yang berinisiatif agar masyarakatnya bisa mendapat kemudahan dalam memiliki anak. Beliau tahu bahwa itu sebenarnya melanggar hukum, akan tetapi ini demi kebaikan warganya yang mayoritas hanya sebagai petani dan karyawan swasta. Adapun akibat hukum yang timbul nanti di kemudian hari, sepenuhnya beliau serahkan kepada mereka masing-masing. Beliau hanya sebatas membantu memperoleh dan mempermudah akses saja.

Mengenai pembuatan akta kelahiran, beliau menuturkan cukup dengan membawa akta nikah sebagai bukti yang sah. Kemudian dari dinas catatan sipil menerbitkan akta lahir baru yang statusnya sebagai anak kandung. Tidak ada syarat khusus apapun, karena prosedurnya sama dengan yang lainnya. Mudah dan simple (wawancara dengan Bapak Kadus Dawung pada 7 Desember 2016).

Sedangkan menurut Bapak Perangkat Desa (Lurah) Candirejo, peneliti tidak memperoleh informasi mengenai perihal pengangkatan anak. dikarenakan Bapak Lurah menjawab bahwa sepanjang beliau menjabat sebagai lurah tidak ada tindakan pengangkatan anak. Jadi dalam register kelurahanpun tidak ditemukan perihal pengangkatan anak. Beliau menegaskan jikalau memang ada tindakan pengangkatan anak maka semua

harus demi kepentingan si anak dari segi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan bagi anak tersebut (wawancara dengan Bapak Lurah Candirejo pada 5 Februari 2017).

Dari informasi yang diperoleh peneliti pada kantor Catatan Sipil Kabupaten Semarang, peneliti memperoleh informasi dari salah satu pegawai Catatan Sipil bahwa dalam penjelasannya beliau menuturkan bahwa pencatatan kelahiran dilakukan dengan mengisi formulir pelaporan kelahiran yang telah disediakan oleh instansi pelaksana dan dilampiri:

Persyaratan Akta Kelahiran:

1) Surat pengantar dari Kepala Desa atau Kelurahan 2) Surat keterangan kelahiran dari Desa atau Kelurahan 3) Surat kelahiran dari Dokter, Bidan, Rumah Sakit/

Bersalin

4) Foto copy kutipan akta perkawinan atau nikah atau duplikat surat nikah atau akta perceraian atau talak dengan menunjukkan aslinya

5) Foto copy Ijazah SD, SMP, SMA (bagi yang memiliki) 6) Foto copy KK dan KTP orang tua serta yang

bersangkutan apabila sudah memiliki

7) Foto copy identitas saksi kelahiran sebanyak dua orang 8) Surat kuasa bermaterai cukup dan copy KTP kuasa

Jika surat kelahiran dari Dokter, Bidan, Rumah Sakit/ Bersalin tidak ada, maka harus meminta surat kelahiran dari Desa atau Kelurahan. Karena ini sebagai penguat bahwa memang anak tersebut adalah anak biologisnya. Namun, jika ingin membuat akta kelahiran untuk anak angkat maka calon anak angkat harus terlebih dulu dibuatkan akta oleh orang tua biologisnya. Kemudian membuat permohonan ke Pengadilan agar mendapatkan penetapan Pengadilan.

Adapun syarat pencatatan dan pengakuan anak dengan mengisi formulir dilampiri:

1) Pengantar dari Kelurahan atau Desa 2) Kutipan akta kelahiran asli

3) Surat pengakuan anak dari Ayah biologis yang disetujui oleh Ibu kandung

4) Bagi orang asing membawa dokumen imigrasi, surat lapor diri dari kepolisian dan keterangan dari perwakilan Negara yang bersangkutan

5) Foto copy KK dan KTP Ibu dan Ayah biologis yang masih berlaku

6) Dua orang saksi yang telah berusia dua puluh satu tahun dan copy KTP

Setelah permohonan disetujui Pengadilan, selanjutnya akan menerima salinan Keputusan Pengadilan mengenai Pengangkatan anak. Salinan itu kemudian dibawa ke kantor Catatan Sipil untuk menambahkan keterangan dalam akte kelahirannya.

Adapun syarat pencatatan pengesahan anak dengan mengisi formulir yang telah disediakan oleh Iinstansi Pelaksana dan dilampiri:

1) Pengantar dari Desa atau Kelurahan 2) Kutipan akta kelahiran asli

3) Kutipan akta perkawinan orang tua 4) Foto copy KK dan KTP orang tua

5) Dua orang saksi yang telah berusia dua puluh satu tahun dan foto copy KTP

6) Bagi orang asing membawa dokumen imigrasi, surat tanda lapor diri (STLD) dari kepolisian dan keterangan dari perwakilan Negara yang bersangkutan.

Dalam akta kelahiran tersebut dinyatakan bahwa anak tersebut telah di adopsi dan di dalam tambahan itu disebutkan pula nama orang tua angkatnya.

Pada kenyataannya dalam prosedur hukum pembuatan akta kelahiran yang dilakukan para responden pelaku

pengangkatan anak adalah menyalahi aturan hukum yang berlaku. Meskipun pengangkatan anak boleh dilakukan secara adat yang berlaku di masyarakat, akan tetapi hukum telah mengaturnya untuk membuat permohonan di pengadilan supaya mendapat Keputusan Penetapan Pengadilan. Hal ini tertuang pada pasal 9 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.

Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat lebih memilih membuat akta kelahiran untuk anak angkatnya secara ilegal. Supaya dengan mudah mendapatkannya, tanpa mengeluarkan biaya yang banyak serta berstatuskan sebagai anak kandung.

Hal ini jelas sekali bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku di Indonesia. Sebagai negara hukum, undang-undang dibuat untuk melindungi segenap rakyatnya terlebih terhadap anak yang haknya juga dijamin dan dilindungi oleh negara. Akan tetapi orang tua yang seharusnya menjadi benteng perlindungan pertama dalam keluarga bagi anak hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan si anak kedepannya dengan cara mengangkat anak secara ilegal.

D. Faktor-Faktor Terjadinya Pengangkatan Anak di Dusun

Dokumen terkait