BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
B. Prosedur Pengembangan
Penelitian ini mencoba mengembangkan alat ukur untuk menghasilkan instrumen tes yang memiliki karakteristik internal dan tingkat validitas serta reliabilitas yang baik. Instrumen ini disusun dalam bentuk tes pilihan ganda
(multiple choice). Pengembangannya dilakukan melalui penelitian dan
pengembangan atau R & D (Research and Development) yang dikembangkan
oleh S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Model
pengembangan 4-D terdiri atas 4 tahap utama yaitu: (1) Define (Pendefinisian),
(2) Design (Perancangan), (3) Develop (Pengembangan) dan (4) Disseminate
(Penyebaran), atau diadaptasi Model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (Trianto, 2007: 65-68). Sesuai dengan model pengembangan yang digunakan, instumen tes akan dikembangkan dengan beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap Pendefinisian (Define)
Pada tahap ini, dilakukan studi literatur, analisis terhadap Standar Isi (SI),
Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Silabus A Level sebagai pedoman
penyusunan kisi-kisi. Selain itu, juga dilakukan analisis soal Semester Ganjil Kelas X SMA RSBI yang pernah diujikan sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan instrumen tes yang akan dikembangkan.
commit to user
2. Tahap Perancangan (Design)
Pada tahap ini, dilakukan penyusunan spesifikasi tes meliputi:
a. Membuat Kisi-kisi
Salah satu tahapan yang sangat penting dalam pembuatan dan penggunaan tes adakah mengembangakan kisi-kisi yang berguna untuk menjamin bahwa soal yang dikembangkan sesuai dengan tujuan yang hendak diukur (Sumarna Surapranata, 2004: 50). Balitbang (2007: 6) mendefinisikan kisi-kisi sebagai matriks informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi tes. Dengan menggunakan kisi-kisi, penulis soal akan dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes dan perakitan tes akah mudah menyusun perangkat tes. Kisi- kisi tes berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes. Kisi-kisi soal yang baik, harus memenuhi syarat-syarat: mewakili isi kurikulum yang diujikan; komponennya harus rinci, jelas, dan mudah dipahami; dan soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan.
b. Bentuk tes
Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif pilihan ganda. Menurut Djemari Mardapi (2008: 71), tes bentuk pilihan ganda adalah tes yang dapat diperoleh dengan memilih alternatif jawaban yang disediakan. Pilihan jawaban terdiri dari kunci dan distraktor (pengecoh). Dalam penyusunan tes tertulis, penulis soal harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal dilihat dari segi materi, konstruksi, maupun bahasa.
c. Panjang Tes
Penentuan panjang tes didasarkan pada cakupan materi dan waktu yang disesuaikan dengan faktor kelelahan siswa. Ani Rusilowati (2008: 55) berpendapat bahwa, umumnya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tes bentuk pilihan ganda adalah 1-3 menit untuk setiap soal.
d. Menulis soal
Penulisan soal adalah penjabaran dari indikator jenis dan tingkat perilaku yang hendak diukur menjadi pertanyaan-pertanyaan yang
commit to user
karakteristiknya sesuai dengan perincian dalam kisi-kisi (Depdikbud, 1999: 24).
e. Karakterisasi Soal
Karakteristik soal meliputi daya beda dan tingkat kesukaran soal. Soal dikemas dalam suatu tes hendaknya memiliki daya beda yang baik. Tes sebaiknya terdiri atas soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang, soal tidak terlalu mudah atau terlalu sukar. Karakteristik butir berdasarkan teori tes klasik ditampilkan dalam Tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 3.1. Karakteristik Butir
No Jenis kriteria Teori tes Klasik
1. Tingkat kesukaran 0,3-0,7
2. Daya pembeda >0,2
3. Distraktor >2 %
(Widowati Pusporini, 2009)
f. Kriteria dan Prosedur Penilaian
Kriteria prosedur penilaian disesuaikan dengan bentuk tes. Pada tes berbentuk pilihan ganda, maka kriteria penilaian ada dua kategori yaitu benar dan salah. Soal dijawab benar diberi skor 1 dan dijawab salah atau tidak dijawab diberi skor 0.
3. Tahap Pengembangan (Develop)
a. Menelaah soal tes
Penelaahan perlu dilakukan setelah tes dibuat. Hal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata ada kesalahan dan kekurangan. Butir soal yang telah disusun kemudian ditelaah dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Telaah dilakukan oleh empat pakar Fisika, yaitu tiga dosen dan satu praktisi/ guru SMA RSBI. Dengan telaah soal ini, diharapkan dapat semakin memperbaiki kualitas soal yang terbentuk.
b. Melakukan Uji Coba
Uji coba tes pada prinsipnya adalah upaya mendapatkan informasi empirik mengenai sejauh mana sebuah tes mampu mengukur apa yang hendak diukur (Depdikbud, 1999: 25). Uji coba tes dilakukan untuk memperbaiki
commit to user
kualitas soal dan digunakan sebagai sarana memeperoleh data empirik tentang kualitas soal yang telah disusun. Melalui data uji coba dapat diperoleh data kualitas soal tes. Jika soal yang dibuat belum memenuhi kriteria yang diharapkan, maka perlu dibuang atau dilakukan perbaikan. Dalam hal ini
sebelum diujicobakan ke siswa, dilakukan uji coba secara peer untuk
memperoleh validasi peer reviewer. Revisi dari hasil ujicoba ini kemudian
diujicobakan ke siswa. Sampel uji coba adalah siswa kelas X di SMA Negeri 1 Surakarta.
Uji coba terbatas dilakukan dengan skala kecil, yaitu dilakukan dalam satu kelas dengan menggunakan teknik belah dua. Hasil uji coba terbatas dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif hingga mendapatkan judgement. Hasil analisis ini dapat menunjukkan suatu soal layak untuk diujikan atau tidak. Jika terdapat butir soal yang tidak layak akan dilakukan revisi. Butir soal yang layak akan diimplementasikan dalam penelitian.
c. Menganalisis Butir Soal Tes
Data hasil uji coba dianalisis untuk memperoleh data empirik tentang kualitas soal. Melalui analisis ini dapat diketahui tingkat kesukaran dan daya beda soal. Analisis dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel.
d. Memperbaiki Soal Tes
Setelah diuji coba dan dianalisis, langkah selanjutnya adalah memilih butir-butir yang lolos analisis dan merevisi butir. Hasil analisis butir dapat menunjukkan kualitas butir dalam perangkat tes yang akan digunakan sebagai pertimbangan butir-butir yang lolos, dibuang, atau direvisi.
4. Tahap Penyebaran (Disseminate)
Berdasarkan hasil analisis, butir soal yang layak diujikan didiseminasikan kepada siswa Kelas X SMA Negeri 1 Surakarta. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik
individu, suatu kelompok, atau sistem. Menurut Thiagarajan dkk, (1974: 9), “the
terminal stages of final packaging, diffusion, and adoption are most important
commit to user
responden atau siswa, diperoleh jawaban dari siswa sebagai hasil uji. Hasil uji ini dilakukan analisis butir dan uji reliabilitas. Dengan hasil ini dapat diketahui soal-soal dari tes yang dikembangkan dapat diterima atau ditolak. Instrumen yang dinyatakan valid dan reliabel dapat diaplikasikan untuk melakukan penilaian pembelajaran di sekolah RSBI.
Bagan mengenai prosedur pengembangan dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut:
Gambar 3.1. Bagan Prosedur Pengembangan
Analisis Kebutuhan Analisis Kurikulum
Penyusunan Silabus
Instrumen Tes
Expert judgement
Validasi oleh
Peer Reviewer Validasi oleh Reviewer
Instrumen Terevisi Uji Coba Terbatas Instrumen Terevisi Diseminasi 15 Siswa 61 Siswa Produk Akhir Penyusunan Kisi-Kisi Define Design Develop Disseminate
commit to user