• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM

C. Prosedur Dan Syarat-Syarat Dalam Penanaman Modal

3. Prosedur, Syarat, Serta Dokumen Yang Diperlukan Dalam

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal, penanam modal dapat mengajukan permohonan izin prinsip ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pusat di BKPM, BPMPTSP Provinsi, BPMPTSP Kabupaten/Kota, PTSP KPBPB, dan PTSP KEK, sesuai kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 dan Pasal 8, secara dalam jaringan (daring) melalui SPISISE atau secara manual.129 Pengajuan permohonan secara daring berlaku bagi:130

a) PMDN dan PMA yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat di PTSP Pusat di BKPM;

b) Penanaman Modal yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Badan Pengusahaan KPBPB, dan Administrator KEK di BPMPTSP Provinsi, BPMPTSP Kabupaten/Kota, PTSP KPBPB dan PTSP KEK, yang telah menerapkan izin prinsip secara daring.

Permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMDN diajukan kepada Kepala BPKM dalam rangkap dua dengan menggunakan formulir

129Pasal 31 Ayat (1) Peraturan Kepala BKPM Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Izin Prinsip Penanaman Modal

130Ibid, Pasal 31 Ayat (2)

Model I/PMDN. Formulir ini telah dibakukan oleh BKPM dengan tujuan untuk mempermudah para calon penanam modal domestik untuk mengajukan permohonan kepada BKPM. Hal-hal yang harus diisi calon penanam modal dalam permohonan tersebut, meliputi:131

1. Keterangan pemohon, yang meliputi nama pemohon, NPWP, akta pendirian, dan perubahannya, pengesahan Menteri Hukum &

HAM, alamat lengkap;

2. Keterangan rencana proyek yang meliputi bidang usaha, lokasi proyek, produksi per tahun, pemasaran per tahun, luas tanah yang diperlukan, tenaga kerja, rencana penanaman modal, sumber pembiayaan, modal perseroan, jadwal waktu penyelesaian proyek, dan pernyataan.

Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronikatau Online Single Submission (OSS) merupakan aplikasi yang digunakan untuk segala proses registrasi dan pengajuan perizinan berusaha serta pengajuan perizinan lainnya yang termasuk di dalam layanan perizinan berusaha menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik.Dalam peraturan ini mengatur tentang:

1. Jenis, pemohon, dan penerbitan perizinan berusaha 2. Pelaksanaan perizinan berusaha

131Salim HS & Budi Sutrisno, Op.Cit., hlm. 235

3. Reformasi perizinan berusaha per sektor 4. Sistem OSS, lembaga OSS, pendanaan OSS

5. Insentif atau disintensif pelaksanaan perizinan berusaha melalui OSS

6. Penyelesaian permasalahan dan hambatan berusaha

Sistem OSS ini merupakan upaya pemerintah dalam menyederhanakan perizinan berusaha dan menciptakan model pelayanan perizinan terintegrasi yang cepat, murah, serta memberi kepastian. Sistem ini mulai dibangun sejak Oktober 2017 sebagai pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 Tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha, dan telah mengadakan uji coba konsep di tiga lokasi, yaitu Purwakarta, Batam dan Palu.132

Sistem Online Single Submission (OSS) adalah perizinan berusaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS untuk dan atas nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota kepada pelaku usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi.133

132

Sistem OSS ini terintegrasi dengan sistem pelayanan pemerintahan yang telah ada, paling sedikit mencakup NIK, pengesahan pendirian badan usaha, Indonesia National Single Window, PTSP, dan sistem dari kementerian/lembaga terkait lainnya.

http://m.hukumonline.com/berita/baca/It5b433407c8d81/sistem-oss-diluncurkan-izin-berusaha-kini-lebih-mudah(diakses pada tanggal 05 Juni 2019)

133Pasal 1 bagian (5) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

Pembangunan dan penerapan sistem tersebut dilakukan sesuai pedoman yang ditetapkan oleh Satuan Tugas Nasional. Satuan Tugas Nasional mempunyai tugas sebagai berikut:134

a. Mengembangkan kebijakan peningkatan pelayanan, pengawalan, penyelesaian hambatan, penyederhanaan, dan pengembangan sistem online dalam rangka percepatan penyelesaian Perizinan Berusaha;

b. Menetapkan prioritas penyelesaian Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud dalam huruf a;

c. Melakukan penyelesaian atas hambatan pelaksanaan Perizinan Berusaha yang disampaikan oleh Satuan Tugas Kementerian/Lembaga. Satuan Tugas Provinsi, Satuan Tigas Kabupaten/Kota, dan/atau Pelaku Usaha;

d. Menyampaikan laporan kepada Presiden mengenai Perizinan Berusaha yang tidak diselesaikan oleh menteri/kepala lembaga, gubernur, dan/atau bupati/ wali kota; dan

e. Membentuk layanan pengaduan dalam rangka percepatan penyelesaian Perizinan Berusaha.

Pelaksanaan Perizinan Berusaha meliputi:135

a) Pendaftaran;

134Pasal 4 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 Tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha

135Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018

b) Penerbitan izin usaha dan penerbitan izin komersial atau operasional berdasarkan komitmen;

c) Pemenuhan komitmen izin usaha dan pemenuhan komitmen izin komersial atau operasional;

d) Pembayaran biaya;

e) Fasilitasi;

f) Masa berlaku; dan g) Pengawasan.

BAB IV

EFEKTIVITAS PELAYANAN TERPADU SATU

PINTUTERHADAP PENYERAPAN PENANAMAN MODALDI PROVINSI SUMATERA UTARA

A. Tugas Pokok dan Fungsi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

Sebagai bagian dari pembaruan ketentuan penanaman modal, terlihat bahwa lembaga yang menangani penanaman modal dengan tegas ditunjuk dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, tepatnya dalam Pasal 27, yakni Badan Koordinasi Penanaman Modal. Seperti yang dijelaskan dalam Pasal 27, Kepala BKPM bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam Penjelasan Pasal 27 ayat (3) disebutkan, yang dimaksud dengan bertanggung jawab langsung kepada Presiden adalah bahwa Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam melaksanakan tugas, fungsi dan menyampaikan tanggungjawabnya langsung kepada Presiden.136

Dalam melaksanakan proses penanaman modal melalui Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, maka dibentuklah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan Bidang Penanaman Modal

136Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu yang menjadi kewenangan Provinsi dan tugas pembantuan kepada Daerah Provinsi.137

Gubernur memberikan pelimpahan kewenangan kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu dalam memproses pelayanan administrasi, menandatangi dokumen, menerbitkan dokumen, perizinan dan nonperizinan. Kewenangan penandatanganan dokumen perizinan dan nonperizinan tersebut meliputi bidang dan jenis sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Gubernur ini dan dapat ditambah sesuai dengan perkembangan dan kemampuan dinas tersebut dalam mengelola semua jenis perizinan dan nonperizinan yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.138

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, menyelenggarakan fungsi:139

a. Perumusan kebijakan pengembangan iklim, promosi, pelayanan, pengendalian pelaksanaan, data dan informasi penanaman modal, penyelenggaraan perizinan satu pintu sesuai dengan lingkup tugasnya.

137Pasal 2 ayat (1) Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 44 Tahun 2017 Tentang Tugas, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara

138Pasal 2 ayat (1), (2), dan (3) Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 66 Tahun 2017 Tentang Pelimpahan Kewenangan Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan Kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara

139Pasal 2 ayat (2) Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 44 Tahun 2017 Tentang Tugas, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara

b. Pelaksanaan kebijakan pengembangan iklim, promosi, pelayanan, pengendalian pelaksanaan, data dan informasi penanaman modal, penyelenggaraan perizinan satu pintu sesuai dengan lingkup tugasnya.

c. Pelaksanaan evaluasi pengembangan iklim, promosi, pelayanan, pengendalian pelaksanaan, data dan informasi penanaman modal, penyelenggaraan perizinan satu pintu sesuai dengan lingkup tugasnya.

d. Pelaksanaan adminitrasi pengembangan iklim, promosi, pelayanan, pengendalian pelaksanaan, data dan informasi penanaman modal, penyelenggaraan perizinan satu pintu sesuai dengan lingkup tugasnya.

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur terkait dengan tugas dan fungsi lainnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, mempunyai uraian tugas, antara lain:140

a. Menyelenggarakan pembinaan pegawai di lingkungan dinas.

b. Menyelenggarakan arahan, bimbingan kepada pejabat struktural pada dinas.

c. Menyelenggarakan penetapan, perencanaan, dan program kegiatan Perencanaan Pengembangan, Promosi, Pengawasan

140Pasal 2 ayat (3) Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 44 Tahun 2017 Tentang Tugas, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara

Pengendalian, Pelayanan Perizinan Sumber Daya Alam dan Pelayanan Perizinan Infrastruktur, Ekonomi dan Sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

d. Menyelenggarakan penetapan standar, norma, prosedur dan kriteria pelaksanaan kegiatan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

e. Menyelenggarakan pengkoordinasian penetapan Tim Teknis, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f. Menyelenggarakan pengawasan dan mengendalikan penyelenggaraan Penanaman Modal, Pelayanan Perizinan Sumber Daya Alam dan Pelayanan Perizinan Infrastruktur, Ekonomi dan Sosial sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

g. Menyelenggarakan pembinaan, monitoring/pemantauan dan sosialisasi perizinan.

h. Dll

B. Pengaturan Pelayanan Terpadu Satu Pintu diProvinsi Sumatera Utara

Pengaturan Pelayanan Terpadu Satu Pintu diatur dengan dikeluarkannya beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait, seperti UU No. 25 Tahun 2007, Perpres No. 27 Tahun 2009, Perpres No.

97 Tahun 2014, dan Permendagri No. 24 Tahun 2006 di tingkat nasional.

Kemudian di Provinsi Sumatera Utara dalam memudahkan dan

memberikan pelayanan yang efektif dan efisien kepada para penanam modal, maka dibentuklah Peraturan Gubernur Nomor 66 Tahun 2017 Tentang Pelimpahan Kewenangan Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan Kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara.

Adapun bidang dan jenis perizinan yang dilimpahkan kewenangan penandatanganannya kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara, adalah sebagai berikut:141

1. Sektor Perkebunan;

2. Sektor Kelautan dan Perikanan;

3. Sektor Kehutanan;

4. Sektor Lingkungan Hidup;

5. Sektor Perindustrian dan Perdagangan;

6. Sektor Kesehatan;

7. Sektor Bina Marga;

8. Sektor Perhubungan;

9. Sektor Peternakan dan Kesehatan Hewan;

10. Sektor Pertambangan dan Energi;

11. Sektor Pengelolaan Sumber Daya Air;

12. Sektor Kesbang Linmas;

13. Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi;

141Lampiran Peraturan Gubernur Nomor 66 Tahun 2017

14. Sektor Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah;

15. Sektor Pariwisata dan Kebudayaan;

16. Sektor Kearsipan;

17. Sektor Pendidikan;

18. Sektor Komunikasi dan Informatika;

19. Sektor Sosial;

20. Sektor Penanaman Modal;

21. Sektor Pertanian; dan

22. Sektor Perumahan dan Kawasan Permukiman.

C. Mekanisme Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Sumatera Utara

Menurut hasil wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Perencanaan dan Pengembangan Omar Harafat, mekanisme prosedur perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara, antara lain sebagai berikut:142

1. Petugas front office memeriksa berkas permohonan, apabila persyaratan lengakp, permohonan diterima dan ditersukan ke Bagian Tata Usaha, apabila persyaratan tidak lengakp, berkas dikembalikan ke pemohon.

2. Bagian Tata Usaha mengagendakan berkas permohonan dan meneruskan kepada Kepala Dinas PMPPTSP.

142Wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Perencanaan dan Pengembangan, Omar Harafat pada tanggal 30 April 2019

3. Kepala Dinas PMPPTSP mendisposisi berkas permohonan ke back office (bagian pemroses permohonan perizinan).

4. Bagian pemroses permohonan perizinan melakukan koordinasi dengan Tim Teknis.

5. Berdasarkan hasil verifikasi berkas dan/ atau survei lapangan (laporan berita acara):

a. Permohonan perizinan ditolak apabila tidak memenuhi persyaratan teknis atau tidak sesuai dengan ketentuan maka surat penolakan ditandatangani oleh Kepala Dinas PMPPTSP.

b. Permohonan perizinan diterima apabila telah memenuhi persyaratan teknis atau sesuai dengan ketentuan maka diterbitkan surat perizinan yang ditandatangani oleh Kepala Dinas PMPPTSP.

6. Bagian Tata Usaha melakukan penomoran surat perizinan atau penolakan jika sudah ditandatangani Kepala Dinas PMPPTSP dan meneruskannya ke Front Office.

7. Petugas Front Office menyerahkan surat perizinan atau penolakan kepada pemohon.

D. Kendala-Kendala Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu di Pemda Provinsi Sumatera Utara

Berdasarkan hasil wawancara dengan Rena selaku Staff Pegawai Bagian Promosi Pelayanan Perizinan, diketahui bahwa ada beberapa

kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara, antara lain:143

1. Belum semua jenis perizinan yang berada di Dinas PMPPTSP terhubung melalui Sistem Pelayanan Secara Elektronik;

2. Fasilitas IT yang kurang memadai guna memberikan pelayanan yang cepat, efisien, muda, dan transparan dalam pengaksesan informasi oleh para penanam modal;

3. Peraturan di Sistem Pelayanan Secara Elektronik yang kadang tumpang tidih atau bertentangan;

Sejak adanya Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara, segala hal dalam proses pengurusan pelayanan perizinan penanaman modal di Provinsi Sumatera Utara mengalami suatu peningkatan terhadap penyerapan dana penanaman modal di Provinsi Sumatera Utara, meskipun setiap tahun ada perubahan naik dan turun pada penyerapan dana penanaman modal baik Penanaman Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri.

143Wawancara dengan Staff Pegawai Bagian Promosi Pelayanan Perizinan, Rena pada tanggal 30 April 2019

Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel Perkembangan Realisasi Investasi PMDN/PMA Provinsi Sumatera Utara Sejak Tahun 2016 s/d Triwulan III Tahun 2018.144

Tabel 1 : Tabel Investasi PMA ( Pada Tabel Perkembangan Investasi PMDN/PMA Provinsi Sumatera Utara )

Tabel 2 : Tabel Investasi PMDN ( Pada Tabel Perkembangan Investasi PMDN/PMA Provinsi Sumatera Utara )

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Pengembangan Investasi, Ir. Siti Zaleha, M.Si., beliau menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pengaturan terhadap Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu di beberapa sektor yang telah diatur mengenai proses pelayanan perizinan berjalan dengan lancar dan efektif. Hal itu disebabkan karena telah

144Tabel Perkembangan Realisasi Investasi PMDN/PMA Sejak Tahun 2016 s/d Triwulan III Tahun 2018 (Diperoleh dari Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian DPMPPTSP Provinsi Sumatera Utara, Irwan Effendy), pada tanggal 30 April 2019

dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang mengatur setiap kementerian/lembaga dalam melakukan proses pelayanan perizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu, antara lain:145

a. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 29 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Perizinan Berusaha Sektor Pertanian;

b. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Kesehatan;

c. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2018 Tentang Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Pendidikan dan Kebudayaan;

d. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 75 Tahun 2018 Tentang Angka Pengenal Importir;

e. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 76 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan;

f. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 77 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik di Bidang Perdagangan;

g. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Bidang Komunikasi dan Informatika;

145Wawancara dengan Kepala Seksi Pengembangan Investasi, Ir. Siti Zaleha,M.Si., pada tanggal 13 Mei 2019

h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik di Bidang Kepabeanan, Cukai dan Perpajakan;

i. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing;

j. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Proses Peralihan Pelayanan Perizinan Penggunaan Tenaga Kerja Asing;

k. Peraturan Pariwisata Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Pariwisata;

Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan, dapat dikemukakan bahwa dalam proses pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara terhadap proses pelayanan pengurusan perizinan dan nonperizinan dapat berjalan dengan efektif dan lancar. Hal itu dapat dilihat dari penyerapan dana penanaman modal yang diperoleh Dinas PMPPTSP Sumatera Utara dalam 3 (tiga) tahun terakhir (Tabel Perkembangan Realisasi Investasi PMDN/PMA Provinsi Sumatera Utara Sejak Tahun 2016 s/d Triwulan III Tahun 2018), meskipun di setahun terakhir mengalami penurunan penyerapan dana penanaman modal yang masih berada lebih besar dari 2 (dua) tahun sebelumnya.

Dengan adanya Pelayanan Terpadu Satu Pintu ini juga menyebabkan segala proses pelayanan pengurusan dapat berjalan dengan cepat, tidak

membutuhkan waktu yang sangat lama, serta tidak adanya biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh pihak penanam modal dalam pengurusan izin penanaman modal di Provinsi Sumatera Utara.

Namun begitu, berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Monitoring dan Evaluating, Ibu Eva Yanti Panjaitan146

Namun untuk permasalahan mengenai kegitan penanaman modal yang dilakukan oleh para penanam modal tidak terdapat banyak pengaduan yang disampaikan melalui Layanan Pengaduan Dinas PMPPTSP Sumut.

Hal itu dikarenakan setiap keluhan yang dimiliki oleh para penanam modal langsung disampaikan kepada Kepala Dinas PMPPTSP Sumut secara langsung sehingga tidak terdapat kendala maupun permasalahan dalam

, beliau mengatakan bahwa ada beberapa pengaduan yang dilakukan oleh masyarakat dan para penanam modal terkait permasalahan proses pelayanan perizinan di Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara. Hal yang paling sering dilaporkan adalah mengenai Kegiatan Galian C di daerah kabupaten/kota yang dilakukan tanpa sepengetahuan dan seizin oleh pemerintah daerah setempat. Menurut pemaparan beliau, adanya pemindahan kewenangan dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi terkait mengenai proses pelayanan perizinan yang mengakibatkan semakin jauhnya jarak menyebabkan masyarakat malas untuk mengurus perizinan secara langsung melalui PTSP Provinsi Sumatera Utara.

146Wawancara dengan Kepala Seksi Monitoring & Evaluating, Eva Yanti Panjaitan, pada tanggal 10 Juni 2019

melakukan kegiatan penanaman modal baik dalam pengurusan perizinan maupun nonperizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara.

Para penanam modal terus berharap agar perubahan atas percepatan dalam proses pengurusan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu dapat terus ditingkatkan sehingga rasa kepercayaan dan kepuasan mereka terus tertatanam sehingga masyarakat tetap melakukan kegiatan penanaman modal di daerah Provinsi Sumatera Utara. Dengan banyaknya masyarakat yang melakukan kegiatan penanaman modal maka akan menambah juga pemasukan keuangan daerah di bidang penanaman modal yang sangat berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat di Provinsi Sumatera Utara.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan penanaman modal telah dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan masalah penanaman modal tetap menjadi kewenangan pemerintah daerah yang mana Pemerintah Provinsi juga dapat memberikan pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota untuk memberikan pelayanan administrasi penanaman modal. Berbagai kebijakan juga telah disusun oleh pemerintah daerah guna menarik para penanam modal, baik penanam modal dalam negeri maupun asing sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh setiap daerah untuk menanamkan modalnya. Pembentukan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dalam penyelenggaraan pelayanan penanaman modal di daerah semakin mempermudah proses perizinan dalam mendirikan suatu usaha yang selama ini dikeluhkan oleh para pelaku bisnis dan penanam modal yang menganggap terlalu lama dalam mengurus proses perizinan. Sistem Pelayanan Informasi dan

Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) merupakan bentuk kebijakan baru yang telah diterapkan untuk mempermudah dan mempercepat dalam proses pengurusan perizinan di bidang penanaman modal sehingga terciptanya efektivitas dan efesiensi dalam pengurusan perizinan penanaman modal di daerah.

2. Pelimpahan wewenang yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah provinsi dalam melakukan pelayanan penanaman modal merupakan tanggungjawab oleh seorang Gubernur. Gubernur memberikan pelimpahan wewenang kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu dalam memproses pelayanan administrasi, menandatangi dokumen, menerbitkan dokumen, perizinan dan nonperizinan. Berbagai Peraturan Gubernur telah dikeluarkan oleh Gubernur Provinsi Sumatera Utara, seperti Pergub 38 Tahun 2016, Pergub 44 Tahun 2017 dan Pergub No. 66 Tahun 2017 yang bertujuan untuk mempercepat proses pelaksanaan pelayanan perizinan penanaman modal di Dinas PMPPTSP Provinsi Sumatera Utara. Dengan adanya pembentukan peraturan tersebut, maka diharapkan proses pelaksanaan pelayanan perizinan penanaman modal berjalan dengan efektif.

3. Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Utara berjalan dengan efektif dan lancar yang di mana hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan penyerapan dana penanaman modal dari tahun 2016 ke 2017 dan penurunan dari tahun 2017 ke 2018 di Provinsi Sumatera Utara di berbagai sektor pada Penanaman Modal Dalam Negeri maupun Penanaman Modal Asing. Hal tersebut juga didukung dengan adanya berbagai peraturan perundang-undangan yang mempermudah pelaksanaan proses pelayanan perizinan melalui Pelayanan Perizinan Secara Integrasi di berbagai sektor pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

B. Saran

Beberapa saran yang menyangkut permasalahan dalam skripsi antara lain:

1. Diharapkan agar pemerintah dapat membuat peraturan yang tidak tumpang tindih antara peraturan yang lain mengenai pendelegasian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian hukum. Dengan adanya peraturan yang jelas dalam pelaksanaan pelayanan perizinan penanaman modal melalui Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

dan proses yang cepat dan efisien akan mempermudah dan mendorong para penanam modal untuk menanamkan modalnya. Dan kepada pihak-pihak yang berkompeten dapat mensosialisasikan serta memperjelas peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal yang berlaku secara transparan, termasuk peraturan perundang-undangan di bidang Pemerintah Daerah.

2. Adanya pengawasan yang ketat terhadap proses pelayanan penanaman modal, yang dimulai dari proses pemeriksaan berkas permohonan perizinan sampai kepada proses verifikasi data dan penyerahan surat perizinan secara transparan dan akuntabel untuk menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dalam menanamkan modalnya.

3. Dalam pelaksanaan penanaman modal di Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, pemerintah daerah wajib memberi perlindungan hukum dan pengaturan yang jelas terhadap para penanam modal serta memperbaiki Sistem Pelayanan Secara Elektronik sehingga memperlancar dalam proses pelayanan perizinan penanaman modal di Provinsi Sumatera Utara.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku

Ali, Zainuddin.Metode Penelitian Hukum.Jakarta: Sinar Grafika,2016.

Ginting, Budiman dan Mahmul Siregar.Daftar Negative Investasi.Bahan Ajar Hukum Penanaman Modal Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU.

Harjono, Dhaniswara K.Hukum Penanaman Modal, Tinjauan terhadap

Harjono, Dhaniswara K.Hukum Penanaman Modal, Tinjauan terhadap