Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologi yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Ia mengalami stimulasi yang luar biasa, menjalani proses eksplorasi dan asimilasi terhadap bayinya, berada di bawah tekanan untuk dapat menyerap pembelajaran yang diperlukan tentang apa yang harus diketahuinya dan perawatan untuk bayinya
114
dan merasa tanggung jawab yang luar biasa sekarang untuk menjadi seorang ibu.
Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada massa nifas antara lain (Ayi Diah Damayani,2013)
a) Fase taking in
Fa se ini merupakan periode ketergantungan, yang berlangsung dari hari pertama sampai hari keduasetelah melahirkan. Ibu terfokus pada dirinya sendiri, sehingga cendrung pasif terhadap lingkungannya. Ketidaknyamanan yang dialami antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi dan asupan nutrisi yang baik.
b) Fase taking hold
Fase ini berlangsung antara 3- 10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa kawatir akan ketidak mampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan bayinya. Perasaan ibu lebih sensitive dan lebih cepat tersinggung. Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi yang baik, dukungan dan pemberian penyuluhan atau pendidikan kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya. Tugas bidan antar lain : mengajarkan cara perawatan bayi, cara menyusui yang benar, cara perawatan luka jahitan, senam nifas, pendidikan kesehatan gizi, istirahat, kebersihan dan lain-lain.
c) Fase letting go
Fase ini adalah fase menerima tanggung jawab akan peranbarunya. Fase ini berlangsung pada hari ke 10 setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Terjadi peningkatan akan peratan diri dan bayinya. Ibu merasa percaya diri akan peran barunya, lebih mandiri dalam memenuhi keutuhan bayi dan dirinya. Hal-hal yang harus dipenuhi selama nifas adalah sebagai berikut : Fisik. istirahat, assupan gizi, lingkungan bersih.; Psikoligi. Dukungan dari keluarga sangat diperlukan : Sosial. Perhatian, rasa kasih sayang, menghibur ibu saat sedih dan menemani saat ibu merasa kesepian.
115 b) Post partum blues
Post partum blues adalah suatu fenomena psikologik yang luas yang disebabkan oleh perasaan ibu yang merasa terpisah dari bayi dan keluarganya.
Post partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan. Oleh sebab itu, sering tidak diperdulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditindak lanjuti sebagaimana seharusnya. Jika hal ini dianggap enteng, keadaan ini bisa menjadi serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun dan akan berlanjut menjadi depresi dan psikosis post partum.
Beberapa faktor yang dapat Post partum blues adalah suatu fenomena psikologik yang luas yang disebabkan oleh perasaan ibu yang merasa terpisah dari bayi dan keluarganya menyebabkan post partum blues, antara lain :
(1) Faktor hormonal
Perubahan kadar estrogen dan progesteron yaitu terjadi fluktuasi hormonal dalam tubuh. Kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang mengalami depresi. Disaat yang sama, hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI sedang meningkat. Sementara pada saat yang sama kadar progesteron sangat rendah. Pertemuan kedua hormon ini akan menimbulkan keletihan fisik pada ibu dan memicu depresi.
(2) Faktor demografik, seperti faktor usia yang terlalu muda atau terlalu tua.
(3) Pengalaman proses kehamilan dan persalinan.
Proses kehamilan dan persalinan yang sulit akan memberikan mengganggu rasa kepercayaan diri ibu untuk merawat anaknya.
Bila hal ini tidak mendapat dukungan dari keluarga dapat memperberat kondisi psikologis ibu.
(4) Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan
116
riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman).
(5) Faktor psikologis
Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Padahal usai persalinan si ibu yang merasa lelah dan sakit pasca persalinan membuat ibu membutuhkan perhatian. Kecewa terhadap penampilan fisik bayi karena tidaksesuai dengan harapannya juga bisa memicu baby blues.
(6) Faktor fisik
Kelelahan fisik karena aktifitas mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan tidak jarang di malam buta sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika tidak ada bantuan dari suami atau anggota keluarga yang lain.
(7) Faktor sosial
Si ibu merasa sulit menyesuaikan dengan peran baru sebagai ibu. Apalagi kini gaya dupnya akan berubah drastis. Ibu merasa dijauhi oleh lingkungan dan merasakan terasa terikat terus pada si kecil.
Peran bidan jika menemui hal tersebut diatas:
(a) Menjalin hubungan baik dengan keluarga dalam mengembangkan upaya menjalin kasih sayang dengan bayinya (b) Hal ini merupakan tanda awal kesulitan dalam pengasuhan anak
di masa yang akan datang
(c) Waspada terhadap reaksi negatif yang menonjol dari orang tua, seperti :Perilaku negatif orang tua ; Sikap verbal dan nonverbal (d) Upaya memperkokoh hubungan bayi dengan orang tuanya
(seperti menggendong, mengajak bayinya
(e) Mendorong orang tua untuk melihat dan memeriksa bayi mereka dengan komentar positif tentang bayinya.
117 c) Post Partum Psikosis
Sangat jarang terjadi, 1 atau 2 dalam setiap 1000 kelahiran dan biasanya dimulai pada minggu ketiga dalam 6 minggu setelah melahirkan. Para wanita yang rentan terhadap depresi postpartum yang lebih berat adalah mereka yang kehamilannya tidak diharapkan, atau mereka yang mempunyai masalah-masalah yang sulit dihadapi, beresiko untuk terkena postpartum psikosis.
Gejala dari postpartum psikosis adalah munculnya halusinasi, gangguan saat tidur dan perilaku yang kurang wajar. Etiologi dari postpartum psikosis adalah perubahan tingkat hormonal, stres psikologis dan fisik serta sistem pendukung yang tidak memadai. Sering dialami oleh ibu yang mengalami abortus, kematian bayi dalam kandungan dan kematian bayi setelah lahir.
d) Kesedihan dan duka cita (proses griefing)
Kesedihan adalah reaksi emosi, mental dan fisik dan sosial yang normal dari kehilangan sesuatu yang dicintai dan diharapkan. Berduka sangat bervariasi tergantung pada apa yang hilang dan respon terhadap kehilangan akan berbeda setiap individunya. Intensitas dan lamanya kesedihan tergantung terhadap penyebab kesedihannya, usia, agama dan kepercayaannya, perubahan yang dibawa dari kesedihan, kemampuan mengakhiri kesedihan dan sistem dukungan yang diterima (Carter : 1990, Sander : 1985).
Kesedihan / GRIEF merupakan reaksi normal ketika seorang ibu mengalami kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai.
Menurut Kubler Ross (1970), Tahap kesedihan dibagi menjadi : a) Denial (penyangkalan)
b) Menyangkal apa yang sebenarnay terjadi dan terus berharap pada apa yang mereka impikan atau angan-angankan.
118
d) Marah pada apa yang sedang terjadi, emosi tidak stabil dan mungkin menyalahkan semua pihak yang terlibat di dalamnya (seperti tenaga kesehatan yang menolong ataupun dari pihak keluarganya sendiri. e) Bargaining (tawar menawar)
f) Terkesan seperti menerima apa yang telah terjadi tetapi tahap ini merupakan tahap pendek atau singkat dan tidak mungkin dinyatakan oleh pasien. Pasien tetap berharap, itu tidak terjadi.
g) Depression (depresi)
h) Fase ini merupakan fase yang berlangsung cukup lama, bisa berlangsung dalam beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun. Gejala yang tampak; perasaan depresi, bersalah, kehilangan, kesepian, panic dan menangis tanpa sebab yang jelas.
i) Acceptance (menerima)
j) Kematian merupakan suatu hal yang tidak bisa dielakkan atau dihindari, kesedihan akibat kematian akan mulai berkurang seiring dengan berjalannya waktu, ibu dan keluarga mulai menerima kenyataan.
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami oleh ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Disini hormone memainkan peran utama dalam hal dimana ibu bereaksi dalam situasi yang berbeda. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dlama keadaan normal.
Hal-hal yang disarankan pada ibu sebagai berikut : Minta bantuan suami atau keluarga jika ibu ingin beristirahat; Beritahu suami tentang apa yang dirasakan ibu, buang rasa cemas dan khawatir akan kemampuan merawat bayi, meluangkan waktu dan cari hiburan untuk diri sendiri. Adapun gejala dari depresi post partum antara lain: Sering menangis, sulit tidur, nafsu makan hilang, gelisah, perasaan tidak
119
berdaya atau hilang control; Cemas atau kurang perhatian pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi; Pikiran menakutkan mengenai bayi, kurang perhatian terhadap penampilan dirinya sendiri; Perasaan bersalah dan putus harapan (hopeless); Penurunan atau peningkatan berat badan; Gejala fisik, seperti sulit nafas atau perasaan berdebar-debar.
Jika ibu mengalami gejala-gejala di atas segeralah memberitahukan suami, bidan atau dokter. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan atau konsultasi dengan psikiater. Perawatan dirumah sakit akan diperlukan apabila ibu mengalami depresi berkepanjangan. Beberapa intervensi yang dapat membantu ibu terhindar dari depresi post partum adalah : pelajari diri sendiri, tidur dan makan yang cukup, olahraga, hindari perubahan hiidup sbelum atau sesudah melahirkan; Beritahu perasaan anda; Dukungan keluarga dan orang lain, persiapan diri yang baik, lakukan pekerjaan rumah tangga, dukungan emosional, dukungan kelompok depresi post partum, bersikap tulus iklas dalam menerima peran barunya.
8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masa Nifas dan Menyusui