• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Belajar Mengajar dalam PKKM yang tepat bagi Pendidikan Kristiani (Pembinaan Iman) di GIA, JP

5.5. Teori PKKM yang tepat bagi Pendidikan Kristiani (Pembinaan Iman) di GIA, JP Dibawah ini akan diuraikan tentang teori PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani

5.5.5. Proses Belajar Mengajar dalam PKKM yang tepat bagi Pendidikan Kristiani (Pembinaan Iman) di GIA, JP

PKKM mempunyai tujuan untuk membentuk karakter Kristiani multikultural. Secara khusus proses pembentukan karakter Kristiani multikultural berbeda dengan proses pembantukan karakter pada umumnya, maka dibawah ini akan diuraikan tentang proses pembentukan karakter

172

Kristiani multikultural melalui proses belajar mengajar dalam PKKM yang tepat bagi Pendidikan Kristiani (Pembinaan iman ) di GIA, JP.

Pertama, PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani (pembinaan iman) di GIA, JP adalah

Proses pembentukan karakter Kristiani multikultural dimulai dari pertobatan dan keselamatan melalui diri Yesus Kristus dan selanjutnya dalam proses pembentukan dan pengembangan karakter Kristiani multikultural mengikuti karakter dan keteladanan Yesus Kristus. Pendidik dan peserta didik perlu menyadari bahwa proses pembentukan karakter terjadi dalam interaksi yang saling membangun iman untuk mengalami pertumbuhan iman bersama sebagai komunitas iman yang saling menumbuhkan. Pendidikan Karakter Kristiani Multikultural bukan bagi para peserta didik saja, namun pembentukan karakter Kristiani multikultural merupakan kebutuhan pendidik dan peserta didik bahkan kepada semua yang terlibat dalam proses belajar mengajar yang lebih luas baik di ruang kelas maupun di luar kelas yang meliputi pengurus, pendidik, peserta didik, tenaga staff kependidikan, orang tua peserta didik, sehingga semua yang terlibat dalam proses pembelajaran mengalami kedewasaan iman bersama atau pertumbuhan karakter yang dewasa. Dengan demikian PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani (pembinaan iman) di GIA, JP menjadi kebutuhan bersama yaitu bagi semua yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Mereka dapat bertumbuh secara bersama dihadapan Yesus Kristus, bagi diri sendiri dan bagi lingkungan sekitar masyarakat yang multikultural yaitu memberi dampak atau transformasi sosial. PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani (pembinaan iman) di GIA, JP adalah membiasakan diri untuk terus hidup dalam pertobatan dan meneladani perbuatan dan karakter Yesus Kristus secara terus-menerus sehingga menjadi pembiasaan (habit) dalam kehidupnanya. Proses belajar mengajar melalui pertobatan dan meneladani karakter dan perbuatan Yesus Kristus perlu dilanjutkan dengan doa. Doa merupakan cara untuk memalingkan diri dari dunia kemudian memberi diri kepada Allah. Selanjutnya dengan pelayanan kepada sesama. Inti pelayanan adalah kehadiran seorang pelayan bersama orang lain, seperti Kristus yang memberikan diri-Nya kepada manusia dan mengalami penderitaan bersama mereka. Jadi melalui pertobatan,yang dilanjutkan dengan doa serta pelayanan yang secara terus-menerus dilatih dan dibiasakan akan membentuk karakter Kristiani (Sijabat mengutip Dykstra dalam Vision and Character 1981) yang dapat melayani orang lain termasuk menghargai, menghormati orang lain dan menempatkan dirinya dalam kesetaraan bersama yang dilayani (sikap multikultural).

Kedua, PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani (pembinaan iman) di GIA, JP adalah

Pendidikan Karakter Kristiani Multikultural yang mengembangkan sikap dan kegiatan yang terbuka terhadap perbedaan atau multikultural sebagaimana GIA, JP memiliki sikap dan

173

kegiatan membuka diri terhadap perbedaan (etnis, agama, ras dan budaya) yang meliputi adanya sikap dan praktek sehingga membentuk karakter Kristiani multikultural. Proses membentuk karakter Kristiani multikultural yang terbuka itu dapat dilanjutkan melalui komunikasi yang menekankan hubungan manusia atau hubungan peserta didik dan pendidik. Hubungan peserta didik terhadap peserta didik lain dan terhadap guru bahkan orang tua menjadikan komunikasi lintas subyek dan keberagaman, sehingga melatih dan mempersiapkan peserta didik untuk menghargai dan menghormati serta membangun kesetaraan. Hal ini berarti membangun karakter Kristiani multikultural membutuhkan komunikasi antar peserta didik, antar murid dan guru, serta antar guru. Membangun komunikasi berarti bersedia untuk banyak mendengar peserta didik dengan segala keberadaannya yaitu latar belakang peserta didik yang dibentuk oleh masa lalunya. Dengan banyak mendengar peserta didik, guru dapat memahami dan mengerti apa yang dibutuhkan setiap peserta didik (anak didik). Sebagai akibatnya pendidik mengetahui bahwa peserta didik memiliki kekhususan dan masing-masing peserta didik memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Maka pendidik akan melakukan kegiatan proses belajar mengajar secara beragam dan tidak menyeragamkan terhadap semua peserta didik. Sikap pendidik yang dapat memperlakukan secara khusus dan beragam itu akhirnya melahirkan sikap yang menghargai keberagaman. Setiap peserta didik dengan segala keunikannya atau kekhasannya membutuhkan pendidikan atau pelayanan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini sangat efektif dan sekaligus menantang pendidik untuk menjadi pendidik yang melihat dan memahami peserta didik dengan keberagaman sikap, kemampuan, latar belakang etnis, agama, budaya, keluarga, ekonomi, sosial dll. Sehingga pendidik tidak menyeragamkan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian penekanan pada memanusiakan hubungan memberi penekanan pada peserta didik atau manusia, bukan memberi penekanan pada teknis dan berorientasi pada bahan ajar (Shihab 2018, 13, 329). Jadi dalam Pendidikan Karakter Kristiani Multikultural sangat diharapkan dan menghasilkan peserta didik yang memiliki karakter multikultural sebuah karakter yang dapat menghargai, menghormati dan membangun kesetaraan terhadap keberagaman. Sikap dan keteladanan pendidik yang menghargai kebergaman peserta didik menjadi teladan dan sekaligus menjadi “bahan” pembelajaran karakter Kristiani multikultural.

Ketiga, PKKM yang tepat bagi GIA, JP adalah PKKM yang menekankan peran Roh Kudus

sebagai gereja yang beraliran Pentakosta. Roh Kudus sebagai penuntun dan yang mengajarkan tentang kebaikan-kebaikan, hidup kudus, menghargai perbedaan dan keanekaragaman dalam kesetaraan serta yang membantu dalam proses pembentukan dan pengembangan karakter

174

Kristiani multikultural bagi warga GIA, JP. Dalam proses belajar mengajar membentuk karakter, peran Roh Kudus sangat penting yaitu memampukan dan memberi pengetahuan yang baik tentang karakter Kristiani multikultural, seperti Roh Kudus mengajarkan tentang kasih, kerendahan hati, kemurahan dll yang sesuai dengan karakter dan perbuatan Yesus kristus. Selanjutnya Roh Kudus bukan hanya memperbaharui pribadi dan membentuk karakter seseorang tetapi Roh Kudus jaga menciptakan kesetaraan (egaliter). Roh Kudus memperbaharui kehidupan sosial masyarakat, seperti Roh Kudus mengutus Filipus untuk memberitakan Injil kepada bangsa non Yahudi (Kis 8, kepada orang Samaria dan Sida-sida dari Etiopia; Kis 10:1-18 kepada Kornelius). Dengan demikian Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh doktrin atau kelompok tertentu. Namun Roh Kudus mempunyai kehendak untuk memanggil dan mengubahkan orang (Yoh 3:8). Pemahaman ini tentu menjadi tantangan bagi warga GIA, JP karena selama ini bagi warga GIA, JP khususnya, bahwa Roh Kudus dipahami sebagai kuasa yang menguduskan dan memberikan karunia-karunia kepada warga gereja. Sedangkan pemahaman Roh Kudus yang berhubungan dengan dinamika sosial masyarakat seperti multikultural sulit dipahami. Maka penjelasan tentang pemahaman Roh Kudus yang berhubungan dengan multikultural perlu secara terus-menerus ditekankan agar warga GIA, JP dapat memahami secara menyeluruh tentang pemahaman Roh Kudus yang lebih luas. Dengan pemahaman yang menyeluruh itu warga GIA, JP dapat mempraktekan hidup kekristenannya yang berkarakter multikultural di tengah-tengah GIA, JP maupun dalam masyarakat yang multikultural.

Keempat, Dalam proses belajar mengajar PKKM yang tepat bagi pendidikan Kristiani

(pembinaan iman) di GIA, JP dapat dilakukan dengan membuat kurikulum PKKM dengan visi, misi, tujuan, sasaran, dan metode yang dilandasi dengan perspektif atau berbasis multikultural dan didasarkan pada nilai-nilai Pemerintahan Allah. Nilai-nilai Pemerintahan Allah dapat memotivasi, menguatkan dalam pembentukan dan pengembangan karakter Kristiani multikultural serta menjadi isi bagi proses pendidikan Kristiani (pembinaan iman) di GIA, JP.

5.5.6. Metode PKKM yang tepat bagi Pendidikan Kristiani (Pembinaan Iman) di GIA, JP