• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sub bab proses budidaya merupakan sub bab yang menjelaskan secara deskriptif kegiatan usaha yang dilakukan oleh PT. Suri Tani Pemuka. Penggambaran dilakukan untuk menjelaskan bagaimana PT. Suri Tani Pemuka melakukan kegiatan pembenihan udang vannamei dan fasilitas yang digunakan oleh perusahaan ini dalam melakukan usahanya dalam kegiatan pembenihan udang vannamei.

Beberapa tahapan penting dalam kegiatan budidaya udang vannamei atau disebut juga dengan kegiatan pembenihan udang vannamei yang dilakukan oleh PT. Suri Tani Pemuka meliputi kegiatan sebagai berikut:

1. Persiapan Bak Pemeliharaan

Salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh PT. Suri Tani Pemuka adalah melakukan persiapan untuk kegiatan pembenihan. Persiapan yang selalu diperhatikan oleh PT. Suri Tani Pemuka adalah kegiatan persiapan bak pemeliharaan. Persiapan bak pemeliharaan walaupun kelihatannya sederhana namun memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya usaha pemeliharaan induk. Sebelum dipergunakan, bak dibersihkan dari segala bentuk kotoran yang mungkin berpengaruh terhadap kehidupan larva. Untuk mendukung kehidupan larva, bak pemeliharaan harus bersih dan bebas dari segala jenis organisme patogen, bak dan sarana aerasi tersebut dicuci dan disikat sampai bersih kemudian dikeringkan dua sampai tiga hari hingga benar-benar kering. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mematikan organisme yang menempel pada media pemeliharaan serta mencegah timbulnya suatu penyakit.

Persiapan yang dilakukan oleh PT. Suri Tani Pemuka dilakukan secara kimiawi terhadap bak larva dan sarana aerasi, dengan cara mengusap atau merendam sarana tersebut dengan bahan desinfektan seperti chlorin 150 ppm. Perlakuan bahan ini dapat memantapkan kegiatan selanjutnya karena dengan merendam atau mengusap bahan kimia tersebut jenis bakteri dan organisme patogen dapat mati. Mengingat chlorin, kaporit dan disinfektan lain dalam konsentrasi tertentu dapat meracuni udang, maka pengisian air ke dalam bak pemeliharaan larva dilakukan satu sampai dua jam setelah bak tersebut dibilas. Bahan desinfektan lain yang dapat digunakan diantaranya adalah formalin 50 ppm dan kalium permanganat 100 ppm.

2. Pengadaan dan seleksi calon induk

Induk udang vannamei didatangkan PT. Suri Tani Pemuka dari Hawai, Amerika. Induk yang didatangkan adalah induk yang bersertifikat dan dinyatakan bebas penyakit dari pihak karantina hewan untuk kegiatan impor. Induk yang didatangkan tersebut akan bertelur sebanyak empat kali dalam waktu satu bulan.

Ukuran calon induk betina yang baik untuk diablasi adalah lebih besar dari 40 gram dan untuk udang jantan di atas 35 gram. Udang vannamei betina yang ideal untuk dipergunakan dalam pembenihan adalah yang berukuran antara 40-50 gram. Ukuran tubuh udang vannamei betina yang termasuk kriteria produktif

antara 20 cm hingga 25 cm, sedangkan untuk pemilih calon induk udang vannamei jantan sebaiknya berukuran sedang, yang memiliki panjang tubuh antara 15 cm hingga 20 cm.

Sebelum ditebar, kantong pengangkutan induk dimasukkan ke dalam bak yang terisi air dan di aerasi selama kurang lebih 30 menit, setelah itu suhu air kantong ataupun suhu air bak diperiksa. Apabila sudah tidak ada perbedaan suhu atau apabila perbedaannya hanya satu sampai dua derajat Celcius, maka induk dapat dilepaskan dalam bak. Hal serupa untuk salinitas, apabila perbedaan salinitas antara air dalam kantong dengan air dalam bak kurang dari lima ppt maka induk sudah dapat ditebar.

3. Proses pematangan gonad induk

Pematangan gonad pada induk betina adalah proses perkembangan telur (Oogenesis) di dalam ovary. Udang vannamei betina mempunyai sistem telikung terbuka. Seperti halnya dengan udang penaeid lainnya, hormon pengontrol reproduksi atau X organ terletak di mata. Sehingga untuk mendorong berkembangnya ovary, harus dilakukan ablasi mata. Induk udang vannamei akan mulai matang gonad sekitar lima sampai enam hari setelah proses pengablasian dilakukan. Setelah itu untuk mempercepat pematangan gonad PT. Suri Tani Pemuka memberikan pakan segar lebih banyak kepada induk udang vannamei. Proses ablasi dilakukan oleh PT. Suri Tani Pemuka dengan melakukan pemotongan tangkai mata (ablai) dengan gunting.

4. Perkawinan udang vannamei

Proses perkawinan pada udang vannamei berbeda dengan udang penaeus umumnya. Perkawinan terjadi pada saat pada saat kulit atau kerapasnya keras dan ketika telur sudah matang. Pemijahan terjadi beberapa jam setelah perkawinan, biasanya kurang dari tiga jam. Perkawinan udang vannamei dilakukan di luar tubuh dan biasanya terjadi sebelum dan sesudah matahari terbenam dan terjadi 3-16 detik.

5. Pemijahan dan penetasan

Derajat pemijahan dan penetasan sangat ditentukan oleh kualitas sperma dan kemampuan penempelan pada telikung serta media penetasan (suhu dan salinitas). Beberapa kegagalan yang terjadi adalah disebabkan oleh tidak

terjadinya pembuahan yang disebabkan induk betina belum matang telur atau rusaknya spermator.

Induk yang telah dikawinkan, ditandai dengan adanya penempelan sperma pada telikum, dipindahkan ke dalam bak spawning atau pemijahan yang telah dipersiapkan oleh PT. Suri Tani Pemuka dengan kepadatan empat ekor per meter persegi. Satu hingga dua jam kemudian induk akan melepaskan telurnya. Telur akan menetas menjadi naupli dalam kurun waktu 12-16 jam. Setelah pemijahan biasanya induk betina akan moulting. Telur udang vannamei akan menetas pada kisaran suhu 28-300C. Satu induk udang vannamei akan menghasilkan 100-200 ribu telur.

6. Penebaran nauplius

Telur yang sudah menetas dan menjadi naupli kemudian dipindahkan ke dalam bak larva yang ada di lokasi pembenihan PT. Suri Tani Pemuka. Naupli udang penaeid pada umumnya mengalami enam kali metamorfhose dalam waktu 45-50 jam dan tumbuh menjadi zoea, selanjutnya berkembang menjadi mysis dan post larva.

Penebaran naupli di PT. Suri Tani Pemuka dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi 30 menit atau sampai suhu di dalam wadah dengan suhu di luar wadah sama. Pemindahan naupli sebaiknya dilakukan pada saat naupli sudah dianggap cukup kuat.

7. Pengelolaan kualitas air

Air merupakan faktor utama penentu keberhasilan dalam kegiatan pembenihan udang vannamei. Air yang digunakan oleh PT. Suri Tani Pemuka dalam kegiatan pembenihan udang vannamei terdiri dari air laut dan air tawar.

Pengelolaan kualitas air merupakan salah satu faktor penting bagi PT. Suri tani Pemuka dalam kegiatan operasional pemeliharaan larva. Kualitas air pada bak pemeliharaan larva dipertahankan sebaik mungkin. Kualitas air ini meliputi aspek fisik, kimia dan biologi. Beberapa parameter yang dapat diamati langsung dengan mata dan peralatan yang sederhana yaitu salinitas, kekeruhan, blooming alga dan warna air.

Selama masa pemeliharaan dimungkinkan untuk tidak melakukan pergantian air. Pengamatan kualitas air dan jumlah makanan yang ada pada bak pemeliharaan larva harus mendapat perhatian khusus. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari pada pagi, siang dan sore hari. Usaha-usaha yang dilakukan selama proses ini antara lain adalah sistem persiapan air yang steril, pengaturan salinitas dan pengaturan temperatur.

8. Pengelolaan pakan

Jenis pakan yang digunakan oleh PT. Suri Tani Pemuka untuk diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami (phitoplankton dan zooplankton) dan pakan buatan. Makanan buatan yang diberikan berupa Norsan, MOS-100, Frippak dan makanan buatan lainnya dengan frekuensi delapan kali sehari. Pemberian makanan buatan terlebih dahulu diencerkan dan disaring.

Pakan alami dari jenis phytoplankton adalah Chaetoceros. Pemberian Chaetoceros dilakukan mulai dari stadia zoea 1 sampai dengan mysis 3. Pada stadia naupli belum diberikan pakan, karena pada stadia ini larva udang vannamei masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan. Pemanenan Chaetoceros dilakukan dengan menggunakan pompa celup dan dialirkan melalui pipa transfer alga ke bak pemeliharaan larva.

Pakan alami lainnya berasal dari jenis zooplankton yang digunakan adalah artemia dengan cara melakukan pengkulturan selama 24 jam dalam wadah kultur. Artemia yang telah di kultur kemudian diberikan pada larva udang vannamei pada M3 PL1 dengan kepadatan tiga sampai empat individu per mililiter, pada PL2 sampai dengan PL5 dengan kepadatan 8-10 individu/ml dan PL6 sampai PL10 dengan kepadatan 11-13 individu/ml.

9. Pemanenan

Naupli pada umumnya bersifat fototaksis positif, artinya naupli akan berkumpul karena tertarik oleh sinar. Sifat ini dimiliki juga oleh naupli udang vannamei. Sifat ini biasanya dipergunakan oleh PT. Suri Tani Pemuka untuk teknik pemanenan naupli. Sinar elektrik diletakkan pada suatu tempat di luar dinding bak sehingga dapat menembus dinding bak dan merangsang naupli untuk mendekati sinar. Kemudian air tempat berkumpulnya naupli dapat dihisap dengan

menggunakan selang plastik, sehingga naupli akan ikut terhisap dan masuk ke dalam bak penampung yang telah disiapkan sebelumnya. Bak penampungan naupli tersebut selanjutnya diberi aerasi.

Pemanenan benur di PT. Suri Tani Pemuka dilakukan dengan menurunkan volume air sampai 50 persen dan memasang pipa saringan. Setelah mencapai 50 persen pipa saringan dibuka dan air dari saluran pengeluaran ditampung pada ember saringan. Pemanenan dilakukan dengan terlebih dahulu mematikan aerasi. Pembuangan air beserta benur dilakukan pada ember saringan sampai air yang ada pada bak pemeliharaan benar-benar habis. Selanjutnya dilakukan penyiraman bak agar sisa-sisa benur tidak menempel pada bak, kemudian ditampung pada ember plastik yang diberi aerasi.