TINJAUAN SISTEM PERUSAHAAN
2. Proses di Secondary
Bagian secondary merupakan kelanjutan proses pada bagian primary, yaitu proses pelintingan, pengepakan, sampai pengiriman cigarette rod. Proses produksi di SKM meliputi:
a.Pre-process
Di bagian ini dilakukan pembuatan filter rod, pemberian pemanis pada CTP, aplikasi menthol pada aluminium foil, lem side seam, dan proses OPP tear tape cut sheet.
32 1)Pembuatan filter rod
Tempat pembuatan filter disebut filter house. Pada mesin KDF, acetate tow mula-mula diuraikan dalam bentuk tipis memanjang untuk kemudian dibounding sesuai ukuran yang ditentukan. Kemudian acetate tow diberi triacetine
dan hotmelt melalui selang-selang yang dialirkan ke batangan filter, setelah itu digabungkan dengan plug wrap yang telah diberi inner glue. Filter yang keluar langsung terbungkus oleh plug wrap.
Pada pembuatan filter rod ini, batangan filter dipotong sepanjang 12 cm, kemudian dari 12 cm ini kembali dipoting di mesin cigarette machine menjadi 3 bagian, tiap bagian 4 cm, dan dipotong menjadi 2 bagian lagi sehingga tiap bagiannya 2 cm untuk setiap rokok.
Filter rod terbagi menjadi 2 macam, yaitu filter rod porous dan filter rod non porous. Plug wrap pada
filter rod porous berporositas besar (berpori-pori).
Filter rod porous biasanya digunakan untuk rokok yang memiliki kadar tar relatif rendah.
2)Pemanisan CTP
CTP merupakan kertas pembungkus filter dengan rokok batangan. Ada bermacam-macam warna, seperti warna kuning marble untuk Djarum Super, warna putih untuk LA Light, warna hitam untuk Djarum Black baik lokal maupun ekspor.
CTP manis ini dibentuk dari CTP tawar kemudian diberi cairan pemanis, di mana cairan pemanis ini juga dibuat pada bagian R&D. Pemberian pemanis pada CTP ini dilakukan dengan bantuan mesin. Di SKM terdapat 24 unit mesin pemanis. Setiap mesin dapat memproses dua CTP sekaligus. Pada mesin tersebut terdapat heater agar CTP
33
yang sudah diberi pemanis cepat kering saat digulung kembali.
3)Aplikasi Menthol
Pemberian menthol digunakan untuk memberi menthol pada aluminium foil. Menthol akan terserap dengan sendirinya oleh rokok yang dibungkus dengan aluminium foil tersebut. Pada aplikasi menthol ini, cairan menthol yang dioles pada aluminium foil diperoleh dari bagian R&D. Cairan menthol ini relatif berwarna bening. Aplikasi ini dilakukan oleh mesin menthol applicator. 4)Pembuatan Lem Side Seam
Lem side seam digunakan untuk mengelem kedua ujung paper. Lem side seam ini juga diproses terlebih dahulu pada bagian pre-process. Bagan yang digunakan berupa
gohsenol padat dan air. b.Proses Inti di Secondary
Pada bagian secondary, dilakukan proses pembuatan rokok batangan serta pengepakannya. Finished blend yang merupakan bahan pokok dari rokoknya, dipindahkan dengan menggunakan konveyor dari gedung primary ke gedung
secondary melalui konveyor dan ditampung dalam mesin KAB lalu disalurkan ke tiap SPU dengan menggunakan pipa pneumatic. Untuk PT-PT, masih ada finished blend yang diangkut secara manual dengan menggunakan plastic box. Untuk filter rod disalurkan melalui pipa-pipa berdiameter 1cm. Pipa ini menghubungkan bagian pre-process ke mesin.
Ada dua jenis lini pada bagian proses pada mesin di SKM, yaitu lini terhubung dan lini terpisah. Mesin yang digunakan pada lini terhubung bersifat kontinyu dan memiliki karakteristik com-flex. Kontinyu berarti
34
proses pembuatan rokok sampai proses pengepakannya dilakukan dalam satu alur proses di mana perpindahan material dari satu tahap pengerjaan menuju tahap lainnya dilakukan secara internal tanpa bantuan tenaga operator sebagai alat transportasinya. Karakteristik com-flex artinya bersifat ringkas (compact) dalam desain layout konfigurasinya, tetapi cukup fleksibel jika difungsikan sebagai unit-unit yang berdiri sendiri. Hal ini sangat menguntungkan karena jika terjadi hambatan dalam salah satu tahap produksi, perusahaan tidak perlu menghentikan keseluruhan lini produksi.
Tembakau dihisap lewat hisapan central pneumatic
dan diatur oleh shuit-off flap yang terdapat pada
airlock untuk membuka dan menutupnya. Level tembakau di
airlock diatur oleh suatu sensor cahaya. Jika tembakau sudah mencapai batas minimum, maka hisapan akan terjadi secara otomatis. Pada beberapa mesin, tembakau dihisap secara manual melalui pipa-pipa yang digerakkan oleh operator.
Selain itu, juga dilakukan pengadukan kembali agar campuran lebih homogen dan pemisahan terhadap material asing atau pun material yang berat, seperti cengkeh yang belum terpotong sempurna. Pemisahan ini dilakukan dengan hembusan udara ke atas pada tekanan tertentu sehingga material yang kelebihan berat akan jatuh dengan sendirinya.
Barulah kemudian tembakau masuk ke cigarette forming yang berbentuk kanal untuk dilinting dengan menggunakan paper. Sebelumnya, tembakau melewati
35
tembakau. Berat tembakau ini diatur oleh suatu alat pengendali (weight control). Tembakau ini seolah-olah dipotong menjadi dua bagian.
Paper dipasang melewati suatu printing unit yang melakukan proses pencetakan logo dan atau tulisan PT Djarum. Setelah tembakau memenuhi paper, kedua ujung
paper dilipat dan di sepanjang paper diberi lem side seam sehingga setelah paper menutup, rokok berbentuk gulungan akan merekat, kemudian langsung dipanaskan dengan unit seam sealer pada suhu tertentu agar lem kering. Untuk mesin Protos, suhu pada unit seam sealer
kira-kira 250˚C. Batangan rokok yang sudah sempurna pengelemannya akan dideteksi segi fisiknya, misalnya berat rokok secara elektronik. Hasilnya dapat ditampilkan di layar.
Setelah itu batangan rokok yang masih dalam bentuk lonjoran ini dipotong sepanjang 13.8 cm yang kemudian dipotong lagi menjadi dua bagian yang sama (cut off). Setelah itu, rokok ditempatkan secara terpisah oleh
separating drum. Drum-drum yang ada pada CM memiliki lekukan sebagai tempat menampung rokok yang disebut
groove. Hasil potongan ini disebut sebagai tobacco rod. Kemudian tobacco rod ini masuk ke mesin assembler.
Sebelum masuk ke dalam mesin assembler, tobacco rod ini melewati loose end sensor (ada yang menggunakan sensor dengan sinar radiasi beta dan ada juga yang menggunakan microwave) yang fungsinya memeriksa densitas rokok. Jika densitas rokok tidak sesuai dengan standar, rokok langsung di-reject. Densitas mempengaruhi titik bakar dan moisture content.
36
Pada feed drum, kedua rokok batangan sepanjang 6.9 cm yang terpisah, diisi dengan satu potongan dilter berukuran 2 cm. Filter sepanjang 2 cm tersebut merupakan hasil pemotongan filter sepanjang 12 cm pada
filter cutting drum.
Dengan cork knives, CTP dipotong sesuai dengan standar lebar dari macam produknya. Swash plate drum membawa CTP yang sudah terpotong dan menempel pada filter yang dibawa oleh feed drum bersama rokok batangan pada kedua sisi filter tersebut. Setelah menempel, tobacco rod dan filter disambung dengan menggunakan CTP. Setelah itu, rokok melewati rolling drum.
Setelah proses penyambungan selesai, tobacco rod
dan filter yang semula berpasangan, dipoting tengahnya sehingga menjadi dua batang rokok oleh rod cutting drum. Di drum ini, rokok tanpa filter, rokok pada awal
start mesin di-reject.
Pemotongan tersebut menghasilkan dua cigarette rod
yang saling berkebalikan posisinya. Setelah dipotong, batangan rokok ini akan dimasukkan ke dalam pak. Oleh karena itu, batangan rokok yang berlawanan arah itu disamakan arahnya di turning drum. Mesin ini dilengkapi dengan pembalik arah batangan rokok itu dengan cara kerja seperti dijepit dan dipilin secara spiral.
Rokok yang berada di luar spesifikasi akan di-reject di injection drum. Rokok yang sudah memenuhi spesifikasi ditransfer ke sampling drum melalui
intermediate drum. Sampel rokok dapat diambil dengan menekan switch sampling. Apabila mesin berjalan normal, rokok dari sampling drum akan berpindah ke catcher drum
37
untuk dibawa ke HCF hopper dengan cigarette feeding. Rokok-rokok yang sudah digabungkan dengan CTP dan sudah melewati sensor, dibawa menuju buffer sebagai tempat penampungan rokok sementara sebelum rokok masuk ke mesin packer.
Mesin packer (Focke) terdiri dari Hinge Lid Packer
(HLP 350), reservoir 802, banderoller/stamper 402 (BD), wrapper 401 (WR), dan boxer/cartooner 361 (BX), dan
Marden Edwards/Overwrapper (OW). Mesin packer disebut juga HO. Kata HO ini mengambil dari unit pertama dan unit terakhir yang ada pada mesin packer, yaitu HLP dan OW.
Mesin HO mampu menghasilkan 380 pak/menit. Pada mesin link up, rokok akan berjalan dengan sistem COC untuk masuk dalam cigarette vane yang berfungsi menata rokok menjadi dua baris. Pada mesin non link up, rokok batangan yang sudah tertata di dalam rak dimasukkan ke tray unloader.
Pada HLP, rokok dibungkus dengan aluminium foil. Aluminium foil ini dibuat perforasinya dan diberi logo. Perforasi harus baik kualitasnya agar konsumen tidak kesulitan membuka kemasan rokok dan agar rokok di dalamnya tidak rusak saat perforasi disobek. Sementara itu, mesin juga sudah menyiapkan teiket yang disatukan dengan inner frame. Etiket ini sudah terbentuk sesuai dengan bentuk pak rokoknya, hanya saja belum tertutup. Rokok yang telah terbungkus tadi barulah dimasukkan dalam etiket yang belum tertutup. Etiket kemudian ditekuk menjadi kotak pada folding turret dan diberi lem PVAC yang dipasok secara manual oleh operator. Pada CM dan HLP tidak ada pengerjaan ulang (rework).
38
Setelah menjadi pak polos (pak rokok tanpa cukai), rokok pak tersebut masuk dalam drying drum yang berkapasitas 96 pak dan maturing drum yang berkapasitas 100 pak. Rokok tersebut dilewatkan pada drying drum dan
maturing drum agar perekatan pak polos pada HLP sempurna.
Setelah itu, rokok masuk dalam area BD. Fungsinya adalah untuk memberikan pita cukai pada pak rokok tersebut. Di unit ini terdapat glue pot III. Pasokan lem dan pita cukai dilakukan secara manual oleh operator.
Jika yang akan dipak adalah rokok sortiran yang
pack-nya sudak ditempel pita cukai secara manual oleh pekerja borongan, tombol pengatur puta diubah ke posisi “O” agar pita cukai pada mesin tidak turun.
Jika terjadi kerusakan pada unit BD atau WR, pack-pack yang dihasilkan akan ditampung dalam reservoir. Dalam hal ini, reservoir berfungsi sebagai buffer
antara HLP dengan stamper. Jika kapasitasnya hampir penuh, operator dapat menghentikan unit HLP.
Selanjutnya rokok pack masuk ke unit WR. Rokok pack kemudian ditutup dengan menggunakan plastik (OPP) yang sebelumnya sudah disatukan dengan tear tape. Penyatuan ini menggunakan proses pemanasan pada melting point tertentu agar OPP dapat menempel pada pack dan tidak meleleh.
Pack lengkap yang sudah ada masuk dalam unit BX untuk di-pack lagi menjadi ukuran press. Biasanya satu press berisi 12 pack untuk Djarum Super, dan 16 pack untuk LA Light. Pada unit ini, pengeleman dilakukan dengan glue jet. Produk penge-press-an ini kemudian
39
dikirim ke unit OW dengan belt conveyor berkecepatan rendah. Setelah masuk dalam dos press, barulah dilakukan overwrapper yang bertujuan memberikan OPP pada dos press yang sudah jadi.
Setelah proses overwrapper, rokok masuk dalam proses bale. Proses ini juga merupakan proses pengepakkan di mana dos press dibungkus dalam kertas
craft. Untuk produk Djarum Super, 1 bale berisi 20
press, dan untuk produk LA Light, 1 bale berisi 10
press.
Dari bale, rokok dilanjutkan dalam proses boxer, yaitu proses pengepakan bale ke dalam tempat yang lebih besar lagi. Biasanya 1 box berisi 4, 6, atau 8 bale (tergantung pada jenis brand). Kemudian dos box ini ditutup dan diberi packing tape. Box yang sudah diberi
packing tape ini disebut corrougated box.
Untuk produk ekspor, rokok dalam kemasan box
sebelumnya dimasukkan dalam plastic bag terlebih dahulu untuk mencegah masuknya kandungan uap air ke dalam rokok. Penutupan box juga berbeda antara produk domestik dan ekspor. Untuk produk domestik, box hanya ditutup dengan menggunakan packing tape, sedangkan untuk ekspor, penutupan dilakukan dengan tali segel. Semua proses pembungkusan yang kompleks ini dilakukan untuk menjamin rasa dan aroma agar tetap baik sampai di tangan konsumen. Setelah semua proses pembungkusan selesai, produk jadi dikirim ke gudang maupun ke distributor.
40 3.4. Fasilitas Produksi
Tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Dalam berproduksi diperlukan peralatan-peralatan, perlengkapan, mesin-mesin dan fasilitas produksi. Keseluruhan fasilitas tersebut harus diatur sesuai dengan kebutuhan proses produksi sehingga hasil produksi dapat diproduksi dengan jumlah dan kualitas sesuai dengan yang diharapkan, dapat diselesaikan tepat pada waktunya dengan biaya yang minimal. Perencanaan layout pabrik merupakan pemilihan secara optimum penempatan mesin dan peralatan, tempat kerja, tempat penyimpanan dan fasilitas service, bersama-sama dengan penentuan bentuk gedung pabriknya.
PT Djarum mengatur fasilitas produksinya menggunakan tipe product layout. Tipe Product Layout
merupakan suatu tata letak pabrik yang mempunyai efisiensi yang tinggi di mana peralatan disusun berdasarkan urutan proses pembuatan produk. Aliran produksi yang terjadi adalah Flow Shop dimana karakteristik Flow Shop sebagai berikut:
a.Aliran pemindahan material berlangsung dengan lancer dan sederhana, serta biaya material handling yang rendah.
b.Total waktu yang dipergunakan untuk produksi relatif singkat.
c.Adanya sistem insentif bagi kelompok karyawan akan dapat memberikan motivasi guna meningkatkan produktivitas kerjanya.
41
d.Tiap unit produksi atau stasiun kerja memerlukan luas area yang minimal.
e.Pengendalian proses produksi mudah dilaksanakan. Setiap bahan baku atau komponen yang masuk dalam lantai produksi PT Djarum akan mengalami beberapa perpindahan dari satu proses ke proses yang lain. Sebagai contoh kertas paper yang menjadi salah satu bahan baku utama rokok. Ketika tiba dari vendor akan dimasukkan terlebih dahulu ke warehouse dan kemudian dipindahkan ke departemen pre-proses untuk diproses. Setiap perpindahan yang terjadi pasti memerlukan suatu usaha perpindahan material atau penanganan material (material handling).
Sistem penanganan material yang terdapat di PT Djarum bermacam-macam tergantung dari jenis dan jumlah bahan baku yang akan dipindahkan serta posisi bahan baku tersebut berada sekarang. Metode pemindahan bahan baku maupun produk jadi di PT Djarum dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
a.Pemindahan secara manual
Pemindahan secara manual dilakukan oleh operator tanpa bantuan mesin. Hal ini dipakai bila tidak ada alat khusus untuk menangani dan merupakan pekerjaan yang ringan. Contohnya mengganti CTP dan kertas paper secara manual. Pemindahan secara manual juga dilakukan oleh operator pengepakan manual. Operator tanpa bantuan alat khusus, memasukkan bale ke dalam dus box.
b.Pemindahan dengan mesin (terotomatisasi)
Pemindahan dengan menggunakan mesin tanpa bantuan manusia. Ini digunakan apabila tidak memungkinkan
42
untuk dilakukan secara manual. Hal ini lebih efisien untuk pekerjaan yang berat. Contohnya pada bagian produksi, press rokok yang telah siap dipasarkan dipindahkan ke bagian manual packaging dengan menggunakan konveyor. Pada SPU 41 dengan mesin maker
single track, penggantian kertas paper, CTP serta memasukkan karton press dilakukan oleh robot.
c.Pemindahan bahan secara campuran
Sistem pemindahan yang dilakukan oleh manusia dengan bantuan mesin atau alat bantu, biasanya dipakai untuk memindahkan komponen dari satu departemen ke departemen yang lain. Contohnya untuk memindahkan komponen dari departemen manual packaging ke warehouse dengan menggunakan forklift.
Untuk pemindahan pallet yang berisi material dari departemen pre-proses ke mesin menggunakan hand
pallet. Untuk mengangkut sisa tembakau maupun
sampah-sampah produksi menggunakan hand truck.
Sistem penanganan material yang terdapat di bagian produksi bermacam-macam, tergantung dari jenis material yang akan dipindahkan. Sebagian besar perpindahan bahan baku dilakukan oleh manusia atau operator. Alat material handling akan digunakan jika materialnya berat atau berjumlah banyak.
Material handling yang digunakan di SKM PT Djarum antara lain:
a.Konveyor
Konveyor digunakan untuk memindahan produk dari setiap departemen ke departemen lain atau pun dari mesin satu ke mesin lainnya yang saling terhubung,
43
sebagai contoh pada pemindahan finished blend dari bagian primary ke bagian secondary.
b.Roller conveyor
Pemindahan produk ke bagian penge-bale-an dilakukan melalui roller conveyor. Roller conveyor merupakan alat pemindahan material yang digunakan dalam proses perakitan, inspeksi dan untuk memindahkan produk dari perakitan hingga manual packaging.
c.Pipa-pipa
Filter rod dari filter house juga ditransfer ke unit
receiving CM melalui pipa-pipa transfer secara
otomatis. Transfer ini dilakukan dengan sistem
pneumatic, yaitu melalui pipa bertekanan tinggi untuk mencegah adanya debu yang masuk
d.Forklift
Forklift digunakan untuk memindahkan bahan baku dan membantu pemindahan komponen produk yang ada di lantai produksi.
e.Hand truck
Hand truck digunakan untuk membawa material-material berukuran kecil dalam jumlah yang banyak.
f.Pallet
Pallet merupakan papan kayu yang digunakan sebagai alat bantu dalam proses pemindahan bahan baku maupun produk jadi.
e.Hand pallet
Hand pallet merupakan alat bantu khusus untuk
memindahkan material dari suatu departemen ke departemen lain (misal dari gudang ke setiap mesin).
Hand pallet menggunakan sistem hidrolik untuk
44
yang diangkut antara lain berupa etiket, paper, tear tape, CTP, outer, inner, dan filter.
f.Kletek
Kletek digunakan untuk memindahkan filter (double filter maupun filter reguler) dari gudang material ke bagian pre-process. Kletek dapat mengangkut 16 rak. Kletek ini memiliki bentuk semacam gerobak dengan dua tingkat.
g.AGV (Automated Guided Vehicles)
Automated Guided Vehicles adalah mobile robot
yang dipandu dan dikendalikan secara elektronik yang digunakan di PT Djarum untuk memindahkan material dari departemen material ke mesin. Ada pun material yang dipindahkan meliputi outer, inner, etiket,
45 BAB 4