AKIBAT POLA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI
7.4. Proses Diferensiasi dan Penyingkiran Petani
Penyingkiran petani dari alat-alat produksi tidak hanya terjadi akibat masuknya perusahaan perkebuanan dan kehutanan. Tingginya kebutuhan atas input produksi (bibit, pupuk dan obat) dan keuntungan yang diperoleh dari pengadaan input produksi dan penjualan hasil panen tersebut menyebabkan antara petani dan bandar saling menjaga hubungan yang tidak setara. Di tingkat petani, hubungan ini diperlukan agar memperoleh akses pinjaman dari bandar baik berupa uang maupun dalam bentuk bibit, pupuk dan obat-obatan. Hal ini dijumpai di beberapa desa dataran tinggi Papandayan. Seperti yang diungkapakan salah satu petani hortikultura desa Cipaganti yang bersebelahan dengan desa Sukatani,
“Di desa cuma ada satu bandar, semua petani menjual ke pak Haji. Pak Haji (bandar) tidak pernah memberi pinjaman berupa uang. Kalau ada keperluan mendadak (uang), petani akan menjual pupuk atau obat-obatan sama tetangga. Saat panen, petani harus menjual ke pak Haji. Hasil panen harus dipotong berdasarkan hutang yang dipinjam serta persen dari setiap kilo timbangan untuk diserahkan ke pak Haji. (Kondisi ini) berlangsung tiap musim jadi petani menerima sangat kecil. Dari panen ke panen, banyak petani tidak mampu bayar hutang. Akhirnya, untuk meminjam ke bandar, tidak jarang petani menjaminkan lahan garapannya.” (Yy)
Bentuk hubungan antara patron (bandar) dan klien (petani kecil) lewat hubungan hutan-piutang hingga saat ini masih terus berlangsung dan direproduksi yang menyebabkan petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga jual hasil panen. Dengan demikian, relasi ini pada prakteknya menyebabkan pembentukan dan penumpukan (akumulasi) surplus hanya terjadi pada pihak bandar sementara petani menjadi buruh di lahannya sendiri. Tidak jarang, akibat hubungan hutang-pitang semacam ini menyebabkan petani kehilangan lahan garapannya atau petani menjadi buruh di lahan garapannya sendiri. Dengan kata lain, sebagian besar surplus dari hasil produksi diserap oleh pihak cukong melalui harga komoditas. Petani dengan demikian mengalami proses marginalisasi terhadap komoditas yang dihasilkan melalui relasi pertukaran. Kondisi ini telah berlangsung sebelum warga berhasil mendapatkan akses lahan garapan bahkan setelah mendapatkan akses garapan di areal kehutanan.
Berbeda dengan komoditas usar (akar wangi), arus kubutuhan akan modal pada budidaya hortikultura relatif cepat, sebagaimana yang diungkapkan salah seorang responden, petani desa Sukatani, “setiap hari uang keluar masuk, ada yang tanam hari ini, besok sudah ada yang panen dan selalu berurusan dengan bandar besar.” Sehingga bagi petani sangat sulit memutus hubungan dengan bandar.
“Namun saat ini, masih ada petani di setiap musim panen tidak mampu bayar hutang ke bandar sehingga bandar tidak memberikan pinjaman lagi sementara hutang harus tetap dibayar. Akibatnya, petani sudah tidak dapat mengusahakan lahannya lagi karena sudah tidak punya modal...”
Keterjalinan yang sedemikian rupa antara bandar dan petani telah berlangsung lama, sebelum adanya aksi reclaiming warga di lahan kehutanan memungkinkan terjadinya proses pelepasan lahan dari petani ke pihak bandar.
Dengan demikian, proses tersebut secara langsung mendorong terjadinya rekonsentrasi penguasaan lahan kepada bandar yang juga merupakan lapisan elite di desa.
“Akibat hubungan dengan cukong (Haji Aur), ada warga yang kehilangan lahan garapannya karena menjadi jaminan utang kepada cukong. Ketika seorang petani gagal dan tidak dapat melunasi hutangnya, pihak bandar akan mengenakan bunga pinjaman kepada
sisa hutangnya. Apabila petani tersebut tidak mampu membayar sisa hutang ditambah bunga, tanahnya lalu akan dijaminkan kepada cukong. Penyelesaian hutang-piutang bahkan bisa melibatkan pihak aparat polisi. Pak RT, anggota SPP yang berprofesi sebagai bandar lokal dua lahannya telah dijaminkan kepada bandar (cukong) karena tidak mampu bayar hutang.” (Asp)
7.5. Ikhtisar
Selain berlangsung “dari atas” berkat fasilitasi dan penetrasi modal dari negara (baik negara kolonial maupun pasca kolonial), proses marginalisasi petani juga dapat berlangsung “dari bawah”, yakni melalui relasi-relasi agraris di antara anggota masyarakat sendiri menyangkut perebutan akses dan kontrol atas tanah, modal dan tenaga kerja. Di dua lokasi studi, penyingkiran (marginalisasi) petani dari alat-alat produksi tidak hanya terjadi akibat masuknya perusahaan perkebuanan dan kehutanan. Tingginya kebutuhan atas input produksi (bibit, pupuk dan obat) dan keuntungan yang diperoleh dari pengadaan input produksi dan penjualan hasil panen tersebut menyebabkan antara petani dan bandar saling menjaga hubungan yang tidak setara tersebut. Di tingkat petani, hubungan baik ini diperlukan agar memperoleh akses pinjaman dari bandar baik berupa uang maupun dalam bentuk bibit, pupuk dan obat-obatan.
Di lain pihak, kepentingan bandar terhadap hubungan tersebut untuk menjaga keuntungan yang diperolehnya dari usaha petani di tanah garapannya.
Relasi ini pada prakteknya menyebabkan pembentukan dan penumpukan (akumulasi) surplus hanya terjadi pada pihak bandar sementara petani menjadi buruh di lahannya sendiri. Tidak jarang, akibat hubungan hutang-pitang semacam ini menyebabkan petani kehilangan lahan garapannya atau menjadi buruh di lahan garapannya sendiri mengingat surplus dari hasil produksi hampir sebagian besar terserap oleh bandar. Keterjalinan yang sedemikian rupa antara bandar dan petani telah berlangsung lama (sebelum adanya aksi reclaiming warga di lahan kehutanan) memungkinkan terjadinya proses pelepasan lahan dari petani ke pihak bandar atau proses tersebut secara langsung mendorong terjadinya rekonsentrasi penguasaan lahan kepada bandar yang juga merupakan lapisan elite di desa.
Adapun keberhasilan beberapa anggota organisasi tani lokal menjadi bandar dapat diartikan sebagai pergantian aktor lama oleh aktor baru dalam pola (struktur) produksi dan distribusi lama. Dengan kata lain, fenomena tersebut dilihat sebagai proses pergantian rejim (pelaku) permodalan dalam suasana (moda) produksi dan distribusi yang lama.
BAB VIII