AKIBAT KEBIJAKAN NEGARA
6.2. Riwayat Marginalisasi Petani Desa Dangiang
Sebagai masyarakat agraris, pola dan bentuk penguasaan lahan sangat menentukan kondisi kemiskinan rumahtangga petani. Seperti halnya dengan masyarakat pedesaan disekitar hamparan Cikuray, kecamatan Cilawu, sebelum tahun 1972 mayoritas warga merupakan petani yang menggarap di areal
31 Hasil wawancara dengan Yn pada tanggal 14 September 2009
kehutanan hamparan Cikuray. Namun pada tahun 1972, terjadi perubahan situasi dengan masuknya perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung yang menyebabkan warga harus meninggalkan areal garapan yang menjadi sumber nafkah utama mereka dan hanya beberapa persen saja yang masih menggarap di areal kehutanan namun lebih masuk ke areal hutan yang lebih tinggi. Kondisi ini kemudian menghadapkan petani pada persoalan kemiskinan akibat hilangnya kuasa mereka atas lahan garapan.
Tabel 6.3. Sejarah Akses dan Kontrol Lahan Perkebunan di Desa Dangiang
Waktu Peristiwa
1940 Masyarakat menggarap tanah yang pada saat itu dikelola oleh kehutanan 1972/74 HGU PTPN Nusantara VIII
1974-1997 Masyarakat keluar dari lahan garapan. Akibatnya, 80% penduduk laki-laki migrasi ke kota seperti Jakarta mencari nafkah sebagai penjual golok, pedagang makanan keliling, buruh bangunan, buruh pabrik kerupuk serta pengrajin dompet dan ikat pinggang kulit, dan sebagainya.
1997 Masa HGU PTPN VIII habis. Krisis ekonomi menyebabkan penghidupan di kota semakin sulit. Warga di perantauan kembali ke desa.
1998 Beberapa warga desa (sekitar 77 kk) dari desa Mekarmukti dan Sukamukti mulai menggarap kembali lahan terlantar di areal perkebunan. Pihak PTPN Nusantara VIII bersepakat dengan warga dengan memberikan izin kepada petani untuk menggrap lahan tidur dengan sewa garap selama 6 bulan dan diwajibkan untuk membayar sewa kepada pihak PTPN Nusantara VIII 29 Juni 1999 PTPN Nusantara VIII membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak dengan
menutup lahan tersebut dan menancapkan tapal batas bahwa lahan tersebut tidak boleh digarap
13 Juli 1999 Masyarakat Sukamukti bersama dengan mahasiswa melakukan pertemuan dengan beberapa aparat militer dari koramil setempat
14 Juli 1999 Masyarakat di desa Sukamukti mendapat panggilan dari dari koramil yang tujuannya untuk segera membuat proposal permohonan penggarapan
29 Januari 2000 Petani penggarap diserbu oleh preman yang dikondisikan oleh pihak PTPN Nusantara VIII
19 Juli 2000 Petani penggarap mendatangi DPR/MPR
3-5 Oktober 2000 Pihak Dalmas Polres Garut mendatangi petani penggarap untuk melakukan pengamanan, karena petani tetap bersikeras untuk menggarap lahan tersebut.
Petani penggarap karena kesal terhadap Dalmas Polres Garut, dengan cara dialog dan adu argumentasi yang panjang berhasil mengusir Dalmas Polres Garut
Hilangnya kuasa atas lahan dan tidak tersedianya sumber pekerjaan yang ada di desa mendorong sekitar 80 persen laki-laki harus migrasi ke kota seperti Jakarta untuk bekerja sebagi penjual golok, pedagang makanan keliling, buruh bangunan dan buruh pabrik kerupuk serta kerajinan kulit sementara yang tersisa di
desa mayoritas hanya perempuan yang bekerja sebagai buruh tani di dalam maupun di luar desa. Situasi sedemikian rupa ini kemudian turut menjadi penggalan riwayat hidup salah seorang petani perempuan warga Dangiang yang menuturkan,
“Saleresna mah nyeri upami dicarioskeun teh, sok kainget – inget jaman kapungkur, abdi harita upami buburuh nutu 5 geugeus kengingna saeunan (satengah geugeus) buburuhna ti enjing – enjing dugi ka jam 4 sore, abdi didamel di jalmi – jalmi anu gaduh masih di Dangiang keneh, kitu oge upami buburuh gacong bayaranana 10 kilo, 9 kilona ka nu gaduh serangna, kaluarna kangge abdi sakilo, harita harita harga beas mung 250 perak, tah upami buburuh ngored titabuh tujuh dugi ka tabuh 12 teh mung diburuhan 3 cuntang/cangkir”.
(Sebenarnya sakit bila kembali menceritakannya, selalu teringat pada masa dulu, waktu itu kalau saya menjadi buruh tumbuk padi 5 ikat, upahnya setengah ikat, bekerja menjadi buruhnya dari pagi-pagi sampai jam empat sore, saya bekerja pada orang-orang berada di Dangiang, begitu juga kalau menjadi buruh petik padi bayarannya 10 kilo, 9 kilo untuk yang punya sawah, keluarnya untuk saya satu kilo, waktu itu harga beras hanya 250 perak, kalau menjadi buruh ngored dari jam tujuh sampai jam 12 hanya diberi upah 3 cangkir beras”). 32
Hingga pada tahun 97 saat terjadi krisis moneter, harga sembako makin mahal dan kehidupan di Jakarta pun semakin sulit tidak menentu menyebabkan mereka memutuskan untuk kembali lagi ke kampung. Setelah kembali ke kampung halaman, muncul keinginan mereka untuk menggarap kembali lahan yang ditinggalkan akibat masuknya perkebunan.33 Sebagaimana yang dituturkan oleh salah satu koordinator SPP Wilayah Garut yang merupakan salahsatu dari 7 (tujuah) orang warga Dangiang yang menjadi perintis pendirian OTL SPP Dangiang.
“Sejak tahun 82’ saya sudah merantau. Di desa tidak ada lapangan pekerjaan. Sebelum reclaiming tahun 98’, warga sebagian besar menjadi buruh tani sawah di luar desa yang mayoritas perempuan. Mereka menawarkan tenaga kepada yang punya tanah untuk mengolah lahannya. Yang punya tanah milik (jami) di desa hanya sekitar 25%. Jika punya 0,5 ha itu sudah orang kaya. Ada juga warga yang keluar desa untuk dagang dan jadi buruh di kota. Pada
32 Catatan hasil wawancara Nisa dengan teh Onih (39 tahun) dalam acara Diskusi Wawancara pada 12 September 2004 di Dangiang.
33 Hasil wawancara pada tanggal 10 September 2009
saat krismon tahun 97-98, ekonomi sedang sulit sehingga banyak yang di PHK. Ketika kena PHK mereka pulang kampung namun tidak ada yang bisa dikerjakan dan digarap. Lalu beberapa warga masuk ke areal perkebunan HGU untuk menggarap lahan. Waktu itu, beberapa orang menebang ratusan pohon teh untuk dijadikan lahan garapan. Kami harus kejar-kejaran dengan pihak perkebunan, preman yang disewa perkebunan hingga aparat keamanan (brimob).
Pada akhirnya, terbentuklah SPP yang awalnya jumlah anggota di desa dangiang hanya 7 orang. Setelah berhasil mendapatkan lahan garapan, kehidupan ekonomi warga meningkat..”34
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, kehadiran negara melalui kebijakan pengurusan wilayah hutan di Jawa pada umumnya dan khususnya Jawa Barat yang berada di daerah perbukitan dan pegunungan turut menyertakan hak-hak istimewa kepada pihak-hak perusahaan perkebunan teh, kopi, dan sebagainya.
Adapun hubungan yang sah antara warga desa desa dengan pihak penguasa kehutanan tersalurkan dalam bentuk ikatan buruh tumpang sari atau buruh biasa kehutanan dimana kondisi yang demikian ini sebagian banyak tak berbeda dengan perkebunan besar. Sehingga tidak mengherankan, petani di lapisan bawah (petani gurem dan buruh tani) yang paling sering memanfaatkan peluang pekerjaan di hutan (Sajogyo, 1973).
Lewat pengamatannya di wilayah Cibodas, Sajogyo (1976) mengungkapkan, pra-kemerdeakaan 1945 pelepasan desa dari wilayah hutan yang dikuasai pemerintah khususnya di Jawa Barat telah berlangsung baik lewat aturan tanam paksa komoditas ekspor seperti kopi yang berakhir pada tahun 1915 maupun yang diperkuat oleh UU, patok-patok batas dan polisi kehutanan. Dengan demikian, masuknya usaha perkebunan telah berdampak kepada proses penyingkiran petani dari kuasa atas alat produksi utama yakni lahan dan secara langsung menghadapkan petani pada persoalan kemiskinan. Seperti yang dikisahkan Pak Impid (60 tahun), salah seorang penggarap di Blok Ciledug Dangiang merupakan bagian dari kesaksian dari puluhan orang lainnya yang tersingkir atas klaim sepihak negara.
“Pengusiran kembali deui aya upami kai tos 5 tahun, ngantosan sapuluh tahun, dibabad ku kahutanan, lowong deui, tos kitu garapan tiasa digarap deui, pokokna selang na 5 sampai 10
34 Hasil wawancara pada tanggal 10 September 2009
tahun, kieu yeuh… tahun ieui kai ditebang, teras masyarakat diijinan ngagarap bari kedah ngagaleuh bibit ti Kahutanan, teras dipelakkeun bari dipiara, tah urang tiasa tumpangsari, ngagarapna dugi ka 5 tahun, saatosna kitu mah masyarakat diusir deui dugi ka teu tiasa pisan ngagarap sapanjang 10 tahun dugi ka 15 tahun, teras kitu…., nu ngusirna Mantri Kahutanan sareng Lurah oge BOMD, Bintara Onder Distrik Militer, harita mah sanes kerjasama sareng kepolisian nanging BOMD”,
(Pengusiran kembali lagi kalau pohon kayu sudah berumur 5 tahun, menunggu sampai 10 tahun dibabad oleh Kehutanan, kosong kembali, setelah itu garapan bisa digarap lagi, pokoknya berselang 5 sampai 10 tahun, begini… tahun ini ditebang, terus masyarakat diberi ijin menggarap tapi harus membeli bibit dari Kehutanan, terus ditanam sambil dipelihara, nah kita bisa tumpangsari, menggarapnya sampai lima tahun, setelah itu masyarakat diusir kembali sampai tidak bisa menggarap sama sekali sepanjang 10 sampai 20 tahun.
Terus begitu….., yang mengusirnya Mantri Kehutanan dengan Lurah juga BOMD, Bintara Onder Distrik Militer, waktu itu tidak bekerjasama dengan kepolisian namun BOMD) 35