(Studi Kasus Komunitas Petani di Dua Dataran Tinggi Garut)
MUHAMMAD YUSUF
=
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2011
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Situasi Kemiskinan Dan Proses Marginalisasi Petani Dataran Tinggi Garut, Studi Kasus Komunitas Petani di Dua Dataran Tinggi Garut adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir tesis ini.
Bogor, Februari 2011
Muhammad Yusuf NIM I351060091
MUHAMMAD YUSUF. Poverty and Marginalization Process of Peasants in Upland of Garut. Case Study of Two Peasants Community in Garut Upland
Garut is one of the upland areas in West Java with domestic income contribution from the agricultural sector is the highest compared to other sectors.
On the other hand, the problem of rural poverty is still a problem faced Garut regency. Through the excavation of land tenure history and commodity distribution chain analysis, indicates that the process of impoverishment in the uplands caused by land occupation by the state through the forestry and plantation companies that resulted in the loss of farmers from force of production. In addition, the marginalization process of farmers continue to take place through the relations of production and distribution prevailing at the level of community amid the presence of a local peasant movements. This is due to the arena of local peasant movement is still centered on securing land tenure from the physical threat from plantations and forestry apparatus of the state.
Keywords: Garut Regency, Upland, Poverty, and Marginalization Proccess.
M. YUSUF. Situasi Kemiskinan Dan Proses Marginalisasi Petani Dataran Tinggi Garut : Studi Kasus Komunitas Petani Di Dua Dataran Tinggi Garut. Di bawah bimbingan Dr. Titik Sumarti MC, MS dan Dr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, MS
Garut adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan kontribusi nilai tambah ekonomi yang tercipta di Kabupaten Garut dari sektor pertanian merupakan yang tertinggi (48,03%) bila dibandingkan dengan sektor lain.
Sementara bila dilihat kontribusi terhadap PDRB Propinsi Jawa Barat, sumbangan sektor pertanian Garut mencapai 12,63%. Selain dikuasai warga, sebagian lahan pertanian di Kabupaten Garut turut dikuasai oleh negara dan swasta khususnya dalam pengelolaan kawasan hutan dan perkebunan. Menurut BPS Kabupaten Garut, hingga tahun 2000 persentase luas wilayah kehutanan dan perkebunan mencapai 50 persen dari keseluruhan wilayah kabupaten dan merupakan persentase terbesar di antara Kabupaten di pulau Jawa.
Meskipun sumbangan nilai tambah ekonomi sektor pertanian cukup besar dan hadirnya perusahaan kehutanan dan perkebunan milik negara dan swasta yang diharapakan mampu mendorong peningkatan pendapatan warga disekitar areal tersebut, tetapi kehidupan masyarakat petani di Kabupaten Garut masih dalam taraf miskin. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nota Pengantar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Garut 2009-2014, Kabupaten Garut merupakan daerah tertinggal dengan jumlah penduduk miskin berkisar 15,32 persen dari total 2,2 juta penduduk dan jumlah pengangguran terbuka usia 10 tahun ke atas mencapai 10,11 persen.
Situasi kemiskinan suatu komunitas tidak berdiri bebas dalam ruang dan waktu. Dirinya dipandang sebagai suatu proses yang terlembagakan dan hadir dalam sejarah perkembangan komunitas itu sendiri. Mengikuti pendapat Mosse (2007), kemiskinan merupakan hasil dari sejarah dan dinamika kapitalisme kontemporer, meliputi proses-proses akumulasi, perampasan, diferensiasi dan eksploitasi dengan turut mempertimbangkan mekanisme sosial, kategori dan identitas yang melanggengkan ketidaksetaraan dan memfasilitasi hubungan yang eksploitatif. Studi ini merupakan suatu usaha dalam memahami dan menganalisis bagaimana terbentuknya kemiskinan dan proses marginalisasi yang dialami oleh petani serta sampai sejauh inisiatif petani lokal dalam merespon persoalan kemiskinan dan proses marginalisasi yang hadir dalam hubungan produksi dan distribusi. Kemiskinan masyarakat pedesaan tidak dilihat hanya sebagai suatu hasil pengukuran dari aspek ekonomi semata akan tetapi merupakan hasil dari marginalisasi yang dialami suatu komunitas. Situasi kemiskinan suatu komunitas dengan demikian tidak berdiri bebas dalam ruang dan waktu. Dirinya dipandang sebagai suatu proses yang terlembagakan dan hadir dalam sejarah perkembangan komunitas itu sendiri.
Dari berbagai ulasan di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Bagaimanakah situasi dan karakteristik kemiskinan yang dialami oleh petani dataran tinggi Garut? Bagaimanakah proses marginalisasi komunitas petani yang hadir dalam hubungan-hubungan produksi dan distribusi serta implikasinya terhadap penciptaan kemiskinan petani di dua dataran tinggi? Sejauhmana inisiatif petani lokal di dua dataran tinggi dalam merespon persoalan kemiskinan
komunitas dengan melihat kemiskinan dan marginalisasi petani di pedesaan sebagai produk dari relasi kuasa dalam konteks sejarah perkembangan komunitas itu sendiri.
Penelitian ini merupakan penelitian empiris yang mencakup seperangkat proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan ekonomi-politik yaitu melihat “kemungkinan adanya hubungan timbal-balik antara ekonomi dan politik”
dan pendekatan “sosio-historis” yaitu pola-pola hubungan produksi dalam sejarah perkembangan sebuah komunitas. Proses analisis data pada penelitian ini berakar kuat pada perspektif Marxian berikut berbagai variannya dimana komunitas dilihat sebagai keseluruhan dan aksi individu dibangun atas bekerjanya sebuah sistem yang berlaku. Perbedaan aktifitas nafkah dari setiap lapisan sosial dalam sebuah masyarakat ditentukan oleh dua hal, yakni: (1) siapa yang memiliki kontrol efektif terhadap seluruh sumber-sumber produksi, dan (2) sampai sejauh mana pemanfaatan output dari setiap kegiatan produksi, apakah untuk keperluan konsumsi atau untuk dipertukarkan (dijual) kembali dalam perekonomian pasar.
Dua titik sentral untuk memahami situasi kemiskinan di pedesaan adalah:
Pertama, situasi dan alasan (penyebab) kemiskinan harus dipahami melalui analisis rinci dari relasi kuasa dalam konteks sejarah tertentu: antara mereka yang memiliki lahan dengan mereka yang tidak memiliki lahan, antara rumah tangga kaya dan miskin; antara laki-laki dan perempuan; antara rumah tangga di pedesaan dan di perkotaan dan antara lembaga pasar dan negara. Kedua, cara-cara (pola/strategi) nafkah yang biasanya berlaku baik di dalam rumah tangga maupun antara rumah tangga yang sangat beragam.
Berdasarkan riwayat penguasaan lahan, di dua lokasi studi (desa Dangiang dan Sukatani) merupakan contoh desa-desa di dataran tinggi Garut dimana areal lahan pertanian warga berdampingan dengan pola penguasaan kawasan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan negara. Jika di desa Dangiang areal pertanian warga berdampingan dengan perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung, di desa Sukatani merupakan salahsatu desa di kecamatan Cisurupan dimana posisi areal lahan pertanian warga berdampingan dengan areal kehutanan klaim PT. Perhutani.
Hadirnya bentuk-bentuk pengusaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan milik negara dikemudian hari turut mendorong lahirnya bentuk-bentuk inisiatif warga untuk melakukan reclaiming lahan perkebunan negara yang tergabung dalam organisasi tani lokal (OTL) Serikat Petani Pasundan (SPP).
Khusus di desa Sukatani, selain OTL SPP, terdapat kelembagaan lain yakni PHBM (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat) yang dibentuk oleh PT.
Perhutani dalam mengatur dan mengontrol akses warga terhadap lahan kehutanan.
Pada prakteknya, hadirnya perusahaan perkebunan dan kehutanan negara yang telah dimulai sejak orde kolonial Belanda menyebabkan proses pemiskinan dan peminggiran kuasa (enclosure) petani dari alat-alat produksi utama sehingga banyak petani terserap menjadi tenaga buruh tani upahan, buruh industri dan pekerja sektor informal di perkotaan.
Penyingkiran (marginalisasi) petani dari alat-alat produksi tidak hanya terjadi akibat masuknya perusahaan perkebuanan dan kehutanan. Tingginya
setara.
Bentuk relasi yang terbangun antara petani dan bandar menyebabkan pembentukan dan penumpukan (akumulasi) surplus hanya terjadi pada pihak bandar sementara petani menjadi buruh di lahannya sendiri. Tidak jarang, akibat hubungan hutang-pitang semacam ini menyebabkan petani kehilangan lahan garapannya atau petani menjadi buruh di lahan garapannya sendiri. Kondisi semacam ini terus berlangsung hingga kini ketika warga berhasil mendapatkan akses lahan garapan (reclaiming) bahkan memiliki potensi rekonsentarsi penguasaan lahan pada elite desa yang memiliki kuasa ekonomi di desa.
Pilihan petani untuk bergabung kedalam Organisasi Tani Lokal Serikat Petani Pasundan (OTL SPP) menjadi strategi utama petani tanpa lahan dalam mengukuhkan aksi reclaming lahan di areal kehutanan maupun perkebunan.
Selain itu, keberadaan OTL di dua lokasi turut memperluas ruang negosiasi dengan negara terkait kepastian hak garap di atas lahan-lahan klaim kehutanan maupun perkebunan. Seiring dengan langkah tersebut, organisasi tani lokal ini pun turut menciptakan dan memanfaatkan kesempatan politik yang tersedia di desa maupun lintas desa untuk merundingkan kepentingan mereka seperti keterwakilan di BPD, anggota panitia pemungutan suara, pemilihan kades, anggota PKK, dan program pemberdayaan.
Baik di desa Sukatani maupun desa Dangiang, strategi penguatan produksi dan distribusi di tingkat petani dipandang sebagai cara-cara yang ditempuh oleh sebuah rumah tangga petani di tiap lapisan dengan menimbang ketersediaan sumber daya (akses dan kontrol) yang dimiliki oleh sebuah rumah tangga. Dalam konteks ini, strategi pemanfaatan lahan merupakan salah satu upaya penguatan produksi petani di dua lokasi guna mengurangi ketergantungan dengan pihak bandar maupun cukong.
Apabila di desa Dangiang, strategi konsolidasi modal petani telah masuk tahap penguatan kelembagaan ekonomi kolektif, di desa Sukatani masih tergantung pada hubungan-hubungan permodalan yang telah lama terbangun sebelum reclaiming, yakni hubungan petani dengan para bandar di desa.
Pada periode-periode awal gerakan bahkan hingga saat ini usaha mengamankan akses lahan garapan (tenure security) dari ancaman fisik pihak perkebunan dan kehutanan masih menjadi arena perjuangan utama (physical security). Adapun keberhasilan beberapa anggota organisasi tani lokal menjadi bandar dapat diartikan sebagai pergantian aktor lama oleh aktor baru dalam pola (struktur) produksi dan distribusi lama. Dengan kata lain, konsolidasi jalur distribusi kolektif belum terjadi.
Kata Kunci : Kemiskinan, Marginalisasi, Inisiatif Petani, Dataran Tinggi, Kabupaten Garut.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang–Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
(Studi Kasus Komunitas Petani di Dua Dataran Tinggi Garut)
MUHAMMAD YUSUF
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Sosiologi Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2011
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Arya H. Dharmawan, M.Sc.Agr
Nama : Muhammad Yusuf
NIM : I351060091
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Titik Sumarti MC, MS Dr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, MS
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Dr. Ir. Arya H. Dharmawan,M.Sc.Agr
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S
Tanggal Ujian : 10 Januari 2011 Tanggal Lulus :
Alhamdulillah. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga penulisan tesis dengan judul “Situasi Kemiskinan Dan Proses Marginalisasi Petani Dataran Tinggi Garut : Studi Kasus Komunitas Petani di Dua Dataran Tinggi Garut” berhasil diselesaikan dengan baik.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Titik Sumarti MC, M.S dan Ibu Dr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, M.S selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran, Bapak Dr. Ir. Arya H. Dharmawan. M.Sc.Agr selaku penguji tamu/luar komisi serta selaku ketua program studi Sosiologi Pedesaan IPB.
Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Endriatmo S, selaku Ketua Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta beserta staf atas dukungannya. Pimpinan Organisasi Tani Serikat Petani Pasundan beserta para tenaga pendamping. Prof. Sajogyo, Dr. Laksmi A. Savitri, Moh.
Shohibuddin, M.Si dan para kerabat keluarga besar Sajogyo Institute (Sains) atas segala dukungan moril yang telah diberikan. Rekan-rekan pegiat Agraria khususnya Bapak Noer Fauzi yang selalu memberikan masukan yang kritis.
Ungkapan terima kasih yang tulus dipersembahkan kepada Ayahanda H.
Syamsuddin Ismail, Ak dan Ibunda Hj. Siti Halimah, Kakanda Nugrahayu, Ak dan adinda Budi Muliani, ST., dr. Siti Aisyah, Muh. Basri S beserta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.
Hanya kepada Allah SWT kita patut berserah. Semoga segala amal ibadah kita senantiasa mendapat ridho-Nya dan semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat. Amin.
Bogor, Februari 2011
Muhammad Yusuf
Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 22 September 1979 dari Ayah H.
Syamsuddin Ismail, Ak dan Ibu Hj. Siti Halimah. Penulis merupakan anak putra kedua dari lima bersaudara.
Tahun 1998 penulis lulus dari SMUN 112 Jakarta dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB (Institut Pertanian Bogor) melalui jalur ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), dan diterima di Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Sejak Tahun 2005 penulis menjadi pegiat peneliti pada Sajogyo Institute. Pada tahun 2006 penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan Program Pascasarjana jenjang Magister (S2) pada Program Studi Sosiologi Pedesaan, Institut Pertanian Bogor (SPD–IPB).
Sejak Tahun 2009, penulis merupakan salah satu staf ahli DPD RI periode 2009- 2014.
xix DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ……….... xxi
DAFTAR GAMBAR ………..…….. xxiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Pertanyaan Penelitian ...
1.3 Tujuan Penelitian ...
1.4 Manfaat Penelitian ...
1 6 6 6 BAB II PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Masyarakat Petani (Peasant Society) ……….……....
2.2 Usaha Tani di Pedesaan ………...
2.3 Masyarakat Perkebunan dan Kehutanan Indonesia ………...
2.4 Kemiskinan, Marginalisasi dan Ekspansi Surplus di Pedesaan ...
2.5 Etika Subsistensi Upaya Protes Petani ………..………….
2.6 Review Beberapa Studi Terkait ………..……….…..
2.7 Kerangka Konseptual ……….
9 10 12 16 23 25 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Kerja Penelitian ………...
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian ………
3.3 Level dan Unit Analisis ………...
3.4 Metode Pengumpulan Data ………...
3.4.1 Telaah Rantai Komonitas ………
3.4.2 Rejim Ketenagakerjaan (Labour Regimes) ...
3.4.3 Participatory Poverty Assessment (PPA) ………...
3.4.4 Principal Component Analysis (Factor Analysis) …………...
3.4.5 Teknik Penggalian Data ………...
3.5 Teknik Analisis Data ……….
33 34 35 36 37 39 40 40 41 42 BAB IV STRUKTUR SUMBERDAYA DAN SETTING AGRO-
EKOLOGI KOMUNITAS DATARAN TINGGI GARUT 4.1 Bentang Alam dan Posisi Administratif ………....
4.2 Peta Sumber Daya Agraria ………....
4.3 Kependudukan, Tenaga Kerja dan Pendidikan ……….
4.4 Struktur Ekonomi Wilayah ………...
4.5 Struktur Agro-Ekologi dan Pola Produksi Lokal ………..
4.5.1 Struktur Agraria Lokal ………...
4.5.2 Pola Produksi dan Budidaya Lokal ...
4.5.3 Skala Usaha Tani untuk Beberapa Komoditas ………....
45 47 49 50 52 52 55 56
xx
4.6 Ikhtisar ………... 61 BAB V SITUASI KEMISKINAN RUMAH TANGGA PETANI DI
PEDESAAN DATARAN TINGGI GARUT
5.1 Tipologi Tingkat Perkembangan Desa ...
5.2 Indikator Kemiskinan Warga Desa Dangiang ...
5.3 Indikator Kemiskinan Warga Desa Sukatani ...
5.4 Perbandingan Ukuran Kemiskinan di Dua Desa ...
5.5 Ikhtisar ...
65 70 73 74 75 BAB VI PROSES MARGINALISASI JILID I : AKIBAT
KEBIJAKAN NEGARA
6.1 Membaca Ulang Penetapan Kawasan Kehutanan dan Perkebunan ..
6.2 Riwayat Marginalisasi Petani Desa Dangiang ...
6.3 Riwayat Marginalisasi Petani Desa Sukatani ...
6.4 Ikhtisar ...
79 83 87 92 BAB VII PROSES MARGINALISASI JILID II : AKIBAT POLA
PRODUKSI DAN DISTRIBUSI
7.1 Melacak Jejak Marginalisasi Arus Bawah ...
7.2 Sumber Kredit dan Ketersediaan Sarana Produksi ...
7.3 Hubungan Produksi, Jejaring Pemasaran dan Isolasi Pasar ...
7.4 Proses Diferensiasi dan Penyingkiran Petani ...
7.5 Ikhtisar ...
95 96 98 103 105 BAB VIII INISIATIF PETANI DATARAN TINGGI DALAM
UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN
8.1 Kepastian Hak Garap ...
8.2 Pola Pemanfaatan Lahan dan Budidaya ...
8.3 Konsolidasi Modal ...
8.4 Ikhtisar ...
107 110 112 114 BAB IX MUARA STUDI : SEBUAH CATATAN PENUTUP 109
9.1 Kesimpulan ...
9.2 Saran ...
117 120 DAFTAR PUSTAKA ………... 123
xxi
Halaman Tabel 3.1 Jenis Informasi, Sumber dan Metode ... ... 42 Tabel 4.1 Luas Kawasan Hutan `yang Dikuasai Negara di Kabuaten Garut,
tahun 2001 ... 48 Tabel 4.2 Luas Kawasan Hutan yang Dikuasi PT. Perhutani KPH Garut,
Tahun 2002 ... 48 Tabel 4.3 Luas Perkebunan Besar Negara dan HGU Swasta di Kabupaten
Garut, Tahun 1998 ... 48 Tabel 4.4 Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Garut
(Per Periode Sensus Penduduk) ... 49 Tabel 4.5 Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha ... 50 Tabel 4.5 Persentase Penduduk Berdasarkan Ijazah Tertinggi yang Dimiliki
dan Kemampuan Baca-Tulis di Kabupaten Garut Tahun 2008 ... 50 Tabel 4.7 Perbandingan Dan Perkembangan Struktur Ekonomi Serta
Sektor-Sektor Ekonomi Kabupaten Garut Terhadap Jawa Barat periode 2000-2007 ( persen) ... 51 Tabel 4.8 Biaya Produksi Budidaya Akar Wangi untuk Luasan 6.400 m2 ... 58 Tabel 4.9 Biaya Produksi Budidaya Kentang untuk Luasan 1 Ha ... 58 Tabel 4.10 Biaya Produksi Budidaya Wortel untuk Luasan 1 Ha ... 59 Tabel 4.11 Biaya Produksi Budidaya Kol untuk Luasan 1 Ha ... 59 Tabel 4.12 Biaya Produksi Budidaya Tomat untuk Luasan 1 Ha ... 60 Tabel 4.13 Perbandingan R/C dari setiap komoditas yang diusahakan ... 60 Tabel 4.14 Perbandingan Pola Pemanfaatan Lahan di Dua Lokasi ... 61 Tabel 5.1 Matriks Tipologi Desa di Kabupaten Garut Tahun 2008 ... 67 Tabel 5.2 Tipe Desa Berdasarkan Sumber Penghasilan Utama Penduduk ... 69
xxii
Tabel 6.1 Semangat (Visi dan Misi) dan Lingkup Pengaturan SDA pada 11 Undang-Undang ... 81 Tabel 6.2 Tingkat Perkembangan Ekonomi Warga Berdasarkan Letak Desa ... 82 Tabel 6.3 Sejarah Akses dan Kontrol Lahan Perkebunan di Desa Dangiang .... 84 Tabel 6.4 Sejarah Akses dan Kontrol Lahan Kehutanan di Desa Sukatani ... 91 Tabel 8.1 Upaya Penguatan Produksi dan Distribusi Petani Lapisan Bawah
di Dua Dataran Tinggi ... 114
xxiii
Halaman Gambar 4.1 Peta Wilayah Administratif Propinsi Jawa Barat ... 45 Gambar 4.2 Luas Wilayah Menurut ketinggian ... 46 Gambar 4.3 Klasifikasi Desa Berdasarkan Potensi Sumberdaya dan Aktivitas
Warga ... 47 Gambar 4.4 Peta Lokasi Kecamatan Penelitian ... 54 Gambar 7.1 Pola Distribusi Tanaman Sayuran di Daerah
Hamparan Papandayan ... 100 Gambar 6.2 Pola Distribusi Tanaman Akar Wangi di Daerah
Hamparan Cikuray ... 102
1.1. Latar Belakang
Perubahan rejim ekonomi politik di Indonesia yang terjadi satu dasawarsa terakhir dalam beberapa hal masih menyisakan beberapa permasalahan mendasar di negeri ini. Dari berbagai studi mutakhir belakangan ini menunjukkan, terjadinya kemiskinan masif yang diderita oleh sebagian besar penduduk khususnya di pedesaan, meningkatnya angka pengangguran terbuka, konsentrasi kepemilikan aset oleh sekelompok kecil masyarakat, sengketa dan konflik agraria, krisis pangan dan energi, dan penurunan kualitas lingkungan hidup merupakan realitas objektif yang menyertai arah perubahan tersebut. Berbagai permasalahan yang bersifat struktural tersebut pada prateknya menyebabkan hilangnya akses masyarakat pedesaan khususnya petani terhadap sumber-sumber penghidupan.
Data kemiskinan yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2007 menunjukkan, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 37,17 juta jiwa atau 16,58 persen dari total populasi Indonesia. Di kawasan perkotaan, percepatan kemiskinan tersebut adalah 13,36 persen, sedangkan di kawasan perdesaan men- capai 21,90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan paling banyak dialami oleh penduduk pedesaan yang pada umumnya bekerja sebagai petani dan buruh tani. Dari total penduduk miskin di Indonesia, sekitar 66 persen berada di pedesaan dan 56 persen di antaranya menggantungkan hidup dari pertanian.
Membuka kembali lembaran sejarah dinamika masyarakat pedesaan di Indonesia khususnya Jawa, pada era 70an hingga periode awal 90 atau saat orde pembangunan pro pertumbuhan, pembangunan pertanian sangat bertumpu pada agenda revolusi hijau yang menekankan intensifikasi pertanian pangan khususnya padi sawah di daerah dataran rendah. Hal ini sangat dimungkinkan karena perubahan kebijakan produksi di sektor pertanian padi merupakan faktor yang sangat penting dan dominan mengingat tidak hanya karena banyaknya tenaga kerja pedesaan yang terserap di pertanian padi sawah akan tetapi juga karena padi merupakan tanaman yang secara politis paling sensitif di Indonesia. (White 1996)
Seperti yang diutarakan Li (2002), setidaknya selama kurun waktu 60 hingga 80-an, sejumlah studi telah dilakukan untuk melihat perubahan ekonomi- politik khususnya di dataran rendah Indonesia akibat pengaruh agenda “revolusi hijau” pada pertanian padi sawah atau lahan basah. Berkat pengenalan jenis padi unggul baru, penggunaan pupuk kimia industri dan introduksi teknologi telah memungkinkan peningkatan hasil panen yang signifikan. Akan tetapi menurut White (1989) dalam Li (2002), penyebarluasan masukan-masukan teknik tersebut pada prakteknya membawa nilai sosial yang tidak netral. Hal ini tergambar dari adanya program kredit baru dan mahalnya biaya administrasi untuk mengakses berbagai teknologi revolusi hijau sering kali hanya menguntungkan petani lapisan atas di desa sehingga justru terus memperluas jarak kesenjangan.
Demikian juga dengan usaha untuk memaksimumkan keuntungan dari kegiatan usahatani telah mendorong para petani di dataran rendah memperkenalkan bentuk serikat pekerja yang lebih restriktif yang sangat merugikan para buruh tani (landless) khususnya kaum perempuan. Selain itu, distribusi sarana usahatani dan pemasaran hasil panen yang menuntut adanya efisiensi memerlukan investasi besar dalam pembangunan infrastruktur pedesaan.
Pada gilirannya, kondisi tersebut telah memudahkan penyebarluasan barang konsumsi, gerakan para investor memasuki bidang pertanian di pedesaan dan menyebarnya gaya hidup baru di pedesaan. Hal ini menunjukkan keberhasilan gagasan “revolusi hijau” dibarengi oleh makin meluasnya kemampuan birokrasi negara (pemerintah) dalam mengatur dan mengontrol wilayah pedesaan. (Li 2002) Di tengah fokus perhatian studi masyarakat pedesaan lebih memfokuskan pada wilayah agroekosistem padi sawah di dataran rendah, studi pada tanaman berbasis ekspor atau produksi tanaman perdagangan lainnya sangat terbatas.
Dengan demikian, upaya mendapatkan gambaran yang seimbang mengenai corak perubahan pertanian mutakhir di Jawa khususnya di dataran tinggi melalui serangkaian fokus studi yang lebih luas sangat diperlukan sebagaimana studi yang telah dirintis Pelluso (1992) tentang masyarakat hutan dan Hefner (1990) tentang masyarakat dataran tinggi. (White 1996)
Khusus di wilayah tatar Sunda, Kabupaten Garut merupakan salahsatu daerah dataran tinggi yang merupakan cerminan dari berbagai permasalahan yang hadir ditengah-tengah kehidupan masyarakat pedesaan yang berbasis agraris.
Sebagai salahsatu Kabupaten di Propinisi Jawa Barat, kontribusi nilai tambah di sektor pertanian yang tercipta di Kabupaten Garut mencapai 48,03 persen. Angka persentasi tersebut telah memberikan kontribusi pertanian Kabupaten Garut terhadap penciptaan nilai tambah Jawa Barat sebesar 12,63 persen (BPS Kabupaten Garut 2007). Hal ini sangat beralasan mengingat kondisi topografi wilayahnya yang sebagian besar merupakan dataran tinggi atau perbukitan yang berada disekitar kawasan gunung berapi dengan kondisi lahan pertanian memiliki tingkat kesuburan yang baik.
Selain lahan pertanian yang dikuasai warga, pola pengusaan dan penggunaan lahan yang dominan adalah hadirnya peran serta negara dan swasta dalam mengelola kawasan hutan dan perkebunan besar yang merupakan jejak tapak atau warisan model penguasaan ruang hidup di pedesaan oleh pemerintah kolonial Belanda. Menurut BPS Kabupaten Garut, hingga tahun 2000 persentase luas wilayah kehutanan dan perkebunan mencapai 50 persen dari keseluruhan wilayah kabupaten dan merupakan persentase terbesar diantara seluruh Kabupaten di pulau Jawa.
Seperti yang terlihat pada Kecamatan Cisurupan maupun Cilawu yang merupakan fokus lokasi studi ini, mayoritas areal pertanian warga desa di dua lokasi tersebut berdampingan dengan areal klaim penguasaan perusahaan kehutanan (Perhutani Unit III KPH Garut) dan perkebunan (PTPN VIII Dayeuh Manggung). Hal yang perlu dicatat, sebelum tahun 2000an, profil dari sebagian besar rumah tangga petani (RTP) disekitar kawasan klaim perusahaan kehutanan dan perkebunan negara merupakan kategori petani tuna kisma (landless) dan masuk dalam kategori miskin. Jumlah tersebut untuk sebagian para pemerhati pedesaan diramalkan akan terus meningkat.
Meskipun paparan sebelumnya menunjukkan bahwa persentase kontribusi pertanian yang cukup prestisius dan hadirnya perusahaan kehutanan dan perkebunan milik negara dan swasta yang diharapakan mampu mendorong
peningkatan pendapatan warga disekitar areal tersebut, pada realitasnya berbanding terbalik dengan kondisi keberdayaan ekonomi warga. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nota Pengantar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Garut 2009-2014, Kabupaten Garut merupakan daerah tertinggal dengan jumlah penduduk miskin berkisar 15,32 persen dari total 2,2 juta penduduk dan jumlah pengangguran terbuka usia 10 tahun ke atas mencapai 10,11 persen. (Harian Kompas, 2009)
Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Garut pada tahun 2008, jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang tergolong hampir miskin, miskin dan sangat miskin di Kabupaten Garut mencapai 221.010 rumah tangga dan kurang lebih 44,5 persen. Diantara jumlah RTS tersebut merupakan rumah tangga yang hampir mendekati garis kemiskinan sehingga berada dalam posisi yang sangat rentan. Dari data PPLS tersebut rumah tangga hampir miskin, miskin dan sangat miskin terbanyak berada di Kecamatan Garut Kota (11.548 RTS), disusul Kecamatan Cisurupan (10.028 RTS) dan Kecamatan Cilawu (9.533 RTS) (Harian Kompas, 2009). Alhasil, besaran persentase tersebut menenempatkan Kabupaten Garut pada urutan ketiga setelah Kabupaten Bogor dan Sukabumi sebagai daerah tertinggal dari 26 kabupaten/kota yang terdapat di propinsi Jawa Barat. Sementara untuk wilayah Priangan (Bandung, Tasikmalaya, Garut dan Ciamis), jumlah tersebut menempati urutan tertinggi (Harian Seputar Indonesia 2009).
Selain tingginya angka kemiskinan dan ketuna-kismaan yang dialami warga di pedesaan, Bachriadi (2009) menyebutkan pasca runtuhnya rejim otoriter orde baru turut ditandai dengan hadirnya bentuk-bentuk gerakan yang menuntut keadilan agraria yang tampil ke permukaan. Kondisi yang demikian ini turut mewarnai dinamika sosial-ekonomi warga pedesaan di dataran tinggi Garut khususnya di wilayah Kecamatan Cisurupan dan Cilawu. Oleh Fauzi (2009), gerakan ini pada prateknya juga ikut memanfaatkan kehadiran ruang-ruang politik baru sebagai ajang pertarungan dan perundingan antara berbagai pihak, baik horizontal maupun vertikal. Lebih lanjut, Fauzi (2009) mengungkapkan, kehadiran ruang-ruang politik baru di pedesaan pada dasarnya merupakan akibat dari pengaruh kebijakan desentralisasi, proyek-proyek pengembangan masyarakat
dan perbaikan lingkungan dari pemerintah dan Perhutani, maupun kerja-kerja dampingan dari organisasi non-pemerintah.
Dalam konteks studi ini, kemiskinan tidak dilihat hanya sebagai suatu hasil pengukuran dari aspek ekonomi semata akan tetapi merupakan situasi yang tercipta akibat rejim pembangunan ekonomi yang sangat berorientasi pada ideologi kapitalisme. Selain itu, dari berbagai studi mengenai dinamika sosial- ekonomi pedesaan agraris di Indonesia, kemiskinan yang dialami suatu komunitas merupakan suatu akibat atau konsekwensi dari hadirnya relasi-relasi kuasa yang timpang atas penguasaan sumber-sumber produksi dan jalur distribusi atau dapat dikatakan sebagai kemiskinan yang bersifat struktural.
Situasi kemiskinan suatu komunitas tidak berdiri bebas dalam ruang dan waktu. Dirinya dipandang sebagai suatu proses yang terlembagakan dan hadir dalam sejarah perkembangan komunitas itu sendiri. Mengikuti pendapat Mosse (2007), kemiskinan merupakan hasil dari sejarah dan dinamika kapitalisme kontemporer, meliputi proses-proses akumulasi, perampasan, diferensiasi dan eksploitasi dengan turut mempertimbangkan mekanisme sosial, kategori dan identitas yang melanggengkan ketidaksetaraan dan memfasilitasi hubungan yang eksploitatif.
Sebagai lokasi yang dipilih pada studi ini, yakni desa Dangiang (hamparan Gunung Cikuray) dan desa Sukatani (hamparan Gunung Papandayan), hadirnya bentuk-bentuk inisiatif petani kecil dalam memanfaatkan kesempatan politik yang tersedia di desa melalui keterlibatannya dalam organisasi tani lokal, pada satu sisi telah membuka permasalahan ketimpangan agraria akibat masuknya perusahaan perkebunan dan kehutanan baik dari pihak swasta maupun negara dan pada sisi yang lain turut mempengaruhi kondisi kesejahteraan petani dataran tinggi Kabupaten Garut.
Dari berbagai ulasan diatas maka pertanyaan penelitian ini (research questions) adalah bagaimana situasi kemiskinan dan proses marginalisasi yang dialami oleh petani di dua dataran tinggi Kabupaten Garut?
1.2. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah situasi dan karakteristik kemiskinan yang dialami oleh petani dataran tinggi Garut?
2. Bagaimanakah proses marginalisasi komunitas petani yang hadir dalam hubungan-hubungan produksi dan distribusi serta implikasinya terhadap penciptaan kemiskinan petani di dua dataran tinggi?
3. Sejauhmana inisiatif petani lokal di dua dataran tinggi dalam merespon persoalan kemiskinan dan proses marginalisasi yang hadir dalam hubungan produksi dan distribusi?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis situasi dan karakteristik kemiskinan yang dialami oleh petani dataran tinggi Garut.
2. Menganalisis proses marginalisasi komunitas petani yang hadir dalam hubungan-hubungan produksi dan distribusi serta implikasinya proses penciptaan kemiskinan komunitas.
3. Memahami inisiatif petani lokal di dua dataran tinggi dalam merespon persoalan kemiskinan dan proses marginalisasi yang hadir dalam hubungan produksi dan distribusi.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan dasar pijakan dalam memahami dan mengupayakan pengentasan kemiskinan di level komunitas dengan memandang kemiskinan sebagai akibat adanya marginalisasi petani di pedesaan yang melekat pada sejarah perkembangan komunitas tersebut. Selain itu, studi ini dapat memberikan penjelasan tentang berbagai inisitaif petani dalam menata relasi kuasa atas sumber-sumber produksi dan jalur distribusi yang timpang di pedesaan.
Dengan demikian, studi ini diharapkan dapat menjadi hulu dari wacana dan praktek “industrialiasi pedesaan” dengan mensyaratkan adanya organisasi sosial
yang bersifat industrial. Tentu saja, ditengah kompleksitas dan beragamnya fokus kajian, diharapkan hasil dari penelitian ini merupakan suatu wujud dari upaya reproduksi dan akumulasi pengetahuan mengenai proses marginalisasi dan kemiskinan di pedesaan Indonesia serta dapat mendorong penelitian yang lebih beragam dan mendalam.
2.1. Masyarakat Petani (Peasant Society)
Menurut Boeke, ciri khas suatu masyarakat dapat dikenali lewat keberkaitan unsur-unsur dasar yang terdapat dalam sebuah masyarakat tersebut yakni, bentuk- bentuk organisasi dan teknik-teknik yang mendukungnya atau disebut sebagai sistem sosial dimana tiap-tiap sistem sosial memiliki mempunyai teori ekonomi tersendiri. Begitu pun sebaliknya, teori ekonomi selalu merupakan teori mengenai sistem sosial tertentu yang keduanya dibentuk oleh sejarah masyarakatnya sendiri.
(Boeke dalam Sajogyo 1982)
Mengacu pendapat Shanin (1971), terdapat empat aliran/tradisi utama pemikiran (mainstream of thought) dalam memahami masyarakat tani, yakni:
Pertama, tradisi Marxian yang memahami masyarakat tani dari pendekatan hubungan kekuasaan atau lewat analisis kelas. Dalam pendekatan ini, masyarakat tani dipandang sebagai unit produksi dari formasi sosial awal (pre-capitalist producers) yang tereksploitasi akibat struktur kekuasaan yang ada. Kedua, pendekatan Chayanovian yang memandang struktur masyarakat tani ditentukan oleh sistem ekonomi yang khas (specific type of economy).
Ketiga, pendekatan Etnografi Barat yang memahami masyarakat tani sebagai representasi masyarakat yang mengalami cultural lag. Dan keempat, tradisi Durkheimian yang membagi masyarakat dalam dua kategori yakni masyarakat tradisonal/anorganik dan masyarakat modern/organik yang bersandar pada pembagian kerja dan hubungan antar unit. Selanjutnya Shanin (1971) mencirikan masyarakat tani sebagai sebagai berikut, yakni: (1) satuan keluarga (rumah tangga) petani adalah satuan dasar dalam masyarakat desa yang berdimensi ganda; (2) petani hidup dari usahatani dengan mengolah tanah (lahan);
(3) pola kebudayan petani berciri tradisional dan khas; (4) petani menduduki posisi rendah dalam masyarakat, mereka adalah “orang kecil” terhadap masyarakat diatas desa.
Sementara Kurtz (2000) menjabarkan empat dimensi definisi petani yakni, Pertama, konsepsi minimalis yang memandang petani sebagai “pengolah tanah”
di pedesaan. Kedua pendekatan antropologi yang menyatakan komunitas petani yang bercirikan perilaku budaya yang berbeda dengan pola budaya “urban”.
Ketiga pendekatan ekonomi moral yang menyatakan petani tersubordinasi kuat oleh kekuasaan dari luar. Keempat tradisi Marxian yang menganggap petani merupakan kombinasi dari tiga dimensi, yakni pengolah tanah, komunitas tersubordinasi dan dimensi penguasaan/pemilikan lahan yang diolah petani. Dan kelima, konsepsi Weberian yang memandang petani sebagai kombinasi dari keempat dimensi sebelumnya. Analisa Shanin (1984) dan Moore (1966) tentang ciri masyarakat petani adalah contoh dari pendekatan Weberian ini. Hal yang mesti digariskan bahwa konsep peasant juga berlaku bagi komunitas nelayan seperti yang digunakan oleh Redfield.
Menurut Chayanov, yang terjadi pada masyarakat pedesaan bukanlah diferensiasi sosial seperti apa yang diyakini oleh penganut Marxian ortodoks melainkan yang terjadi adalah diferensiasi demografis (Kerblay 1971) sehingga sekelompok keluarga-tani tidak dapat menduduki posisinya dalam satu stratum dalam masyarakat secara mapan; atau bahkan tak cukup lama untuk dapat mengkonsolidasikan dirinya sebagai suatu kelas dalam arti suatu rumah tangga petani dapat menjadi kaya pada suatu waktu dan dapat menjadi miskin kemudian atau sebaliknya. (Wiradi 1993)
2.2. Usahatani di Pedesaan
Memahami Usahatani di pedesaan dapat digolongkan dalam dua kategori perspektif utama, yakni ekonomi neo-klasik dan ekonomi politik Marxian. Selain dua kategori tersebut, perspektif neo-populis turut menyediakan berbagai argumentasi yang berbeda terhadap dua perspektif sebelumnya. Menurut Ellis (1993), perpsektif neo-klasik bersandar pada individu baik perusahaan, konsumen, maupun rumah tangga sebagai unit ekonomi dengan memisahkan aspek sosial dan politik dengan aktivitas ekonomi. Sementara, pada perspektif Marxian, antara ekonomi dan sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Menurut Wiro (1999), studi mengenai ekonomi rumah tangga pada prinsipnya berkenaan dengan pengkajian tentang struktur kompleks dan perilaku dari suatu rumah tangga yang meliputi struktur demografi, proses pengambilan keputusan, alokasi sumber daya, pola nafkah, dan pembagian kerja dalam rumah tangga. Berdasarkan tradisi neo-klasik, model ekonomi rumah tangga dibagi dalam dua tipe, yakni the unitary model of household behaviour dan collective model of household behaviour. Kedua tipe tersebut bersandar pada teori pilihan konsumen (the consumer choice theory). Pada teori pilihan konsumen mengasumsikan bahwa seluruh unit rumah tangga bersifat rasional dimana penilaian terhadap waktu, jenis barang yang diproduksi dan dikonsumsi ditentukan oleh mekanisme pasar.
Asumsi yang terdapat pada the unitary model of household behaviour, keputusan dalam menentukan tujuan ditentukan bersama oleh anggota keluarga dengan kata lain seluruh anggota rumah tangga memiliki preferensi yang sama terhadap utilitas. Selain itu, rumah tangga tidak hanya dipandang sebagai unit satuan konsumsi melainkan juga berindak sebagai produsen. Dalam konteks ini, karakteristik utama dari model ini adalah rumah tangga yang harmonis atau tidak mengakomodir adanya konflik dalam rumah tangga. Tipe collective model of household behaviour, lebih menekankan keberadaan individu dalam anggota rumah tangga. Tipe ini sering juga disebut sebagai pruralistic decision-making within familiy. Berbeda dengan tipe sebelumnya, tipe collective model of household behaviour berasumsi bahwa dalam setiap anggota rumah tangga tidak memiliki preferensi yang sama terhadap fungsi utilitas (Wiro 1999).
Sementara Ellis (2000) mengartikan rumahtangga sebagai tempat di mana ketergantungan sosial dan ekonomi antara kelompok dan individu terjadi secara teratur. Rumahtangga diartikan sebagai kelompok sosial yang tinggal di satu tempat, berbagi makanan yang sama, membuat keputusan bersama mengenai alokasi sumberdaya dan pendapatan. Sebagai suatu unit sosial ekonomi, rumahtangga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: (a) alokasi sumberdaya yang memungkinkan untuk memuaskan kebutuhan rumahtangga, (b) jaminan terhadap berbagai tujuan rumahtangga, (c) produksi barang dan jasa, (d) membuat keputusan atas penggunaan pendapatan dan konsumsi, (e) fungsi hubungan sosial
dan hubungan dengan masyarakat luar, dan (e) reproduksi sosial dan material dan keamanan sosial terhadap anggota rumahtangga.
Sementara Chayanov, menyatakan bahwa teori ekonomi modern (kapitalis) tidak dapat diterapkan untuk menganalisis masyarakat petani pedesaan.
Menurutnya prinsip ekonomi modern (kapitalistik) adalah sistem ekonomi yang kompleks dimana unsur penyusunnya terdiri dari harga, modal, upah, bunga dan sewa yang saling berhubungan secara fungsional. Apabila satu unsur hilang maka konsepsi ekonomi modern itu dengan sendirinya runtuh. Masyarakat petani dengan demikian harus diperlakukan sebagai suatu sistem ekonomi yang memiliki rasional tersendiri (a specific type of economy) dimana motif utama aktivitas ekonomi keluarga lebih kepada mengamankan kebutuhan subsistensi bukan mengejar keuntungan dan sumber tenaga kerja berasal dari keluarga (peasant ownerships without hired labour) (Wiradi 1993).
Mengikuti Sajogyo (2006), agenda modernisasi pertanian di Indonesia berpangkal dari dua tipe ekonomi usahatani (satuan rumah tangga), sumberdaya pedesaan yakni sektor pertanian pangan (padi) dan sebagian lain, khususnya di luar Jawa pertanian komersil berorientasi ekspor. Pada tipe yang pertama dibebani tugas untuk menyediakan kebutuhan pangan dan sebagai penopang agenda industrialisasi nasional. Sementara pada tipe yang kedua dibebani oleh kepentingan devisa negara bersama perluasan dan pembaharuan sub sektor perkebunan. Dengan motif mengejar pendapatan devisa negara, pemerintah dengan berbagai program dalam semangat ‘revolusi hijau’ melakukan intervensi program peningkatan produktifitas pertanian secara luas seperti program Bimas, akses terhadap kredit, introdusir teknologi dan sebagainya.
2.3. Masyarakat Perkebunan dan Kehutanan di Indonesia
Praktek-praktek pengelolaan sumberdaya agraria di negara berkembang seperti Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang praktek-praktek warisan kolonial oleh negara agraris Barat (Eropa) di negeri jajahan. Dalam bentuk yang paling nyata, pengelolaan sumberdaya lahan pertanian yang mewarisi
relasi kolonial adalah kehadiran perusahaan perkebunan dan kehutanan, baik milik negara maupun swasta.
Gerakan kolonialisme yang didukung oleh perkembangan kapitalisme agraris Barat, memandang tanah jajahan menjadi sumber kekayaan bagi negara induk. Tersedianya tanah dan tenaga kerja murah yang melimpah di negara jajahan, memungkinkan untuk dilakukan eksploitasi produksi pertanian yang menguntungkan bagi pasaran dunia. Sistem perkebunan dalam hubungan ini dipandang sebagai cara yang tepat untuk diterapkan. Pelaksanaan sistem perkebunan dimulai dengan melalui pembukaan penanaman modal dan teknologi dari luar, dan memanfaatkan tanah dan tenaga kerja yang tersedia di daerah jajahan. Pembukaan perkebunan, menimbulkan lingkungan baru, yaitu lingkungan perkebunan. Lingkungan perkebunan ini biasanya dibentuk oleh kesatuan lahan penanaman komoditi perdagangan, pusat pengolahan produksi (pabrik), dan komunitas permukiman penduduk yang terlibat dalam kegiatan perkebunan.
Dalam perjalanannya, kehadiran komunitas perkebunan di tanah jajahan, melahirkan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan setempat baik dari segi lokasi, tata ruang, ekologi, maupun organisasi sosial dan ekonomi. (Kartodirjo dan Suryo 1991)
Secara topografis, perkebunan sering dibangun di daerah yang subur, baik yang ada di daerah dataran rendah maupun yang ada di daerah dataran tinggi.
Tanaman yang dibudidayakan homogen (komoditi ekspor), dan berbeda dengan aturan tanaman pertanian subsisten setempat. Demikian pula organisasi dan sistem kerja, serta proses produksinya. Bentuk dan orientasi lingkungan perkebunan yang lebih tertuju ke dunia luar, menjadikan lingkungan perkebunan seolah-olah terpisah dari lingkungan agraris setempat. Lebih-lebih karena perkebunan memiliki teknologi yang maju, maka perbedaan dengan lingkungan sekitarnya semakin menonjol. Karena itu kehadiran sistem perkebunan di lingkungan masyarakat agraris di tanah jajahan atau negara-negara berkembang, dianggap telah menciptakan tipe perekonomian kantong (enclave economics) yang bersifat dualistik (dualistic economy). Dualisme perekonomian kantong timbul sebagai akibat dari adanya sektor-sektor perekonomian yang berbeda tingkat produktivitas dan orientasi pemasarannya, akan tetap hidup secara berdampingan. Di satu pihak,
perkebunan muncul sebagai kegiatan ekonomi yang memiliki tingkat produktivitas tinggi dan menghasilkan produksi untuk ekspor, di lain pihak, sektor kegiatan ekonomi lainnya memiliki tingkat produktivitas rendah dan menghasilkan produksi untuk pasaran dalam negeri. (Kartodirjo dan Suryo 1991)
Masyarakat perkebunan merupakan miniatur masyarakat kolonial pada umumnya, serta menunjukkan karakteristik yang sama, antara lain: (1) pluralistik, (2) tersegmentasi menurut golongan etnik, (3) rasialistik, (4) dualistik berdasarkan sistem ekonomi Eropa dan non-Eropa, (5) dominasi sosial, ekonomi dan politik kaum kolonial; berdasarkan itu kesemuanya juga terdapat perbedaan gaya hidup.
Apabila pada umumnya gaya hidup menunjukkan status golongan dalam masyarakat, maka gaya hidup sendiri menjadi simbol posisi sosial golongan tertentu, termasuk kekayaan, kekuasaan serta kewibawaan. (Kartodirjo dan Suryo, 1991)
Mengutip pendapat Beckford (1972), White (1990) mengungkapkan, perkebunan (plantation) atau perusahaan kehutanan besar (agro-industri) merupakan penyebab utama keterbelakangan dan kemiskinan kronis (persistent poverty) karena dalam bentuk klasiknya ditandai oleh : 1) tingkat upah yang sangat rendah dibanding apa yang berlaku pada sektor-sektor lain (tidak menimbulkan consumption/demand lingkages yang berarti dengan sektor-sektor lain); 2) adanya sistem produksi, pengolahan dan pengemasan yang terintegrasi vertikal, sehingga hanya sedikit membutuhkan masukan dari unsur-unsur luar (kurang memiliki production lingkages dengan ekonomi sekitarnya) dan; 3) karena bentuk pemilikannya, menunjukkan pembocoran (leakage) dimana keuntungan (surplus) keluar dari perekonomian lokal sehingga baik perkebunan yang modern dan serba efisien pun tetap tidak akan mendukung pengembangan serta akumulasi pada wilayah dimana perkebunan berada (Sajogyo dan Tambunan 1990).
Selain perkebunan, penguasaan lahan kehutanan oleh negara maupun swasta merupakan salahsatu jejak praktek-praktek kolonial di Indonesia. Dalam lintasan sejarah, menjelang akhir abad ke 19, sebuah konsep pengelolaan hutan yang berkelanjutan oleh negara – dan demi keuntungan negara sendiri – mulai
mempengaruhi para pengelola hutan-hutan Jawa sementara konsep ini memapankan diri di negeri-negeri lain. Dinas Kehutanan, yang berawal sebagai perusahaan produksi, mengembangkan perannya selaku pelindung dengan memperluas kegiatan pengawasan dan memformalkan suatu ideologi yang baru muncul, yakni konservasi oleh negara. Undang-undang Kehutanan Tahun 1927 adalah kulminasi dari setengah abad kegiatan “coba dan ralat”. Undang-undang itu mewakili penegakan suatu ideologi legitimasi negara untuk menguasai seperempat luasan tanah pulau Jawa (Pellusso 2008). Lewat pengamatannya di wilayah Cibodas pada pra-kemerdeakaan 1945, Sajogyo (1976) mengungkapkan, pelepasan desa dari wilayah hutan yang dikuasai pemerintah khususnya di Jawa Barat telah berlangsung baik lewat aturan tanam paksa komoditas ekspor seperti kopi yang berakhir pada tahun 1915 maupun yang diperkuat oleh UU, patok-patok batas dan polisi kehutanan.
Selain itu, wilayah hutan di Jawa yang terletak di daerah perbukitan dan pegunungan juga telah banyak diserahkan pengelolaannya berikut hak-hak istimewa kepada pihak perusahaan perkebunan teh, kopi, dan sebagainya. Kedua kondisi tersebut turut mempengaruhui pertumbuhan desa-desa di Jawa. Adapun hubungan yang sah antara warga desa desa dengan pihak penguasa kehutanan tersalurkan dalam bentuk ikatan buruh tumpang sari atau buruh biasa kehutanan dimana kondisi yang demikian ini sebagian banyak tak berbeda dengan perkebunan besar. Sehingga tidak mengherankan, petani di lapisan bawah (petani gurem dan buruh tani) yang paling sering memanfaatkan peluang pekerjaan di hutan (Sajogyo 1973).
Penetrasi perusahaan kehutanan dan perkebunan negara tidak hanya berhasil melepaskan petani (direct producer) dari lahan garapan mereka akan tetapi turut merubah hubungan-hubungan produksi agraris dan rejim ketenagakerjaan di pedesaan. Seperti yang diungkapkan Pelluso (2008), sarana-sarana penguasaan atas tenaga kerja terus berproses dan bergeser sejak abad ke 17 hingga abad ke 20, dari persewaan hak memanen hutan dan hak menggunakan tenaga kerja penduduk hutan, lalu ke kewajiban menyetor kayu, ke pertukaran jasa kerja dengan pembayaran sewa tanah, sampai dengan peningkatan pungutan pajak dan pengaturan kerja upahan di hutan.
Menjelang pertengahan abad kedua puluh, penduduk desa tidak dapat lagi melarikan diri dari beratnya kehidupan ke bagian-bagian yang jauh dan terpencil di dalam hutan, terlebih karena semakin hilangnya tempat yang jauh dan terpencil di dalam hutan. Penduduk desa mengandalkan cara sembunyi untuk memperoleh bahan bangunan dan bahan untuk memasak makanan; ada yang menerima petak kecil lahan peremajaan hutan untuk digarap sebagai pertanian sementara. Para pencocok tanam pedesaan yang bekerja di hutan menyubsidi investasi kehutanan negara dengan menghasilkan sendiri pangan mereka, entah itu dari tanah mereka sendiri atau dari petak-petak reforestrasi (reboisasi) yang dapat mereka akses untuk sementara waktu. (Pelluso 2008).
2.4. Kemiskinan, Marginalisasi dan Ekstraksi Surplus di Pedesaan
Studi kemiskinan merupakan salahsatu tema yang terus bergulir di ranah akademik maupun pengambil kebijakan. Hingga saat ini, para ahli dari beragam perspektif terus mengembangkan dan memperluas definisi kemiskinan berikut indikator yang menyertainya. Salah definisi kemiskinan adalah kondisi kehidupan seseorang yang didasarkan atas tingkat kecukupan subsistensi minimun seperti kebutuhan nutrisi dan kebutuhan dasar lainnya serta penerimaan seseorang di lingkungan sosialnya. Definisi semacam ini sering diistilahkan sebagai kemiskinan absolut (Lok-Dessallien 2001).
Kemiskinan juga dapat dilihat dari hubungan antara tingkat kecukupan pangan (status kelaparan) dan akses terhadap sumber pangan, sebagaimana yang diungkapkan Sen (1982) bahwa, walaupun ketersediaan pangan melimpah, kelaparan akan terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan seseorang mendapatkan hak atas pangan (Starvation is seen as the result of his inability to establish entitlement to enough food). Selain itu, Sen (1999) juga menunjukkan, bahwa kemiskinan memiliki kaitan erat dengan Capability Deprivation, yaitu tercabutnya (hilangnya) kemampuan seseorang dalam mengakses hak-hak dasar seperti kesehatan, pendidikan, pangan, dan perumahan. Oleh karena itu, untuk mengentaskan kemiskinan dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan/akses kepada orang miskin terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar mereka.
Kemiskinan juga dapat dipandang sebagai akibat dari adanya relasi-relasi sosial yang terdapat di suatu masyarakat. Kemiskinan yang demikian ini disebut sebagai kemiskinan struktural. Mengikuti pendapat Soemardjan (1980), kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu mengakibatkan mereka tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.
Kemiskinan struktural mengacu pada ketimpangan-ketimpangan sosial yang telah meresapi struktur dan lembaga-lembaga sosial dan menjelma didalamnya (Winangun 2004). Dari definisi kemiskinan struktural tersebut, maka akan mengantarkan kita pada cara memahami persoalan kemiskinan tidak cukup hanya dilihat dari persoalan ekonomi semata. Persoalan kemiskinan memiliki keterhubungan erat dengan berbagai proses peminggiran sosial (social exclusion) dan marginalisasi yang dialami individu maupun kelompok.
Pada paradigma pembangunan lama, kemiskinan selalu dilihat dengan ukuran atau variabel ekonomi yang statis semata dan terkadang tidak sesuai dengan kondisi pedesaan Indonesia. Cara pandang demikian ini telah menghilangkan makna kuasa dan proses/sejarah dalam memahami kemiskinan.
Mengikuti pendapat Mosse (2007), kemiskinan merupakan hasil dari sejarah dan dinamika kontemporer kapitalisme yang meliputi proses-proses akumulasi, perampasan, diferensiasi dan eksploitasi. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingya adalah perlunya pemahaman tentang mekanisme sosial, kategori dan identitas yang melanggengkan ketidaksetaraan dan menstabilkan atau memfasilitasi hubungan eksploitasi yang hadir secara nyata. Dengan definisi yang demikian, maka pendekatan metodologis individualisme dan model pilihan rasional neo-liberal harus digeser dengan lebih menekankan pentingnya proses sosial dan hubungan kekuasaan.
Murray (2001) mengungkapkan, kebanyakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan maupun perkotaan di negara-negara miskin, terlibat dalam perjuangan (pergolakan) yang tak henti-hentinya untuk mengamankan mata pencaharian dalam menghadapi situasi sosial, ekonomi dan politik yang sering kali merugikan mereka. Dua titik sentral untuk memahami perjuangan semacam itu adalah, Pertama adalah situasi dan alasan (penyebab) kemiskinan harus
dipahami melalui analisis rinci dari relasi sosial dalam konteks sejarah tertentu:
antara mereka yang memiliki lahan dengan mereka yang tidak memiliki lahan, antara rumah tangga kaya dan miskin; antara laki-laki dan perempuan; antara rumah tangga di pedesaan dan di perkotaan dan antara lembaga pasar dan negara.
Kedua adalah cara-cara (pola/strategi) mata pencaharian yang biasanya berlaku baik di dalam rumah tangga maupun antara rumah tangga yang sangat beragam.
Sementara menurut perspektif ketergantungan dan keterbelakangan awal, ketimpangan pertukaran komoditi dan praktek–praktek warisan kolonial lainnya disebut sebagai faktor kunci yang menjelaskan distribusi kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di abad ke-20 (Smith, 2005). Adapun pengaruh penetrasi kapital ke pedesaan, Luxemberg (2003) mengungkapkan bahwa pembangunan (penetrasi) kapitalisme ke wilayah pedesaan membutuhkan suatu suasana lingkungan yang memperagakan bentuk-bentuk produksi non-kapitalistik (natural economy) sebagai pasar dari surplus yang dihasilkan oleh para pemilik modal, sumber bahan baku dan penyedia cadangan tenaga kerja dalam sistem upah (buruh lepas).
Dalam hal ini, tema akumulasi primitif (primitive accumulation) yang banyak terdapat pada literature Marxian hadir dalam arena debat teoritik kontemporer (Bond 2007, Bonefeld 2001, De Angelis 2000, Perelman 2001).
Kemiskinan dan marginalisasi petani di pedesaan dipandang sebagai sebuah akibat ekspansi kapitalisme ke pedesaan. Ekspansi ini pada prakteknya menyebabkan perubahan relasi besar-besaran (great transformations) di pedesaan yakni, proses pelepasan petani dari alat-alat produksi (enclosure) dan kemudian menjadi tenaga kerja bebas (upahan). Proses akumulasi semacam ini tidaklah berlangsung sekali jadi pada tahap awal perkembangan kapitalisme semata sebagaimana yang diyakini oleh para penganut Marxian klasik, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari cara produksi kapitalis itu sendiri. Proses ekspansi kapitalisme semacam inilah yang melahirkan proses marjinalisasi dan terbentuknya kemiskinan pada masyarakat pedesaan (Shohibuddin dan Soetarto 2010). De Angelis (2004: 58) mengungkapkan, “… there is no enclosure of commons without at the same time the destruction and fragmentation of communities.”