BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Pengumpulan Data
3.5.5 Proses Ekstraksi
1. Ditimbang 6 gram bentul, kemudian tambahkan 600 mL dengan suhu 75%.
2. Ditambahkan 0,1% Al2SO4.
25
3. Dilakukan pengadukan selama 1 jam.
4. Disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
5. Diambil supernatan kemudian lakukan prespitasi dengan etanol 96%
dengan rasio 1:1 (v/v) selama 24jam.
6. Didapatkan Polisakarida Larut Air basah sehingga harus dioven dengan suhu 500C selama 18 jam.
7. Dihitung rendemen 3.5.6 Analisa PLA
1. Ditambah dengan air sebanyak 50 mL pada hasil ekstraksi.
2. Dipanaskan dengan suhu 850C selama 15 menit.
3. Disentrifuge dengan kecepatan 20.000 rpm selama 5 menit.
4. Disaring dengan menggunakan kertas saring nilon 0,45µ.
5. Diinjeksikan ke HPLC.
3.6 Diagram Alir
Diagram alir pembuatan tepung (modifikasi dari Saputri, 2013)
Umbi bentul Pencucian dan pengupasan
Pengirisan (tebal 1-2 mm)
Penghalusan
Pengeringan dengan oven (60oC, 5 jam)
Tepung umbi bentul
10 g tepung bentul
Penambahan 1000 ml aquadest suhu 60-70oC Penambahan 0,1% Al2SO4
Pengadukan selama 1 jam
Tanpa pemanasan kembali (suhu tidak stabil)
Sentrifugasi (10’, 3000 rpm) endapan
supernatan
Presipitasi dengan etanol 96% (24 jam) 1:1
Supernatan : etanol = 1 : 1
Pengeringan dengan oven (50oC, 18 jam) Polisakarida Larut Air Basah
Polisakarida Larut Air Kering Analisa rendemen
27
Diagram Alir EkstraksI PLA (Modifikasi dari Ohashi et al., 1991 dalam Saputri., 2013) 10 g tepung bentul
Penambahan 1000 ml aquadest suhu 60-70oC Penambahan 0,1% Al2SO4
Pengadukan selama 1 jam Pemanasan dengan suhu 700C
Sentrifugasi (10’, 3000 rpm) endapan
supernatan
Presipitasi dengan etanol 96% (24 jam) 1:1
Supernatan : etanol = 1 : 1
Pengeringan dengan oven (50oC, 18 jam) Polisakarida Larut Air Basah
Polisakarida Larut Air Kering Analisa rendemen
0,25 g ekstrak Penambahan 50 mL
Panaskan suhu 850C 15’
Penyaringan (kertas nilon 0,45µ) Sentrifuge 20.000 rpm
Injeksi ke HPLC
3.7 Analisa Data
Hasil yang telah didapat dihitung nilai rendemennya dan diidentifikasi menggunakan instrumen HPLC. Cara analisa secara deksriptif bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai identifikasi objek menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan, pada penelitian ini tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian.
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian yag berjudul Identifikasi Komponen Kimia dan Bioaktif Umbi Bentul (Colocasia esculenta (L.) Schott) sebagai Pangan Fungsional dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2016, penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Instrumen Putra Indonesia Malang serta analisa PLA di PT. SASA INTI Probolinggo menghasilkan data sebagai berikut:
4.1 Hasil Determinasi Tanaman Bentul
Bagian tanaman bentul yang digunakan pada penelitian ini adalah umbi bentul yang diperoleh dari pasar besar Malang. Determinasi tanaman bentul dilakukan di UPT Materia Medika, Batu. Tujuan dari dilakukannya determinasi untuk mengidentifikasi kecocokan tanaman yang akan digunakan dalam penelitian. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman bentul yang digunakan adalah tanaman bentul (Colocasia esculenta (L.)Schott) dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2 Hasil Tepung Bentul
Rendemen adalah berat bahan setelah proses dibandingkan dengan berat bahan sebelum proses. Rendemen tepung umbi bentul adalah 24%. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut Antarlina (1991) dalam Saputri (2013) tingkat rendemen ubi sangat dipengaruhi oleh interaksi antara umur panen dan klon ubi. Tidak hanya itu rendemen tepung juga dapat dipengaruhi oleh kadar
air, karena setiap bahan memiliki kadar air yang optimal untuk mencapai rendemen tepung optimal. Selain itu, kenaikan suhu alat yang digunakan untuk penepungan karena gesekan dan pemakaian berlebih juga dapat menurunkan rendemen (Mog, 1991) dalam Saputri (2013). Proses pembuatan tepung dapat dilihat pada Lampiran 2.
4.3 Hasil Analisa Proksimat Tepung Bentul
Pengujian proksimat pada tepug bentul dimaksudkan untuk mengetahui kandungan makronutrien yang meliputi protein, lemak, air, abu, karbohidrat.
Pengujian makronutrien pada tepung ini juga bertujuan untuk memperoleh tepung sesuai standar mutu yang teregulasi. Lampiran 4.
Tabel 4.1 Parameter hasil pengujian tepung bentul
Parameter Bentul
Sumber : * Saputri, 2013; ** Richana dan Sunarti, 2004
Hasil data diatas menunjukkan dalam tepung bentul mengandung kandungan protein sebanyak 3,45%, lemak 0,31%, air 6,07%, abu 2,14%, karbohidrat 88,03%, dan serat kasar 2,87%.
Protein merupakan makronutrien dan komponen yang penting dalam tubuh. Fungsi utama protein adalah sebagai zat pembangun tubuh. Peranan protein cukup penting sebagai kebutuhan untuk setiap harinya. Dari hasil analisa kadar
31
protein dalam tepung umbi bentul didapatkan hasil sebesar 3,45%. Hasil kadar protein hampir sama dengan penelitian Baah et al. (2009) dimana kadar protein tepung Dioscorea alata dari berbagai daerah yang dianalisa sebesar 3,03 – 9,05%.
Kadar protein tepung bentul pada penelitian ini lebih rendah daripada tepung gandum, yaitu sekitar 10% (Enriquez et al., 2003), tetapi lebih tinggi daripada tepung ubi jalar (±3%) (Ambarsari et al., 2009). Kadar protein dalam tepung diperlukan untuk aplikasinya, apabila tepung berkadar protein tinggi maka dalam aplikasinya tidak perlu menambahkan substitusi lagi (Richana & Sunarti, 2004).
Lemak memiliki 2 jenis yaitu lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Bagi penderita kolesterol tinggi lemak tak jenuh sangat dibutuhkan sebagai asupan karena tidak akan membahayakan bagi kesehatan. Kadar lemak yang terukur dari umbi bentul sebesar 0,31%. Nilai ini lebih rendah jika dibandingkan dengan umbi lain seperti ubi kelapa kuning sebesar 0,57 %.Hasil ini juga sama dengan penelitian Lebot et al. (2005) yang mendapatkan kadar lemak pada tepung ubi kelapa sekitar 0,2 – 0,5%. Konsumsi rendah lemak sangat dianjurkan bagi penderita kolesterol karena akan sangat mempengaruhi kolesterol ditubuh. Lemak pada tepung bentul jika dibandingkan dengan beberapa umbi yang terdapat dalam tabel memiliki kadar lemak yang rendah, sehingga dapat dijadikan sebagai pangan fungsional untuk diet.
Kadar air mempengaruhi efektifitas pengemasan dan juga daya simpan bahan. Semakin tinggi kadar air maka semakin mudah suatu bahan tersebut akan rusak. Kadar air yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap umbi bentul lebih kecil yakni 6,07% jika dibandingkan dengan umbi singkong, kadar air umbi singkong pada penelitian yang dilakukan oleh (Wayan dan Arnata, 2009) lebih
besar yakni 8,65%. Hal ini dipengaruhi oleh varietas, umur tanam, unsur hara tanah dan iklim. Standar kadar air tepung ubi jalar di Indonesia adalah 7-8%, standar yang ditetapkan oleh perusahaan eksportir adalah 3,65% (Ambarsari, 2009) dan standar tepung oleh SNI (3751-2009) kadar air tepung maksimal adalah 14% (BSN, 2009).
Kadar abu mempengaruhi kenampakan tepung yang menjadikan tepung berwarna kurang menarik dengan warna lebih gelap. Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organic. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Nilai dari kadar abu dalam tepung tersebut berasal dari mineral yang terdapat dalam umbi segar dan bergantung pula tanah tempat tumbuh.Kadar abu yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap umbi bentul menunjukkan hasil 2,14%, hasil ini lebih kecil jika dibandingkan dengan tepung umbi singkong hasil penelitian yang dilakukan Wayan dan Arnata, 2009 yakni sebesar 2,55%.
Karbohidrat merupakan salah satu komponen yang penting bagi asupan makanan yang berfungsi sebagai energi. Asupan ini yang akan diolah oleh tubuh menjadi energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Semakin tinggi karbohidrat dalam suatu bahan maka akan menggenyangkan lebih lama.Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa kadar karbohidrat yang terdapat pada umbi bentul sebesar 88,03%. Karbohidrat terdiri dari fraksi pati dan serat kasar. Kedua fraksi ini merupakan bagian penting yang dapat dipergunakan sebagai komponen bioaktif dari umbi bentul. Menurut penelitian Nurcahya (2013) bentul sebagai salah satu jenis umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai pengganti nasi bagi penderita diabetes, karena bentul mengandung serat dan protein yang cukup tinggi yang bisa
33
menurunkan kadar glukosa darah. sehingga umbi bentul ini sangat baik digunakan pada orang obesitas.
Serat larut adalah bagian dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim didalam pencernaan. Terdiri atas serat pangan larut dan tidak larut air. Serat pangan larut dapat larut dalam air hangat, seperti gum dan pektin.
Serat tidak larut air merupakan serat pangan yang tidak larut dalam air panas seperti selulosa dan lignin. Serat yang terkandung dalam 2,87%. Serat larut air bersifat koloid yang dapat mengembang dan dapat membentuk gel. Dalam dunia kesehatan, serat pangan berfungsi untuk menurunkan waktu transit makanan dalam pencernaan, menurunkan kolesterol (Mehta, 2009), dapat difermentasi oleh mikroflora usus menghasilkan asam lemak rantai pendek (asam butirat, propionat dan asetat) yang dapat meningkatkan imunitas, mengontrol kadar gula darah, menghambat pertumbuhan sel kanker dalam saluran pencernaan dan meningkatkan absorpsi mineral (Schultz (2011) dalam Saputri (2013).
4.4 Hasil Ekstraksi Tepung Bentul
Bentul yang telah menjadi tepung kemudian dilakukan proses ekstraksi.
Melarutkan tepung bentul dalam aquadest panas untuk mempercepat proses ekstraksi. Penambahan tawas untuk menghilangkan pengotor dan kemudian diaduk selama 1 jam agar larutan tersebut menjadi homogen. Proses ekstraksi dapat dilihat pada lampiran 3.
Hasil dari pengadukan tersebut kemudian dilakukan sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Hal ini mengacu pada penelitian Saputri (2013). Sentrifuge ini dilakukan untuk mendapatkan supernatan yang telah
dipisahkan dengan endapan. Supernatan ditambahkan dengan etanol 96% dengan perbandingan 1:1 dan diaduk. Penambahan pelarut organik berlebih dalam supernatan berisi PLA akan mengurangi kelarutan PLA dalam air dengan cara menurunkan konstanta dielektrik medium sehingga molekul polisakarida cenderung berinteraksi dengan polisakarida lain daripada dengan air. Keadaan ini terus berlanjut sehingga dicapai titik tertentu dimana polisakarida menggumpal atau mengendap. Nantinya didapatkan gumpalan putih terapung dan mengendap dalam wadah. Gumpalan ini adalah polisakarida larut air yang lalu dikeringkan.
Tabel 4.2 Hasil rendemen
Sumber : * Saputri, 2013; ** Estiasih et al., 2012
Rendemen adalah berat bahan setelah proses dibandingkan dengan berat sebelum proses. Hasil perhitungan rendemen dapat dilihat pada lampiran 8.
Rendemen PLA dari umbi bentul ini lebih besar dari ubi kelapa ungu yaitu 0,12%, ubi kelapa kuning 0,105% dan PLA yang diekstraksi dari umbi gembili (Dioscorea hispida) yaitu 3 – 5% (Estiasih et al., 2012). Artinya PLA pada umbi bentul ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan dicari metode ekstraksi yang tepat sehingga didapatkan PLAdengan rendemen yang maksimal.
4.5 Hasil Analisa Ekstrak
Polisakarida Larut Air (PLA) dianalisa di Laboratorium PT. Sasa Inti, Probolinggo. Sampel yang dianalisa sebanyak 2 sampel dengan kode 01 dan 02.
Sampel yang akan dianalisa ditambah dengan aquades sebanyak 50 mL.
35
Kemudian, dipanaskan dengan suhu 800C selama 15 menit untuk melarutkan sampel. Setelah pemanasan larutan tersebut disentrifuge dengan kecepatan 20.000 rpm selama 5 menit untuk memisahkan dengan kotoran atau sisa sampel yang tak terlarut. Hasil dari sentrifuge disaring dengan kertas saring 0,45µm untuk mendapatkan larutan yang bebas dari endapan, dari hasil penyaringan tersebut larutan kemudian diinjeksikan ke alat instrumen HPLC.
Pada hasil analisis gula terdapat hasil yang menyatakan DP1, fructose, DP2, maltose, DP3, DP4, dan DP5. DP1, DP2, DP3, DP4, dan DP5 menyatakan persen area yang merupakan Degres of Polymer. DP1 adalah monosakarida yang memiliki 1 monomer, DP2 adalah disakarida yang memiliki 2 monomer, DP3 adalah oligosakarida yang memiliki 3-10 monomer, dan DP4 serta DP5 adalah polisakarida yang memiliki lebih dari 10 monomer.
Tabel 4.3 Hasil Analisa HPLC
Rendemen 2,9% 9,00%
Total DP4 dan DP5 78,23% 87,98%
Hasil analisa menggunakan HPLC diatas dapat diketahui bahwa rendemen tepung sebesar 2,9% didapatkan nilai total dari DP4 dan DP5 sebesar 78,23%.
Sedangkan, rendemen tepung 9% didapatkan nilai total 87,98%.
Pada proses ekstraksi pada penelitian ini diduga dihasilkan enzim yang dapat menghidrolisis PLA sehingga didapatkan kadar gula bebas. Molekul polisakarida yang membentuk PLA adalah hasil kondensasi dari monosakarida (pentosa dan heksosa) dan asam organik yang terbentuk dari gula-gula reduksi.
Menurut Saputro, (2015) jika PLA dihidrolisis akan menghasikan bermacam
macam monosakarida antara lain rhamonosa, fruktosa (metil pentosa), arabinosa, glukosa, mannosa, galaktosa, asam galakturonat atau asam D-glikoronat. Penelitian Harijono, dkk (2012) menyebutkan bahwa hasil analisis jenis gula bebas menunjukkan bahwa PLA gembili mengandung glukosa dan manosa.
Dalam penelitian ini tepung umbi bentul diduga mengandung polisakarida larut air yang sifatnya dapat menyerap air dan meningkatkan viskositas.
Polisakarida larut air pada konsentrasi di bawah 1% yang dicampur dengan adonan dapat menjaga stabilitas adonan yang disebabkan interaksi antara pati dan gugus hidroksil pada hidrokoloid (Ho et al, 2013). Menurut Dodic, et al., (2007), polisakarida memodifikasi dan mengontrol mobilitas air dalam sistem bahan pangan, dan air mempunyai peran penting dalam mempengaruhi sifat fisik dan kimia polisakarida. Polisakarida bersama dengan air mengendalikan banyak sifat fisiko-kimia pangan termasuk tekstur, hal ini disebabkan hidrasi air secara alami terikat dengan ikatan hidrogen pada molekul polisakarida sehingga air tersebut tidak akan membeku.Sehingga keberadaan PLA pada umbi bentul ini dapat diaplikasikan pada produk pangan.
Melihat hasil pada DP 4 dan DP 5 yang diduga mengandung PLA maka umbi bentul dapat dijadikan suatu alternatif bagi penderita penyakit degeneratif.
Hal ini sesuai peryataan Harijono, dkk (2012) PLA yang merupakan serat pangan larut air dapat mengurangi penyakit degeneratif seperti diabetes. Asupan yang memiliki serat tinggi sangat dibutuhkan penderita diabetes. Akan terjadi fermentasi PLA di kolon yang menghasilkan asam lemat rantai pendek (SCFA) yang akan akan memicu penurunan lipid dalam darah. Banyak sekali manfaat
37
yang didapat dari PLA, sehingga perlu adanya penelitian untuk mengetahui gula penyusun yang dimiliki oleh bentul sehingga akan semakin banyak manfaat yang didapat dengan mengonsumsi bentul.
38 BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari penelitian identifikasi senyawa bioaktif pada tepung umbi bentul (Colocasia esculenta (L.) Schott) didapat hasil komponen kimia pada tepung umbi bentul dengan kadar protein 3,45%, kadar lemak 0,31%, kadar air 6,07%, kadar abu 2,14%, kadar karbohidrat 88,03%, dan kadar serat 2,87%. Hasil analisa dari ekstrak tepung didapat hasil yang diduga mengandung polisakarida larut air ditandai dengan DP4 dan DP572,35% dan 87,98%.
5.2 Saran
1. Adanya senyawa bioaktif pada tepung umbi bentul dapat dijadikan suatu produk pangan fungsional.
2. Perlu dilakukan ekstraksi dengan caramengatur suhu untuk mendapatkan hasil maksimal.
39
DAFTAR PUSTAKA
Adejumo, Babalola, & Alabi. 2013. Colocasia esculenta (L.) Schott as an Alternative Energy Source in Animal Nutrition . British Journal of Applied Science and Technology , 1276-1285.
Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Penerbit Andi: Yogyakarta.
Alcantara, R. M., Hurtada, W. A., & Dizon, E. I. 2013. The Nutritional Value and Phytochemical Components of Taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) Powder and its Selected Processed Foods. Research Article .
Ambarsari, I., Sarjana, & Choliq, A. 2009. Rekomendasi dalam Penetepan Standar Mutu tepung Ubi Jalar. Jurnal Standarisasi , vol.11(3): 212-219.
Ardianingsih, R. 2009. Penggunaan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dalam Proses Analisa Deteksi Ion. Berita Dirgantara , Vol.10 No.
4:101-104.
Badan Standarisasi Nasional. 2009. Tepung Terigu Sebagai Bahan Makanan. SNI 3751-2009.
Dodic, J. D. Pejin, S. Dodic, S. Pupon, J. Mastilovic, J.P. Rajic and S. Zivanovic.
2007. Effects of Hydrophillic Hydrocolloids or Dough and Bread Performance of Samples Made From Frozen Dought. J. Food Sci, 72 :235-244
Eleazu, Iroaganachi, & K.C, E. 2013. Ameliorative Potentials of Cocoyam (Colocasia esculenta L.) and Unripe Plantain (Musa paradisiaca L.) on the Relative Tissue Weights of Streptozotocin-Induced Diabetic Rats. Journal of Diabetes Research .
Enrique Sarano M, Avierions JF, Messika-Zeitoun D, et al. Quantitative determinants of the outcome of asymptomatic mitral regurgitation. New England Journal of Medicine. 2005:352:875-883
40
Estiasihet al. 2012. Hypoglycemic Activity of Water Soluble Polysaccharides of Yam (Dioscorea hispida Dents) Prepared by Aqueous, Papain, and Tempeh Inoculum Assisted Extractions. World Academy of Science, Engineering and Technology , Vol: 6 2012-10-27.
Fahmi, A., & Antarlina, S. S. 2007. Ubi Alabio Sumber Pangan Baru dari Lahan Rawa. Balai Penelitian Lahan Rawa: Tabloid Sinar Tani 24 Januari 2007.
Harijono, Estiasih, T., & Sunarharum, W. 2009. Ekstraksi Polisakarida Bioaktif dari Umbi Gadung dan Gembili dan Potensinya untuk Terapi Diabetes dan Penurunan Kadar Kolesterol Darah . Laporan Hibah Kompetitif Penelitian sesuai Prioritas Nasional Batch I dibiayai oleh Dikti. LPPM Universitas Brawijaya, Malang .
Harijono, Estiasih, T., Sunarharum, W. B., & Rakhmita, I. S. 2010. Karakteristik Kimia Ekstrak Polisakarida Larut Air dari Umbi Gembili (Dioscorea esculenta) yang Ditunaskan. Jurnal Teknologi Pertanian , 162-169.
Harijono, Estiasih, T., Sunarharum, W. B., & Suwita, I. K. 2012. Efek Hipoglikemik Polisakarida Larut Air Gembili (Dioscorea esculenta) yang Diekstrak dengan Berbagai Metode. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan.
Herlina, & Lindriati, T. 2014. Produksi Polisakarida Larut Air dari Biji Buah Durian (Durio zibenthinus Murr.) dan Aplikasinya untuk Pangan Fungsional sebagai Hipolidemik.
Herlina, Harijono, Subagio, A., & Estiasih, T. 2013. Potensi Hipolipidemik Polisakarida Larut Air Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L.) Pada Tikus Hiperlipidemia.
Ho, L., & N, A. 2013. Dough Mixing and Thermal Properties Including The Pasting Profiles of Composite Flour Blends with Added Hydrocolloids.
Internasional Food Research Journal , 20(2): 911-917.
ID, S., P, D., & D, G. 2010. Effects of Traditional Soaking on The Nutritional Profile of Taro Flour (Colocasia Esculenta L. Schoot) Produced in Chad.
37-42.
41
Kafilat, A. K. 2010. Physical, Function and Sensory Properties of Yam Flour
"Elubo" Obtained from Kuto Market Abeokuta. Departement of Food Science and Technology: Nigeria .
Materia Medika Batu. 2016. Determinasi Tanaman Bentul.
Mehta, R. 2009. Dietary Fibre I. AIB Internasional Technical Bulletin Vol XXXI (1): 1-7
Nurbaya, S. R., & Estiasih, T. 2013. Pemanfaatan Talas Berdaging Umbi Kuning (Colocasia esculenta (L.) Schott) Dalam Pembuatan Cookies. Jurnal Pangan dan Agroindustri , 46-55.
Nurcahya, H. 2013. Budidaya dan Cara Olah Talas untuk Makanan dan Obat.
Yogyakarta : Pustaka Baru Press
Ohashi, S., Shelso, G. J., & Moirano, A. L. 2000. Clarified Konjac Glucomanan.
US Patent: 6.162.906 .
Prabowo, A. Y., Estiasih, T., & Purwantiningrum, I. 2014. Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L.) sebagai Bahan Pangan Mengandung Senyawa Bioaktif : Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri , 129-135.
Richana, N., & Sunarti, T. C. 2004. Karakterisasi Sifat Fisikokimia Tepung Umbi dan Tepung Pati dari Umbi Ganyong, Suweg, Ubi Kelapa, dan Gembili.
Jurnal Pascapanen , 29-37.
Rosyida, N. 2011. Efek Hipokolesterolemik Polisakarida Larut Air dari Gadung (Dioscorea Hispida Dennst.) yang Diekstrak dengan Berbagai Metode.
Skripsi Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Saputri, D. S. 2013. Pengaruh Perendaman dan Blansing Terhadap Kadar Senyawa Bioaktif dan Karakteristik Tepung Ubi Kelapa (Dioscorea alata) Jenis Kuning dan Ungu. Tesis.
42
Saputro, P. S., & Estiasih, T. 2015. Pengaruh Polisakarida Larut Air (PLA) dan Serat Pangan Umbi-umbian Terhadap Glukosa Darah : Kajian Pustaka.
Jurnal Pangan dan Agroindustri , 756-762.
Sari, R. P. 2011. Pengaruh Proporsi dan Tingkat Penambahan Ekstrak Polisakarida larut Air (PLA) Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennts.) dan Alginat Pada Pembuatan Mie Instan. Skripsi. Fakultas Teknolohi Pertanian. Universitas Brawijaya Malang .
Sumunar, S. R., & Estiasih, T. 2015. Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) sebagai Bahan Pangan Mengandung Senyawa Bioaktif ; Kajian Pustaka . Jurnal Pangan dan Agroindustri , 108-112.
Tan, S., Xu, Q., Luo, Z., Liu, Z., Yang, H., & Yang, L. 2011. Inquiry of Water-Soluble Polysaccharide Extraction Conditions from Grapefruit Skin . Scientific Research , 1090-1094.
43 LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Determinasi Tanaman Bentul
44 Lampiran 2. Proses pembuatan tepung
Membersihkan bentul Mencuci bentul dengan air mengalir
Merendam dengan NaCl Mengiris bentul (1-2 mm)
Menjadikan tepung Pengeringan selama 5 jam
45 Lampiran 3. Proses ekstraksi
Pengadukan + pemanasan Sentrifuge 3000 rpm
Penambahan etanol, pengadukan 30”
Penyaringan
46
Hasil penyaringan Oven selama 500C 18 jam
PLA kering
47
Lampiran 4. Hasil Analisa Proksimat Tepung Bentul
48 Lampiran 5. Hasil Analisa Sampel 1
49 Lampiran 6. Hasil Analisa Sampel 2
50 Lampiran 7. Perhitungan rendemen
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑒𝑝𝑢𝑛𝑔 =𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙𝑡𝑒𝑝𝑢𝑛𝑔𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑘𝑎𝑛
total bentul × 100%
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑒𝑝𝑢𝑛𝑔 =1,2 kg
5 kg × 100% = 24%
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛𝑃𝐿𝐴 1 = 0,2903 g
10,0037 g× 100% = 2,9%
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛𝑃𝐿𝐴 2 = 0,9008 g
10,0073 g× 100% = 9,00%
51 Lampiran 8. Diagram alir
Bentul
Pencucian dan pengupasan
Pengirisan 1-2 mm
Pengeringan (600C, 5 jam) Perendaman dengan NaCl
Tepung bentul
Penambahan Al2SO4
Penambahan aquadest panas suhu 700
Pengadukan 1 jam + pemanasan 700 Sentrifuge 3000 rpm 10’
Supernatan
Presipitasi dengan etanol (1:1)
Oven 500C 18 jam
PLA kering
Penambahan 50 mL aquades + pemanasan 850 Sentrifuge 20.000 rpm
Penyaringan Injeksi HPLC