• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Isolasi Polisakarida Mengandung Mannan dari Bungkil Inti Sawit

Kandungan Total Gula Terekstrak

Hasil isolasi polisakarida BIS sebelum dan setelah dipisahkan proteinnya dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Kandungan total gula, mannosa dan rendemen mannosa polisakarida BIS yang dihasilkan dari 100 gram BIS1

Kandungan Polisakarida BIS kasar Polisakarida mannan BIS

total gula (g) 8.35-8.59 5.70-7.61

mannosa2 (g) 6.14-6.31 4.19-5.59

rendemen mannosa3 (%) 45.38-46.63 30.96-41.32

Keterangan : 1 Kandungan mannosa 56.4% (Daud & Jarvis 1992) dari total serat kasar.

Kandungan SK BIS 24% (Hasil analisis Lab. Makanan Ternak IPB 2007) 2

Kandungan mannosa BIS 73.54% dari total gula (Tafsin 2007) 3

Rendemen mannosa dari 100 g BIS

Kandungan total gula (Tabel 7) yang dihasilkan dari 100 g BIS sebelum dipisahkan proteinnya berkisar antara 8.35-8.59 g dengan jumlah mannosa yang terambil sebanyak 6.14-6.31 g atau sebanyak 45.38-46.63% dari serat kasar BIS. Penelitian sebelumnya memperoleh total gula berkisar antara 1.22-3.20 g dari 100 g BIS (Tafsin 2007). Kandungan total gula yang lebih tinggi diduga disebabkan oleh penggunaan asam asetat 0.05 N sebagai pengganti air dan peningkatan konsentrasi NaOH dari 0.05 N (penelitian sebelumnya) menjadi 1 N.

Secara umum hasil diperoleh dari isolasi polisakarida BIS memberikan gambaran bahwa total gula yang dihasilkan cukup tinggi yaitu berkisar antara 5.70-7.61 g dengan rendemen mannosa mencapai 30.96-41.32% dari serat kasar BIS. Dengan demikian masih ada sekitar 7.94-9.34 g mannosa dari 13.53 g/100 g BIS atau 58-69% yang belum terambil. Kuat dugaan sebagian besar fraksi karbohidrat tersebut ada dalam ampas, sehingga sangat terbuka kemungkinan untuk mengeksplorasi nutrien tersebut pada proses ekstraksi kembali.

Profil Polisakarida Bungkil Inti Sawit (BIS)

Kajian profil polisakarida dilakukan dengan menyuntikkan sampel polisakarida dari BIS ke dalam kolom gel Sephadex G-50 (Ramli et al. 2008a). Sephadex G-50 dibuat dari polisakarida dextram yang memiliki batas eksklusi pada BM 10 000 dan variasi fraksinasi BM 500-10 000 (Adnam 1997). Dengan

menggunakan pelarut air gel sephadex (deret G) dapat memisahkan campuran berdasarkan ukuran molekul, dimana molekul besar terelusi lebih dulu (Markham 1988). Profil produk campuran fraksi karbohidrat dan protein (sebelum pengendapan protein) pada gel Sephadex G-50 dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Profil produk campuran fraksi karbohidrat dan protein hasil ekstrak BIS pada Sephadex G-50

Gambar 9 menunjukkan bahwa komponen polisakarida dengan ekstraksi menggunakan asam asetat yang diikuti dengan perendaman dengan NaOH 1 N pada Sephadex G-50 (135x630 mm) mulai muncul pada fraksi ke-7 dan berakhir pada fraksi ke-73. Komponen tersebut secara umum terbagi menjadi 2 peak besar. Peak pertama muncul pada fraksi 23-45, peak kedua dari fraksi 47-73. Gambaran absorbansi protein terlihat hanya satu peak besar yang terbentuk dan muncul lebih awal pada fraksi ke-6 dan berakhir pada fraksi ke-23. Hal ini mengindikasikan bahwa fraksi protein yang berikatan dengan fraksi karbohidrat sebagian besar sudah terputus. Selain itu sebagian besar fraksi protein yang ada pada ekstrak BIS memiliki bobot molekul yang lebih tinggi dibandingkan fraksi karbohidrat. Metode ekstraksi kombinasi fisik dan kimia tersebut menghasilkan bobot molekul yang hampir seragam. Ekstraksi menggunakan NaOH 0.05 N menunjukkan bahwa fraksi protein dan karbohidrat membentuk satu peak besar dari fraksi 18-108 dan mempunyai bobot molekul seragam (Ramli et al. 2008a). Hal ini menunjukkan bahwa ekstraksi yang dilakukan dengan mengkombinasikan kaca dan bahan kimia (asetat 0.05 N dan NaOH 1 N) dapat memudahkan dalam pemisahan protein dari fraksi karbohidratnya, selain itu metode ini mampu menghasilkan total gula yang lebih tinggi (8.35-8.59 vs 1.22-3.12 g/100 g BIS).

Kajian berikutnya profil polisakarida mengandung mannan yang telah diisolasi dengan cara pengendapan proteinnya menggunakan HCl 0.1 N disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10 Profil Polisakarida mannan BIS hasil isolasi pada Sephadex G-50

Gambar 10 menunjukkan bahwa komponen polisakarida mulai muncul pada fraksi ke 13 dan terbentuk 4 peak besar yaitu, peak pertama muncul pada fraksi ke 13-35, peak kedua pada fraksi ke 37-57, peak ketiga pada fraksi ke 59-67 dan

peak ke empat pada fraksi ke 69-79. Gambaran absorbansi protein terlihat seragam dan tidak terbentuk peak besar maupun kecil. Artinya komponen karbohidrat yang berikatan dengan protein dalam bentuk glikoprotein sebagian besar sudah terpisah. Yatno et al. (2008) melaporkan bahwa ekstraksi kombinasi fisik kimia (kaca + asam asetat 0.05 N + NaOH 1 N) yang dilanjutkan dengan pengendapan protein menggunakan HCl 0.1 N menghasilkan protein kasar 45.56% dengan rendemen 12.18% dan protein recovery 50.38% dari protein kasar BIS.

Gambar 10 dapat dilihat bahwa peak yang terbentuk dari fraksi ke-13-35 diasumsikan sebagai fraksi karbohidrat yang memiliki bobot molekul lebih berat, sedangkan fraksi ke-37-80 diasumsikan sebagai fraksi karbohidrat yang mempunyai bobot molekul lebih ringan. Profil ini menunjukkan bahwa pemisahan fraksi karbohidrat dan protein menghasilkan bobot molekul fraksi karbohidrat lebih beragam terbukti bahwa peak besar lebih dominan terbentuk pada fraksi yang lebih tinggi yang mengindikasikan bahwa profil polisakarida mannan BIS memiliki bobot molekul yang beragam. Komponen gula dari polisakarida BIS tersusun dari gula glukosa, mannosa dan galaktosa yang terdiri atas ikatan alfa dan beta. Dibandingkan dengan galaktosa, ikatan beta yang dimiliki mannosa

pada BIS diduga lebih banyak, sehingga dapat diartikan bahwa ikatan galaktosa pada polisakarida BIS mempunyai ikatan kimia yang lebih labil dari ikatan mannosa (Ramli et al. 2008a). Lebih lajut dijelaskan bahwa kandungan mannosa pada BIS adalah sebesar 68,9%. Hal yang sama dilaporkan oleh Tafsin (2007) bahwa komponen gula polisakarida dari BIS tersusun atas glukosa, galaktosa dan mannosa. Komponen gula yang terdeteksi berupa galaktomannan dengan rasio antara galaktosa dan mannosa mencapai 1:3. Selanjutnya dilaporkan bahwa ekstraksi BIS didominasi oleh mannosa dengan kandungan mencapai 73.54% dari total gulanya. Carre (2002) melaporkan bahwa komponen utama dari dinding sel bungkil kelapa dan bungkil inti sawit (BIS) adalah linier (1-4)- β D-Manp dan menunjukkan kesamaan dengan guar gum, tetapi dengan rasio galaktomannan yang berbeda. Kennedy dan White (1988) menyebutkan bahwa struktur polisakarida mannan bervariasi tergantung sumber bahan. Rasio komponen monosakarida antara galaktosa : mannosa berkisar antara 1:1 sampai 1:5, akan tetapi keseluruhannya mempunyai kesamaan struktur yaitu ikatan (1 4) β -D-mannopyranosil dengan rantai cabang berisi gugus tunggal α-D-galactopyranosil dengan ikatan (1 6). Gambaran struktur mannan dari guaran disajikan pada Gambar berikut :

4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- (1 6 6

α-D-galp α-D-galp

Gambar 11 Struktur mannan dari guaran (Kennedy dan White 1988)

Gambar 11 menunjukkan struktur mannan dari guaran dengan rasio komponen galaktosa : mannosa yaitu 1:2. Struktur mannan dari BIS tampaknya hampir sama dengan dari guaran, hanya rasio komponen gulanya berbeda. Dugaan struktur dominan galaktomannan dari dinding sel BIS adalah sebagai berikut :

4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- β-D-manp-(1 4)- (1 6 6

α-D-galp α-D-galp

Gambar 12 Dugaan struktur galaktomannan dari bungkil inti sawit (Tafsin 2007) Gambar 12 menunjukkan dugaan struktur mannan yang ada pada BIS. Rasio antara komponen galaktosa : mannosa dari analisis komponen gula yaitu mendekati angka 1:3 yang tercermin pada Gambar 11 (Tafsin 2007).

Secara umum ekstrak bungkil inti sawit sebelum maupun setelah diendapkan proteinnya didominasi oleh peak besar yang terkoleksi pada fraksi yang lebih tinggi dalam sephadex G-50. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk tersebut didominasi oleh bobot molekul yang lebih ringan dan beragam. Polisakarida mannan BIS ini adalah merupakan salah satu hasil dari diversifikasi produk dari bungkil inti sawit yang digunakan sebagai bahan adjuvan vaksin pada tahapan selanjutnya pada penelitian ini.

Tahap II. Penggunaan Polisakarida Mannan dari Bungkil Inti Sawit sebagai

Dokumen terkait