BAB III: Pembahasan, pada Bab ketiga ini akan menjelaskan dan memaparkan analisis teori dan hasil temuan penelitian dilapangan yang telah dilakukan
KESALEHAN SOSIAL MELALUI MAJELIS TAKLIM
C. Proses Majelis Taklim Nurul Qomariyah Ciledug, Tangerang dalam Mempertahankan Kesalehan
Keterkaitan antara habitus, modal dan arena dapat membetuk praktik. Praktik-praktik yang dilakukan oleh actor didalam majelis taklim ini dilihat sebagai Praktik-praktik dari gerakan kesalehan. Actor melakukan segala praktiknya yang didasarkan kepada modal yang dimilikinya kemudian menggunakan arena sebagai tempat untuk
61
mempertahankan kesalehan tersebut. Jika dilihat dari fenomena yang telah diteliti, majelis taklim Nurul Qomariyah digunakan sebagai arena untuk mempertahankan kesalehan mayarakat muslim.
Pengajian di dalam majelis taklim dijadikan sebagai bagian dari praktik gerakan kesalehan. Saba Mahmood menjelaskan bahwa kegiatan pengajian merupakan praktik yang digunakan dalam membangun, menjaga dan juga mengusahakan kesalehan (Amanulloh 2012:2). Melalui segala aktivitas serta kegiatan pengajian dan pendidikan agama yang diajarkan di dalam Majelis Nurul Qomariyah dijadikan sebagai tempat untuk kembali mengangkat nilai-nilai, ajaran dan melestarikan tradisi-tradisi Islam dalam rangka untuk terus membangun serta usaha dalam mempertahankan kesalehan.
Pelaksanaan praktik dari tradisi-tradisi Islam dalam pengajian tesebut dilihat bukan hanya sebagai adat dan kebiasaan semata, melainkan dapat dipakai sebagai panduan dalam berperilaku dan sebagai prinsip kehidupan bagi muslim (Amanulloh 2012:8). Di mana perilaku yang diharapkan adalah tingkah laku sebagaimana muslim yang saleh yang mereka percaya. Terutama perubahan perilaku di dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu jamaah mengatakan perubahan dirinya setelah ikut ke dalam pengajian majelis:
Dalam banyak hal ya, di dalam kehidupan pribadi jadi lebih terarah, semenjak gabung disini, yang dulunya gimana gitu, jaman-jaman jahiliyah lah ya, sekarang udah mulai di era baru. (Wawancara dengan Bayu, 5 Desember 2020 di Majelis Nurul Qomariyah Ciledug)
62
Perubahan ke dalam era baru yang dikatakan oleh informan diatas merupakan perubahan dirinya kedalam kehidupan yang lebih baik, yang menurutnya dipercaya kepada perubahan tingkah laku yang sesuai dengan ajaran Islam, dan juga sebagai muslim yang saleh.
Jamaah lain juga mengatakan kehadirannya ke dalam pengajian majelis taklim menjadi alasannya untuk menjadi muslim yang saleh. Sejalan dengan apa yang dikatakan Saba Mahmood, bahwa dengan keterlibatan anggota atau individu dalam suatu pengajian mengajarkan apa yang diisyaratkan oleh kesalehan (Mahmood 2005:
49), seperti yang dikatakan informan berikut:
iya pasti kita datang ke majelis untuk menjadi saleh, itu mah pasti. Karna pasti ada siraman rohani, ada pelajaran, ada hikmah, ada cerita ada semacam kayak cerita nabi atau sejarah-sejarah yang diceritakan oleh para ulama atau habaib, pasti itukan jadi contoh jadi tauladan, dan pasti kita jadi mikir ‘oh iyaa, gini- gini, pengennya matinya nanti husnul khotimah (Wawancara dengan Umi Nunung, 5 januari 2021 di Karang Tengah)
Jamaah lain juga mengatakan,
Cinta aja gitu, suka kalo dateng ke majelis. Demen aja gitu gabung sama orang soleh solehah yang dateng ke majelis, sama-sama cari ilmu, cari keberkahan (Wawancara dengan Safitri, 12 Agustus 2020 di Karang Tengah)
Berdasarkan pemaparan informan diatas, artinya mereka mengartikan individu yang datang ke pengajian majelis taklim merupakan orang yang saleh, mereka datang kepengajian untuk berkumpul bersama orang-orang yang saleh dan juga untuk mengidentifikasikan dirinya juga sebagai orang yang saleh.
63
Bourdieu menjelaskan bahwa pendidikan sangat penting dalam proses reproduksi social dan budaya. Melalui pendidikan ini terdapat berbagai bentuk transfer modal budaya dalam satu generasi ke generasi berikutnya (Franklin 2014: 44). Dalam hal ini mejelis taklim digunakan sebagai arena terjadinya reproduksi berupa pengetahuan agama, yang didalamnya terdapat transfer modal budaya, yang digunakan untuk mempertahankan kesalehan muslim kota. Modal budaya tersebut di transfer melalui pendidikan, pembelajaran, nilai, serta tradisi islam diperkenalkan dan diberikan secara terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan yang bersifat non formal, di dalam majelis taklim dilakukan kegiatan berupa pembelajaran dan penanaman nilai-nilai serta ajaran Islam. Tujuannya adalah untuk membentuk habitus jamaah sebagai orang yang saleh yang selalu melakukan tindakan (praktik) dan melaksanakan ajaran serta perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan Allah. Majelis taklim dijadikan sebagai pendidikan transformasi dalam membentuk kesalehan masyarakat agar ajaran Islam dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi saat ini (Abdullah 2017:237).
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mengorganisir pengembangan serta membentuk perilaku masyarakat berperilaku saleh adalah melalui dakwah (Mahmood 2005:56). Berdasarkan otoritas yang dimiliki oleh seorang habib, di dalam majelis taklim habib melakukan praktik dakwah. Dakwah sebagaimana kewajiban yang harus
64
dilakukan dalam islam “sampaikan walaupun satu ayat”. Dalam wawancara terdapat informan mengatakan:
Kalo kita main nih. Misalnya lu lu pade lagi main congklak ye bareng-bareng.
Terus ada satu yang ngasih tau begini, abis dari pengajian dia. Itu lu main itu pahalanya sama kayak dateng ke majelis. Padahal Cuma dengerin dia ngomong dikit, ilmunya yang di dapet dari pengajian, udah mau pulang padahal, tapi dia ngasih ilmu itu. Pahalanya sama kayak kita duduk di majelis.
Tuh enak gak tuh, istilahnya ‘sampaikan walau satu ayat’, gapapa, kita bukan guru, bukan habib. Tapi ngasih tau yang bener. (wawancara mpok silvi, 7 Januari 2021 di Majelis Nurul Qomariyah)
Mendirikan sebuah majelis taklim, merupakan salah satu praktik dakwah yang dilakukan Habib Ali Zainal di dalam Majelis Taklim Nurul Qomariyah. Sebagai gerakan kesalehan, dakwah yang dilakukan habib juga bertujuan sebagai salah satu cara dalam mereproduksi sitem nilai Islam sebagai upaya dalam mempertahankan kesalehan muslim, terutama jamaah di dalam Majelis Taklim Nurul Qomariyah.
Dakwah merupakan gerakan kesalehan kontemporer yang pada dasarnya dipahami sebagai kewajiban agama yang mengharuskan semua anggota komunitas Islam untuk mendorong sesama muslim untuk menjadi lebih saleh serta mengajarkan seseorang untuk berperilaku sebagaimana Islam yang benar (Mahmood 2005: 57-58). Hal itu lah yang dilakukan oleh Habib di dalam Majelis Taklim, yaitu mengajak umat muslim bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencintai Nabi Muhammad SAW, serta membentuk manusia yang beriman dan berakhlakul karimah. Sejalan dengan yang dikatakan oleh Bourdieu, bahwa dalam proses reproduksi terdapat peran bahasa (Franklin 2014: 45), peran bahasa dalam hal ini adalah melalui dakwah. Di
65
mana di dalam majelis Nurul Qomariyah proses reproduksi sebagai upaya dalam mempertahankan kesalehan dilakukan melalui dakwah.
Dakwah dipakai sebagai alat bagi Habib untuk mentransfer pengetahuan, kebiasaan-kebiasan, gaya, bahasa, dan ritual-ritual dalam Islam kepada jemaahnya.
Berdasarkan gelarnya yang legitimate, dengan habitus agama sebagai disposisi subjektif dan dengan modal agama dan spiritual yang dimiliki, habib merupakan ulama yang memiliki otoritas keagamaan untuk terus berupaya menanamkan kepada masyarakat habitus agama, terutama dalam ranah keagamaan. Dengan begitu, dapat dirumuskan bahwa praktik habib sebagai ulama merupakan suatu bentuk multiplikasi habitus yang dapat dilihat dari kapital yang dimilikinya dan diakumulasi dengan ranah (Zulkifli 2018:92).
Dakwah yang dilakukan di Majelis Taklim Nurul Qomariyah tidak hanya dilakukan oleh habib, melainkan terdapat guru atau ustadz lain yang membantu mengajar di Majelis. Guru atau ustadz ini yang bertugas membantu habib untuk mengajarkan keagamaan kepada anak-anak. Melalui kegiatan pengajian yang terjadwal, melalui pembacaan Al-quran, belajar bahasa arab, aqidah dan fiqih. Metode yang dilakukan dalam pendidikan ini, seperti pendidikan formal yang dilakukan di satu kelas yang sama, bersama-sama, dalam jangka waktu yang panjang. Tujuannya adalah untuk membentuk habitus agama kepada anak-anak sedari dini.
66
Habitus keagamaan yang ditanamkan kepada jamaah selagi massa anak-anak, diharapkan dalam kesehariannya dapat membentuk perilaku baik sesuai dengan ajaran Islam. Habitus dalam hal ini diandaikan sebagai mekanisme pembentuk praktik social dari actor, yang di dapatkan dari hasil internalisasi dari struktur dunia sosial, yang ter-akumulasi dari pembelajaran, serta pengaruh masa lalu dan sosialisasi individu (Fashri 2017: 99-103). Sehingga habitus terbentuk berdasarkan proses penanaman bertahap dan berlangsung lama. Hal ini lah yang dilakukan di Majelis Taklim Nurul Qomariyah dalam membentuk habitus agama kepada jamaahnya melalui pembelajaran, pembiasaan yang bertahap, dan terus menerus.
Mereka datang mengaji ke Majelis Taklim, salah satu tujuannya adalah untuk medengarkan dakwah Habib. Dalam setiap kegiatan majelis taklim yang dilakukan disetiap malam jumat, malam sabtu dan malam minggu, habib tidak pernah absen untuk menyampaikan dakwah. Dakwah yang disampaikan oleh habib adalah berdasarkan pembahasan kitab yang akan dibahas secaya ayat per ayat maupun kata per kata. Dalam pembahasan kitab tersebut akan diselingi oleh pesan-pesan yang harus dilaksanakan dan dilakukan sebagai umat Islam, dengan mencontohkan nabi Muhammad SAW sebagai tauladan bagi kita berperilaku sesuai dengan akhlak dan adab Islam. Salah satu jamaah mengatakan:
… kalo dipengajian ini lebih mentingin adab sama akhlak mereka, tapi ngaji diajarin, tajwid di ajarin, nulis ada, terus sholat, praktek solat juga ada, cerita-cerita juga ada, hapalan juga ada. Kalo cerita-cerita cerita-cerita itu lebih menekankan pada cerita wali Allah, biar mereka juga gak cuma kenal Batman, Superman tapi juga kenal sama tokoh tokoh idola di dunia nyata, yang beneran ada di Quran
67
buat tauladan mereka. Jangan mau di perdaya cerita-cerita itu yang bohong yang cuma menghayal, hayalan yang itu sebenernya gak ada, cuma buat hiburan doang. Kalo ini kan bukan buat tontonan tapi tuntunan, kalo itu kan cuma tontonan, kalo kita nyarinya yang ke tuntunan, karena akan mengubah akhlak mereka nantinya, kan itu penting, kalo udah dasar itu, akhlak paling penting, adab itu paling penting (Wawancara dengan Umi Nunung, 5 januari 2021 di Karang Tengah)
Selain berupa seruan untuk mentauladani sifat Rasulullah, seringkali habib menyerukan ajakan bagi jamaah untuk senantiasa hadir ke majelis. Majelis diumpakan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang saleh yang senantiasa mencari ilmu di jalan Allah. Selain itu melalui dakwahnya di dalam Majelis Taklim, Habib selalu membiasakan kegiatannya diawali dengan dzikir serta sholawat. Praktik dzikir dan sholawat selalu dibiasakan oleh habib di dalam setiap kegiatan pengajian. Kegiatan dzikir dan sholawat dalam Islam dipercayai merupakan bagian dari praktik ibadah sebagai wujud ritual dari kesalehan. Dzikir dan sholawat menjadi kesenangan bagi para jamaah untuk memperoleh siraman rohani serta ketenangan jiwa. Seperti yang diutarakan jamaah berikut:
Suara pengajiannya, kan kita dzikir sholawat bareng pake iringan music.
Soalnya waktu itu ada di paling belakang, ga keliatan sama sekali … hadir ke majelis tuh yang paling dirasa nih kalo ada masalah atau apa nanti pas hadir disitu hati tenang. (wawancara Zakki Sabtu, 21 Nopember 2020) Jamaah lain juga mengatakan:
Kalau aku memang karena merasa kalo dua hari apa tiga hari gak ke majelis hati kayaknya kayak agak kayak gundah, kayak gak tenang gitu karna aku kan kalo diajarin sama guru aku, kalo hati itu setiap tiga hari sekali harus ada siraman rohani, harus ada pengajian, karna kalo enggak akan ada nohta-nohta
68
hitam karna kita sering gak kepengajian nohta itu semakin hitam. Tenang aja gitu dengerin sholawat, ratib, berdzikir menyebut asma Allah, emang hobi akunya.(Wawancara dengan Umi Nunung, 5 januari 2021 di Karang Tengah)
Saba Mahmod menjelaskan bahwa sebagaimana praktik-praktik yang dilakukan di dalam pengajian merupakan bentuk dari praktik kesalehan. Melakukan ritual-ritual keagamaan merupakan ibadah yang digunakan sebagai sarana yang dipakai untuk melatih dan juga mewujudkan kesalehan dalam keseluruhan hidup seseorang (Mahmood 2005: 48). Nurul Qomariyah merupakan kelompok majelis taklim yang menitikberatkan pada pengajian dzikir dan sholawat yang diyakini dapat memberikan jalan bagi orang-orang yang mencari Tuhan dan melakukan penyucian jiwa. Dzikir dan sholawat menjadi praktik ritual keagamaan dalam pengajian Nurul Qomariyah yang selalu dibiasakan agar diharapkan dapat membentuk perilaku bersyukur serta selalu menempatkan Allah di dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan dzikir dan sholawat ini selain digunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun juga digunakan sebagai solusi dalam pemecahan masalah hidup. Bagi jamaah majelis Nurul Qomariyah mereka mempercayai selain untuk menyucikan diri, praktik dzikir dan sholawat ini dapat menjadi obat serta penyembuh dalam beberapa hal, seperti yang dikatakan informan berikut:
Kalau dengan dzikir dan shalawat ya, dzikir dan sholawat kan bisa kita gunakan sebagai salah satu kegiatan, bukan salah satu ya, memang digunakan sebagai hal yang dipakai untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT. Selain itu juga kita, kalau bisa ya, dibiasakan harus menjadikan dzikir dan sholawat
69
itu menjadi suatu amalan juga yang bisa kita pakai sebagai meminta pertolongan kepada Allah SWT, caranya ya itu dijadiin amalan, dilakukan terus menerus, jangan putus (wawancara dengan Mirda, 14 januari 2021 di Majelis Nurul Qomariyah)
Jamaah lain juga menceritakan bagaimana pengalamannya saat dzikir dan sholawat dijadikan sebagai pemecahan masalah hidupnya:
Ada ustadzah yang pesen kalo khulashah al madad an nabawiyah, pernah baca gak, pernah tau gak, itu dzikir wirid yang paling pas tanda resep menurut habib Umar, jadi gak bikin leng leng, gak bikin stress. Jadi Ketika pagi hari itu kita dianjurinnya baca asmaul husna, dianjurinnya kita baca doa stelah membaca asmaul husna, doa ketika pagi hari, petang hari, nah nati setelah dzuhur kita baca dzikirnya 100 kali. Pernah saya udah buntu, gak punya duit, itu saya baca Laa illaha illallah al malikul haqqul mubin itu gak terasa 500 kali, pas itu anak pulang dari mane gitu ye “bu, besok pagi aku diterima kerja”, die diterima kerja, terus suami dapet kabar “say besok gue narik, bawa tamu”, rejeki kan itu. Pernah ada yang nganjuri jangan lepas yang namanya Laa illaha illallah al malikul haqqul mubin. (Wawancara dengan Mpok Silvi, 7 Januari 2021 di Majelis Nurul Qomariyah)
Nilai-nilai kesalehan yang ditanamkan di dalam majelis taklim berupa ketaatannya dalam beragama. Di mana di dalam majelis taklim lebih diajarkan kepada pembiasaan-pembiasaan menyertakan Allah dan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan jamaah berikut:
Kalo mau minta sesuatu juga kita harus minta dulu ke Allah, ane gitu kalo ngajarin ke anak, yang ngajarin habib alay, ‘biasain ke anak kita kalo mau sepeda kek, motor, mau apa kek, bilangin suruh minta dulu sama Allah, tahajutan, itu habib alay yang ngajarin. (Wawancara dengan Mpok Silvi, 7 Januari 2021 di Majelis Nurul Qomariyah)
Kemudian mpok silvi melanjutkan:
70
Gue aja nih pengen beli jaketnya habib, gue juga solat hajat dulu tiga hari tiga malem, biar dikasih ridho sama Allah biar bisa punya jaket majelis itu.
(Wawancara dengan Mpok Silvi, 7 januari 2021 di Majelis Nurul Qomariyah) Sebagaimana hakikatnya, kesalehan merupakan tindakan atau perilaku actor yang didasarkan kepada kepatuhannya akan ajaran agama. Praktik-praktik ritual kegamaan yang dilakukan merupakan bagian dari ibadah, dimana kesalehan ini sifatnya menyeluruh, bukan hanya sebagaimana ibadah yang dilakukan untuk kepentingan diri sendiri serta hubungannya dengan Tuhan, melainkan juga kepada perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melakukan segala tindakan yang dipercaya sesuai dengan tata cara Islam sebagai muslim yang saleh.
… kita dateng ke pengajian gini, malem-malem gak masalah kan kak, ya emang kalo pulang kadang sampe jam 12 malem, kadang lebih malahan, tapikan kegiatannya bermanfaat, dapet berkahnya, ilmunya, gak aneh-aneh, sesuai sama ajaran agama, dari pada kita keluyuran maen-maen gak jelas, yang aneh-aneh sama temen, diomelin orang tua, kalo ngajikan enggak diomelin. Kitanya juga seneng kan, main keluar, ketemu banyak orang, temen, enak ada music hadrohnya jadi rame gitu. (Wawancara Zakki Sabtu, 21 Nopember 2020).
Segala rangkaian praktik social di dalam pengajian majelis taklim tersebut mereka percayai dapat menciptakan situasi yang memungkinkan bagi mereka sebagai jalan menuju kesalehan. Mereka merasa bahwa mengikuti pengajian di Nurul Qomariyah telah menambah pengetahuan mereka tentang agama, dan ikut melaksanakan praktik ritual-ritual di dalam pengajian membuat mereka merasa sebagai Muslim yang saleh. Melalui majelis taklim actor yang terlibat didalamnya melakukan segala praktik yang dianggapnya dapat terus memperbaharui pengetahuan
71
keagamaannya dalam rangka untuk terus menciptakan dan merawat kesalehan mereka (Amanulloh 2012:13). Dalam pandangan mereka, melalui pengajian, datang ke Majelis Taklim, mendengarkan dakwah, melakukan dzikir dan sholawat yang dilakukan secara bersama-sama dan beramai-ramai merupakan kesenangan serta gaya hidup mereka di era modern sebagai kegiatan yang menyenangkan yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam, sebagaimana Islam mengajarkan dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Ritual-ritual yang keagamaan dilakukan sebagai cara untuk membentuk watak dan juga karakter muslim yang saleh.
72 BAB IV
PENUTUP