• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Manajemen Risiko

2.4.1. Proses Manajemen Risiko

Proses manajemen risiko harus dilakukan secara komprehensif dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses. Proses manajemen risiko sebagaimana yang terdapat dalam Risk Management Standard AS/NZS 4360, yaitu meliputi :

Gambar 2.5 Bagan Proses Manajemen Risiko Sumber : AS/NZS 4360:2004

35

Gambar 2.6 Detail Proses Manajemen Risiko Sumber : AS/NZS 4360:2004

1. Penentuan konteks (tujuan)

a. Menetapkan konteks strategi

Menentukan hubungan antara organisasi dan lingkungan, mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman organisasi. b. Membangun konteks organisasi

Sebelum studi manajemen risiko dimulai, maka diperlukan pemahaman organisasi dan kemampuannya, seperti tujuan dan objektif, strategi untuk mencapai tujuan itu. Dalam konteks manajemen risiko organisasi perlu menetapkan tujuan, strategi, ruang lingkup dan parameter dari aktivitas atau bagian dari organisasi dimana proses manajemen risiko harus dilaksanakan dan ditetapkan.

2. Identifikasi bahaya

Menurut Ramli (2010), identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam suatu upaya sistematis untuk mengetahui adanya bahaya dalam aktivitas organisasi. Identifikasi bahaya merupakan landasan manajemen risiko untuk menjawab pertanyaan apa potensi bahaya yang dapat terjadi atau menimpa organisasi/ perusahaan dan bagaimana terjadinya. Menurut Rijanto (2011), untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya khusus yang berhubungan dengan pekerjaan, maka dapat dimulai dengan mencari bahaya-bahaya.

Menurut Ramli (2010), prosedur identifikasi bahaya berdasarkan OHSAS 18001 adalah sebagai berikut:

a. Mencakup seluruh kegiatan organisasi baik kegiatan rutin maupun non rutin. Tujuannya agar semua bahaya yang ada dapat diidentifikasikan

37

dengan baik termasuk potensi bahaya yang dapat timbul dalam kegiatan yang bersifat non rutin seperti pemeliharaan, proyek pengembangan dan lainnya,

b. Mencakup seluruh aktivitas individu yang memiliki akses ke tempat kerja. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang No. 1 tahun 1970, identifikasi bahaya juga mempertimbangkan keselamatan pihak luar organisasi seperti kontraktor, pemasok atau tamu,

c. Perilaku manusia, kemampuan dan faktor manusia lainnya. Perilaku yang kurang baik mendorong terjadinya tindakan berbahaya yang dapat mengarah terjadinya insiden,

d. Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang berada di tempat kerja. Organisasi tidak mungkin hidup atau jalan sendiri tanpa interaksi dengan pihak lainnya. Banyak sumber bahaya yang masuk kedalam organisasi seperti dari bahan, jasa, individu atau material yang dipasok dari luar,

e. Bahaya yang timbul di sekitar tempat kerja dari aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi, f. Mencakup seluruh infrastruktur, peralatan dan material di tempat

kerja, baik yang disediakan organisasi atau pihak lain, g. Perubahan dalam organisasi, kegiatan atau material,

h. Setiap perubahan atau modifikasi yang dilakukan dalam organisasi termasuk perubahan sementara harus memperhitungkan potensi bahaya K3 dan dampaknya terhadap operasi, proses dan aktivitas, i. Setiap persyaratan legal yang berlaku berkaitan dengan pengendalian

risiko dan implementasi pengendalian yang diperlukan,

j. Rancangan lingkungan kerja, proses, instalasi, mesin, peralatan, prosedur operasi dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia.

Tujuan persyaratan ini adalah untuk memastikan bahwa identifikasi bahaya dapat dilakukan secara komprehensif dan rinci sehingga semua peluang bahaya dapat diidentifikasi. Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik bahaya, tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal. Namun demikian, tidak semua bahaya dapat dikenali dengan mudah. Untuk membantu upaya identifikasi bahaya dikembangkan berbagai metode mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Organisasi harus menetapkan metode identifikasi bahaya yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek antara lain :

a. Lingkup identifikasi bahaya yang dilakukan,

b. Bentuk identifikasi bahaya, misalnya bersifat kualitatif dan kuantitatif, c. Waktu pelaksanaan identifikasi.

Metode identifikasi harus bersifat proaktif atau prediktif sehingga diharapkan dapat menjangkau seluruh bahaya baik yang nyata maupun bersifat

39

potensial. Selanjutnya dalam memilih teknik identifikasi bahaya yang dapat memberikan acuan untuk menentukan peringkat risiko serta prioritas pengendaliannya misalnya menggunakan matrik risiko atau peringkat risiko secara kualitatif atau kuantitatif.

Teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam yang dapat diklasifikasikan atas :

a. Teknik Pasif

Bahaya dapat dikenal dengan mudah jika mengalaminya secara langsung. Cara ini bersifat primitif dan terlambat karena kecelakaan telah terjadi, kemudian mengenal dan mengambil langkah pencegahan. Metode ini sangat rawan, karena tidak semua bahaya dapat menunjukkan eksistensinya sehingga dapat terlihat dengan mudah.

b. Teknik Semi Proaktif

Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena kita tidak perlu mengalaminya sendiri. Teknik ini lebih baik karena tidak perlu mengalami sendiri setelah itu kemudian diketahui adanya bahaya.Kekurangan dari teknik ini adalah sebagai berikut :

1. Tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan dampak kejadian kecelakaan,

2. Tidak semua kejadian dilaporkan atau di informasikan kepada pihak lain untuk diambil sebagai pelajaran,

3. Kecelakaan telah terjadu yang berarti tetap menimbulkan kerugian, walaupun menimpa pihak lain.

c. Teknik Proaktif

Merupakan teknik terbaik untuk mengidentifikasi bahaya, teknik ini mencari bahaya sebelum bahaya tersebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan.

Tindakan proaktif memiliki kelebihan :

1. Bersifat preventif karena bahaya dikendalikan sebelum menimbulkan kecelakaan atau cedera,

2. Bersifat peningkatan berkelanjutan (continual improvement) karena dengan mengenal bahaya dapat dilakukan upaya perbaikan,

3. Meningkatkan “awareness” semua pekerja setelah mengetahui dan mengenal adanya bahaya di sekitar tempat kerjanya dan 4. Mencegah pemborosan yang tidak diinginkan, karena adanya

bahaya dapat menimbulkan kerugian

Terdapat berbagai teknik identifikasi bahaya yang bersifat proaktif, antara lain :

a. Data kejadian

Teknik ini bersifat semiproaktif karena berdasarkan sesuatu yang telah terjadi. Dari suatu kecelakaan atau kejadian akan diperoleh informasi penting mengenai adanya suatu bahaya. Dari kejadian tersebut dapat digali informasi yang lebih mendalam. Dari kejadian dapat diperoleh informasi dan data secara mendalam.

41

b. Daftar periksa

Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan membuat suatu daftar periksa tempat kerja (check list) . Melalui daftar periksa dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh kondisi di lingkungan kerja seperti mesin, penerangan, kebersihan dll. Data periksa dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi, sifat kegiatan dan jenis bahaya yang dominan.

c. Brainstorming

Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan teknik brainstorming dalam suatu kelompok atau tim di tempat kerja. Tim ini dapat berasal dari suatu bidang atau departemen tetapi dapat juga bersifat lintas fungsi. Dalam pertemuan kelompok ini dibahas kondisi tempat kerja. Setiap anggota kelompok dapat mengemukakan pendapat dan temuannya mengenai bahaya yang ada di lingkungan masing-masing.

d. What if analysis

Teknik ini merupakan teknik identifikasi yang bersifat proaktif dengan menggunakan kata bantu “what if”. Sebagai contoh : What if... jika pompa tiba-tiba mati.

e. Hazops (Hazards and Operability Study)

Merupakan teknik identifikasi bahaya yang sangat komprehensif dan terstruktur. Digunakan untuk mengidentifikasi suatu proses atau unit operasi baik pada tahap rancang bangun, konstruksi, operasi maupun modifikasi. Hazops dilakukan dalam bentuk tim dengan menggunakan

kata bantu (guide word) yang dikombinasikan dengan parameter yang ada dalam proses seperti, level, suhu, dll.

f. Analisis Moda Kegagalan dan Efek (Failure Mode and Effect Analysis) Teknik identifikasi bahaya yang digunakan pada peralatan atau sistem. Teknik ini mengidentifikasi kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi serta dampak yang mungkin timbulkannya. Dengan demikian, dapat dilakukan upaya pengendalian. Sebagai contoh, FMEA dapat dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya pada suatu turbin gas, kompresor, alat kontrol, katup pengaman dan lainnya.

g. Task Analysis

Digunakan untuk mengidentifikasi bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan atau suatu tugas.

h. Event Tree Analysis

Metode ini menunjukkan dampak yang mungkin terjadi diawali dengan mengidentifikasi pemicu kejadian dan proses dalam setiap tahapan yang menimbulkan terjadinya kecelakaan. Sehingga dalam ETA perlu diketahui pemicu dari kejadian dan fungsi sistem keselamatan atau prosedur kegawatdaruratan yang tersedia untuk menentukan langkah perbaikan dampak yang ditimbulkan oleh pemicu kejadian (DiBerardinis, 1999).

i. Analisis Pohon Kegagalan (Fault Tree Analysis)

FTA menggunakan metode analisis yang bersifat deduktif. Dimulai dengan menetapkan kejadian puncak yang mungkin terjadi dalam sistem,

43

kemudian semua kejadian yang dapat menimbulkan akibat dari kejadian puncak tersebut diidentifikasi dalam bentuk pohon logika kearah bawah. FTA merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana suatu kecelakaan spesifik dapat terjadi (DiBerardinis,1999). j. Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis)

Job Safety Analysis adalah suatu cara yang digunakan untuk memeriksa metode kerja dan menentukan bahaya yang sebelumnya diabaikan dalam merencanakan pabrik atau gedung dan didalam rancang bangun mesin-mesin, alat-alat kerja, material, lingkungan kerja dan proses kerja (Soeripto, 1997).

Analisis keselamatan kerja atau JSA bermanfaat dalam keamaan kerja dan melindungi produktivitas pekerja. Manfaatnya adalah :

1. Mengidentifikasi usaha perlindungan yang dibutuhkan di tempat kerja,

2. Menemukan bahaya fisik yang ada di lingkungan kerja,

3.Mempelajari pekerjaan untuk peningkatan yang memungkinkan dalam metode kerja,

4. Biaya kompensasi pekerja menjadi lebih rendah dan meningkatkan produktivitas,

5. Penentuan standar-standar yang diperlukan untuk keamanan, termasuk petunjuk dan pelatihan tenaga kerja manusia,

6. Memberikan pelatihan individu dalam hal keselamatan dan prosedur kerja efisien.

3. Analisis Risiko

Analisis risiko dilakukan untuk menentukan besarnya suatu risiko dengan mempertimbangkan antara estimasi konsekuensi dengan perhitungan terhadap program pengendalian yang dilakukan. Analisis pendahuluan (pre-eliminary analysis) dapat dibuat terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran mengenai keseluruhan risiko yang ada kemudian disusun urutan risiko dari yang kecil sampai ke yang besar. Untuk risiko-risiko yang kecil sementara dapat diabaikan dan prioritas dapat diberikan terhadap risiko-risiko yang cukup signifikan dapat menimbulkan kerugian. Dalam kegiatan ini, semua jenis bahaya, risiko yang bisa terjadi, kontrol atau proteksi yang sudah ada, peluang terjadinya risiko, akibat yang mungkin timbul dan upaya pengendalian bahaya dibahas secara rinci dan dicatat selengkap mungkin (Syukri Sahab, 1997).

a. Menetapkan pengendalian yang sudah ada

Identifikasi manajemen, sistem teknis dan prosedur-prosedur yang sudah ada untuk pengendalian risiko, kemudian dinilai kelebihan dan kekurangannya. Alat-alat yang digunakan dinilai kesesuainnya. Pendekatan-pendekatan dilakukan misalnya, seperti inspeksi dan teknik pengendalian dengan penilaian sendiri atau professional judgement (control self-Assesment Techniques/CST)

b. Konsekuensi/dampak dan kemungkinan

Konsekuensi dan probabilitas dikombinasikan untuk melihat level atau tingkat risiko. Berbagai metode dapat digunakan untuk menghitung

45

konsekuensi dan probabilitas, diantaranya dengan menggunakan metode statistik.

Metode lain yang juga bisa digunakan jika data terdahulu tidak tersedia, dengan melakukan ekstrapolasi data-data sekunder secara umum dari lembaga-lembaga internasional maupun industri sejenis, kemudian dibuat perkiraan subyektif metode ini disebut metode penentuan dengan professional judgement. Hasilnya dapat memberikan gambaran secara umum mengenai level risiko yang ada.

Sumber informasi yang digunakan untuk menghitung konsekuensi diantaranta adalah :

1. Catatan-catatan terdahulu,

2. Pengalaman kejadian yang relevan,

3. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di indutri dan pengalaman-pengalaman pengendaliannya,

4. Literatur-literatur yang beredar dan relevan, 5. Marketing list dan penelitian pasar,

6. Percobaan-percobaan dan prototype,

7. Model ekonomi, teknik, mapun model yang lain dan 8. Spesialis dan pendapat-pendapat para pakar.

c. Jenis analisis risiko

Metode analisis yang biasanya digunakan dalam analisis risiko dapat bersifat kualitatif, semi kuantitatif atau kuantitatif atau bisa juga kombinasi dari ketiganya tergantung kondisi dan situasinya. Menurut

Ramli (2010), ada beberapa pertimbangan dalam memilih teknik analisis risiko antara lain :

1. Teknik yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kompleksitas fasilitas atau instalasi serta jenis bahaya yang ada dalam operasi, 2. Teknik tersebut dapat membantu dalam menentukan pilihan cara

pengendalian risiko,

3. Teknik tersebut dapat membantu membedakan tingkat bahaya secara jelas sehingga memudahkan dalam menentukan prioritas langkah pengendaliannya,

4. Cara penerapannya terstruktur dan konsisten sehingga proses manajemen risiko dapat berjalan berkesinambungan. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai metode yang digunakan dalam analisis risiko menurut AS/NZS 4360:2004

a. Analisis kualitatif

Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui risiko suatu fasilitas atau kegiatan jika data-data yang lengkap tidak tersedia. Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur seperti risiko rendah, risiko sedang, dan risiko tinggi.

Menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan atau probability diberi rentang antara risiko yang jarang terjadi (rare) sampai dengan risiko yang dapat terjadi setiap saat (almost certain). Sedangkan untuk keparahan atau consequence dikategorikan antara kejadian

47

yang tidak menimbulkan cedera atau kerugian kecil sampai dampak yang paling parah yaitu menimbulkan kejadian fatal (meninggal dunia) atau kerusakan besar terhadap asset perusahaan.

Tabel 2.1 Ukuran kualitatif dari keparahan (consequences)

Sumber : AS/NZS 43600: 2004 Risk Management Guide

Tabel 2.2 Ukuran kualitatif dari kemungkinan (probability)

Level Penjelasan Contoh penjelasan rinci 1 Insignificant Tidak terjadi cedera, kerugian financial kecil

2 Minor

P3K, penanganan di tempat, kerugian finacial sedang

3 Moderate

Memerlukan perawatan medis, penanganan di tempat dengan bantuan pihak luar, kerugian financial besar

4 Major

Cedera berat, kehilangan kemampuan produksi, penanganan luar area tanpa efek negatif, kerugian financial besar

5 Catastrphic Kematian, keracunan hingga keluar area dengan efek gangguan, kerugian finasial sangat besar.

Level Penjelasan Contoh penjelasan rinci

1 Almost Certain Terjadi hampir disemua keadaan

2 Likely Sangat mungkin terjadi hampir disemua keadaan

3 Possible Dapat terjadi sewaktu-waktu 4 Unlikely Kemungkinan terjadi jarang

5 Likely Hanya dapat terjadi pada keadaan tertentu Sumber : AS/NZS 43600: 2004 Risk Management Guide

Gambar 2.7 Matriks analisis risiko kualitatif (level of risk) Sumber : AS/NZS 43600: 2004 Risk Management Guide b. Analisis semi kuantitatif

Dalam analisis semi kuantitatif, skala yang telah disebutkan tersebut kemudian diberi nilai. Setiap nilai yang diberikan haruslah menggambarkan derajat konsekuensi maupun probabilitas dari risiko yang ada. Misalnya suatu risiko mempunyai tingkat probabilitas yaitu sangat mungkin terjadi (almost certain), kemudian diberi nilai 100. Lalu dilihat tingkat konsekuensi yang terjadi misalnya konsekuensi yang dapat terjadi adalah sangat parah, lalu diberi nilai 50. Maka tingkat risikonya adalah sebesar 100 x 50 = 5000. Diperlukan kehati-hatiaan dalam menggunakan analisis semi kuantitatif, karena nilai yang dibuat belum tentu mencerminkan kondisi obyektif yang ada dari sebuah risiko. Ketepatan perhitungan tergantung dari tingkat pengetahuan tim ahli dalam analisis tersebut terhadap proses terjadinya sebuah risiko.

49

Salah satu metode analisis semi kuantitatif yang sering digunakan yaitu metode Fine (Dickson,2001). Metode tersebut terdiri dari tiga faktor utama yaitu consequence, exposure dan likelihood yang telah ditentukan rating atau nilainya. Nilai dari ketiga faktor tersebut dikalikan untuk mengetahui tingkat risikonya. Tabel 2.3 Kriteria dan nilai dari faktor consequences

Faktor Tingkatan Deskripsi Rating

Consequence (akibat yang mungkin ditimbulkan dari suatu kejadian atau peristiwa)

Catastrophe Kerusakan fatal/parah beragam fasilitas lebih dari $ 1 juta, aktivitas dihentikan, terjadi kerusakan lingkungan yang sangat luas

100

Disaster Kematian, kerusakan permanen yang bersifat lokal terhadap lingkungan, kerugian $ 500.000-2.000.000

50

Very Serious

Terjadi cacat permanen/penyakit parah, kerusakan lingkungan yang tidak permanen, dengan kerugian $50.000-500.000

25

Serious Terjadi dampak yang serius tapi bukan cedera dan penyakit parah yang permanen, sedikit berakibat buruk pada lingkungan, dengan kerugian $ 5.000-50.000

15

Important Membutuhkan penanganan medis, terjadi emisi buangan di lokasi tetapi tidak mengakibatkan kerusakan, dengan kerugian $ 500-5.000

5

Noticeable Terjadi cedera atau penyakit ringan, memar bagiah tubuh, kerusakan kecil kurang dari $500, kerusakan ringan atau terhentinya proses kerja sementara waktu, tetapi tidak mengakibatkan pencemaran luar lokasi

1

Tabel 2.4 Kriteria dan nilai dari faktor exposure

Sumber : Jean Cross,2004

Tabel 2.5 Kriteria dan nilai dari faktor probability

Sumber : Jean Cross,2004

Tabel 2.6 Level/prioritas risiko

Tingkat risiko Comment Action

>350 Very high Penghentian aktivitas, risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dapat diterima 180-350 Priority 1 Perlu dilakukan penangan

Faktor Tingkatan Dekripsi Rating

Exposure (paparan frekuensi pemaparan terhadap bahaya atau sumber risiko)

Continously Sering terjadi dalam satu hari 10 Frequently Terjadi kira-kira satu kali dalam

sehari

6 Occasionally Terjadi satu kali seminggu

sampai satu kali sebulan

3 Infrequent Satu kali dalam sebulan sampai

satu kali dalam setahun

2

Rare Jarang terjadinya 1

Very rare Tidak diketahui kapan terjadinya 0,5

Faktor Tingkatan Dekripsi Rating

Probability (kemungkinan terjadinya bahaya yang menyertai suatu kejadian atau peristiwa

Almost certain Kejadian yang paling sering terjadi

10 Likely Kemungkinan terjadi kecelakaan

50%

6 Unusual but

possible

Tidak biasa namun memiliki kemungkinan terjadi

3 Remotely

possible

Suatu kejadian yang sangat kecil kemungkinan terjadinya

1 Conceivable Tidak pernah terjadi kecelakaan

dalam tahun-tahun pemaparan tetapi mungkin terjadi

0,5

Practically impossible

51

secepatnya

70-180 Substantial Mengharuskan ada perbaikan secara teknis

20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan

diperhatikan secara berkesinambungan

<20 Acceptable Intensitas kegiatan yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin

Sumber : JeanCross,2004 c. Analisis kuantitatif

Analisis risiko kuantitatif menggunakan perhitungan probabilitas kejadian atau konsekuensinya dengan data numerik dimana besarnya risiko tidak berupa peringkat seperti metode semikuantitatif. Konsekuensi dapat dihitung dengan menggunakan modeling hasil dari kejadian atau kumpulan kejadian atau dengan memperkirakan kemungkinan dari studi eksperimen atau data sekunder/ data terdahulu. Sedangkan probabilitas dapat dihitung dari exposure dan probability.Probabilitas dan konsekuensi kemudian dihitung untuk menetapkan risiko yang ada.

4. Evaluasi Risiko

Suatu risiko tidak akan memberikan makna yang jelas bagi manajemen atau pengambil keputusan laiinya jika tidak diketahui apakah risiko tersebut signifikan bagi kelangsungan bisnis. Oleh karena itu, sebagi tindak lanjut dari penilaian risiko perlu dilakukan evaluasi risiko. Evaluasi risiko mempunyai tujuan untuk melihat apakah risiko yang telah dianalisis dapat diterima atau tidak dengan membandingkan dengan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan.

Tingkat risiko atau peringkat risiko sangat penting sebagai alat manajemen dalam mengambil keputusan. Melalui peringkat risiko, manajemen dapat menentukan skala prioritas dalam penangannya. Manajemen juga dapat mengalokasikan sumber daya yang sesuatu untuk masing-masing risiko sesuai dengan tingkat prioritasnya (Ramli,2010).

Berdasarakan pendapat Djunaidi hasil evaluasi risiko antara lain yaitu : a. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada,

b. Gambaran tentang prioritas risiko yang ada,

c. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya ataupun parameter lainnya,

d. Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian. 5. Pengendalian risiko

Menurut Ramli (2010) pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menemukan prioritas dan cara pengendaliannya. Selanjutnya, dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif dan penyediaan alat keselamatan yang disesuaikan dengan kondisi organisasi, ketersedian biaya, biaya operasional, faktor manusia dan lingkungan.

Pengendalian risiko merupakan langkah menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi risiko dapat ditentukan suatu risiko dapat diterima atau tidak. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu :

53

a. Mengurangi kemungkinan (reduce likehood) b. Mengurangi keparahan (reduce consequence) c. Pengalihan risiko sebagaian atau seluruhnya d. Menghindar dari risiko (risk avoid)

Berkaitan dengan risiko K3, pengendalian risiko dilakukan dengan mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki sebagai berikut.

Gambar 2.8 Hirarki pengendalian risiko Sumber : www.google.com

a. Eliminasi/Menghilangkan

Teknik pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya. Contohnya adalah generator pembangkit listrik yang menimbulkan bising diganti dengan penggunaan listrik dari PLN. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya dieliminasi sehingga potensi risiko dapat dihilangkan.

b. Substitusi/Penggantian

Teknik pengendalian bahaya dengan mengganti alat, bahan, sistem atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman dan lebih rendah bahayanya. Teknik ini banyak digunakan, misalnya bahan kimia berbahaya dalam proses produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman.

c. Pengendalian engineering/teknis

Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana teknis yang ada di lingkungan kerja. Karena itu, pengendalian bahaya dapat dilakukan melalui perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman. Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis misalnya dengan memasang peredam suara sehingga tingkat kebisingan dapat ditekan.

d. Pengendalian administratif

Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara administratif misalnya mengurani jadwal kerja, istirahat, cara kerja yang lebih aman, rotasi atau pemeriksaan kesehatan.

e. Penggunaan alat pelindung diri (APD)

Pilihan terakhir untuk mengendalikan bahaya adalah dengan memakai alat pelindung diri misalnya pelindung kepala, sarung tangan, pelindung pernafasan (respirator atau masker), pelindung jatuh dan pelindung kaki.

55

6. Pemantauan dan telaah ulang

Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dapat terjadi. Perubahan-perubahan tersebut kemudian perlu ditelaah ulang untuk selannjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan. Pada prinsipnya pemantauan dan telaah ulang perlu dilakukan untuk menjamin terlaksananya seluruh proses manajemen risiko yang optimal. (dr. Zulkifli Djunaidi, 2005)

7. Komunikasi dan konsultasi

Hasil manajemen risiko harus dikomunikasikan dan diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan sehingga akan memberikan manfaat dan keuntungan bagi semua pihak. Pihak manajemen haruslah memperoleh informasi yang jelas mengenai semua risiko yang ada dibawah kendalinya. Demikian pula dengan para pekerja perlu diberi informasi mengenai semua potensi bahaya yang ada di tempat kerjanya sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan aman. Pihak lain pun seperti pemasok, kontraktor dan masyarakat sekitar aktivitas perusahaan juga perlu mendapat informasi yang jelas tentang kegiatan perusahaan

Dokumen terkait