BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.6 Model Optimasi Penugasan Kapal Berdasarkan Biaya total dan Utilitas
5.6.5 Proses Model Optimasi Dengan Tujuan MeminimumkanBiaya total
Proses optimasi pada model ini adalah bertujuan untuk mencari biaya total minimum yang dikeluarkan di tahun pertama atau awal tahun. Artinya, biaya total yang dikeluarkan tersebut berlaku untuk tahun pertama dimana pada awal tahun hingga akhir tahun pertama adalah proses investasi berlangsung dan setelah melewati periode tersebut biaya total yang dihitung tidak akan menyertakan biaya pembangunan galangan.
Pada model ini akan dilakukan beberapa kali proses optimasi berdasarkan kemampuan jelajah kapal. Sehingga untuk proses optimasi yang sama akan diterapkan kedalam hasil seleksi yang dilakukan dalam analisis set covering sebelumnya.
Proses optimasi diawali dengan memasukkan data input (data yang sudah dihitung sebelumnya, seperti: biaya mobilisasi kapal, opportunity cost, dan biaya investasi galangan yang termasuk biaya tetap dan biaya variabel. Hasil dari optimasi ini adalah mendapatkan biaya total yang minimum dengan jumlah lokasi tujuan (Target Zone) tententu. Berikut diagram alur dalam proses running optimasi menggunakan Solver:
Jumlah Kapal Terlayani (Decision Variable)
Biaya Mobilisasi, Pengiriman Material dan Repair (Rupiah)
Opportunity Cost (Rupiah) Total Cost
Gambar 5-20 Proses Model Optimasi
Dari penjelasan di atas, maka dapat dilakukan running proses optimasi pada Solver dengan menggunakan Gnumeric, sebagai berikut:
Gambar 5-21 Parameter untuk Model Optimasi
138
Gambar 5-22 Batasan untuk Model Optimasi
Setelah data dan parameter sudah selesai dimasukkan, selanjutnya proses optimasi dapat dilakukan.
5.6.6 Hasil Model Optimasi (Output)
Hasil keluaran (output) dari proses optimasi dapat diterima setelah proses running pada Solver menyatakan bahwa hasil running adalah “optimal”. Pernyataan tersebut berarti bahwa hasil yang didapat dari proses optimasi merupakan hasil yang paling optimum.
Gambar 5-23 Hasil Model Optimasi pada Gnumeric
Proses optimasi tersebut kemudian dilakukan percobaan berkali-kali dengan maksud untuk mencari paling minimum (Objective Function) dengan melihat pada kolom kompatibilitas dan utilitas masing-masing kapal. Dari hasil running model optimasi, didapatkan data hasil keluaran (output) optimasi yang dapat dilihat pada tabel- tabel hasil model optimasi.
Hasil yang ditunjukan pada setiap optimasi dengan menggunakan kemampuan jelajah masing- masing kapal tersebut adalah biaya total yang paling minimum yang timbul akibat proses mobilisasi kapal, proses perbaikan dan perawatan hingga investasi pembangunan galangan. Persamaan hasil tersebut didasarkan pada variabel-variabel biaya yang telah dihitung sebelumnya dimana bahwa hal tersebut berarti pada lokasi yang dimaksud merupakan hasil yang paling optimum. Adapun untuk biaya total yang didapatkan dari model optimasi dapat dilihat pada tabel 5-42 berikut.
Tabel 5-42 Jumlah Biaya Untuk Setiap Kemampuan Jelajah Kapal Dengan Model Optimasi
Kemampuan Jelajah Kapal Biaya Total Persentase Utilitas Keseluruhan Lokasi Biaya MRD Rp 74.380.155.688 80,707%
Biaya MRD & Opp. Cost Rp 80.544.162.085 79,268%
Penambahan Biaya Galangan Rp 4.179.934.409.172 74,469%
Dengan demikian, berbeda dengan hasil optimasi sebelumnya dimana tujuan yang dicari adalah utilitas paling maksimum, maka pada model optimasi ini utilitas yang didapatkan belum tentu maksimum mengingat tujuan utama model optimasi ini adalah mencari lokasi galangan dengan biaya total yang paling minimum.
Pada nilai persentase utilitas keseluruhan lokasi, terdapat beberapa hasil yang menunjukan bahwa semakin tinggi persentase tersebut maka akan semakin tinggi nilai utilitas kapal-kapal perintis yang di mobilisasi menuju lokasi galangan. Hasil tersebut merupakan jumlah total nilai persentase kapal yang dimobilisasi yang dibagi dengan jumlah kapal yang dimobilisasi. Sehingga dapat digunakan untuk mempermudah model optimasi yang dilakukan, yaitu memperkecil angka yang dihasilkan agar tidak melebihi nilai utilitas maksimal atau 100%
namun dapat digunakan untuk mencari nilai utilitas maksimum.
140
5.6.6.1 Hasil Optimasi Pemilihan Lokasi dengan endurance Masing-masing Kapal
Dalam proses model optimasi yang dilakukan, terdapat pembahasan terhadap optimasi yang dilakukan pertama yaitu dengan meminimumkan biaya total yang terdiri dari biaya mobilisasi – demobilisasi (Mob-Demob), biaya perbaikan dan perawatan (RL) dan biaya pengiriman material (Delivery) yang dipengaruhi oleh fasilitas dan kapasitas tiap ukuran galangan dan didapatkan bahwa kapal-kapal perintis yang diteliti melakukan perbaikan dan perawatan di berbagai lokasi yang dapat dilihat pada tabel 5-43
Tabel 5-43 Jumlah Kapal terlayani di Lokasi Terpilih Terhadap Biaya MRD Lokasi Jumlah Kapal
Kupang 3
Bitung 4
Kwandang 1
Makassar 7
Ambon 6
Saumlaki 2
Ternate 3
Jayapura 3
Biak 2
Merauke 3
Manokwari 3
Sorong 2
Setelah didapatkan hasil pada model optimasi yang pertama , maka selanjutnya dilakukan model optimasi dengan tujuan meminimumkan biaya total yang dipengaruhi oleh opportunity cost. Adapun hasil yang dimaksud dapat dilihat pada tabel 5-44.
Tabel 5-44 Jumlah Kapal terlayani di Lokasi Terpilih Terhadap Biaya MRD &Opportunity Cost
. Lokasi Jumlah Kapal
Kupang 2
Bitung 10
Kwandang 1 Makassar 10
Ambon 2
Jayapura 2
Biak 1
Merauke 3
Sorong 8
Adapun untuk hasil yang lebih detil dapat dilihat pada gambar 5-24 dan 5-25.
Gambar 5-24 Hasil Model Optimasi Dengan Endurance Masing-masing Kapal Terhadap Biaya MRD (Juta Rupiah)
142
Gambar 5-25 Hasil Model Optimasi Dengan Endurance Masing-masing Kapal Terhadap Biaya MRD & Opportunity Cost (Juta Rupiah) g
5.6.6.2 Penambahan Biaya Pada Hasil Optimasi Pemilihan Lokasi
Setelah model optimasi dengan tujuan meminimumkan biaya total, kemudian dari hasil-hasil tersebut dilakukan penambahan biaya guna mengetahui perubahan lokasi galangan yang terpilih berdasarkan biaya total pembangunan galangan. Dimana dalam biaya total tersebut telah termasuk biaya variabel dan biaya tetap dari pembangunan hingga operasional galangan itu sendiri.
Penambahan biaya yang dimaksud adalah akibat dari asumsi penulis dimana industri pendukung di Kawasan Indonesia Timur dianggap belum ada. Sehingga tidak mempertimbangkan galangan-galangan kapal yang saat ini telah ada. Dengan begitu maka keseluruhan lokasi dapat dianggap setara atau keseluruhan lokasi dapat dijadikan lokasi industri pendukung dengan batasan jarak antar lokasi galangan dengan lokasi pelabuhan pangkal kapal perintis terhadap kemampuan jelajah (endurance) masing-masing kapal perintis.
Adapun untuk hasil dari optimasi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5-45 Jumlah Kapal terlayani di Lokasi Terpilih Terhadap Penambahan Biaya Galangan Lokasi Jumlah Kapal
Bima 19
Makassar 20
Sehingga berdasarkan hasil optimasi yang dilakukan diketahui bahwa lokasi terpilih adalah Bima dan Makassar. Artinya untuk keseluruhan kapal dengan kapal di lokasi Surabaya dan Tanjung Wangi dikecualikan (lokasi Surabaya dan Banyuwangi merupakan lokasi yang digunakan sebagai lokasi pembanding atas lokasi lainnya) memilih untuk melakukan perbaikan dan perawatan di lokasi yang dimaksud. Jumlah-jumlah kapal tersebut merupakan hasil dari optimasi yang menunjukan bahwa lebih disarankan untuk melakukan perbaikan dan perawatan di lokasi tersebut berdasarkan penambahan biaya galangan yang disertakan dalam model optimasi.
Adapun untuk hasil penambahan biaya total pembangunan galangan secara detil dapat dilihat pada gambar 5-26.
144
Gambar 5-26 Hasil Model Optimasi Dengan Endurance Masing-masing Kapal Terhadap Penambahan Biaya Galangan (Juta Rupiah) g
5.6.7 Hasil Optimasi Pemilihan Lokasi Yang Dipengaruhi Kapasitas dan Fasilitas