• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Transportasi Laut Perintis

Fungsi transportasi dalam pembangunan adalah sebagai pelayan pembangunan atau

“servant of development”. Pelayanan pembangunan harus diartikan sebagai upaya penyediaan fasilitas saranan dan prasarana transportasi yang cukup, sehingga mampu melayani kebutuhan jasa transportasi secara lancar. Dengan demikian, pembangunan di daerah dapat meningkat dan kesejahteraan masyarakat meningkat pula.

Jasa transportasi yang cepat (lancar), murah, dan aman sangat penting dan diutamakan dalam kehidupan masyarakat modern, dan upaya penyempurnaan tersebut mempengaruhi perkembangan standar kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dapat diperjelas bahwa transportasi bukan merupakan ‘tujuan’, akan tetapi lebih merupakan ‘alat’

untuk mencapai banyak tujuan.

Pertumbuhan fasilitas transportasi (termasuk pelayaran perintis) telah memberikan manfaat besar kepada masyarakat dan mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat.

Pelayaran perintis menimbulkan berbagai persoalan meliputi banyak aspek dan menyangkut kepentingan masyarakat umum, sehingga pemerintah harus mengaturnya secara terpisah dan seksama. Keterlibatan pemerintahsecara seksama dan terarah dalam penyelenggaraan pelayaran perintis sangat diperlukan, terutama untuk wilayah-wilayah tertinggal dan terisolir, khususnya di Kawasan Timur Indonesia.

Namun pihak pelayaran Indonesia sampai saat ini masih belum melirik Kawasan Timur Indonesia sebagai suatu prospek yang bagus. Daerah-daerah yang mempunyai fasilitas transportasinya masih sangat terbatas atau standar kinerja pelabuhan yang masih kurang, karena muatan sangat terbatas menjadi penyebab pihak-pihak pelayaran tidak tertarik untuk datang dan mengangkutnya karena tidak menguntungkan bagi usahanya.

Daerah-daerah di dalam Kawasan Indonesia Timur meskipun memiliki pengembangan yang prospektif, akan tetap tertinggal karena kurangnya kapal yang datang untuk singgah dan melakukan kegiatan ekonomi beserta turunannya.

Standar kinerja pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia secara nasional diatur dalam S K Dirjen Pehubungan Laut no UM.002/38/18/DJPL-11 dan digolongkan atas kinerja pelayanan, kinerja produktivitas dan kinerja utilitas.Peraturan mengenai standar kinerja operasional pelabuhan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kinerja pelayanan pengoperasian di pelabuhan, kelancaran dan ketertiban pelayanan digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk perhitungan tarif jasa pelabuhan (Suyono, 2003).

Salah satu strategi dasar pembangunan nasional dan pembangunan daerah adalah pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Penjabaran dari strategi dasar tersebut dalam pembangunan wilayah gugus pulau adalah penyelenggaraan pelayaran perintis. Bagi pihak pelayaran swasta, prospek yang ditawarkan masih belum membuat mereka untuk tertarik terlibat dalam penyelenggaraan pelayaran perintis karena dianggap tidak memberikan keuntungan sebagaimana dengan kondisi pelayaran yang ada di kawasan Indonesia dibagian tengah dan barat, oleh karena itu penyelenggaraannya kebanyak dilakukan oleh pihak Pemerintah.

Pelaksana (Operator) pelayaran perintis adalah perusahaan swasta atau BUMN yang ditunjuk oleh Pemerintah melalui tender dan kerugian yang dialami oleh pelaksana (operator) saat mengoperasikan pelayaran tersebut akan diberikan kompensasi dalam bentuk subsidi. Penentuan trayek (rute), frekuensi pelayaran, tarif (uang tambang) pelayaran perintis dilakukan oleh pemerintah (Kementrian Perhubungan).

Tinjauan mengenai sifat hubungan antara pelayaran perintis dan pembangunan menurut Ralahulu et al (2013) perlu dikembangkan, dan yang terpenting adalah tidak lagi mempersoalkan bahwa pelayaran perintis merupakan faktor fundamental atau tidak terhadap pembangunan daerah-daerah tertinggal atau daerah-daerah yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan jasa transportasi. Namun, pelayaran perintis merupakan faktor fundamental atau sebagai fasilitas penunjang, sehingga pernyataan yang tepat bukan lagi

“ship follows the trade” (dilihat dari kepentingan pemilik kapal) atau “trade follows the ship” (dilihat dari kepentingan pemilik barang), tetapi yang lebih tepat adalah “ship promotes development” (dilihat dari kepentingan pembangunan daerah).

2.2.1 Wilayah dan Trayek Pelayaran Perintis

Pelayaran perintis menyinggahi sejumlah pelabuhan yang tersebar pada wilayah pelayanan pelayaran perintis. Wilayah-wilayah pelayanan ini beragam keadaannya dan dapat diklasifikasikan dalam beberapa trayek, yaitu:

1. Wilayah Gugus kepulauan yang terdiri atas banyak pulau;

2. Wilayah sepanjang pantai;

3. Wilayah sungai menyinggahi pelabuhan-pelabuhan wilayah pedalaman

4. Wilayah perbatasan yang menyinggahi pelabuhan-pelabuhan perintis yang berlokasi di perbatasan.

Trayek (rute) yang tersedia menunjukan banyak pelabuhan perintis yang disinggahi oleh Angkutan Laut Perintis (Ralahulu et al,2013), dimulai dari pelabuhan pangkal

(Home-18

Base) sampai kembali lagi ke pelabuhan pangkal. Demikian seterusnya, mengikuti arah perjalanan pada trayek yang telah ditetapkan.

Jumlah pelabuhan yang disinggahi pada setiap trayek perintis relatid cukup banyak, dimana hal ini berarti jumlah frekuensi pelayaran perintis relatif kecil dalam setahun.

Jangka waktu antara keberangkatan dan kedatangan kapal perintis pada suatu pelabuhan dalam setiap frekuensi pelayaran menurut Ralahulu et al,(2013) memerlukan waktu cukup lama, yaitu sekitar 20 hari. Waktu tunggu selama itu dianggap kurang menguntungkan terutama bagi pengembangan komoditas lokal yang dipasarkan ke luar daerah, khususnya jika komoditas lokal tersebut tidak tahan lama (perishable).

Sebaliknya, jika jumlah pelabuhan singgah dikurangi, jumlah frekuensi pelayaran meningkat, waktu antara keberangkatan dan kedatangan kapal pada suatu pelabuhan lebih cepat, dan akan dirasakan lebih menguntungkan jika dilihat dari aspekpengembangan perdagangan antarpulau. Dalam penyelenggaraan pelayaran perintis dihadapkan pada permasalahan antara pemerataan pelayanan pelayaran perintis dengan kepentingan efektivitas pengembangan perdagangan dan pembangunan daerah.

2.2.2 Tipologi Wilayah Pelayaran Perintis

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, wilayah layanan pelayaran perintis adalah wilayah transportasi laut dan penyelenggaraan pelayaran perintis bertujuan untuk mendorong pembangunan daerah. Meskipun kehadiran penyelenggaraan pelayaran perintis tersebut sangat dibutuhkan untuk kepentingan pemerataan pembangunan dan mengurangi kesenjangan antar daerah (pulau-pulau), maka dari segi akademik perlu disajikan model tipologi wilayah pelayaran perintis yang dapat dibagi dalam lima kategori menurut Ralahulu et al (2013) seperti ditunjukan pada tabel 2-1 .

Terdapat lima kategori berdasarkan faktor ketersediaan jasa transportasi laut, semua kategori berada dalam keadaan kurang. Umumnya, wilayah pelayaran perintis merupakan wilayah terisolasi atau berada pada wilayah perbatasan. Suatu wilayah dapat tidak dikatakan terisolasi karena wilayah ini merupakan pelabuhan pangkal atau Home-Base dalam sistem trayek perintis. Jika dilihat dari potensi pembangunan daerah, umumnya wilayah perintis memiliki potensi yang dapat dikembangkan, tetapi juga dapat kurang besar potensinya jikat terletak di antara daerah-daerah yang besar potensinya dalam satu rangkaian trayek yang harus disinggahi.

Tabel 2-1 Tipologi Wilayah Pelayaran Perintis Kategori Keterisolasian/

Perbatasan

Ketersediaan Jasa Layanan Transportasi

Potensi Wilayah Pembangunan

I T K B

II T K KB

III P K B

IV P K KB

Sumber: Ralahulu et al,”Pembangunan Transportasi Kepulauan di Indonesia”,2013

Keterangan:

T = Wilayah Terisolasi

TT = Tidak Terisolasi (Relatif Maju = RM) P = Wilayah Perbatasan

KB = Kurang Besar (Potensi Sedang = PS)

B = Besar

K = Kurang

Wilayah perintis umumnya merupakan daerah yang terisolasi dan sangat rendah aksesibilitasnya terhadap pelayanan jasa transportasi laut serta memiliki potensi pembangunan yang relatif cukup besar, tetapi bisa juga kurang besar potensinya. Fungsi utama penyelenggaraan pelayanan perintis adalah membuka daerah terisolasi dan menyinggahi daerah-daerah yang sangat kurang aksesnya terhadap pelayanan jasa transportasi laut. Pelayaran perintis diarahkan pada daerah-daerah perbatasan terutama yang kurang aksesnya terhadap pelayanan jasa transportasi laut. Jika daerah tersebut kurang atau tidak dilayani, maka akan berpeluang untuk berorientasi perdagangan ke daerah-daerah yang terdapat di luar Indonesia.

2.2.3 Permintaan Transportasi Laut Perintis

Dengan disinggahinya daerah-daerah yang terisolir dan kekurangan akses pelayanan transportasi laut dengan kapal-kapal perintis, daerah-daerah tersebut akan menjadi tidak terisolasi lagi. Kondisi ini berdampak pada peningkatan arus barang dan penumpang sebagai demand atau permintaan produksi dari berbagai jenis komoditas untuk konsumsi lokal yang bukan disebabkan oleh peningkatan produksi karena adanya pelayaran perintis.

Menurut Ralahulu et al (2013), apabila produksi lokal tetap tidak bertambah berarti tujuan penyelenggaraan pelayaran perintis terhadap peningkatan produksi lokal tidak terrealisasi. Manfaat pelayaran perintis dirasakan sangat besar yaitu membuka isolasi, meningkatkan akesibilitas penduduk, berkembangnya kegiatan industri (pabrik), telah dilakukan di wilayah di mana pelabuhan pangkalan (Home-Base) perintis berada.

20

Dampak pembangunan sosial pelayaran perintis lebih dirasakan dibandingkan dengan dampak pembangunan ekonomi. Masih menurut Ralahulu et al (2013), gambaran yang lebih luas mengenai aspek masalah (constraint) dan upaya penanganan yang perlu mendapat perhatian dalam rangka pembahasan penyelenggaraan pelayaran perintis disajikan pada tabel 2-2.

Tabel 2-2 Gambaran Umum Wilayah Pelayaran Perintis

Aspek Masalah (Constraint) Upaya Penanganan

Produksi

Sumber Daya Alam belum dimanfaatkan (diolah sepenuhnya), Produksi relatif rendah

Pengambilan bibit unggul, menerapkan teknologi tepat guna

Peningkatan kapasitas dan produktivitas tenaga kerja

Hasil

Umumnya masih rendah mutunya Peningkatan nilai tambah pasca panen

Pemasaran Hasil

Selain mutunya masih rendah, tidak ada akses kepada pasar karena keterbatasan fasilitas transportasi

Peningkatan akses terhadap jaringan pasar dan pelayanan infrastruktur dan jasa transportasi

Prasarana dan Sarana Perhubungan Darat

Ketersediaan dan kondisi prasarana/sarana darat menuju ke daerah produksi sangat kurang dan buruk.

Aksesibilitasnya sangat rendah

Pembangunan dan rehabilitas prasarana dan prasarana perhubungan darat

Prasarana dan Sarana Perhubungan Laut

Ketersediaan dan kondisi prasarana/sarana perhubungan laut sangat terbatas dan sederhana. Jangkauan pelayanan masih bersifat lokal

Pembangunan dan rehabilitas prasarana dan sarana perhubungan laut

Trayek Perintis

Trayek pelayaran perintis umumnya relatif panjang dan berorientasi pada pelabuhan pangkalan

Memperpendek trayek perintis

Pelabuhan Perintis

Pelabuhan perintis yang disinggahi relatif banyak

Mengurangi dan menseleksi pelabuhan yang disinggahi Frekuensi Pelayaran

Perintis

Frekuensi kedatangan kapal perintis relatif lama (sekitar 20 hari)

Meningkatkan frekuensi pelayaran perintis

Perencanaan Pelayaran Perintis

Belum terkoordinasi secara terpadu dan institusional baik di tingkat pusat maupun daerah

Meningkatkan keterpaduan antar sektor dan institusional

Sumber: Ralahulu et al,”Pembangunan Transportasi Kepulauan di Indonesia”,2013

Penyelenggaraan pelayaran perintis tidak berdiri sendiri, tetapi sangat berinterkorelasi dengan berbagai sektor lain seperti pertanian, industri, pelabuhan, jalan

darat, dan lainnya. Pada konteks penelitian ini, pelayaran perintis bukan lagi sebagai unsur supply melainkan sebaliknya yaitu unsur demand. Lingkup penelitian memposisikan pelayaran perintis sebagai unsur yang membutuhkan atau memiliki kebutuhan untuk selalu dapat melayani trayek (rute) yang ada di gugus-gugus pulau kecil di Kawasan Indonesia Timur. Oleh karena itu, pelayaran perintis sebagai unsur demand dapat diselenggarakan setelah supply (supply follow demand) yang dilakukan untuk armada kapal perintis yang berada di pelabuhan pangkal dan dekat dengan industri penunjang operasionalnya.

Sedangkan sebelum supply (demand follow supply) yang dilakukan untuk armada kapal perintis yang berada di pelabuhan pangkal namun jauh dari industri penunjangnya.