• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pembangunan

Dalam dokumen BAB III METODOLOGI PENELITIAN (Halaman 28-37)

Secara garis besar proses pembangunan pada Rumah Gadang di daerah lam Minangkabau adalah sama ,yaitu terdiri dari tahap perencanaan, pencarian bahan dan pembangunan. Berikut rangkaian pembangunan Rumah Gadang di Nagari Seribu Rumah Gadang di solok selatan.

1. Perencanaan

Perencanaan pembuatan Rumah Gadang di Nagari Seribu Rumah Gadang dimulai dengan mengadakan musyawarah antar anggota keluarga dan kaum yang bersangkutan , musyawarah dipimpin oleh tungganai dari kelurga yang akan membangun rumah dan disaksikan oleh tungganai seluruh kampung .kemudian dilaksankan musyawarah hal-hal yang terkait dengan teknis pelaksaan pembangun Rumah Gadang antara lain:

a) Lokasi pembangunan

c) Teknis gotong royong mulai dari pencarian kayu hingga waktu dan cara pengangkutan kayu dari lokasi penebangan ke lokasi perendaman

d) Penetapan tukang tuo

e) Material yang digunakan , seperti tunggak tuo yang menjadi tunggak utama karena dianggap sebagai pucuk ,dan pemimpin dari tonggak-tonggok lain.

f) Siapa saja yang menymbang bahan g) Hari-hari untuk memulai pencarian bahan

Dengan adanya pertemuan ini ,pekerjaan pembangunan Rumah Gadang bukan hanya merupkan tanggung jawab dari kaum yang akan mendirikan rumah tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat kampung.

2. Pencarian bahan

Bahan yang paling penting untuk membangun Rumah Gadang adalah kayu untuk tonggak, jenis dan kualitas kayu yang akan dipakai sangatlah diperhitungkan karena terkait dengan fungsinya sebagai penopang utama pada Rumah Gadang yang dapat bertahan puluhan sampai ratusan tahun lamanya. Kayu yang umum digunakan adalah kayu juar. Ada beberapa kriteria dalam penentuaan tonggak oleh tukang tuo dimana tonggak harus berasal dari pohon yang tumbuh dengan baik,lurus dari pangkal hingga ujungnya .sedangkan tonggak tuo diambil dari pohon yang tumbuh dari daerah tinggi.

Gambar 4.26 Sketsa Pencarian bahan dan Penentuan Tonggak Tuo Sumber: KKL ITB

Kemudian untuk tonggak tuo yang menjadi tonggak utama harus ditebang dan dipilih oleh tukang tuo dimana pemilihan ini harus yang bersifat kokoh dan tonggak pendukung lainnya boleh ditebang oleh orang kampung yang bekerja.

Pohon yang sudah ditebang dibersihkan dari ranting dan dedauanan kemudian dibawa ketempat perendaman secara gotong royong ,dulunya dipindahkan dengan balok gelondong tetapi berganti dengan gerobak beroda dua.

Proses membawa disertai bunyi-bunyian sehingga masyarakat tahu tanda bahwa sedang ada pembangunan Rumah Gadang. Sesampainya di tempat perendaman yang berlumpur kemudian material utama tadi direndam berbulan-bulan untuk mengawetkan kayu supaya kokoh dan tujuan lainya untuk enungguu kecukupan persiapan untuk membangun rumah seperti persiapan ekonomi untuk megupah tukang yang bekerja.

Kemudian setelah direndam, bahan pendukung lainnya seperti papan ,ijuk dan palupuah dikumpulkan yang berasal dari hutan dan parak dan juga didapatkan dari sumbangan orang kampung yang sudah disepakati. 3. Pembangunan

Setelah kecukupan dari segi ekonomi dan material maka proses pembangunan dapat dilakukan .namun sebelum pembangunan Rumah Gadang benar benar dimulai , hal yang terlebih dahuu dilakukan yaitu mengambil tonggak yang direndam kemudian menunggunya sampai kering. Dalam masa menunggu tonggak kering .dilakukan pembersihan okas pembanguan yang dilakukan dengan goong royong.barulah pembangunan dimulai.

Pembangunan Rumah Gadang ditandai dengan mancacak paek , yaitu pemahatan pertama yang dilakukan oleh tukang tuo yang disaksikan oleh keluarga kaum dan orang kampung ,kemudian tukang tuo memahat tonggak tuo tiga kali disertai dengan cipratan darah ayam yang disembelih seketika di tongkat tuo tersebut.

Gambar 4.27 Mancacak Paek Sumber: (KKL ITB)

Mancacak paek sendiri dianggap proses yang penting karena dapat mengetahui tinggi lantai dari tanah , tinggi patfon sehingga tukang tuo dapat memperkirakan dan membayangkan proporsi tinggi dan lebar pada bangunan.

Setelah selesai maka dilakuakan pemahatan tonggak tonggak yang lain tanpa prosesi yang dilakukan pada tonggak tuo tadi .dan disambung dengan perangkaian tonggak yang disusun dari urutan depan ke belakang , dengan menggunakan rusuk atas dan rusuk bawah .

Setelah dirangkai , satu per satu rangkaian tersebut ditegakkan dengan prosesi batagak rumah yaitu menegakkan rangkaian tonggak. Rangkaian tonggak ditarik menggunakan tali yang disebut tali tondon dan ditopang dengan kayu penopang yang disebut kayu juang.

Gambar 4.28 Sketsa Batagak Rumah Dan Foto Sumber: KKL ITB

Setelah tonggak tuo berdiri ,dipasangkan palanca yang akan menghubungkan rangkaian yang satu dengan yang lainnya.

Kemudian dipasangkan kesemua tonggak bawah dan atas.disertai dengan doa kepada Allah S,W.T untuk melancarkan dan memohon keselamatan bagi penghuni Rumah Gadang nantinnya.

Gambar 4.29 Struktur Utama Setelah Berdiri Dan Dihubungkan Dengan Palanca Sumber: (KKL ITB)

Dengan berdirinya keseluruh an rangkaian tiang. Pekerjan struktur utama Rumah Gadang dianggap selesai. Dan dilanjutkan dengan pasangan sandi pada setiap tonggak. Sandi dipasang dengan cara mengungkit tonggak satu per satu dengan menggunakan kayu pengungkit dan baru disorongkan batu pipih yang digunakan sebagai sandi tersebut.

Gambar 4.30 Sandi Dari Batu Yang Di Ungkit Satu Persatu Sumber: Digambar Ulang

Kemudian penyelesaian selanjutnya dilakukan dan dimulai dari atap yang dimulai dengan pemasangan ijuk, terdapat ijuk kasa yang

diletakkan pada bagian dalam dan ijuk halui pada bagian luar dan kemudian dialanjutkan dengan pengerjaaan stuktur lantai , pelapisan serta balok-balok pengikatnya yaitu jariau yang dikunci oleh balok yang terletak di atas rusuk yang disebut sigitan. Setelah itu baru dilapisi palupuah halui dan palupuh kasa sebagai alas dari lantai atau jika lantai papan maka langsung di atas jaruan.

Pemasangan dinding bukaan seperti jendela dan pintu menandakan pengerjaan Rumah Gadang sudah hampir selesai . pengerjaan ini dilakukan setelah lantai dikerjakan dimulai dari dinding bagian luar.sebagai akses naik turun rumah, tangga menjadi bagian yang sangat penting dari Rumah Gadang .dengan berakhirnya pembutan tangga maka proses pembangunan rumah gadang pun siap dihuni dan diadakan proses syukuran atau proses menaiki rumah.

Hal yang menarik dalam pengerjaan Rumah Gadang adalah satuan ukuran yang digunakan tidak mengikuti kaidah metrik namun berdasarkan pada ukuran tubuh manusia sperti eto yang berarti kasta, jangka yang berarti jengkal, dan tumpak yang berarti ukuran selebar telapak tangan dan jari yang merupakan ukuran selebar jari.cara pengukuran ini biasanya selalu tepat dan Rumah Gadang dapat dibangun dengan baik walaupun menggunakan satuan ukuran tubuh.

4.1.4 Penggunaan

Sebagai suatu hasil karya dari arsitektur primitif tentunya Rumah Gadang memiliki fungsi dan tujuan tertentu selain untuk tempat tinggal semata, Organisai

ruang yang terjadi dipengaruhi oleh kehidupan budaya masyarakat Minangkabau itu sendiri. Beberapa fungsi dari Rumah Gadang antara lain,

1. Sebagai tempat tinggal

Rumah Gadang hanya berhak dihuni oleh kaum perempuan saja karana sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau ,suami mereka hanya sebagai pendatang , dan fungsi biliak hanya diperuntunkkan bagi perempuan yang sudah punya suaminya dan anak anak mereka yang masih kecil, ukuran biliak yang kecil hanya untuk tempat tidur saja ,lemari dan lainya diletakkan diluar bilik.

Jika anak perempuan dari keluarga kaum yang tidak bersuami akan tidur bersama di bandua dan anak laki-laki yang sudah baligh dan dewasa yang sudah tidak mempunyai istri tidak boleh menginap di Rumah Gadang, mereka meginap di surau walaupun kegiatan sehari-hari nya di lakukan di Rumah Gadang. Saat anak laki-laki sudah menikah, maka mereka akan tinggal di Rumah Gadang kaum istrinya. Setiap ada anak perempuan yang menikah dari keluarga Rumah Gadang ,maka keluarga mereka yang perempuan yang lebih dulu menikah merelakan biliak mereka dipakai untuk ditempati pengntin baru dan membangun rumah disamping Rumah Gadang tetapi bukan Rumah Gadang, begitu siklus seterusnya sampai masih ada keturunan perempuan.

Kedudukan sumando atau suami merupakan tamu terhormat, sebagai tamu, sewaktu-waktu dalam kondisi tertentu istri mereka meninggal atau bercerai maka sumando harus keluar dari Rumah Gadang , dan mamak

dari Rumah Gadang berhak mengusir sumando jika tiba-tiba tingkah lakunya dianggap melanggar tata krama .

Penggunaan Rumah Gadang sebagai rumah kaum, yang menyiratkan bahwa Rumah Gadang itu ditinggali oleh satuan keluarga dalam kelompok kecil (ibu, ayah, dan anak ) dan kelurga dalam kelompok besar (gabungan dari beberapa keluarga inti) oleh karena itu setiap individu harus menjalin hubungan yang harmonis.

2. Sebagai unsur kelengkapan adat

Acara yang berhubungan dengan adat seperti perhelatan perkawinan dan batagak pangulu semua dilakukan di Rumah Gadang, contohnya yaitu perhelatan perkawinan.

Di minagkabau, prosesi perkawinan dilakukan secara Islam yaitu akad nikah dilaksanakan di mesjid atau surau ,dan secara adat yaitu perhelatan menurut adat yang berlaku perhelatan secara adat dilakukan setelah akad nikah di surau/masjid dan dilaksankan di Rumah Gadang anak daro atau istri dilakukan di hari yang sama atau hari -hari berikutnya.

Marapulai beserta rombongan datang ke Rumah Gadang anak daro disambut dengan kelurga dari pihak anak daro yang terdiri dari bako,tungganai,niniak mamak ,dan urang kampuang dan duduk di Rumah Gadang berdasarkan kedudukan mereka secara adat.

Gambar 4.31 Pernikahan Dimana Marapulai Disambut Oleh Keluarga Anak Daro Dengan Tari Pasambahan

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016) 3. Sebagai wadah pendidikan dan penyelesaian masalah.

Selain dari tempat tinggal dan kelengkapan adat Rumah Gadang juga merupakan wadah pendidikan non-formal bagi anak-anak. Hal yang diajarkan adalah terkait kehidupan sehari hari dan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada kelurga ,dan diupayakan perdamaian oleh penghulu selaku niniak mamak.

Dalam dokumen BAB III METODOLOGI PENELITIAN (Halaman 28-37)

Dokumen terkait