• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pemberian Kredit dan Jaminan Pemberian Kredit

BAB III : SISTEM PENGENDALIAN INTERN TERHADAP

B. Proses Pemberian Kredit dan Jaminan Pemberian Kredit

Sebelum nasabah mendapatkan pinjaman, ada beberapa proses yang dilakukan oleh pihak bank dalam pemberian kredit dan jaminan pemberian kredit kepada nasabah, dengan tujuan apakah nasabah layak atau tidak diberikan pinjaman Muhammad (2000 : 61).

1. Proses Pemberian Kredit

Secara umum prosedur pemberian kredit dapat melalui tujuh tahap yakni dimulai dari pengajuan permohonan kredit, analisis kredit, persetujuan kredit, perjanjian kredit, pencairan kredit dan pelunasan kredit Irmayanto (2002 : 76).

 Permohonan Kredit

Permohonan diajukan calon nasabah kepada bank dengan menyampaikan dokumen yang berisi surat permohonan resmi, akte pendirian perusahaan, penjelasan rencana bisnis, laporan studi kelayakan bisnis, laporan studi kelayakan proyek, laporan keuangan perusahaan dan informasi lainnya seperti NPWP, keterangan domisili perusahaan, surat – surat ijin yang telah diperoleh, rekening perusahaan pada beberapa bank. Dalam permohonan tersebut, biasanya calon nasabah diminta mengisi formulir bank yang bersangkutan (Irmayanto, 2002 : 76).

 Analisis Kredit

Tujuan utama dari analisis kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh bank (Muhammad, 2000 : 61).

Untuk memperoleh keyakinan atas jaminan, perlu dilakukan penelitian yang mendalam atas berbagai faktor yang relavan, terutama 5C yaitu:

a. Character (Watak)

Penilaian terhadap character perlu dilakukan untuk mengetahui itikad baik dan kejujuran nasabah calon debitur untuk membayar kembali kredit yang diterimanya. Penilaian watak calon debitur dimaksudkan

untuk mengetahui kemauannya untuk membayar kembali kredit yang diterimanya (Muhammad, 2000 : 61).

Sebagaimana alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon debitur dapat ditempuh melalui upaya:

1) Meliputi riwayat hidup calon debitur

2) Meneliti reputasi calon debitur dilingkungan usahanya 3) Meminta bank to bank information

4) Mencari informasi kepada asosiasi – asosiasi usaha dimana calon debitur berada

5) Apakah calon debitur suka judi atau hobby foya – foya (Kamsir, 2008 : 109)

b. Capital (Modal)

Penilaian terhadap capital perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah modal yang dimiliki calon debitur cukup memadai untuk menjalankan usahanya. Makin besar jumlah modal yang ditanam oleh calon debitur ke dalam usaha yang akan dibiayai dengan kredit, makin menunjukkan keseriusan calon debitur menjalankan usahanya. Besarnya jumlah modal yang ditanam terutama berupa benda bergerak akan memberi daya tahan usaha dalam menghadapi siklus atau fluktuasi ekonomi (Muhammad, 2000 : 62).

Dalam kebanyakan kasus, rasio modal sangat menentukan kemampuan dan kemauan debitur untuk mengembalikan kredit. Bentuk modal sendiri tidak selalu harus berupa uang tunai namun juga dalam

bentuk barang modal seperti tanah, bangunan dan mesin – mesin (Muhammad, 2000 :62).

c. Capacity (Kemampuan)

Penilaian terhadap capacity perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan calon debitur untuk membayar kembali kredit serta bunganya. Penilaian kemampuan membayar tersebut dilihat dari kegiatan usaha dan kemampuan mengelola usaha yang akan dibiayai melalui kredit (Muhammad, 2000 : 61).

d. Collateral (Jaminan)

Penilaian terhadap collateral perlu dilakukan untuk mengetahui nilai barang jaminan yang diserahkan calon debitur untuk menutupi risiko kegagalan pengembalian kredit yang akan diperolehnya. Barang jaminan berfungsi sebagai pengaman terhadap kemungkinan ketidakmampuan calon debitur melunasi kredit yang diterimanya (Muhammad, 2000 : 62).

e. Condition (Keadaan)

Penilaian terhadap condition perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi pada saat disuatu daerah yang mungkin akan mempengaruhi kelancaran usaha calon debitur. Kondisi ekonomi ini mencakup juga peraturan atau kebijaksanaan pemerintah yang pada gilirannya akan mempengaruhi kegiatan usaha calon debitur. Keyakinan atas hal ini dapat diperoleh melalui penelitian terhadap:

2) Peraturan – peraturan pemerintah 3) Situasi, politik dan perekonomian dunia

4) Keadaan lain mempengaruhi pemasaran (Muhammad, 2000 : 62). Dari prinsip 5C diatas, yang paling perlu mendapat perhatian adalah Character, dan apabila prinsip ini tidak dipenuhi maka prinsip lainnya tidak berarti, dengan perkataan lain permohonan kreditnya harus ditolak. Selain itu pengajuan kredit secara tertulis diperlukan untuk menjamin keabsahan dan kepastian hukum, sebagai dasar proses pengambilan keputusan, dasar historis kredit sebagai dokumentasi. Disamping itu apabila kredit bermasalah, pihak bank dapat memenuhi prosedur penyelesaian hubungan antara debitur dengan bank berdasarkan dokumentasi aplikasi kredit (Muhammad, 2000 : 62).

Apabila kredit menjelaskan hak dan kewajiban calon debitur dan bank. Calon debitur bank menerima fasilitas yang disetujui oleh bank., dan kewajiban memenuhi ketentuan serta mengembalikan kredit serta bunganya. Kewajiban merespon permohonan serta memberikan fasilitas yang dimohonkan oleh calon debitur (Kasmir, 2008 : 96).

Untuk memenuhi hal tersebut, serta memudahkan identifikasi atas permohonan kredit yang diterima, maka aplikasi kredit harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Tertulis dan ditandatangani diatas materai oleh calon debitur. 2) Identifikasi calon debitur.

waktu, dan cara pengembalian kredit serta sumber dana pengembalian kredit.

4) Untuk aplikasi kredit tertentu karena jumlah nominal ataupun ukuran (Djohan, 2000 : 178).

Sektor usaha calon debitur, harus dilengkapi dengan lampiran: a. Bukti penerimaan penghasilan tetap yang dilegalisasi. b. Laporan keuangan.

c. Proyeksi laporan keuangan, cash flow. d. Rekomendasi suplier.

e. Bukti perintah pengerjaan suatu proyek. f. Rekening pada bank lain (Djohan, 2000 : 183).

Pemberian perstujuan pada kredit harus bersumber dari penelaahan yang cermat atas LPPK yang diajukan. Analisi dengan mempertimbangkan kebijakan perkreditan yang sehat (5c’s principle). Selain itu setiap pemberian persetujuan kredit harus dengan mempertimbangkan pencapaian target kualitatif dan kuantitatif sebagaimana tercantum dalam Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) dan Business Plan (Djohan, 2000 : 102).

 Persetujuan Kredit

Hasil analisis yang dibuat account officer diperiksa atasannya (Kepala Bagian Kredit), kemudian disampaikan ke Direksi Bank. Sistem dan prosedur yang dimiliki bank tentang laporan analisis kredit dapat berupa:

1. Laporan analisis kredit.

2. Laporan analisis laporan permohonan kredit. 3. Laporan rekomendasi kredit.

4. Appraisal study.

5. Laporan studi kelayakan proyek (Irmayanto, 2000 : 82).  Perjanjian Kredit

Perjanjian kredit disiapkan notaris publik yang ditunjuk bank atau yang dipilih calon nasabah. Bank mengirim ahli hukumnya untuk mendamping account officer dalam membahas ketentuan yang akan dimut dalam perjanjian kredit. Isi perjanjian kredit secara umum berisi pihak pemberi kredit, tujuan pemberian kredit, besarnya biaya proyek kredit, besarnya kredit yang diberikan bank, tingkat bunga kredit, biaya – biaya lain, jangka waktu pengembalian, jadwal pembayaran, jaminan kredit, syarat yang harus dipenuhi sebelum dicairkan, kewajiban nasabah selama kredit belum dilunasi, serta hak – hak yang dimiliki bank selama kredit belum lunas (Irmayanto, 2002 : 83).

Agar perjanjian terhindar dari cacat hukum, harus memenuhi aspek – aspek pokok perjanjian kredit yang memuat:

a. Nama serta alamat bank dan debitur.

b. Jumlah, penggunaan, suku bunga dan jangka waktu kredit. c. Persyaratan penarikan kredit.

d. Jaminan kredit. e. Cara pelunasan kredit.

f. Jaminan dari debitur bahwa semua data yang diserahkan kepada pihak bank adalah benar dan tidak direkayasa (Djohan, 2000 : 56).

 Pencairan kredit

Persyaratan untuk pencairan kredit, biasanya meliputi perjanjian kredit yang sudah ditandatangani, penarikan kredit sudah sesuai dengan kebutuhan proyek, penarikan kredit sudah sesuai dengan jadwal pembangunan, permohonan pencairan kredit didukung dokumen yang diperlukan, besarnya kredit sesuai dengan perjanjian kredit yang disepakati. Pencairan kredit dapat dilakukan langsung tunai pada nasabah ke rekening nasabah, atau ada pula yang dialamatkan ke rekening perusahaan – perusahaan rekanan nasabah (Irmayanto, 2002 : 83).

 Pengawasan kredit

Kunci utama keberhasilan penyaluran kredit adalah pengawasan (monitoring) kredit. Peristiwa kredit macet terjadi, akibat kelemahan dan kelalaian bank dalam melakukan pengawasan. Kegiatan pengawasan kredit dapat dilakukan dalam bentuk : penggunaan administratif kredit yang memadai (komputer), kewajiban nasabah menyampaikan laporan secara berkala, menyangkut produksi, penjualan, utang dan piutang, laporan neraca dan rugi/laba, laporan tenaga kerja, kewajiban wira kredit, mengunjungi proyek yang dibiayai, konsultasi manajemen yang terprogram antar nasabah dan bank, sistem kegiatan pada administrator bank yang menangani nasabah bank (Irmayanto, 2002 : 84).

Nasabah yang mampu memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan yang dimuat dalam perjanjian kredit, sesuai jadwal yang dibuat, maka kredit dinyatakan lunas. Jaminan yang semula dipegang, selanjutnya dikembalikan kepada nasabah (Irmayanto, 2002 : 84).

2. Jaminan Pemberian Kredit

Bank Umum tidak memberikan kredit tanpa jaminan kepada siapa pun juga. Yang dimaksud dengan jaminan adalah jaminan dalam arti luas yaitu bersifat materiil maupun yang bersifat immateriil. Fungsi dari pemberian jaminan tersebut adalah guna memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk medapatkan pelunasan dengan barang – barang jaminan tersebut, bila debitur bercidera janji tidak membayar kembali hutangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Agar bank dapat melaksanakan hak dan kekuasaan atas barang jaminan, maka perlu terlebih dahulu dilakukan pengikatan secara formi; atas barang jaminan yang bersangkutan menurut hukum yang berlaku (Suyatno, 1991 : 44).

PT. Bank SUMUT Cabang Utama merupakan suatu bank umum yang salah satu kegiatan usahanya adalah memberikan kredit. Kredit yang diberikan bank akan mengandung resiko sehingga dalam pelaksanaannya harus memperhatikan azas – azas perkreditan yang sehat (Bank Sumut, 2002).

Untuk memperkecil resiko kredit diperlukan jaminan yaitu keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai perjanjian. Guna memperoleh keyakinan tersebut

memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, modal, agunan, kemampuan dan prospek usaha (Bank Sumut, 2002).

Agunan sebagai salah satu unsur jaminan dalam pemberian kredit harus dianalisis secara teliti karena agunan merupakan pengamanan terakhir apabila debitur cidera janji (wanprestasi). Disamping itu penyerahan agunan oleh debitur diharapkan akan mendorong debitur untuk menggunakan kredit dengan sebaik – baiknya sesuai dengan rencana sehingga dapat menghindari pelunasan kredit yang bersumber dari pencairan agunan yang diserahkan (Bank Sumut, 2002).

Ada beberapa jenis barang yang dapat dijadikan agunan kredit. Suatu barang yang dapat dijadikan agunan kredit harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Harus mempunyai nilai ekonomis dalam arti dapat dinilai dengan uang dan dapat dijadikan uang.

b. Harus dapat dipindah tangankan kepemilikannya dari semula kepada pihak lain.

c. Harus mempunyai nilai yuridis dalam arti dapat diikat secara sempurna sehingga bank memiliki hak terhadap hasil pencairan barang agunan tersebut (Bank Sumut, 2002).

Berdasarkan hal tersebut maka jenis barang agunan yang dapat diterima PT. Bank SUMUT Cabang Utama adalah sebagai berikut: 1. Barang Tidak Bergerak

Jaminan dalam pemberian kredit ada juga yang berupa barang tidak bergerak seperti:

a. Tanah

Kondisi yang harus dilihat dari tanah sebagai jaminan adalah:  Kondisi fisik tanah seperti apakah berupa tanah sawah, tegalan, tanah

semak belukar, berupa ketinggian dari jalan raya, datar atau berbukit, bentuk tanah dan sebagainya.

 Fasilitas lingkungan meliputi lokasi tanah, bagaimana kecenderungan perkembangan perekonomian didaerah tersebut, apakah ada fasilitas umum, apakah ada jalan umum.

 Letak tanah seperti harus jelas jalannya, kelas daerah (kelas I, II, III).  Penilaian tanah yang luas yaitu dalam menentukan harga satuan

permeter persegi tidaklah sama besarnya antara tanah yang berada dibagian jauh kedalam.

b. Bangunan

Bangunan merupakan barang tidak bergerak yang bisa dijadikan jaminan pemberian kredit, tetapi ada beberapa bagian yang dilihat dari bangunan tersebut, apakah layak atau tidak dijadikan jaminan pemberian kredit, beberapa hal yang dilihat dalam bangunan tersebut adalah:

 Jenis bangunan berupa bangunan rumah tempat tinggal, toko, kantor, gudang, pabrik, dan sebagainya.

 Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

 Tahun bangunan didirikan.  Luas bangunan.

 Klasifikasi bangunan: semi permanen, permanen, atau lux.  Lokasi bangunan.

 Sarana yang ada pada bangunan tersebut.  Dan sebagainya (Bank Sumut, 2002). c. Kapal

Beberapa hal yang dilihat apabila kapal dijadikan sebagai jaminan pemberian kredit yaitu:

 Jenis kapal menurut fungsinya: kapal barang, kapal penumpang, kapal tangki, dan sebagainya.

 Spesifikasi teknis: mesin, body, oil, fuel.  Tahun dan pabrik pembuatan kapal.  Route kapal dalam atau luar negeri.  Kondisi teknis secara keseluruhan.  Dan sebagainya (Bank Sumut, 2002). d. Kebun

Apabila kebun yang dijadikan sebagai jaminan pemberian kredit, hal – hal yang perlu dilihat adalah:

 Lokasi kebun.  Pengolahan kebun.

 Pemasaran: apakah hasil tanaman langsung dijual atau kelola terlebih dahulu, apakah dijual langsung pemasaran telah ada atau pemasaran

bebas.  Produksi.

 Sudah diasuransikan atau belum (Bank Sumut, 2002). 2. Barang Bergerak

Bukan hanya barang tidak bergerak, tetapi pihak bank juga bisa memberikan barang bergerak sebagai jaminan pemberian kredit, sehingga banyak peluang bagi masyarakat untuk membuat permohonan kredit, hanya dengan syarat memberikan surat keterangan hak milik atas kendaraan tersebut (Bank Sumut, 2002).

1. Kendaraan

Beberapa hal yang dilihat pada kondisi kendaraan tersebut apakah bisa dijadikan jaminan untuk pemberian kredit adalah:

 Perlu diketahui dengan jelas dan dicatat: merk, jenis, tahun pembuatan, nomor mesin, nomor rangka, jumlah silinder (cc).

 Surat - surat yang diserahkan: BPKB, bukti pembayaran Bea Balik Nama (Khusus Kendaraan Baru), fotocopy STNK, dan sebagainya.  Faktor – faktor yang mempengaruhi yaitu kondisi fisik kendaraan,

status kendaraan masiih disewakan kepada orang lain.  Sudah diasuransikan atau belum.

 Masa pemakaian kendaraan (Bank Sumut, 2002). 2. Mesin – mesin dan alat – alat produksi lainnya

Bank juga bisa memberikan kredit kepada pemilik mesin, tetapi mesin tersebut harus diteliti kualitasnya, beberapa hal yang dilihat mesin

tersebut harus diteliti kualitasnya, beberapa hal yang dilihat apabila mesin dijadikan sebagai jaminan pemberian kredit, yaitu:

 Nama mesin/alat – alat produksi.  Ukuran, type/modal.

 Jenis, seri, dan nomor.  Merk mesin.  Daya mesin.  Tahun pembuatan.  Negara asal/produsen.  Kapasitas produksi.  Ongkos pemeliharaan.

 Dan sebagainya (Bank Sumut, 2002). 3. Piutang Atas Nama

Barang – barang yang diagunankan juga harus jelas kepemilikan dan surat – suratnya, atas nama, lokasi dan kondisinya. Untuk barang agunan berupa piutang atas nama, pengikatannya dilakukan secara Cessie dengan akte notaris (Bank Sumut, 2002).

4. Jaminan Pihak Ketiga

Untuk agunan berupa jaminan pribadi pihak ketiga pengikatannya dilakukan dengan borgtocht/penanggungan hutang. Pengikatannya harus jelas, sehingga bank bisa memberikan kredit kepada nasabah yang menggunakan jaminan pihak ketiga. Pengikatan diketahui oleh suami/istri dari pihak ketiga tersebut (Bank Sumut, 2002).

Dokumen terkait