BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
E. Proses Pembuatan Batik Selotigo
Proses pembuatan Batik Selotigo dilakukan seperti batik lainnya. Batik Selotigo dibuat dengan dua cara, yaitu dengan cara tulis dan menggunakan cap. Batik tulis dan cap juga hanya diterapkan pada bahan dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan kain mori (Wawancara pembatik Batik Selotigo, Bapak Sardi pada tanggal 17 Maret 2016).
1. Batik Selotigo Tulis
Secara umum proses pembuatan batik melalui tiga tahapan yaitu pemberian lilin pada kain, pewarnaan, dan pelepasan lilin dari kain.
Alat-alat yang yang diperlukan dalam proses pembuatan batik tulis yaitu:
a. Canting
Canting adalah alat untuk membatik, biasanya terbuat dari bahan tembaga yang ujungnya menyerupai paruh burung.
59
Gambar 3.2 Canting
b. Gawangan
Gawangan adalah tempat untuk meletakkan kain yang akan dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu.
c. Nyamplung
Nyamplung merupakan bak penampung yang digunakan untuk meletakkan canting.
Gambar 3.3 Nyamplung
60 d. Wajan
Wajan berupa wajan kecil untuk mencairkan malam atau lilin. Wajan ini dapat terbuat dari tembaga atau tanah liat.
Gambar 3.4 Wajan e. Anglo/kompor kecil
Anglo digunakan untuk memanaskan wajan. f. Malam/lilin
Malam/lilin terbuat dari campuran berbagai jenis bahan yang berupa gondorukem, lemak minyak kelapa, dan parafin. g. Bahan Pewarna
Pewarna dapat menggunakan pewarna kimia/buatan atau dengan pewarna alami (diambil dari kulit kayu soga, daun indigo, dan lain-lain).
61
Gambar 3.5 Pewarna
Adapun langkah pembuatan Batik Selotigo dengan cara tulis yaitu: a. Siapkan kain, buat motif diatas kain dengan menggunakan
pensil.
b. Setelah motif selesai dibuat, kain disampirkan di gawangan. c. Kompor/ anglo dinyalakan, malam/lilin kemudian ditaruh di
dalam wajan dan wajan dipanaskan dengan api kecil sampai malam mencair sempurna. Api tetap dinyalakan dengan api kecil.
d. Bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna) ditutupi dengan lilin malam.
e. Proses mulai dilakukan dengan cara mengambil sedikit malam cair dengan menggunakan canting, ditiup-tiup sebentar sebentar supaya tidak terlalu panas, kemudian canting digoreskan dengan mengikuti motif yang telah ada.
62
f. Setelah semua motif yang tidak ingin diwarna dengan warna tertentu tertutup malam, maka proses selanjutnya adalah proses pewarnaan. Proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dilakukan dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu. Bahan pewarna disiapkan dalam ember, kemudian kain dicelupkan dalam larutan pewarna. Kain dicelup dengan warna yang dimulai dengan warna-warna muda, kemudian dilanjutkan dengan warna lebih tua atau gelap. g. Setelah kain dicelupkan, kain tersebut dijemur dan dikeringkan. h. Setelah itu adalah proses nglorot, dimana kain yang telah berubah warna tadi direbus dengan air panas. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan lapisan lilin sehingga motif yang telah digambar menjadi terlihat jelas. Apabila menginginkan beberapa warna tertentu pada batik yang dibuat, maka proses 3,4, dan lima dapat diulang beberapa kali tergantung jumlah warna yang diinginkan.
i. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk menahan warna berikutnya. j. Proses kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan warna
yang kedua, pemberian malam lagi, pencelupan ketiga dan seterusnya.
63
k. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke campuran air soda untuk mematikan warna yang menempel pada batik dan untuk menghindari kelunturan.
l. Proses terakhir adalah mencuci/direndam air dingin dan dijemur sebelum dapat digunakan dan dipakai.
2. Proses Pembuatan Batik Selotigo dengan Cap
Proses pembuatan batik Selotigo cap tidak seperti proses pembuatan batik tulis yang menggunakan canting. Pada proses pembuatan batik cap alat yang digunakan adalah cap berupa stempel besar yang terbuat dari tembaga yang sudah di desain dengan motif tertentu dengan dimensi 20 cm x 20 cm.
Gambar 3.6 Cap Batik Selotigo
64
Gambar 3.7 Cap Batik Selotigo
Adapun proses pembuatan Batik Selotigo cap adalah sebagai berikut:
a. Kain mori diletakkan di atas meja datar yang telah dilapisi dengan alas yang lunak.
b. Malam/lilin direbus hingga mencair dan dijaga agar suhu cairan malam tetap dalam kondisi 60 (enam puluh) sampai dengan 70 (tujuh puluh) derajat Celcius.
c. Cap lalu dimasukkan kedalam cairan malam tadi dengan mencelupkan kurang lebih yang 2 (dua) cm tercelup cairan malam pada bagian bawah cap.
65
d. Cap kemudian diletakkan dan ditekankan dengan kekuatan yang cukup di atas kain mori yang telah disiapkan tadi. Cairan malam/lilin di biarkan meresap ke dalam pori-pori kain mori hingga tembus ke sisi lain permukaan kain mori.
Gambar 3.8
Proses cap Batik Selotigo
e. Setelah proses cap selesai, kain mori selanjutnya akan masuk ke proses perwanaan. Proses pewarnaan dilakukan dengan cara mencelupkan kain mori ke dalam tangki yang berisi warna.
f. Cairan malam/lilin yang telah terserap pada permukaan kain tidak akan terkena dalam proses pewarnaan ini. Setelah proses pewarnaan selesai, dilanjutkan dengan proses selanjutnya yaitu penghilangan berkas motif cairan malam melalui proses penggodogan atau ngelorot, sehinggan akan tampak dua warna, yaitu warna dasar asli kain mori dan warna setelah proses
66
pewarnaan dilakukan. Apabila ingin memberikan kombinasi pewarnaan lagi, maka proses harus dilakukan dari awal lagi.
Gambar 3.9 Kain yang telah diwarna
g. Proses terakhir dari pembuatan batik cap adalah proses pembersihan dan pencerahan warna dengan soda. h. Selanjutkan dikeringkan dan disetrika.
Ada tiga warna ciri khas yang dimiliki Batik Selotigo yang dibuat dengan cara cap, yaitu warna alam, warna klasik, dan warna biasa. Perbedaan mendasar dari tiga warna tersebut terdapat pada jenis pewarna yang digunakan dan proses pewarnaan batik.
Batik Selotigo dengan warna alam diproses dan dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Bahan yang digunakan oleh pencipta untuk membuat Batik Selotigo warna alam berasal dari kulit kayu. Hampir semua kulit kayu dapat digunakan dalam proses pewarnaan Batik Selotigo, tetapi kulit kayu yang sering
67
digunakan oleh pembatik adalah pewarnaan dari kulit kayu Jati dan Secang.
Gambar 3.10
Batik Selotigo dengan warna alam
Sedangkan Batik Selotigo dengan warna klasik dibuat dengan menggunakan pewarna dari tekstil. Proses pewarnaan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai warna Batik Selotigo menjadi bagus. Batik Selotigo dengan warna klasik mempunyai ciri warna yang lebih berani dan lebih matang apabila dibandingkan dengan warna klasik dan warna biasa.
68
Gambar 3.11
Batik Selotigo dengan warna klasik
Batik Selotigo dengan warna biasa juga dibuat dengan menggunakan pewarna tekstil. Perbedaan antara Batik Selotigo warna klasik dengan warna biasa terletak pada proses pewarnaannya. Proses pewarnaan warna biasa hanya dilakukan sebanyak dua kali, sedangkan proses pewarnaan warna klasik dilakukan lebih dari tiga kali. Sehingga, warna yang didapatkan dalam Batik Selotigo dengan warna biasa tidak sebagus warna klasik.
69
Gambar 3.11
Batik Selotigo dengan warna biasa
Banyak tidaknya pembuatan batik tergantung pada stok yang masih dimiliki dan tergantung pada banyaknya permintaan pasar.