• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : Kesimpulan, berisi kesimpulan umum terhadap hasil rancangan

C. Bulukumba dan Kebudayaannya

2) Proses Pembuatan Phinisi

Sebelum masuk kedalam proses pembuatan phinisi, kita terlebih dahulu mengenal sistem menajemen pertukangannya. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan perahu diperlukan sekelompok tukang yang tidak sedikit sehingga diharuskan untuk memiliki pola manajemen yang tertata rapi untuk menjaga keharmonisan dalam komunitas tukang. Walaupun struktur ini bukan sesuatu yang resmi, namun ketaatan pada sistem dan struktur kerja tetap dipatuhi. Secara sederhana struktur tersebut terdiri dari punggawa atau panrita (kepala tukang), sawi (tukang) yang terdiri sawi kabusu dan sawi pemula, sambalu (pemilik perahu) dan ledeng yang merupakan dewan musyawarah. Dua unsur terakhir yakni sambalu dan ledeng yang walau tidak terlibat langsung dalam proses pembuatan perahu namun mempunyai andil besar dalam pembuatan perahu tersebut.

Pembuatan perahu phinisi sendiri terdari dari tiga tahap, yaitu pengolahan kayu, pembuatan perahu, dan peluncuran perahu.

Berikut adalah ketiga tahap proses pembuatan perahu (Sambodo, 2019) tersebut:

a) Pengolahan Kayu

Untuk membuat sebuah perahu phinisi dibutuhkan bahan baku kayu yang diolah dari hutan yang memiliki jenis kayu tertentu. Kayu untuk bahan baku perahu biasanya dipilih

yang tidak mudah pecah, kedap air, dan tidak dimakan kutu air (rutusu). Pada umumnya jenis kayu yang sering dipakai adalah jenis Kayu Suryan (Vitoe Cavansus Reinw).

Kayu jenis ini merupakan yang paling baik, sebab di samping tahan dan tidak mudah pecah jenis kayu ini juga mudah diperoleh. Selain jenis kayu tersebut juga dipilih Kayu Jati (Tectona Grandis), Ulin (Ensideroxy Lon Zwagerf), Kesambi dan Bayam. Untuk bahan papan, kamar, dan sebagainya dipergunakan Kayu Cokke (sejenis kayu bakau) dan Kayu Cempaga (Petrocarpus Indiculwild).

Selain kualitas dari jenis kayu, kualitas kayu juga dilihat dari umur kayu tersebut. Untuk pembuatan kapal besar misalnya, memerlukan kayu yang berumur sekitar 50 tahun sedangkan untuk pembuatan kapal kecil, kayu yang berumur 25 tahun sudah dianggap memenuhi syarat.

Kayu yang telah dipilih untuk pembuatan perahu itu kemudian dipotong-potong menjadi bentuk balok. Balok-balok tersebut kemudian diangkut ke pinggir sungai atau jalan yang disebut Appaturung.

Pengangkutan kayu-kayu ke tempat pembuatan kayu (bantilang) dilakukan dengan menggunakan mobil, tongkang, perahu, atau kapal. Pengangkutan bahan baku ke bantilang

biasanya diatur sedemikian rupa dengan mendahulukan komponen yang lebih dahulu dikerjakan.

b) Pembuatan Perahu

Langkah-langkah proses pembuatan perahu Phinisi adalah sebagai berikut:

 Hal yang pertama kali dibuat dalam pembuatan perahu adalah pemasangan kalabiseang (lunas). Pada pembuatan perahu tradisional, lunas perahu terdiri dari tiga potong balok dengan ukuran tertentu sesuai dengan kapasitas perahu yang diinginkan.

 Setelah pembuatan lunas perahu maka kemudian dibuatlah dinding perahu atau disebut juga dengan badan perahu.

Dinding perahu dapat dibedakan atas papan terasa (papan keras atau dasar) dan papan lamma (papan lemah).

 Tahap selanjutnya dalam pembuatan perahu phinisi adalah pemasangan rangka. Rangka pada perahu tradisional hanya sebagai pengukuh atau pengukut dinding perahu. Rangka perahu terdiri dari dua bagian, kelu dan soloro. Kelu adalah balok yang dipasang melintang pada kiri dan kanan lambung, mirip dengan huruf V sedangkan Soloro merupakan bagian yang berada di antara dua kelu, namun dipasang tidak melintang seperti kelu namun ujungnya hanya sampai di pinggir lunas.

 Selanjutnya masuk ke pada tahap pembuatan lepe. Lepe adalah lembaran kayu dengan ukuran khusus yang dipasang di atas balok rangka dan berfungsi untuk merangkai/saling menguatkan papasan rangka perahu.

 Selanjutnya pemasangan balok kalang. Kalang ialah balok dengan ukuran khusus yang dibentuk agak cembung pada bagian atasnya dan dipasang melintang pada kiri dan kanan perahu. Fungsinya adalah untuk memperkuat dinding perahu dan juga sebagai landasan dari dek perahu. Ujung kalang bertumpu pada lepe kalang dan dikuatkan dengan pasak kayu atau baut.

 Setelah pemasangan kalang telah selesai, maka dipasang pula bangkeng salara, yaitu beberapa pasang balok dengan ukuran dan kualitas tertentu, yang akan berfungsi sebagai tumpuan/pondasi tiang utama. Untuk tiang depan terdapat tiga pasang bangkeng salara sedangkan pada tiang belakang hanya terdapat satu pasang.

 Apabila pemasangan kalang dan balok-balok telah selesai, sebagai sawi ditugaskan untuk memasang papan katabang (lantai dek perahu). Katabang mulai dipasang di pinggir perahu sampai seluruh pemukaan tertutup kecuali pintu.

Teknik pemasangan papan katabang sama dengan

pemasangan terasa, yaitu dirapatkan dengan dan sambungan papan dilapisi agar tidak kemasukan air.

 Sesudah pemasangan papan ketabang masih ada tahap pembuatan anjong. Anjong adalah sebatang balok dengan ukuran dan bentuk khusus (bulat) yang dipasang mencuat di bagian depan perahu phinisi. Fungsi anjong ialah sebagai tempat mengikatkan tiga lembar layar depan perahu, selain itu fungsi anjong juga untuk memperindah tampilan perahu phinisi.

 Setelah semua pekerjaan telah dilakukan, tahap selanjutnya dalam pembuatan badan perahu sebelum diluncurkan adalah menyumbat seluruh persambungan papan agar tidak kemasukan air.

 Tahap akhir dari pembuatan perahu phinisi adalah allepa.

Seluruh permukaan papan terasa ditutup dengan dempul yang dibuat oleh campuran kapur dengan minyak kelapa, kemudian ditumbuk oleh beberapa orang selama beberapa jam.

c) Peluncuran Perahu

Peluncuran perahu biasanya dilakukan pada siang hari dengan memilih hari tertentu menurut kebiasaan orang Bugis Makassar. Pada malam hari sebelum peluncuran biasanya diadakan upacara yaitu upacara ammossi‟ dan appassilli.

Beberapa hari sebelum peluncuran dilakukan beberapa persiapan seperti memasang kengkeng jangang di kiri kanan perahu. Kengkeng jangan ialah balok-balok besar dan panjang yang biasanya dipasang agar perahu tidak rebah atau miring saat didorong.

Kegiatan peluncuran ini melibatkan cukup banyak orang dengan biaya yang cukup besar. Untuk mendorong perahu dengan ukuran seratus ton, setidaknya dibutuhkan tenaga manusia Iebnih dari seratus orang. Karena banyaknya orang yang akan membantu, maka pada hari itu pemilik perahu mengadakan pesta dengan memotong kambing atau kerbau.

Setelah diluncurkan, maka perahu phinisi tersebut siap untuk mengarungi lautan Nusantara.

c. Tari Tradisinal Bulukumba 1) Tari salonreng

Gambar 2.18 Tari Salonreng Sumber: bulukumbapos.com

Tari salonreng merupakan warisan nenek moyang yang awalnya memiliki gerak yang tidak beraturan. Tari ini berupa

gerakan untuk menghalau roh-roh jahat hingga akhirnya gerakan inipun berkembang dan terus berkembang sampai terbentuklah formasi-formasi seperti sekarang. Namun, untuk pencipta tari salonreng hingga saat ini belum diketahui (H. Muhammad Idris, 2017).

a) Kostum Tari Salonreng

Dalam sebuah tarian, selain gerakan kostum juga menjadi salah satu poin untuk menambah nilai estetika. Kostum sebuah tarian bermacam-macam, tergantung tari apa yang akan ditarikan. Adapun kostum untuk tari salonreng (Paliara, 1980) sebagai berikut:

a) Baju Bodo: Warna bebas (selain warna putih).

b) Sarung Samarinda atau sarung sutra yang serasi denga pakaian

c) Tambong ( selendang segitiga yang panjang) dengan warna yang selaras dengan pakaian.

b) Jenis Formasi Tarian Salonreng

Saat membawakan sebuah tarian, terdiri dari beberapa formasi. Berikut beberapa formasi untuk tari salonreng (Paliara, 1980):

a) A‟rurung (beriringan masuk)

b) A‟bo‟dong (melingkar) berdiri lalu duduk

c) A‟boya pammentengang (berdiri untuk mencari tempat/pasangan)

d) A‟la‟bu (memanjang) dalam posisi berpasangan e) Sisambeyang enteng (saling bertukar tempat) f) Karena sidong (menari dalam keadaan duduk) g) Appalece (membujuk)

h) Appakinreng (yang membangkitkan) i) Allakka‟ (memisah)

j) Siusiri (berkejaran) k) Sidalleki (berhadapan)

l) Sipaling-palingi (bergerak dengan sikap arah lengan yang berlawanan)

m) Sibokoi (saling bertolak belakang)

n) Sita‟lei (saling menyeberang merebut tempat kawan) o) Annongko‟/appalakkana (mohon diri/pamit

c) Tata Cara Penyajian Tari Salonreng

Malam sebelum hari upacara berlangsung, diadakanlah malam keakraban. Pada malam keakraban tersebut, keluarga pengantin berkumpul bersama mengadakan malam syukuran.

Pada saat yang bersamaan, diadakan upacara selamatan dan penyembelihan kerbau. Keluarga calon pengantin tidak tidur untuk mempersiapkan segala keperluan esok harinya. Untuk menghindari rasa kantuk, maka diadakan akkarena tedong.

Keesokan harinya, pada hari pernikahan, diadakanlah tari salonreng yang dimainkan oleh dara-dara (anak gadis) yang merupakan teman akrab pengantin di masa remajanya. Apabila acara telah selesai (sebelum pengantin naik ke pelaminan), maka pengantin siusiri (pasangan pengantin turut serta menari untuk menjemput dan menghibur para undangan). Penyajian untuk tari salonreng tidak terikat oleh waktu. Ditarikan siang atau malam, sesuai keinginan si pemilik acara. (Lompi, 1993) 2) Tari Pabitte Passapu

Gambar 2.18 Tari Pabitte Passapu Sumber: www.antarfoto.com

Tari Pabbitte Passapu sebagai Kesenian Khas Suku Kajang Dalam. Tari pabbitte passapu pada awalnya dipertunjukan untuk upacara perkawinan (pa‟buntingang), penolak bala (akkalomba), khitanan (assunat), dan akiqah (akkatere). Akan tetapi sekarang lebih sering ditampilkan untuk upacara perkawinan, bentuk sajiannya pun tidak memiliki banyak varian. Berdasarkan asumsi tersebut, maka penting untuk mengetahui dan menjelaskan

keberadaan tari pabbitte passapu di masyarakat suku Kajang Dalam khusunya, pada upacara tradisi perkawinan yang merupakan bagian dari nilai-nilai pasang. Selain itu, juga dapat membantu untuk memahami bentuk sajian tari pabbitte passapu sebagai bagian dari nilai-nilai pasang, yang wajib diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Kajang dan di luar masyarakat tersebut (Oktaviani, 2016).

a) Nama Tari Pabbitte Passapu

Nama merupakan tanda inisial yang biasanya berhubungan dengan tema tarinya. Nama pabbitte passapu berasal dari istilah orang Kajang yang memiliki kebiasaan mengadu ayam jago. Mengadu ayam jago dalam bahasa konjo adalah pabbitte jangang. Dalam perjalanan waktu, setelah ditetapkan aturan adat yang melarang kegiatan mengadu ayam jago, kegiatannya diganti dengan mengadu ikat kepala. Dalam hal ini, ikat kepala merupakan representasi simbolik dari ayam jago. Maka namanya pun disesuaikan menjadi pabbitte passapu, yang berarti menyabungkan ikat kepala para kaum laki-laki di suku Kajang dalam (Oktaviani, 2016).

b) Tema Tari Pabitte Passapu

Tema atau isi tari pabbitte passapu adalah keperkasaan, sifat gengsi dan egoisme yang diekspresikan ke dalam pertarungan. Tema ini disarikan dari sifat-sifat individual

masyarakat Kajang masa lalu, ketika mereka berada di arena perjudian sabung ayam jago. Rata-rata mereka saling menunjukkan keberaniannya (tubarani), keangkuhannya dan keegoisannya. Ikat kepala yang dipakai sebagai properti tari adalah simbol keberanian sekaligus harga diri untuk memperoleh kemenangan. Sifat pemberani diekspresikan melalui gerak hentakan kaki dan gerak tangan mengayun ke depan untuk menggambarkan perilaku menyabung ayam.

Ekspresi keangkuhan dan keegoisan diwujudkan dalam bentuk gerak bertolak pinggang, meminta, dan berkelahi (Oktaviani, 2016).

c) Gerak Tari Pabitte Passapu

Gerak adalah dasar ekspresi dari semua pengalaman emosional. Dalam koreografi atau tari, pengalaman emosional diekspresikan lewat medium yang tidak rasional, atau tidak berdasarkan pikiran, tetapi berdasarkan perasaan, sikap, dan imaji. Medium ekspresi yang dimaksud adalah gerakan tubuh.

Adapun materi ekspresinya adalah gerakan-gerakan tubuh yang sudah dipolakan menjadi bentuk yang dapat dikomunikasikan secara langsung lewat perasaan. Pola-pola gerak dari seorang penari tidak hanya serangkaian sikap-sikap atau postur tubuh yang dihubung-hubungkan, tetapi terdiri dari gerak yang

kontinu gerak yang tidak hanya berisi elemen-elemen statis (Hadi, 2011).

d. Kuliner Khas Bulukumba 1) Jagung Marning

Gambar 2.20 Jangung Marning Sumber: www.m.kumparan.com

Jagung marning adalah makanan khas Bulukumba yang terbuat dari jagung yang di goreng. Makanan khas Bulukumba yang satu ini termasuk makanan memiliki rasa rugih dan renyah.

Jagung marning memiliki berbagai varian rasa sperti rasa original, balado, barbeque, keju dan masih banyak lagi.

2) Barongko

Gambar 2.21 Barongko Sumber: budaya-indonesia.org

Barongko adalah makanan khas bulukumba yang terbuat dari

Kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus. Barongko selalu di sajikan saat acara adat seperti sunatan, akikah, pernikahan, syukuran dan lain sebagainya.

3) Bandang-bandang

Gambar 2.22 Bandang-bandang Sumber: warungsipurennu.blogspot.com

Bandang adalah kue tradisional khas Bugis-Makassar, terdapat dua jenis kue bandang lojo dan bandang-bandang. Badang lojo merupakan kue bandang tanpa pembungkus yang ditaburi kelapa, sedangkan bandang-bandang dibungkus daun pisang dan berbahan dasar pisang juga.

4) Barobbo

Gambar 2.23 Barobbo Sumber: amp.suara.com

Makanan ini memiliki tekstur yang sama seperti bubur, hanya saja barobbo berbahan dasar jagung bukan nasi seperti pada umumnya.

Dokumen terkait