BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai aktivitas publikasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam optimalisasi komunikasi bencana yang telah disimpulkan, peneliti mencoba untuk memberi saran yang harapannya dapat menjadi masukan bagi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai berikut:
1. Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dapat lebih mengoptimalkan komunikasi bencana dengan membuat viral sebuah hashtag atau tagar di media sosial, seperti #BudayaSadarBencana.
Tagar ini akan selalu diletakkan di setiap informasi yang dipublikasikan Humas BNPB. Tagar ini akan membantu suatu informasi untuk lebih viral, karena di media sosial, sebagai contoh, tagar akan membuat suatu informasi menjadi trending topic¸ yaitu topik yang ramai dibicarakan.
Apabila ini dilakukan, Humas BNPB dapat lebih luas menjangkau publik karena dengan viralnya tagar tersebut, publik akan terus membicarakannya. Dengan demikian, Humas dapat lebih mudah mendapat atensi masyarakat ketika diseminasi informasi kebencanaan.
2. Tim Humas BNPB harus mempunyai skill kehumasan yang handal untuk dapat memaksimalkan pesan yang akan disampaikan. Menunggu tersedianya SDM yang cukup mungkin merupakan hal yang sulit dan lama, karena telah disusun dalam prosedur resmi BNPB, oleh karena itu, satu-satunya cara yang dapat dilakukan sekarang adalah memaksimalkan kapasitas keterampilan SDM di Humas, yaitu dengan otodidak. Bila diperlukan, Humas BNPB mengadakan pelatihan (workshop) secara berkala agar semakin menambah pengetahuan mengenai skill kehumasan, dan dapat membantu Humas dalam mengerjakan tugasnya, termasuk publikasi informasi kebencanaan.
DAFTAR REFERENSI Buku:
Danandjaja. 2011. Peranan Humas Dalam Perusahaan. Yogyakarta: Graha Ilmu Denzin, Norman K., and Lincoln, Yvonna S. (Editor). 2011. Handbook of Qualitative
Research (4th ed). Thousand Oaks: Sage
Effendy, Onong Ujahyana. 2006. Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek. Bandung:
Penerbit Remaja Rosda Karya
Halik, Abdul. 2013. Komunikasi Massa. Makassar: Alauddin University Press
Jefkins, Frank. 2004. Public Relations (terjemahan Haris Munandar). Jakarta: Erlangga Khambali, I. 2017. Manajemen Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: Andi
Kusumasari, Bevaola. 2014. Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal.
Yogyakarta: Gava Media.
Kusumastuti, Frida. 2002. Dasar Dasar Humas. Jakarta: Ghalia Indonesia
Manzilati, Asfi. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode, dan Aplikasi. Malang: Universitas Brawijaya Press
Miles, M.B, A.M. Huberman, and J. Saldana. 2014. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. USA: SAGE Publications
Morissan. 2008. Manajemen Public Relations: Strategi Menjadi Humas Profesional.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Muslih, Mohammad. 2006. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Belukar
Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2018. Informasi Kebencanaan Teraktual. Desember 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Rakhmat, Jalaluddin. 1984. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remadja Rosdakarya
Rumanti, Maria Assumpta. 2005. Dasar-dasar Public Relations: Teori dan Praktik.
Jakarta: PT Grasindo
Ruslan, Rosady. 2008. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
____________. 2010. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Saebani, Beni Ahmad. 2017. Pedoman Aplikatif Metode Penelitian Dalam Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Dan Disertasi. Bandung: Pustaka Setia
Shaw, Rajib; Srinivas, Hari & Sharma, Anshu (Eds). 2009. Urban Risk Reduction: An Asian Perspective. UK. Emerald Group Publishing Limited
Simonovi’c, Slobodan P. 2011. Systems Approach to Management of Disasters:
Methods and Applications. New Jersey: John Wiley & Sons Hoboken
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Elfabeta
Suprawoto. 2018. Government Public Relations. Jakarta: Prenadamedia Group
Susanto, Eko Harry. 2011. Komunikasi Bencana: Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM). Yogyakarta: Mata Padi Pressindo
Suwendra, I. Wayan. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Sosial, Pendidikan, Kebudayaan, dan Keagamaan. Bali: Nilacakra
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo
Jurnal:
131
Eko Teguh Paripurno (2008). Manajemen Risiko Bencana Berbasis Komunitas:
Alternatif dari Bawah. Jurnal Dialog Kebijakan Publik Edisi 1 Juni, Tahun II 2008.
Departemen Komunikasi dan Informatika, Jakarta. (diakses pada tanggal 20 Januari 2019, pukul 12.55)
LIPI (2007). Komunika. Majalah Ilmiah Komunikasi dalam Pembangunan, Vol10, 29-40 (diakses pada tanggal 25 Januari 2019, pukul 12.45)
Nuning Kurniasih (2016). Penggunaan Media Sosial bagi Humas di Lembaga Pemerintah. Forum Kehumasan. 1-22 (diakses pada tanggal 09 Januari 2019, pukul 17.35)
Poppy Rulliana dan Ririh Dwiantari (2015). Strategi Public Relations Hotel dalam Membentuk Citra Objek Wisata. Jurnal Komunikasi ASPIKOM. Vol2. 255-271.
(diakses pada tanggal 20 Januari 2019, pukul 21.20)
Rudianto (2015). Komunikasi dalam Penanggulangan Bencana. Jurnal Simbolika.
Vol1. 51-61 (diakses pada tanggal 10 Februari 2019, pukul 12.40)
Setio Budi HH (2012). Komunikasi Bencana: Aspek Sistem (Koordinasi, Informasi dan Kerjasama). Jurnal Komunikasi, Vol1, 363‐372. (diakses pada tanggal 09 Januari 2019, pukul 13.40)
Website:
https://www.dw.com/id/tahun-2018-adalah-tahun-bencana-terparah-sejak-satu-dekade/a-46882996 (diakses pada tanggal 09 Januari 2019, pukul 13.00)
https://id.wikipedia.org/wiki/Cincin_Api_Pasifik (diakses pada 09 Januari 2019, pukul 11.40)
Skripsi
Sitinjak, Katrin Rosely. 2012. Strategi Membangun Citra Positif Perusahaan Melalui Publikasi Humas. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.
Depok
LAMPIRAN I
PEDOMAN WAWANCARA
“Aktivitas Publikasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Optimalisasi Komunikasi Bencana”
Humas BNPB A. Identitas Informan
Nama :
T.T.L :
Umur :
Jabatan :
Periode Menjabat :
Agama :
Alamat :
B. Pendapat Informan
1. Pentingnya komunikasi bencana (yang meliputi komunikasi sebelum, saat, dan setelah bencana)
2. Peran penting Humas dan pengaruhnya dalam optimalisasi komunikasi bencana
3. Aktivitas Humas yang sudah dilakukan (Internal dan External PR) 4. Aktivitas Publikasi yang sudah dan akan dilakukan
5. Media publikasi yang digunakan
6. Efektivitas penggunaan media publikasi dalam penyampaian pesan 7. Target khalayak yang dicapai
8. Frekuensi publikasi 9. Pentingnya publikasi
10. Tolok ukur keberhasilan publikasi 11. Jenis-jenis informasi yang dipublikasi
133
12. Kebijakan khusus terkait publikasi yang ditentukan institusi 13. Hambatan yang dialami dalam melakukan kegiatan publikasi 14. Upaya penyelesaian hambatan yang dilakukan
15. Strategi Humas untuk menciptakan aktivitas publikasi yang optimal
PEDOMAN WAWANCARA
“Aktivitas Publikasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Optimalisasi Komunikasi Bencana”
Pembaca Media A. Identitas Informan
Nama : T.T.L : Umur : Pekerjaan : Agama : Alamat :
B. Pendapat Informan
1. Pengetahuan tentang tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
2. Pengetahuan tentang Humas BNPB dan tugasnya
3. Pendapat tentang kinerja BNPB, khususnya Humas, dalam menjalankan tugasnya
4. Bentuk publikasi Humas yang dikonsumsi oleh informan 5. Pengetahuan tentang pentingnya aktivitas publikasi
6. Metode publikasi informasi dinilai sudah efektif dan efisien 7. Tolok ukur keberhasilan aktivitas publikasi humas
8. Media yang lebih sering digunakan untuk mendapatkan informasi dari BNPB
9. Jenis-jenis informasi yang dipublikasi
10. Dari kegiatan publikasi yang dilakukan, apakah merasa puas dengan informasi yang diberikan
11. Harapan untuk aktivitas publikasi Humas BNPB dalam optimalisasi komunikasi bencana
135
LAMPIRAN II
TRANSKRIP WAWANCARA Informan I - Andri Utomo (Pranata Humas BNPB)
P: Mas, pertama mau nanya, tentang jobdesc Humas BNPB, biasa mengerjakan apa?
N: Jodesc Humas itu banyak. Sebenarnya kita itu ada mengedukasi masyarakat, memberikan informasi kepada masyarakat, terus menyampaikan rilis ke wartawan untuk liputan. Jadi intinya, humas itu perpanjangan dari BNPB ke masyarakat, menyampaikan informasi kepada masyarakat, data dan informasi.
P: Informasi yang disampaikan Humas, berarti kan Humas BNPB bertanggung jawab atas penyebaran informasi. Informasi apa aja, mas, yang disampaikan BNPB ke masyarakat?
N: Pasti terkait bencana, dari yang pra bencana, misalkan sekarang ada edukasi apa yang sudah dilakukan BNPB misalnya dalam masa pra bencana, mitigasi apa yang sudah kita lakukan, bisa buat Desa Tangguh kah, bangun mitigasi vegetative, struktural, dan masih banyak. Setelah itu, ada masa saat tanggap darurat, saat bencananya. Ya kita menginformasikan berapa jumlah orang yang meninggal, apa saja yang sudah dilakukan pemerintah, terus bagaimana penanganannya, dan apa yang harus dilakukan masyarakat, itu juga. Setelah itu, rehabilitasi-rekonstruksi juga masuk ke pasca bencana. Jadi setelah mereka tanggap bencana, apa yang harus dilakukan? Merelokasi penduduk dari tempat A ke tempat B yang lebih aman dari zona berbahaya ke wilayah aman, seperti itu.
P: Itu kalau saya tangkap, kan, tugas BNPB-nya secara general. Kalau Humasnya, nih mas, berarti menyebarkan informasinya ya seperti tempat mana yang aman.
N: Iya. Dengan teknis nya kan, memberitahu kita, nah nanti kita yang ke lapangannya.
P: Itu Humas bekerja sendiri, atau bekerja sama dengan siapa aja, mas untuk bisa dapat memberitahu masyarakat, misalnya, tentang mitigasi, Humas bekerja sama dengan siapa aja yang mas di internal dulu, Pusdatinmas ya mas?
N: Pusat Data dan Informasi itu ada tiga (3) bidang, bidang Data, bidang Informasi, dan bidang Humas. Kalau bidang Humas nya itu ada subbidang media elektronik dan subbidang media cetak. Di bawahnya lagi, bukan di bawahnya lagi, ada lagi jabatan fungsional.
P: Jabatan fungsional itu apa ya?
N: Membantu pekerjaan dari media cetak dan media elektronik. Dan kalau masalah penyebaran tadi dibantu siapa, tiap teknik ada. Jadi kita ibarat sekarang dibantu, sekarang kan zamannya medsos, bisa lewat medsos. Kita ada website, kita punya majalah, kita punya grup WAPENA (Wartawan Peduli Bencana). Jadi kita ada temen-temen wartawan juga yang menjadi agen kita untuk penggandaan informasi.
Jadi wartawan-wartawan kontributor kita didik, kita latih di forum komunikasi wartawan. Nah setelah mereka selesai, kita bangunlah WAPENA.
P: Itu WAPENA?
N: Wartawan Peduli Bencana. Nanti juga ada grup MEDKOM, Media Komunikasi.
Jadi di sini, kita punya tujuh (7) MEDKOM dan tujuh (7) WAPENA.
P: WAPENA itu wartawan-wartawan BNPB, atau wartawan dari stasiun TV?
N: Wartawan mereka, wartawan media mereka masing-masing, cuma kita istilahnya merangkul, sinergi sama mereka.
P: Satu lagi, apa mas, MEDKOM ya?
N: MEDKOM. Media Komunikasi. Itu sebenarnya gagasan Pak Topo. Jadi sebanyak mungkin wartawan kita blasting, tulis rilis yang dibikin BNPB ke mereka.
Harapannya, satu, mereka bisa memuat itu di media mereka. Kedua, paling enggak, mereka teredukasi, apa sih yang sudah kita lakukan, apa yang terjadi di bencana.
137
Ketiga, untuk menghindari dari hoax. Sekarang kan, bencana itu banyak yang ngambil kesempatan. Misalkan, gunung Agung meletus, ternyata bukan Gunung Agung yang meletus, nanti Gunung Sinabung. Terus yang tentang pariwisata, berdampak juga terhadap pariwisata kan, yang di Bali sampai satu periode satu bulan kalau ga salah, lebih ya kayaknya, ya pokoknya triliunan deh dampaknya dari hoax itu impact nya lumayan banyak karena sebenarnya kan, yang kena erupsi itu hanya radius 5 kilometer dari gunung, enggak sampe se-Bali. Tapi gunung itu dipindahkan ke tengah, jadinya se-Bali kena erupsi. Apa lagi ya?
P: Mas, mau tau juga. Tadi kan kita bicarain eksternal nya, bagaimana Humas menjadi jembatan antara BNPB dengan masyarakat. Kalau internalnya sendiri, mas, kegiatan internal Humas BNPB, ada tidak?
N: Internal, lebih ke.., ada namanya PPID, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Dia itu yang antar unit ke unit. Jadi misalnya ada informasi kegiatan, katakanlah, temen temen di Pencegahan dan Siap Siagaan ada acara atau kegiatan apa, nah diinformasikan ke kita, nanti kita juga informasikan ke temen-temen yang lain.
P: Kalau misalnya, kemarin ada sempat bicara sama Mas Philus, katanya di Internal Humas, ingin membuat kegiatan pelatihan membuat artikel. Boleh cerita dikit ga mas tentang itu? Berarti itu internal ya mas?
N: Itu internal. Itu salah satu bagian dari kegiatan PPID. Kita juga supaya temen-temen, kita kan terbatas nih orang-orangnya di Humas, yang kalau ada kegiatan ga bisa semua ikut berangkat. Nah jadi kita kayak buat agen-agen kecil di masyarakat supaya mereka bisa juga menulis atau mewartakan kegiatan apa yang mereka lakukan, misalnya mereka ada kegiatan bimtek temen-temen BPBD di mana gitu, BPBD di Aceh misalnya, agar mereka bisa mewartakan, mengirim berita ke kita agar nanti kita muat di website kita atau di medsos.
P: Artikel nya biasa seputar?
N: Tentang kegiatan mereka, kegiatan unit kerja masing-masing. Dulu juga sebelumnya ada workshop foto, terus apa lagi ya.. Jadi kita bikin games kecil-kecilan gitu, jadi temen-temen yang hobi foto kita kumpulin, kita ajak. Ga hanya kamera, tapi handphone juga.
P: Itu pesertanya umum gitu mas?
N: Ga umum, orang BNPB. Intinya yang kerja di BNPB.
P: Itu entar sudah dikumpulkan, di-workshop-kan. Itu entar yang datang dan liat-liat, orang BNPB juga mas?
N: Nah kalau itu kan ada mentor nya, Pak Arben Rambe, fotografer senior di Kompas, waktu itu pernah periksa fotonya ini kurang apa. Paling tidak, temen temen itu bisa mengoreksi kekurangannya apa, kelebihannya apa, satu. Kedua, kita kompetisikan juga setelah dikasih teori, praktekkan di sekeliling aja. Fotonya di sekeliling aja.
Mereka praktek, potret, kita liat mana yang bagus, kita kasih hadiah, 300 ribu, 200 ribu.
P: Itu foto-foto nya untuk konsumsi internal aja, engga diumumkan, atau dieksibiskan?
N: Enggak. Dieksibisikan ada lagi namanya Award. Itu untuk umum, orang luar BNPB, orang BNPB sendiri ga boleh ikut.
P: Apa mas namanya itu?
N: Lomba Kreativitas Kebencanaan, kayak kemarin terakhir itu ada lomba karya tulis, lomba foto, poster, video, radio, jingle, yang kemarin itu karya tulis kita singkat lagi menjadi blog, ikuti perkembangan zaman, lumayan udah 6 kali. BNPB itu 2008, kita bermulai 2012, berarti berapa tahun itu?
P: Dari 2012 sampai sekarang ya?
N: Iya.
P: Itu umum berarti ya?
139
N: Iya.
P: Itu Humas sepenuhnya yang handle, atau?
N: Iya, Humas. Jadi pas penganugerahannya, kita libatkan pihak ketiga untuk bikin panggung. Kayak kemarin kan di Medan, jadi kita rekrut EO, karena kan kita sudah ada tugas sendiri. Jadi kan ga mungkin ngurusin..
P: Jadi berarti acara bisa di mana aja ya mas, engga di BNPB, kayak bisa di Medan?
N: Oh, pemberian hadiahnya, setelah kita kompetisi kan sampai Oktober, nanti penyerahan hadiahnya itu bulan Oktober akhir atau Oktober awal, berbarengan dengan bulan Peringatan Risiko Kebencanaan. Nah itu, bisa di mana aja. Kemarin kan di Medan, tahun ini di Babel. Sebelumnya sempat di Manado.
P: O sekalian Peringatan Risiko Bencana, tergantung di mana diselenggarakan?
N: Iya. Kita targetnya wartawan sih.
P: Mas, mau tau juga, menurut mas sendiri, pentingnya publikasi terkait dengan kebencanaan?
N: Penting banget. Kalau misalnya kita tidak publikasikan data yang kita punya, informasi yang kita punya, masyarakat kan engga akan tahu bencana apa yang ada di Indonesia, apa aja sih bencana di Indonesia, emang semuanya udah pada tahu.
Kenapa bisa terjadi gempa, gimana cara menyelamatkan diri, kan harus kita kasih tau masyarakat supaya lebih aware.
P: Mau bicara tentang ini, mas, media-media yang dikelola Humas sendiri. Seperti mas bilang, ada media cetak, media elektronik, boleh di-detail kan. Kalau di media cetak, Humas BNPB mencetak apa aja gitu?
N: Kalau media cetak itu yang rutin, kita punya majalah Gema. Majalah itu empat bulan sekali, setahun itu tiga kali, jadi terbitnya bulan April, Agustus, Desember, itu majalah empat bulanan kami. Kedua, ada buku Edukasi Bencana, tergantung bencananya apa. Kalau bencananya kemarin terakhir Merapi, banjir bandang di
Magelang, terus ada yang edukasi tentang Simelue, pulau pulau kecil kan biasa lebih rawan karena kalau misalnya kena bencana, udah terisolir, kita gabisa masuk, nah kayak gitu, ada buku pembelajaran istilahnya. Ketiga, kita buat ga hanya untuk orang dewasa dan orang umum, kita juga bikin untuk anak-anak, kayak buat komik, Komik Edukasi Bencana. Nah ada lagi sebenarnya jurnal, tapi jurnal itu temen-temen bidang Data. Terus, buku profil, buku Gema, leaflet. Nah, kemarin leaflet ini kita cetaknya dalam bentuk buku tulis, kan karena kalau leaflet kebanyakan kalau dipegang, habis baca buang kan. Nah kita coba untuk menyasar temen-temen, adek-adek kita SD, SMP lah kita kasih buku tulis, tapi belakangnya itu ada informasi tentang bencana, pra bencana, tanggap bencana, pasca bencana, secara keseluruhan saat ada bencana, kita harus ngapain, dalam buku tulis. Jadi secara ga langsung, kalau buat adik-adik mereka belajar, pasti baca. Asal ga disampul cokelat ya, haha.
Itu yang cetak. Kalau elektronik, kita satu tahun ada semacam kayak ADB (Aspara Dita Budaya), itu melalui radio. Kamu lahir tahun berapa?
P: 1998.
N: Tau Drama Kumbara, drama radio?
P: Engga.
N: Ya kayak gitu. Jadi mengedukasi masyarakat yang tinggal di pesisir yang cuma kesehariannya dengerin radio, nah kita nyasarnya ke situ. Jadi, bikin sandiwara tentang kolosal, yang tentang edukasi bencana, kenapa gunung berapi meletus, nah itu cukup menarik dan responnya lumayan bagus. Terus kita juga ada ke masyarakat, ada temu wicara juga, terus ke mahasiswa dan sebagainya. Setelah itu kita juga pakai medsos. Media sosialnya itu ada empat, Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.
Terus ada Whatsapp, terus ada website. Kita juga ada BNPB TV, sama kita edukasi melalui media televisi, misalkan kayak kita bikin animasi Keluarga Tangguh, terus kita sebarkan lagi. Atau misalnya video vlog kecil seperti kemarin BP (Bambang Pamungkas), jadi edukasi dari publik figur kita gunakan juga, dongeng bencana. Ya entar tayang di TV dan di media sosial.
141
P: Bicara tentang BNPB TV, itu udah jalan gimana ya mas, proses nya?
N: Untuk sementara ini, kita masih banyak evaluasi juga nih untuk BNPB TV. Jadi sebenarnya mau running nya seperti kita streaming kayak mini studio, mini TV.
Kita masih kurang SDM dan ternyata masih belum banyak diperlukan, jadi sekarang kita pakai server nya melalui Youtube, tapi server sendiri, tapi sekarang kita masukin pakai servernya Youtube. Masih ada kendala teknis, sempat hilang aplikasinya dari Google Play, ini saya mau tanya teknisinya.
P: Kalau tadi ADB ya mas, radio, radionya punya saluran sendiri berarti ya untuk didengar masyarakat, atau gimana mas teknis ADBnya?
N: Jadi kita produksi sandiwaranya, jadi itu pake lelang, kita lelangkan, jadi ada pihak ketiga yang menang. Jadi kita sudah bikin kan, mereka bikin produksi sandiwaranya 1 sampai 100 episode, nah nanti itu disiarkan, di-relay di, kemarin itu, 80 lokasi kabupaten/kota di Indonesia.
P: BNPB sendiri dalam waktu dekat, ada ga kegiatan sama daerah gitu?
N: Ada katanya bikin wayangan. Yang tradisional kita juga ada edukasi bencana lewat wayangan. Jadi kalau kita sudah menggapai temen-temen milenial melalui medsos, Youtube, dan lain sebagainya, tapi kita juga merangkul temen-temen kita yang di daerah, di pinggiran, melalui seni tradisional. Jadi secara ga langsung, kita edukasi masyarakat, saat mereka dengerin wayang kan ada lucunya. Jadi mereka itu dalangnya kita kasih buku saku edukasi bencana, terus sampaikan ini, daerah sini, misalkan kemarin di Garut, ancamannya gunung meletus, ancamannya gempa bumi, ancamannya ini mungkin bisa disampaikan. Kalau misalnya gunung meletus, larinya jangan ke atas gunung, malah ke bawah gunung, harus di luar radius itu, yang harus diikutin itu siapa, BNPB, bukan yang lain. Biar masyarakat teredukasi juga. Soalnya di pinggiran itu kan sebenarnya kebanyakan orang tua.
P: Itu mau dilakukan?
N: Sudah dilakukan beberapa kali.
P: Kalau yang akan datang, mau dilakukan lagi mas?
N: Iya. Ini lagi survey. Kemana ya? O yang dekat ini, Pekalongan, Jawa Tengah.
P: Itu rutin, maksudnya jadi agenda Humas BNPB?
N: Agenda tahunan.
P: Mas, mau nanya sejauh ini, dari sejumlah publikasi yang sudah dilakukan, bentuk evaluasi dari tim Humas sendiri menilai apakah ini sudah mantap belum kegiatan publikasinya. Menurut mas sendiri kegiatannya sudah cukupkah, atau ada yang mau ditambah lagi kegiatan publikasi gitu? Tolok ukur keberhasilannya gitu mas.
N: Sebenarnya kalau evaluasi kita ga boleh evaluasi sendiri. Kalau melibatkan pihak ketiga, belum dilakukan. Kita balik dari unit lain, dari pihak Inspektor sudah melakukan evaluasi. Terus kalau dari internal sendiri, kita sudah evaluasi kemarin kegiatan animasi yang Keluarga Tangguh itu, kurang efektif, akhirnya kita hentikan, karena kita mau kampanyekan keluarga yang tangguh untuk hadapi bencana, ternyata gagal di animasinya yang kurang baik. Terus evaluasi lain misalnya Asmara di Tengah Bencana, lumayan respon nya bagus, jadi kita lanjutkan di tahun ini.
Evaluasi, paling dari anemo masyarakat dan media sosial.
P: Kebanyakan positif?
N: Positif. Tapi kita juga menilai diri sendiri, dalam arti kayak tadi animasi. Menurut kita aja ga bagus, apalagi orang lain. Tapi anak-anak suka suka aja sih, kayak animasi Tangga, Tangkas, Tangguh. Jadi kita ada animasi yang motor bisa terbang, pernah kita puterin waktu kunjungan di sini. Anak-anak SD datang ke sini, dia liat ada yang “Ah, norak nih”. Terus kita putar di Garut, anak-anaknya “Wah keren (sambil bertepuk tangan)”. Tingkat sasaran video nya harus sesuai tempat juga, kayak di sini mungkin ga pas karena sering liat film lebih bagus, kalau di daerah kan mungkin gadget nya ga secanggih anak-anak yang tinggal di Jakarta.
P: Tapi patokan akan dilanjutkan kegiatan ini atau engga, itu lebih banyak dari audicence nya ya mas, kalau audience senang, lanjut?
143
N: Iya. Terus habis edukasi di lapangan, kita tanya gimana responnya, menarik ga?
Kita tanya, kita rekam di video, terus kita catat yang kurang ini, yang lebih ini. Buat
Kita tanya, kita rekam di video, terus kita catat yang kurang ini, yang lebih ini. Buat