• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses pengemasan

Dalam dokumen 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

Chirimen yang seukuran akan dikemas dalam suatu kardus sembari ditimbang di atas timbangan. Setelah beratnya sesuai dengan yang tertera dalam kardus, maka kardus yang berisi chirimen tersebut akan ditutup dengan kertas koran dan kardus akan diselotip. Proses pengemasan ini bertujuan untuk melidungi produk dari pengaruh luar yang dapat menyebabkan kerusakan produk, serta untuk mempermudah dalam proses distribusi.

Proses dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Pengemasan produk disesuaikan dengan ukuran produk. Dalam satu kemasan hanya terdapat satu jenis ukuran untuk produk chirimen, kecuali untuk produk chirimen BS dan ikan teri nasi asin, karena ukuran produk bukanlah standar untuk pemasaran, sehingga ukuran produk masih tercampur.

Kemasan yang digunakan adalah kardus. Kardus yang digunakan adalah kardus bekas kemasan makanan lain yang akan dilapisi koran. Peggunaan koran masih belum baik dan tidak sesuai dengan standar kesehatan, namun penggunaan koran dan kardus bekas ini hanya dilakukan pada produk ikan teri nasi asin untuk pasar dalam negeri saja, sedangkan untuk produk chirimen penggunaan kardus sudah cukup baik dengan adanya kardus yang diberikan oleh perusahaan pengekspor. Namun sesampainya di perusahaan pengekspor, kemasan kardus tersebut akan diganti dengan kemasan papan kertas dengan tipe double wall (lapisan bergelombang dinding ganda).

Proses pengemasan yang dilakukan di perusahaan pengekspor akan dimulai dengan pengecekan kualitas ikan teri nasi kering (chirimen) apakah layak untuk dikemas atau tidak. Jika produk layak untuk dikemas, maka produk akan langsung dikemas. Sedangkan jika produk tidak layak kemas, maka produk akan dikembalikan ke bagian produksi untuk dilakukan proses ulang. Layak kemas atau tidaknya produk chirimen ini bergantung pada ukuran ikan, kepatahan, kekeringan dan warna ikan.

Setelah melewati proses pengecekan, chirimen tersebut akan dikemas. Cara pengemasan ini pertama-tama dengan melapisi papan kertas dengan plastik. Papan kertas ini memiliki kapasitas berat bersih 5 kilogram. Kemasan ini merupakan kemasan yang aman dan dapat membuat produk chirimen tahan lama

karena kemasan tersebut merupakan kemasan kedap udara. Produk chirimen akan dimasukkan ke dalam plastik sembari ditimbang yang kemudian akan di press hingga tidak ada udara di dalamnya, yang kemudian dikemas dalam kemasan papan kertas.

4.3.5 Penyimpanan

Chirimen yang telah dikemas dengan menggunakan kardus akan langsung dipasarkan jika perusahaan pengekspor memintanya. Namun jika perusahaan pengekspor belum meminta, maka chirimen tersebut akan disimpan di dalam cold storage dengan suhu antaa -10oC hingga -20oC. Begitu pula dengan ikan teri nasi untuk tujuan lokal, akan disimpan di cold storage sebelum akhirnya dipasarkan. Berikut adalah alur produksi ikan teri nasi.

Proses I Proses II

Gambar 19 Diagram alir proses pengolahan produk teri nasi kering chirimen dan produk teri nasi asin di CV. Sumber Rejeki

4.4 Manajemen Mutu

Analisis mutu dilakukan untuk mengetahui kualitas atau mutu ikan teri nasi. Mutu ikan teri nasi dianalisis dengan menganalisa seberapa besar perbandingan antara produksi yang dihasilkan dengan produk ikan teri nasi yang berkualitas baik atau memenuhi standar ekspor. Manajemen mutu terdiri dari sumber bahan baku dan penanganan bahan baku.

Tidak Jemur Tidak Tidak A Ya Ya Ya Sesuai Sortasi Sesuai Sizing Sesuai Packing Finish good Cold Storage A Tidak Tidak Ya Ya Row material Timbang I, timbang II Cuci Sesuai Sesuai

Ikan Teri Rebus Rebus dan Penggaraman

Penirisan

Ya Tidak

Panas Storage Cold

Jemur Ikan Teri Rebus

4.4.1 Sumber bahan baku

Bahan baku ikan teri nasi di CV. Sumber Rejeki diperoleh dari nelayan langsung dan bakul (supplier) yang bekerja sama dengan nelayan. Perusahaan akan menerima semua ikan teri nasi dari nelayan dan bakul. Namun, perusahaan akan memisahkan ikan teri nasi tersebut berdasarkan mutu ikan teri nasi tersebut. Mutu ikan teri nasi yang kurang baik memiliki ciri warna kurang atau tidak putih dan badan hancur.

Berdasarkan hasil pemisahan ikan teri nasi berdasarkan mutu yang dilakukan oleh CV. Sumber Rejeki, ikan teri nasi yang diperoleh dari nelayan langsung memiliki mutu lebih rendah dari pada mutu ikan teri nasi yang diperoleh dari supplier (bakul). Hal tersebut diakibatkan karena sesaat ikan teri nasi didaratkan di darmaga, nelayan tidak langsung mendistribusikannya ke pabrik pengolahan, melainkan membawanya ke rumah nelayan terlebih dahulu. Sedangkan ikan teri nasi yang diperoleh dari bakul, akan langsung didistribusikan sesaaat setelah didaratkan di darmaga.

Selain dikarenakan faktor di atas, mutu ikan teri nasi yang berasal dari bakul lebih baik karena bakul memperhatikan betul mutu ikan teri nasi yang dihasilkan nelayan, dalam hal ini adalah nelayan yang bekerja sama dengan bakul. Bakul sudah sadar akan mutu ikan teri nasi, mutu yang baik dapat dicegah dengan penggunaan es yang lebih banyak. Oleh karena itu, nelayan yang bekerja sama dengan bakul membawa es lebih banyak dibandingkan nelayan biasa, sehingga harag ikan teri nasi dari bakul lebih tinggi daripada harga ikan teri nasi yang didapat dari nelayan.

Guna dari pemisahan mutu ikan teri nasi tersebut adalah untuk pemisahan proses pengolahan produk ikan teri nasi. Ikan teri nasi bermutu baik akan diolah untuk menjadi produk chirimen dan ikan teri nasi bermutu kurang baik akan diolah menjadi produk ikan teri nasi asin. Berikut gambar adalah pemisahan mutu berdasarkan tujuan pemasaran ikan teri nasi di CV. Sumber Rejeki:

Gambar 20 Pemisahan ikan teri nasi di CV. Sumber Rejeki berdasarkan mutu

4.4.2 Penanganan bahan baku

Penanganan bahan baku ikan teri terdiri dari penanganan di atas kapal oleh nelayan, penanganan saat pendaratan dan pendistribusian serta penanganan selama proses pengolahan merupakan penentu mutu ikan teri nasi. Berikut adalah penjelasannya:

Dalam dokumen 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

Dokumen terkait