4.1. Proses Pemilihan Hukum Dalam Perkawinan Usia Dini
Secara umum kasus perkawinan usia dini yang terjadi pada masyarakat khususnya di desa Saentis. Dalam hal ini menunjukkan bahwa, hukum Negara dan hukum agama Islam kedudukannya sama dalam masyarakat itu sendiri, tidak ada perbedaan sama sekali. Hukum Negara dan hukum agama Islam erat kaitannya di dalam mengesahkan suatu perkawinan, khususnya pada perkawinan usia dini. Hanya saja dalam Islam pengesahan perkawinan tersebut melalui Kantor Urusan Agama (KUA). Pengertian perkawinan adalah suatu bentuk ikatan hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, oleh karena itu perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut hukum, agama dan kepercayaannya masing-masing. Maksudnya adalah bahwa hukum sangat berperan dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan, baik itu perkawinan dilihat dari segi kitab-kitab suci agamanya dan keyakinannya masing-masing. Namun perkawinan dapat dilihat dalam kesatuan-kesatuan masyarakat, melalui ketentuan Undang-Undang yang berlaku secara umum. Suatu perkawinan tidak akan sah jika perkawinan tersebut tidak disahkan berdasarkan pilihan hukum Negara, hukum Agama dan hukum Adat yang berlaku pada masyarakat itu sendiri, yang disebut dengan “Pluralisme Hukum”.
Perkawinan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah perkawinan usia dini, dimana perkawinan usia dini sering terjadi di dalam kehidupan masyarakat, khususnya di desa Saentis ini. Namun perkawinan usia dini tidak hanya terjadi
pada masyarakat yang tinggal di desa -desa saja, di kota secara umum perkawinan usia dini juga sering terjadi. Dalam pengamatan penulis sebelumnya, di desa Saentis masih ditemukannya masyarakat yang melakukan perkawinan usia dini. Penulis menemukan bahwa perkawinan usia dini yang terjadi, hanya pada suku bangsa Jawa dan beragama Islam. Mengapa penulis hanya menemukan suku bangsa Jawa, karena di desa Saentis ini khususnya hampir mayoritas bersuku bangsa Jawa. Walaupun terdapat suku-suku bangsa lainnya, namun jumlah mereka tidak sebanyak orang Jawa pada umumnya. Menurut Bapak Dedi (45 tahun) ada tiga (3) hal yang menyebabkan terjadinya perkawinan usia dini khusunya di Desa Saentis.
1. Kebanyakan para remaja yang masih usia muda, telah hamil diluar nikah. Untuk menutup aib tersebut mau tidak mau keterterpaksaan orang tua menikahkan anaknya di usia muda. Namun untuk saat ini menurut beliau perkawinan usia dini yang sering terjadi adalah dikarenakan hamil diluar nikah.
2. Menikahkan dalam keadaan terpaksa, menurut beliau memang tidak terjadi kehamilan terhadap si perempuan. Keterpaksaan orang tua menikahkan anaknya, karena seorang anak laki-laki tersebut dalam berkunjung ke rumah si perempuan hampir setiap hari, dan terkadang seorang anak laki- laki tersebut keseringan tidur atau menginap dirumah si perempuan. Begitu juga dengan terkadang si perempuan tersebut sering menginap di rumah si anak laki-laki, layaknya mereka seperti pasangan suami istri. Oleh karena itu prasangka atau pandangan masyarakat setempat terhadap mereka maupun keluarga, selalu menilai mereka dari sisi negatif. Dari
pada orang tua si perempuan menanggung malu dari masyarakat setempat, mereka-pun akhirnya dinikahkan secara paksa, namun apapun ceritannya mereka dinikahkan untuk menutupi rasa malu keluarga. Memang hanya sebagian kecil masyarakat saja yang melakukan hal tersebut.
3. Ekonomi keluarga yang tidak mampu, misalnya saja ada satu keluarga yang jumlah keluarganya maksimal 7 orang dan sedangkan pekerjaan kedua orang tuanya sehari-harinya adalah buruh bangunan dan buruh cuci. Keterpakasaan orang tua adalah menikahkan anaknya agar mengurangi beban ekonomi keluarga. Oleh karena itu tidak perlu heran jika kita melihat latar belakang pendidikan masyarakat yang melakukan perkawinan usia dini adalah tamatan SD dan SMP adapun SMA, tetapi tidak menamatkan sekolahnya secara penuh dengan kata lain sekolahnya gatung, dikarenakan hamil diluar nikah.
Menurut Bapak Dedi bahwa sebenarnya menikah di usia dini itu tidak ada salahnya. Mengapa demikian beliau mengatakan seperti itu, karena menurut pandangan agama Islam khususnya menyebutkan bahwa seorang perempuan yang sudah mendapatkan haid (datang bulan), si perempuan tersebut sudah layak untuk menikah. Begitu juga bagi seorang anak laki-laki ukurannya hanya dilihat dari perubahan suara, bangun tubuh, sudah mengeluarkan air mani atau sudah mempunyai nafsu seks, maka seorang anak laki-laki tersebut dapt menikah. Namun dalam hukum Negara melalui ketentuan Undang-Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, bahwa perkawinan itu tidak sah secara hukum Negara pada umumnya. Suatu perkawinan sah apabila sudah melewati beberapa proses yang
harus dilaksanakan, berdasarkan hukum Negara melalui Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.
Banyak masyarakat menganggap bahwa perkawinan usia dini yang terjadi khususnya di desa Saentis, merupakan hal yang biasa-biasa saja dan sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Akan tetapi ada juga beberapa masyarakat yang memandang dan beranggapan bahwa perkawinan usia dini itu salah, jika dilihat dari segi psikologi, kesehatan reproduksi, ekonomi dan kesiapan untuk menjadi orang tua. Namun jika terjadi menikah di usia dini pada remaja khususnya, kedua orang tua mereka tetap mendampingi dan tidak melepas si anak. Justru si anak diberikan sebuah bekal oleh orang tuannya untuk menjadi orang tua yang baik dalam berumah tangga, sampai pada akhirnya mereka akan paham dengan peran dan fungsi sebagai orang tua sebenarnya. Jika dilepaskan begitu saja maka akan timbul sifat kekanak-kanakan dan sifat manja mereka masing-masing, dan bahkan lebih kepada tingkat perceraian.
Namun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Saentis, mengaitkan perkawinan usia dini itu sangat indentik dengan kecelakaan/kecolongan, jika terjadi hamil diluar nikah pada seorang perempuan. Masyarakat Jawa di desa Saentis umumnya dalam mensahkan perkawinan usia dini, mereka akan dihadapkan pada beberapa pilihan-pilihan hukum yang bersifat mengikat, dan dianggap dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya. Apabila perkawinan usia dini terjadi, maka mereka akan memilih hukum yang tidak begitu rumit untuk dijalani. Namun ada beberapa syarat-syarat dan prosedur yang mereka harus lengkapi/lampirkan di dalam mengajukan suatu perkawinan. Syarat tersebut di dapat dari Kantor Desa Saentis dan juga dari Kantor Urusan Agama (KUA).
Agar bagi mereka yang menikah usia muda dapat melangsungkan perkawinan yang sah, melalui bukti akte nikah dan buku nikah. Berikut surat-surat yang harus dilengkapi sebagai salah satu syarat dalam mensahkan perkawinan.
1. Model N – 1 : Surat Keterangan Untuk Menikah
2. Model N – 2 : Surat Keterangan Asal Usul Kedua Keluarga Calon Mempelai
3. Model N – 4 : Surat Keterangan Tentang Kedua Keluarga Orang Tua Calon Mempelai
4. Model N – 3 : Surat Persetujuan Kedua Calon Mempelai
5. Model N – 5 : Surat Izin Dari Orang Tua Calon Mempelai Jika Diperlukan
6. Model N – 7 : Surat Penghantar Dari Calon Mempelai Kepegawaian Pencatat Nikah
7. NB : Daftar Pemeriksaan Nikah Dari Kantor Urusan Agama (KUA)
8. Model N – C : Pengumuman Kehendak Menikah dari Kedua Keluarga Orang Tua Calon Mempelai
Jika salah-satu syarat tersebut tidak terpenuhi atau tidak lengkap, maka perkawinan itu tidak sah secara hukum dan dianggap cacat hukum karena tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan. Apabila perkawinan dilaksanakan dibawah tangan keluarga dan tidak diketahui oleh pihak petugas Kantor Desa Saentis setempat, ataupun tidak diketahui oleh petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA), maka perkawinan itu juga dianggap tidak sah \karena tidak memiliki bukti perkawinan.
4.2. Pengesahan Perkawinan Usia Dini Berdasarkan Hukum Negara
Dalam Undang-Undang perkawinan menyebutkan bahwa, untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapatkan izin orang tua. Jika tidak memiliki izin dari orang tua tersebut, maka perkawinan seorang yang belum mencapai usia menurut Undang-Undang perkawinan itu tidak sah secara hukum. Undang-Undang hanya membolehkan perkawinan, apabila seorang anak laki-laki telah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Begitu juga dengan seorang perempuan, apabila telah berusia 16 (enam belas) tahun. Sebelumnya Undang-Undang perkawinan hanya membolehkan seorang anak laki-laki telah berusian 25 (dua puluh lima tahun), sedangkan bagi seorang wanita harus sudah berusia 22 tahu. Karena dianggap sudah dewasa dalam berpikir dan usia yang matang dalam bereproduksi.
Namun kenyataannya tidak semua orang Jawa yang ada di Desa Saentis ini khususnya, mengetahui tentang syarat-syarat dan batas-batas perkawinan yang terdapat dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974. bukan karena masyarakat mengabaikan Undang-Undang tersebut akan tetapi, kurangnya sosialisasi dari instansi Pemerintah yang terkait ataupun dari Kantor Urusan Agama (KUA) dalam menyampaikan Undang-Undang perkawinan secara umum. Maka tidak perlu heran jika di desa Saentis ini masih terdapat masyarakat yang melakukan perkawinan usia dini, perkawinan yang terjadi pada usia 14 tahun hingga sampai pada usia 15 tahun. Penyebab terjadinya perkawinan usia dini itu dikarenakan seorang perempuan tersebut telah hamil diluar nikah, kurangnya kontrol sosial orang tua terhadap anak-anaknya dapat menyebabkan si anak berprilaku bebas tanpa ada aturan yang ketat dari kedua orang tuanya. Kemudian sampai kepada
masalah ekonomi keluarga, sehingga menyebabkan si anak tersebut dinikahkan agar biaya tanggungan dari keluarga semakin berkurang.
Akan tetapi dalam pengesahan perkawinan usia dini yang dilakukan oleh masyarakat di desa Saentis khususnya, juga sadar akan hukum yang berlaku. Karena dimana mereka selalu mendaftarkan perkawinan usia dini mereka melalui lembaga agama, agar mendapatkan pengesahan secara resmi dari melalui bukti akte perkawinan dan buku nikah. Dengan demikian berbagai surat pengantar dari Kepala Dusun mereka bertempat tinggal, hingga sampai ke Kantor Desa Saentis, agar data-data permohonan menikah mereka di proses dengan baik. Selanjutnya data mereka akan di proses di Kantor Urusan Agama (KUA), agar perkawinan usia dini mereka disahkan oleh “Tuan Kadhi”/Petugas Pegawai Pencatat Nikah. Mengapa demikian setiap perkawinan maupun perkawian usia dini selalu berkaitan dengan hukum, agar di dalam kehidupan masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara, bagi mereka yang telah menikah harus mendapatkan pengakuan dari Negara umumnya.
Walaupun mereka yang telah melakukan perkawinan usia dini sadar dan patuh dengan hukum, akan tetapi tingkat kesadaran dan kejujuran pada masyarakat di desa Saentis khususnya sangat minim. Misalnya saja pada saat penulis ingin mencari informasi tentang adanya beberapa masyarakat yang telah melaksanakan perkawinan usia dini, disebabkan telah hamil diluar nikah. Kebanyakan mereka yang usianya masih terlalu muda memilih untuk menambahi usianya, dan selalu memalsukan semua data tetang perkawinannya. Tujuannya adalah agar mudah mendapatkan akte nikah dan buku nikah, yang paling terpenting adalah bahwa perkawinan mereka tercatat di Kantor Urusan Agama
(KUA). Serta perkawinan mereka mendapatkan pengakuan/pengesahan resmi dari Negara umumnya. Ada yang berangapan bahwa, apabila usia tidak ditambahi maka akan sangat sulit untuk mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak yang berwenang. Apalagi dalam mendapatkan akte nikah dan buku nikah, oleh karena itu jalan satu-satunya adalah memilih menambahi usia.
4.3. Pengesahan Perkawinan Usia Dini Berdasarkan Hukum Agama Islam
Perkawinan dalam Islam merupakan bentuk integrasi atau inkulturasi dengan perkawinan dalam tradisi-tradisi lokal. Salah satu elemen penting dalam proses perkawinan adalah taklik talak. Dalam hal ini bagaimana bentuk institusi dari taklik talak ini, membuktikan adanya percampuran elemen-elemen yang di derivasikan dari hukum adat dan Islam. Walapun pengaruh hukum islam dalam hal ini bersifat dominan, namun peran hukum adat dalam rangka menjadikan taklik talak sebagai alat yang efektif bagi wanita untuk mengakhiri ikatan perkawinannya tampak jelas. Demikian pula dalam hukum Islam, perceraian dapat terjadi atas dasar terpenuhinya beberapa syarat tertentu (Lukito, 1998: 79-80, lihat juga Syaltut, 1988). Dengan demikian, ajaran Islam merupakan ajaran yang sangat elastis terhadap perkembangan kebudayaan lokal, hal ini dibuktikan dalam bentuk akomodasi dengan tradisi-tradisi lokal yang cukup prevalen dan sejauh tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
Pada pembahasan ini pengertian perkawinan antara hukum Negara umumnya dengan hukum Islam khusunya, memiliki kedudukan yang sama dalam mensahkan sebuah perkawinan pada masyarakat itu sendiri. Tidak membedakan cara pandang dari kedua hukum tersebut, misalnya saja pengertian perkawinan
menurut hukum Negara adalah merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita, sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Begitu juga dengan hukum Islam menjelaskan bahwa perkawinan yaitu, akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan sebuah ibadah. Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1), yang tercantum dalam Kompilasi Huku m Islam.
Telah dijelaskan di atas bahwa hukum Negara dan hukum Islam memiliki kedudukan yang sama, di dalam mensahkan suatu perkawinan pada masyarakat itu sendiri. Hanya saja perbedaan itu terletak pada tatacara pengesahan perkawinannya. Dalam pembahasan ini pengertian perkawinan usia dini umumnya hukum Negara hanya menjelaskan batas-batas usia perkawinan. Namun tidak pada bagaimana cara pencegahan jika terjadi perkawinan usia dini pada masyarakat khususnya di desa Saentis, misalnya saja dalam Undang-Undang Negara menjelaskan bahwa, perkawinan hanya di izinkan apabila seorang anak laki-laki telah berusia 19 (sembilan belas) tahun, dan jika seorang perempuan itu telah mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Apabila untuk melangsungkan perkawinan bagi seorang yang belum mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun, seorang tersebut harus mendapatkan izin menikah dari orang tuanya. Undang- Undang tersebut seolah-olah memberikan peluang bagi masyarakat khususnya, untuk menikah usia muda. Karena Undang-Undang tersebut bersifat tidak
mengikat, sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam pada BAB VIII Pasal 53 memberikan solusi pada mereka yang ingin menikah di usia muda. Dalam pasal tersebut, misalnya saja jika seorang perempuan hamil di luar nikah, maka solusinya adalah dapat di kawinkan dengan laki-laki yang telah menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut di atas perkawinan dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya, dengan di langsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Hukum Negara melalui Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, dan hukum Islam melalui Kompilasi Hukum Islam. Secara umum di lihat tidak berfungsi pada masyarakat itu sendiri, terlihat jelas bagaimana penjelasan di atas mengungkapkan bahwa tidak ada pencegahan terhadap perkawinan usia dini. Undang-Undang tersebut hanya menjelaskan bagaimana batasan-batasan perkawinan umumnya, memberikan peluang bagi orang yang ingin menikah usia muda. Hukum yang dimaksud di atas sangat meringankan bagi masyarakat khususnya. Tidak perlu heran jika di dalam masyarakat khususnya di Desa Saentis ini, masih terdapat masyarakat yang melakukan perkawinan usia dini, namun terjadinya perkawinan usia dini itu disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam mensosialisasikan Undang-Undang perkawinan.
Menurut 21
21
Wawancara Penulis Dengan Bapak Drs. Bahrum Nasution, Kepala Kantor Urusan Agama, Kec.
Bapak Bahrum (59 tahun) hukum Islam secara umum meliputi lima (5) prinsip yaitu, perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal, dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan. Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri
menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui suatu perkawinan yang sah. Seandainya agama tidak mensyari’atkan perkawinan, maka geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur tidak jelas. Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai perkawinan usia dini, perkawinan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-Undang perkawinan, namun secara hukum Negara perkawinan tidak sah, istilah perkawinan usa dini menurut hukum Negara dibatasi dengan usia. Sementara dalam kaca mata Agama Islam khususnya, bahwa perkawinan usia dini ialah perkawinan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. Dalam Islam sendiri juga tidak melarang perkawinan usia dini, Islam menjelaskan jika seorang perempuan sudah mendapatkan masa haid (datang bulan). Begitu juga sebaliknya bagi seorang anak laki-laki ukurannya hanya dilihat dari perubahan suara, bangun tubuh, sudah mengeluarkan air mani atau sudah mempunyai nafsu seks, maka orang tersebut dapat melakukan sebuah perkawinan dan perkawinan usia dini sah-sah saja bila dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dalam syari’at Islam.
Pada perkawinan usia dini masyarakat di desa Saentis khususnya, dalam mensahkan perkawinan mereka melalui jalur hukum agama Islam. Karena menurut pendapat masyarakat hukum agama Islam tidak begitu memberatkan bagi orang yang melakukan perkawinan usia dini. Hanya saja dalam hukum agama Islam tersebut memberikan konsekuensi dan solusi bagi orang yang melakukannya. Dibandingkan dengan hukum Negara menurut masyarakat, hukum Negara terlalu memberatkan bagi orang yang melakukan perkawinan usia dini. Apabila tidak memenuhi syarat dan ketentuan menurut Undang-Undang
perkawinan. Maka perkawinan itu tidak sah secara hukum Negara, dan akan sulit mendapatkan akta nikah serta buku nikah yang di inginkannya. Suatu perkawinan harus disahkan secara bersamaan demi kepentingan dimasa yang akan datang.
4.4. Pengesahan Perkawinan Usia Dini Berdasarkan Hukum Adat
Masyarakat Jawa yang ada di desa Saentis khususnya dalam masalah hukum adat, dalam pengesahan perkawinan usia dini tidak lagi berdasarkan pada
bibit, bebet dan bobot. Hukum adat tidak begitu berpengaruh terhadap orang yang
melakukan perkawinan usia dini, karena hukum Islam secara umum sangat bertentangan dengan hukum adat khususnya. Hukum adat hanya diperlukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Hukum adat pada umumnya tidak mengatur tentang batas usia seseorang untuk melaksanakan perkawinan. Hadikusuma (1990:53) menjelaskan bahwa kedewasaan seseorang di dalam hukum adat diukur dengan tanda-tanda dari tubuh. Bagi seorang perempuan dikatakan sudah dewasa apabila sudah haid (datang bulan), dan buah dada sudah membesar. Begitu juga dengan seorang anak laki-laki ukurannya hanya dilihat dari perubahan suara, bangun tubuh, sudah mengeluarkan air mani atau sudah mempunyai nafsu seks. Maka dari itu Geertz (1985:59) juga berpendapat tentang perkawinan keluarga tradisional, bahwa kebanyakan gadis Jawa telah kawin, setidaknya untuk waktu yang singkat pada saat kira-kira berusia 16 atau 17 tahun. Adapun anak laki-laki biasanya tidak menikah sampai sesudah benar-benar dewasa dan dapat menyangga keluarga dengan layak. Usia beraneka rupa, tetapi biasanya antara 18 dan 30 tahun, dalam masyarakat setiap bangsa, ditemui suatu
penilaian yang umum ialah bahwa yang berkeluarga atau pernah berkeluarga mempunyai kedudukan yang lebih dihargai dari mereka yang tidak kawin.
Begitu juga dengan sebaliknya hukum adat pada umumnya di Indonesia, perkawinan itu bukan saja merupakan perikatan adat melainkan juga perikatan kekerabatan dan bersifat ketetanggaan. Dapat dikatakan bahwa menurut hukum adat, maka perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat, urusan derajat, dan urusan pribadi, satu sama lain dalam hubungannya yang sangat berbeda-beda. Namun meskipun urusan keluarga, urusan kerabat dan urusan persekutuan, perkawinan itu tetap merupakan urusan hidup pribadi dari pihak-pihak induvidu yang kebetulan tersangkut didalamnya.
Tiap-tiap suku bangsa memiliki konsep dan aturan mengenai perkawinan yang berbeda atau sama lainnya, seperti mengenai pengaturan pembatasan jodoh, mahar, tata upacara, dan sebagainya. Di kalangan masyarakat yang masih kuat prinsip kekerabatannya yang berdasarkan ikatan keturunan, maka perkawinan merupakan suatu nilai yang hidup untuk dapat menurunkan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Selain suatu perkawinan juga merupakan sarana untuk memperbaiki hubungan kekerabatan yang telah menjauh atau retak, dan juga merupakan arena pendekatan dan perdamaian kerabat. Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian perkawinan menurut hukum adat adalah suatu nilai hidup untuk dapat meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah guna membangun membina yang sebelumnya telah menjauh dan retak. Sistem perkawinan menurut hukum itu dipengaruhi oleh sistem kekerabatannya. Dalam berbagai daerah di Indonesia, akibat-akibat hukum berkaitan dengan kekerabatan tidak sama tergantung pada sistem kekerabatan
yang dianut oleh daerah dengan bersangkutan. Sistem kekerabatan ini merupakan faktor yang sangat penting bagi ketentuan perkawinan dan masalah pewarisan hukum adat.
4.5. Kasus Perkawinan Usia Dini Pada Keluarga Bapak Lim Tjek Tjeng dan Ibu Bayu Agustini.
Kasus perkawinan usia terjadi pada keluarga Bapak Lim Tjek Tjeng (52 tahun) dan Ibu Bayu Agustini (38 tahun). Saat penulis mewawancarai Bapak Lim Tjek Tjeng, beliau mengakui bahwa putrinya bernama Wiliyana yang pada saat itu masih berumur 15 tahun pada tahun 2010 yang lalu telah menikah. Sebelumnya beliau tidak mengetahui apakah perkawinan yang terjadi pada putrinya itu adalah perkawinan usia dini, beliau hanya mengetahui bahwa apabila putrinya sudah