• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pengolahan Inti Sawit 1. Pemisahan Biji Dan Ampas 1.Pemisahan Biji Dan Ampas

a. Tujuan

Tujuan pemisahan biji dan ampas adalah untuk memperoleh biji/nut yang bersih dari gumpalan ampas/serabut.

b. Dasar Teori

cara yang umum digunakan untuk memisahkan biji dengan serabut kelapa sawit yaitu cara pneumatis dan mekanis. Pemisahan dengan cara pneumatis yaitu memisahkan biji dari serabut dengan menggunakan tarikan atau hisapan udara pada sebuah kolom pemisah. Gumpalan ampas dipecah dengan cake breaker conveyor lalu dijatuhkan dibagian sampingatas kolom pemisah. Sementara dari bagian tengah atas, diberi hisapan udara yang berasal dari fan. Pemisahan terjadi adanya perbedaan berat antara dua jenis bahan yang hendak dipisahkan (Biji dan Serabut). Bahan yang lebih ringan (Serabut) akan tertarik ke atas sedangkan biji akan jatuh ke bawah. Biji yang jatuh kebawah langsung masuk ke nut polishing drum (Trommol Pembersih Biji) untuk membersihkan sisa-sisa serabut yang masih menempel pada biji. Selanjutnya , biji yang telah bersih ditampung dan dibersihkan nut silo (Pahan, 2008).

c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan pada proses ini yaitu CBC (Cake Breaker Conveyor), Cyclone Fan, Depericarper, Nut Polishing Drum, Wet Nut Conveyor, dan Fiber Cyclon, Nut Cyclone. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu ampas press dan nut.

d. Prosedur Kerja

1. Ampas press yang telah selesai di press akan jatuh di CBC dengan

tujuan agar dapat mencacah ampas yang berbentuk gumpalan sehinnga pada saat pemisahan akan lebih mudah.

2. Kemudian ampas tersebut masuk ke dalam kolom pemisah/

depericarper untuk dipisahkan berdasarkan berat.

3. Pada saat ampas masuk dalam depricarper terjadi pemisahan yang mengunakan sistem pneumetis (Pemisahan Menggunakan Hisapan Udara) antara nut dan fiber. Benda yang lebih berat berat (Nut dan Batu) akan jatuh kebawah dan masuk ke dalam polishing drum sedangkan benda yang ringan akan terhisap menuju ke fiber cyclone untuk dijadikan bahan bakar boiler.

4. Nut yang masuk ke dalam polishing drum yang berputar dengan putaran 21 rpm akan dibersihkan dengan adanya gaya gesekan di dinding polishing drum dan bantingan mengakibatkan serabut yang masih melekat pada nut akan terpisah.

5. Di pinggiran depan polishing drum terdapat lubang-lubang yang berfungsi sebagai tempat jatuhnya nut ke wet nut conveyor setelah pemisahan serabut yang melekat pada nut.

6. Nut yang jatuh ke wet nut conveyor akan di kirim ke nut cyclone melalui pipa ducting untuk dipisahkan antara nut dan batu. Di dalam pipa ducting ini juga menggunakan pemisahan dengan sistem pneumatik.

7. Benda yang berat (Batu) akan jatuh dilantai sedangkan benda yang ringan (Nut) akan di kirim ke nut polishing drum.

e. Hasil Yang Dicapai

Hasil yang dicapai berupa nut yang masih tergumpal dengan fiber dari proses pengepresan dapat terpisah dengan mengguanakan alat cake breaked conveyor, fiber cyclone dan polishing drum.

f. Pembahasan

Nut yang masih menggumpal dengan fiber di pisahkan dengan 3 tahap yaitu menggunakan cake breaked conveyor dengan cara di cacah selama berada di cake breaked conveyor, tahap yang ke 2 pemisahan dengan cara berat jenis dengan menggunakan alat fiber cyclone dan tahap ke 3 yaitu dengan cara nut masuk ke dalam kisi-kisi yang berada dalam polishing drum sehingga fiber yang tidak terpisah di tahap 1 dan 2 dapat di pisahkan pada tahap ke 3.

2. Seleksi Dan Pemeraman a. Tujuan

Agar nut lebih mudah dipecah saat di ripple mill dan mengurangi kemungkinan terjadinya broken pada kernel.

b. Dasar Teori

Menurut Setyamidjaja (1991), biji dari alat pembuang daging buah (Depericarper) diangkut ke silo dan dikeringkan di sini. Biji-biji yang kering ini, intinya mengkerut dan mudah dilepaskan dari cangkang atau tempurungnya.

c. Alat Dan Bahan

Alat yang di gunakan dalam proses ini adalah Polishing Drum, Wet Pipa Ducting, Nut Cyclone, Air Lock, dan Nut Silo. Sedangkan bahan yang di gunakan dalam proses ini adalah Nut.

d. Prosedur Kerja

1. Nut dari polishing drum akan masuk ke dalam wet nut conveyor dan masuk lagi ke dalam pipa ducting untuk dipisahkan dengan kotoran berat yang terikut (Batu, Besi, Paku, Dll), kemudian nut akan terisap keatas.

2. Lalu nut akan masuk ke dalam nut cyclone dan keluar melalui air lock menuju nut grading drum untuk di seleksi.

3. Nut yang masuk kedalam nut grading drum di seleksi berdasarkan

4. Nut yang telah di seleksi akan masuk ke dalam nut silo. Pada nut sil, nut di peram dengan suhu ± 60oC agar lebih mudah dipecah di ripple mill.

e. Hasil Yang Dicapai

Hasil yang di capai adalah nut yang di seleksi mempermudah proses pengeringan sehingga nut yang memiliki kernel agak mengkerut akibat pengeringan mudah untuk dipecahkan pada proses brikutnya.

f. Pembahasan

Nut yang di seleksi masuk ke nut silo pada masing-masing sekap sesuai ukurannya. Pada nut silo proses pengeringan menggunakan suhu ± 60ºC di sesuaikan dengan keadaan yang berada di lapangan apa bila nut yang di dapatkan banyak maka suhu yang digunakan di tambah dan apa bila nut sedikit maka suhu yang di gunakan akan kurangi dengan alat pembantu pengatur suhu pada nut silo adalah halter. Nut silo memiliki kapasitas 48 ton.

3. Pemecahan Biji/Nut a. Tujuan

Tujuan pemecahan nut adalah untuk memisahkan inti/kernel dengan cangkangnya.

b. Dasar Teori

Biji yang telah dikeringkan akan masuk kedalam nut grading screen melalui shaking grade dan conveyor untuk di pisahkan menurut diameternya. Hasil dari pemisahan tersebut akan masuk kedalam alat pemecahan biji (Nut Cracker). Yang merupakan alat centrifuge yang memiliki rotor berputar dengan kecepatan tinggi (950-1.000 Rpm). Dalam rotor berputar, biji-biji tersebut akan terlempar kuat ke dinding craker dan pecah, sehingga inti lepas dari cangkang (Sunarko, 2009).

c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan pada proses ini adalah Vibrating Feeder, Ripple Mill, Cracked Mixture Conveyor dan Cracked Mixture Elevator. Sedangkan bahan yang digunakan adalah nut yang telah diperam.

d. Prosedur Kerja

1. Nut yang telah diperam di nut silo, kemudian nut dipecahkan di ripple mill.

2. Nut akan turun ke ripple mill melewati vibrating feeder yang berfungsi sebagi mengatur nut yang jatuh/nut yang masuk ke dalam alat riple mill.

3. Nut akan dipecahkan dalam ripple mill dengan cara digiling seakan di kupas kulitnya menggunakan rotor bar dengan putaran

900-1000 rpm ke dinding-dinding (Rotor Plate) sehingga cangkang akan mudah pecah dan mengeluarkan kernel,

4. Setelah terpecah kernel dan cangkang yang masih tercampur akan jatuh ke cracked mixture conveyor kemudian di kirim ke cracked mixture elevator untuk di proses lebih lanjut.

e. Hasil Yang Dicapai

Ripple mill menghasilkan nut yang telah dipecahkan sehingga kernel dapat tepisah seluruhnya dari cangkangnya dan mudah dipisahkan pada proses pemisahan di separator.

f. Pembahasan

Pada ripple mill kadar air biji yang rendah akan lebih mudah dipecah dan menghasilkan inti utuh namun apabila biji yang kadar airnya masih tinggi akan susah di pecah sehingga akan memperoleh kernel pecah dan nut pecah. Kapasitas ripple mill umumnya 4,000 – 8,000 kg nut setiap jam.

4. Pemisahan Inti Dan Cangkang a. Tujuan

Pemisahan inti dari cangkang bertujuan Agar mendapatkan kernel yang bersih dan Agar mengurangi kadar kotoran dari kernel sehingga mutu kernel lebih baik.

b. Dasar Teori

Ada dua sistem atau metode pemisahan kernel dan cangkang, yaitu sistem pemisahan kering dan pemisahan basah. PKS di perkebunan besar umumnya menggunakan gabungan kedua sistem pemisahan tersebut.

Pemisahan kering (Dry Separator) dilakukan dalam suatu kolom vertikal (LTDS) dengan bantuan hisapan udara dari sebuah kipas, dimana fraksi yang lebih ringan (Cangkang) akan terhisap ke bagian atas, sedangkan fraksi yang ringan akan jatuh kebawah. Untuk memperoleh kernel yang baik dengan loses yang rendah, pemisahan yang dilakukan dengan dua kolom pemisah. Setiap kolom pemisah bekerja secara dua tahap. Sedangkan pemisahan basah bias dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan sistem clay bath dan hydrocyclone. Pemisahan dengan clay bath didasari oleh perbedaan berat jenis antara kernel (BJ=1,07) dan cangkang (BJ=1,3). Campuran antara kernel dan cangkang dimasukkan kedalam cairan tanah liat (BJ=1,2) yang bebas pasir sehingga kernel akan terapung dan cangkang akan tenggelam. Prinsip pemisahan dengan hydrocyclone juga didasari oleh perbedaan berat jenis antara kernel dan cangkang. Pemisahan pada hydrocyclone dibantu dengan pusingan akibat gaya sentrifugal, sedangkan pada sistem clay bath pemisahan terjadi secara alamiah (Pahan, 2008).

c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan pada proses ini yaitu LTDS 1, 2 & 3 (Ligh Tenera Dry Sparating), Kernel Grading Drum, Kernel Conveyor, Claybath, Vibrating Screen, Shell Transport Fan, Kernel Distributing Conveyor, Dry kernel Elevator dan Shell Bin. Sedangkan bahan yang digunakan kernel yang masih tercampur dengan cangkang, kalsium carbonat dan air.

d. Prosedur Kerja

1. Cangkang dan kernel yang masih tercampur yang telah dikirim melewati cracked mixture elevator akan masuk ke dalam kolom separator (LTDS 1 & 2) biasa di sebut pemisahan cara kering. 2. Pada saat masuk ke dalam kolom separator cangkang dan kernel

yang masih tercampur akan terpisah karena adanya daya hisapan angin. Pemisahan ini terjadi karena adanya perbedaan berat sehingga mudah dipisah.

3. Benda yang lebih ringan (Cangkang) akan terhisap dan dikirim ke shell bin untuk dijadikan bahan bakar, benda yang paling berat (Kernel Utuh) akan jatuh ke dalam wet Kernel conveyor dan langsung dikirim ke kernel silo, sedangkan benda yang beratnya sedang akan masuk kedalam kernel grading drum melewati air lock.

4. Kernel grading drum ini mengatur jatuhnya kernel untuk pemisahan di kolom separator (LTDS 3). Pemisahan di LTDS 3 prinsipnya sama dengan LTDS 1 & 2 tetapi daya hisapannya LTDS 1 & 2 lebih kuat dibandingkan LTDS 3

5. Kernel dan cangkang yang masih belum terpisah akan jatuh ke dalam clay bath melewati air lock. Pemisahan ini di sebut pemisahan cara basah.

6. Pemisahan yang di claybath menggunakan perbedaan massa jenis. massa jenis yang lebih berat (Cangkang = 1.30), massa jenis beratnya sedang (Campuran Air dan Kalsium = 1.20), sedangkan massa jenis yang lebih ringan (Kernel = 1.07).

7. Massa jenis yang ringan (Kernel) keluar secara over flow dan massa jenis yang berat (Cangkang) keluar secara under flow dan jatuh ke vibrating screen, kernel dari vibrating screen di kirim ke kernel silo dan cangkang di kirim menuju shell bin untuk dijadikan bahan bakar.

e. Hasil Yang Dicapai

Hasil yang di capai adalah pada proses pemisahan kernel dan cangkang dilakukan dengan 2 cara yaitu cara kering dan cara basah. Cara kering menggunkan separator dan cara basah menggunakan clay bath. Standar kotoran pada kernel adalah 7 %.

f. Pembahasan

Pemisahan cangkang dengan kernel secara kering dilakukan berdasarkan perbedaan berat dan bentuk dari tiap fraksi. Fraksi yang ringan lebih mudah dipisahkan dibanding yang berat. Pemisahan ini di bantu dengan menggunakan alay Cm Cyclone Dan LTDS (Light Tanera Dry Sparator)

pemisahan dengan cara basah/clay bath di dasari perbedaan berat jenis kernel basah yang mempunyai berat jenis 1,07 sedangkan cangkang mempunyai berat jenis 1,30. Pemisahan ini dengan menggunakan bak yang bagian bawahnya berbentuk kerucut. Bak ini diisi air yang berat jenisnya = 1,0 kemudian ditambahkan larutan CaCo3 hingga BJ cairan = 1,20, selanjutnya campuran kernel dan cangkang dimasukkan maka kernel akan naik kepermukaan dan cangkang akan turun dibagian dasar.

5. Pengeringan Inti a. Tujuan

Tujuan pengeringan inti yaitu untuk mengurangi kadar air dalam kernel.

b. Dasar Teori

Pengeringan inti dilakukan dalam suatu alat yang di sebut kernel silo. Alat ini berfungsi mengeringkan inti yang telah terpisah dari cangkangnya menggunakan udara panas atau uap yang di

hembuskan oleh blower. Suhu di bagian atas kernel silo sekitar 40ºC, di bagian tengah 60ºC, dan di bagian bawah 80ºC. proses ini berlangsung selama 12-14 jam. Setelah pengeringan selesai. Inti yang sudah kering di turunkan menuju polishing drum penurunannya di atur oleh shaking grade. Polishing drum berfungsi membuang ampas yang masih terdapat di inti. Ampas akan terhisap ke dust cyclone. Inti yang kotor dan biji yang tidak pecah akan di kembalikan ke pemecah biji, sedangkan inti yang bersih akan masuk kedalam karung goni

(Sunarko, 2009). c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan pada proses ini yaitu Kernel Silo, Kernel Transport Fan, Dried Kernel Conveyor dan Heater Fan. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu kernel dan steam.

d. Prosedur Kerja

1. Setelah melalui proses pemisahan inti dan cangkan, kernel kemudian dikirim ke kernel silo.

2. Kernel yang masuk dalam kernel silo akan dipanaskan dengan udara panas yang dihembuskan menggunakan heater fan .

3. Kernel dalam kernel silo yang harus terisi minimal 80% dari daya

tampung kernel silo.

4. Pemanasan dilakukan selama 14-15 jam dengan temperatur 60-70°C.

5. Kernel yang telah kering dikirim ke kernel bin melewati dried kernel conveyo, belt kernel conveyor dan kernel transport fan.

e. Hasil Yang Dicapai

Pada kernel silo, kernel di keringkan dengan suhu ± 90ºC. Hasil yang diharapkan adalah kernel yang kadar airnya dari 12% menjadi 7%. Sesuai standar yang di tetapkan dari perusahaan.

f. Pembahasan

Kernel yang berasal dari hasil pemisahan system kering dan basah dimasukkan ke kernel silo untuk dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 7 %. Agar pengeringan berjalan dengan baik level kernel di kernel silo diatur stabil 80 % volume silo. Kadar air kernel yang rendah sangat penting sebelum disimpan di gudang kernel, hal ini untuk menghindari tumbuhnya jamur yang dapat menurunkan kualitas kernel. Lamanya pengeringan sekitar 15 jam dengan temperature udara pengering 70-80 oC.

6. Penyimpanan Inti a. Tujuan

Penyimpanan inti bertujuan untuk penampungan sementara produksi kernel sebelum dipasarkan.

b. Dasar Teori

Inti sawit yang ditimbun ditempat yang tidak sesuai dengan persyaratan pergudangan dapat merangsang pertumbuhan mikroba dan

menyebabkan terjadinya proses fermentasi sehingga dapat menurunkan kualitas minyak yang terkandung dalam inti sawit

(Pahan, 2008). c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan untuk penyimpanan inti yaitu Kernel Bin, Karung dan Mesin Jahit. Sedangkan bahan yang di gunakan adalah kernel yang sudah di keringkan.

d. Prosedur Kerja

1. Kernel yang telah melalui proses pengeringan akan ditampung ke

kernel bin sebelum pengemasan.

2. Kernel yang ada dalam kernel bin di masukkan dalam karung satu

per satu dengan membuka dan menutup chute kernel bin.

3. Karung diisi sebanyak kurang lebih 40 Kg kemudian di susun rapi dan di jahit dengan menggunakan mesin jahitan beras. Begitu selanjutnya secara continue.

4. Karung yang telah di jahit di beri tanda seperti tanggal pengemasan, tahun pengemasan dan nomor pengemasan.

5. Setelah dikemas karung yang berisi kernel tadi di susun rapi di atas papan dan siap untuk di pasarkan.

e. Hasil Yang Dicapai

Inti yang siap dikemas dan siap dipasarkan harus memenuhi standar dengan FFA kernel 3,5%, kadar air 7%, kernel pecah 0,15% dan kadar kotoran 6%.

f. Pembahasan

Pada peroses penyimpanan, kernel di masukan ke dalam karung dengan berat masing-masing karung yang berisi kernel adalah ± 40 Kg. kernel di simpan hingga mencapai batas jual. pada proses penjualan sistem yg di gunakan adalah sistem FIFO (Firt In Firt Out) sistem ini di gunakan agar pembeli mendapatkan mutu kernel yang bagus.

C. Pengolahan Limbah Pabrik Kelapa Sawit

Dokumen terkait