BAB II SISTEM PEWARISAN DALAM MASYARAKAT SIMALUNGUN
4. Proses Peralihan Harta Menurut Hukum Waris Adat
Sistem pewarisan adat tidak demikian rumit sebagaimana sistem pewarisan barat yang diatur di dalam KUHPerdata/BW. Dikarenakan sifat hukum adat itu sebgaian besar tidak tertulis dalam bentuk perundangan (kodifikasi), tidak terkaitnya dengan sistem peradilan yang tetap, segala sesuatunya diatur dan ditentukan berdasarkan asas kekeluargaan dengan musyawarah mufakat keluarga/kerabat, maka walaupun berlaku sistem kewarisan individual, kolektif, dan mayorat bukan berarti peawrisan itu tidak dapat berubah.
Pewarisan adat senantiasa dapat berubah mengikuti dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan para waris dan perkembangan zaman.
Sehingga pewarisan dapat saja terjadi sebelum pewaris wafat dan setelah pewaris wafat.
a. Sebelum Pewaris Meninggal Dunia 1. Penerusan atau Pengalihan
Dikala pewaris masih hidup adakalanya pewaris telah melakukan penerusan atau pengalihan kedudukan atau jabatan adat, hakdan kewajiban dan harta kekayaan kepada waris, terutama kepada anak lelaki tertua menurut garis kebapak-an, kepada anak perempuan tertua menurut garis ke-ibuan, kepada anak tertua lelaki atau anak tertua perempuan menurut garis ke-ibu-bapak-an.P3 8 F36PCara penerusan atau pengalihan harta kekayaan dari pewaris kepada waris yang sudah seharusnya berlaku menurut hukum adat setempat.
36Hilman Hadikusuma, Buku I, Op. Cit., Hlm.95
Termasuk dalam arti penerusan atau pengalihan harta kekayaan dikala pewaris masih hidup ialah diberikannya harta kekayaan tertentu sebagai dasar kebendaan untuk kelanjutan hidup kepada anak-anak yang akan kawin mendirikan rumah tangga baru. Misalnya pemberian atau dibuatkannya bangunan rumah dan pekarangan tertentu, bidang-bidang tanah ladang, kebun atau sawah, untuk anak-anak lelaki atau perempuan yang akan berumah tangga.P3 9 F37
2. Penunjukan
Apabila bagian-bagian harta peninggalan tertentu telah ditunjukkan bagi para waris yang akan mewarisi oleh pewaris ketika hidupnya, tetapi peralihan hak miliknya baru terjadi apabila pewaris wafat maka perbuatan hukum itu disebut “penunjukan”, jelasnya ‘penunjukan harta peninggalan’.P4 0F38
Pewaris yang masih hidup, maka pengurusan, pengolahan, pemanfaatan, pengambilan hasil dari harta peninggalan itu tetap masih dikuasi oleh pewaris.
Sedangkan para waris bersangkutan dapat membantu pengurusannya atau mungkin juga sudah boleh menikmati hasilnya.P4 1 F39
Baik penerusan atau penunjukan oleh pewaris kepada waris mengenai harta warisan sebelum wafatnya, tidak harus dinyatakan dengan terang dihadapan tua-tua desa, tetapi cukup dikemukakannya dihadapan para waris dan anggota keluarga atau tetangga dekat saja.
3. Pesan atau Wasiat
Adakalanya seorang pewaris karena sakitnya sudah parah dan merasa tidak ada harapan lagi untuk dapat terus hidup, atau mungkin juga karena akan
37Ibid
38Hilman Hadikusuma, Buku II, Op. Cit., Hlm. 231
39Ibid
berpergian jauh, bertransmigrasi, atau pergi naik haji, dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke ke kampung halamannya, lalu berpesan kepada anak isterinya tentang anak dan harta kekayaannya. Dengan demikian maka pesan (Jawa, weling, wekas) itu barulah berlaku setelah sipewaris ternyata tidak kembali lagi atau sudah jelas wafatnya.P4 2 F40P Jika kemudian ternyata pewaris masih hidup dan kembali ke kampung halaman ia tetap berhak untuk merubah atau mencabut pesannya tersebut.
Hal ini kebanyakan dinyatakan dengan lisan dengan kesaksian para anggota keluarga dan kalau perlu diikutsertakan perangkat desa dan tua-tua adat, agar menjadi terang dan tidak menimbulkan perselisihan di antara para waris di kemudian hari. Di Batak Karo pesan tentang ‘kelengate’ (hibah) harus disaksikan oleh para anggota kerabat anak beru-senina dan kalimbubu.P4 3F41
b. Setelah Pewaris Meninggal Dunia
Apabila seseorang wafat dengan meninggalkan harta kekayaan maka timbul persoalan apakah harta kekayaan itu akan dibagikan kepada para waris atau tidak akan dibagi-bagi. Jika harta kekayaan itu tidak dibagi-bagi maka siapa yang akan menguasi dan memiliki harta kekayaan itu dan jika ia dibagi-bagi maka siapa yang akan mendapat bagian dan bagaimana cara pembagian itu dilaksanakan.P4 4 F42
1. Penguasaan Warisan
Penguasaan atas harta warisan berlaku apabila harta warisan itu tidak dibagi-bagi, karena harta warisan itu merupakan milik bersama yang disediakan
40Ibid, Hlm. 232
41Ibid
42Hilman Hadikusuma, Buku I, Op. Cit., Hlm. 100
untuk kepentingan bersama para anggota keluarga pewaris, atau karena pembagiannya ditangguhkan.
Pewaris wafat terhadap harta warisan yang tidak dibagi atau ditangguhkan pembagiannya itu ada kemungkinan dikuasai janda, anak, anggota keluarga lainnya atau oleh tua tua adat kekerabatan. Barangsiapa menjadi penguasa atas harta warisan berarti bertanggung jawab untuk menyelesaikan segala sangkut paut hutang piutang pewaris ketika hidupnya dan pengurusan para waris yang ditinggalkan guna kelangsungan hidup para waris.
1.1 Penguasaan Orang Tua
Masa sekarang pada umumnya jika salah satu dari orang tua (pewaris) wafat, dengan meninggalkan anak-anak dan harta peninggalan, maka sebelum harta peninggalan itu diadakan pembagian bagi para ahli waris, kesemuanya dikuasi oleh ayah atau ibu yang masih hidup. Ayah yang menjadi duda atau ibu yang menjadi janda bertanggung jawab menguasi semua harta peninggalan untuk melanjutkan pemeliharaan, pendidikan, perkawinan, dan sebagainya, bagi anak-anak dan anggota keluarganya serumah tangga. Ayah atau ibu yang masih hidup itu berhak dan berkewajiban mewakili keluarganya dalam hubungan kekerabata, kemasyarakatan dan peradilan.
Selanjutnya apabila perkawinan antara pewaris ayah dan ibu bersifat campuran antara suku/adat yang berbeda, maka penguasaan harta peninggalan oleh orang tua yang masih hidup, dilihat sejauh mana pengaruh kekerabatannya, apakah menurut garis patrilinial, matrilinial ataukah parental/bilateral, dimana letak harta peninggalan itu berada dan anggota keluarga tersebut lebih banyak
bergaul, apakah di pihak ayah atau di pihak ibu ataukah berimbng sama; dan bagaimana keagamaan yang mereka anut. Disamping itu apabila sudah tidak ada anak yang sudah dewasa maka peranan anak dalam penguasaan harta peninggalan itu besar pengaruhnya.
1.2 Penguasaan anak
Apabila salah seorang dari ayah atau ibu yang masih hidup sudah tua atau sudah pikun, tidak dapat lagi menjalankan perbuatan hukum dengan baik, dan atau kedua orang tua sudah wafat semua, dan di antara anak sudah ada yang dewasa, maka dengan upacara adat atau tanpa upacara adat, menurut keadaan setempat, kesemua harta peninggalan pewaris dikuasai oleh anak, menurut susunan kekerabatan masing-masing.
1.3 Penguasaan Kerabat
Apabila pewaris ayah dan ibu sudah wafat semua, sedangkan anak-anak masih kecil, maka semua harta peninggalan dikuasai oleh paman atau bibik, saudara terdekat dari ayah atau ibu, menurut susunan kekerabatan masing-masing dengan memperhatikan pula bentuk perkawinan yang mengikat pewaris suami-isteri, dan bagaimana keadaan keluarga tersebutdalam kenyataannya
Pasda saat pewaris sampai pada wafatnya tidak mempunyai keturunan, berarti ketidakadaan waris, maka harta peninggalan dikuasi oleh kerabat terdekat dengan pewaris, dengan memperhatikan susunan kekerabatan masing-masing, termasuk kerabat besan kedua pihak.
1.4 Penguasaan Persekutuan Adat
Menjadi keadaan luarbiasa, yang sangat jarang terjadi, dikarenakan suatu keluarga punah, meninggalkan harta peninggalan tanpa waris sama sekali dan tidak ada anggota kerabat bersangkutan yang tampil sebagai waris,baik dalam hubungan pertalian darah, pertalian perkwinan atau pertalian adat, maka penguasaan dan pengurusan harta peninggalan itu diambil oleh persekutuan hukum adat yang terdekat dengan persekutuan hukum adat pewaris. Di lingkungan masyarakat dengan susunan kekerabatan patrilinial yang berhak dan berwenang adalah ‘majelis kerapatan adat’ menurut garis keturunan lelaki, seperti kerapatan raja-raja adat di tanah Batak, Kerapatan adat Ninik-Mamak di Minangkabau, Majelis prowatiun adat di Lampung, Kumpulan Tua-tua Desa di Jawa, dan lain-lain.
2. Pembagian Warisan
Seluruh Indonesia dalam berbagai susunan masyarakat adat kekerabatan (genealogis) ataupun ketetanggaan (territorial) di masa sekarang, terutama terhadap harta peninggalan yang mengenai harta pencarian dan harta bawaan yang telah menyatu menjadi harta bersama suami-isteri, bahkan di sana sini sudah juga termasuk harta pusaka dikarenakan hubungan kekerabatannya sudah lemah, nampak kecenderungan untuk melakukan pembagian harta peninggalan oleh para waris.
Pada umumnya barang-barang harta peninggalan itu tidak diperhitungkan dengan nilai uang (harganya), melainkan menurut jenis macamnya, kedudukan waris dan kebutuhannya. Di samping itu dibicarakan pula tentang lintiran, welingan, hibah-wasiat dari harta peninggalan yang sudah diberikan atau dinyatakan oleh pewaris ketika hidupnya.
Pertemuan pembagian warisan ini dapat saja terjadi bagian waris yang hidupnya dalam kecukupan memberikan bagiannya kepada waris yang kekurangan. Begitu pula antara waris yang satu dan yang lain terjadi jual beli kekurangan atas bagian harta peninggalan, atau pertukaran, tukar-tambah, dan sebagainya.
3. Penangguhan Pembagian
Ada kemungkinan terjadi penangguhan pembagian harta peninggalan para waris, atau di antara para waris, dikarenakan sebagai berikut:
a. Semua atau sebagian harta peninggalan masih tetap dikuasi oleh orang tua (duda/janda) yang masih hidup, sehingga pembagian harta peninggalan ditangguhkan pembagiannya sampai duda/janda itu wafat, b. Kesatuan harta masih perlu dipertahankan untuk pemeliharaan para
waris yang belum dewasa atau di antara waris dalam keadaan belum mampu untuk melakukan perbuatan hukum (kesehatannya terganggu, dan sebagainya),
c. Wujud, sifat dan fungsi bendanya belum dapat dilakukan pembagian untuk mempertahankan kehormatan keluarga bersangkutan (harta pusaka tinggi).
d. Harta peninggalannya terlalu kecil (sedikit) sedangkan para warisnya banyak, sehingga dititipkan saja kepada waris atau anggota keluarganya yang menguasi,
e. Karena adanya weling atau wasiat dari pewaris,
f. Karena di antara waris belum hadir dalam pertemuan yang diadakan para waris dan belum diketahui alamatnya, sehingga bagiannya dijadikan
‘gantungan’ yang dititipkan kepada salah seorang waris, g. Karena kesepakataan bersama para waris.
4. Penyelesaian Perselisihan
Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang berpandangan hidup Pancasila, yang kunci dasarnya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. ‘Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29(1) UUD. 1945’. Kaidah konstitusional yang bersifat keagamaan ini menjiwai hati nurani rakyat yang hidup dalam berbagai golongan dan susunan masyarakat adat yang menganut agamanya yang berbeda-beda (Hindu/Budha, Kristen/Katolik, Islam), bahkan banyak juga yang menganut berbagai aliran kepercayaan.
Oleh karena hakikat hidupnya beragama, percaya kepada Tuhan Yang Maha pencipta, maka apabila pewaris wafat tidak suka atau tidak menghendaki terjadi silang selisih dan berebut harta peninggalan, agar tidak memberatkan perjalanan arwah pewaris di alam baka. Untuk itu maka dalam hal pewarisan, para waris saling bertenggang rasa, menjaga diri dan menahan nafsu, agar tetap dapat menjaga kerukunan hidup kekeluargaan mereka.
Terjadinya perselisihan dalam pembagian harta peninggalan dimasa sekarang, dimana pengaruh kepala-kepala adat dan peradilan adat sudah kian menurun, maka jalan penyelesaiannya adalah sebagai berikut;
a. Diselesaikan diantara para waris bersangkutan sendiri dengan mengadakan pertemuan (musyawarah) keluarga dibawah pimpinan pewaris yang masih hidup atau dipimpin anak tertua (lelaki), atau salah seorang diantara waris yang berwibawa dan bijaksana dari pihak ayah ataupun pihak ibu.
b. Apabila tidak tercapai kesepakatan diantara para waris mengenai hal yang diperselisihkan, maka pembicaraan ditangguhkan untuk beberapa waktu, untuk memberikan kesempatan para pihak berkonsultasi dan berkompromi diantara anggota waris yang satu dan yang lain, secara langsung atau dengan perantara.
c. Dalam pertemuan berikutnya diberikan kemungkinan adanyacampur tangan pihak tua-tua kerabat/adat dan anggota keluarga yang berpengaruh sebagai penengah guna mencari jalan keluar dari perbedaan pendapat sehingga menemukan titik temu yang disepakati bersama.
d. Apabila juga tidak tercapai kesepakatan dengan rukun dan damai di antara para pihak, barulah perkaranya dengan terpaksa diajukan kepada pengadilan negara (pengadilan negeri atau pengadilan agama) untuk diputuskan oleh Hakim resmi. Usaha yang terakhir ini pada sebagian masyarakat merupakan perbuatan yang tercela, karena dapat berakibat pecahnya kerukunan hidup kekeluargaan.