• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Hula-hula na Parboru

4.2. Proses Pernikahan Adat Batak

4.2.2 Proses Pernikahan Adat

1. Panyambutan

Setelah proses pemberkatan di Gereja, pengantin dan keluarga besar menuju Ruma Gorga Manampu Tua untuk menjalankan adat selanjutnya. Pada pernikahan ini pengantin hadir pada pukul 11.00 WIB pada umumnya pesta adat dimulai pada pukul 13.00 WIB. Pernikahan adat kini dilakukan di Gorga atau gedung, (Opung Michelle, Senin 13 Juni 2016)

“Kalau sekarang sudah di gorga atau gedung atau ada juga yang di gereja melaksanakan acara adat tersebut. Kalau dulu itu dilaksanakan di lapang terbuka.”

Pesta adat dimulai dengan acara penyambutan, yaitu keluarga pria menyambut kedatangan keluarga memepelai wanita. Kedua Raja Parhata dari Nainggolan dan Siburian berdau sajak, sajak tersebut merupakan sajak yang telah ditetapkan dari para leluhur, hal ini menandakan acara pernikahan adat dimulai. (Opung Michelle, Senin 13 Juni 2016)

Raja Pahata Ni Parboru:

“Dihamu tutur nami, tondong nami, amang boru nami, parjolo tapasahat maliate tu: amanta Debata pardenggan basa, ala hipas do hamu na ro, suang songoni do nang do ro tutur tu bagas ni tondongna, alai huida hami, torop do hamu marnatampak rap dohotambor/iboto nami. Mansai las roha nami manjalo haroro muna, alai manungkun roha, barita aha do ulaning diharoro muna on Amang boru, ai gok do tanan muna mamoan silua. Ima

jolo hata nami, asa maralus ma hamu amang boru” .

Hal tersebut dimaksudkan untuk menyambut yang hadir dan meminta segenap keluarga meminta berkat dari Tuhan dan berterima kasih karena telah menyambut keluarga parboru dan menerima dengan baik.

Kemudian, pihak Raja Parhata dari paranak menjawab:

“Ido tutu Rajanami, sungkun do mula ni hata, nuna manungkun

Rajai di haroro ami tu bagasta na marampang na majualon. Rajanami/tulang, dipoda ni molo lao ho amang tu abu ni Tulangmu, sotung mangembal ho amang, ingkon do boanonmu sipalas roha ni Tulang dohot Nantulangmu. Ia hami Rajanami, pamoruan muna do jala bere muna, sian marga Nainggolan. Posma roha muna Rajanami barita na denggan jala las ni roha

do na. Huharohon hami ditingkion. Ido Rajanami”.

Maksudnya adalah kembali mengucapkan terima kasih, bahwa dengan ini berarti kalau lah anak perempuannya sudah menjadi bagian dari keluarga mempelai pria.

Gambar 4.2. Panyambutan

Pada acara penyambutan atau dalam bahasa Batak disebut panyambutan ini, dimulai dengan laki-laki tertua dari keluarga mempelai wanita sambil menari tortor, kemudian diikuti oleh para wanita dimulai dari tertua juga dari keluarga mempelai wanita dengan membawa boras (beras) di dalam tando (tempat menyimpan beras) yang diletakan di kepala mereka hal ini disebut dengan marjunjung boras atau menjunjung beras. Acara penyambutan ini diiringi oleh musik khas Batak yang disebut dengan gondang panyambutan. Setelah proses penyambutan dari keluarga pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Kemudian keduanya menyambut para kerabat dan tamu undangan.

Proses panyembutan telah selesai pasangan pengantin, keluarga dan para tamu undangan telah duduk ditempatnya masing-masing. Pada acara pernikahan ini, keluarga dari parboru dan paranak duduk di kubu terpisah. Mempelai wanita duduk dengan kubu paranak menandakan mempelai wanita sudah menjadi bagian dari mempelai laki-laki dan milik keluarga paranak.

Kemudian setelah itu, mempelai dan keluarga serta para kerabat dan tamu undangan memulai acara akan bersama dengan syarat: pihak pengantin pria menyerahkan daging kerbau, atau sapi, atau daging babi. Untuk pasangan pengantin yang beagama muslim biasanya menggunakan kerbau, sapi, atau kambing.

Daging itu kemudian diberikan kepada pihak perempuan, dan pihak perempuan membalasnya dengan dekke atau memberikan ikan mas kepada keluarga pihak laki-laki. Hal ini dengan catatan, daging yang diserahkan itu disesuaikan dengan kemampuan keluarga paranak. Adapun simbol yang tedapat dalam pertukaran daging dan ikan ini adalah, daging sebagai lambang kesenangan dan kemakmuran merupakan sebuah janji dari pihak paranak untuk memberikan kebahagiaan dan kemakmuran serta sebagai penanda bahwa disenangkanlah pengantin perempuan dengan seluruh keluarganya agar tenang hatinya bahwa anak perempuannya kini menjadi bagian dari paranak. Hal ini nanti kemudian akan dijabarkan pada deskripsi mengenai jambar. Sedangkan pemberian ikan mewujudkan gotong royong dalam turut mensukseskan acara dan memiliki makna saling memberi

atau adanya take and give.

4.3. Gambar Makan Bersama Seluruh Keluarga dan Kerabat

Selesai makan bersama, kemudian keluarga pengantin pria memberikan uang kepada keluarga parboru yang disebut dengan panadaion, yaitu semua keturunan pihak perempuan mulai dari nenek moyangnya sampai generasi sekarang. Apalagi yang hadir dalam pesta ini harus mendapatkan uang walaupun tidak dipatok yaitu jumlah disesuaikan dengan kemampuan keluarga paranak.

Hal ini dimaksudkan untuk mengharapkan berkat dari Tuhan. (Opung Michelle, 13 Juni 2016)

2. Pembagian Jambar

Seperti yang telah disinggung pada penjelasan sebelumnya bahwa pihak paranak haruslah membawa daging yang telah disepakati untuk kemudian dibagikan kepada keluarga parboru

Gambar 4.4 Pembagian Jambar

sebagai jambar. Dalam penyerahannya, Raja Parhata dari keduanya kembali melemparkan sajak, dengan maksud agar diberkatilah daging yang telah diberikan kepada parboru sebagai wujud syukur dan semoga senanglah mereka. Setelah didoakan dan selesaiah proses penyerahan daging tersebut. Kemudian pihak parhobas atau suami dari para perempuan meliputi kakak/adik perempuan dari pengantin perempuan yang selanjutnya bertugas untuk memotong daging jambar dan membagikannya kepada seluruh keluarga perempuan (tak terkecuali). Dengan bagian-bagian yang telah ditentukan dan banyaknya yang telah ditentukan pula sesuai adat. Tapi ada juga kata sepakat antara keluarga pihak pria dan kelarga pihak perempuan bahwa sebagian dari diserahkan kepada keluarga pihak laki-laki sebagai “Ulu ni dengke mulak”, atau kembali kepada asalnya.

3. Mangulosi

Proses yang terpenting dan paling membutuhkan waktu yang lama dikarenakan semuanya yang terlibat dalam pesta adat ikut melaksanakan adat ini yang terdapat pada rangkaian pernikahan adat Batak Toba adalah mangulosi. Mangulosi adalah proses penyematan ulos yang dari keluarga perempuan untuk kedua pengantin. Seperti yang dibahas pada pembahasan

sebelumnya bahwa mangulosi merupakan simbol dari wujud kasih sayang sipemberi ulos kepada sipenerima (yaitu kedua pengantin). Dengan menyematkan ulos kepada si pengantin dipercaya sebagai jalan menyampaikan doa yang bersih untuk kedua mempelai. Ulos dijadikan sebagai “Selimut waktu dingin, dan payung saat panas”, merupakan fungsi nyata ulos sebagai

kain namun dari hal tersebutlah diharapkan bahwa pemberian ulos ini adalah sebagai bentuk pelindung dalam situasi apapun menjadi awal dari proses sakral ini sebagai warisan leluhur sehingga hal ini menjadi adat yang sangat melekat hingga saat ini. Pada proses ini pemberi ulos bukan sekedar menyematkan ulos saja, melainkan juga memberi nasihat kepada pengantin agar selalu rukun, dan bahagia juga nasihat-nasihat pernikahan lainnya agar menjadi sebaik-baiknya pasangan. Namun bukan hanya pemberian nasihat, petuah dan doa saja tapi juga mangulosi ini untuk menunjukan rasa suka cita yang tulus kepada pengantin atas suksesnya pemberkatan di Gereja dan juga suksesnya adat yang dilaksanakan kedua belah pihak.

Gambar 4.5. Kain Ulos

Mangulosi pada masa sekarang telah melalui modifikasi atau telah dipersingkat tanpa mengurangi makna dari proses mangulosi itu sendiri. Gunanya untuk mempersingkat waktu, bahkan sebagiannya lagi sudah menggantinya dengan uang (bagi para tamu undangan). Dahulu semua keluarga, kerabat dan tamu undangan menggnakan ulos untuk dijadikan hadiah pengantin sebagai wujud suka cita sehingga kemudian bisa menjadi beratus lapis ulos, namun sekarang hal tersebut dibatasi dan diganti dengan material lain seperti uang. Jadi yang memberikan ulos hanyalah keluarga saja.

Proses adat mangulosi ini dimulai dengan pemberian ulos oleh orang tua mempelai parboru kepada pengantin memberikan nasihat-nasihat dan doa-doa pernikahan. Diiringi dengan gondang

Gambar 4.6. Proses Mangulosi

Batak dan mereka menari tor-tor sebelum pemberian ulos ini, Hal tersebut memiliki makna bahwa memberikan doa dengan penuh gembira.

Pada adat pernikahan adat Lena dan Loybert, pemberian ulos ini dilakukan oleh kedua abang Lena beserta istri sebagai hula-hula na mewakili orang tuanya yang telah meninggal. Kemudian dilanjutkan dengan mangulosi orang tua dari Nainggolan atau pihak paranak. Sebagai wujud dititipkannya lah mempelai wanita kepada mereka, agar senentiasa diberikan kasih sayang dan perlindungan juga sebagai wujud penghormatan.

Lalu setelah itu diikuti proses pemberian ulos kepada pengantin dari Bapak Uda Na (pamannya) beserta isteri (inang uda na) dengan umpasa-umpasa atau doa-doa yang sama baiknya. Kedua proses ulos ini adalah pemeberian ulos yang sangat penting karena pemberian ulos ini diberikan oleh keluarga yang terdekat dengan pengantin perempuan.

Mangulosi dari keluarga inti telah disematkan, dengan pada posisi duduk yang masih tetap sama Gondang Batak kembali dimainkan, kemudian berlanjutlah dengan proses mangulosi selanjutnya dari pihak marga yang berkaitan dengan keluarga inti. Yaitu Keluarga dari istri abangnya, pada pernikahan ini yang kemudian memberikan ulos adalah dari pihak Sitompul yaitu

keluarga dari isterinya Rudi dan Juga Opung Michelle Boru (isteri M. Siburian). Setelah proses adat ini, keluarga inti dari pihak parboru yaitu yang memberikan ulos pertama dan kedua diberikan uang oleh keluarga inti tesebut yang mana merupakan uang sisa sinamot yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya dan Semua keluarga inti memberi uang sambil menari Tortor. Maknanya agar yang memeberi ulos merasakan kebahagiaan yang sama dengan keluarga inti.

Selanjutnya ulos diberikan oleh marga-marga lain yang berhubungan dengan keluarga. Yaitu keluarga dari marga yang berkaitan dengan si parboru seperti marga opung boru na (opung perempuannya), suami dari kakak atau adik perempuannya, amang boru na (marga dari suami tantenya), dan proses tersebut terus berlangsung berulang-ulang dengan cara yang sama. Kemudian terakhir di tutup dengan keluarga Tulang Na (paman dari keluarga ibu pengantin perempuan). Hal tersebut berbeda karena dalam adat Batak Tulang adalah yang paling dihormati dan disayangi sehingga jumlah uang dan diberkan haruslah lebih besar jumlahnya dari yang jumlah yang lain sebagi wujud martabat keluarga perempuan.

Setelah proses mangulosi tersebut, pengantin digiring mengitari tempat pesta sebanyak tiga kali putaran dengan keadaan ulos membelit tubuh keduanya dan ujung ulosnya ditarik oleh

kelaurga pihak paranak dan kemudian pada putaran terakhir pengantin diarak ke kursi pelaminan. Sambil menari tortor dan diiringi Gondang Batak sebagai wujud kegembiraan bahwa parboru telah menjadi milik paranak dan diterima dengan senang hati. Dan jadilah pasangan pengantin menjadi pasangan Batak yang lengkap dan diakui secara adat.

Dokumen terkait