• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Pembahasan

1. Proses Sebelum Pernikahan pada Etnis India

Pada bagian hasil penelitian, telah dijabarkan mengenai proses sebelum pernikahan. Pada proses Merisik ada pola hubungan yang terjadi yaitu Etnis India akan menjodohkan anak mereka dengan orang yang setara tingkat ekonominya. Ini berlaku untuk semua golongan, baik golongan pemilik modal, pegawai swasta dan buruh. Modal sosial yang ada dalam proses ini adalah kepercayaan ada orang yang mencarikan jodoh dan hal ini juga berlaku untuk semua golongan. Modal ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, juga dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Pada proses Pen Partal (melihat calon istri) ada mitos yang dipercaya yaitu ketika berkunjung ke rumah mempelai wanita, calon mempelai pria harus berjumlah ganjil meskipun datang dengan jumlah yang ramai. Hal ini disebabkan karena mereka percaya bahwa Tuhan menyukai angka yang ganjil dan segala yang ganjil itu baik. Mitos ini juga dipercaya oleh semua golongan baik pemilik modal, pegawai swasta dan buruh. Simbol yang digunakan pada proses ini adalah wanita memakai kain sari dan melayani tamu dan simbol ini juga digunakan oleh semua golongan. Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Selanjutnya adalah proses Thairumanam Poruttam Paartal(Kecocokan Pengantin). Mitos yang ada pada proses ini adalah melihat kecocokan pengantin berdasarkan faktor tertentu dan ini berlaku untuk semua golongan. Selanjutnya adalah proses Niccayam (ikat janji). Mitos yang ada pada proses ini adalah pihak pria harus datang dalam jumlah ganjil. Simbol yang digunakana adalah mas kawin atau dowry. Simbol dan mitos ini berlaku untuk semua golongan. Modal Ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Selanjutnya adalah proses Parisam(Pemberian Hadiah). Mitos yang ada pada proses ini adalah hanya wanita yang sudah menikah saja yang bisa menyiapkan hadiah untuk pengantin wanita. Selain itu pengantin wanita juga menuliskan sesuatu menggunakan kunyit. Ini berarti penghargaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Simbol yang digunakan adalah hadiah-hadiah yang dibawa mempelai pria yang akan dipersembahkan untuk mempelai wanita. Mitos dan simbol ini berlaku pada semua golongan. Modal Ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Proses Mukuurta Kaal terdapat mitos untuk menabur sembilan jenis biji. Ini dilakukan karena Etnis India memiliki sembilan arah mata angin, dan mitos ini berlaku untuk semua golongan. Modal Ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Pada proses Mayianmitos yang dipercaya oleh semua golongan adalah ketika Ibu meletakkan uang koin di kaki anaknya yang melambangkan kejayaan, dan mitos ini berlaku untuk semua golongan. Modal Ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki. Mehndi ada proses melukis tangan. Masyarakat India percaya bahwa melukis tangan adalah sebuah keindahan dan proses ini dilakukan oleh semua golongan.

Selanjutnya adalah proses Jago. Mitos yang ada pada proses ini adalah meletakkan kendi dan lilin diatas kepala dan ini berlaku untuk semua golongan. Simbol yang digunakan adalah kendi dan lilin. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki. Selanjutnya adalah pemasangan Thaali atau rangkaian bunga yang dikalungkan ke leher pengantind dan merupakan simbol pada pernikahan Etnis India.

2. Proses Saat Pernikahan pada Etnis India

Tidak hanya pada proses sebalum pernikahan, pada saat pernikahan juga banyak mitos, simbol pola hubungan dan modal yang digunakan oleh Etnis India. Pertama adalah proses Minji yaitu proses melingkarkan kain. Mitosnya ini adalah sebagai lambang kesejahteraan dan mitos ini berlaku untuk semua golongan. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Selanjutnya adalah proses Paal yaitu proses mencuci kaki dengan air susu. Mitosnya, air susu dianggap air yang suci karena berasal dari sapi, dan semua golongan mempercayainya. Modal ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, juga dari hasil menjual harta yang dimiliki. Kemudian adalah proses Pooratau membakar ramuan. Hal ini dipercaya dapat menjauhi dari kesusahan dan berlaku untuk semua golongan. Modal Ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Kemudian adalah proses menglilingi api suci atau Valeem Varuthel.

Mitos yang dipercayai adalah setiap putaran memiliki arti dan tujuan dan ini berlaku untuk semua golongan. Pada Pani waar pengantin harus meminta restu kepada orang tua untuk kehidupan yang lebih baik.

3. Proses Setelah Pernikahan pada Etnis India

Setelah dilakukan proses pernikahan, selanjutnya adalah proses setelah pernikahan. Biasanya selama proses pernikahan yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak boleh ada orang diluar Etnis India yang ikut meramaikan proses pernikahan tersebut. Hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang boleh ikut melihat proses pernikahan itu. Setelah resepsi pernikahan, pengantin wanita akan menginap di rumah mempelai pria. Selanjutnya, untuk pemilik modal dan pegawai swasta akan melakukan bulan madu. Tetapi untuk kamu buruh, biasanya mereka langsung bekerja. Modal ekonomi didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan selain dari bekerja dan menabung, juga dari hasil menjual harta yang dimiliki.

Matriks 4

Upaya Mempertahankan Identitas Etnis India Melalui Proses Pernikahan Pada Etnis India

Sebelum Pernikahan Saat Pernikahan Setelah Pernikahan

1. Merisik

- Pola Hubungan : Menjodohkan hanya dengan orang yang setara tingkat ekonominya. Ini berlaku untuk semua golongan.

- Modal Sosial :

Kepercayaan pada orang yang mencarikan jodoh. Ini berlaku untuk semua golongan.

- Modal Ekonomi : Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

1. Minji

- Mitos : melingkarkan kain sebagai lambang kesejahteraan. Berlaku untuk semua golongan - Simbol : melingkarkan

kain. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

- Simbol : Pesta pernikahan yang mewah dan meriah. Namun utnuk golongan buruh, pesta hanya sederhana.

- Pola Hubungan : Tamu undangan yang hadir dari golongan yang sama. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

2. Pen Partal (melihat

calon istri)

- Mitos : Harus datang dalam jumlah ganjil. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : wanita Memakai kain sari dan melayani tamu. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

2. Paal

- Mitos : Susu dianggap air yang suci karena berasal dari sapi. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : Air susu. Berlaku untuk semua golongan

- Modal Ekonomi : Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

3. Thairumanam

Poruttam Paartal

3. Poor

(Kecocokan Pengantin)

- Mitos : melihat

kecocokan berdasarkan faktor tertentu. Berlaku untuk semua golongan

kesusahan. Berlaku untuk semua golongan - Simbol : Membakar

ramuan. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

4. Niccayam (ikat janji)

- Mitos : Datang dalam jumlah ganjil. Berlaku untuk semua golongan - Simbol : Dowry atau

mas kawin. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

4. Valeem Varuthel

- Mitos : Setiap putaran

memiliki arti dan

tujuan. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : Api suci. Berlaku untuk semua golongan

5. Parisam (Pemberian

Hadiah)

- Mitos : Wanita yang sudah menikah yang menyiapkan hadiah, pengantin menulis menggunakan kunyit. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : Hadiah yang dibawa. Berlaku untuk semua golongan - Modal Ekonomi :

Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil

5. Pani waar

- Mitos : Meminta Restu kepada orang tua untuk kehidupan yang lebih baik.

menjual harta yang dimiliki.

6. Mukuurta Kaal

- Mitos : Menabur sembilan jenis biji. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : Batang Pohon. Berlaku untuk semua golongan

- Modal Ekonomi : Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

7. Mayian

- Mitos : Ibu meletakkan uang koin, Ibu

melangkah ke kursi. Berlaku untuk semua golongan

- Modal Ekonomi : Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

8. Mehndi

- Mitos : Melukis tangan.

Berlaku untuk semua

golongan

- Simbol : Melukis tangan.

Berlaku untuk semua

golongan

9. Jago

- Mitos : meletakkan kendi dan lilin diatas kepala. Berlaku untuk semua golongan

- Simbol : Kendi dan lilin. Berlaku untuk semua

golongan

- Modal Ekonomi : Didapatkan dari hasil bekerja dan menabung. Namun pada golongan buruh, modal ekonomi didapatkan dari hasil menjual harta yang dimiliki.

10.Thaali

- Simbol : Kalung berasal dari bunga. Berlaku untuk semua golongan

Sumber : Wawancara bulan Febuari 2012 – Juni 2012

F. Analisa Teori

Pada penelitian ini akan menggunakan teori tindakan sosial yang dipoplerkan oleh Talcott Parsons. Sistem tindakan diperkenalkan Parsons dengan skema AGIL-nya yang terkenal. Parsons meyakini bahwa terdapat empat karakteristik terjadinya suatu tindakan, yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency. Sistem tindakan hanya akan bertahan jika memenuhi empat kriteria ini. Berikut adalah penjelasan dari empat kriteria tersebut (Ritzer, 2004: 257) :

5. Adaptation (Adaptasi)

6. Goal Attainment (Pencapaian Tujuan)

7. Integration (Integrasi)

8. Latency (Pemeliharaan Pola)

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana upaya yang dilakukan migran India yang tinggal di Yogyakarta dalam mempertahankan identitas etnis melalui tradisi pernikahan. Upaya yang dimaksud disini adalah bagaimana tindakan sosial yang dilakukan oleh golongan migran tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Parsons bahwa sistem tindakan hanya akan bertahan jika memenuhi empat kriteria yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency, maka penulis akan mencoba menjelaskan bagaiman migran India melakukan

tindakan untuk mempertahankan identitas etnis sesuai dengan teori tindakan sosial Parsons.

1. Adaptation (Adaptasi)

Adaptasi dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhan-kebutuhan. Dalam hal ini migran India mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya dimana lingkungan sekitarnya terdiri dari beragam etnis. Dengan dilakukannya adaptasi, maka migran India bisa mengerti apa saja kebutuhan-kebutuhan akan dirinya sendiri, baik dari segi kehidupan sosial maupun kebudayaan.

Pada proses adaptasi ini, tidak ada perbedaan antara warga keturunan India yang berprofesi sebagai pemilik modal, pegawai swasta, maupun buruh. Mereka semua bisa diterima dengan baik di lingkungan yang baru. Hal ini juga disebabkan karena masyarakat Jawa yang masih memiliki kebiasaan hidup bermasyarakat dengan baik. Hal ini menyebabkan mudahnya proses adaptasi pada warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta.

2. Goal Attainment (Pencapaian Tujuan)

Dalam setiap tindakan yang dilakukan pasti memiliki tujuan. Karena tindakan selalu diarahkan pada tujuan. Tujuan yang dilakukan migran India yang tinggal di Yogyakarta adalah untuk mempertahankan identitas etnisnya melalui tradisi pernikahan. Meskipun warga keturunan India sudah tidak tinggal di daerah asal mereka yaitu India, namun mereka masih tetap melakukan proses pernikahan sesuai dengan tradisi yang dilakukan di India. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan identitas etnis dari warga keturunan India yang telah lama tinggal di Yogyakarta.

3. Integration (Integrasi)

Sistem yang ada harus mampu mengatur dan membangun hubungan antara bagian-bagian yang menjadi komponennya. Dalam hal ini sistem yang dimaksud adalah kebudayaan India khusunya tradisi pernikahan. Pada tradisi pernikahan Etnis India, mereka lebih cenderung mengeksklusifkan diri

dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan pada saat proses pernikahan Etnis India, orang-orang diluar Etnis India tidak diperkenankan untuk hadir dan mengikuti proses pernikahan tersebut. Jika ada yang ingin hadir dan melihat seluruh proses pernikahan, maka harus meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga pengantin.

Sikap mengeksklusifkan diri ini menjadi salah satu ciri dari warga keturunan India yang ada di Yogyakarta. Mereka tidak berusaha untuk mengintegrasi diri mereka dengan lingkungan sekitar, tapi mereka mengeksklusifkan diri dari lingkungan sekitar.

4. Latency (Pemeliharaan Pola)

Pemeliharaan pola digunakan untuk melengkapi, memelihara, dan memperbaharui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut. Tradisi pernikahan Etnis India merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta selalu melakukan proses pernikahan menggunakan tradisi yang ada di India. Dengan pola-pola pemeliharaan dan pelestarian tradisi pernikahan tersebut, maka identitas etnis sebagai warga keturunan India dapat terpelihara dengan baik.

Matriks 5

Sistem Tindakan Talcott Parsons pada Etnis India

Adaptation (Adaptasi) Adaptasi warga keturunan India kepada

masyarakat Jawa yang tinggal di

Yogyakarta.

Goals (Tujuan) Mempertahankan identitas etnis melalui

tradisi pernikahan.

Integration (Integrasi) Warga keturunan India lebih

mengeksklusifkan diri dari masyarakat sekitarnya.

Latency (Keteraturan Pola) Pernikahan merupakan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh warga keturunan India.

Dari uraian diatas, ditemukan bahwa upaya golongan migran India yang tinggal di Yogyakarta dalam mempertahankan identitas etnis melalui tradisi pernikahan merupakan salah satu cerminan dari teori Talcott Parsons mengenai tindakan sosial. Selain itu, warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta juga memenuhi empat kriteria yang membuat sistem dapat bertahan dengan baik yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Migran India yang tinggal di Yogyakarta mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya dimana lingkungan sekitarnya terdiri dari beragam etnis. Pada proses adaptasi ini, tidak ada perbedaan antara warga keturunan India yang berprofesi sebagai pemilik modal, pegawai swasta, maupun buruh. Mereka semua bisa diterima dengan baik di lingkungan yang baru. Hal ini juga disebabkan karena masyarakat Jawa yang masih memiliki kebiasaan hidup bermasyarakat dengan baik. Hal ini menyebabkan mudahnya proses adaptasi pada warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta.

2. Tindakan selalu diarahkan pada tujuan. Tujuan yang dilakukan migran India yang tinggal di Yogyakarta adalah untuk mempertahankan identitas etnisnya melalui tradisi pernikahan.

3. Pada tradisi pernikahan Etnis India, mereka lebih cenderung

mengeksklusifkan diri dengan lingkungan sekitarnya. Sikap

mengeksklusifkan diri ini menjadi salah satu ciri dari warga keturunan India yang ada di Yogyakarta. Mereka tidak berusaha untuk mengintegrasi diri mereka dengan lingkungan sekitar, tapi mereka mengeksklusifkan diri dari lingkungan sekitar.

4. Tradisi pernikahan Etnis India merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta selalu melakukan proses pernikahan menggunakan tradisi yang ada di India. Dengan pola-pola pemeliharaan dan pelestarian tradisi pernikahan tersebut, maka identitas etnis sebagai warga keturunan India dapat terpelihara dengan baik.

B. Implikasi

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diuraikan implikas-implikasinya sebagai berikut :

1. Implikasi Empiris

Penelitian ini dapat menjelaskan mengenai proses pernikahan yang ada pada etnis India. Di dalam proses pernikahan etnis India tersebut juga terdapat beberapa aspek seperti mitos, simbol, pola hubungan, dan modal sosial serta modal ekonomi. Etnis India masih mempercayai mitos-mitos yang ada pada proses pernikahan. Mereka percaya bahwa jika mereka melanggar mitos tersebut, maka mereka akan terkena musibah. Simbol- simbol yang digunakan juga sangat banyak. Pola hubungan yang ada pada etnis India masih sering menggunakan tingkatan kasta atau kepemilikan modal, sehingga sangat sulit ditemukan pernikahan beda kelas sosial.

Selain itu, penelitian ini juga mampu membuktikan bahwa konflik kelas pada etnis itu ada. Hal ini terbukti dengan perbedaan pelaksanaan proses pernikahan yang dilakukan oleh etnis India. Selain itu, keluarga yang hanya memberikan mas kawin dengan harga yang murah, akan dipandang rendah oleh keluarga yang lainnya. Namun meskipun demikian, etnis India memiliki rasa kekeluargaan yang sangat tinggi dan rasa memiliki terhadap kebudayaannya yang sangat tinggi. Mereka tidak akan meninggalkan sedikitpun ajaran-ajaran dan kepercayaan yang telah diajarkan oleh orang tua mereka.

2. Implikasi Teoritis

Pada penelitian ini teori yang digunakan adalah tindakan sosial yang dicetuskan oleh Talcott Parsons. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana upaya yang dilakukan migran India yang tinggal di Yogyakarta dalam mempertahankan identitas etnis melalui tradisi pernikahan. Upaya yang dimaksud disini adalah bagaimana tindakan sosial yang dilakukan oleh kaum migran tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Parsons bahwa sistem tindakan hanya akan bertahan jika memenuhi empat kriteria yakni

Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency, maka penulis akan mencoba menjelaskan bagaiman migran India melakukan tindakan untuk mempertahankan identitas etnis sesuai dengan teori tindakan sosial Parsons

3. Implikasi Metodologis

Penelitian yang berjudul : Upaya Kaum Migran Dari India Di Yogyakarta Dalam Mempertahankan Identitas Etnis Melalui Tradisi Pernikahan, merupakan penelitian deksriptif kualitatif. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti mampu menggambarkan dan memberi uraian dengan cermat terhadap fenomena sosial atau kolektif tertentu, serta mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak menguji hipotesa.

Penelitian kali ini menggunakan teknik pengambilan Purposive Sampling, yaitu dengan memilih informan yang dapat dipercaya dan dianggap paling mengetahui permasalahan dilapangan. Sampel pada penelitian ini dibagi menjadi 3 (tiga) kelas, yaitu kelas pemilik modal etnis India, kelas pegawai swasta etnis India dan kelas buruh etnis India.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Namun dalam menggali data di lapangan, peneliti mengalami kesulitan ketika beberapa informan menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan dengan jawaban yang pendek dan singkat, sehingga peneliti merasa bingung dengan maksud dari jawaban beberapa informan tersebut. Sehingga peneliti harus berulang kali menggali maksud dari jawaban yang diberikan.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi seperti diuraikan diatas, peneliti merekomendasikan sebagai berikut :

1. Pemerintah kota Yogyakarta

Kepada Pemerintah Kota Yogyakarta agar mampu mendata kaum migran dari berbagai Negara, khususnya India, yang tinggal di

Yogyakarta secara tertulis pada data Daerah Dalam Angka (DDA). Hal ini diharapkan bisa mempermudah penelitian selanjutnya mengenai migran yang berasal dari luar Indonesia, khususnya dari India.

2. Migran dari India yang tinggal di Yogyakarta

Dengan melihat hasil penelitian dan sejarah kebudayaan bangsa India, maka diharapkan migran India yang tinggal di Yogyakarta dapat mempertahankan identitas etnisnya sebagai etnis India, meskipun telah lama tinggal di tanah Jawa,

3. Peneliti menyadari penelitian ini mempunyai banyak kekurangan dalam proses pelaksanaannya. Sehingga diharapkan penelitian ini dapat membuka jalan bagi penelitian selanjutnya karena penelitian yang berhubungan dengan etnis India masih jarang dijumpai.