BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sebelum Pernikahan
a. Merisik (Perjodohan)
Di India, budaya dalam hal pernikahan dan memilih pasangan hidup masih sangat kuat. Jarang sekali ditemukan pasangan muda mudi yang pacaran atau menjalin hubungan sebelum menikah. Kebanyakan dari mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, baik itu bekerja ataupun sekolah. Saat umurnya telah cukup untuk menikah, orang tuanyalah yang akan mencarikan jodoh untuk anak-anaknya terutama yg laki-laki. Seperti apa yang dikatakan oleh Heera, salah satu warga keturunan India yang masih melakukan tradisi pernikahan India :
“Pada saat sebelum pernikahan itu ada yang namanya proses Merisik. Proses ini itu sama aja kaya proses menjodohkan. Di India itu jarang sekali yang pacaran. Kebanyakan mereka itu sudah sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Nah, kalau mereka semua sudah berumur, maka orang tua-nyalah yang akan mencarikan mereka jodoh.”
(Sumber : Wawancara 17 Februari 2012 pukul 10.00 WIB)
Merisik adalah proses menjodohkan. Setelah menemukan yang cocok, orang tuanya akan mempersilahkan anaknya melihat sang gadis. Hal ini seperti diungkapkan oleh Tekani, seorang warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta :
“Jadi biasanya orang tua itu akan menjodohkan anaknya kalo sudah cukup umur mba. Jadi anaknya itu sudah siaplah, terus si pasangannya juga harus sudah siap dan sudah mapan pastinya, untuk yang laki-laki ya.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
Untuk mendapatkan informasi-informasi mengenai calon pengantin ini, ada seseorang yang diutus sebagai pencari informasi. Biasanya orang yang melakukannya disebut sebagai tirumana taraga. Hal ini juga diungkapkan oleh Tekani :
“Yang biasa disuruh untuk menyelidiki pengantin itu namanya tirumana taraga mba. Jadi dia yang harus cari tau segala informasi mengenai calon pengantin.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
Sebagai seorang tirumana taraga, ia harus mencari informasi- informasi ini diperolehi secara langsung dari pihak yang terlibat dan juga para kerabat dari calon pengantin. Pada proses ada pola hubungan yang terjadi yaitu dalam proses menjodohkan, sang tiruma taraga harus mencari pasangan yang sesuai dengan kelasnya yaitu harus sesama pemilik modal.
Pada saat proses perjodohan, banyak faktor yang akan menjadi bahan pertimbangan orang tua, yaitu faktor etnis, sub etnis, kasta, dan agama. Selain itu, faktor-faktor lain seperti status ekonomi dan status sosial adalah aspek seperti umur, tahap pendidikan, jenis pekerjaan, etika dan moral, rupa paras dan latar belakang keluarga juga menjadi bahan pertimbangan. Hal ini juga diungkapkan oleh Tekani, sebagai berikut :
“Banyak sekali faktor yang jadi bahan pertimbangan orang tua, kaya faktor etnis, sub etnis, kasta, dan agama. Terus faktor-faktor lain kaya status ekonomi dan status sosial rupa paras dan latar belakang keluarga juga menjadi bahan pertimbangan.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB) Modal sosial yang ada pada proses ini adalah kepercayaan pihak keluarga pada tiruma taraga dalam mencarikan jodoh. Sedangkan modal ekonomi yang digunakan pada proses ini berasal dari hasil kerja keluarga pengantin, baik perempuan maupun pria.
b.Pen Paarttal (Melihat Calon Istri)
Adat ini dilakukan selepas adat merisik dilakukan. Calon pengantin laki-laki akan mengunjungi calon pengantin perempuan untuk melihat sendiri wajah dan perawakan calon isterinya. Adat ini dikenal sebagai pen paarttal atau melihat calon istri. Hal ini seperti diungkapkan oleh Heera, sebagai berikut :
“Sehabis itu, calon laki-laki itu datang ke rumah mempelai wanita buat lihat langsung wajah calon istrinya itu. Adat ini itu namanya pan paartal atau melihat calon isteri.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB)
Ketika itu wakil pihak laki-laki perlu datang dalam jumlah ganjil walaupun datangnya beramai-ramai. Buah tangan seperti kelapa, sirih, pinang, cendana, buah-buahan, bunyi-bunyian serta serbuk kumkum akan dibawa. Pihak perempuan akan menerima hantaran tersebut kalau pihak perempuan setuju untuk menikah dengan laki-laki tersebut. Jika tidak, mereka hanya melayaninya sebagai tamu biasa seperti orang yang datang dan tidak boleh mengambil barang-barang tersebut. Hal ini senada dikatakan oleh Tekani, sebagai berikut :
“Pada proses ini juga calon laki-laki juga bawa buah tangan kaya kelapa, sirih, pinang, cendana, buah-buahan, bunyi-bunyian, serta bubuk kumkum akan dibawa. Kalau pihak perempuan menerima hantaran tersebut, berarti pihak perempuan setuju kalau laki-laki itu menikah dengan anak perempuannya. Tapi kalau ga diterima, ya si pihak wanita itu cuma menjamu pihak laki-laki sebagai seorang tamu biasa dan ga boleh mengambil barang-barang tersebut ya pastinya.”
(Sumber : Wawancara 12 Febuari 2012 pikul 19.00 WIB)
Calon pengantin perempuan akan memakai sari dan disuruh untuk menghidangkan air minum kepada para tamu yang datang. Pada saat itu calon pengantin laki-laki mempunyai kesempatan melihat pengantin perempuan dengan lebih dekat lagi. Hal ini juga disampaikan oleh Tekani :
“Terus, pada saat menjamu si pria, si wanita itu akan memakai kain sari dan disuruh menghidangkan air minum. Nah, pada saat itulah si laki-laki punya kesempatan untuk lihat langsung si calon pengantin wanitanya dengan lebih dekat lagi.”
(Sumber : Wawancara 12 Febuari 2012 pikul 19.00 WIB)
Oleh karena itu calon pengantin perempuan harus melayani para tamu yang datang termasuk calon pengantin laki-laki. Kemudian kunjungan ini dibalas oleh wakil dari pengantin perempuan. Kali ini pengantin perempuan tidak turut serta. Dalam masyarakat India, adat pen paarttal juga bertujuan untuk mengetahui latar belakang calon pengantin laki-laki.
Pada proses ini terdapat mitos yaitu saat mengunjungi rumah wanita, si pria harus datang dengan jumlah yang ganjil. Meskipun mereka datang dengan jumlah yang banyak, akan tetapi jumlah orang yang datang harus berjumlah ganjil. Masyarakat India percaya bahwa angka ganjil merupakan angka yang disukai oleh Tuhan dan membawa keberkahan bagi setiap orang yang berhubungan dengan angka ganjil. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Heera, seorang pemilik toko kain yang ada di Yogyakarta sebagai berikut :
“Saat itu itu laki-laki harus datang dengan jumlah ganjil, meskipun dalam jumlah yang ramai. Soalnya masyarakat India itu percaya Tuhan menyukai angka ganjil. Segala yang ganjil itu baik.”
(Sumber : Wawancara 26 Juni 2012 pukul 15.00 WIB)
Selain mitos, terdapat juga simbol yang digunakan pada proses ini. Pada saat kunjungan kerumah mempelai wanita buah tangan seperti kelapa, sirih, pinang, cendana, buah-buahan, serta serbuk kumkum akan dibawa. Barang-barang ini dibawa sebagai tanda kedatangan mereka atas niat yang baik dan untuk mengeratkan lagi hubungan kekeluargaan. Hal ini juga diungkapkan oleh Tekani, sebagai berikut :
“Waktu kunjungan kerumah wanita itu, pria kan bawa banyak barang- barang ya, kaya kelapa, sirih, pinang, cendana, buah-buahan dan serbuk kumkum. Ini sih biar mengeratkan hubungan ajah dengan keluarga besan.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
Tanda-tanda seorang gadis single dan siap dinikahi, dapat dilihat dari bindi atau tanda kecil di tengah-tengah antara alis yang dipakai sang gadis. Warna hitam mengartikan bahwa sang gadis masih single dan sedang mencari jodoh, tanda merah berarti sang gadis telah menikah. Setiap wanita yang menikah pasti akan menggunakan Sindoor atau tanda merah dibelahan rambut. Hal ini juga diungkapkan oleh Heera, sebagai berikut :
“Itu namanya bindi, tanda kecil yang ada diantara alis. Kalau hitam artinya single dan sedang mencari jodoh, tapi kalo merah itu tandanya sudah menikah. Kalo pengantin juga pakai sindoor, tanda merah yang ada di belahan rambut itu.”
c. Thairumanam Poruttam Paartal(Kajian Kecocokan Pengantin)
Proses selanjutnya adalah Thairumanam Poruttam Paartal yaitu kajian kecocokan pengantin. Adat penyesuaian calon pengantin dijalankan terlebih dahulu, dalam ajaran Hindu tidak terdapat konsep perceraian. Terdapat beberapa aspek yang perlu diambil kira untuk menentukan kesesuaian pasangan bakal pengantin. Hal ini seperti diungkapkan oleh Lakshmi, salah satu warga keturunan India yang tinggal di Yogyakarta :
“Ada pula thairumanam poruttam paartal. Nah ini itu sama aja kaya proses kajian kecocokan pengantin. Ya tadi itu nanti akan dilihat dari faktor-faktor yang tadi saya bilang, kaya usia, keturunan, kasta, pekerjaan, dan etika serta moralnya sehari-hari.”
(Sumber : Wawancara 18 Februari 2012 pukul 16.00 WIB)
Proses ini biasanya menggunakan perhitungan tanggal lahir dan faktor lainnya. Faktor-faktor seperti status ekonomi dan status sosial yang terdiri dari aspek seperti umur, tahap pendidikan, jenis pekerjaan, etika dan
Gambar 1
moral, rupa paras dan latar belakang keluarga juga menjadi bahan pertimbangan sebagai kajian kecocokan pengantin.
Masyarakat India percaya bahwa pada proses pernikahan Thairumanam Poruttam Paartal atau kajian kecocokan pengantin, pengantin harus dikaji atau dilihat kecocokannya berdasarkan faktor-faktor yang di tentukan oleh para sesepuh, salah satunya adalah tanggal lahir. Kajian kecocokan ini dilakukan karena mereka percaya bahwa setiap pasangan itu memiliki satu kecocokan yang sama dan kecocokan itulah yang akan memebuat mereka hidup bersama dan bahagia. Hal ini seperti diungkapkan oleh Heera, sebagai berikut:
“Proses thairumanam poruttam paartal dilakukan soalnya setiap pasangan itu pasti punya kecocokan yang sama. Nah kecocokan itulah yang bikin pasangan itu bisa hidup bersama dan bahagia.”
(Sumber : Wawancara 26 Juni 2012 pukul 15.00 WIB)
d. Niccayam (Ikat Janji)
Ikat janji atau Niccayam adalah proses selanjutnya setelah kajian calon pengantin dilakukan. Proses ini dilakukan setelah mendapat persetujuan kedua belah pihak pengantin. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Heera, yaitu:
“Selanjutnya adalah proses niccayam atau proses ikat janji. Semuanya harus melalui proses ikat janji ini. Proses ini dilakukan setelah kedua belah pihak udah setuju dengan pasangan pengantin.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB) Wakil laki-laki akan datang ke rumah pihak perempuan dalam jumlah bilangan yang ganjil dengan membawa beberapa barang seperti kelapa, sirih pinang, bunga-bungaan, buah-buahan, cendana dan kumkum untuk diberikan kepada wakil perempuan. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Heera :
“Nanti yang pria itu membawa beberapa barang kaya kelapa, sirih pinang, bunga-bungaan, buah-buahan, cendana dan kumkum, dan nanti bakal dikasih ke wakil perempuan.”
(Sumber : Wawancara 17 Februari 2012 pukul 10.00 WIB)
Ketika calon pengantin pria telah tiba di rumah calon pengantin perempuan, bapak dari kedua belah pihak akan berbicara dan berbincang- bincang mengenai perkawinan tersebut. Apabila bapak salah seorang calon pengantin telah meninggal dunia, perbincangan akan diadakan oleh saudaranya. Kemudian, ketika kedua belah pihak pengantin telah setuju, mereka akan mengikat janji untuk menyatakan persetujuan untuk mengawini calon pengantin perempuan. Seperti apa yang diungkapkan oleh Tekani yaitu :
“Sesampainya di rumah pengantin perempuan, bapak dari kedua belah pihak akan berbincang-bicang mengenai perkawinan tersebut. Kalau bapak dari salah satu mempelai sudah meninggal dunia, perbincangan akan diwakilkan oleh saudaranya. Nah, kalau mereka sudah setuju, maka mereka akan mengikat janji.”
(Sumber : Wawancara 12 Febuari 2012 pukul 19.00 WIB)
Setelah selesai perbincangan diantara kedua belah pihak selesai dilakukan, kemudian perkawinan tersebut akan diumumkan kepada orang- orang. Sebagai tanda ikatan atas sepakatnya proses pernikahan tersebut, kedua pengantin akan menukar sirih pinang yang dinamakan taambuulan marrutal. Kemudian mereka akan membicarakan mengenai hari perkawinan dan persiapan pernikahan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Tekani, yaitu :
“Setelah selesai, pernikahan tersebut akan diumumkan kepada orang- orang ramai. Untuk tanda ikatan, kedua pengantin itu menukar sirih pinang namanya taambuulan marrutal. Terus mereka akan berbicara mengenai hari pernikahan dan persiapan pernikahan.”
Gambar 2
Proses Nicayam atau Ikat Janji
Kemudian pada proses Niccayam atau ikat janji, calon mempelai pria juga harus tetap datang dengan jumlah yang ganjil. Makna angka ganjil dalam proses ini juga sama dengan makna angka ganjil pada proses sebelumnya, yaitu Tuhan menyukai angka ganjil dan angka ganjil dipercaya dapat membawa keberkahan. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Heera :
“Pada saat ikat janji, calon pengantin pria harus datang dengan jumlah yang ganjil. Maknanya ya sama, karena Tuhan itu menyukai angka yang ganjil dan angka ganjil itu juga bisa membawa keberkahan.”
(Sumber : Wawancara 17 Februari 2012 pukul 10.00 WIB)
Dowry atau mas kawin, di India, mas kawin diberikan oleh keluarga mempelai perempuan kepada anak perempuan dari keluarga mempelai pria. Hal ini juga diungkapkan oleh Heera, yaitu sebagai berikut :
“Beda dengan biasanya mbak, kalau di India yang menyiapkan mas kawin atau dowry itu ya perempuan. Maknanya sih sama, yaitu sebagai simbol kalo pernikahan akan dilakukan.”
(Sumber : Wawancara 17 Februari 2012 pukul 10.00 WIB)
e. Parisam (Pemberian Hadiah)
Proses selanjutnya adalah parisam atau pemberian hadiah. Proses ini terbagi menjadi dua yaitu parisam biasa dan udan parisam. Parisam biasa adalah pemberian hadiah yang dilakukan lebih dahulu dari pada hari pernikahan. Sedangkan udan parisam adalah pemberian hadiah yang dilakukan pada hari yang sama di waktu pagi sebelum perkawinan berlangsung. Dalam masyarakat India, parisam berarti sebuah pertunangan. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Heera, yaitu :
“Kalau di India, parisam ini artinya pemberian hadiah atau pertunangan. Ini itu terbagi jadi dua, yang pertama parisam biasa dan yang kedua adalah udan parisam. Kalau yang bisasa dilakukan lebih awal dari pada hari perkawinan. Terus kalo udan parisam itu pada hari yang sama diwaktu pagi sebelum perkawinan berlangsung.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB)
Pemberian parisam ini akan diadakan pada hari yang telah disetujui oleh kedua belah pihak pasangan pengantin. Pihak pengantin lelaki akan menyediakan beberapa jenis hantaran dengan jumlah ganjil. Namun, hantaran ini hanya boleh disediakan oleh wanita yang sudah bersuami saja dan mereka dipanggil cumanggali. Parisam akan dibawa ke rumah pengantin perempuan dan dipimpin oleh calon pengantin laki-laki dengan memakai pakaian tradisional masyarakat India. Hal ini seperti diungkapkan oleh Heera, yaitu:
“Parisam dilakukan dihari yang sudah disetuji oleh keluarga pengantin. Pihak laki-laki nyiapin hantaran dengan jumlah ganjil dna Cuma boleh disediakan sama wanita yang sudah bersuami saja. Nanti parisam akan dibawa ke rumah pengantin perempuan. Laki- laki ini harus memakai pakaian tradisional India.”
Gambar 3
Proses Parisam atau pemberian hadiah
Ketika pengantin pria telah tiba di rumah pengantin wanita, proses parisam akan dimulai. Pada waktu yang sama alat musik tradisional India juga ikut dimainkan. Sebelum dimulai, seluruh keluarga diwajibkan untuk melakukan sembahyang bersama dahulu. Kemudian bapak pengantin perempuan akan membawa parisam yang berisi sari dan diberikan kepada anaknya. Hal ini seperti diungkapkan oleh Heera, yaitu :
“Pada waktu yang sama alat musik tradisional dimainkan. Sebelumnya, keluarga itu harus dulu. Lalu bapak dari si wanita bawa parisam yang isinya sari terus diberikan ke anaknya.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB)
Mitos yang terdapat dalam proses ini adalah ketika pengantin wanita menulis sesuatu menggunakan kunyit. Ini adalah sebagai bukti untuk meminta restu dari Tuhan. Kunyit dipercaya oleh masyarakat India sebagai tumbuh- tumbuhan yang memiliki banyak khasiat dan sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Tekani:
Gambar 3
Hadiah atau Parisam
“Waktu wanita menulis menggunakan kunyit itu, itu tandanya meminta restu ke Tuhan. Lagipula kami percaya kalo kunyit itu adalah tumbuh-tumbuhan yang punya banyak khasiat dan sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
Gambar tersebut adalah hadiah yang diberikan oleh pihak pengantin pria kepada pengantin wanita. Biasanya hadiah ini berisi buah-buahan, pakaian, sepatu, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
f. Mukuurtta Kaal
Proses pernikahan mukuurtta kaal adalah proses mendirikan sebuah tanda bahwa di rumah tersebut sedang melakukan pernikahan. Biasanya adat ini dilakukan lima hari sebelum hari perkawinan dilangsungkan. Proses ini dilakukan pada hari baik menurut perhitungan hari baik menurut masyrakat India. Hal ini juga diungkapkan oleh Heera, sebagai berikut :
“Sehabis proses itu, adalagi namanya Mukuurta Kaal. Adat ini dilakukan lima hari sebelum perkawinan. Nah, biasanya kalau adat ini dilakukan sesuai dengan perhitungan tanggal baik yang ada di India.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB)
Untuk menjalankan adat tersebut sebatang pohon yang masih muda dan lurus akan ditebang untuk dijadikan mukurtta kaal. Batang pohon tersebut berukuran dua atau tiga meter dan mempunyai lilitan batang antara 20 hingga 30 Cm. Adat mendirikan mukuurtta kaal adalah untuk menandakan akan dilangsungkan pernikahan di rumah tersebut. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Heera, yaitu :
“Jadi, nanti disiapkan sebatang pohon yang masih muda dan lurus, terus akan ditebang dan dijadikan mukuurta kaal. batang pohon ini berukuran dua sampai tiga meter dan punya lilitan batang 20-30 cm. ini dibuat supaya menandakan kalau di rumah itu akan dilangsungkan pernikahan.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB)
Bahan-bahan seperti sirih pinang, kum-kum, kunyit dan sebagainya disediakan. Para ahli keluarga dari kedua belah pihak akan memohon pada Tuhan supaya proses pernikahan dapat berlangsung secara lancar tanpa gangguan. Batang kayu diambil dan dibersihkan serta dibuang kulitnya. Lima orang perempuan yang sudah menikah akan menyapukan kunyit cair dan kumkum pada batang kayu tersebut dari pangkal hingga ujung. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Heera, yaitu :
“Disana nanti ahli keluarga akan meminta dan memohon pada Tuhan agar acara bisa berjalan dengan lancar. Lima orang perempuan yang sudah menikah akan menyapukan kunyit cair dan kumkum pada batang kayu tersebut dari bawah sampe ujung.”
Kemudian ujung kayu diikat dengan daun ara atau mangga menggunakan kain bewarna merah. Kayu akan dipotong sedalam setengah meter dan bahan-bahan tadi akan dimasukkan ke dalam lubang tersebut sebagai lambang kekayaan. Kemudian upacara sembahyang dilakukan oleh pengantin beserta lima orang perempuan tersebut. Kebiasaan adat mendirikan mukuurtta kaal dilakukan di rumah pengantin laki-laki. Pendirian batang pohon ini juga merupakan salah satu simbol yang digunakan dalam pernikahan Etnis India.
Pada proses ini terdapat mitos yang dipercaya yaitu ketika mendirikan batang pohon yang sudah dibuat dan dihias, ada sembilan jenis biji ditabur pada batang kayu dan lampu minyak dinyalakan. Pada waktu yang sama pengantin berikrar akan menjaga alam sekitar sebagai lambang persahabatan dengan alam sekitar. Angka Sembilan bagi masyarakat hindu khususnya masyarakat India memiliki arti yang sangat istimewa karena mereka percaya ada sembilan arah mata angin, dikenal sebagai Dewata Nawa Sanggha. Hal ini senada yang diungkapkan oleh Tekani, sebagai berikut :
“Waktu mendirikan batang pohon itu ya, kan ada Sembilan jenis biji yang disebar. Nah angka sembilan ini berasal dari kalo kami itu kenal Sembilan arah mata angina. Itu kalo di hindu namanya dewata nawa sanggha.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
g. Mayian
Berikutnya adalah proses Mayian. Pada proses ini, pengantin perempuan akan ditemani oleh ahli keluarga perempuan, seperti ibu, adik perempuan, kakak, bibi dan calon kakak iparnya. Dia akan didudukkan diatas sebuah bangku, kemudian sehelai kain sari akan dipakai diatas kepala pengantin wanita. Kemudian ibu dari mempelai wanita akan menaruh uang di bawah telapak kaki pengantin wanita. Proses ini sama saja dengan sembahyang bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Heera, sebagai berikut :
Gambar 5
Proses Mayian
“Mayian ini sama saja dengan proses sembahyang bersama. Nanti prempuan akan ditemani oleh ibu, adik perempuan, kakak, bibi dan calon kakak iparnya. Dia duduk terus dipakein kain sari ditaruh di kepalanya. Nanti si ibu akan menaruh uang dibawah telapak kaki anaknya.”
(Sumber : Wawancara 17 Febuari 2012 pukul 10.00 WIB) Proses dimulai dengan ibu, dan diikuti oleh keluarga perempuan yang lain. Jika proses ini telah selesai, calon pengantin akan membersihkan diri sementara ibunya akan melangkah di tempat yang diduduki oleh anaknya tadi sambil menjunjung kain di atas kepala.
Mitos selanjutnya yang dipercayai oleh etnis India adalah pada proses mayian, sang ibu meletakkan uang koin di telapak kaki anaknya. Hal ini dipercaya sebagai lambang kejayaan dan kemakmuran. Kemudian tujuan si ibu melangkah ke tempat duduk anaknya itu adalah untuk menolak bala dan segala kotoran yang terdapat pada si anak. Mereka percaya, dengan demikian,
si anak akan menikah dalam keadaan yang suci. Hal ini senada diungkapkan oleh Heera, sebagai berikut :
“Waktu mayian itu ya mbak, si ibu naruh uang di telapak kaki anaknya itu artinya lambang kejayaan dan kemakmuran. Terus waktu ibunya melangkah di tempat si anaknya itu, artinya untuk tolak bala dan buang segala kotoran, biar anaknya nikah dalam keadaan suci.”
(Sumber : Wawancara 17 Februari 2012 pukul 10.00 WIB) Pada saat mayian, kakak dan adik pengantin perempuan akan meminta sedikit uang dan meminta pengantin laki-laki untuk menggunting reben (rangkaian bunga) yang diletakkan di pintu masuk ke rumah pengantin perempuan. Ini adalah untuk memesrakan hubungan antara pengantin laki-laki dengan iparnya. Hal ini seperti diungkapkan oleh Tekani, sebagai berikut :
“Nanti kakak dan adik pengantin perempuan minta uang dan pengantin pria akan menggunting reben atau rangkaian bunga. Tujuannya adalah memesrakan hubungan antara pengantin dengan iparnya tersebut.”
(Sumber : Wawancara 12 Februari 2012 pukul 19.00 WIB)
h.Mehndi
Setelah selesai mayian tadi, pihak keluarga perempuan akan