2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Harga Diri Rendah
2.1.2 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah
Menurut (Stuart, 2009) harga diri rendah dapat terjadi secara situasional, yaitu terjadinya trauma secara tiba-tiba, misalnya harus operasi kecelakaan, dicerai suami/istri, putus sekolah, putus hubungan kerja dan perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba), dan secara kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri yang telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat. Perubahan komponen harga diri pada pasien dengan penyakit fisik yang terjadi secara tiba-tiba adalah harga diri rendah situasional. Karakteristik pasien yang mengalami harga diri rendah situasional adalah tidak mampu menghadapi kondisi penyakitnya, perasaan tidak berdaya, ekspresi tidak berguna, perilaku tidak asertif, bimbang dan secara verbal mengatakan diri negatif (Herdman, 2012).
Pengkajian keperawatan oleh perawat CLMHN dengan menggunakan model Stres adaptasi Stuart dapat menggambarkan proses terjadinya harga diri rendah dengan mengkaji dari faktor predisposisi, presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping dalam rentang adaptif sampai maladaptif. Uraian tersebut sebagai berikut:
2.1.2.1 Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Laraia (2005) faktor predisposisi adalah faktor resiko yang dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumber resiko yang dapat menyebabkan individu mengalami stres. Faktor ini meliputi biologis, psikologis dan sosial budaya.
a. Faktor Biologis
Faktor predisposisi biologis meliputi riwayat genetik, status nutrisi, status kesehatan secara umum, sensitivitas biologi, dan terpapar racun (Stuart & Laraia, 2005). Faktor biologis berupa riwayat genetik (keturunan) di dalam keluarga, seperti kelainan/cacat fisik bawaan, ukuran tubuh, penampilan, dan sebagainya (Driever, 1976 dalam Townsend, 2009).
Riwayat cedera/trauma yang menyebabkan kerusakan jaringan otak khususnya di daerah frontal, temporal dan limbik dapat menjadi faktor prediposisi terjadinya harga diri rendah. Faktor biologis terjadinya harga diri rendah situasional dapat berasal penyakit fisik yang menahun, riwayat perilaku kesehatan yang buruk, riwayat masuk rumah sakit berulang dan riwayat putus obat (Stuart, 2009). Semua hal tersebut dapat menyebabkan gangguan metabolisme dalam tingkat jaringan bahkan sampai ke dalam tingkatan sel tubuh manusia termasuk sel-sel saraf (Smeltzer dkk, 2008; Townsend, 2009). Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada lobus frontal dan sistem limbik.
Kerusakan pada lobus frontal akan dapat menyebabkan gangguan berfikir dan ketidakmampuan dalam mengontrol emosi sehingga respon kognitif pasien yaitu menilai secara negatif tentang diri, orang lain dan lingkungan serta berperilaku yang maladaptif sebagai akibat cara berpikir yang negatif (Townsend, 2009). Semua hal tersebut merupakan tanda dan gejala dari harga diri rendah situasional.
Kerusakan sistem limbik juga dapat terjadi akibat penyakit fisik yang dialami pasien. Kerusakan sistem limbik menimbulkan beberapa gejala klinik seperti hambatan emosi dan perubahan kepribadian (Kaplan, dkk., 2005). Selain itu adanya ketidakseimbangan zat kimiawi dalam otak (neurotransmiter) seperti serotonin, norepineprin, dopamin dan asetilkolin juga dapat menyebabkan terjadinya perilaku harga diri rendah (Copel, 2007). Perilaku ini tampak jelas pada pasien harga diri rendah, dimana pada otak terjadi ketidakseimbangan neurotransmiter yaitu penurunan kadar serotonin yang akan menyebabkan gangguan kognitif yang dapat memunculkan distorsi kognitif atau pikiran negatif tentang diri sendiri. Selain itu, dapat juga terjadi penurunan semangat untuk melakukan aktivitas dimana kedua hal tersebut dapat terlihat pada pasien dengan harga diri rendah situasional.
.
b. Faktor psikologis
Harga diri seseorang dapat berkembang kearah positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh respon orang lain terhadap individu dan bagaimana individu tersebut mempersepsikan respon-respon tersebut (Driever, 1976 dalam Townsend, 2009). Menurut Stuart (2009) faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orangtua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang memiliki tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis dan kehilangan.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemungkinan menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan ( Lambert & Lambert, 1985 dalam Viedebeck, 2008 ). Respon kehilangan dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya.
Pasien dengan penyakit fisik biasanya mengalami kehilangan terkait dengan kehilangan aspek diri (biopsikososial) yang disebabkan karena kehilangan fungsi tubuh (biologis) yang berakibat pada kehilangan peran sosial (pekerjaan, kedudukan). Sehingga jika pasien tidak mampu beradaptasi terhadap proses kehilangan ini akan mengakibatkan munculnya masalah psikososial yaitu depresi. Dimana salah satu diagnosa keperawatan dari diagnosa medis depresi ini adalah harga diri rendah situasional maupun kronis, tergantung dari waktu dan lamanya individu tersebut mengalaminya.
Respon individu yang sedang mengalami kehilangan akan mengalami proses berduka. Dengan memahami fenomena kehilangan yang pasien alami, perawat dapat meningkatkan ekspresi dan bersimpati atas masalah
emosional dan masalah penyakit fisik sehingga dapat mendukung proses berduka tersebut. berduka Berdasarkan hal tersebut maka dapat digambarkan rentang respon berduka terhadap kehilangan.
Fs.Marah Fs.Depresi
:---:---:---:---:
Fs. Pengingkaran Fs.Tawar menerima
Gambar 2.1 Rentang Respon individu
terhadap kehilangan ( Kubler-Rose, 1969 dalam Viedebeck 2008) Rentang respon berduka terhadap kehilangan terdiri dari:
1. Fase Pengingkaran
Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan itu benar terjadi, dengan mengatakan “Tidak, saya tidak percaya bahwa itu terjadi, itu tidak mungkin”. Bagi individu atau keluarga yang di diagnose memiliki penyakit fisik atau terminal, akan terus menerus mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada fase ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berakhir dalam waktu beberapa menit atau beberapa tahun.
2. Fase Marah
Fase ini dimulai dengan timbulnya kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan. Individu menunjukkan rasa marah yang meningkat yang sering diproyeksikan kepada orang lain atau pada dirinya sendiri. Tidak jarang pula dia menunjukkan prilaku agresif, bicara kasar, menolak pengobatan dan menuduh dokter atau perawat tidak becus. Respon fisik yang sering terjadi antara lain muka merah, nadi cepat, gelisah, susah
3. Fase Tawar Menawar
Apabila individu telah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara inensif, maka ia akan maju ke fase tawar menawar dengan memohan kemurahan Tuhan. Respon ini sering dinyatakan dengan kata-kata “kalau saja kejadian ini bisa ditunda , maka saya akan sering berdoa”. Apabila proses ini oleh keluarga maka pernyataan sebagai yang sering diucapkan adalah “kalau saja saya yang sakit, bukan anak saya”.
4. Fase Depresi
Individu pada fase ini sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang sebagai pasien yang sangat penurut; tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain menolak makan , susah tidur, letih, dorongan libido menurun.
5. Fase Penerimaan
Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kapada obyek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya.
Gambaran tentang obyek atau orang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatiannya akan beralih kepada obyek yang baru. Fase ini biasanya dinyatakan dengan kata-kata seperti; “Saya betul-betul menyayangi baju saya yang hilang, tapi baju saya yang baru manis juga” atau “ Apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”.
Apabila individu dapat memulai fase tersebut dan menerima dengan perasaan damai, maka individu tersebut akan dapat mengakhiri proses berduka serta mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas. Akan tetapi apabila individu tersebut tidak dapat masuk ke fase damai atau menerima maka ini akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya. Apabila tahapan respon ini dapat diatasi sampai
dengan pasien bisa menerima kehilangan atau tahap penerimaan maka disfungsi berduka yang berkepanjangan mungkin tidak terjadi. Lamanya proses berduka sangat individual dan dapat terjadi sampai beberapa tahun lamanya. Fase akut berduka biasanya 6 – 8 minggu, dan penyelesaian respons kehilangan atau berduka secara menyeluruh memerlukan waktu 1 bulan sampai 3 tahun.
c. Faktor sosial budaya
Faktor predisposisi sosial budaya meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, status sosial, pengalaman sosial, latar belakang budaya, agama dan keyakinan, serta kondisi politik (Stuart & Laraia, 2005). Stuart (2009) menyatakan faktor lingkungan sosial dan budaya juga memegang peran dalam perkembangan harga diri seseorang. Individu yang mengalami harga diri rendah disebabkan karena ketidaksesuaian atau gangguan dalam penampilan peran, seperti tuntutan peran dalam pekerjaan, konflik peran, kondisi ekonomi dan sebagainya. Menurut Townsend (2009) harapan peran budaya, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan dalam struktur sosial juga merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga diri. Pendidikan dapat dijadikan tolak ukur kemampuan seseorang berinteraksi dengan orang lain secara efektif (Stuart & Laraia, 2005). Faktor pendidikan mempengaruhi kemampuan seseorang menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Berdasarkan uraian diatas, maka pasien dengan penyakit fisik dapat memiliki kemungkinan faktor-faktor predisposisi tersebut. Faktor biologis, yaitu karena perubahan kondisi fisik akibat penyakit fisik, faktor psikologis dapat berupa kegagalan atau kehilangan yang dialami setelah adanya kelemahan fisik yang berupa ketidakmampuan melakukan pekerjaan seperti sebelumnya dan ketergantungan pada orang lain akibat perubahan kondisi fisiknya serta perubahan peran sosial. Faktor sosial budaya dapat berupa
perubahan penampilan peran, ketidakmampuan menjalankan peran, dan konflik peran dimana kesemuanya terjadi akibat dirawat (hospitalisasi), pengaruh sosial ekonomi khususnya masalah finansial dalam program pengobatan, juga dapat mengakibatkan pasien mengalami harga diri rendah.
2.1.2.2 Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah stimulus (sressor) yang merubah atau menekan sehingga memunculkan gejala saat ini (Stuart & Laraia, 2005). Faktor ini meliputi empat hal yaitu sifat stresor, asal stresor, waktu stresor yang dialami, dan banyaknya stresor yang dihadapi oleh seseorang. Stresor pada orang yang dirawat didapat dari proses penyakit dan hospitalisasi (Cohen, 2000 dalam Stuart, 2009). Stresor presipitasi ini bisa saja telah dialami dalam waktu yang lama oleh pasien sehingga pasien kehilangan kemampuan untuk mengatasi faktor pencetus tersebut.
Stuart (2009) menyatakan bahwa stresor presipitasi atau faktor pencetus terjadinya harga diri rendah adalah trauma, seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, dan ketegangan peran berhubungan dengan atau posisi yang diharapkan, dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada 3 jenis transisi peran yang dapat menyebabkan ketegangan peran (Stuart, 2009), yaitu transisi peran perkembangan, transisi peran situasi, dan transisi peran sehat – sakit. Faktor pencetus terjadinya harga diri rendah pada pasien dengan penyakit fisik adalah karena ketegangan peran, yaitu transisi peran sehat sakit yang diakibatkan pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit yang dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh serta perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur medis dan keperawatan, sehingga
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan faktor presipitasi munculnya harga diri rendah situasional pada pasien dengan penyakit fisik dapat perubahan kondisi tubuh akibat penyakit yang diderita dan prosedur medis yang dialami pasien sehubungan dengan penyakitnya yang ini merupakan bagian dari stresor biologis. Untuk stresor sosial yaitu karena hospitalisasi yang dapat mengakibatkan hubungan pasien dengan lingkungan menjadi terganggu selain itu biaya yang harus ditanggung pasien selama dirawat di rumah sakit, gangguan peran sedangkan stresor psikologis yang dapat muncul yaitu kesedihan ataupun kecemasan pasien menghadapi proses penyakit dan hubungan sosial yang terganggu. Stresor-stresor tersebut membuat pasien merespon yang akhirnya memunculkan masalah keperawatan harga diri rendah.
2.1.2.3 Penilaian Stressor
Penilaian terhadap stresor merupakan respon individu terhadap stresor presipitasi yang dihadapinya. Respon yang dilakukan individu dapat berupa respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku maupun sosial (Stuart, 2009). Setelah adanya stresor yang menjadi faktor presipitasi, individu akan melakukan penilaian dan mempersepsikan stresor sebagai suatu hal yang negatif yang dapat menyebabkan timbulnya harga diri rendah.
Menurut Stuart (2009) perilaku yang tampak pada pasien dengan harga diri rendah adalah mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, perilaku destruktif yang diarahkan pada orang lain maupun diri sendiri, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemampuan personal, pengurungan diri/menarik diri secara sosial, penyalahgunaan zat, menarik diri dari realitas dan khawatir.
Tanda dan gejala harga diri rendah menurut Townsend (2009); Herdman (2012); dan Stuart dan Laraia (2005) dapat diketahui dari respon individu dalam menghadapi stresor yang meliputi respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan sosial. Berikut ini dijelaskan tanda dan gejala harga diri rendah secara rinci:
a. Respon kognitif
Penurunan neurotransmitter norepinefrin dan serotonin pada pasien dengan penyakit fisik juga mempengaruhi fungsi dari lobus frontal otak. Lobus frontal otak berfungsi untuk proses pikir seseorang (Stuart, 2009). Pada pasien yang mengalami harga diri rendah situasional, perubahan proses pikir ditunjukkan dengan adanya distorsi kognitif seperti pikiran bahwa dirinya tidak berguna, tidak berharga dan menilai diri negatif, ditolak oleh orang lain, merasa orang lain tidak bisa mengerti dirinya, merasa hubungan tidak berarti dengan orang lain, tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan dan merasa tidak memiliki tujuan hidup. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan (Stuart & Laraia, 2005) penilaian kognitif merupakan tanggapan atau pendapat pasien terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
b. Respon afektif
Peningkatan neurotransmitter asetilkolin mempengaruhi fungsi korteks serebral, sistem limbik dan basal ganglia (Fontaine, 2009). Perubahan fungsi sistem limbik menyebabkan pasien menunjukkan perubahan emosi seperti rasa malu, perasaan bersalah, sedih, bingung dan khawatir yang merupakan tanda dan gejala pasien harga diri rendah situasional. Tanda dan gejala afektif yang ditunjukkan pasien harga diri rendah meliputi merasa sedih, kurang motivasi, marah, kesal, cemas, dan ketidakberdayaan. Rasa sedih karena kehilangan terutama terhadap
sesuatu yang berarti dalam kehidupan sering kali menyebabkan seseorang menjadi takut untuk menghadapi kehilangan berikutnya. c. Respon fisiologis
Respon fisik terhadap penurunan harga diri dapat ditunjukkan yaitu penurunan energi, lemah, agitasi, penurunan libido, tidak nafsu makan dan penurunan berat badan, makan berlebihan, diare atau konstipasi, dan gangguan tidur. Ini disebabkan karena terganggunya fungsi hipothalamus. Fungsi Hipothalamus berfungsi sebagai pengatur nafsu makan, siklus tidur istirahat, mood, motivasi, dan regulasi tanda vital dari seseorang (Stuart, 2009). Hipothalamus juga menstimulasi sistem saraf simpatik dan kelenjar pituitari yang menyebabkan peningkatan denyut jantung, frekuensi pernapasan dan tekanan darah serta keluhan fisik. Semua tanda gejala tersebut tampak pada pasien harga diri rendah situasional.
d. Respon perilaku
Fungsi korteks serebral dan basal ganglia berfungsi dalam mengatur perilaku individu (Stuart, 2009). Peningkatan asetilkolin menyebabkan pasien mengalami mengalami perubahan perilaku yang ditunjukkan dengan perilaku seperti menangis, kontak mata kurang lebih banyak diam, penurunan aktivitas sehari-hari, kurang berpartisipasi dalam tindakan perawatan, mengkritik diri sendiri, merusak diri sendiri, bermusuhan dan penurunan perawatan diri/kebersihan diri.Semua tanda gejala tersebut terlihat jelas pada pasien harga diri rendah situasional. e. Respon sosial
Respon sosial seseorang akibat paparan stressor dipengaruhi bagaimana individu memandang stressor itu sendiri. Apabila individu menilai secara kognitif bahwa stressor tersebut membahayakan atau mengancam maka akan muncul perilaku dengan kewaspadaan meningkat seperti reaksi
perilaku ansietas dan harga diri rendah. Respon sosial harga diri rendah menurut Stuart dan Laraia (2005), meliputi pasif, menyalahkan diri dan menarik diri.
2.1.2.4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah upaya sadar dari individu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi akibat paparan stressor. Untuk menetralisasi harga diri rendah seseorang mengembangkan pola koping. Penggunaan mekanisme koping dipengaruhi oleh tingkat stres, sumber stres, serta kemampuan seseorang dalam menghadapi realitas hidup, hubungan interpersonal, dan kesuksesan yang ditampilkan (Stuart & Laraia, 2005). Pada harga diri rendah Mekanisme koping yang biasa ditampilkan oleh pasien dengan masalah harga diri rendah adalah isolasi, regresi dan represi (Stuart & Laraia 2005).
Respon pasien terhadap penyakit dan terapi dapat dipengaruhi oleh faktor personal, interpersonal dan budaya (Viedebeck, 2008). Mekanisme koping individu juga tergantung dari faktor tersebut. 1) faktor personal, termasuk usia, kesehatan fisik, keefektifan diri, Hardiness, Resilience dan
Resourcefullness serta spiritualitas. Usia individu akan mempengaruhi
bagaimana cara individu melakukan koping terhadap penyakit (Viedebeck, 2008). Usia dan perkembangan individu mempengaruhi cara individu tersebut mengekspresikan penyakitnya, jika individu tidak mampu beradaptasi terhadap respon penyakitnya dapat menimbulkan masalah psikososial pada diri individu tersebut seperti harga diri rendah, isolasi, ketidakberdayaan dan lain-lain.
Kesehatan fisik berpengaruh terhadap cara individu berespon terhadap
stres. Semakin sehat individu, semakin baik koping nya terhadap stres atau penyakit. Pada pasien dengan penyakit fisik akan mengalami status nutrisi yang buruk, kurang tidur sehingga dapat menghambat kemampuan
individu melakukan koping. Jika koping individu buruk maka akan jatuh kepada masalah psikososial seperti harga diri rendah, isolasi, putus asa dan lain-lain.
Faktor lain yang mempengaruhi yaitu keefektifan diri, yang merupakan suatu keyakinan bahwa kemampuan dan upaya individu mempengaruhi peristiwa yang terjadi dalam hidup (Bandura, 1997 dalam Videbeck, 2008). Individu yang yakin bahwa tindakannya akan membuat suatu pengalaman dan perbedaan cenderung untuk mengambil tindakan. Individu yang memiliki keefektifan diri yang tinggi, mampu menetapkan tujuan pribadi, memiliki motivasi dan semangat akan melakukan koping secara efektif terhadap stres. Sebaliknya individu yang memiliki keefektifan diri yang rendah akan memperlihatkan semangat yang menurun, tidak memiliki motivasi, tidak dapat mengambil keputusan, ansietas, tidak percaya diri, depresi dan ini mengarahkan kepada harga diri rendah.
Bandura (1997, dalam Viedebeck, 2008) menyatakan bahwa untuk dapat mengatasi hal tersebut diatas, maka upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan keterampilan pasien daripada berfokus pada penyelesaian masalah. Cara yang dapat dilakukan antara lain: memiliki kemampuan dalam mengatasi hambatan, mengajak individu untuk memiliki keyakinan pada diri sendiri, membangun kekuatan fisik dengan tidak berfokus terhadap sesuatu yang negatif tetapi memandang secara positif, untuk dapat mencapai hal demikian sangat efektif dan cocok terapi kognitif diberikan.
Hardiness yaitu kemampuan individu untuk tahan terhadap penyakit
ketika mengalami stres (Viedebeck, 2008). 3 (tiga) komponen dari
Hardiness yaitu komitmen, kontrol dan tantangan. Tantangan disini
hal yang menguntungkan, bukan peristiwa yang menyebabkan stres. Pada pasien dengan penyakit fisik beresiko untuk mengalami harga diri rendah situasional dan masalah psikososial karena pasien beranggapan bahwa penyakit merupakan sumber stres baginya, penyakit akan membuat perubahan pada dirinya sehingga Hardiness seseorang tersebut menjadi rendah.
Resilience dan Resourcefullnes ini berhubungan erat dalam membantu
individu melakukan koping terhadap stres dan meminimalkan efek penyakit. Resilience didefinisikan sebagai memiliki respon yang sehat terhadap lingkungan yang menimbulkan stres atau situasi yang beresiko (Hill, 1998 dalam Viedebeck, 2008). Konsep ini membantu dalam memahami alasan seseorang bereaksi terhadap peristiwa yang sedikit menimbulkan disertai gejala ansietas yang berat, sementara individu yang lain mungkin tidak mengalami distres walaupun dihadapkan dengan gangguan yang besar atau peristiwa yang menimbulkan stres.
Berdasarkan hal tersebut seseorang dapat mengalami masalah psikososial tergantung dari kekuatan resilience nya. Di rumah sakit umum lingkungan dapat menjadi faktor pencetus dari masalah psikososial itu sendiri sehingga seseorang jatuh kepada harga diri rendah situasional misalnya lingkungan yang tidak kondusif dan terapeutik dan penggunaan komunikasi yang tidak terapeutik.
Resourcefullnes adalah menggunakan kemampuan penyelesaian masalah
dan meyakini bahwa individu dapat melakukan koping terhadap situasi yang tidak menguntungkan atau situasi baru. Resourcefullnes diperoleh melalui interaksi dengan orang lain dan terlihat dalam kemampuan individu melakukan aktivitas sehari-hari. Resourcefullnes dapat membantu mencegah depresi (Warheit, 1995 dalam Viedebeck 2008).
Studi menunjukkan bahwa pasien yang mengalami depresi mampu menggunakan Resourcefullnes sebagai cara koping terhadap lingkungan yang menimbulkan stres dan perasaan depresi yang menyertai (Zauszniewski, 1995 dalam Viedebeck, 2008). Contoh dari
Resourcefullnes yaitu perilaku mencari bantuan kesehatan, mempelajari
perawatan diri, memantau pikiran dan perasaan terhadap situasi yang menimbulkan stres dan mengambil tindakan untuk mengatasi lingkungan yang menimbulkan stres. Pada pasien penyakit fisik yang mengalami harga diri rendah situasional, pasien akan pasrah dengan kondisinya sehingga perilaku pasien sebaliknya yaitu tidak berdaya, sulit mengambil keputusan, menangis, malu karena tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan karena kondisi fisiknya sehingga tidak memiliki
resourcefullnes.
Spiritualitas mencakup keberadaan individu dan keyakinannya tentang makna hidup dan tujuan hidup (Viedebeck, 2008). Penelitian telah menunjukkan bahwa spiritualitas merupakan bantuan yang tulus bagi individu yang mengalami masalah penyakit fisik, psikososial maupun kejiwaan, yang berperan sebagai media koping utama dan merupakan sumber makna dan koherensi dalam hidup mereka atau membantu dalam menyediakan jaringan sosial (Sullivan, 1993 dalam Viedebeck, 2008). Karena keyakinan dan spiritualitas membantu pasien dalam melakukan koping terhadap stres dan penyakit, perawat harus sangat peka terhadap keyakinan dan praktik spiritual pasien. Dengan menggabungkan praktik tersebut dalam perawatan pasien dapat membantu pasien melakukan koping terhadap penyakit dan menemukan makna serta tujuan dalam situasi tersebut.
Faktor interpersonal yang mempengaruhi respon pasien terhadap penyakit yaitu jaringan sosial, dukungan sosial dan dukungan keluarga (Viedebeck, 2008). Jaringan sosial merupakan kelompok individu yang dikenal oleh