• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN SPESIALIS JIWA

PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL

DENGAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY

DI RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR

Fathra Annis Nauli

NPM. 0906620575

PENDIDIKAN SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

(2)

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN SPESIALIS JIWA

PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL

DENGAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY

DI RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Spesialis Keperawatan Jiwa (Sp.Kep.J)

Fathra Annis Nauli

NPM. 0906620575

PENDIDIKAN SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

(3)
(4)
(5)
(6)

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya, sehingga Karya Ilmiah Akhir dengan judul “Manajeman Asuhan Keperawatan Spesialis Jiwa Pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Dengan Pendekatan Model Adaptasi Roy Di RSUP Persahabatan Jakarta” dapat terselesaikan dengan baik

Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada yang terhormat : 1. Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia beserta seluruh

jajarannya, yang telah memberikan kesempatan kembali mengikuti studi di Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

2. Ibu dr. Priyanti Z. Soepandi, Sp.P(K), selaku Direktur utama RSUP Persahabatan Jakarta yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengunakan lahan sebagai tempat praktek.

3. Ibu Sri Purwaningsih, SKp., M.Kes, selaku kepala bidang keperawatan RSUP Persahabatan yang telah banyak membantu dan memfasilitasi Penulis dalam melaksanakan praktek di RSUP Persahabatan.

4. Ibu Prof. Achir Yani S. Hamid, D, N,Sc., selaku pembimbing Karya Tulis Ilmiah yang telah membimbing penulis dengan meluangkan waktu, sabar, bijaksana memberikan masukan serta motivasi dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

5. Ibu Ice Yulia Wardani, SKp., M.Kep, Sp.Kep. J sebagai co-pembimbing yang membimbing penulis dengan sabar, bijaksana dan juga sangat cermat memberikan masukan serta motivasi dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

6. Ibu Mustikasari, S.Kp, MARS selaku Penguji I yang telah memberikan masukan, arahan selama proses sidang Karya Ilmiah Akhir ini.

(7)

spesialis ini.

8. Rekan-rekan angkatan V Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang selalu bersama dalam suka dan duka serta telah bekerjasama dan memberikan semangat selama pelaksanaan praktek keperawatan serta dukungan selama penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

9. Seluruh Staf dan Jajaran di ruang Cempaka Atas dan Bedah kelas yang telah banyak membantu dan memfasilitasi Penulis selam praktek di RSUP Persahabatan.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini

Semoga amal dan budi baiknya mendapat pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Akhirnya penulis mengharapkan karya tulis ilmiah ini dapat memberikan tambahan atau sebagai bahan pertimbangan untuk tulisan ilmiah lainnya. Terima kasih.

Depok, Juni 2012

(8)
(9)

Nama : Fathra Annis Nauli Program Studi : Ilmu Keperawatan

Judul : Manajemen asuhan keperawatan spesialis jiwa pada pasien harga diri rendah situasional dengan pendekatan model adaptasi Roy di RSUP persahabatan Jakarta

Harga diri rendah situasional adalah Evaluasi diri atau persepsi diri negatif tentang harga diri sebagai respon terhadap situasi saat ini (Herdman, 2012). Terapi kognitif adalah suatu proses mengenali atau mengidentifikasi pikiran – pikiran yang negative dan merusak yang dapat mendorong ke arah rendahnya harga diri dan depresi yang menetap (Granfa, 2007). Psikoedukasi keluarga merupakan terapi yang memberikan informasi, pengetahuan dan mengajarkan keluarga tentang bagaimana manajemen stres keluarga yang mengalami distress sehingga keluarga memahami dan menggunakan koping dalam penyelesaian masalah yang terjadi di keluarga (Goldenberg, I dan Goldenberg, H, 2004). Tujuan penulisan karya ilmiah akhir ini adalah menggambarkan hasil manajemen kasus harga diri rendah situasional dan kemampuan pasien dan keluarga (care giver) dalam mengatasi harga diri rendah situasional dengan penerapan terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga dengan pendekatan model adaptasi Roy. Penerapan terapi kognitif pada pasien dan psikoedukasi pada care giver dilakukan pada 33 orang pasien di ruang Cempaka Atas dan Bedah kelas RSUP Persahabatan pada kurun waktu 20 Februari – 20 April 2012. Hasil terapi kognitif sangat efektif pada 33 pasien menunjukkan mampu mengatasi pikiran negatif dan peningkatan kemampuan dalam mengatasi harga diri rendah situasional. Psikoedukasi keluarga juga menunjukkan efektifitasnya dimana sebanyak 33care giver mampu merawat pasien dengan harga diri rendah situasional, manajemen ansietas dan manajemen beban pada keluarga. Berdasarkan hasil di atas perlu direkomendasikan bahwa terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga dapat dijadikan standar terapi spesialis keperawatan jiwa untuk pasien dan care giver dengan harga diri rendah situasional dan perlu disosialisasikan pada seluruh tatanan pelayanan kesehatan.

Kata kunci : terapi kognitif, psikoedukasi keluarga, harga diri rendah situasional, model adaptasi Roy

(10)

Name : Fathra Annis Nauli Study Program : Nursing Science

Title : Management of nursing care in a specialist mental health for patients situational low self-esteem with Roy adaptation

model approach at Persahabatan Hospital, Jakarta

Situational low self-esteem is development of a negative perception of self-worth in response to a current situation (Herdman, 2012). Cognitive therapy is a process to recognize or identify the mind negative and destructive thoughts that can lead to low self-esteem and depression that permanent (Granfa, 2007). Family psychoeducation is a therapy that provides information, knowledge and teach families about how families experiencing stress management so that families understand the distress and the use of coping in the resolution of problems that occur in families (Goldenberg, I, and Goldenberg, H, 2004). The goal of this scientific paper is to describe the results of case management situational low self esteem and the ability of the patient and the family to overcome situational low self esteem with the application of cognitive therapy and family psychoeducation by using Roy’s adaptation model. cognitive therapy and family psychoeducation is done for 33 patients along with general therapy in Cempaka atas and Bedah class room at range of time 20 February - 20 April 2012. The results of cognitive therapy is effective in 33 patients showed able to overcome negative thoughts and increased ability to cope with situational low self esteem. Family psychoeducation also show effectivelly as much 33 care givers able to caring patients with situational low self esteem, anxiety management and management burden on the family. Based on the above results need to be recommended that cognitive therapy and family psychoeducation can be used as standard therapy of nursing specialist for patient and care giver with situational low self esteem and require to be socialized at all of health service.

Key Words :

(11)

x

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 10

1.3 Manfaat ... 11

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1 Konsep Harga Diri Rendah... 12

2.1.1 Definisi ... 12

2.1.2 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah Situasional ... 13

2.1.3 Diagnosa Keperawatan.……... 28

2.1.4 Intervensi Keperawatan pada Harga Diri Rendah Situasional………... 29

2.2 Konsep Model Adaptasi Roy……….……….. 37

2.2.1 Konsep Utama Model Adaptasi Roy... 37

2.2.2 Empat Elemen Penting Model Adaptasi Roy……... 40

2.2.3 Proses Keperawatan Menurut Model Adaptasi Roy.……... 43

2.3 Aplikasi Model Adaptasi Roy Pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional ………... 44

3. PROFIL RUMAH SAKIT RSUP PERSAHABATAN…………... 48

3.1 Gambaran Umum RSUP Persahabatan………... 48

3.2 Manajemen Praktek Keperawatan Profesional ... 53

Di RSUP Persahabatan... 4. MANAJEMEN ASUHAN DAN PELAYANAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL... 63

4.1 Manajemen Asuhan Keperawatan Pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional... 63

4.1.1 Pengkajian ... 64

(12)

xi

4.1.5 Kendala dan Rencana Tindak Lanjut ... 85

4.2 Manajemen Pelayanan Keperawatan Jiwa Di RSUP Persahabatan... 86 4.2.1 Pengkajian ………. 86 4.2.2 Perencanaan ……….. 87 4.2.3 Pelaksanaan ………. 87 4.2.5 Evaluasi ………. 88 5. PEMBAHASAN ... 89

5.1 Karakteristik Pasien Dengan Harga Diri Rendah Situasional ………… 89

5.1.1 Usia ... 89

5.1.2 Jenis Kelamin ………. 90

5.1.3 Pendidikan ... 91

5.1.4 Pekerjaan ………... 92

5.1.5 Perkawinan... 93

5.1.6 Lama Rawat dan Frekuensi Masuk RS... 94

5.2 Kondisi Pasien Harga Diri Rendah Situasional……….. 96

5.3 Efektifitas Manajemen Asuhan Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah Situasional Yang Diberikan Terapi Kognitif dan Psikoedukasi Keluarga dengan Menggunakan Model Adaptasi Roy ……….. 108

5.3 Implikasi Terapi Kognitif dan Psikoedukasi Keluarga …... 113

6. KESIMPULAN DAN SARAN...……… 117

6.1 Kesimpulan ... 117

6.2 Saran ... 119 DAFTAR PUSTAKA

(13)

xii

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Pasien dengan Harga Diri Rendah

Situasional Berdasarkan Usia, Lama rawat dan Frekuensi Masuk RS di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………... 64 Tabel 4.2 Karakteristik Pasien dengan Harga Diri Rendah Situasional

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………... 65 Tabel 4.3 Faktor Predisposisi Pasien Harga Diri Rendah

Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas

RSUP Persahabatan Periode 20 Februari – 20 April 2012 ……….. 66 Tabel 4.4 Distribusi Faktor Presipitasi Pasien Harga Diri Rendah

Situasional Berdasarkan Waktu dan Jumlah Stresor

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012………. 67 Tabel 4.5 Faktor Presipitasi Pasien Harga Diri Rendah Situasional

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ……… 68 Tabel 4.6 Penilaian Stresor pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………. 69 Tabel 4.7 Sumber Koping pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ……….. ………... 70 Tabel 4.8 Diagnosa Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah Situasional

di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ……….. 71 Tabel 4.9 Distribusi Karakteristik Keluarga (care giver) Berdasarkan Usia di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………. 73 Tabel 4.10 Karakteristik Keluarga (care giver) Pasien Harga Diri Rendah

Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas

(14)

xiii

Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………. 74 Tabel 4.12 Rencana Tindakan Keperawatan Sesuai Standar Asuhan

Keperawatan (SAK) ……… 75 Tabel 4.13 Tindakan Keperawatan Generalis Pasien Harga Diri Rendah

Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas

RSUP Persahabatan Periode 20 Februari – 20 April 2012 …………76

Tabel 4.14 Tindakan Keperawatan Generalis Keluarga Pasien Harga Diri Rendah Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas

RSUP Persahabatan Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………… 76

Tabel 4.15 Pelaksanaan Terapi Kognitif pada Pasien Harga Diri

Rendah Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas

RSUP Persahabatan Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………… 77

Tabel 4.16 Pelaksanaan Psikoedukasi Keluarga pada Keluarga Harga Diri Rendah Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan Periode

20 Februari – 20 April 2012 ………... 78

Tabel 4.17 Jumlah Pasien dan Keluarga Berdasarkan Hasil Evaluasi Pelaksanaan Terapi Kognitif dan Psikoedukasi Keluarga di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………... 81

Tabel 4.18 Evaluasi Pemberian Terapi Kognitif dan Psikoedukasi Keluarga Terhadap Penilaian Stresor Pasien Harga Diri Rendah Situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

Periode 20 Februari – 20 April 2012 ………... 82

Tabel 4.19 Evaluasi Kemampuan Kognitif dan Psikomotor Keluarga Setelah diberikan Psikoedukasi Keluarga di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan

(15)

xiv

Gambar 2.1 Rentang respon individu terhadap kehilangan ... 10 Gambar 2.2 Model adaptasi Roy... ………….. 40 Gambar 2.3 Kerangka konsep penerapan manajemen asuhan keperawatan pada pasien harga diri rendah situasional dengan

menggunakan pendekatan Model Adaptasi Roy... 47 Gambar 3.1 Struktur organisasi bidang pelayanan keperawatan

(16)

xv

Lampiran 1 Rekapitulasi Hasil Pengkajian Karaktersitik Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 2 Rekapitulasi Hasil Pengkajian Karaktersitik Keluarga Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 3 Rekapitulasi Distribusi Hasil Pelaksanaan Terapi Spesialis Pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 4 Rekapitulasi Distribusi Diagnosa Keperawatan dan Diagnosa Medis Pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode

20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 5 Rekapitulasi Hasil Pengkajian Faktor Predisposisi dan Presipitasi pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 6 Rekapitulasi Hasil Pengkajian Penilaian Terhadap Stresor

pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 7 Rekapitulasi Hasil Pengkajian Sumber Koping pada Pasien Harga Diri Rendah Situasional Periode 20 Februari – 20 April 2012

Lampiran 8 Modul Terapi Kognitif

(17)

1.1 Latar Belakang

Salah satu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan disamping pendidikan dan ekonomi. Kesehatan merupakan kondisi yang sangat diharapkan oleh seluruh manusia. Sesuai dengan Undang-Undang tentang kesehatan nomor 36 tahun 2009 pasal 1 ayat 1 menjelaskan definisi kesehatan yaitu keadaan keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.. Hal ini berarti kesehatan bersifat holistik (menyeluruh), individu dikatakan sehat apabila seluruh komponen dalam diri individu tersebut tidak mengalami gangguan baik psikis, psikologis maupun sosial.

.

Kesehatan jiwa merupakan bagian integral dari kesehatan yang tidak dapat dipisahkan. Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, sosial dan perilaku (Videbeck, 2008). Individu yang sehat jiwa memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap stressor lingkungan internal atau eksternal, yang dipengaruhi oleh pikiran, perasaan dan perilaku sesuai dengan usia dan sejalan dengan norma-norma lokal dan budaya (Townsend, 2009). Dengan demikian kondisi sehat jiwa sangat dibutuhkan oleh setiap orang untuk menghasilkan manusia berkualitas.

Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar Departemen Kesehatan tahun 2007 diketahui bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional atau gangguan jiwa ringan pada penduduk umur > 15 tahun adalah 11,6%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk umur > 15 tahun di atas prevalensi nasional (14%), diantaranya Jawa Barat adalah propinsi yang mempunyai prevalensi tertinggi yaitu 20,0% dan DKI Jakarta menempati peringkat 5 (lima) besar yaitu sebesar 14,1%. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan jiwa ringan (masalah

(18)

psikososial) di DKI Jakarta merupakan masalah kesehatan yang serius dan harus mendapatkan penanganan yang tepat melalui program pelayanan masalah psikososial di tatanan rumah sakit umum maupun Puskesmas.

Untuk prevalensi penyakit fisik berdasarkan data riset kesehatan dasar departemen kesehatan tahun 2007 diketahui prevalensi nasional untuk penyakit Hipertensi sebesar 7,2%, Stroke 8,3%, Jantung 7,2%, Diabetes Melitus 1,1% dan Tumor 4,3%. Untuk wilayah DKI Jakarta menunjukkan angka yang lebih besar dari angka prevalensi nasional yaitu Hipertensi 9,5%, Stroke 12,5%, Jantung 8,1%, Diabetes Melitus 2,6% dan Tumor 7,4%. Data tersebut menunjukkan bahwa prevalensi penyakit fisik di wilayah DKI Jakarta cukup besar, hal ini dapat menunjukkan kemungkinan bahwa masalah psikososial akibat penyakit fisik masyarakat DKI Jakarta juga semakin banyak. Sehingga sangat dibutuhkan intervensi psikososial terhadap pasien disamping intervensi berupa masalah fisik.

Penelitian tentang hubungan depresi (gangguan mental emosional) dan gejala somatik yang dilakukan Simon (1999 dalam Granfa, 2007), menemukan sebanyak 69 persen pasien dengan masalah depresi mengeluhkan tentang penyakit fisik. Penyakit – penyakit fisik bersifat kronis yang sering diderita Pasien adalah Diabetes Melitus (DM), Hipertensi, Kanker, Tuberculosis dan Stroke seringkali mengakibatkan munculnya masalah psikososial yaitu ansietas, gangguan citra tubuh, harga diri rendah, ketidakberdayaan dan keputusasaan (Keliat, 2007). Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa terdapat keterkaitan antara penyakit fisik dengan masalah psikososial sehingga patut menjadi perhatian bagi perawat di RS umum untuk melakukan intervensi keperawatan yang bersifat holistik kepada pasien tersebut.

Pasien yang mengalami penyakit fisik akan tampak penurunan terhadap kondisi fisik, ketergantungan terhadap tinadakan medis yang mengakibatkan perubahan dalam kehidupan pasien. Sebagai contoh pada pasien yang

(19)

memiliki penyakit diabetes melitus akan mengalami ketidakseimbangan insulin yang menyebabkan tingginya kadar glukosa dalam darah yang akan menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti gangguan pada penglihatan, gangguan pada ginjal, impotensi, stroke, kerusakan jaringan pada kaki, kerusakan jaringan pada bagian tubuh lainnya, dan penyakit jantung (Smeltzer, dkk., 2008). Komplikasi yang dialami oleh pasien Diabetes mellitus akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan hubungan pasien dengan orang lain sehingga penyakit diabetes melitus tidak hanya menyebabkan masalah fisik tetapi juga masalah psikososial.

Selain itu pada pasien kanker payudara yang mengalami tindakan pengobatan berupa pengangkatan organ yaitu mastektomi akan mengalami perubahan pada gambaran diri atau citra tubuh yang dipersepsikan oleh pasien lebih besar dibandingkan oleh pasangan mereka (Hamid, 2002). Kondisi demikian dapat berpengaruh pada keseimbangan fisik, psikologis dan sosial, sehingga pasien akan sangat terganggu terhadap rasa percaya dirinya yang disebabkan oleh fungsi diri, gambaran diri, citra tubuh dan mengarah kepada penurunan harga diri.

Masalah psikososial yang dialami pasien dengan penyakit fisik selain disebabkan oleh manifestasi klinis dan komplikasi dari penyakitnya juga disebabkan oleh dampak dari diagnosis dan terapi yang mungkin dapat mengakibatkan perubahan gaya hidup pada pasien. Hal ini mempengaruhi kesehatan psikososial pasien yang dihubungkan dengan adanya ketakutan, depresi, kecemasan, ketergantungan,dan perasaan menjadi seseorang yang berbeda (Kyngas & Barlow, 1995 dalam Cavusaglu, 2001). Masalah psikososial yang terjadi pada pasien dengan penyakit fisik akan mempengaruhi kondisi fisik pasien sehingga dapat membuat penyakit fisik pasien bertambah parah, karena itu perlu perhatian khusus dari tenaga kesehatan terhadap kondisi psikososial pasien dengan penyakit fisik.

(20)

Pada unit pelayanan umum di rumah sakit tenaga kesehatan jarang memperhatikan aspek psikologis dan sosial para pasien dengan penyakit fisik. Hasil pengalaman Penulis selama melakukan praktek residensi di rumah sakit umum didapatkan data bahwa penanganan pasien dengan penyakit fisik di rumah sakit lebih berfokus pada aspek fisik. Aspek psikososial pada pasien dengan penyakit fisik di rumah sakit belum tergali dan diintervensi dengan baik akibatnya dapat berdampak pada masalah psikososial pada pasien yang dapat berpengaruh pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi dan mengakibatkan perburukan atau penurunan kondisi sakit pasien.

Untuk mencapai kualitas pelayanan kepada pasien yang bersifat holistik diperlukan suatu proses asuhan keperawatan yang berlangsung secara sistematis dan berkesinambungan dengan menggunakan manajemen pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit umum atau Consultation Liaison Mental Health Nursing (CLMHN). Turnmore (1997, dalam Hardman, 1999) menjelaskan bahwa Liaison Nurse melibatkan penerapan keahlian dan pengetahuan perawat untuk merawat pasien dengan penyakit fisik dan keluhan psikologis di rumah sakit umum. Untuk itu Liaison nurse harus memiliki kecakapan dan kemampuan setara dengan perawat spesialis. Liaison nurse sebaiknya harus ada di setiap rumah sakit umum dan bekerja sama dengan perawat generalis dalam merawat pasien dengan penyakit fisik.

Pengkajian keperawatan yang dilakukan oleh Liaison nurse berdasarkan atas konsep stres adaptasi. Pasien dengan penyakit fisik yang dirawat di rumah sakit umum akan mengalami stres karena ketidakmampuan dalam menghadapi stressor yang berupa penyakit yang dialami, tindakan pengobatan dan lingkungan yang baru. Untuk dapat beradaptasi pasien harus memiliki kemampuan dalam menghadapi stressor yang dipengaruhi oleh kondisi pasien sebelum mengalami stresor (faktor predisposisi) dan kemampuan pasien dalam memecahkan masalah (sumber koping). Kedua hal ini menentukan mekanisme koping yang dipakai oleh pasien (Stuart, 2009).

(21)

Hasil dari pengkajian tersebut menjadi dasar Liaison nurse untuk menegakkan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan psikososial yang dapat ditegakkan pada pasien dengan penyakit fisik antara lain ansietas, gangguan citra tubuh, harga diri rendah situasional, ketidakberdayaan dan keputusasaan (Stuart, 2009). Tanda gejala yang tampak pada pasien dengan diagnosa tersebut antara lain perasaan tidak berharga, tidak berdaya, malu dengan kondisi fisik saat ini, sehingga mengakibatkan munculnya persepsi negatif tentang harga dirinya sebagai respon terhadap situasi/ kondisi penyakitnya saat ini. Berdasarkan definisi tersebut maka diagnosa keperawatan yang tepat dengan gejala tersebut adalah harga diri rendah situasional (Herdman, 2012).

Penelitian tentang pasien penyakit fisik yang mengalami masalah psikososial harga diri rendah dilakukan oleh Rochdiat (2011) yang menyatakan bahwa penderita diabetes mellitus yang menjalani rawat inap menunjukkan tanda dan gejala harga diri rendah Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasien dengan penyakit fisik dapat ditegakkan diagnosa psikososial yaitu harga diri rendah.

Bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan seorang perawat dalam mengatasi diagnosa keperawatan harga diri rendah dimulai dengan intervensi keperawatan generalis sampai dengan spesialis yang ditujukan untuk individu, keluarga dan kelompok (Stuart & Laraia, 2005). Intervensi keperawatan generalis bertujuan untuk membantu pasien mengenal kemampuan-kemampuan yang masih dimiliki setelah adanya perubahan fisik akibat penyakit fisiknya. Sedangkan intervensi keperawatan spesialis diberikan bila intervensi generalis tidak mampu mengatasi masalah harga diri pasien.

Intervensi keperawatan spesialis yang dapat diberikan pada pasien dengan harga diri rendah adalah Terapi Individu seperti terapi kognitif, terapi Perilaku, dan terapi Kognitif – Perilaku (Cognitive Behaviour Therapy/CBT);

(22)

Terapi Kelompok, seperti terapi Suportif dan terapi Logo (Logotheraphy);

Terapi Keluarga, berupa terapi Psikoedukasi Keluarga; dan terapi Komunitas, berupa terapi Asertif Komunitas atau Assertiv Community Therapy(ACT) (Stuart & Laraia, 2005; Frisch & Frisch, 2006; Copel, 2007). Dapat disimpulkan bahwa terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga merupakan terapi spesialis yang dapat ditujukan pada individu dan keluarga yang mengalami masalah harga diri rendah.

Briere dan Scott (2006, dalam Wheeler, 2008) menyatakan bahwa terapi kognitif sangat membantu pada individu yang mempunyai pikiran harga diri rendah, menyalahkan diri sendiri, perasaan bersalah, malu, marah dan ketidakberdayaan. Berdasarkan pandangan teori ini, terapi kognitif sangat tepat untuk pasien dengan harga diri rendah situasional sehingga diharapkan pasien memiliki pola pikir yang positif dalam menerima dan beradaptasi dengan penyakitnya dan dapat mengatasi masalah harga diri rendah yang dialami serta meningkatkan kualitas hidupnya.

Penelitian tentang pengaruh terapi kognitif terhadap penyakit fisik telah dilakukan oleh Rahayuningsih (2007) dalam penelitiannya pengaruh terapi kognitif terhadap tingkat harga diri dan kemandirian pasien dengan kanker payudara, didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan harga diri pasien setelah diberikan terapi kognitif. Kristyaningsih (2009) pada penelitiannya menunjukkan bahwa terapi kognitif dapat meningkatkan harga diri pasien gagal ginjal kronis yang mendapat terapi haemodialiasa di RSUP Fatmawati Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa terapi kognitif bermanfaat pada pasien dengan gangguan kesehatan fisik yang mengalami harga diri rendah dan dapat meningkatkan tingkat harga diri pasien.

Keluarga merupakan orang yang terdekat dan selalu ada bersama dengan pasien. Keluarga merupakan support utama bagi penyembuhan dan pemulihan pasien yang memiliki masalah fisik dan psikososial. Pasien yang dirawat di rumah sakit tindakan generalis untuk keluarga pasien dengan

(23)

masalah harga diri rendah dapat diberikan. Tetapi apabila tindakan generalis belum dapat mengoptimalkan kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan dan menyelesaikan masalah keluarga, maka terapi spesialis dapat diberikan.

Psikoedukasi keluarga merupakan salah satu bentuk terapi spesialis dalam upaya meningkatkan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi terapeutik (Stuart & Laraia, 2005). Tujuan umum dari terapi psikoedukasi keluarga ini adalah untuk menurunkan tingkatan emosi keluarga sehingga pengetahuan keluarga tentang penyakit dapat meningkat dan mengajarkan keluarga bagaimana membantu dan melindungi keluarganya dengan mengetahui gejala-gejala perilaku serta mendukung kekuatan keluarga (Stuart & Laraia, 2005). Oleh karena itu melalui psikoedukasi keluarga diharapkan keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan masalah psikososial dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit atau masalah kesehatan di keluarga, memiliki kemampuan dalam memberikan perawatan kepada diri sendiri dan anggota keluarganya dan peningkatan dukungan bagi anggota keluarga tersebut.

Keefektifan pemberian terapi psikoedukasi keluarga ini telah menunjukkan hasil dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dialami keluarga. Penelitian Nurbani (2008) menyatakan bahwa psikoedukasi keluarga dapat menurunkan beban keluarga dalam merawat pasien dengan masalah penyakit fisik (stroke), penelitian Sari (2009) menyatakan bahwa Family Psychoeducation dapat menurunkan beban keluarga dan meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor keluarga dalam merawat pasien pasung. Penelitian Nauli (2011), logoterapi kelompok dan psikoedukasi keluarga dapat menurunkan depresi, harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan, isolasi sosial dan peningkatan kemampuan memaknai hidup pada lansia. Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan psikoedukasi keluarga sangat dibutuhkan dan berpengaruh bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa maupun masalah psikososial.

(24)

Rumah Sakit Umum Persahabatan merupakan rumah sakit tipe A yang menjadi rujukan untuk penyakit pernafasan dan beberapa ruangan telah menerapkan manajemen pelayanan keperawatan profesional. Berdasarkan hasil pelaksanaan praktik klinik residensi 3 (tiga) selama 9 (sembilan) minggu di 13 (tigabelas) ruang rawat inap didapatkan kasus psikososial dari 460 pasien kelolaan yaitu ansietas sebanyak 460 orang (100%), gangguan citra tubuh 230 orang (50%), harga diri rendah situasional sebanyak 189 orang (41%), ketidakberdayaan sebanyak 161 orang (35%) dan keputusasaan sebanyak 161 orang (35%). Diagnosa keperawatan harga diri rendah situasional menempati urutan ketiga setelah ansietas dan gangguan citra tubuh.

Penulis telah menerapkan Liaison nurse di Ruangan Cempaka Atas dan Bedah Kelas selama 9 (Sembilan) minggu. Ruang Cempaka atas merupakan ruang perawatan penyakit dalam kelas III dan ruang Bedah Kelas merupakan ruang perawatan bedah kelas III. Diagnosa medis dari 75 pasien yang dirawat oleh penulis sebagian besar adalah DM sebanyak 23 orang (30,6%), DM dan Hipertensi 18 orang (24%), Fraktur 8 orang (10,6%), kanker payudara 8 orang (10,6%), Dengue Haemorraghic Fever (DHF) sebanyak 10 orang (13,3%), Cerebral Vaskular Disease (CVD) dan Chronic Kidney Disease (CKD) masing-masing sebanyak 4 orang (5,3%).

Untuk diagnosa keperawatan psikososial yang ditegakkan oleh penulis pada ke 75 pasien yang dirawat yaitu ansietas ringan-berat 75 pasien (100%) , gangguan citra tubuh sebanyak 58 pasien (77,33%), ketidakberdayaan 28 pasien atau 37,3%), penampilan peran tidak efektif 29 pasien ( 38,6 %), dan harga diri rendah situasional 33 pasien (44%). Dari gambaran praktik tersebut penulis sebagai perawat CLMHN melakukan terapi keperawatan generalis dan spesialis untuk mengatasi diagnosa keperawatan harga diri rendah situasional.

(25)

Harga diri rendah situasional merupakan persepsi negatif tentang harga dirinya sebagai respon terhadap situasi/ kondisi penyakitnya saat ini yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Roy menyatakan adaptasi adalah proses, hasil berfikir dan berperasaan seseorang sebagai individu dengan menggunakan kesadaran dan pilihan untuk melakukan integrasi dengan manusia dan lingkungan.(Roy, 2008). Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem yang dapat menyesuaikan diri (adaptive system), sehingga dapat menyesuaikan diri yang digambarkan secara holistik (bio, psiko, sosial) sebagai satu kesatuan yang memiliki Input (masukan), kontrol dan Feedback Processes serta output (keluaran/hasil).

Proses kontrol adalah Mekanisme Koping yang dimanifestasikan dengan cara-cara penyesuaian diri. Manusia dalam menyesuaikan diri menggunakan aktivifitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara penyesuaian yaitu: fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi sehingga respon menjadi adaptif yang ditunjukkan dengan tidak mengalami harga diri rendah.

Terapi keperawatan generalis dan spesialis berfungsi sebagai pertahanan terhadap koping pasien. Dalam pelaksanaanya terapi generalis dilakukan oleh penulis dengan bantuan perawat ruangan pada semua pasien yang terdiagnosa memiliki harga diri rendah situasional. Terapi keperawatan spesialis yang dilakukan oleh penulis pada pasien dengan harga diri rendah situasional antara lain terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga. Hasil dari terapi yang dilakukan pada pasien kelolaan menunjukkan bahwa tanda dan gejala harga diri rendah situasional pada pasien sebagian besar mengalami penurunan. Selain itu, kemampuan pasien dan keluarga untuk mengatasi harga diri rendah situasional mengalami peningkatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud untuk melaporkan manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan.

(26)

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan umum

Memberikan gambaran tentang hasil manajemen kasus harga diri rendah situasional dan kemampuan pasien serta keluarga (care giver) dalam mengatasi harga diri rendah situasional dengan penerapan terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga di ruang Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan dengan pendekatan model adaptasi Roy.

1.2.2 Tujuan khusus

1.2.2.1 Diketahuinya karakteristik pasien harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas RSUP Persahabatan 1.2.2.2 Teridentifikasi masalah dan kebutuhan pada pasien dengan

harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas

1.2.2.3 Tersusunnya rencana asuhan keperawatan untuk pasien dengan harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas

1.2.2.4 Terlaksananya asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas

1.2.2.5 Teridentifikasi hasil pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas

1.2.2.6 Tersusunnya rencana tindak lanjut untuk asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional

1.2.2.7 Tersusunnya rekomendasi yang mengacu pada pelaksanaan terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga dengan pendekatan model adaptasi Roy pada keperawatan jiwa di Ruang Cempaka atas dan Bedah kelas.

(27)

1.3 Manfaat Karya Ilmiah Akhir

1.3.1. Bagi Pasien, Keluarga, Perawat dan Rumah sakit

1.3.1.1 Meningkatkan kemampuan pasien dan keluarga dalam mengatasi masalah harga diri rendah situasional

1.3.1.2 Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan psikososial yang dilakukan perawat di unit pelayanan umum khususnya ruang rawat Cempaka Atas dan Bedah Kelas RSUP Persahabatan 1.3.1.3 Meningkatkan pemahaman tentang manajemen ruang rawat

terkait manajemen kasus keperawatan psikososial khususnya diagnosa harga diri rendah situasional di RSUP Persahabatan. 1.3.1.4 Sebagai masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan

kualitas asuhan keperawatan psikososial di unit pelayanan umum.

1.3.2 Bagi Riset Keperawatan

1.3.2.1 Karya ilmiah ini dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan riset keperawatan yang berkaitan dengan pelayanan asuhan keperawatan jiwa spesialis, khususnya pada diagnosis keperawatan harga diri rendah situasional dan terapi yang cocok untuk mengatasi masalah tersebut.

1.3.2.2 Karya ilmiah ini sebagai dasar pertimbangan dan pemikiran dalam mengembangkan lebih lanjut riset keperawatan tentang terapi spesialis pada pasien dengan penyakit fisik yang mengalami diagnosa psikososial lain yang dirawat di unit pelayanan umum.

(28)

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas tentang konsep yang melandasi manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional. Pemahaman tentang konsep harga diri rendah dan penatalaksanaannya secara keperawatan, serta model adaptasi oleh Roy menjadi landasan asuhan keperawatan spesialis keperawatan jiwa pada pasien dengan harga diri rendah situasional. Berikut ini diuraikan berbagai konsep yang terkait.

2.1 Harga Diri Rendah 2.1.1 Defenisi

Konsep diri adalah semua pikiran, dan keyakinan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya yang meliputi citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran dan identitas personal yang mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart, 2009). Sedangkan menurut Videbeck (2008), konsep diri adalah cara individu memandang dirinya dalam hal harga diri dan martabat. Dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara bagaimana individu melihat dan mempersepsikan dirinya yang mempengaruhi individu tersebut dalam berhubungan dengan orang lain.

Harga diri rendah merupakan komponen utama pada depresi yang ditunjukkan dengan sikap penolakan diri dan membenci diri (Stuart & Laraia, 2005). Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional maupun kronis, tergantung dari lamanya penurunan harga diri tersebut dialami individu. Harga diri rendah situasional adalah evaluasi diri atau persepsi diri negatif tentang harga diri sebagai respon terhadap situasi saat ini (Herdman, 2012. Dapat disimpulkan bahwa harga diri rendah adalah persepsi negatif individu terhadap dirinya baik dalam hal mengenal kemampuan atau aspek positif yang ada pada diri individu tersebut.

(29)

2.1.2 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah Situasional Pada Pasien Penyakit Fisik

Menurut (Stuart, 2009) harga diri rendah dapat terjadi secara situasional, yaitu terjadinya trauma secara tiba-tiba, misalnya harus operasi kecelakaan, dicerai suami/istri, putus sekolah, putus hubungan kerja dan perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba), dan secara kronik,

yaitu perasaan negatif terhadap diri yang telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat. Perubahan komponen harga diri pada pasien dengan penyakit fisik yang terjadi secara tiba-tiba adalah harga diri rendah situasional. Karakteristik pasien yang mengalami harga diri rendah situasional adalah tidak mampu menghadapi kondisi penyakitnya, perasaan tidak berdaya, ekspresi tidak berguna, perilaku tidak asertif, bimbang dan secara verbal mengatakan diri negatif (Herdman, 2012).

Pengkajian keperawatan oleh perawat CLMHNdengan menggunakan model Stres adaptasi Stuart dapat menggambarkan proses terjadinya harga diri rendah dengan mengkaji dari faktor predisposisi, presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping dalam rentang adaptif sampai maladaptif. Uraian tersebut sebagai berikut:

2.1.2.1 Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia (2005) faktor predisposisi adalah faktor resiko yang dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumber resiko yang dapat menyebabkan individu mengalami stres. Faktor ini meliputi biologis, psikologis dan sosial budaya.

a. Faktor Biologis

Faktor predisposisi biologis meliputi riwayat genetik, status nutrisi, status kesehatan secara umum, sensitivitas biologi, dan terpapar racun (Stuart & Laraia, 2005). Faktor biologis berupa riwayat genetik (keturunan) di dalam keluarga, seperti kelainan/cacat fisik bawaan, ukuran tubuh, penampilan, dan sebagainya (Driever, 1976 dalam Townsend, 2009).

(30)

Riwayat cedera/trauma yang menyebabkan kerusakan jaringan otak khususnya di daerah frontal, temporal dan limbik dapat menjadi faktor prediposisi terjadinya harga diri rendah. Faktor biologis terjadinya harga diri rendah situasional dapat berasal penyakit fisik yang menahun, riwayat perilaku kesehatan yang buruk, riwayat masuk rumah sakit berulang dan riwayat putus obat (Stuart, 2009). Semua hal tersebut dapat menyebabkan gangguan metabolisme dalam tingkat jaringan bahkan sampai ke dalam tingkatan sel tubuh manusia termasuk sel-sel saraf (Smeltzer dkk, 2008; Townsend, 2009). Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada lobus frontal dan sistem limbik.

Kerusakan pada lobus frontal akan dapat menyebabkan gangguan berfikir dan ketidakmampuan dalam mengontrol emosi sehingga respon kognitif pasien yaitu menilai secara negatif tentang diri, orang lain dan lingkungan serta berperilaku yang maladaptif sebagai akibat cara berpikir yang negatif (Townsend, 2009). Semua hal tersebut merupakan tanda dan gejala dari harga diri rendah situasional.

Kerusakan sistem limbik juga dapat terjadi akibat penyakit fisik yang dialami pasien. Kerusakan sistem limbik menimbulkan beberapa gejala klinik seperti hambatan emosi dan perubahan kepribadian (Kaplan, dkk., 2005). Selain itu adanya ketidakseimbangan zat kimiawi dalam otak (neurotransmiter) seperti serotonin, norepineprin, dopamin dan asetilkolin juga dapat menyebabkan terjadinya perilaku harga diri rendah (Copel, 2007). Perilaku ini tampak jelas pada pasien harga diri rendah, dimana pada otak terjadi ketidakseimbangan neurotransmiter yaitu penurunan kadar serotonin yang akan menyebabkan gangguan kognitif yang dapat memunculkan distorsi kognitif atau pikiran negatif tentang diri sendiri. Selain itu, dapat juga terjadi penurunan semangat untuk melakukan aktivitas dimana kedua hal tersebut dapat terlihat pada pasien dengan harga diri rendah situasional.

(31)

.

b. Faktor psikologis

Harga diri seseorang dapat berkembang kearah positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh respon orang lain terhadap individu dan bagaimana individu tersebut mempersepsikan respon-respon tersebut (Driever, 1976 dalam Townsend, 2009). Menurut Stuart (2009) faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orangtua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang memiliki tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis dan kehilangan.

Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemungkinan menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan ( Lambert & Lambert, 1985 dalam Viedebeck, 2008 ). Respon kehilangan dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya.

Pasien dengan penyakit fisik biasanya mengalami kehilangan terkait dengan kehilangan aspek diri (biopsikososial) yang disebabkan karena kehilangan fungsi tubuh (biologis) yang berakibat pada kehilangan peran sosial (pekerjaan, kedudukan). Sehingga jika pasien tidak mampu beradaptasi terhadap proses kehilangan ini akan mengakibatkan munculnya masalah psikososial yaitu depresi. Dimana salah satu diagnosa keperawatan dari diagnosa medis depresi ini adalah harga diri rendah situasional maupun kronis, tergantung dari waktu dan lamanya individu tersebut mengalaminya.

Respon individu yang sedang mengalami kehilangan akan mengalami proses berduka. Dengan memahami fenomena kehilangan yang pasien alami, perawat dapat meningkatkan ekspresi dan bersimpati atas masalah

(32)

emosional dan masalah penyakit fisik sehingga dapat mendukung proses berduka tersebut. berduka Berdasarkan hal tersebut maka dapat digambarkan rentang respon berduka terhadap kehilangan.

Fs.Marah Fs.Depresi

:---:---:---:---:

Fs. Pengingkaran Fs.Tawar menerima

Gambar 2.1 Rentang Respon individu

terhadap kehilangan ( Kubler-Rose, 1969 dalam Viedebeck 2008)

Rentang respon berduka terhadap kehilangan terdiri dari: 1. Fase Pengingkaran

Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan itu benar terjadi, dengan mengatakan “Tidak, saya tidak percaya bahwa itu terjadi, itu tidak mungkin”. Bagi individu atau keluarga yang di diagnose memiliki penyakit fisik atau terminal, akan terus menerus mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada fase ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berakhir dalam waktu beberapa menit atau beberapa tahun.

2. Fase Marah

Fase ini dimulai dengan timbulnya kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan. Individu menunjukkan rasa marah yang meningkat yang sering diproyeksikan kepada orang lain atau pada dirinya sendiri. Tidak jarang pula dia menunjukkan prilaku agresif, bicara kasar, menolak pengobatan dan menuduh dokter atau perawat tidak becus. Respon fisik yang sering terjadi antara lain muka merah, nadi cepat, gelisah, susah Fs.Menerima

(33)

3. Fase Tawar Menawar

Apabila individu telah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara inensif, maka ia akan maju ke fase tawar menawar dengan memohan kemurahan Tuhan. Respon ini sering dinyatakan dengan kata-kata “kalau saja kejadian ini bisa ditunda , maka saya akan sering berdoa”. Apabila proses ini oleh keluarga maka pernyataan sebagai yang sering diucapkan adalah “kalau saja saya yang sakit, bukan anak saya”.

4. Fase Depresi

Individu pada fase ini sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang sebagai pasien yang sangat penurut; tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain menolak makan , susah tidur, letih, dorongan libido menurun.

5. Fase Penerimaan

Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kapada obyek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya.

Gambaran tentang obyek atau orang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatiannya akan beralih kepada obyek yang baru. Fase ini biasanya dinyatakan dengan kata-kata seperti; “Saya betul-betul menyayangi baju saya yang hilang, tapi baju saya yang baru manis juga” atau “ Apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”.

Apabila individu dapat memulai fase tersebut dan menerima dengan perasaan damai, maka individu tersebut akan dapat mengakhiri proses berduka serta mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas. Akan tetapi apabila individu tersebut tidak dapat masuk ke fase damai atau menerima maka ini akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya. Apabila tahapan respon ini dapat diatasi sampai

(34)

dengan pasien bisa menerima kehilangan atau tahap penerimaan maka disfungsi berduka yang berkepanjangan mungkin tidak terjadi. Lamanya proses berduka sangat individual dan dapat terjadi sampai beberapa tahun lamanya. Fase akut berduka biasanya 6 – 8 minggu, dan penyelesaian respons kehilangan atau berduka secara menyeluruh memerlukan waktu 1 bulan sampai 3 tahun.

c. Faktor sosial budaya

Faktor predisposisi sosial budaya meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, status sosial, pengalaman sosial, latar belakang budaya, agama dan keyakinan, serta kondisi politik (Stuart & Laraia, 2005). Stuart (2009) menyatakan faktor lingkungan sosial dan budaya juga memegang peran dalam perkembangan harga diri seseorang. Individu yang mengalami harga diri rendah disebabkan karena ketidaksesuaian atau gangguan dalam penampilan peran, seperti tuntutan peran dalam pekerjaan, konflik peran, kondisi ekonomi dan sebagainya.

Menurut Townsend (2009) harapan peran budaya, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan dalam struktur sosial juga merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga diri. Pendidikan dapat dijadikan tolak ukur kemampuan seseorang berinteraksi dengan orang lain secara efektif (Stuart & Laraia, 2005). Faktor pendidikan mempengaruhi kemampuan seseorang menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Berdasarkan uraian diatas, maka pasien dengan penyakit fisik dapat memiliki kemungkinan faktor-faktor predisposisi tersebut. Faktor biologis, yaitu karena perubahan kondisi fisik akibat penyakit fisik, faktor psikologis dapat berupa kegagalan atau kehilangan yang dialami setelah adanya kelemahan fisik yang berupa ketidakmampuan melakukan pekerjaan seperti sebelumnya dan ketergantungan pada orang lain akibat perubahan kondisi fisiknya serta perubahan peran sosial. Faktor sosial budaya dapat berupa

(35)

perubahan penampilan peran, ketidakmampuan menjalankan peran, dan konflik peran dimana kesemuanya terjadi akibat dirawat (hospitalisasi), pengaruh sosial ekonomi khususnya masalah finansial dalam program pengobatan, juga dapat mengakibatkan pasien mengalami harga diri rendah.

2.1.2.2 Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi adalah stimulus (sressor) yang merubah atau menekan sehingga memunculkan gejala saat ini (Stuart & Laraia, 2005). Faktor ini meliputi empat hal yaitu sifat stresor, asal stresor, waktu stresor yang dialami, dan banyaknya stresor yang dihadapi oleh seseorang. Stresor pada orang yang dirawat didapat dari proses penyakit dan hospitalisasi (Cohen, 2000 dalam Stuart, 2009). Stresor presipitasi ini bisa saja telah dialami dalam waktu yang lama oleh pasien sehingga pasien kehilangan kemampuan untuk mengatasi faktor pencetus tersebut.

Stuart (2009) menyatakan bahwa stresor presipitasi atau faktor pencetus terjadinya harga diri rendah adalah trauma, seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, dan ketegangan peran berhubungan dengan atau posisi yang diharapkan, dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada 3 jenis transisi peran yang dapat menyebabkan ketegangan peran (Stuart, 2009), yaitu transisi peran perkembangan, transisi peran situasi, dan transisi peran sehat – sakit.

Faktor pencetus terjadinya harga diri rendah pada pasien dengan penyakit fisik adalah karena ketegangan peran, yaitu transisi peran sehat sakit yang diakibatkan pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit yang dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh serta perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur medis dan keperawatan, sehingga

(36)

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan faktor presipitasi munculnya harga diri rendah situasional pada pasien dengan penyakit fisik dapat perubahan kondisi tubuh akibat penyakit yang diderita dan prosedur medis yang dialami pasien sehubungan dengan penyakitnya yang ini merupakan bagian dari stresor biologis. Untuk stresor sosial yaitu karena hospitalisasi yang dapat mengakibatkan hubungan pasien dengan lingkungan menjadi terganggu selain itu biaya yang harus ditanggung pasien selama dirawat di rumah sakit, gangguan peran sedangkan stresor psikologis yang dapat muncul yaitu kesedihan ataupun kecemasan pasien menghadapi proses penyakit dan hubungan sosial yang terganggu. Stresor-stresor tersebut membuat pasien merespon yang akhirnya memunculkan masalah keperawatan harga diri rendah.

2.1.2.3 Penilaian Stressor

Penilaian terhadap stresor merupakan respon individu terhadap stresor presipitasi yang dihadapinya. Respon yang dilakukan individu dapat berupa respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku maupun sosial (Stuart, 2009). Setelah adanya stresor yang menjadi faktor presipitasi, individu akan melakukan penilaian dan mempersepsikan stresor sebagai suatu hal yang negatif yang dapat menyebabkan timbulnya harga diri rendah.

Menurut Stuart (2009) perilaku yang tampak pada pasien dengan harga diri rendah adalah mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, perilaku destruktif yang diarahkan pada orang lain maupun diri sendiri, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemampuan personal, pengurungan diri/menarik diri secara sosial, penyalahgunaan zat, menarik diri dari realitas dan khawatir.

(37)

Tanda dan gejala harga diri rendah menurut Townsend (2009); Herdman (2012); dan Stuart dan Laraia (2005) dapat diketahui dari respon individu dalam menghadapi stresor yang meliputi respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan sosial. Berikut ini dijelaskan tanda dan gejala harga diri rendah secara rinci:

a. Respon kognitif

Penurunan neurotransmitter norepinefrin dan serotonin pada pasien dengan penyakit fisik juga mempengaruhi fungsi dari lobus frontal otak. Lobus frontal otak berfungsi untuk proses pikir seseorang (Stuart, 2009). Pada pasien yang mengalami harga diri rendah situasional, perubahan proses pikir ditunjukkan dengan adanya distorsi kognitif seperti pikiran bahwa dirinya tidak berguna, tidak berharga dan menilai diri negatif, ditolak oleh orang lain, merasa orang lain tidak bisa mengerti dirinya, merasa hubungan tidak berarti dengan orang lain, tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan dan merasa tidak memiliki tujuan hidup. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan (Stuart & Laraia, 2005) penilaian kognitif merupakan tanggapan atau pendapat pasien terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

b. Respon afektif

Peningkatan neurotransmitter asetilkolin mempengaruhi fungsi korteks serebral, sistem limbik dan basal ganglia (Fontaine, 2009). Perubahan fungsi sistem limbik menyebabkan pasien menunjukkan perubahan emosi seperti rasa malu, perasaan bersalah, sedih, bingung dan khawatir yang merupakan tanda dan gejala pasien harga diri rendah situasional.

Tanda dan gejala afektif yang ditunjukkan pasien harga diri rendah meliputi merasa sedih, kurang motivasi, marah, kesal, cemas, dan ketidakberdayaan. Rasa sedih karena kehilangan terutama terhadap

(38)

sesuatu yang berarti dalam kehidupan sering kali menyebabkan seseorang menjadi takut untuk menghadapi kehilangan berikutnya.

c. Respon fisiologis

Respon fisik terhadap penurunan harga diri dapat ditunjukkan yaitu penurunan energi, lemah, agitasi, penurunan libido, tidak nafsu makan dan penurunan berat badan, makan berlebihan, diare atau konstipasi, dan gangguan tidur. Ini disebabkan karena terganggunya fungsi hipothalamus. Fungsi Hipothalamus berfungsi sebagai pengatur nafsu makan, siklus tidur istirahat, mood, motivasi, dan regulasi tanda vital dari seseorang (Stuart, 2009). Hipothalamus juga menstimulasi sistem saraf simpatik dan kelenjar pituitari yang menyebabkan peningkatan denyut jantung, frekuensi pernapasan dan tekanan darah serta keluhan fisik. Semua tanda gejala tersebut tampak pada pasien harga diri rendah situasional.

d. Respon perilaku

Fungsi korteks serebral dan basal ganglia berfungsi dalam mengatur perilaku individu (Stuart, 2009). Peningkatan asetilkolin menyebabkan pasien mengalami mengalami perubahan perilaku yang ditunjukkan dengan perilaku seperti menangis, kontak mata kurang lebih banyak diam, penurunan aktivitas sehari-hari, kurang berpartisipasi dalam tindakan perawatan, mengkritik diri sendiri, merusak diri sendiri, bermusuhan dan penurunan perawatan diri/kebersihan diri.Semua tanda gejala tersebut terlihat jelas pada pasien harga diri rendah situasional.

e. Respon sosial

Respon sosial seseorang akibat paparan stressor dipengaruhi bagaimana individu memandang stressor itu sendiri. Apabila individu menilai secara kognitif bahwa stressor tersebut membahayakan atau mengancam maka akan muncul perilaku dengan kewaspadaan meningkat seperti reaksi

(39)

perilaku ansietas dan harga diri rendah. Respon sosial harga diri rendah menurut Stuart dan Laraia (2005), meliputi pasif, menyalahkan diri dan menarik diri.

2.1.2.4. Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah upaya sadar dari individu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi akibat paparan stressor. Untuk menetralisasi harga diri rendah seseorang mengembangkan pola koping. Penggunaan mekanisme koping dipengaruhi oleh tingkat stres, sumber stres, serta kemampuan seseorang dalam menghadapi realitas hidup, hubungan interpersonal, dan kesuksesan yang ditampilkan (Stuart & Laraia, 2005). Pada harga diri rendah Mekanisme koping yang biasa ditampilkan oleh pasien dengan masalah harga diri rendah adalah isolasi, regresi dan represi (Stuart & Laraia 2005).

Respon pasien terhadap penyakit dan terapi dapat dipengaruhi oleh faktor personal, interpersonal dan budaya (Viedebeck, 2008). Mekanisme koping individu juga tergantung dari faktor tersebut. 1) faktor personal, termasuk usia, kesehatan fisik, keefektifan diri, Hardiness, Resilience dan Resourcefullness serta spiritualitas. Usia individu akan mempengaruhi bagaimana cara individu melakukan koping terhadap penyakit (Viedebeck, 2008). Usia dan perkembangan individu mempengaruhi cara individu tersebut mengekspresikan penyakitnya, jika individu tidak mampu beradaptasi terhadap respon penyakitnya dapat menimbulkan masalah psikososial pada diri individu tersebut seperti harga diri rendah, isolasi, ketidakberdayaan dan lain-lain.

Kesehatan fisik berpengaruh terhadap cara individu berespon terhadap stres. Semakin sehat individu, semakin baik koping nya terhadap stres atau penyakit. Pada pasien dengan penyakit fisik akan mengalami status nutrisi yang buruk, kurang tidur sehingga dapat menghambat kemampuan

(40)

individu melakukan koping. Jika koping individu buruk maka akan jatuh kepada masalah psikososial seperti harga diri rendah, isolasi, putus asa dan lain-lain.

Faktor lain yang mempengaruhi yaitu keefektifan diri, yang merupakan suatu keyakinan bahwa kemampuan dan upaya individu mempengaruhi peristiwa yang terjadi dalam hidup (Bandura, 1997 dalam Videbeck, 2008). Individu yang yakin bahwa tindakannya akan membuat suatu pengalaman dan perbedaan cenderung untuk mengambil tindakan. Individu yang memiliki keefektifan diri yang tinggi, mampu menetapkan tujuan pribadi, memiliki motivasi dan semangat akan melakukan koping secara efektif terhadap stres. Sebaliknya individu yang memiliki keefektifan diri yang rendah akan memperlihatkan semangat yang menurun, tidak memiliki motivasi, tidak dapat mengambil keputusan, ansietas, tidak percaya diri, depresi dan ini mengarahkan kepada harga diri rendah.

Bandura (1997, dalam Viedebeck, 2008) menyatakan bahwa untuk dapat mengatasi hal tersebut diatas, maka upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan keterampilan pasien daripada berfokus pada penyelesaian masalah. Cara yang dapat dilakukan antara lain: memiliki kemampuan dalam mengatasi hambatan, mengajak individu untuk memiliki keyakinan pada diri sendiri, membangun kekuatan fisik dengan tidak berfokus terhadap sesuatu yang negatif tetapi memandang secara positif, untuk dapat mencapai hal demikian sangat efektif dan cocok terapi kognitif diberikan.

Hardiness yaitu kemampuan individu untuk tahan terhadap penyakit ketika mengalami stres (Viedebeck, 2008). 3 (tiga) komponen dari

Hardiness yaitu komitmen, kontrol dan tantangan. Tantangan disini maksudnya adalah kemampuan untuk mempersepsikan perubahan sebagai

(41)

hal yang menguntungkan, bukan peristiwa yang menyebabkan stres. Pada pasien dengan penyakit fisik beresiko untuk mengalami harga diri rendah situasional dan masalah psikososial karena pasien beranggapan bahwa penyakit merupakan sumber stres baginya, penyakit akan membuat perubahan pada dirinya sehingga Hardiness seseorang tersebut menjadi rendah.

Resilience dan Resourcefullnes ini berhubungan erat dalam membantu individu melakukan koping terhadap stres dan meminimalkan efek penyakit. Resilience didefinisikan sebagai memiliki respon yang sehat terhadap lingkungan yang menimbulkan stres atau situasi yang beresiko (Hill, 1998 dalam Viedebeck, 2008). Konsep ini membantu dalam memahami alasan seseorang bereaksi terhadap peristiwa yang sedikit menimbulkan disertai gejala ansietas yang berat, sementara individu yang lain mungkin tidak mengalami distres walaupun dihadapkan dengan gangguan yang besar atau peristiwa yang menimbulkan stres.

Berdasarkan hal tersebut seseorang dapat mengalami masalah psikososial tergantung dari kekuatan resiliencenya. Di rumah sakit umum lingkungan dapat menjadi faktor pencetus dari masalah psikososial itu sendiri sehingga seseorang jatuh kepada harga diri rendah situasional misalnya lingkungan yang tidak kondusif dan terapeutik dan penggunaan komunikasi yang tidak terapeutik.

Resourcefullnes adalah menggunakan kemampuan penyelesaian masalah dan meyakini bahwa individu dapat melakukan koping terhadap situasi yang tidak menguntungkan atau situasi baru. Resourcefullnes diperoleh melalui interaksi dengan orang lain dan terlihat dalam kemampuan individu melakukan aktivitas sehari-hari. Resourcefullnes dapat membantu mencegah depresi (Warheit, 1995 dalam Viedebeck 2008).

(42)

Studi menunjukkan bahwa pasien yang mengalami depresi mampu menggunakan Resourcefullnes sebagai cara koping terhadap lingkungan yang menimbulkan stres dan perasaan depresi yang menyertai (Zauszniewski, 1995 dalam Viedebeck, 2008). Contoh dari

Resourcefullnes yaitu perilaku mencari bantuan kesehatan, mempelajari perawatan diri, memantau pikiran dan perasaan terhadap situasi yang menimbulkan stres dan mengambil tindakan untuk mengatasi lingkungan yang menimbulkan stres. Pada pasien penyakit fisik yang mengalami harga diri rendah situasional, pasien akan pasrah dengan kondisinya sehingga perilaku pasien sebaliknya yaitu tidak berdaya, sulit mengambil keputusan, menangis, malu karena tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan karena kondisi fisiknya sehingga tidak memiliki

resourcefullnes.

Spiritualitas mencakup keberadaan individu dan keyakinannya tentang makna hidup dan tujuan hidup (Viedebeck, 2008). Penelitian telah menunjukkan bahwa spiritualitas merupakan bantuan yang tulus bagi individu yang mengalami masalah penyakit fisik, psikososial maupun kejiwaan, yang berperan sebagai media koping utama dan merupakan sumber makna dan koherensi dalam hidup mereka atau membantu dalam menyediakan jaringan sosial (Sullivan, 1993 dalam Viedebeck, 2008). Karena keyakinan dan spiritualitas membantu pasien dalam melakukan koping terhadap stres dan penyakit, perawat harus sangat peka terhadap keyakinan dan praktik spiritual pasien. Dengan menggabungkan praktik tersebut dalam perawatan pasien dapat membantu pasien melakukan koping terhadap penyakit dan menemukan makna serta tujuan dalam situasi tersebut.

Faktor interpersonal yang mempengaruhi respon pasien terhadap penyakit yaitu jaringan sosial, dukungan sosial dan dukungan keluarga (Viedebeck, 2008). Jaringan sosial merupakan kelompok individu yang dikenal oleh

(43)

individu dan memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Penelitian menyebutkan bahwa memiliki jaingan sosial dapat membantu mengurangi stres dan menghilangkan penyakit (Bisconti & Boergeman, 1999 dalam Viedebeck, 2008) dan dapat memiliki pengaruh positif yang kuat pada kemampuan individu melakukan koping serta beradaptasi (Buchanan, 1995 dalam Viedebec, 2008). Jadi adanya jaringan sosial sangat penting bagi pasien yang mengalami penyakit fisik.

Sedangkan dukungan sosial merupakan dukungan emosional yang berasal dari teman, anggota keluarga bahkan pemberi perawatan. Individu yang mendapat dukungan emosional dan fungsional terbukti lebih sehat daripada individu yang tidak mendapat dukungan (Buchanan, 1995 dalam Viedebeck, 2008). Berdasarkan definisi tersebut penting dukungan sosial bagi pasien yang mengalami penyakit fisik agar pasien tidak merasa sendiri, merasa ada yang memperhatikan secara emocional dan fungsional sehingga proses penyembuhan akan semakin cepat.

Faktor yang terakhir yaitu budaya, asuhan keperawatan yang kompeten secara budaya berarti peka terhadap isu yang terkait dengan budaya, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, kelas sosial, situasi ekonomi dan faktor lain (Lipson et al, 1996 dalam Viedebeck, 2008). Perawat harus mempelajari dan mengetahui budaya dan terampil dalam memberikan perawatan kepada pasien dari latar belakang budaya yang berbeda agar dapat memberikan perawatan yang holistik dan berarti bagi pasien.

2.1.2.5 Sumber koping

Sumber koping merupakan pilihan atau strategi yang dapat membantu menentukan apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Sumber koping meliputi aset ekonomi, kemampuan dan ketrampilan, teknik pertahanan diri, dukungan sosial, dan motivasi (Stuart & Laraia, 2005). Pengetahuan dan kemampuan akan memampukan seseorang dalam

(44)

melihat masalahnya dari sudut pandang yang berbeda sehingga mampu mencari solusi yang tepat.

Aset ekonomi terkait dengan uang dan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh seeorang untuk mengatasi masalahnya, sedangkan dukungan sosial memfasilitasi pemecahan masalah dengan melibatkan orang terdekatnya. Dukungan sosial yang harus dimiliki oleh pasien adalah memiliki care giver utama, care giver merupakan salah satu anggota keluarga inti pasien, care giver mengetahui cara merawat pasien,

care giver mampu melakukan cara perawatan pasien. Aset materi yang bisa digunakan sumber koping oleh pasien harga diri rendah situasional.

Kemampuan personal yang harus dimiliki oleh pasien untuk mengatasi harga diri rendah situasionalnya adalah kemampuan mengidentifikasi aspek positif yang dimiliki dan memilih aspek positif yang bisa dilatih, mampu melatih aspek positif tersebut. Selain itu, pasien juga harus mampu mengidentifikasi pikiran negatif yang muncul dan pasien mampu melawan pikiran negatif dengan pikiran rasional. Kemampuan tersebut dapat digunakan oleh pasien untuk mengatasi rasa rendah dirinya sehubungan dengan penyakit fisik yang diderita. Sumber koping yang terakhir adalah keyakinan diri yang positif sehingga dapat meningkatkan harapan dan mempertahankan usaha seseorang untuk melakukan koping atau pemecahan masalah (Stuart, 2009).

2.1.3 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang terkait untuk masalah keperawatan ini adalah harga diri rendah situasional (Herdman, 2012). Diagnosa banding yang terkait adalah gangguan penyesuaian diri, gangguan citra tubuh, ketidakefektifan koping individu, gangguan identitas diri, gangguan harga diri dan harga diri rendah situasional.

(45)

2.1.4 Intervensi Keperawatan pada Diagnosa Harga Diri Rendah Situasional Masalah harga diri rendah situasional merupakan masalah psikososial terbanyak di unit pelayanan umum disamping ansietas dan gangguan citra tubuh. Jika masalah psikososial ini tidak mendapat perhatian secara serius maka masalah psikososial akan berkembang menjadi masalah gangguan jiwa serius. Disamping itu dengan banyaknya masalah psikososial di masyarakat dipastikan mengganggu produktifitas mereka sesuai perannya masing-masing.

Intervensi keperawatan adalah serangkaian tindakan keperawatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah atau diagnosa keperawatan. Intervensi keperawatan untuk mengatasi diagnosa keperawatan harga diri rendah berupa membantu pasien memeriksa penilaian kognitif dirinya terhadap situasi yang berhubungan dengan perasaan untuk membantu pasien dalam meningkatkan penghayatan diri dan kemudian melakukan tindakan untuk mengubah perilaku (Townsend, 2003). Pendekatan penyelesaian masalah harga diri rendah berupa meluaskan kesadaran diri, eksplorasi diri, evaluasi diri, perencanaan yang realistik dan komitmen terhadap tindakan (Stuart & Laraia, 2005).

Intervensi keperawatan spesialis pada pasien dengan perilaku harga diri rendah tertuju pada individu, kelompok, keluarga dan masyarakat (Boyd & Nihart, 1998). Intervensi keperawatan spesialis yang dapat diberikan meliputi Terapi Individu

seperti terapi kognitif, terapi Perilaku, dan terapi Kognitif – Perilaku (Cognitive Behaviour Therapy/CBT); Terapi Kelompok, seperti terapi Suportif dan terapi Logo (Logotheraphy); Terapi Keluarga, berupa terapi Psikoedukasi Keluarga; dan terapi Komunitas, berupa terapi Asertif Komunitas atau Assertif Community Therapy(ACT) (Stuart & Laraia, 2005; Frisch & Frisch, 2006; Copel, 2007). Berdasarkan hasil Workshop Keperawatan Jiwa (2011), intervensi keperawatan pada pasien harga diri rendah meliputi psikoterapi secara individu (terapi kognitif, terapi perilaku, dan Cognitive Behaviour Therapy); terapi kelompok (terapi Suportif, psikoedukasi kelompok, dan Logotherapy); terapi keluarga

Gambar

Tabel  4.6 memperlihatkan  (72,72%)  respon  pasien secara  kognitif  adalah  menilai  dirinya  negatif,  (51,51%)  respon  fisiologis  pasien mengalami  gangguan  pola  tidur  dan  untuk  respon  afektif  mayoritas  pasien (100%)  merasa  sedih/  khawatir

Referensi

Dokumen terkait

Pertama individu merasa adekkuat terhadap apa yang dilakukan, hal ini didasari oleh adanya keyakinan terhadap kekuatan, kemampuan, dan keterampilan yang

Misalnya subjek MF yang mengungkapkan bahwa keluarga lebih mendukung dirinya menikah dengan individu yang juga memiliki hambatan fisik daripada menikah dengan individu

Hal ini mungkin terjadi karena individu yang memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi situasi dan kondisi yang ada dan ia juga memiliki kepercayaan diri untuk

Upaya untuk mengatasi hambatan dalam proses pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa adalah dengan cara untuk mengatasi jumlah penghuni yang melebihi

Misalnya subjek MF yang mengungkapkan bahwa keluarga lebih mendukung dirinya menikah dengan individu yang juga memiliki hambatan fisik daripada menikah dengan individu

Selanjutnya individu yang memiliki kepercayaan diri rendah, merasa tidak yakin terhadap kemampuan untuk mengetahui perasaan sendiri, kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk

Perilaku ini biasanya dilakukan oleh individu yang memiliki keyakinan pada kemampuan diri.16 Teori lain juga menyatakan bahwa terdapat prokrastinator yang melakukan penundaaan dengan

Upaya yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Kebakaran Kabupaten Nagekeo dalam mengatasi hambatan dalam penertiban hewan ternak adalah mengajak seluruh Kepala wilayah mulai