6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil karya ilmiah ini maka ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak terkait dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa khususnya di unit pelayanan umum.
6.2.1 Bagi Kementerian Kesehatan
6.2.1.1 Manajemen kasus spesialis keperawatan pada pasien dan keluarga dengan harga diri rendah yang dilakukan dalam bentuk pelayanan CLMHN di unit pelayanan umum dapat dipertimbangkan sebagai kajian lanjut pentingnya peran
CLMHN di RSU sebagai advokasi, sosialisasi dan komunikasi
6.2.1.2 Menyusun kebijakan terkait dengan program pelayanan keperawatan jiwa spesialistik bagi pasien di tatanan rumah sakit umum.
6.2.1.3 Melakukan advokasi pelayanan psikososial pasien yang terintegrasi dengan keluarga dan program kesehatan masyarakat, baik ditingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional.
6.2.1.4 Menyusun uraian tugas dan wewenang yang jelas antara perawat D3, S1 dan Spesialis keperawatan jiwa melalui metode konsultan yang dapat digunakan oleh seluruh rumah sakit umum dalam penanganan masalah psikososial.
.
6.2.2 Bagi RSUP Persahabatan
6.2.2.1 Menerapkan pelayanan holistik pada pasien di RSUP tidak hanya berfokus pada penyakit fisik saja dan memberdayakan fungsi keluarga, kelompok maupun komunitas dalam meningkatkan fungsi perawatan bagi pasien
6.2.2.2 Perlunya perawat CLMHN yang ditempatkan di unit pelayanan umum dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang holistik dan kolaborasi dengan Psikiater. 6.2.2.3 Membuat kebijakan terkait dengan program pelayanan
keperawatan spesialistik khususnya membuat standar asuhan keperawatan untuk diagnose psikososial.
6.2.2.4 Meningkatkan dan mempertahankan kerjasama dengan pihak pendidikan tinggi keperawatan untuk mengembangkan praktik keperawatan jiwa spesialis.
6.2.2 Program Spesialis Keperawatan Jiwa FIK UI
6.2.3.1 Melanjutkan kerjasama dengan RSUP Persahabatan dalam bentuk praktik yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai sarana sosialisasi dan penerapan asuhan keperawatan jiwa profesional dan psikososial.
6.2.3.2 Membantu pengembangan program CLMHN dan MPKP dengan menempatkan lulusan perawat spesialis jiwa di RSUP Persahabatan
6.2.3.3 Mempersiapkan Perawat CLMHN atau Spesialis Jiwa untuk bertanggung jawab dalam melakukan monitoring terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya dan terhadap pelaksanaan Asuhan keperawatan psikososial di RSUP Persahabatan.
6.2.3.4 Memfasilitasi praktik mandiri keperawatan jiwa spesialis melalui program standarisasi dan lisensi praktik keperawatan jiwa spesialis.
6.2.4 Penulis
6.2.4.1 Mengembangkan kemampuan dalam manajemen pelayanan keperawatan sesuai dengan kondisi pasien, keluarga, masyarakat, serta kondisi pelayanan di unit pelayanan umum dengan menggunakan konsep teori keperawatan yang sesuai
6.2.4.2 Meningkatkan kemampuan sebagai perawat CLMHN dalam melakukan manajemen asuhan keperawatan jiwa spesialis pada pasien dengan melakukan kolaborasi dengan Psikiater.
146
Burns, D.D. (1998). Terapi kognitif. Pendekatan baru bagi penanganan depresi. Terjemahan. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.
Boyd, M.A., & Nihart, M.A. (1998). Psychiatric Nursing Contemporary Practice, Philadelphia: Lippincott
Cavusaglu, H. (2001). Self esteem in adolescence: A comparison of adolescents
with diabetes mellitus and leukimia. Pediatric Nursing, July-August 2001
Vol 27 no 4.
Copel, L.C. (2007). Kesehatan jiwa dan psikiatri, pedoman klinis perawat
(psychiatric and mental health care nurse’s clinical guide). Edisi Bahasa
Indonesia.Cetakan kedua. Alih bahasa: Akemat. Jakarta: EGC
Depkes RI. (2008). Riset kesehatan dasar 2007. Jakarta: Balitbangkes Depkes RI FIK-UI, (2011), Laporan Spesialis Keperawatan Jiwa: Residensi dan Aplikasi,
FIK- UI Depok
Friedman, Marilyn M. (2010). Keperawatan keluarga : teori dan praktik (family
nursing : theory and practice) alih bahasa : Ina Debora R.L, Jakarta : EGC
Fleischacker, W.et al (2006). Factors influencing compliance in schizophrenia patients. Journal Clin psychiatry:64(suppl 16);10-13
Frisch, N.C. & Frisch, L.E. (2006). Psychiatric Mental Health Nursing. (3th ed). New York : Thomson Delmar Learning.
Fontaine, K.L. (2009). Mental Health Nursing. New Jersey. Sixth edition. Pearson Education. Inc
Frisch, N.C. dan Frisch, L.E., (2006). Psychiatric mental health nursing. (3rded.). Canada: Thomson Delmar Learning
Goldenberg, I dan Goldenberg, H. (2004). Family therapy an overview. Sixth edition. United States: Thomson
Grandfa. (2007). Tanggulangi depresi secara tepat. http://id.shvoong.com/ medicine-and-health/neurology/1670144-tanggulangi-depresi-secara-tepat/, diperoleh 19 Mei 2012
Hamid, dkk. (2002). Persepsi pasien dan suami tentang pengaruh mastektomi
Hardman, P. (1999). A liaison project : A review october 1999. North manchester
healthcare journal, 99
Hapsari, H. (2007). Wanita Lebih Rentan Depresi. ¶ http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kesehatan/wanita-lebih-rentan-depresi-3.html. diperoleh tanggal 3 Mai 2012.
Hawari, D. (2007). Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta : FK-UI
Kaplan, H.I., Sadock, B.J. dan Grebb, J.A. (2005). Sinopsis psikiatri. Edisi Bahasa Indonesia. Alih bahasa : Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara
Kaplan & Sadock. (2007). Sinopsis Psikiatri: ilmu pengetahuan psikiatri klinis. (Jilid 1). Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Keliat, dkk. (2006). Modul IC CMHN; Manajemen kasus gangguan jiwa dalam
keperawatan kesehatan jiwa komunitas. Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia dan World Health Organization
Kristyaningsih, T. (2009). Pengaruh terapi kognitif terhadap perubahan harga
diri dan kondisi depresi pasien gagal ginjal kronik di ruang haemodialisa RSUP Fatmawati Jakarta tahun 2009. Tesis. Jakarta: Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
Herdman Heather. (2012). NANDA. Nursing diagnoses: definition &
classification 2012 - 2014. Iowa, USA: NANDA International
Maslim, R. (2001). Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya
Mohr.WK, (2006). Psychiatric mental health nursing (6 th edition), Philadelpia, Lippincott Williams & Wilkins.
Nauli. (2011). Pengaruh logoterapi kelompok dan psikoedukasi keluarga pada
lansia depresi dengan diagnose keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan dan isolasi sosial di Kelurahan Katulampa. Jakarta. Tesis FIK UI, tidak dipublikasikan.
Notoatmodjo, S. (2010). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nurbani. (2009). Pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap masalah psikososial
ansietas dan beban keluarga (caregiver) dalam merawat pasien stroke di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta. Tesis FIK UI, tidak
Purwaningsih, S. (2011). Rencana kerja kinerja pengelolaan pengembangan
sumber daya manusia pada bidang pelayanan keperawatan RSUP Persahabatan. Jakarta. Kertas kerja perseorangan. RSUP Persahabatan,
tidak dipublikasikan
Rahayuningsih, A. (2007). Pengaruh Terapi Kognitif terhadap tingkat harga diri
dan kemandirian pasien dengan Kanker Payudaradi RS Kanker Dharmais Jakarta. Tidak dipublikasikan
Roy,S.C. (2008). The Roy adaptation model. 3rd Ed. Chestnut Hill. Masachusets Sadock, B.J & Sadock, V.A. (2005). Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry:
behavioral science/ clinical psychiatry. 10th Ed. Lippincot: Williams & Wilkins.
Sari. (2009). Pengaruh Family Psychoeducation therapy terhadap beban dan
kemampuan keluarga dalam merawat klien pasung di Kabupaten Bireun Nangroe Aceh Darussalam, Tesis FIK UI, tidak dipublikasikan
Shives, R.L.(2005). Basic concepts of psychiatric-mental health nursing. (6thed.). Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, JL., Cheever, K.H. (2008). Brunner &
suddarth’s: Textbook of medical-surgical nursing (11 th ed). Philadelphia:
Lippincott Williams &Wilkins.
Stuart, G. W. (2009). Principles and practice of psychiatric nursing. (9th ed.). Canada: Mosby, Inc.
Stuart, G. W. & Laraia, M.T. (2005). Principle and practice of psychiatric
nursing. (8thed.). Philadelphia, USA: Mosby, Inc.
Tomey, M.A & Alligood, M. R (2006), Nursing Theories and Their Work, (6th Ed).St. Louis: Mosby Elsevier
Townsend, C.M. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in
Evidence-Based Practice. 6thed. Philadelphia: F.A. Davis Company
Videbeck, S.L. (2008). Buku ajar keperawatan jiwa. Edisi Bahasa Indonesia. Alih bahasa : Renata Komalasari dan Alfrina Hany. Jakarta: EGC.
Varcarolis, E.M. (2010),Foundations of psychiatric mental health nursing. Sixth edition. St Louis Missouri.\
Varcarolis, Elizabeth. M.et.al. (2006). Foundations of Psychiatric Mental Health
Nursing a Clinical Approach. Edisi 5. Saunders Elsevier. St. Louis.
Wheeler, K. (2008). Psychotherapy for the advanced practice psychiatric nurse. St. Louis: Mosby.
Workshop Keperawatan Jiwa FIK – UI, (2011). Kumpulan Terapi Individu. Jakarta: FIK – UI (Tidak dipublikasikan).
Workshop Keperawatan Jiwa FIK UI. (2009). Draft Standar Asuhan
No
FAKTOR PREDISPOSISI FAKTOR PRESIPITASI
Biologis Psikologis SosialKultural Biologis Psikologis SosialKultural
Riwa yat pena yakit fisik Riwa yat peny. kelua rga Paparan kimia/ radiasi Introvert Riwayat Kegaglan Pengala man Tdk menyena ngkan Dirawat berulang Komunikasi Tertutup Status ekono mi rendah Pnddkn rendah Kondisi krn peny. fisik Cemas krn biaya Sedih krn penya kit Kegag alan Hspitalisasi Kmis kinan Gg. Peran 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 1 1 1 1 1 1 1 1 18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 19 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 22 1 1 1 1 23 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 26 1 1 1 1 1 1 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 28 1 1 1 1 1 1 1 29 1 1 1 1 1 1 1 1 30 1 1 1 1 1 1 1 31 1 1 1 1 1 1 1 32 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 33 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ∑ 20 14 5 19 13 20 14 10 20 20 33 20 33 23 23 18 18 % 60,60 42,42 15,15 57,57 39,39 60,60 42,42 30,30 60,60 30,30 100 60,60 100 70 69,69 54,54 54,54
No
KOGNITIF AFEKTIF FISIOLOGIS PERILAKU SOSIAL
Menilai diri negatif Sulit Kons entra si Mrs tdk b’gu na/ tdk b’da ya Sulit Buat kepts an Menya lahkan diri Sedih Kha watir Bingu ng Kesal Malu Ggg Pola tidur Ggg Pola Mkn Kel. Fisik Marah Menan gis M’kritik diri Mtivasi turun Aktiv. T’batas M’hindar pasif 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 19 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 22 1 1 1 1 1 1 1 1 23 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 26 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 28 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 30 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 31 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 32 1 1 1 1 1 1 1 33 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ∑ 24 21 18 15 22 33 33 16 33 17 14 10 8 12 20 15 28 15 24
PERIODE 20 FEBRUARI - 20 APRIL 2012 CT BT RP TS FPE SUPORTIF 1 Ny.Em 1 1 1 1 2 Ny. Mae 1 1 1 3 Ny.Sa 1 1 1 4 Ny.Sur 1 1 1 1 5 Ny.Yul 1 1 1 6 Ny.Rg 1 1 1 1 7 Ny.Zn 1 1 1 8 Ny.MS 1 1 1 9 Ny.Sul 1 1 1 10 Ny.Mel 1 1 1 11 Ny.Sd 1 1 1 1 12 Ny. Sup 1 1 1 1 1 13 Ny.Ais 1 1 1 1 1 14 Ny.Am 1 1 1 15 Ny.Ar 1 1 1 16 Ny.Kan 1 1 1 17 Ny.Kod 1 1 1 18 Ny.Nng 1 1 1 19 Ny.Nov 1 1 1 20 Ny.Res 1 1 1 21 Tn.Ab 1 1 1 1 22 Tn.Bo 1 1 1 1 23 Tn.De 1 1 1 1 24 Tn.Sup 1 1 1 1 1 25 Tn.Ras 1 1 1 1 1 26 Tn.Tah 1 1 1 27 Tn.Kus 1 1 1 28 Ny.Min 1 1 1 1 29 Tn.Am 1 1 1 30 Tn.Den 1 1 1 31 Tn.Ad 1 1 1 32 Ny.St 1 1 1 1 33 Ny.Kus 1 1 1 1 1 TOTAL ∑ 33 6 22 11 33 13 % % 100 18,18 66,66 33,33 100 39,39 TERAPI SPESIALIS No Klien
Tidak
Tahu Tahu/ Mampu
Ada mampu rawat
Ada tdk mampu
rawat Tidak ada Ada Tidak ada Pribadi Bantuan Klg Jamkesmas Jauh dekat Yakin akan Sembuh Tdk Yakin Sembuh
1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 17 1 1 1 1 1 1 18 1 1 1 1 1 1 19 1 1 1 1 1 1 20 1 1 1 1 1 1 21 1 1 1 1 1 1 22 1 1 1 1 1 1 1 23 1 1 1 1 1 1 1 24 1 1 1 1 1 1 25 1 1 1 1 1 1 26 1 1 1 1 1 1 1 27 1 1 1 1 1 1 28 1 1 1 1 1 1 29 1 1 1 1 1 1 30 1 1 1 1 1 1 31 1 1 1 1 1 1 1 32 1 1 1 1 1 1 33 1 1 1 1 1 1
Dukungan Keluarga Dukungan Kelompok Ketersedian Materi Akses Keyakinan Positif
No
No Klien Dx Medik
Diagnosa Keperawatan Terapi Tingkat
ketergantungan Ansietas GCT Tdk Berdaya HDR Situasional Peran Tidak Efektif Gen Sp
1 Ny.Em Ca Mamae √ √ √ √ √ CT,FPE M
2 Ny. Mae CVD,HT √ √ √ √ √ CT,FPE P
3 Ny.Sa Ca mamae √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
4 Ny.Sur Ca mamae √ √ √ √ √ CT,FPE P
5 Ny.Yul HT √ √ √ √ CT,FPE M
6 Ny.Rg DM,HT √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
7 Ny.Zn Anemia √ √ √ √ CT,FPE M
8 Ny.MS HT, Stroke √ √ √ √ CT,FPE P
9 Ny.Sul DHF √ √ √ √ √ CT,FPE P
10 Ny.Mel Cepalgia √ √ √ √ √ CT,FPE M
11 Ny.Sd DM,HT √ √ √ √ √ CT,FPE P
12 Ny. Sup DM √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
13 Ny.Ais DM √ √ √ √ √ √ CT,FPE M
14 Ny.Am Ca mamae √ √ √ √ √ CT,FPE P
15 Ny.Ar DM √ √ √ √ CT,FPE M 16 Ny.Kan Fraktur Cruris √ √ √ √ √ √ CT,FPE P 17 Ny.Kod DM,HT √ √ √ √ √ √ CT,FPE P 18 Ny.Nng DM,HT √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
19 Ny.Nov Parese √ √ √ √ CT,FPE P
20 Ny.Res DM √ √ √ √ √ CT,FPE M
21 Tn.Ab BPH √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
22 Tn.Bo Fraktur √ √ √ √ √ CT,FPE P
No Klien Dx Medik
Diagnosa Keperawatan Terapi Tingkat
ketergantungan
Ansietas GCT Tdk
Berdaya SituasionalHDR PeranTidak Efektif
Gen Sp
24 Tn.Sup DM,HT √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
25 Tn.Ras DM √ √ √ √ √ CT,FPE M
26 Tn.Tah BPH √ √ √ √ CT,FPE P
27 Tn.Kus Fraktur √ √ √ √ √ √ CT,FPE P
28 Ny.Min HT √ √ √ √ CT,FPE M
29 Tn.Am BPH √ √ √ √ √ CT,FPE P
30 Tn.Den Fraktur √ √ √ √ √ CT,FPE P
31 Tn.Ad Fraktur √ √ √ √ √ CT,FPE P
32 Ny.St HT,DM √ √ √ √ CT,FPE P
MODUL
TERAPI KOGNITIF UNTUK PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH
Oleh:
Tjahjanti Kristyaningsih, SKp Dr. Budi Anna Keliat, SKp, M.App.Sc.
Novi Helena C. Daulima, SKp, M.Sc
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN KEKHUSUSAN KEPERAWATAN JIWA
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA
Depresi merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang prevalensi cukup banyak. WHO mencatat pada tahun 2006 terdapat 121 juta orang mengalami depresi, sebanyak 5,8 % pria dan 9,5 % wanita di dunia pernah mengalami episode depresif dalam hidup mereka (Andra, 2007). Diperkirakan, pada tahun 2020, depresi akan menempati peringkat kedua setelah penyakit jantung, yang umum dialami masyarakat di dunia. Bahkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kejadian bunuh diri akibat depresi menempati peringkat ke-11 penyebab kematian penduduk (Amril, 2007). Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan alam perasaan yang memunculkan gejala yang mengindikasikan adanya disfungsi afek, emosi, pikiran dan aktivitas-aktivitas umum (Copel, 2007). Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung, tidak ada harapan, terbuang dan tidak berharga. Depresi yang merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa khususnya gangguan mood atau gangguan alam perasaan ini dapat mengganggu kehidupan individu. Individu diliputi kesedihan jangka panjang dan drastis, agitasi, disertai dengan keraguan terhadap diri sendiri, rasa bersalah, dan marah yang dapat mengubah aktivitas hidupnya terutama aktivitas yang melibatkan harga diri, pekerjaan dan hubungan dengan orang lain (Videbeck, 2001).
Seseorang yang mengalami kondisi depresi pada umumnya mengalami masalah dalam aspek harga diri, yaitu harga diri rendah. Harga diri rendah adalah evaluasi yang negatif terhadap diri dan kemampuan diri yang berkepanjangan
dimana ia tidak mampu mengenal kemampuan atau aspek positif dirinya sendiri.
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan pada individu yang mengalami depresi dan menunjukkan perilaku harga diri rendah adalah dengan membantu pasien memeriksa penilaian kognitif dirinya terhadap situasi yang berhubungan dengan perasaan untuk membantu pasien dalam meningkatkan penghayatan diri dan kemudian melakukan tindakan untuk mengubah perilaku. Pendekatan penyelesaian masalah harga diri rendah berupa meluaskan kesadaran diri, eksplorasi diri, evaluasi diri, perencanaan yang realistik dan komitmen terhadap tindakan (Stuart & Laraia, 2005).
Pada kondisi depresi yang memiliki masalah keperawatan harga diri rendah mungin membutuhkan intervensi keperawatan yang lebih lanjut. Hal ini dikarenakan pasien cenderung memiliki pikiran-pikiran negatif pada dirinya. Intervensi keperawatan lanjut yang dimaksud adalah pemberian terapi-terapi spesialistik yang tertuju untuk individu, kelompok, keluarga dan masyarakat dimana salah satu dari terapi individu adalah terapi kognitif, yaitu suatu bentuk psikoterapi yang dapat melatih pasien untuk mengubah cara pasien menafsirkan dan memandang segala sesuatu pada saat pasien mengalami kekecewaan, sehingga pasien merasa lebih baik dan dapat bertindak lebih produktif. Terapi kognitif bertujuan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif, mengetahui penyebab perasaan negatif yang dirasakan, membantu mengendalikan diri dan pencegahan serta pertumbuhan pribadi (Burn, 1980).
pasien Depresi dan Harga Diri Rendah. Kegiatan terapi kognitif yang dikembangkan dalam modul ini merupakan
modifikasi modul Terapi Kognitif yang telah direkomendasikan dalam Workshop Keperawatan Jiwa, FIK – UI pada tahun 2008 lalu yang meliputi 9 sesi dan dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan. Dengan pemberian terapi kognitif ini diharapkan pasien dapat merubah pikiran-pikiran negatifnya, mampu beradaptasi dan produktif sesuai dengan kondisi kesehatannya dengan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan alam perasaan yang memunculkan gejala yang mengindikasikan adanya disfungsi afek, emosi, pikiran dan aktivitas-aktivitas umum (Copel, 2007). Seseorang yang mengalami kondisi depresi pada umumnya memiliki diagnosa keperawatan harga diri rendah, yaitu evaluasi atau perasaan yang negatif terhadap diri dan kemampuan diri yang berkepanjangan (NANDA, 2005).
Individu yang mengalami kondisi depresi dan menunjukkan perilaku harga diri rendah biasanya memiliki cara pandang terhadap dirinya yang bersifat negatif dimana ia tidak mampu mengenal kemampuan atau aspek positif dirinya sendiri, sehingga pendekatan penyelesaian masalah harga diri rendah ini berupa memperluas kesadaran diri, eksplorasi diri, evaluasi diri, perencanaan yang realistik dan komitmen terhadap tindakan (Stuart & Laraia, 2005).
Intervensi keperawatan lanjut berupa pemberian terapi-terapi spesialistik yang tertuju untuk individu, kelompok, keluarga dan masyarakat dimana salah satu dari terapi individu adalah terapi kognitif, yaitu suatu bentuk psikoterapi yang dapat melatih pasien untuk mengubah cara pasien menafsirkan dan memandang segala sesuatu pada saat pasien mengalami kekecewaan, sehingga pasien merasa lebih baik dan dapat bertindak lebih produktif.
2. Keluarga
No Aspek yang dinilai Keluarga
Ya Tidak
1 Mengungkapkan dukungan dalam membantu pasien untuk melaksanakan terapi kognitif di rumah
2 Membantu pasien dalam pelaksanaan membuat catatan harian
3 Memberi pujian terhadap perilaku positif pasien
TERAPI KOGNITIF A. Pengertian
Terapi kognitif merupakan salah satu jenis psikoterapi yang menekankan dan meningkatkan kemampuan berfikir yang diinginkan (positif) dan merubah pikiran-pikiran yang negatif (Boyd & Nihart, 1998). Menurut Granfa (2007), terapi Kognitif adalah suatu proses-proses mengidentifikasi atau mengenali pemikiran-pemikiran yang negatif dan merusak yang dapat mendorong ke arah rendahnya harga diri dan depresi yang menetap.
Terapi kognitif bukanlah suatu cara bagaimana memecahkan masalah pasien, namun suatu cara membantu pasien untuk mengembangkan cara-cara baru dengan melihat kembali pengalaman-pengalaman di masa lalu dan mencari alternatif penyelesaian masalahnya sendiri (Boyd & Nihart, 1998). Dengan demikian maka, terapi kognitif merupakan suatu bentuk terapi yang dapat melatih pasien untuk mengubah cara berfikir yang negatif karena mengalami kekecewaan, kegagalan dan ketidakberdayaan, sehingga pasien dapat menjadi lebih baik dan dapat kembali produktif.
B. Tujuan
Terapi kognitif bertujuan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif, mengetahui penyebab perasaan negatif yang dirasakan, membantu mengendalikan diri dan pencegahan serta pertumbuhan pribadi (Burn, 1980). Menurut Copel (2007), terapi kognitif bertujuan untuk membantu pasien mengembangkan pola pikir yang
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa terapi kognitif bertujuan untuk mengubah pikiran-pikiran tidak logis dan negatif menjadi pemikiran yang positif, obyektif, dan masuk akal (rasional).
C. Indikasi
Terapi kognitif diterapkan untuk masalah depresi dan masalah psikiatrik lainnya, seperti, panik, masalah untuk pengontrolan marah dan pengguna obat (Beck et al, 1979 dalam Varcarolis 2006). Terapi kognitif sangat bermanfaat pada pasien yang mengalami permasalahan dalam cara berfikir seperti pada pasien depresi, substance
abuse, cemas dan panik (Beck et al, 1993 dalam Boyd &
Nihart, 1998).
Gejala yang khas pada pasien depresi meliputi kelelahan, tidak mampu berkonsentrasi atau membuat keputusan, merasa sedih, tidak berharga atau sangat bersalah. Diagnosa keperawatan yang tepat dengan gejala tersebut adalah harga diri rendah (NANDA, 2005). Sedangkan diagnosa keperawatan lainnya yang berhubungan dengan kondisi depresi ini adalah ansietas, berduka disfungsional, keputusasaan, ketidakberdayaan, isolasi sosial, koping individu tidak efektif, dan resiko bunuh diri (Copel, 2007). Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikasi pemberian terapi kognitif adalah untuk pasien dengan masalah depresi maupun masalah psikiatrik lainnya yang memiliki diagnosa keperawatan tersebut, khususnya pada pasien dengan harga diri rendah baik situasional maupun kronik.
Hari / Tanggal
Daftar Pikiran Otomatis yang Negatif
Tanggapan Rasionalku CATATAN HARIANKU Hari / Tgl Jam Pikiran Otomatis Tanggapan Rasionalku Hasil E. Evaluasi
Evaluasi akhir kemampuan pasien dan keluarga dalam melaksanakan terapi kognitif secara mandiri
1. Pasien
No Aspek yang dinilai Pasien
Ya Tidak 1 Mengungkapkan pikiran otomatis 2 Mengungkapkan alasan 3 Mengungkapkan tanggapan rasional 4 Mengungkapkan hasil/manfaat terapi
menerima dan merawat pasien di rumah b) Menganjurkan keluarga untuk
mengingatkan pasien dalam melaksanakan tugas-tugas mandiri yang telah dibuat bersama perawat dalam pertemuan sebelumnya.
3) Kontrak yang akan datang
a) Membuat kesepakatan dengan keluarga untuk dapat menjadi support system bagi pasien
b) Menyepakati waktu dan tempat 6. Evaluasi dan Dokumentasi
a. Evaluasi
1) Ekspresi pasien dan keluarga pada saat terapi 2) Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan
terapi b. Dokumentasi
1) Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
2) Dokumentasikan rencana pasien sesuai dengan yang telah dirumuskan.
DAFTAR PIKIRAN OTOMATIS NEGATIF No. TanggalHari / Daftar Pikiran Otomatis yang Negatif
dengan diagnosa keperawatan harga diri rendah dengan karakteristik perilaku adalah:
1. Mengkritik diri sendiri atau orang lain, 2. Penurunan produktivitas,
3. Perilaku destruktif tertuju pada orang lain atau diri sendiri,
4. Gangguan dalam berhubungan, 5. Rasa diri penting yang berlebihan, 6. Perasaan tidak mampu,
7. Rasa bersalah,
8. Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, 9. Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri, 10. Ketegangan peran yang dirasakan,
11. Pandangan hidup yang bertentangan, 12. Penolakan terhadap kemampuan personal, 13. Pengurungan diri/menarik diri secara sosial, 14. Penyalahgunaan zat,
15. Menarik diri dari realitas 16. Khawatir.
Prasyarat kondisi lain yang dibutuhkan dalam pemberian terapi ini adalah :
1. Pasien bersedia untuk mengikuti/menjalani terapi. 2. Kondisi fisik saat dilakukan terapi dalam keadaan
sehat, ditunjukkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah) dalam keadaan normal dan stabil
3. Komunikasi pasien koheren 4. Pasien kooperatif
legalitas dalam melakukan terapi kognitif dapat melaksanakan terapi ini, seperti medis (khususnya psikiater), psikolog dan perawat spesialis keperawatan jiwa.
F. Peran Terapis
Tiga konsep fundamental dalam terapi kognitif yang dapat dilakukan oleh seorang terapis (Anonim, 2008), yaitu:
1. Collaborative Empirisme, yaitu pasien-terapis menjadi co-investigator dan menguji fakta yang dapat menunjang dalam menolak kognisi pasien yang keliru. 2. Socratic Dialogue, yaitu dengan menggunakan tehnik
bertanya yang merupakan anjuran utama dalam proses terapeutik dimana tujuan pertanyaan adalah untuk mengklarifikasi dan mendefinisikan persoalan, membantu mengidentifikasikan pikiran, images, dan asumsi menilai konsekuensi dari pikiran maladaptif bagi pikiran dan perilaku.
3. Guide Discovery, yaitu terapis memandu pasien untuk memodifikasi keyakinan dan asumsi yang maladaptif dimana pasien-terapis secara bersama-sama merekam perkembangan gangguan yang dialami pasien.
G. Strategi Pelaksanaan
Terapi kognitif yang akan dijabarkan dalam modul ini merupakan hasil modifikasi dari modul terapi kognitif dalam Workshop Keperawatan Jiwa, FIK-UI pada tahun 2008. Terapi yang awalnya terdiri dari 9 sesi diringkas menjadi 4 sesi dengan tidak menghilangkan/mengurangi
dari awal sampai selesai. c. Tahap Kerja
1) Jelaskan pada keluarga tentang pengertian, tujuan dan manfaat terapi kognitif bagi pasien 2) Jelaskan pada keluarga tentang pelaksanaan
terapi kognitif yang telah dilakukan pasien termasuk pembuatan catatan hariannya.
3) Minta pasien untuk menjelaskan pada keluarga tentang pikiran-pikiran negatif yang dirasakan, cara mengatasi/melawan pikiran tersebut, pembuatan catatan harian, dan manfaat hasil yang dirasakan pasien dalam menjalani terapi kognitif.
4) Libatkan keluarga dalam mengidentifikasi perilaku pasien sebelum, selama dan sesudah mengikuti terapi kognitif.
5) Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang telah dimiliki pasien
6) Anjurkan keluarga untuk siap mendengarkan masalah-masalah (pikiran negatif) pasien 7) Libatkan keluarga dalam diskusi untuk
membantu penyelesaian masalah yang telah dilakukan pasien
8) Beri pujian terhadap kemampuan pasien dan keluarga.
d. Tahap Terminasi 1) Evaluasi
a) Terapis menanyakan perasaan pasien dan keluarga setelah menjalani terapi
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab 5. Langkah Kegiatan