BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Prosesi Adat Budaya Sayyang Pattu’du di Desa
Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene
Demi memuliakan anak yang telah menamatkan bacaan Al-qur‟an (khataman Al-qur‟an) dimana Al-qur‟an sebagai pedoman hidup umat Islam bahkan manusia maka masyarakat suku Mandar ksususnya di desa Panggalo menuangkan rasa syukur akan hal itu kepada Allah SWT. kedalam sebuah tradisi yaitu tradisi Sayyang Pattu’du atau kuda menari yang di iringi irama rebana. Pada prosesi pelaksanaannya sebelum melakuan tradisi Sayyang Pattu’du harus melakukan beberapa tradisi sebelumya yaitu tradisi Mappangolo Mangaji dan tradisi Maccera’. Tradisi Mappangolo Mangaji merupakan tradisi yang harus dilakukan sebelum memulai membaca Al-qur‟an. Peneliti melakukan wawancara terkait hal ini :
“Sebelum anak-anak itu belajar mengaji harus Mappangolo Mangaji dulu ke guru mengajinya. Jadi anak-anak yang Mappangolo Mangaji harus membawa kelapa, merah, daun kelor, sama batu asah”87
87
Saema, tokoh adat dan guru mengaji di desa panggalo, wawancara dicatat pada tanggal 5 agustus 2018
Tradisi ini memerlukan kelapa dan gula merah diberikan kepada seseorang yang baru memulai bacaan Al-qur‟an kepada sang guru mengaji. Perlu pula menyiapkan daun kelor dan batu asah, setelah itu seseorang yang baru mau memulai bacaan Al-qur‟an dibaringkan dengan menggunakan batu asah sebagai bantal dan dimasukkan kedalam matanya air yang sudah dicampur dengan daun kelor kemudian dibacakan basmalah.
Selanjutnya tradisi yang kedua ialah Mappangolo Mengaji, seperti yang dikatakan oleh Saema:
”Setelah itu ada Mappangolo Mangaji, kalau itu sudahmi dilakukan kemudian anak-anak yang sudah mengaji maumi dipindah bacanya ke juz 15 harus di cera’ atau Maccera’ itu disuruh bawa dua ekor ayam kampung untuk dipotong baru diambil hatinya dikasi makan ke anak-anak yang mau pindah bacanya”88
Setelah tradisi Mappangolo Mangaji, dilakukan pula tradisi Maccera’ tradisi ini dilakukan setiap seseorang yang mengaji naik tingkat atau berpindah ke beberapa surah yang berikutnya maka anak mengaji tersebut diharuskan memotong dua ekor ayam kemudian diberikan kepada guru mengaji. Setelah itu salah satu bagian dari ayam yaitu hati disuapkan kepada anak yang naik tingkat lalu memakannya dihadapan guru mengaji secara langsung.
Setelah dua rangkaian tradisi itu dilaksanakan maka selanjutnya masuk pada tahap proses akhir yaitu Sayyang Pattu’du (kuda menari). Proses ini dilakukan ketika anak mengaji telah menyelesaikan bacaan Al-qur‟an nya (To tamma‟) tamat mengaji yaitu sebanyak 30 juz. Pada ritual
88
Saema, tokoh adat dan guru mengaji di desa panggalo, wawancara dicatat pada tanggal 5 agustus 2018
ini anak yang akan melaksanakan tradisi Sayyang Pattu’du (kuda menari) memakai pakaian khusus yaitu pakaian adat Mandar, anak laki-laki memakai Badawara (penutup kepala belakang sampai dada) atau jubah dan perlengkapan lainnya layaknya orang yang sedang berhaji sedangkan bagi anak perempuan (Pesawe) memakai baju adat yang berwarna merah dan perlengkapan lainnya diantaranya:
a) Konde (sanggul atau gulungan rambut di kepala).
b) Atting atau dali beru‟-beru (anting yang belapis bunga melati).
c) Gallang balle‟ (adalah gelang yang dikenakan pada pergelangan tangan yang panjangnya hampir sampai siku).
d) Lipa‟ sa‟be (sarung sutra Mandar).
Berdasarkan wawancara dengan Imam Masjid, beliau mengatakan :
“Anak-anak yang akan mengikuti tradisi ini harus berkumpul di masjid dan mengikuti rangkaian acara pertama yaitu harus membaca surah terakhir dalam al-qur‟an yang di pandu oleh imam masjid.”89
Tradisi ini dimulai pada pagi hari sekitar jam 08:00 dimana semua anak berkumpul di masjid untuk membaca beberapa surah terakhir dalam al-qur‟an secara serentak yaitu surah Ad-Duha sampai surah An-Nas yang dipimpin oleh imam masjid setempat. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji (sejarah dan tembang pujian Muhammad SAW) lalu kemudian semua anak kembali kerumah masing-masing untuk melakukan syukuran dan saling bersilaturahim kepada keluarga maupun
89
Muhammad Thahir, Imam masjid Al-Khairat, wawancara dicatat pada tanggal 12 juli
teman-teman yang datang dengan menjamu mereka dengan berbagai makanan dan minuman yang telah disiapkan tuan rumah sebelumnya. Setelah melaksanakan shalat dhuhur atau sekitar jam 01:00 siang inilah yang menjadi puncak tradisi Sayyang Pattu’du (kuda menari) dimana anak yang telah khatam al-qur‟an dan telah mengikuti rangkaian proses sebelumnya dinaikkan keatas kuda yang sudah terlatih sebelumnya dengan berbagai hiasan dan perlengkapan yang telah disiapkan.
Adapun perlengkapan dan perhiasan lainnya, Saema mengatakan : “Banyak itu dek hiasan sama perlengkapannya kuda yang mau dipake keliling kampung ada La‟lang, Rawana, Pesarung, Pakkalinda‟da‟. Apalagi banyak juga warga yang ikuti keliling kampung.”90
Sehingga penulis menyimpulkan beberapa hiasan atau perlengkapan yang dipakai dalam tradisi ini dantaranya:
1) La‟lang (payung) adalah alat yang digunakan agar penunggang kuda terhindar dari panas sinar matahari dan tidak merasa kepanasan saat diarak keliling kampung.
2) Rawana (Rebana) adalah suatu permainan alat musik yang dimainkan sekelompok laki-laki baik anak-anak maupun dewasa. 3) Pesarung (pendamping) adalah orang yang memegang kuda dan
mendampingi san penunggang agar tidak terjatuh.
4) Pakkalinda‟da‟ (penyair) adalah orang yang melantungkan pantun atau syair mandar yang bertujuan menghibur dengan merayu atau memuji penunggang kuda serta terlihat sangat meriah dengan teriakan sorak penonton.
90
Saema, tokoh adat dan guru mengaji di desa panggalo, wawancara dicatat pada tanggal 5 agustus 2018
Kemudian diarak keliling kampung secara beramai-ramai dengan iringan musik rebana dan kuda yang ditunggangi pandai mangangguk-anggukan kepalanya seakan-akan mengikuti irama tabuhan rebana dan diikuti syair ataupun pantun yang dilontarkan sang Pakkalinda’da’ Mandar (penyair) yang menambah semangat dan meriah tradisi ini, sang penunggang kuda atau To Tamma’ menjadi pusat perhatian masyarakat laksana raja dan ratu sehari pada proses ini.